Bab 46
Cukup lama kami bertiga berpelukan untuk melepas rasa rindu. Tangis kakak dan Nzi mau tidak membuat mataku berlinang haru.
“Kakah jahaaaat!” wajah sendu adikku berubah jadi cemberut. Tangannya mencubiti lengan dan perutku.
“Adek.. sakiit!!” protesku.
“Abisnya kakak jahat. Dua kali menghilang tanpa kabar.” sambil menggelembungkan kedua pipinya. Langsung kuapit dengan kedua telapak tanganku dengan gemas.
Cubitan adikku sudah kembali menghujani perutku, tapi kali ini aku sigap berlindung pada punggung kakak dengan memeluknya dari belakang. Keseruan pun terjadi. Aku langsung melupa pada peristiwa yang baru saja terjadi dengan mamah. Rasa bahagia atas perjumpaan ini membuatku abai dan kurang waspada.
Karena Nzi terus merangsek, kakak yang berusaha melindungi aku langsung oleng. Aku tidak siap. Kami pun terjengkang berpelukan ke atas kasur.
“Adeek!!” protes kakak.
Setelahnya kami tertawa gembira. Aah.. aku dan kedua saudariku tak ada ubahnya dengan tiga anak kecil yang selalu bercanda dan saling memburu di atas kasur.
“Udah ah kakak capek.” Kak Kekey nyerah, lantas duduk bersandar pada kepala ranjang. Aku dan Nzi berebut agar bisa tiduran di atas pangkuannya.
“Kakak kangen kamu, dek.” ujarku sambil menepuki pipinya. Kami saling pandang di atas paha kakak.
“Aku sih nggak, hehehe…” Nzi kembali ceriwis, sebuah sikap yang tidak pernah kulihat selama aku menjadi seorang Iba.
“Beneran nggak, dek? Kakak gak salah denger tuh?” goda Kak Kekey.
Nzi pun kembali tertawa sambil memencet hidungku. Kakak mulai mengelus kepala kami berdua dengan penuh kasih sayang.
“Kak aku lapar.” aku tengadah.
“Kamu belum makan? Tadi pulang jam berapa emangnya?” kakak terlihat heran.
“Jam sepuluhan.”
“Yaudah kakak ambilin makanan dulu ke bawah.” ia mengangkat kepalaku dan Nzi karena mau turun dari ranjang.
“Biar aku aja yang ambil.” Nzi bersemangat bangun lebih dulu. “Aku bikinin kopi sekalian, ya kak.”
“Tumben.” goda kakak.
“Makasih adekku yang cantik.”
Nzi pun mengerling sambil memainkan ujung rambutnya. Aku dan kakak sama-sama menggeleng melihat tingkahnya. Adik kesayangan kami masih saja bersikap seperti gadis belia.
Sekepergian Nzi aku pun bangkit dan duduk bersandar di samping kakak, kutumpangkan kepalaku di atas pundaknya.
“Kakak apa kabar?”
“Nih kamu bisa lihat sendiri.” kakak berubah ketus.
“Hehee.. iya.. iya kakak sehat. Tapi hatinya tidak baik.” kekehku.
“Nah tuh udah tahu, pake basa-basi segala.” jawabnya lagi. Ia memencet hidung sambil berkata, “Ini semua gara-gara kamu, dek. Kakak kangen.”
“Maaf.” aku memelas.
Kakak kembali tersenyum. Kucium pipinya dan kembali menyandarkan kepala. Satu tangan kakak turun untuk memeluk pinggangku.
“Kakak senang kamu sudah pulang. Sejak kamu pergi, baru kali ini kakak melihat Nzi sebahagia tadi.” gumam kakak.
“…”
“Nzi itu telah mengalami masa-masa sulit, Rei. Ia selalu merindukanmu dan beberapa hari lalu ia juga baru diputuskan oleh pacarnya.” sambung Kak Kekey.
“Hah? Nzi putus dengan Dante, kak?” aku pura-pura tidak tahu.
“Iyah. Gak tahu tuh kenapa, Nzi cuma bilang bahwa ia tidak suka dengan perlakuan Dante.” jawab kakak.
“Hmmm..” aku hanya bergumam.
Aku tidak perlu banyak tanya kepada kakak. Toh aku sudah tahu, dan nanti adikku akan bercerita sendiri tanpa harus kuminta.
“Tapi yang bikin kakak pusing tuh sebenarnya Nzi dan Rere.” gumam kakak.
Aku pun serentak menenggakan dudukku. Aku yakin kakak akan bercerita bahwa Nzi pernah bertengkar dengan Rere. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut, melainkan Rere. Aku baru ingat kekasihku setelah kakak menyebut namanya.
Aku hampir menanyakan keadaan Rere, tetapi keburu sadar bahwa kakak selama ini tidak tahu jika aku tidak pernah jauh dari keluarga.
“Memangnya kenapa mereka? Rere juga apa kabar, kak?” tanyaku.
Kakak menghela nafas panjang. Ujarnya, “Nzi dan Rere sempat bertengkar dan saling diam selama hampir seminggu. Tapi sekarang mereka sudah baikan lagi.”
“Karena apa, kak? Terus Rere kok nggak tidur di sini, kan besok week end?” aku kembali mencecarnya.
“Sabar, Reinya kakak yang ganteeeeng…” kakak gemas. “Rere baik. Besok aja ceritanya. Sekarang kakak yang lagi kangen. Masa kamu mau langsung ninggalin kakak lagi demi Rere.”
“Kaaak?! Aku kan hanya ingin tahu kabarnya.”
“Kan kakak udah jawab kalau Rere baik-baik saja. Lihat tuh…” sambil menunjuk ke arah meja. “Tiap hari Rere selalu datang dan mengganti mawar di mejamu. Semuanya itu ia lakukan karena ia merindukanmu.”
Aku sudah tahu, tetapi cerita kakak tetap saja membuatku terharu. Pikiranku sejenak berkecamuk, aku belum tahu apakah kekasihku sudah sadar dari komanya atau belum.
“Tapi Rerenya sehat kan, kak?”
“Yee.. kakak kan udah bilang. Besok aja kakak cerita, lagian besok juga kan kamu bisa menemuinya.”
“Hehe…”
Kakak yang tahu betapa cintanya aku pada Rere terlihat gemas, diraihnya kepalaku dan langsung ia dekap. Mau tidak mau aku bisa merasakan kenyal payudaranya.
“Kak.. eungap.” protesku.
“Abisnya.. kakak lagi kangen, tapi yang ada dalam pikiran kamu hanya Rere dan Rere…” godanya.
“Tapi kan aku juga sayang kakak.”
“Iya, kakak tahu. Kakak juga sayang kamu. Kebahagaian kamu dan Nzi adalah kebahagian kakak juga.”
Usah berkata begitu bibir tipisnya langsung mengecup keningku. Aku sungguh bahagia memiliki seorang kakak sebaik Kak Kekey. Kutatap wajahnya sambil tersenyum. Ia membalas dengan senyum manis yang sangat indah.
Cuuuup.
“Eh.. kak..? Kok nyium bibir?”
“Emangnya gak boleh?”
“Hmm.. ya aneh aja sih secara…”
Cuuuup.
Kakak menghentikan ucapanku dengan kembali mengecup bibirku. Aku pun terdiam. Kali ini kakak tetap menempelkan bibirnya. Terasa begitu lembut. Aku pun mengecup dan kakak membalas.
Kakak terlihat begitu bahagia. Aku merasa ganjil sih mencium bibir kakakku sendiri, tetapi aku memang mengagumi kecantikannya.
Tak berselang lama adikku datang sambil membawa baki. Semangkok sup nampak mengepul, juga kopi panas.
“Tuh kaaan… Kak Kekey sekarang lebih sayang Kak Rei daripada aku.” rajuknya ketika aku masih berada dalam dekapan kakak.
“Emang iya.” goda kakak.
Nzi pun semakin merengut, walaupun aku tahu itu hanya dibuat-buat.
Ia meletakan mangkuk di atas meja kecil, dan langsung menarik bahuku agar bepindah ke dalam pelukannya. Aku tertawa kecil, pun pula kakak.
Kakak pun menyuapiku, sementara Nzi masih tetap memelukku. Aku tak ada ubahnya dengan seorang raja yang sedang dilayani dua bidadari cantik. Aku pun larut dalam suasana bahagia ini, ingatan akan Rere kembali pudar.
