Sang pewaris part 51

 

BAB 51






Selama seminggu sejak kepulanganku, tidak banyak aktivitas yang kulakukan. Hari-hariku diisi menemani Rere sambil sekali-kali mengajaknya mengunjungi anggota keluarga yang tinggal di Bandung, khususnya keluarga besar dari trah Sawer. Kini kekasihku sudah sepenuhnya sembuh.




Hari ini ia sudah masuk kerja kembali. Begitu pula aku. Aku masuk kerja untuk pertama kalinya di kantor baru. RSP dan NeNeN sudah resmi merger dan menempati gedung baru tiga lantai. Tidak tinggi tetapi arsitekturnya sangat mengesankan.




Gedung lama di NeNen di Cimahi tetap menjadi cafe, namun bagian belakangnya dijadikan gudang sekaligus pabrik pengolahan kopi. Branded kopi Sawaka dan NeNen tetap dipertahankan. Kami mencoba menciptakan persaingan pasar antara dua merk kopi yang berbeda, meskipun kedua produk itu berasal dari perusahaan yang sama.




Hari ini aku, Om Ariya, Bunda Rahma, dan Tante Rinjani mengadakan rapat pimpinan dan telah menghasilkan beberapa keputusan berkaitan dengan restrukturisasi perusahaan. Kami berempat menjadi direksi dan akan dibantu Rita, anaknya Om Rad, sebagai sekretaris eksekutif.




Om Ariya merangkap sebagai Direktur Utama sedangkan Tante Rinjani menduduki jabatan Direktur Keuangan. Aku menduduki jabatan Direktur Harian yang membawahi semua Manager Divisi.




Bunda Rahma menduduki Direktur Personalia yang tugasnya akan bersentuhan langsung denganku. Beliau akan dibantu oleh Rita sebagai wakilnya.




Kang Garpit akan menjadi Manager Pabrik. Darma, anaknya Om Rayski, akan menjadi wakil dari Kang Garpit. Ada empat manager lainnya yang akan menempati posisi masing-masing, dan kami memutuskan untuk mempromosikan pegawai yang sudah ada dan sudah terbukti loyal dan handal.




Ada sedikit kekecualian untukku. Pada saat launching nanti, Inka akan diperkenalkan sebagai Direktur Harian yang sebetulnya menjadi posisiku. Sepupuku itu akan ditarik dari FaF ke RSP Dan aku menduduki jabatan sebagai wakilnya. Alasannya jelas, aku belum bisa fokus mengurusi perusahaan selama masih menjalani misiku bersama Sawaka. Kelak kalau aku sudah berhasil menuntaskan ritual, aku akan mengambil alih posisi Inka; dan sepupuku pindah jabatan menggantikan Tante Rinjani, mamahnya, karena Tante Rinjani sendiri lebih memilih sebagai Ibu Rumah Tangga.




Begitulah, usaha keras dan jerih payah kedua pendahulu, Senja dan ayahku, telah menghasilkan perusahaan besar yang lingkup pemasarannya bukan hanya di tanah air, tetapi sudah merambah ke dua negara eropa dan tujuh negara di Asia.




Rapat panjang dan melelahkan pun akhirnya selesai. Kami menutupnya dengan makan siang di resto bawah. Untuk keluarga besar, kami memang memiliki ruangan khusus sebagai tempat kumpul atau makan.




Sepanjang makan, tema obrolan beralih membahas perjalanan ritualku. Tidak ada yang perlu kami rahasiakan. Generasi pertama dan kedua sudah saling tahu tentang tradisi leluhur, sedangkan generasi ketiga hanya sedikit yang tahu. Banyak nasihat dan wejangan mereka lontarkan, tak sedikit kisah pendahulu dituturkan kembali. Dari semuanya itu, Bunda Rahma tentu saja menjadi orang yang paling berharap agar misiku berhasil. Ia adalah adik kandung Sae, sekaligus sedang menantikan momongan. Menurut wangsit yang beliau terima, ia akan mengandung jika aku berhasil menjalankan ritualku.




Jam dua lebih aku pun pamit.




“Mau kemana, kok buru-buru?” tanya Bunda Rahma.


“Mau menjemput masa depan, Bun.” jawabku.


“Hmmm.. pantesan. Salam ya ke Rere, dan bilangin jangan terlalu diforsir dulu, kan baru sembuh.” ujar Tante Nji.


“Siap, Tante.”




Aku pun meninggalkan resto. Aku tidak langsung menuju FaF tempat Rere bekerja. Melainkan mampir ke kantor Enzo. Sahabatku menyambut dengan gembira. Sekitar sejam kami ngobrol sambil membicarakan sebuah rencana yang kurahasiakan. Hanya aku dan Enzo yang tahu. Sebetulnya aku ingin menyampaikan tentang Tante Wulan juga, namun kemudian Arischa datang sehingga aku harus mengalihkan pembicaraan.




Jam setengah empat barulah aku pamit, dan setengah jam kemudian tiba di kantor Rere. Di lobi aku bertemu dengan para boss besar yang hendak pulang. Langkahku terhambat karena harus cipika-cipiki dan ngobrol dulu. Yeah.. ini adalah perusahaan raksasa dari pihak Keluarga Sawer, dari garis Oma Tiurma.




“Hai, sayang.” akhirnya aku tiba di ruangan Rere. Gadisku nampak sedang duduk menungguku, mejanya sudah rapi.


“Lama!” cemberutnya.


“Hehe.. dibawah ketemu dengan para bossmu, yank.” ujarku.




Aku pun menghampiri dan mencium pipinya yang menggelembung.




“Gimana kamu gak kecapean?” tanyaku.




Rere menggeleng. Ia masih saja tetap duduk ketika kuajak pulang. Kukecup lagi, kali ini pada bibirnya. Butuh usaha merayunya agar ia mau pulang. Ia merajuk kesal karena telat kujemput.




Kutarik kursinya ke belakang, pahanya langsung terlihat. Kupeluk erat sambil menekan bagian bawah payudaranya. Rere menggelinjang.




“Keseeel!!” rajuknya.


“Iya, maaf.”




Rere membalikan wajah. Kami pun saling mengulum lembut. Kekasihku memejamkan mata untuk meresapi setiap sentuhan bibir dan lidah kami.




Puas bercumbu, akhirnya kami pun saling mengurai pelukan. Rere meraih tasnya dan menggandeng lenganku untuk meninggalkan ruangan.




Mataku melirik pintu samping yang menghubungkan ke ruangan sebelah. Ingatanku melayang ketika aku sedang berperan sebagai Iba.




“Itu ruangan siapa, yank?”


“Kantor boss, masa kamu gak tahu?”




Aku mengangkat bahu.




“Kamu tuh!” ia mencubitku kecil.


“Emang boss kamu siapa?”


“Sayaang? Beneran gak tahu atau…?”


“Aku gak tahu, sayang.”


“Iiih parah banget kamu!” Rere menggeleng gemas.




Ia menarik tanganku meninggalkan ruangan.




“Siapa?” aku masih penasaran. Kini kami sudah berdiri di depan lift.


“Aku bilangin mamah dan Kak Kekey tahu rasa deh!” ia tidak menjawab pertanyaanku.


“Yank?”




Pintu lift terbuka dan kami masuk. Hanya ada kami berdua di dalam karena ini memang lift khusus untuk para pejabat perusahaan atau tamu VIP.




“Kamu tuh..” Rere terlihat gemas. Ujarnya lagi, “Masa pekerjaan pacar dan jabatan calon keluargamu sendiri gak tahu.”


“…” sambil menatapnya menunggu jawaban.




Rere tertawa sebentar melihat ekspresiku. Jawabnya, “Kak Rega, sayaaaang. Kak Rega itu bossku!!”




Damn!! Jadi pemuda waktu itu adalah Kak Rega, dan aku telah cemburu. Aku merasa diri teramat bodoh.




“Hehe.. maaf, sayang. Aku beneran gak tahu.” aku terkekeh sambil memeluknya. Rere tidak tahu bahwa aku melakukannya untuk menyembunyikan rasa malu, sekaligus rasa bersalah karena telah cemburu pada orang yang salah.


“Makanya kalau punya pacar itu diperhatiin. Jangan ditinggalin mulu.. sekalinya disuruh jemput malah telat.” Rere pura-pura kesal. Namun ucap dan sikap berbeda. Ia balik memeluk sampai lift berbunyi pertanda kami sudah tiba di lantai dasar.


“Langsung pulang atau..?” tanyaku ketika kami sudah sama-sama di dalam mobil.


“Pulang aja, kangen oma.” jawabnya.




Oma dari Ewer memang sedang berada di Bandung. Sopir kami menjemputnya kemarin lusa. Malam ini Oma Alya dan kedua orangtua Rere juga akan datang untuk makan malam bersama. Ayah dan mamah sepertinya akan menyampaikan hal penting.




Setelah memasuki jalanan, tangan kiriku mulai menunaikan tugasnya yang sejak tadi kutahan. Kupegang lutut Rere dan mengusapi pahanya, roknya tertarik ke atas hingga setengah paha.




Kekasihku tidak menepis. Ia memeluk lenganku, kepalanya ia sandarkan pada pundakku. Sambil saling menyentuh, Rere bercerita tentang pengalaman pertamanya masuk kerja pasca sakit; dan aku bercerita tentang rencana besar perusahaan kopiku. Ia sangat mendukungku, terlepas dari rasa sedih karena perjalanan ritualku yang masih panjang.




Selama menemani masa penyembuhannya, baik di rumah sakit maupun di rumah, aku sudah banyak bercerita tentang perjalanan ritualku dan segala rintangan yang harus kujalani. Ayah, mamah, dan Tante Nur juga telah berperan besar selama kepergianku. Sejarah panjang telah mereka tuturkan sehingga kekasihku bisa paham dan menerima. Kekasihku hebat.. ia juga tidak marah ketika kuberitahu bahwa aku harus melakukan ritual dengan seorang gadis. Ia malah terlihat lega karena aku mau jujur. Tentu saja begitu.. ia sudah tahu dari mamah dan Tante Nur, dan ia menunggu hal itu keluar dari mulutku sendiri.




“Bahagiamu, bahagiaku. Sukses dan gagalmu adalah juga sukses dan gagalku.” ujar kekasihku tulus.




Aku merasa terharu mendengarnya. Kutepikan mobil meski jarak rumah tinggal satu belokan lagi.




“Makasih.” bisikku.




Kudekap kepalanya, dan kuciumi rambutnya. Kurasakan tangannya mengusapi bahu belakang. Ia mendongak ketika aku melonggarkan pelukan, sorot mata kami beradu, terlihat sayu. Kukecup bibirnya yang merekah. Kuluman panjang kami lakukan. Lidah kami sama-sama memantik birahi. Aku dan Rere sejenak terlena.. cumbuan kami terlampau panas dan bergairah.




“Mmmh.. Yank, udah ah.” ujarnya dengan dada naik turun.




Kudekap kembali sekedar untuk meredakan gairah yang sempat merangsang kami. Cukup lama kami saling memeluk dalam diam. Rere sendiri yang akhirnya menggeliat dan kembali menegakan duduk. Aku melajukan kembali mobil, sedangkan kekasihku merapikan blazer dan rambutnya. Sekali-kali kami saling lirik sambil saling melempar senyum.




Suasana rumah nampak ramai. Kendaraan keluargaku sudah lengkap di garasi, pun pula mobil Oma Alya dan Opa Ardan. Mobil Tante Nur juga sudah terparkir. Timnya Nzi sedang berkerumun untuk pamit pulang, sepertinya mereka baru membuat proyek konten baru.




Kami saling sapa diselingi canda ringan. Lantas berpisah. Mereka pulang, kami memasuki rumah. Nzi mengapit lengan kami berdua.




Peluk dan cium dari kedua oma kami pun aku dan Rere dapatkan, setelahnya aku dan Rere menyalami Opa Ardan. Suasana hangat semakin sempurna ketika seluruh penghuni sudah lengkap. Setelah berganti pakaian, Rere langsung membantu di dapur. Ujaran oma dan mamah supaya istirahat tidak ia hiraukan. Aku lebih memilih menemani ayah yang sedang duduk di taman samping kolam renang.




“Gimana kerjaanmu, Rei?” tanya ayah.




Kuceritakan hasil rapat direksi hari ini. Ayah menyimak dan manggut-manggut setuju. Tidak banyak nasihat yang ia sampaikan, toh selama aku tidak ada, Bunda Rahma atau Tante Rinjani sudah sering membahasnya dengan ayah.




“Yah..”


“Hmmm..?”




Kusampaikan kegelisahanku tentang Tante Wulan dan Salsa. Aku masih belum berani menemui mereka. Dengan Salsa memang pernah bertemu dua kali ketika ia menjenguk Rere. Tapi aku sudah menjadi Rei.




“Kan kamu sudah berencana untuk berbicara dengan mereka dan menyelesaikannya. Lalu masalahmu sekarang apa?” tanya ayah sambil menghembuskan asap rokok.


“Rere.”


“Maksudmu?”


“Menurut ayah, aku harus jujur pada Rere atau tidak?”




Ayah menatapku teduh. Ia memahami apa yang sedang menganggu pikiran dan perasaanku.




Sejak kecil dan dalam keadaan tertentu, ayah dan mamah memang jarang menawarkan solusi. Mereka biasanya akan memberi pertimbangan ketika anak-anak mereka sedang berada dalam masalah, tetapi kami sendiri yang harus mengambil keputusan.




Begitu juga saat ini. Ayah menyampaikan banyak pertimbangan dan akibat-akibat jika aku jujur maupun tidak. Ini bukan hanya soal mana yang lebih banyak resikonya atau mana yang lebih sedikit, tetapi terutama untuk memetakan masalah. Pada akhirnya suara hati yang harus didengarkan.




Ayah juga bercerita tentang masa mudanya dulu. Tentang jatuh-bangunnya untuk mendapatkan cinta sejati, tanpa harus menjadi orang yang terlihat sempurna di depan mamah.




Aku menyimak sambil menghisap rokokku.




“Mencintai itu bukan soal memperistri atau…”


“…meniduri.” potongku.




Aku dan ayah sama-sama terkekeh. Seringkali frekuensi otak kami sama. Ayah pun melanjutkan ucapannya, “…tapi soal menjadi diri sendiri sekaligus kemauan untuk membiarkan orang yang kita sayangi menjadi diri mereka.”




“Makasih, Yah.”


“Jadi?” ayah menatapku sambil tersenyum mengayomi.


“Pertama, mengambil keputusan; dan kedua, menerima resikonya.” jawabku.




Ayah mengacungkan jempolnya sambil tertawa bangga. Obrolan pun berubah ringan dan diselingi canda tawa.




“Ayah.. Kak.. disuruh mandi ama mamah.” Nzi muncul. Hari memang mulai beranjak gelap.




Adikku langsung memeluk ayah dari belakang sambil menoyor-noyor pipiku.




“Katanya disuruh mandi, kok malah dipeluk gini?” goda ayah pada si bungsu.




Nzi pun tertawa. Ia pun mencium pipi ayah, dan pipiku kemudian. Kami bertiga kembali ke dalam rumah, lantas masuk ke dalam kamar masing-masing.




Tepat jam tujuh kami sudah berkumpul di ruang makan. Om Sulis juga sudah datang. Ia baru bisa menyusul karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Kak Rega juga ada, duduk bersebelahan dengan Kak Kekey.




Benar saja.. ayah dan mamah menyampaikan kabar gembira. Dua minggu lagi Kak Rega dan keluarganya dari Sawer akan melamar Kak Kekey sekaligus menentukan tanggal pernikahan.




“Sedih iih..” celetuk Nzi.


“Kok sedih, dek? Kalo kakak sih bahagia. Iya, kan yank?” balas kakak sambil menatap kekasihnya. Kak Rega menggoda Nzi dengan melingkarkan tangannya pada bahu kakak.




Tawa pun pecah. Sejujurnya aku merasakan hal yang sama dengan adikku. Kabar gembira ini menyisipkan rasa sedih. Waktunya sudah semakin dekat bagi kami untuk menentukan jalan hidup sendiri-sendiri. Rere menggenggam tanganku di bawah meja. Sepertinya ia pun merasakan hal yang sama.




Rencana untuk menyabut hari bahagia pun kami susun, diakhiri makan bersama yang penuh sukacita. Obrolan masih berlanjut di ruang keluarga. Kehadiran oma dan opa membuat suasana selalu penuh canda karena banyak cerita masa lalu yang mereka sampaikan. Orangtuaku dan orangtua Rere tak jarang menjadi objek candaan, karena kedua oma kami banyak bercerita tentang kisah-kasih mereka yang belum kami dengar sebelumnya.




Akhirnya Om Sulis dan Tante Nur pulang. Rere menginap malam ini dan besok berangkat kerja dari rumahku. Bukan aku yang meminta, tetapi Nzi yang memaksa. Para orangtua pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Kak Kekey dan Kak Rega masih melanjutkan kebersamaan di taman belakang.




Setelah membersihkan muka, aku pun rebahan di atas kasur sambil memainkan smartphone. Orang yang kukirim pesan malah menelpon balik, dan kami pun sepakat untuk ketemu besok sambil makan siang.




“Kak..” Nzi dan kekasihku muncul.




Aku memang belum menutup pintu kamar karena belum saling pamit untuk tidur. Aku pun bangkit




“Belum mau tidur, kan Kak?” tanya adikku.




Aku menggeleng sambil menatap mereka berdua. Kali ini mereka nampak serius dan seperti hendak menyampaikan sesuatu yang serius.




Aku pun bangkit, dan kami bertiga duduk di atas karpet.




“Ada apa sih? Kok kayak serius banget?” tanyaku.


"Hehe.. gak serius sih.” jawab Nzi.


“Ini serius, dek, kakakmu harus tahu.” sergah Rere.


“Hihi.. iyah.. iyah..” Nzi pun memeluk kekasihku.


“So?” aku semakin penasaran.


“Jadi gini, yank…” Rere mendahului. “Selama kamu tidak ada, aku dan Nzi pernah bertengkar.”




Aku menyembunyikan senyum mendengarnya. Mendengar penuturan Rere, aku sudah tahu persoalan yang hendak mereka sampaikan sebelum mereka ucapkan. Sepertinya sudah saatnya bagiku juga untuk jujur.




“Kok bisa? Bertengkar kenapa?” aku pura-pura kaget.


“Karena Iba.” jawab mereka serentak.


“Oh sopir mamah dulu? Kenapa emangnya?”




Rere bergeser dan menggenggam tanganku. Sorot matanya terlihat begitu sungguh-sungguh. Ia menelan liur untuk membasahi tenggorokannya. “Aku dan Iba pernah berciuman, dan Nzi melihat.”




Setelahnya ia menunduk.




“Oh..” singkatku. Terlepas dari apa yang mereka bicarakan sebelum menemui aku, aku cukup terharu atas kejujuran kekasihku.


“Kak? Kok tiis banget sih?” Nzi heran dan protes.


“Yaudah sekarang jelaskan.” pintaku sambil tetap bersikap tenang.




Karena Rere malah berlinang air mata, akhirnya Nzi yang berinisiatif bercerita. Mulai dari kebiasaan Rere yang memasang bunga di kamarku dan menggantinya setiap hari, sampai pada kedatangan sopir baru di dalam rumah ini.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar