Sang pewaris part 50

 

Bab 50








Hal pertama ketika aku tiba kembali ke dalam kamarku adalah mencium setangkai mawar yang sudah mulai layu karena pemiliknya tak pernah menggantinya lagi. Gadis itu kini masih berbaring di rumah sakit. Kuusap dan kudekap pula diarinya yang belum kutahu goresan apa yang ada di dalamnya.




Kali ini aku benar-benar pulang. Aku kembali ke rumah dan kamarku. Aku telah menyelesaikan rintangan kedua dan pulang dengan membawa ilmu mindah rupa. Sebuah ilmu yang memampukanku untuk berganti wujud, namun itu pun hanya terbatas menjadi seorang Rei dan menjadi seorang Iba.




Berbeda dengan Senja dan ayahku yang mendapat kekuatan yang diturunkan begitu saja, aku harus mempelajarinya sendiri dan secara bertahap. Aku tidak bisa serta-merta sakti seperti mereka. Ilmu mindah rupa adalah ilmu pertamaku sekaligus ilmu khusus yang tidak dimiliki oleh kedua pendahuluku.




Kini aku kembali untuk menjalani hidup rutinku sebagai manusia biasa, sekaligus untuk menyelesaikan misi ketigaku. Aku harus membereskan persoalan yang pernah dibuat oleh seorang Iba, sekaligus mencari cinta sejati seorang Rei. Jika aku bisa melewatinya, maka rintangan keempat dan seterusnya akan dilaksanakan di Anta.




Aku sebentulnya ingin langsung menemui Rere dan melihat keadaannya, namun biar bagaimana pun keluarga harus menjadi yang utama. Kuputuskan untuk menemui keluargaku besok pagi, dan membezuk Rere setelahnya. Kuletakan kembali buku harian Rere.




Keadaan kamarku tidak berubah. Semuanya masih sama seperti terakhir kali aku meninggalkan kamar ini, juga sangat sesuai dengan apa yang kulihat saat menjalani rintangan kedua. Bedanya, penglihatanku kemarin adalah semu akibat dari ulah sihir Sawaka, sedangkan sekarang sungguh nyata adanya.




Waktu masih menunjukan jam tiga pagi. Kuputuskan membersihkan diri. Kuambil pakaian ganti, lantas memasuki kamar mandi. Tak sampai dua puluh menit aku sudah selesai dengan badan segar.




“Ayah?” aku kaget ketika ayah sudah ada di dalam kamarku.




Ayah berdiri dan menatapku seolah sedang memastikan bahwa yang ada di hadapannya adalah nyata anaknya. Kulihat matanya berkabut, secara perlahan senyum bangga dan bahagianya terpulas.




Tanpa banyak kata aku langsung menyalami dan mencium tangannya. Kami pun berpelukan erat. Yeah.. berkat kemampuannya, ayah akan tahu jika aku sudah pulang. Jadi aku tidak terlalu heran ketika ia bangun sepagi ini demi menemuiku.




“Sudah lama?” tanya ayah sambil menepuki kedua pundakku.


“Barusan, Yah.”


“Syukurlah kamu sudah pulang dengan selamat.” suara ayah bergetar.




Aku kembali memeluk ayah, kubisikan pula kabar gembira bahwa aku sudah berhasil melewati dua rintangan sekaligus.




“Ayah bangga, nak.” ujar ayah.




Tanpa terasa aku pun menitikan air mata. Tidak menyangka bahwa ayahlah yang akan menyambutku pertama kali. Ia pasti merindukan dan mengkhawatirkanku, namun sebagai seorang Suwir Jagad, ia harus bisa menutupi agar bisa memberi rasa nyaman pada mamah dan kepada kedua saudariku.




Pelukan kami terlepas. Rupanya mata ayah juga berkaca-kaca.




Sebagai dua orang yang memiliki kepekaan di atas rata-rata, kami bisa mendengar suara langkah yang menaiki anak tangga. Kutahu itu mamah. Meski langkahnya tanpa suara karena tanpa alas kaki, aku bisa merasakannya.




Ayah menggeleng sambil berusaha menyembunyikan rasa harunya. Aku segera berjingkat dan bersembunyi di balik pintu. Ayah duduk di atas kasurku.




“Ayah?” kudengar suara mamah setengah berbisik. Tubuh kami hanya terhalang pintu.


“Kok bangun, Mah?” tanya ayah.


“Ayah tidak ada.” rajuk mamah.




Kulihat ayah tersenyum. Mamah pun mendekatinya. Ingin rasanya aku memeluk dari belakang, tetapi kubiarkan.




“Ayah kangen Rei?” tanya mamah. Wanita hebat itu pun langsung memeluk ayah.




Kulihat ayah mencium kening mamah. Aku tersedak haru. Aku sudah tahu bahwa mamah memang tidak pernah bisa jauh dari ayah. Namun bahwa mamah bisa merasakan kepergian ayah di tengah tidurnya, itu mengagumkanku.




Ayah memberi kode, dan aku mendekat perlahan. Kakiku menjinjit.




“Kalau ayah seperti ini, lalu gimana mamah dan kedua putri kita?” kudengar mamah mulai terisak.




Ayah pura-pura mendesah. Mamah semakin membenamkan kepalanya.




“Maafkan ayah, ya Mah.” ujar ayah.




Keduanya berpelukan erat.




“Anak kita apa kabar, ya Yah? Mamah juga kangen.” isak mamah.


“Aku baik, Mah.” ujarku.




Mamahku langsung kaget dan melepaskan diri dari pelukan ayah. Matanya yang sedang menangis langsung terbelalak, tangan kirinya menutup mulut.




Aku tersenyum sambil merentangkan tangan.




“Aku pulang, Mah.”


“Sayaaang?” pekiknya tertahan. Diusapnya air mata untuk memastikan penglihatan.




Mamah pun berdiri, kedua tangannya terulur menyentuh pipiku. Air matanya kembali terurai dan pelukan erat pun kudapatkan; sedangkan ayah menutup pintu kamar.




“I love you, mom. Maafkan aku ya, perginya kelamaan.” ujarku.




Mamah semakin menangis. Kini air mata dukanya berganti bahagia. Ciuman pada kening dan kedua pipi pun kudapatkan. Kubalas mencium pipinya.




Kami kembali berpelukan untuk melepaskan rasa rindu, sedangkan ayah mengusapi bahu kami berdua. Mamah akhirnya memeluk ayah juga sehingga kami berpelukan bertiga.




Setelah sama-sama bisa mengusai suasana penuh haru, kami pindah duduk di atas sofa kamarku.




“Ayah ngeselin!! Kenapa gak bilang kalau anak kita akan pulang malam ini?!!” mamah nampak kesal dan memukuli bahu ayah, sedetik kemudian ia kembali memelukku.




Aku dan ayah sama-sama terkekeh.




“Mamahmu, tuh Rei, tahu aja kalau ayah keluar kamar.” goda ayah.


“ayah!!”




Aku terkekeh melihat tingkah kedua orangtuaku. Lantas rasa kangen dan cerita-cerita kecil saling kami bagikan. Perasaanku terasa begitu hangat mendapatkan penyambutan dari dua orang terhebat dalam hidupku.




“Gimana perjalanan misimu, sayang?” tanya mamah setelah semua rasa rindunya tertumpah.


“Kayaknya enak sambil ngopi deh ngobrolnya. Iya, kan Rei?”


“Setuju, Yah.”


“Haiiisssh!! Kalian itu.” mamah pura-pura cemberut.




Akhirnya kami bertiga keluar kamar. Mamah bagaikan ratu yang minta digandeng oleh aku dan ayah. Kami menuruni anak tangga secara perlahan agar kakak dan adikku tidak terbangun.




Aku dan ayah duduk di serambi ruang tengah, sedangkan mamah menyeduh kopi. Kusulut rokok milik ayah, sungguh terasa nikmat.




“Kasian mamah dan kakak-adikmu, mereka sangat sedih dan selalu mengharapkanmu segera pulang.” ujar ayah di sela isapan rokoknya.


“Aku sebenarnya tidak pernah jauh dari rumah, Yah.” jawabku sambil tersenyum kecil.


“Maksudmu?”


“Iba. Iba itu adalah aku.”


“Kamu dan Sawaka memang kupret!!!” ayah langsung menimpukku dengan zippo kesayangannya.




Aku pun tertawa, dan ayah ikut terbahak. Kami sama-sama menertawakan apa yang selama ini telah terjadi.




“Ssst.. jangan keras-keras tertawanya. Kekey nanti bangun.” mamah datang sambil membawa baki.


“Makasih, Mah.” kuambil cangkirku dan kuseruput nikmat.




Kucomot juga bolu di atas piring. Mamah mengusapi rambutku dengan gemas, lantas duduk di samping ayah. Matanya selalu menatapku, dan senyumnya tak berhenti mengembang.




“Jadi seneng sekarang, anakmu sudah pulang?” goda ayah.




Mamah memanyunkan bibirnya, lantas meletakan kepalanya pada bahu ayah. Sedangkan tatapannya tak pernah luput padaku.




Setelah rokok pertama habis, kuceritakan perjalananku sejak meninggalkan rumah. Kali ini mamah yang memekik ketika kusampaikan bahwa aku menyamar sebagai Iba. Ia langsung memeluk kepalaku, dan berulang kali menyampaikan penyesalannya karena telah sering menyuruh-nyuruhku dan ‘menelantarkanku’ di kamar belakang.




“Nggak kok, Maah. Aku sama sekali tidak pernah merasa diperlakukan secara tidak baik.” hiburku.




Ceritaku terhenti sesaat karena mamah kembali berlinang air mata sambil memelukku. Ia seakan meratapi nasibku yang harus bekerja sebagai sopir, dan terpaksa harus dipecat karena adanya perselisihan antara Nzi dan Rere.




“Tuh kan, Yaaaah. Mamah gak pernah salah kalau mamah merasakan kehadiran anak kita dalam diri Iba.” ujar mamah tanpa pindah duduk. Kali ini ia memeluk lenganku.


“Apalagi Rere tuh..” ujarnya lagi.


“Iya.. iya… kalian hebat. Padahal ayah saja tidak merasa begitu.” jawab ayah.


“Huhh! Dasar gak peka! Ayahmu tuh, Rei, udah dibilangin juga tetap aja keras kepala.”




Mau tidak mau aku pun tertawa melihat tingkah mamah dan ayah. Dan ingatanku beralih…




“Yah, Mah, gimana keadaan Rere?”




Mamah menghela nafas sambil menatapku sendu.




“Pacarmu sakit keras, Rei, tetapi sekarang sudah melewati masa kritisnya. Kamu harus berterima kasih pada ayah.” jawab mamah.




Mamah bercerita bahwa Rere mengidap penyakit yang sangat parah, yaitu kanker hati. Seluruh keluarga merasa terpukul, dokter malah mengatakan peluang Rere untuk sembuh sangatlah kecil.




Aku sungguh kaget dan sesak mendengarnya. Jadi penjelasan Tante Nur dan Om Sulis palsu dalam rintangan keduaku sesuai dengan kisah nyata yang sesungguhnya.




Rere sempat mau dibawa ke Singapura, meskipun dokter mengatakan bahwa itu hanya untuk menambah sedikit usia Rere, bukan untuk menyembuhkannya. Ayahku yang keberatan. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ia menyembuhkan Rere dengan kemampuan yang ia miliki. Sehari kemudian, hasil pemeriksaan menunjukan bahwa kanker Rere sudah hilang. Keluarga tidak heran, tetapi para dokter dan tim medis kebingungan. Pemeriksaan kedua pun dilakukan untuk memastikan, dan hasilnya sama, kanker Rere sudah hilang. Dokter masih tidak percaya, dilihat lagi hasil lab pertama, dan hasilnya memang tidak salah. “Ajaib!” akhirnya itulah kesimpulan dokter.




“Makasih, Yah.” ujarku tulus. Ayah mengangguk dan tersenyum.




Obrolan kami sangatlah random. Setelah banyak berkisah tentang Rere, kini fokus kembali kepadaku. Kisah panjang kusampaikan diselingin tawa dan canda getir ketika mengenangku yang berperan sebagai sopir. Mamah malah sudah bisa membayangkan begitu menderitanya perasaanku, juga membayangkan rasa cemburu yang kumiliki ketika Rere dekat dengan Iba.




Yeah begitulah.. ada linang air mata, ada senyum getir, ada juga tawa lucu.. dan di atas semuanya itu kami bertiga sangatlah bahagia.




Aku tidak menceritakan rintangan keduaku secara detail. Aku hanya menyampaikan bahwa aku semedi di Anta dan digoda para wanita. Mamah tersenyum bangga ketika aku mengatakan bahwa aku berhasil melewati godaan dari para wanita cantik. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya seandainya ia tahu bahwa salah satu wanita itu menyerupai sosok mamah.




“Bodoh kamu, Rei, masa ada barang bagus tapi tidak kamu suwir.” celetuk ayah.




Mamah yang semula kagum mendengar ceritaku langsung terlihat kesal. Omelannya langsung membuncah, sedangkan aku dan ayah tertawa.




Tentang rintangan ketigaku, aku tidak mau lagi menutupinya. Kedua orangtuaku, dan kelak para wanita ritual ayah, harus tahu. Kusampaikan apa adanya. Ekspresi ayah dan mamah pun terlihat kaget. Bangga mereka berubah kecewa atas apa yang telah kulakukan, khususnya dengan Tante Wulan dan Salsa.




Apapun itu, orangtua selalu membantu untuk berjuang ke depan sambil memperbaiki apa yang sudah dilakukan di belakang. Ayah dan mamah pun memberi banyak nasihat untuk selalu hati-hati. Perasaan perempuan selalu lebih dominan sekalipun itu dalam hubungan terlarang yang disadari, ujar mereka.




Obrolan pun berakhir ketika para pegawai rumah mulai bangun. Mereka menyambutku dengan gembira, dan aku meminta supaya mereka diam-diam saja. Aku ingin memberi kejutan pada kakak dan adikku.




Ayah masuk ke dalam kamar, mamah pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan spesial. Aku lebih memilih keluar rumah untuk menikmati suasana pagi. Aku ingin menikmati suasana pagi di hari kepulanganku. Setelah menyapa satpam dan saling berbagi kabar, aku pun berlari menuju taman kompleks.




Tepat jam tujuh aku sudah kembali ke rumah. Masuk melalui pintu dapur. Kedua orangtua, kakak, dan adikku sudah berkumpul di meja makan.




“Loh, ayah kok belum rapi? Gak masuk kerja?” terdengar suara kakak.


“Ayah libur dulu deh, mumpung mamahmu tidak ada jadwal ngajar.” jawab ayah.


“Yah.. gimana sih? Kan hari ini ada meeting dengan client dari Korea.”


“Hehe.. kamu handle, ya sayang, menemani mamahmu lebih penting.”


“Cieee.. ayah dan mamah aneh deh. Mau bulan madu yah?” kali ini terdengar suara Nzi.




Terdengar perdebatan, tetapi keputusan tetap saja, ayah tidak akan masuk kantor, dan semua urusan hari ini dilimpahkan pada kakak. Nzi sendiri memang tidak ada kuliah, dan ia bercerita mau pergi membuat konten bersama timnya ke villa oma di Lembang.




Aku sudah tidak tahan lagi berlama-lama menguping di dapur. Aku pun bersiap masuk dan bersikap seolah-olah baru pulang joging. Beberapa pegawai mengacungkan jempol sambil tersenyum gembira karena anak majikannya sudah pulang.




“Pagi, Yah. Pagi, Mah.” ujarku sambil masuk.


“Pagi, sayang.”


“Pagi, Rei.”




Mamah dan ayah bersamaan. Kucium pipi mereka. Kakak dan Nzi terbelalak sambil tetap mematung di atas kursi masing-masing. Keduanya terlihat shock.




“Morning, kak.” sambil merunduk di belakangnya lantas mencium pipinya.


“Morning, Nzi ceriwis.” kulakukan hal yang sama pada adikku.




Kakak melongo, matanya mengikuti setiap gerak-gerikku. Nzi terbelalak tanpa berkedip. Ayah dan mamah hanya mengulum senyum melihat Kak Kekey dan Nzi yang masih shock karena kehadiranku yang tiba-tiba.




Aku dengan enteng duduk pada kursiku dan kucentong nasi goreng spesial masakan mamah.




“Gak makan, dek?” kucolek lengannya.




Adikku mengerjap-ngerjap. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Aku sih enteng saja menyuap nasi goreng, terasa begitu lezat.




“Kakaaaaak!!!” Nzi menjerit histeris. Ia seakan baru sadar kalau tidak sedang bermimpi.




Buuuuk!!! Ia memukul dadaku. Aku meringis sambil mengusapi bekas pukulannya. Melihatku meringis, Nzi pun langsung tahu bahwa kehadiranku nyata adanya. Ia menggabruk dan memelukku. Aku tertawa sambil balas mendekap.




Kakak tak kalah histerisnya. Ia langsung menghambur memeluk. Mamah meletakan kepalanya pada pundak ayah sambil tersenyum haru melihat kami bertiga.




“Kakaaak. Hiiiiks….” Nzi langsung menangis keras.


“Nyebelin. Pulang gak bilang-bilang.” kakak mengacak-acak rambutku. Ia pun menangis seperti Nzi.


“Iiih kakak.. kangen tahuuu…” Nzi semakin mendekapku.




Jadilah.. kami bertiga saling melepas rindu. Kakak menciumi kepalaku dengan gemas. Tangisnya pun kemudian berubah menjadi omelan kesal dan gemas. Cubitan dan pukulan kecil pun kudapatkan dari kedua putri rumah ini.




“Kenapa ayah dan mamah gak bilang sih kalau kakak sudah pulang?” sewot Nzi. “Kakak nyampe rumah jam berapa?” cecarnya lagi padaku.


“Jadi ini alasan ayah gak mau masuk kantor? Kalau gitu aku juga mau bolos.” rajuk kakak.




Untuk pertama kalinya, suasana ruang makan dipenuhi gelak tawa. Kakak pun pindah duduk. Kini aku diapit oleh kedua saudariku.




Aku tidak bisa langsung menikmati nasi goreng favorit masakan mamah lagi. Kakak dan adikku selalu mencecarku dengan banyak pertanyaan. Ujaran mamah yang mengingatkan supaya aku diberi kesempatan untuk makan dulu pun tidak mereka hiraukan.




Bukan kami saja yang bahagia, para pegawai yang mulai sibuk melakukan pekerjaan mereka pun terlihat gembira melihat kembalinya suasana ceria di dalam rumah ini.




Nzi mengabadikan kebersamaan ini dengan membuat video singkat dari smartphonenya dan dikirim kepada grup keluarga besar. Kabar kepulanganku pun langsung menyebar. Atas permintaanku, kakak menulis pesan supaya tidak memberitahu Rere terlebih dahulu.




“Sudah.. sudah.. udah jam berapa ini. Kak, kamu buruan berangkat gih.” mamah mengingangatkan.


“Aku gak mau ngantor.” celetuk Kak Kekey.


“Kan ada meeting, Kak.” ujar ayah.


“Bodo!”


“Hahaha…” kami pun tertawa bersama.




Akhirnya kakak baru berangkat ke kantor jam sepuluh. Itu pun hanya untuk meeting. Nzi membatalkan rencananya untuk shooting di Lembang.




Setelah kakak berangkat, kami berempat juga berangkat ke rumah sakit untuk membezuk Rere.




Om Sulis dan Tante Nur sudah menunggu kami di lobi rumah sakit. Mereka menyambutku dengan sangat gembira. Tante Nur malah menangis memelukku. Bunda Rahma, Tante Rinjani dan Inka juga datang. Kami pun saling melepas kangen dan berbagi kabar. Setelahnya sama-sama menuju ke lantai lima, tempat Rere dirawat.




