Sang pewaris part 48


Bab 48



Aku masih menemani Rere di rumah sakit selama tiga hari dua malam. Keluarga besarku pun terpaksa menemuiku di rumah sakit karena aku tidak pernah pulang. Adikku membawakan pakaian ganti dan semua yang kubutuhkan.


Dan inilah hari yang membahagiakan. Rere sudah boleh pulang. Semua keluarga bergembira, meski sempat terjadi perdebatan karena keluargaku meminta agar Rere pulang ke rumahku. Mereka juga masih ingin melepas kangen bersamaku. Tante Nur tidak setuju, ia pun tidak mau jauh dari putri kesayangannya. Akhirnya keluargaku yang mengalah.


“Sayang, udah donk manja-manjaannya. Ayo turun.” ujar Tante Nur setibanya kami di halaman rumah. Rere memang terus saja memelukku sepanjang perjalanan.


Om Sulis yang duduk di depan mendahului turun, disusul Tante Nur. Sopir membukakan pintu untukku, dan aku keluar duluan sambil menuntun Rere.


Di mobil belakang nampak mamah, Kak Kekey, dan Nzi juga turun. Suasana langsung riuh ketika melihat Rere yang selalu nempel denganku. Mamah tak sungkan menggoda Rere bahwa ia telah merebut aku dari keluarganya. Nzi beda lagi, ia mengapit lenganku dari sisi berbeda.


Kami masuk rumah dan berkumpul di ruang keluarga. Rere tidak mau langsung istirahat, karena ia merasa sudah sembuh. Akhirnya sepanjang hari itu kami bercanda-tawa bersama, sekaligus mendengarkan kisahku selama menjalankan rintangan yang diberikan oleh raja Anta. Anggota keluarga yang lain pun datang dan pergi.


Rere masih nampak lelah, tetapi tetap tidak mau masuk kamar. Selidik punya selidik, ia tidak mau jauh dariku. Malah Om Sulis yang paham, akhirnya setelah makan malam ia memintaku supaya menemani Rere beristirahat. Tentu saja dengan banyak pesan supaya tidak macam-macam.


Aku pun menuntun Rere memasuki kamarnya. Ayah datang menjemput mamah dan Kak Kekey, sedangkan Nzi ikut menginap denganku.


“Mau mandi dulu.” ujar Rere ketika aku menuntunnya menuju tempat tidur.

“Janganlah, kan gak keringatan juga.” ujarku.

“Tapi badanku terasa lengket.” Rere cemberut.

“Yaudah aku panggilin mamah untuk membantu.” ujarku.

“Sayaaang.. aku udah sembuh. Udah bisa sendiri kok.”

“Pokoknya harus ada yang menemani.”

“Galak!” ia semakin cemberut.


Kujembel kedua pipinya, lantas kembali keluar kamar dan memberitahu Tante Nur bahwa Rere mau mandi. Nzi tidak kelihatan, sepertinya ia juga masuk kamar untuk mandi.


Kuputuskan untuk menemani Om Sulis yang sedang menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Kami berbincang dengan akrab. Banyak pengalaman hidup yang Om Sulis kisahkan, yang banyak kuambil maknanya untuk hidupku sendiri. Banyak pula nasihat yang ia sampaikan, khususnya dalam menjalin hubungan dengan putri kesayangannya.


“Kamu harus sabar, Rei. Mungkin karena Rere anak tunggal dan kami terlalu memanjakannya, jadi ya.. Rere bisa sangat keras kepala, tetapi bisa juga sangat manja.” ujarnya.

“Iya, Pah.”

“Rere terlihat sangat terpukul selama kamu tidak ada. Yang ada di dalam hatinya hanyalah kamu. Kami sebagai orangtua hanya bisa berdoa bagi kebahagiaannya, bagi kebahagiaan kalian. Ngomong-ngomong, kalian sudah punya rencana untuk masa depan kalian?”

“Sampai sekarang sih belum, Pah. Tapi aku sangat serius pada Rere, aku akan menikahinya setelah Kak Kekey dan Kak Rega menikah.” ujarku penuh keyakinan.


