Sang pewaris part 49


Bab 49




Aku menggeliat dan bangun dari tidurku. Perutku terasa sangat lapar. Hari sepertinya sudah larut malam, kulihat ada lampu minyak yang menyala pada kedua sisi dinding kamar.


What?!!! Aku langsung duduk di pinggir tempat tidur ketika menyadari keberadaanku. Kugosok mukaku berulang kali, tetapi yang kulihat tetaplah sama. Aku masih berada di kamar yang sama dengan kamar ketika aku pergi tidur.


Sial apakah selama ini aku bermimpi? Tetapi mengapa terasa begitu nyata? Aku pun melangkah mendekati jendela, kubuka agar bisa melihat keluar. Hari memang sudah malam, dan di bawah sana nampak kemerlip lampu obor. Tidak salah lagi, aku masih berada di Gerbang Sukma Wawaha.


Karena penasaran, kurogoh kang pepen. Masih basah dan lengket. Bodohnya malah kucium dan bau seperma langsung menyengat hidungku. Aku pun mondar-mandir di dalam kamar, kuabaikan sesaat rasa lapar. Aku mencoba mengingat.. jelas bukan mimpi. Spermaku juga masih segar.




Sekuat tenaga aku mendorong Rere hingga ia terjengkang di atas kasur. Kupencet kepala kang pepen keras-keras agar tidak jadi muntah. Namun sangat sulit kutahan. Sedikit saja kulonggarkan tanganku, semburan panas pasti akan langsung memancar.


“Sayang, kamu kenapa?” Rere terheran, ia kembali mendekat untuk mencumbu kemaluanku.

“Re, jangan! Aku mohon.”


Tapi Rere tidak mendengarkanku, tangannya semakin dekat. Aku mundur beberapa langkah sambil terengah. Sadar bahwa Rere tidak mau mengalah, aku pun segera berlari meninggalkan kamar. Penisku benar-benar sakit karena dua alasan. Pertama karena desakan sperma, dan kedua karena kepalanya kupencet sangat keras.


Rere menyusul, untunglah ia hanya mengejar sampai pintu kamar. Dengan panik aku pun membuka sebuah pintu, pikirku adalah kamar kosong, tetapi ternyata kamar Tante Nur dan Om Sulis.


Entah sial atau sebuah keberuntungan. Lampu kamar calon mertuaku menyala terang, sedangkan penghuninya sama-sama terlelap dalam keadaan telanjang. Sepertinya mereka baru saja melakukan hubungan-tidak-terlarang. Om Sulis tidur telungkup, sedangkan Tante Nur masih mengangkang. Vaginanya terlihat basah, bukit suwirannya pun belepotan sehingga bulu-bulunya melekat pada kulitnya yang kuning langsat. Terlihat begitu klimis.


Aku melirik ke belakang, Rere sudah menutup pintu kamarnya dari dalam. Kulepaskan genggaman tanganku pada kang pepen sambil memandang nanar vagina Tante Nur. Hanya dalam hitungan detik, spermaku pun langsung menyembur, tertumpah pada lantai kamar calon mertuaku. Dan aku pun ambruk, bersimpuh bertopang lutut. Tubuhku bergetar nikmat, sementara pandangan mata masih terus menatap selangkangan Tante Nur.




Seingatku aku langsung lemas dan berbaring di lantai kamar Tante Nur. Orgasmeku terlalu hebat melihat suguhan perabotan bekas suwiran ayahku, dan aku pun tertidur tak sadarkan diri. Tetapi kenapa aku tiba-tiba kembali ke gerbang kerajaan Anta?


Kuputuskan untuk keluar kamar dan mencari Sawaka. Rupanya di ruang makan sudah ramai. Hidangan lezat sedang disajikan, para bidadarinya pun sepertinya tak kalah lezatnya seandainya kusuwir. Total ada lima gadis cantik yang sedang sibuk, pakaian mereka menerawang semua; dan tak ada satu pun yang bervagina gundul.


Kelima bidadari itu serempak mengangguk menyambutku. Mata mereka tertuju pada selangkanganku, lantas sama-sama tersenyum malu. Saling sikut, saling colek lengan.


Salah satu di antaranya menarik kursi dan mempersilakanku duduk, seorang yang lain menuang kopi. Rokok kesukaanku juga sudah tersedia, mungkin Sawaka membelinya di warung mang Oleh.


“Terima kasih.” ujarku sambil duduk.


Kuseruput kopi dengan nikmat, kusulut sebatang rokok, dan bidadari yang menarikanku kursi menyalakan korek. Sungguh terasa nikmat hidup ini, meskipun pikiranku masih diliputi rasa bingung.


Aku berusaha membuka percakapan, tetapi tak seorang pun yang menjawab. Hanya senyum yang mereka lemparkan setiap kali aku bertanya. Merasa diabaikan, kuraih tangan salah seorang diantaranya, kuremas jemari lentiknya. Responnya di luar dugaan, ia yang semula alim langsung mendesah binal. Keempat bidadari lainnya langsung mengerubuti. Bukan mengerubutiku, melainkan wanita yang kuremas tangannya. Mereka pun berebut.


Sial!! Aku yang semula heran, sekarang paham. Tanganku masih menyisakan lengket sperma karena tadi aku merogoh kepala kang pepen, dan itulah yang mereka perebutkan. Mereka saling menjilat jari sambil cekikikan, bahkan salah seorang diantaranya mulai memeluk dan menjilati leherku.


Aku ingin menolak. Tapi sayang juga kalau dilewatkan. Aku ingin tahu rasanya menyuwir perabotan makhluk siluman. Kumatikan rokok, dan tanganku mulai merogoh selangkangan salah seorang bidadari. Ia memekik geli, dan langsung melupat bibirku.


“Groaaaaarrrr!!!!” auman seekor harimau menggema.


Para bidadari pun langsung bubar, meninggalkan ruangan. Sementara seekor harimau putih menyeringai marah. Ia meloncat dan naik ke atas kursi di seberangku. Aku terkejut, namun kemudian menjadi tenang ketika tahu bahwa ia adalah Sawaka.


“Hadeuh.. Dasar keturunan si Wawa.. Mesum kok sebelas dua belas? Dan aku rasa, mesummu malah semakin parah.” gerutunya ketika ia sudah berubah wujud menjadi manusia.


Aku sebenarnya kesal karena kehadirannya yang tiba-tiba sehingga aku gagal melihat perabotan perempuan kaumnya. Tetapi ada hal yang lebih penting yaitu perutku yang keroncongan. Tanpa menjawab, aku langsung mengisi piring dan melahap hidangan yang ada. Makanku benar-benar lahap dan banyak. Energiku seperti telah terkuras habis dan perlu dipulihkan. Sawaka ikut makan, dan ia tidak banyak berbicara lagi.


“Sekarang tolong kamu jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi denganku?” ujarku setelah makan kami selesai. Sebatang rokok sudah menyelip pada bibirku, dan gelas sudah terisi tuak asli.

“Selamat kamu sudah lulus melewati rintangan kedua, Rei. Tapi masih banyak catatan yang harus kamu perbaiki jika ingin benar-benar menjadi sang pewaris.” jawab Sawaka.

“Jadi aku sudah lulus? Dan semua yang kualami bukan mimpi.” tanyaku lagi girang.

“Kamu tidak bermimpi, tetapi juga tidak nyata.” jawab Sawaka.


Sawaka pun menjelaskan bahwa aku sebenarnya tidak pernah kembali ke alamku, apalagi ke keluargaku di Bandung. Wanita-wanita yang kujumpai adalah para bidadari yang tadi menyiapkan hidangan. Mereka telah menyamar dan berubah wujud menjadi ‘para penggoda’ dalam sosok mamah, Kak Kekey, Nzi, Inka dan Rere.


Aku menghela nafas antara senang dan kesal. Senang karena selama ini aku tidak sungguh memesumi anggota keluargaku sendiri; juga senang karena telah berhasil melewati rintangan keduaku. Sedangkan sisi kesalnya karena aku merasa telah diperdaya oleh Sawaka.


“Begini Ma-ha-pa-tih yang baik hati.” aku mulai menanggapi penuturannya. “Setahuku, kalau membaca buku cerita kuno atau dongeng Uwa Kepoh di youtube, yang dulunya konon sangat populer di radio, yang namanya godaan seperti itu biasanya terjadi saat seseorang sedang bertapa. Ia duduk bersila di gua atau di suatu tempat, lalu si penggoda datang dalam rupa bidadari telanjang. Tapi kenapa kamu melakukannya padaku secara berbeda?”

“Hahaha… nah kamu sudah banyak tahu tentang cerita zaman dulu. Kalau sekarang aku melakukannya padamu, maka itu akan terlalu mudah bagimu.” ujar Sawaka setelah sebelumnya terbahak.

“Orang akan lebih mudah melawan godaan ketika ia tahu sedang digoda. Justru banyak orang jatuh dan gagal, karena tidak pernah sadar bahwa ia sedang dimasukan ke dalam pencobaan.” lanjutnya lagi.


Aku pun bungkam. Sawaka benar. Dalam hal ini ia lebih pintar satu strip di atasku. Kusulut rokokku, dan kuhembuskan membentuk gulungan-gulungan bulat.


“Lalu apa selanjutnya? Apakah aku boleh pulang dulu untuk menjumpai Rere? Kekasihku sedang sakit.” ujarku pada akhirnya.

“Godaan ketiga masih di alammu.” gumam Sawaka, dan aku cukup lega mendengarnya. Itu artinya aku boleh pulang ke alamku dan bisa bertemu dengan orang-orang tercinta.

“Apa rintangan selanjutnya?”

“Kamu sendiri yang akan menentukannya.”

“Maksudmu?”

“Seperti yang telah kukatakan, kamu yang akan menentukan jenis rintangan ketigamu dan kamu pulalah yang harus menyelesaikannya.”


Penuturan Sawaka terdengar begitu aneh. Aku harus melewati berbagai rintangan, tetapi ada satu rintangan yang aku sendiri yang harus memilihnya. Aku pun menjawab dengan antusias, “Kalau begitu rintangan ketigaku adalah berhenti merokok selama satu minggu.”


Wuuut… asbak gading melayang menyasar jidatku, namun aku berhasil menghindar. Ajaibnya.. asbak itu melayang kembali ke tempatnya tanpa terjatuh. Sawaka terlihat geram, kedua matanya melotot.


“Katanya aku yang menentukan, tetapi kamu malah tidak setuju.” protesku.

“Dengarkan aku…” mimik Sawaka berubah serius.

“Malam ini juga pergilah ke Puri Cahya Sukma di tengah Sungai Citorek. Bersihkan dirimu di sana, dan bersemedilah sampai kamu menemukan rintangan ketigamu.” Sawaka menjelaskan.


Ia masih menambahkan bahwa godaan kedua yang telah kulewati bisa membuat otak mesumku semakin konslet. Walaupun tidak nyata, aku telah mellihat -dan bahkan menjamah- tubuh anggota keluargaku sendiri. Itu bisa mengganggu pikiranku ketika aku bertemu mereka di dunia nyata.


Aku paham dan setuju dengan penuturan Sawaka. Setelah melakukan persiapan, aku pun meninggalkan Gerbang Sukma Wawaha.


Aku menuruni ribuan anak tangga yang berkelok menuju lembah. Suasana malam terasa begitu sunyi, dan boleh dibilang mencekam. Penampakan keraton dan kota mistis Anta semakin terlihat dekat. Kubulatkan tekad, dan kutepis rasa takut. Kugosok tengkukku yang tiba-tiba merinding.


Tak lama kemudian aku tiba di ujung jembatan yang menjadi akses terakhir untuk memasuki Anta. Aku tidak menyeberangi jembatan itu, melainkan menyusuri jalan di tepi sungai yang airnya bergemuruh. Sekarang aku paham mengapa sungai ini disebut ‘citorek’, karena mengandung arti “air yang (bisa membuat) budeg”.


Kulihat ada sebuah puri yang terletak di tengah sungai. Tetapi tidak ada akses jalan menuju ke sana. Aku mematung bingung. Sungai sangatlah lebar, dan airnya berombak menggumpal karena jalan alirannya yang curam.


Kutanggalkan pakaianku hingga benar-benar bugil. Sementara pikiranku terus berputar mencari akal. Cukup lama aku hanya mematung, lantas mondar-mandir. Aku memang bisa berenang, tetapi melawan arus seperti itu sudah pasti tidak akan bisa kulakoni.


“Tenang, Rei, tenang…” aku menyemangati diri sendiri.


Tanpa sengaja aku menginjak batu ceper. Karena konturnya aneh, lantas kuperhatikan. Ternyata di atas batu itu tercetak dua telapak kaki. Kuposisikan kedua telapak kakiku di atasnya. Ukurannya sangatlah pas. Kulipat kedua tangan di depan dada dan mulai berkonsentrasi menatap aliran sungai.


Tidak mudah bagiku. Tiba-tiba bayangan mulus tubuh para wanita yang pernah kujamah saling berkelebat. Pun pula tubuh-tubuh ranum para bidadari di Gerbang Sukma Wawaha tadi. Kang Pepen malah menggeliat tegang karena mendapat stimulus dari pikiran mesumku.


Aku mencoba menepis semua bayangan yang menginggapi benakku. Mencoba dan mencoba lagi… Berusaha fokus pada apa yang ada di hadapanku. Kupusatkan pikiran dan pandanganku. Kusatukan panca indera.


Perlahan tapi pasti aku seperti memasuki dunia lain. Yang kudengar hanyalah gemuruh suara air, dan yang kulihat adalah gumpalan derasnya. Hening… syahdu… yang ada hanyalah aku dan diriku sendiri.


Pada puncak keheningan batinku, tiba-tiba kulihat ada barisan batu besar yang menyembul ke permukaan. Masing-masing berjarak sekitar satu meter.


Aku menemukan jalanku. Sambil tetap berkonsentrasi aku pun mulai meloncat; menapaki batu demi batu dan tiba di bibir puri.


Bangunan kayu nan indah yang semula hanyalah remang tiba-tiba berubah menjadi terang-benderang. Pintunya terbuka sendiri. Kupusatkan pikiran, kujernihkan hati dan budi. Kaki pun melangkah masuk.


Seperti ada yang menuntun, aku menyusuri lorong bagian dalam puri yang dipenuhi bunga beraneka warna. Seorang bidadari cantik menyambutku dan menjelaskan apa yang harus kulakukan. Ia juga membantu menyiapkan apa yang kuperlukan.


Bagian bawah tubuhku yang polos ditutup kain sutra berwarna putih. Bidadari yang bernama Sri Kencana itu lantas membawaku menuju sebuah kolam kecil yang sudah ditaburi bunga melati. Semerbak harumnya langsung memenuhi penciumanku.


“Sebelum masuk kolam, pangeran harus bisa menjawab satu pertanyaanku.” ujar Sri Kencana setibanya kami di tepi kolam.

“Katakanlah.” ujarku.

“Bayangkanlah bahwa pangeran adalah anak yatim piatu dan pangeran diperkenankan menemui Sri Baduga Anta Sukma Suwiraja. Namun ketika pangeran sedang dalam perjalanan menaiki anak tangga menuju istana, pangeran diminta berhenti oleh pengawal istana.”

“…” aku diam menyimak.

“Pengawal itu berkata: ‘Berhenti pangeran. Kalau pangeran melanjutkan menaiki anak tangga, maka ayah pangeran akan mati. Tetapi jika pangeran kembali, maka ibu pangeran yang akan mati.’ Apakah pangeran akan memilih melanjutkan perjalanan atau kembali?”


Aku sebenarnya ingin protes mendengar pertanyaan Sri Kencana. Tentu saja itu adalah sebuah pilihan yang sulit.


“Pangeran baru boleh masuk ke dalam kolam kalau pangeran sudah bisa menentukan pilihan.” Sri Kencana mendesak.


Aku pun terdiam, dan mencoba menyimak kembali isi pertanyaannya. Bodoh!! Ini adalah pertanyaan jebakan, dan aku pun menyeringai senang.


“Aku akan terus menaiki anak tangga itu dan menemui Raja Anta, setelah itu pulang ke rumahku.” jawabku tegas.


Sri Kencana tersenyum, lantas ia menuntun lenganku memasuki kolam. Tubuh kami sama-sama tenggelam hingga sebatas bahu. Di tengah kolam rupanya ada sebuah batu bundar dan kami berdiri di sana.


Sri Kencana mencindukan tangan halusnya dan mengguyur kepalaku sebanyak tujuh kali. Setelah itu ia memandikanku. Kali ini aku sungguh-sungguh ingin berhasil, dan aku ingin segera tahu kondisi kekasihku. Tak kubiarkan pikiran mesum menghampiri. Kutepis keinginan untuk menggerayangi bidadari cantik yang sedang memandikanku. Aku tidak lagi peduli pada kang pepen yang kecewa.


“Sekarang silakan pangeran tinggal di dalam kolam ini sampai pangeran menemukan rintangan ketiga yang harus pangeran laksanakan. Ingat, pangeran hanya boleh keluar kalau pangeran sudah menemukannya.” ujar Sri Kencana.


Ia pun bergerak keluar dari dalam kolam dan masuk ke dalam puri. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan. Akhirnya kuputuskan untuk berenang menikmati segarnya air kolam yang bertabur bunga. Aneh memang.. aku sama sekali tidak merasa kedinginan.


Lelah berenang aku pun bersandar pada dinding kolam dan mencoba memikirkan rintangan untuk diriku sendiri. Ada banyak pilihan, dan ada puluhan alternatif, tetapi akhirnya aku bingung sendiri. Kepalaku tiba-tiba merasa pening.


Aku kembali ke tengah kolam dan kembali berdiri di atas batu. Kulipat tangan, kupejamkan mata. Aku kembali berkonsentrasi.


Tak memerlukan waktu lama, aku kembali memasuki dunia batin yang sangat hening. Panca inderaku kembali terfokus pada misi yang sedang kujalani.


Mata batinku terbuka. Aku bernafak tilas dengan mengingat seluruh perjalanan hidupku sejak masa kecil sampai saat ini. Kisah-kisah bahagia masa kecil bersama orangtua, kakak, dan adik teringat kembali.


Ingatanku bermula dari suasana bahagia ketika Nzi lahir. Ayah dan mamah berlinang air mata bahagia, kakak dan aku antusias menyambut dan mencium si mungil yang masih merah. Wejangan ayah kembali kuingat agar selalu saling menjaga satu sama lain. Satu hal yang baru kuingat saat ini, ayah mencium ubun-ubunku saat itu. Mamah pun melakukan hal yang sama. Anehnya, setelah itu mereka malah memintaku supaya mencium ubun-ubun kakak dan Nzi.


Kisah demi kisah hidupku terus tergambar. Banyak kisah indah, tetapi juga banyak pertengkaran antara kami bertiga. Yeah.. namanya juga anak-anak.


Adegan lain muncul ketika aku dan Rana sedang bermain di taman belakang. Kami kejar-kejaran sambil tertawa riang. Aku berhasil menangkap pinggangnya hingga terjatuh. Kami tertawa sambil saling berguling berpelukan. Tanpa sengaja kami saling mencium bibir. Tidak ada yang aneh, kami malah tertawa setelahnya.


Namun setelah itu, saling mencium bibir ketika sedang berdua malah menjadi kebiasaan antara aku dan Rana. Pada ulangtahunnya yang kedua belas, ia memintaku hadiah ciuman dariku. Itulah pertama kalinya lidah kami saling menyentuh. Boleh dikatakan ciuman pertama, meskipun sebelumnya kami sudah sering melakukannya.


Sehari kemudian kami melakukannya lagi di dalam kamarnya, ketika hanya ada kami berdua dan pembantu di dalam rumah. Bukan hanya ciuman kala itu, melainkan sudah saling meremas dan saling menelanjangi. Aku mengenal ejakulasi untuk pertama kalinya saat itu. Aku dan Rana pun saling mengikat janji untuk saling menyayangi. Sebuah janji polos dari dua bocah yang masih belum banyak tahu tentang arti cinta dan kasih sayang. Dan itu menjadi rahasia kami berdua sampai saat ini.


Kenangan demi kenangan terus datang dan pergi dalam benakku. Orangtua, keluarga, persahabatan, pengorbanan, sukses dan gagal, jatuh cinta dan patah hati… semuanya terlintas, dan seakan nyata kembali.


Aku tersenyum ketika mengingat hal indah, dan dadaku sesak ketika teringat hal sedih. Perasaanku berkecamuk sesuai dengan ingatanku.


Semuanya ini bukanlah rangkaian gambar yang datang dan pergi begitu saja, tetapi seolah dihadirkan secara nyata sehingga cukup mengaduk emosi dan perasaanku. Aku seperti sedang menonton film tentang diriku sendiri, mulai dari masa kecil sampai masa dewasa sekarang ini.


Aku melihat aku, seorang Rei. Sejarah panjang telah menjadikanku menjadi seperti sekarang ini. Seluruh diriku saat ini, baik cara berpikir maupun kepribadianku, dibentuk oleh semua peristiwa itu.


Juga hadir kembali seluruh kenangan sejak awal aku mendapat penampakan dari Sawaka sampai rangkaian-rintangan yang telah kujalani. Aku telah gagal dan memulainya kembali.. tertatih aku menjalaninya, dan kini sudah hampir setengah jalan.


Perbuatan mesumku dengan Rere pun teringat. Juga dengan Bunda Rahma. Kenangan terbaru adalah seluruh perjalanan suwirku dengan Tante Wulan dan Salsa. Rupanya aku telah memasuki lingkaran persuwiran yang menggairahkan sekaligus memabukan. Ada janji pada Enzo, tetapi juga ada cara yang salah untuk menepatinya. Ada cinta pada Rere, sekaligus ada pengkhianatan di belakangnya.


Dadaku terasa sesak. Sekarang ini pasti ada Tante Wulan yang sedang kehilangan seorang Iba. Ada Salsa yang sedang mencari dan merindukannya. Bersamaan itu, ada Rere yang sedang menunggu Reinya sambil terbaring di rumah sakit. Mereka bertiga merindukan orang yang sama.


Aku hampir membuka mata karena tidak tahan. Rasa bersalah dan sedih begitu menghimpitku. Tetapi aku sadar, ini adalah bagian dari rintanganku. Aku berusaha bertahan agar mata tetap terpejam.


“Aku akan pulang, dan menyelesaikan semua urusan yang tertunda. Aku ingin menjadi Iba yang akan berusaha menyembuhkan luka yang telah kutorehkan pada hati Tante Wulan dan Salsa. Aku juga ingin memutuskan janji masa kecil dengan Rana. Dan.. aku akan menjadi seorang Rei yang akan mencari cinta sejatiku.” gumamku.


Sebuah tekad kuucapkan. Sebuah misi kusampaikan. Kini aku harus menyelesaikan dua urusan yang sama-sama berat: persoalan di dunia nyata dan urusan ritual di dunia yang lain.


“Groaaaar!!!” kudengar auman seekor harimau yang memekakan telinga. Dan itu bukan suara Sawaka.




BERSAMBUNG



Posting Komentar

0 Komentar