Akhirnya Kak Kekey bukan hanya menyuapiku, melainkan Nzi juga. Kakak ibarat seorang ibu yang sedang mengasuh dua anaknya yang masih kecil. Dan aku bahagia menikmati momen yang sangat langka ini.
Lama-lama aku mulai mengkhayal, membayangkan memiliki dua istri cantik yang hidup rukun dan harmonis. Selalu bermesra sekaligus berbagi canda bertiga. Aneh memang… tetapi aku tidak bisa melawan fantasiku sendiri.
“Dek, kata kakak kamu udah putus ama Dante, yah?” tanyaku setelah menyeruput kopi yang kakak sodorkan.
“Hooh..” adikku mengangguk.
“Kenapa?” sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
“Karena.. karena…” Nzi malah menatap Kak Kekey seolah meminta persetujuan.
Kak Kekey pun mengangguk sambil tersenyum.
“Karena adek sayangnya cuma ama Kak Rei. Kakak adalah pria idamanku adek.” ujarnya. Kalau bermanja kadang ia menyebut dirinya seperti itu, tidak menggunakan kata ‘aku’ lagi.
Aku terdiam sebentar untuk mencerna maksud perkataan Nzi. Namun sebelum aku bereaksi, adikku malah mengecup bibirku. “Adek sayang banget ama kakak,” lirihnya dilanjutan dengan melumat bibirku. Nzi terlihat begitu bernafsu.
“Dek..” aku gelagapan.
“Tidak apa-apa, Rei. Namanya juga sayang.” tedengar suara kakak.
Bagai terhinoptis, aku pun membalas ciuman Nzi. Lidah kami langsung saling beradu, dan Nzi mendengus halus.
“Kak..” Nzi menghentikan cumbuannya sambil terengah.
“Iya, dek?” sambi refleks mengusap ujung bibirnya yang basah.
“Kakak bukan laki-laki pertama yang menjamah tubuhku, tapi tidak ada seorang pun yang bisa mengambil keperawanan adek selain kakak. Adek hanya mau mempersembahkannya buat kakak seorang.”
“Adek serius?”
Nzi mengangguk sambil tersenyum tulus. Segera kuraih kepala adikku dan kulumat kembali bibir seksinya. Kami berpagutan sambil sama-sama mendesah.
Tanganku bergerak untuk mengusapi paha putih adikku. Ia memang hanya memakai celana pendek. Tetapi terasa ada tangan lain yang menangkap. Tanpa melepas cumbuan aku pun melirik. Rupanya itu adalah tangan kakak. Sorot matanya sayu, rambutnya yang kusut terlihat begitu seksi.
Kakak lantas menumpangkan tanganku pada payudaranya. Terasa kenyal dan ranum khas payudara gadis perawan. Kulihat kakak menggigit bibirnya, tanganku ia tekan-tekan keras. Aku paham, langsung kuremas. Kakak pun mendesah.
Entah berapa lama kami seperti ini, yang jelas cumbuan Nzi semakin panas dan liar. Desahannya kian tak terkendali. Sementara kakak mulai melucuti celanaku. Kurasakan kang pepen mengacung bebas. Terasa bergetar-getar semakin mengeras.
[“Rei, kamu ihklas menggambarkan perabotan kakak dan adikmu pada pemirsa?”
“Ya nggaklah, mang.”
“So? Mamang tulis gak nih?”
“Jangan, mang, please! Jangan terlalu detail. Bahaya, mang!”
“OK.”]
Aku benar-benar melupa. Terlena dalam rasa nikmat yang baru pertama kurasakan. Bibirku mencumbu Nzi, tanganku sudah meremas payudara ranumnya. Sedangkan di bawah sana, kakak sudah mengoral penisku. Nikmatku berlipat-lipat.
Nzi kehabisan nafas. Ia pun bangkit. Dilepaskannya kemejaku, kini aku sudah benar-benar bugil. Adikku pun tanpa sungkan langsung melucuti pakaiannya. Aku melongo ketika melihat adikku hanya menyisakan celana dalam yang melekat. Tubuhnya terpampang sangat indah dan seksi. Aku sudah terbiasa melihatnya hanya mengenakan bikini saat renang bersama, tapi kali ini berbeda. Nafsuku kian menggebu.
Kakak terpengaruh. Ia menghentikan kegiatannya memuaskan kang pepen. Dengan tergesa ia pun membuka blazzer dan roknya. Bukan hanya itu, ia langsung berbugil ria. Aku terbelalak, detak jantungku menghentak-hentak. Payudara kakak sangatlah indah. Putih dan mulus. Putingnya nampak menggemaskan, menumpang pada pusat lingkaran berwarna coklat muda.
Aku mendesah resah ketika pandanganku terpaku pada gundukan vaginanya. Mahkotanya itu.. hitam lebat, tapi tetap dirawat dan tertata rapi. Aku menelan liur berkali-kali.
Sejujurnya, kakak adalah sosok perempuan idealku. Itulah alasannya mengapa aku selalu mencari pasangan yang karakternya mirip dengannya. Rere cukup mewakili. Kini kakak sudah mau memasrahkan dirinya, bukan hanya cinta tetapi juga tubuhnya. Semuanya semakin sempurna ketika si manja dan ceriwis Nzi juga sama-sama mencintaiku dengan seluruh dirinya.
Adikku juga kini sudah benar-benar bugil. Pesona adikku beda lagi. Payudaranya lebih mungil, putingnya juga imut kecil. Areolanya berwarna pink. Sungguh menggemaskan. Gundukan vaginanya adalah vagina paling imut dan menggemaskan yang pernah kulihat. Nampak begitu rapat. Bulu mahkotanya tidak selebat punya kakak, tetapi warnanya yang pirang langsung menggugah selera.
Kudekap dua tubuh molek yang sudah tanpa busana ini. Kakak dan adikku selalu berebutan untuk melumat bibirku, sedangkan tanganku sudah berkeliarahn menyentuh area kewanitaan keduanya.
Suasana kamar pun menjadi gaduh. Desahan dan erangan tak lagi terkontrol. Aku menyuwir kakak, Nzi menyervis kang pepen. Begitu juga sebaliknya. Sekali waktu, dua gadis kesayanganku berebut memainkan kang pepen sehingga aku harus menggelepar-lepar menahan nikmat. Seluruh energi kusatukan agar tidak kalah duluan.
“Ayo, Rei.” kakak sudah tidak tahan. Ia berbaring di sampingku.
Nzi tidak mau kalah, ia merebahkan dirinya di samping kakak sambil meremasi payudaranya sendiri.
Aku bersimpuh di antara dua tubuh bugil sambil merenggangkan paha mereka.
“Kak, aku duluan. Udah gatel banget.” protes Nzi.
“Kakak dulu donk, dek.” kakak protes.
Aku menghentikan aktivitasku. Aku merasa bingung kang pepen harus masuk kamar basah punya siapa dulu. Sedangkan kakak dan adik semakin berdebat sengit.
Ketika aku mau menggagahi kakak, Nzi langsung menarik tubuhku. Begitu juga sebaliknya. Kalau tadi kamar gaduh oleh erangan dan desahan, kini berganti perdebatan, lebih berupa pertengkaran.
Degh.
“Ingat, Rei, kamu adalah anak laki-laki ayah satu-satunya. Kamu harus menjaga kakak dan adikmu. Jangan sampai mereka saling menyakiti, dan ingat baik-baik.. jangan sampai ada orang yang menyakiti mereka. Kamu adalah andalan ayah untuk melindungi mereka.”
“Iya, Yah.”
“Bagus. Ayah bangga padamu, nak.”
Ayah pun langsung mengangkat tubuhku dan mendudukanku di atas pangkuannya. Mamah datang sambil membawa secangkir kopi untuk ayah. Senyumnya sangat indah, sorot mata bangga pun terpancar.
“Aaaarghhh hentikan!!” entah punya keberanian dari mana ketika aku tiba-tiba berteriak membentak kakak dan adik.
Keduanya terbelalalak kaget.
“Maaf.” kakak langsung bangkit memeluk tubuhku. Payudaranya terasa mengganjal. Adikku beda lagi, ia kembali mengocok kang pepen yang mulai layu setelah mendengar kekesalanku.
“Tidak.. tidak.. ini salah..” kudorong tubuh polos kakak. Tanpa sengaja, lututku membaduk dagu Nzi. Keduanya terjatuh di atas kasur.
Aku kaget sendiri, rasa sesal langsung menghampiri. Beda dengan kedua saudariku, binar marah terpancar. Aura mereka berubah. Marah dan birahi saling berkilatan. Mereka mengerubutiku dengan kasar, ciuman mereka tidak lagi lembut. Jauh dari kata mesra. Aku seperti sedang diperkosa.
Sementara ingatan akan nasihat ayah terus terngiang. Aku benar-benar frustasi, nafsu birahi pun berganti emosi. Sekuat tenaga aku meloloskan diri. Kutampar Nzi agar ia sadar, kudorong tubuh kakak dengan kasar.
Keduanya menjerit.
“Kakak dan adek keluar dari kamarku! Pergiiii!!!” bentakku.
Keduanya terperanjat kaget. Dengan kasar kuseret tangan mereka menuju pintu. Mereka meronta sambil menjerit-jerit histeris.
Kakak terlihat begitu marah karena birahinya yang belum tertuntaskan. Matanya melotot merah. Wajahku menjadi sasaran tamparan dan carakan kukunya. Nzi tak kalah kalap, tangannya memelintir kang pepen dengan sangat keras.
Pusakaku harus kuselamatkan, kutendang Nzi. Buzzzz.. tendanganku hanya memakan angin. Kuraih leher kakak agar ia menghentikan cakarannya. Sama.. tanganku hanya menggenggam udara. Tiba-tiba asap hitam langsung memenuhi kamarku, ada energi kuat yang menghempaskanku ke atas kasur. Sementara sosok Kak Kekey dan Nzi menghilang.
“Sayang, kenapa kalian ribut malam-malam?” terdengar suara mamah menaiki anak tangga.
“Hehe maaf, mah. Abisnya kangen ama kakak.” terdengar jawaban adikku.
“Yaudah kalian masuk kamar. Kakakmu sudah tidur?”
“Sudah, mah.”
“Good night, mah.” kakak dan Nzi bersamaan.
“Good night, sayang.”
Lantas hening. Aku benar-benar bingung. Setengah limbung aku segera keluar kamar. Tidak ada siapapun. Sepertinya mereka sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Kepalaku tiba-tiba pening. Pendengaranku tidak salah; kejadian tadi juga nyata. Tetapi kenapa mereka pada menghilang dan aku hanya bisa mendengar suara mereka saja.
Aku kembali rebahan di atas kasur sambil memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Jelas sekali aku tidak bermimpi, hadirku nyata, aku sedang berada di dalam kamarku sendiri. Kurunut peristiwa ke belakang, mulai dari perjumpaanku dengan Sawaka. Itu juga nyata.
Aku tidur di sebuah kamar yang terletak di dekat gerbang Gerbang Sukma Wawaha. Itu juga nyata. Namun ketika bangun aku sudah berada di dalam kamarku. Juga tidak salah. Sawaka sudah mengembalikan wujudku dan memulangkanku.
Kuingat semuanya secara detail, sampai aku bertemu mamah. Juga bertemu kakak dan adikku. Kuingat semua tahap demi tahap pertemuan kami. Semuanya nyata.
Sial ingatan-ingatanku malah membawa pada peristiwa-peristiwa secara rinci. Bagaimana aku bercumbu dengan mamah dan menggerayanginya, juga diservis oleh kakak dan adikku. Tubuh polos mereka bertiga kembali tergambar dalam benakku.
Tanpa kumau, kang pepen menggeliat. Kulitku menjadi sensitif. Aku terangsang oleh ingatan dan bayanganku sendiri.
Aku sungguh bergairah, birahiku tak lagi terbendung. Akhirnya aku pun bersolo karier sambil membayangkan sedang bercinta berempat. Orgasme hebat pun kudapat. Spermaku menyembur deras membasahi sprei. Lantas terkulai lemas.
Masih terbersit rasa bersalah di sela sisa puasku. Juga takut akan apa yang terjadi. Kata-kata Sawaka terngiang, “Jangan ejakulasi di depannya.” Siapa yang dimaksud oleh Sawaka? Arrrh… bukan hanya kang pepen yang lemas, tetapi seluruh tubuh dan sendiku tak lagi berdaya. Aku pun memasuki alam bawah sadar, terlelap dalam tidurku dalam keadaan tubuh yang masih telanjang.
BERSAMBUNG
0 Komentar