Om Sulis menghela nafas. Ia nampak lega sekaligus juga sedih. Ujarnya, “Kamu telah mencuri hati putri kesayangan kami.”


Aku tahu kalau Om Sulis bercanda, sekaligus juga mengatakannya secara jujur. Orangtua mana pun akan merasa kehilangan ketika anak kesayangan yang dididik sejak kecil akhirnya harus memilih jalan hidupnya sendiri.


Kami mengobrol sampai larut malam. Sedangkan di dalam kamar, terdengar kekasihku juga masih belum tidur. Ia ditemani oleh Tante Nur dan Nzi.


“Rei, dicari Rere tuh. Kamu temani.” Tante Nur dan Nzi keluar kamar.

“Iya, mah.”


Ucapan selamat malam pun mengakhiri hari. Aku disediakan kamar sendiri, tetapi malam ini sepertinya Rere masih memintaku supaya kutemani. Aku hanya masuk kamar untuk sikat gigi dan cuci muka. Lantas kumasuki kamar Rere.


Kekasihku sudah berbaring di bawah selimut. Senyumnya mengembang menyambutku. Aku ikut berbaring. Kukecup keningnya, Rere memelukku.


“Selamat malam, sayang.”

“Belum ngantuk.” ujarnya.

“Kamu masih harus banyak istirahat.” kutatap wajahnya.


Rere cemberut. Ia memang nampak sedikit lelah, tapi sorot matanya masih jauh dari kantuk. Kuulurkan tangan, dan kubelai pelipisnya dengan punggung jemari.


“Sayang.” bisiknya, sorot matanya berubah sayu.


Kami bertatapan dalam, wajah kami saling mendekat perlahan. Bibir kami sama-sama terbuka, menebarkan nafas hangat.


“I love you.” bisik kami bersamaan.


Ciuman hangat pun saling kami berikan, disusul hisapan dan sapuan lidah. Kami saling mencumbu syahdu. Pikir dan rasaku melayang, terbuai oleh indahnya cumbuan dari gadis yang kusayang.


Rere mengambil inisiatif menindih tubuhku tanpa melepas lumatan. Tanganku merapikan rambutnya yang menjuntai, kulingkarkan melalui lehernya. Lehernya terpajang, kalung emas menjuntai. Sepertinya ia tidak pernah melepaskannya.


Kemudian Rere menciumi wajahku. Ketika ia mengecup keningku, kucium lehernya. Kekasihku menggelinjang, kepalanya langsung mendongak. Belahan payudaranya menyembul. Kutahu, ia tidak pernah memakai bra ketika tidur.


Aku dan Rere pun saling melupa. Kami terus bergumul, saling mencumbu, saling meremas. Dengan sukarela kami saling melucuti pakaian, dan bergulingan dalam keadaan sudah sama-sama bugil. Setiap inci tubuhnya menjadi kesukaanku. Kucium dan kuelus, sekali-kali kujilat sambil tangan meremas. Rere pun melakukan hal yang sama.


Puncaknya kami sudah saling menghimpit berlawanan arah. Rere mengoral kang pepen, dan aku menyuwir vaginanya yang tak lagi gundul. Suasana kamar berubah gaduh, lenguhan dan desahan berirama dengan suara derit ranjang.


Rere pun tak tahan menerima suwiranku. Ia orgasme. Tubuhnya terkulai lemas, tetapi tangannya erat meremas kang pepeng. Sakit dan ngilu.


Aku membalikan badan dan menindih tubuhnya yang terkulai. Kemaluan kami saling beradu. Aku meringis geli, Rere mengerang ngilu. Kembali kucumbu sambil mengarahkan penisku.


Kami saling tatap sayu. Rere mengangguk. Ia sudah siap memasrahkan seluruh dirinya. Ia milikku, dan aku miliknya seutuhnya.


Kang pepen pun melonjak kegirangan, kepalanya sudah mencucuk permukaan lubang vagina kekasihku. Terasa hangat. Rere menggelinjang. Kutekan… kekasihku meringis.


“Jadilah seorang pahlawan, Rei. Pahlawan yang berani mengorbankan diri untuk kebahagiaan Rere. Dan itu bukan sekedar mengejar kenikmatan.” tiba-tiba nasihat Om Sulis terngiang.


Aku mengerjap. Pinggulku berhenti menekan. Rere membuka mata. Tatapannya masih sayu, lantas keningnya mengkerut ketika aku tetap terdiam.


Secara tersamar Om Sulis telah memintaku untuk selalu menjaga kesucian Rere sampai kami naik ke atas pelaminan. Ia telah cukup khawatir bahwa sikap manja Rere yang selalu minta kutemani, termasuk kutemani tidur, membuat kami lupa diri.


“Yank?” kekasihku berbisik sambil sedikit mengangkat pinggulnya.

“Sayang, maaf. Jangan kita teruskan. Aku mau agar kita melakukannya setelah menikah nanti.” aku mencoba menahan birahi dan meminta supaya Rere melakukan hal yang sama.

“Kenapa, sayang? Kamu masih meragukan hubungan kita?” kulihat ada binar kecewa.

“Bukan begitu, sayang, justru karena aku sudah sangat yakin untuk menikahimu, makanya akan lebih indah kalau kita melakukannya nanti.” kutarik kang pepen, tetapi Rere buru-buru menahan pinggulku. Kedua kakinya langsung membelit pinggangku.

“Aku rela, sayang. Lakukanlah sekarang.” rengek Rere. Ia sudah kadung dikuasai hawa nafsu.


Aku tidak munafik. Aku sedang birahi dan nafsuku sudah naik ke ubun-ubun. Tetapi sedikit akal sehatku menyadarkan bahwa ini bukanlah waktu yang tepat. Aku menggulingkan badanku sambil berusaha menarik selimut.


Rere menangis. Ia memukuliku meski tidak keras.


“Maafkan aku, sayang.” ujarku sambil berusaha mengatur nafas.

“Aku rela, yank.” di sela isaknya.

“Aku tahu. Kita sama-sama menginginkannya, tetapi akan sangat indah kalau kita melakukannya setelah sah nanti.”


Kuraih kepala Rere dan kudekap erat. Kubiarkan ia menangis di atas bahuku. Setelah ia tenang, kuangkat dagunya. Kami saling tatap. Kukecup keningnya.


“Makasih, sayang. Aku patuh pada maumu, kamu adalah calon imamku.” lirihnya lembut.

“Makasih, sayang. I love you.” kukecup bibirnya.

“Tapi kamu belum keluar, aku bantu yah.” ia meminta persetujuanku.


Aku pun mengangguk. Rere kembali menggenggam kang pepen sambil menggelosor dari pelukanku. Ia mulai mengocok, lidahnya terjulur menyapu kepala botak yang sejak tadi tidak ada layunya. Aku pun meringis nikmat. Rere sungguh tahu caranya memuaskanmu.


Kekasihku tidak langsung mengoral. Ia masih menyapukan lidahnya pada seluruh batang kang pepen, jemari lentiknya meremas sang kelereng jumbo. Nikmatku semakin menjadi.


“Mmh.. sayang.” lenguhku ketika ia membuka mulut dan memasukan sebutir kelerang. Langsung ia emut dan kulum.


Bukan hanya itu, jemari lentiknya kembali mengocok. Rasa dan anganku melayang. Ada desakan hangat yang menyeruak. Ejakulasiku tak lama lagi.


Rere tahu itu. Ia pun langsung melahap batang kang pepen. Tangan dan mulutnya bekerja seirama.


Arrrghhh.. sepermaku semakin mendesak.


“Ingatlah Rei… Inilah rintangan keduamu. Jika ada perempuan yang mengajakmu bersenggama, kamu harus bisa melawannya. Jangan pernah penetrasi, apalagi ejakulasi di depan perempuan itu.”


Oh sial… kini semuanya terlambat. Sawaka seperti sedang mengingatkanku, tapi ejakulasiku hanya tinggal hitungan detik.





BERSAMBUNG

Posting Komentar

0 Komentar