Kami beriringan masuk secara perlahan, sebagian duduk, sebagian lagi mengelilingi tempat tidur. Rere nampak sedang terlelap.Hatiku sangat terenyuh melihat kondisi kekasihku yang terbaring lemah. Jarum infus masih terpasang pada tangannya.




Mamah mengusapi kepala Rere, sedangkan aku berlindung di balik gorden.




“Rei!!” kulihat Rere seperti terkejut dan membuka mata.


“Ini mamah, sayang. Tuh ada ayah dan tantemu juga. Nzi.. Inka…” ujar mamah dengan lembut.




Mereka tidak tahu bahwa aku sangat terharu. Perasaan seorang kekasih tidak bisa dibohongi ketika orang yang ia sayangi sedang berada di dekatnya.




Kulihat Rere tersenyum kecut. Jelas ia bahagia dikelilingi keluarga tersayang, tetapi juga kecewa karena aku tidak ada seperti di dalam mimpinya.




“Memang barusan mimpiin Kak Rei, ya kak?” tanya Nzi.




Rere menggeleng sambil tersenyum. Bisa kupastikan kalau air matanya berlinang. Aku pun mendekat dari sisi berbeda. Berlindung di belakang punggung Inka.




“Ehem…” serempak terdengar ada deheman.




Rere mengernyitkan dahi, ia menengok ke arahku berada. Sorot mata kami beradu. Bibirku bergetar, tapi tak sepatah kata pun yang bisa kulontarkan. Rere mengerjap beberapa kali.




“Cieeee.” Nzi dan Inka serempak.




Aku mendekat dan menggenggam tangan kekasihku. Bibirku kelu dan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Bibir pucat Rere bergetar, namun sama sepertiku, ia juga tidak bisa berkata-kata.




Setelah bisa mengatur gemuruh perasaan di dalam dada, aku pun merunduk mendekati telinga kekasihku. “Sayang, aku pulang. Aku kangen banget.”




Kudaratkan kecupanku pada keningnya. Air mata Rere langsung tumpah mengaliri pipinya yang cekung dan pucat. Aku ikut berkaca-kaca.




Suasana tiba-tiba menjadi hening. Mereka tersirep oleh suasana perjumpaan yang mengharukan. Kuusap air mata Rere, namun masih terus saja mengalir deras.




Tante Nur mengambil inisiatif menaikan bagian kepala ranjang sehingga posisi Rere menjadi setengah duduk. Kuraih kepala kekasihku dan kubenamkan ke dalam dekapan. Rere semakin menangis, kurasakan pelukannya sangatlah erat.




Para wanita ikut berlinang air mata, sedangkan para pria terdiam untuk menyembunyikan rasa haru. Kuusapi punggung kekasihku. Tubuhnya masih bergetar karena isak tangis.




“Aauuu… sakit, Re.” keluhku ketika ia tiba-tiba menggigit bahuku.


“Sakit? Hiiiks…” tanyanya.


“Banget. Perih.”


“Yaudah kalau sakit berarti aku gak sedang bermimpi. Hiiks…”




Kudekap kembali kekasih. Rindu dan gemas bercampur menjadi satu. Sementara suasana haru menjadi cair, tawa terdengar ketika melihat tingkah dan ucapan Rere.




Selebihnya Rere tidak banyak bicara, tetapi ia selalu mendekap lenganku. Obrolan gembira di antara keluarga yang hadir mulai meramaikan kamar. Banyak cerita tentang Rere dan sakitnya, banyak tanya tentang kabar dan perjalananku.




Sambil saling bercerita, mamah menyodorkan pisin berisi buah yang baru saja ia kupas. Kusuapi Rere.




“Hmm.. jadi gitu yah, sayang? Dari kemarin gak mau makan, tapi sekarang lahap. Jadi maunya hanya disuapin oleh Rei?” goda Tante Nur disusul suara tawa.




Rere cemberut lantas menatapku. Ia menyembunyikan rasa malunya dengan menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukanku.




Mendengar keributan, seorang perawat datang. Namun setelah tahu apa yang terjadi, ia pun paham dan membiarkan kami ngobrol.




Siang harinya keluargaku memutuskan untuk makan siang bersama di restoran terdekat, sedangkan aku menemani Rere. Mereka paham, kami butuh waktu berdua untuk saling melepas rindu.




“I love you. Lekas sembuh, ya sayang.” ujarku selepas kepergian mereka. Kukecup kening Rere.


“Jahat!! Lama banget perginya!!” kekasihku mulai merajuk manja.


“Maafkan aku. Sekarang aku sudah pulang. Kamu cepat sembuh, ya sayang, biar cepat pulang.” ujarku.


“Gak mau pulang!” Rere masih cemberut.


“Kok gitu?”


“Nanti kalau aku pulang, malah kamunya yang pergi lagi.”


“Ya gak gitu juga.”




Kuletakan kepalanya di atas bantal. Kubelai dan kurapikan rambutnya dengan penuh kasih sayang. Rere memejamkan mata meresapi. Kukecup kedua alisnya, pucuk hidungnya. Rere membuka bibir. Kukecup dan disambut kuluman hangat.




“Aku kangen banget, yank.” lirihnya.




Kubalas dengan kuluman. Aku dan Rere pun saling menumpahkan rasa rindu dengan ciuman yang sangat dalam dan lama.




“I love you.” bisik kami bersamaan.




Kami sama-sama tertawa kecil dan saling membelai mesra. Ada rasa hati yang sama, dan itu terucap bersama-sama pula.




Kemesraan kami terganggu ketika perawat datang dan membawakan makan siang. Mereka nampak heran sekaligus senang melihat perubahan Rere. Kini Rere sudah tidak murung lagi, wajahnya pun sudah tidak sepucat sebelumnya.




“Terus makan siangmu gimana, sayang?” Rere tidak langsung mau menerima suapanku. Di tengah sakitnya, ia malah mengkhawatirkanku.


“Kamu makan dulu, aku mah gampang nanti minta Nzi supaya bawakan ke sini.” jawabku.


“Yaudah bilang Nzi sekarang.”


“Yank..”


“Ayo!”




Aku pun mengalah. Kukirim pesan pada Nzi dan kutunjukan kepada kekasihku. Ia pun akhirnya mau makan.




Rere memang gadis mandiri. Maklum dia adalah keturunan tentara dan sejak kuliah dikondisikan untuk hidup sendiri di Bandung. Namun tidak kali ini, kekasihku bukan gadis mandiri, melainkan gadis yang sangat manja. Kadang-kadang aku harus mencium keningnya atau bibirnya terlebih dahulu agar ia mau kusuapi. Aku seperti sedang membujuk dan menyuapi anak kecil, namun itu menyukakanku.




“Mau pipis.” ujarnya seusai makan.


“Aku panggil perawat yah.” sambil meraih tombol merah.




Rere mencegah, kedua pipinya mengelembung.




“Manja!” sambil menjembelnya gemas.




Kekasihku memamerkan gigi putihnya. Kuberikan punggungku dan ia nemplok dalam gendongan. Kuraih labu infus. Kugendong kekasihku menuju kamar mandi. Lantas kukaitkan infus pada tempat yang telah tersedia.




Rere menoyor jidatku ketika aku ragu mau menurunkan celana tidur panjangnya. Tanpa sungkan, malah ia yang menurunkan celana dan duduk di atas kloset. Aku menelan liur, kemaluan kekasihku sudah bermahkota alias tidak gundul lagi.




“Sayang, iih..” ia langsung menyembunyikan wajahnya yang bersemu malu pada perutku.




Ia kencing sambil memelukku. Andai saja ia menurunkan wajahnya sedikit lagi, kang pepen pasti akan sangat senang.




Kuberikan tissue dan Rere mengelap vaginanya. Kutekan flush dan air pun mengguyur kloset. Setelah semuanya beres kupangku kekasihku. Kali ini ia tidak mau kugendong. Kubopong tubuhnya yang sedikit kurus, dan ia sendiri yang memegang infus.




Kubaringkan dengan pelan dan kupasangkan selimut. Rere mengecup bibirku sebagai ungkapan terima kasih. Sisanya kami bermesra sambil berbagi cerita. Aku sungguh bahagia, kini cahaya wajah kekasihku sudah mulai bersinar. Semangat hidupnya tumbuh kembali.




Tak berselang lama orangtuaku dan Nzi datang. Pun pula Om Sulis dan Tante Nur. Bunda Rahma, Tante Rinjani dan Inka tidak terlihat, katanya mereka langsung kembali ke kantor.




Wajah mereka terlihat senang melihat perubahan Rere yang kini lebih segar dan lebih bercahaya. Deheman-deheman menggoda pun tertuju pada kami berdua. Kini giliran aku yang makan sambil duduk di atas sofa, dan giliran Nzi yang bermanja sambil menemaniku makan.








https://t.me/cerita_dewasaa








Dua hari kemudian Rere sudah boleh pulang dari rumah sakit. Selama dua hari ini aku selalu menemaninya. Yang lain bergantian jaga dari pagi sampai sore, sedangkan aku jaga dari sore sampai pagi.




Keluarga besar kami menyambut gembira kesembuhan Rere. Syukuran kecil pun kami laksanakan di rumahnya. Sebuah syukuran atas kesembuhan Rere sekaligus menyambut kepulanganku. Banyak keluarga yang hadir, termasuk Tante Maya dan Om Lupa suaminya (suami Tante Maya siapa ya? hehee). Rana tidak bisa hadir karena sedang KKN di sebuah desa di Jawa Tengah.




Doa dan makan bersama sebetulnya hanya sampai jam sembilan malam, tetapi kami kaum pria masih begadang sambil larut malam. Rere sudah masuk kamar dan ditemani para sepupu dan tante-tantenya.




“Ayah, ayo pulang.” mamah mendekat.




Satu per satu anggota keluarga pun berpamitan pulang. Orangtua beserta kakak dan adikku juga pulang, termasuk Tante Maya dan suaminya yang weekend ini akan tinggal di rumahku. Atas seijin Om Sulis dan Tante Nur aku tidur di kamar kekasihku.




Kulihat kekasihku sudah terlelap. Kuputuskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Kuganti lampu dengan lampu tidur.




Aku pun masuk ke dalam selimut tetapi tidak langsung tidur.




Kutatap wajah kekasihku. Kuelus semua lekuk wajahnya. Aku sudah sangat mengenal parasnya, namun tak pernah jemu memandangnya.




“Selamat malam, sayang. I love you.” bisikku sambil mengecup keningnya.




Kubenamkan kepalaku di atas bantal.




Hmmmfff. Tiba-tiba Rere bangun dan langsung menindihku. Rupanya ia hanya pura-pura tidur.




“I love you too, Reinya aku.” sambil tertawa kecil. Ia nampak begitu bahagia.


“Yank? Kirain udah bobo.”


“Nungguin kamu.”




Aku dan Rere pun saling mengulum mesra. Permukaan lidah kami saling menyapu. Mata kami sama-sama terpejam untuk meresapi.




“Kamu nyebelin banget sih, sayang?” gumamnya di akhir cumbuan. Tangannya menguyel-uyel rambutku dengan gemas.


“Kok nyebelin?” sambil mengusap ujung bibirnya yang basah.


“Karena telah membuat aku sayang dan kangen terus.”




Lagi-lagi kami saling berpagutan. Kondisi seperti ini membuat kekasihku abai pada dasternya. Payudaranya berulang kali terlihat menyembul dari celah lehernya, dan pahanya terpajang indah.




Rasaku berdesir, tubuhku meremang merinding. Rinduku yang selama ini menggunung, menuntut pelepasan.




Kugulung tepi dasternya hingga ke pinggang, mataku nanar memandang celana dalamnya yang berenda putih, lantas kata “BERSAMBUNG” pun bersenandung…











Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar