BAB 47
Nzi membangunkanku. Untung tubuh polosku tertutup selimut sehingga tidak perlu malu mempertontonkan kang pepen yang masih berkerak keputihan sisa semalam. Ia juga tidak rese karena biasanya ia membangunkanku dengan cara menarik selimut atau menggoyang-goyangkan tubuh.
Setelah adikku meninggalkan kamar, barulah aku bangun dan terhuyung menuju kamar mandi. Kutempatkan tubuhku di bawah shower sambil mengingat-ingat kejadian semalam. Meski nyata, tapi setiap peristiwanya sangatlah membingungkan.
Aku tidak sedang berada di alam mimpi dan tidak sedang berfantasi. Kenyataan bahwa pagi ini aku terbangun di kamarku sendiri, itu sudah menjadi bukti. Nzi juga tidak histeris layaknya orang yang baru bertemu ketika membangunkanku. Itu menjadi pertanda bahwa tadi malam kami memang berjumpa dan bahkan nyaris bersenggama.
Aku menghela nafas. Ada sedikit rasa lega karena sepertinya Nzi tidak mengungkit-ungkit kejadian semalam.
Kuakhiri mandiku. Setelah berpakaian rapi, aku keluar kamar dan menuruni anak tangga. Orangtua dan kedua saudariku sudah berkumpul di ruang makan.
“Pagi semua.” sapaku.
“Loh Rei? Kamu pulang kapan?” ayah terperanjat, sedangkan mamah beserta kakak dan adikku tampak santai.
“Semalam, Yah.” aku pun menyalami dan mencium tangannya.
“Pagi, Mah.” kucium pipinya. Kulakukan hal yang sama pada kakak dan Nzi.
Ayah masih terbengong-bengong. Sorot matanya tajam memperhatikan gerak-gerikku.
“Mah? Kok?” akhirnya ayah menatap mamah.
“Hehe.. surpriseee!!” seru mamah disusul oleh derai tawa bahagia kakak dan adikku.
“Jadi kalian sudah tahu kalau Rei sudah pulang?”
Ketiga bidadari rumah ini mengangguk.
“Gak sopan kamu, Rei! Pulang tidak langsung sungkem pada raja suw… eh…” ayah nampak kesal, lantas tergagap karena hampir keceplosan.
“Suw.. apa, Yah?” Nzi malah kepo.
“Ayaaah!!” kali ini mamah terlihat sewot.
Aku langsung terbahak. Mamah mencubit keras perut ayah. Kakak dan Nzi celingukan tidak paham.
“Pangandika dalem, ananda mohon maaf karena tidak langsung menghadap ayahanda raja suw… eh Sawer. Ananda langsung ketiduran semalam.” aku merunduk sambil melipat kedua tangan di atas dahi.
“Terimalah sembah dan sungkem ananda.” aku kembali mendekati ayah.
Ayah pun menegakan duduknya dan berlagak bagai raja. Mau tidak mau mamah pun tertawa, sedangkan kakak dan adik cekikikan tertahan. Kuulurkan tangan untuk sungkem, ayah menyambut. Langsung kugigit pergelangan tangannya. Kesal juga… karena ayah, aku harus ketimban malang menjadi pewaris ritual. Ayah pun teriak kesakitan, gelak tawa langsung membahana.
Sebetulnya aku melakukan ini untuk menyembunyikan rasa canggung atas kejadian semalam ketika aku hampir menggali lubang suwir mamah, kakak, dan adikku. Sekaligus juga untuk menutupi rasa bersalah pada ayah.
Suasana pagi pun menjadi ceria dan dipenuhi sukacita perjumpaan setelah lama berpisah. Mamah dan kedua saudariku sama sekali tidak menunjukan sikap marah ataupun rasa bersalah. Aku merasa lebih lega, meskipun tetap menyimpan rasa bingung.
“Mah, Yah, aku ceritanya nanti aja ya. Aku mau ketemu Rere dulu.” ujarku ketika ayah mulai bertanya tentang perjalananku.
“Tuh kaaan.. orang kita lagi kangen, kakaknya malah mikirin Kak Rere.” Nzi merengut.
Ayah tersenyum sambil menggeleng. Sesama tukang suwir pasti paham akan apa yang sedang kurasakan. Berbeda dengan mamah dan kakak, raut wajah mereka berubah sedih.
“Kakak cuma mau jemput Rere aja kok, dek. Nanti makan siang juga pasti sudah di rumah.” jawabku.
“Rei..” suara mamah terdengar sedih, helaan nafasnya terdengar berat. Semua orang ikut terdiam.
“Yaudah kamu buruan temui Rere.” lanjut mamah lagi.
“Siap. Makasih, Mah.”
Sebetulnya aku hanya pura-pura. Aku sudah tahu kalau Rere sedang berada di rumah sakit. Sejak tadi suasana hatiku tidaklah tenang.
“Emangnya kamu sudah menghubungi Rere. Kamu mau nemui Rere di mana?” tanya kakak.
“Aku mau ke rumahnya. Ngasih kejutan gitu lah..” jawabku enteng, padahal hatiku semakin dipenuhi rasa rindu dan khawatir.
Kecuali ayah, para wanita menghela nafas.
“Rere sedang sakit, sayang. Yasudah buruan kamu temui Rere di rumah sakit, sekalian bilang ke mamahmu (maksudnya Tante Nur), mamah baru sore akan ke sana.”
“Hah? Sakit apa, Mah?”
“Nanti kamu akan tahu sendiri. Sudah buruan sanah.”
Tanpa babibu lagi aku pun langsung beranjak. Buru-buru pamit dan mengambil kunci mobil.
“Kak…” teriak Nzi. Ia pun menyebutkan nama rumah sakit dan nomor kamar Rere.
Aku tak menjawab. Langkahku panjang menuju garasi. Salam dan sapa pegawai membuatku tidak bisa cepat-cepat. Aku tetap berusaha ramah sambil menjelaskan bahwa aku sedang buru-buru.
Kulaju kencang mobil kesayanganku. Sebisa mungkin kutepis semua bayangan semalam, dan berusaha fokus hanya pada kekasihku.
Setengah jam kemudian aku sudah tiba di lantai lima rumah sakit. Setengah berlari bergegas menuju ruangan VIP tempat Rere dirawat. Sapaan perawat pun kuabaikan, bukan tidak sopan, tapi kulihat dadanya kecil sehingga tidak perlu buang-buang waktu dan bersikap ramah.
“Yaampun.. Rei?” Tante Nur keluar kamar dan terbelalak ketika melihatku.
“mah? Rere gimana, Mah?”
“Kamu tenang dulu. Kapan pulang?”
“Semalam, Mah.”
Setelah menyalaminya, kucium kedua pipinya. Tante Nur malah mendekapku erat, kudengar ia terisak.
“Mamah senang banget kamu sudah pulang. Hiiiks….”
“Iya, Mah. Gimana keadaa Rere? Dia sakit apa?” cecarku.
Tante Nur mengurai pelukan. Ada tawa bahagia di sela lelehan air matanya. Ia menahanku ketika aku hendak membuka pintu.
“Kamu tunggu sebentar.”
Terpaksa aku menuruti maunya. Tante Nur kembali ke dalam dan aku menunggu di depan pintu. Tak berselang lama Tante Nur kembali keluar, kali ini bersama Om Sulis, suaminya.
“Pah..” aku langsung menyalami dan mencium tangannya.
“Kapan pulang, Rei?” sapanya penuh wibawa. Makhlumlah ia seorang tentara. Om Sulis terlihat senang aku sudah pulang.
Kami pun ngobrol setengah berbisik agar tidak terdengar Rere. Setelah saling bercerita singkat, Tante Nur pun berkata, “Tadinya mamah mau membeli sarapan. Tapi karena ada kamu, yaudah mamah dan papah makan di luar aja. Rere pasti senang banget kamu sudah pulang, sayang.”
Aku pun mengangguk.
“Ayo, Pah.”
“Awas kalau anakku lecet, Rei.” Om Sulis meninju bahuku.
“Siap, komandan.”
Ah.. Tante Nur memang pengertian. Ia mengajak suaminya sarapan di luar untuk memberi kesempatan pada kami saling melepaskan rasa rindu.
Aku pun masuk. Kubuka dan kututup pintu secara perlahan. Hatiku langsung terenyuh ketika melihat Rere sedang terbaring lemah. Matanya terpejam, jarum infus masih terpasang pada tangannya.
Langkahku pelan, padahal dadaku berdesir hebat. Sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.
Aku berdiri di tepi ranjang. Rere seperti terkejut dan langsung membuka mata. Perasaan seorang kekasih tidak bisa dibohongi ketika orang yang ia sayangi sudah berada di dekatnya.
Sorot mata kami beradu. Bibirku bergetar, tapi tak sepatah kata pun yang bisa kulontarkan. Langsung kugenggam tangannya, kuusapi pula pipinya yang kurus dan pucat. Mataku berkaca-kaca.
“Sayang…” malah Rere yang bisa berkata duluan. Air matanya sudah mengalir deras.
Langsung kupeluk tubuh rapuhnya. Tangisku pun tak bisa lagi kutahan. Tubuhku bergetar.
“Maafkan aku, sayang. Sekarang aku sudah pulang, dan akan selalu menjagamu.” bisikku tersedu.
Rere mendorong bahuku. “Aku tidak sedang bermimpi, kan sayang? Hiiiks…”
Kuusapi air matanya, padahal aku sendiri masih berlinang air mata.
“Kamu tidak mimpi, sayang. Aku sudah pulang…”
Tangan Rere bergetar, dan terulur mengusapi wajahku. Diusapnya pula air mataku. Kami saling menyeka air mata, sementara kelopakku masih belum juga menghentikan alirannya.
“Aku kangen, hiiiiks…” Rere tersedu, bibir pucatnya bergetar.
Langsung kukecup keningnya, juga kedua pipinya. Selebihnya aku kembali memeluk sampai tangis Rere benar-benar reda. Tak hentinya kubisikan rasa rindu dan sayang. Aku pun memelas, memohon supaya Rere cepat sembuh.
“Kamu sebenarnya sakit apa, sayang?” sambil kucium pelipisnya.
“Aku gak sakiiit.” ia mulai merengek manja.
Kuangkat wajahku dan kami saling tatap. Rere nampak begitu lelah. Namun matanya mulai bersinar. Bibir pucatnya mulai menyunggingkan senyum.
“Yank?” desakku.
Rere hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia menarik tengkukku agar aku merendahkan wajah. Langsung kukecup bibirnya, Rere membalas lemah. Kucurahkan rasa sayangku, kusampaikan segenap rindu, dan kulimpahkan energiku untuk memberinya daya dan kekuatan.
“Mmmh.. sakit, yank.” aku meringis. Bibirku ia gigit.
“Sakit?”
“Banget. Perih..” sambil mengusapi bekas gigitannya.
“Hihi.. kalau kamu merasa sakit berarti aku tidak sedang bermimpi.”
Rere kembali mengecup bibirku, kubalas dengan kuluman. Kami sama-sama memejamkan mata untuk meresapi pertautan kasih sayang yang selama ini ternoda oleh perpisahan.
“Sayang, lekas sembuh yah. Please, aku mohon…” bisikku.
Rere tersenyum. Tangannya mengusapi pelipisku. Sorot matanya tak ada bosannya menatap wajahku. Ia sedang menumpahkan seluruh rasa rindunya.
“Peluk.” pintanya.
Aku pun kembali merunduk.
“Bukan gituu.” ia cemberut.
Aku sedih melihatnya berbaring lemah seperti ini, tetapi juga gemas oleh manjanya. Aku pun naik ke atas kasur. Berbaring.. dan Rere merebahkan kepalanya pada bahuku. Matanya terpejam.. nampak begitu nyaman.
Kubelai rambut dan pelipisnya, sekali-kali kukecup pula keningnya.
“Mmmh.. sakit…” keluhnya sambil memegang lengannya di dekat jarum infus.
Aku yang tak tega melihatnya, langsung mendekap kekasihku sambil melafalkan doa dalam diamku. Rere agak meringis dalam pelukanku, namun tak lama kemudian ia tenang kembali.
Sisanya hanya pelukan dan ciuman yang saling kami berikan. Saling bermesra dalam diam masing-masing. Sedih dan bahagiaku sudah tak lagi terkata.
Rere memintaku menaikan bagian kepala ranjang. Lantas kembali berpelukan setengah terduduk. Kuambil potongan buah di atas pisin dan kusuapi kekasihku. Rere makan sampai habis. Wajahnya sudah tak sepucat tadi, dan sorot matanya tak kosong lagi.
Tak lama kemudian Om Sulis dan Tante Nur kembali. Aku sudah mau turun dari ranjang, tetapi kekasihku malah memeluk pinggangku erat.
Ia terkekeh ketika orangtuanya melihat tingkah kami. Om Sulis menggelengkan kepala, Tante Nur menggoda putri semata wayangnya dengan pura-pura ngomel. Apapun itu.. kulihat kedua calon mertuaku nampak senang melihat putrinya sudah tidak murung lagi.
“Tuh kan Rei.. Rere itu susah banget disuruh makan, tapi begitu ada kamu langsung habis tuh buah.” seloroh Om Sulis ketika menyadari bahwa isi pisin sudah kosong.
“Rei yang makan, Paaah, bukan aku.” rengek kekasihku sambil menyembunyikan wajahnya di atas dadaku.
“Iya.. iya.. papah percaya kok. Iya, kan Mah?”
“Percaya banget!”
Aku tertawa kecil, dan Rere semakin malu. Om Sulis mulai menanyai kabar dan pengalamanku selama pergi. Aku menjawab apa adanya, tentu saja setelah otakku menyensor terlebih dahulu. Ada beberapa hal yang Om Sulis dan Rere tidak perlu tahu.
Mendengar ceritaku, terlihat bahwa Tante Nurlah yang paling gembira atas keberhasilan misi pertamaku. Dia tentu saja punya kepentingan karena Tante Nur adalah bagian dari lingkaran ritual ini.
Dari orangtuanya Rere aku juga tahu bahwa ternyata kekasihku mengidap penyakit yang sangat parah, yaitu kanker hati. Seluruh keluarga merasa terpukul, dokter malah mengatakan peluang Rere untuk sembuh sangatlah kecil.
Aku sungguh kaget dan sesak mendengarnya. Spontan kudekap dan kukecup Rere tanpa sungkan pada orangtuanya.
Rere sempat mau dibawa ke Singapura, meskipun dokter mengatakan bahwa itu hanya untuk menambah sedikit usia Rere, bukan untuk menyembuhkannya. Ayahkulah yang keberatan. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dua hari lalu, hasil pemeriksaan menunjukan bahwa kanker Rere sudah hilang. Keluarga tidak heran, tetapi para dokter dan tim medis kebingungan. Pemeriksaan kedua pun dilakukan untuk memastikan, dan hasilnya sama, kanker Rere sudah hilang. Dokter masih tidak percaya, dilihat lagi hasil lab pertama, dan hasilnya memang tidak salah. “Ajaib!” akhirnya itulah kesimpulan dokter.
Sepanjang mendengarkan cerita tak hentinya kepeluk dan kukecupi kepala Rere. Kekasihku hanya diam; tanpa bersuara untuk membumbui.
“Kok bisa-bisanya langsung divonis stadium empat, sih yank? Selama ini kamu gak mengalami keluhan apa-apa, kan? Atau makanmu tidak teratur yah?” kutatap wajah kekasihku.
“Kamu! Kamu perginya lama sih, jadi aja aku sakit!” ia pura-pura cemberut sambil mengetuki hidungku dengan telunjuknya.
“Yank, aku nanya serius.”
“Aku juga serius.” sambil menatapnya tajam.
“Ehemm..” Om Sulis dan Tante Nur berdehem. Aku pun tertawa malu.
“Kayaknya mendingan kita pulang aja deh, Pah.” ujar Tante Nur pada suaminya, dan lagi, “Anak kita sudah tidak membutuhkan lagi papah dan mamahnya sekarang. Tuh lihat.. maunya nempel terus ama sang kekasih.”
“Mamaaah.” rengek Rere.
“Yaudah kita pulang. Kita juga pacaran di rumah.” jawab Om Sulis.
“Ayaaaah.” seru Rere lagi.
Akhirnya, untuk pertama kalinya ruangan ini dipenuhi suara tawa. Kegembiraan ini sungguh nyata, seluruh takut dan khawatir telah sirna.
“Berarti Rere sudah bisa pulang, ya Mah?” tanyaku.
“Dokter sih bilang harus nunggu sekitar tiga hari lagi sampai kondisi Rere benar-benar pulih. Tapi kalau lihat sekarang kayaknya besok juga sudah bisa pulang tuh.” goda Tante Nur.
“Aku baru mau pulang kalau Rei mau tinggal di rumah kita.” manja Rere.
“Loh kok gitu? Kalian belum muhrim, sayaang.” gemas Tante Nur.
“Yaudah gak mau pulang.”
“Iya.. iya.. boleh. Kamu mau, kan Rei?”
“Siap, komandan.”
“Ayaaaah.” Rere langsung duduk sambil merentangkan tangannya. Pelukan dari ayah tercinta pun ia dapatkan.
Tak berselang lama seorang perawat datang. Awalnya ia tersenyum sinis padaku mengingat aku tidak ngewaro sapaannya, namun karena aku ganteng, hatinya lumer dan senyumnya berubah caper.
“Selamat pagi. Tensi dulu, ya neng Rere.”
Aku sungguh merasa gembira ketika melihat hasilnya. Suhu tubuh Rere sudah normal. Itu menandakan bahwa kondisinya sudah semakin membaik.
Kami berempat tak bosannya melepas rasa rindu sambil saling berbagi cerita. Rere pun tak malu-malu ketika memeluk atau mencium pipiku. Menjelang siang, Om Sulis dan Tante Nur pulang; dan akan kembali nanti malam.
Sekepergian mereka, aku dan Rere tak hentinya saling bermesra. Rasa sayang dan rindu saling kami kabarkan kembali. Ada banyak cerita yang kami sampaikan, sekali-kali diselingi dengan cumbuan. Kini wajah Rere sudah tak sepucat tadi, meski ekspresi lelah masih ada.
Rere pun akhirnya tertidur dalam dekapanku, ia terlelap sambil tersenyum. Gambaran bahagia terpancar dalam setiap hembusan nafas halusnya. Kubaringkan secara perlahan di atas bantal. Kupasangkan selimut. Aku pindah duduk pada kursi di samping. Tanganku tak henti menggenggam, dan sorot mataku selalu tertuju pada parasnya.
Siangnya Rere hanya bangun untuk makan, dan kemudian terlelap kembali. Kali ini terlihat sangat pulas, seolah ingin menebus kurang tidurnya.
Kubuka smartphoneku. Rupanya kabar tentang kepulanganku sudah menyebar di kalangan keluarga besar. Sambutan hangat dan berbagai pertanyaan tentang kabarku masuk baik melalui chat grup maupun jalur pribadi. Kubalas. Juga kukirim foto Rere yang sedang tertidur pulas.
Sekitar jam tiga Inka dan Rana datang. Mereka langsung datang ke rumah sakit begitu tahu bahwa aku ada di sini. Rana sendiri rupanya sudah seminggu berada di Bandung untuk berlibur sekaligus menyelesaikan skripsinya. Tadi malam ia tidur di rumah Inka.
Keduanya bergantian memelukku dan berbagi ciuman pipi. Sama-sama meredam suara karena Rere masih pulas. Aku kembali ke tempat dudukku dan menggenggam tangan kekasihku, sedangkan kedua sepupuku duduk pada sofa panjang. Kami ngobrol bertiga setengah berbisik.
Kuusap pipi kekasihku ketika kulihat kekasihku menggeliat, kukecup keningnya yang mengkerut seperti menahan rasa sakit. Rere pun kembali terlelap.
“Rei, kita keluar dulu sebentar. Aku ingin bicara.” bisik Rana.
“Ada apa sih, Mboy?”
“Ayooo. Biar Rere ama Inka dulu.” paksanya. Tanganku langsung ia tarik menuju balkon rumah sakit.
Rana langsung menutup pintu yang menghubungkan antara balkon dengan kamar.
“Ada apa sih… mmmh….” aku gelagapan ketika tiba-tiba Rana menangkup kedua pipiku dan melumat bibirku.
“Nana!! Mmmh.. Mboy!!” aku berusaha menghindar.
“Gila lu perginya lama banget, Rei. Gua kangen banget.” desisnya dan ia pun kembali mencari bibirku.
Kali ini aku bisa menghindar dengan menahan kedua bahunya.
“Na.. sadar Na.. aku gak mau.” aku mengingatkannya lagi.
“Aaah… lu mah.” Rana menghela nafas kecewa.
“Sorry.. aku sayang banget ama Rere.”
Rana mengangguk, meskipun ekspresinya sangat jelas menunjukan rasa kecewa.
“Gua yang sorry.” singkatnya.
“Mboy, jangan marah donk.”
“Iya.. iya gua gak marah.” si tomboy Rana pun memamerkan barisan giginya, meski sorot mata tidak pernah bisa berbohong.
“Makasih. Kamu mau ngomong apa?”
“Shhh… Rei.. Rei.. lu tuh emang gak peka ya! Udah dibilang juga kalau gua tuh kangen banget.”
“….” aku benar-benar speechless.
“Hehe.. sorry. Iyah nggak…” Rana mulai cair. “Gua paham kalau lu sayang banget ama Rere. Gua juga sayang kok ama dia, dan gua percaya kalau Rere tuh bakalan menjadi pasangan terbaik lu. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Lu harus bisa menghargai perasaan Inka. Lu gak liat apa? Inka terlihat sangat cemburu pas lu selalu membelai Rere. Dia tuh sayang banget ama lu.”
“Iya kalau itu aku juga tahu.” ujarku disusul helaan nafas panjang. “Tapi kupikir dia sudah bisa menerima dan sudah ikhlas kalau aku ama Rere.”
“Cewek itu pintar menyembunyikan perasaan, Rei. Lu selesaikan deh urusan kalian berdua.” ujar Rana.
“Terus kita sendiri gimana?”
“Ya gua sih gakpapa lu ama Rere, asal gue dikasih jatah nyicipin kontol lu. Hihi…”
“Nana!!”
“Hahaa.. udah lu tunggu di sini, gua mau panggil Inka. Kalian selesaikan dah tuh urusan kalian.” tanpa permisi lagi, sepupuku langsung masuk kembali ke dalam kamar.
“Ada apa sih?” Inka muncul tak lama kemudian.
“Eh.. itu.. gak tahu tuh si Nana.” aku gugup.
Aku sungguh tidak tahu harus berkata apa, toh selama ini Inka selalu terlihat wajar ketika kami sedang bersama.
Kulihat Inka menghela nafas, pandangannya menerawang kosong ke arah jalanan kota.
“Memangnya Rana ngomong apa tadi?” ia pun menatapku.
Gantian aku yang menghela nafas. Jawabku, “Tentang kita. Maksudku tentang perasaanmu selama ini.”
“Rana benar, Rei. Maaf kalau selama ini aku hanya pura-pura ikhlas.”
“Tapi, Ka..”
“Rei!!” tiba-tiba suara Inka sedikit meninggi. “Ini soal perasaan, Rei! Bukan soal benar atau salah. Kalau boleh memilih, aku juga tidak mau menyayangi kamu, tapi perasaanku tidak pernah bisa disangkal. Hiiiks…”
Inka menutupi kedua wajahnya sambil terisak. Aku pun terenyuh. Kutarik dan kupeluk. Bukan karena aku sendiri memiliki rasa yang sama, melainkan sekedar ingin memberikan dada agar Inka lebih tenang.
Kubiarkan sepupu, sahabat, dan juga soulmate sejak masa kecilku ini menumpahkan semua kesedihannya. Kupeluk dengan sayang, namun bukan rasa sayang seperti yang ia miliki.
“Maafkan aku, Ka.” lirihku.
“Rei.” Inka melepaskan pelukan, diusapnya air mata yang masih terus mengalir. Kurapikan rambutnya yang sedikit kusut.
“Aku mau meminta sesuatu padamu, dan setelah itu aku akan ikhlas melepaskanmu bagi Rere.” ia menatapku sungguh-sungguh. Pandangannya nampak berkabut karena linangan air mata.
“Katakanlah, Ka.” aku menjawab sambil berusaha tersenyum. Aku berharap dalam hati agar permintaan Inka tidaklah aneh-aneh.
“Aku ingin menjadi wanita sempurna yang mempersembahkan seluruh diriku untuk pemuda yang paling kucintai.” suaranya terdengar sungguh-sungguh.
“Mmaksudmu, Ka?” aku tergagap mendengar permintaannya. Sebetulnya, tanpa bertanya balik pun aku sudah paham apa yang dimaui oleh gadis di hadapanku ini.
“Kita sudah sama-sama dewasa, Rei. Kamu seharusnya paham.” Inka mendekat, bibirnya terbuka, nafasnya tersengal.
“Ka… aku… aku tidak bisa… mmmh….” belum juga aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba Inka menangkup kedua pipiku dan melumat bibirku.
Aku gelagapan dan berusaha menghindar, namun ia malah meremas rambut belakangku dan menekan kepalaku agar bibir kamu tetap bertautan. Inka terengah karena nafsunya, aku terengah karena kasian bercampur kesal. Aku menyimpan rasa iba karena cintanya yang tidak bisa kubalas, sekaligus juga kesal atas keras kepala dan sikap agresifnya.
Kukatupkan bibirku rapat-rapat, kurekatkan pula gigiku. Cintaku hanya untuk Rereku, dan akan menjaga bibir ini hanya untuknya. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, selebihnya aku hanyalah milik kekasihku.
Ah… tapi itu bisikan hatiku. Tekad rasa terdalam. Sedangkan cabul kang pepen berbanding terbalik dengan suara hatiku, ia malah menggeliat karena mendapat rangsangan dari Inka. Inka bukan hanya memaksaku agar membalas lumatannya, tetapi tangannya sudah meremas si kembar bulat yang sedang dierami kang pepen. Si tumpul pun langsung tegang, otakku tidak mampu mengendalikan keinginannya lagi.
“Ka.. sadar, Ka.” aku tetap berusaha melawan.
Dan itu adalah sebuah kesalahanku. Bibirku jadi terbuka, dan Inka menggunakan kesempatan untuk menjulurkan lidahnya. Aku pun merinding, seketika tubuhku bagai disengat aliran listrik.
Dua detik kemudian aku malah semakin membuka mulut sehingga Inka lebih leluasa mencumbuku. Sementara kang pepen semakin tegang karena ulah kocokan tangan Inka. Aku terbuai.. kubalas lumatan Inka.
Namun itu hanya sesaat. Wajah Rere terbayang. Kuingat tubuhnya yang terkulai lemas ketika aku datang; terbayang pula binar bahagianya yang kembali terpancar setelah sekian lama redup karena kepergianku.
Kang pepen tidak boleh kumanjakan. Aku harus melawan. Kuhentak tubuh Inka dengan keras. Ia pun terjejer ke belakang dua langkah. Kalau tidak ada tembok pembatas, sudah pasti ia akan terjun bebas ke parkiran di bawah.
“Maafkan aku, Ka. Bukan maksudku kasar, tapi ini sudah salah.” ujarku sambil terengah-engah. Kuusap bibirku yang basah.
“Kamu benar-benar keras kepala, Rei. Tega kamu! Hiiiks…” Inka terlihat begitu kecewa, air matanya kembali mengalir.
“Ka, aku.. aku sungguh-sungguh sayang Rere.” aku memelas dan memohon pengertian Inka.
“Aku tahu, Rei, sangat tahuuu!! Hiiiks… tapi tolong kabulkan permohonanku. Aku rela tidak memiliki hatimu, tetapi setidaknya aku pernah memiliki tubuhmu.” Rere masih memaksakan kehendak.
“Tidak, Ka. Kamu sadar, Ka, tidak seharusnya kamu berpikiran seperti itu.”
Inka kembali mendekat, tetapi kali ini aku lebih waspada. Kutepis tangannya yang mau meraih ikat pinggangku. Kutahan bahunya.
“Inka!!” kali ini aku kehilangan kesabaran. Aku marah pada keras kepalanya, marah juga pada kang pepen yang malah bergerak girang ketika kembali mau disentuh Inka.
“Kamu.. hiiiks…” sepupuku kaget ketika kubentak. Ia nampak begitu sakit hati.
Tanpa permisi ia langsung masuk ke dalam kamar sambil menangis. Aku berusaha menahan untuk meminta maaf, tetapi ia menutup pintu dari dalam.
“Aaaargggh!!!” aku mengerang. Kuremas rambut, kutekan selangkanganku pada tembok agar kang pepen tidak lagi bertingkah.
Sebetulnya aku ingin menyusul, tetapi aku tidak mau terjadi keributan susulan yang membuat kekasihku terbangun. Rere baru mau sembuh, jangan sampai kondisinya drop kembali seandainya tahu apa yang sedang terjadi antara aku dan Inka.
Aku bersandar pada dinding balkon sambil memejamkan mata. Kuatur nafas untuk meredakan kecamuk perasaanku yang masih tidak karuan.
“Sayang?” terdengar suara Rere memanggil.
Aku pun membuka mata. Buru-buru kurapikan rambut dan pakaianku. Panggilan Rere terdengar lagi.
“Iya, sayang.” jawabku sambil membuka pintu dan masuk.
Rere menyambutku dengan tatapannya. Aku terheran karena Rana dan Inka sudah tidak ada. Aku pun mendekati ranjang sambil celingukan. Kekasihku pun terheran karena melihatku sikapku.
“Kamu kenapa, sayang? Habis ngapain di luar? Ngerokok yah?” tanyanya. Tangannya terulur agar aku semakin mendekat.
“Eh.. nggak, kok. Aku gak ngerokok.”
“Terus kenapa kayaknya merasa bersalah gitu?”
Rere menarik lenganku, ditariknya pula bahuku agar merunduk. Ia seakan mau memastikan bahwa aku memang tidak merokok. Kukecup bibir kekasihku, dan ia pun tersenyum.
Rere menarik lenganku, ditariknya pula bahuku agar merunduk. Ia seakan mau memastikan bahwa aku memang tidak merokok. Kukecup bibir kekasihku, dan ia pun tersenyum.
“Uuuh.. tidurku nyenyak banget, ya sayang? Tadi gak ada yang datang?” ia menempelkan telapak tanganku pada pipinya, matanya kembali terpejam.
Pertanyaan Rere sudah membuktikan bahwa ia tidak tahu bahwa Rana dan Inka sempat datang. Aku pun berbohong bahwa tidak ada siapapun yang bezuk selama ia tertidur.
Kondisi Rere yang memejamkan mata membuatku punya kesempatan untuk menenangkan diri. Kutatap wajahnya. Rasa cinta ini semakin besar. Aku sungguh lega karena berhasil menolak godaan dari Inka, tetapi juga merasa bersalah karena telah membentaknya.
Sadar bahwa aku hanya diam, Rere memicingkan mata. Ia pun tersenyum.
“Kok ngeliatin akunya gitu banget?” sambil tersenyum bahagia karena pancaran sayangku.
Aku menggeleng beberapa kali sambil menepis bayangan Inka. Kekasihku membuka mulut, tertawa tanpa suara. Ia nampak begitu bahagia.
Kukecup keningnya, namun kekasihku meminta lebih. Kuluman hangat pun kuberikan. Bukan ciuman panas seperti yang aku dan Inka lakukan, tetapi lebih berupa luapan rasa sayang yang keluar dari hati yang terdalam.
“Rei jelek.” manjanya sesaat setelah bibir kami terlepas.
Kuangkat alisku, dan Rere pun tertawa kecil. Cahaya hidupnya yang sempat pudar kini sudah benar-benar bersinar kembali.
Tak lama berselang dua orang perawat datang. Mereka terlihat takjub melihat keadaan Rere yang sudah berubah drastis. Mereka turut senang atas kesembuhan kekasihku.
“Selamat sore, Mbak. Mandi dulu ya.” ujar salah satu perawat dengan ramah.
“Ini siapa?” tanya perawat satunya.
Rere menjawab dengan bahasa tubuhnya, ia memeluk lenganku, dan para perawat pun paham. Mereka malah menggoda kami. “Pantesan langsung kelihatan segar, gak lemas lagi kayak kemarin,” canda mereka.
Aku pun meninggalkan ruangan tempat Rere dirawat, karena mereka mau menyeka tubuh Rere dan kamar mau dibersihkan. Aku turun ke basement tempat mobilku terparkir, beberapa batang rokok kuhisap sambil memikirkan semua yang telah kulewati, khususnya sejak kemarin malam.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar