Sang pewaris part 45

 

Bab 45








Aku benar-benar sedang berada di dalam kamarku sendiri. Kugosok muka, kutampar pipi, kugigit jari. Sakit.. aku tidak sedang bermimpi. Mejaku masih sama. Buku harian kekasihku ada di sana, juga mawar merah yang masih segar. Sebuah toples berisi burung-burungan kertas yang dulu dibuat Nzi setiap kali kangen aku juga masih ada.




Aku berlari ke depan cermin. Aku terbelalak senang. Si ganteng Rei sudah kembali, manusia Iba telah enyah. Sawaka juga sepertinya sudah mengembalikan semua barang-barangku. Smartphone dan dompet tergeletak pada meja kecil di samping tempat tidur.




“Yihaaaa…” aku berteriak senang. Aku meloncat dan berguling-guling di atas kasur layaknya anak kecil.




Tok tok tok.




Kudengar pintu kamarku diketuk. Kulihat jam dinding baru menunjukan jam sepuluh malam. Ketukan kedua terdengar lagi.




“Siapa yang ribut di dalam?” terdengar suara mamah.




Aku senang bukan kepalang. Aku pun meloncat membuka pintu.




“Mamaah… taraaaa…” aku merentangkan tangan.




Wanita hebat kebanggaanku itu masih berpakaian rapi, sepertinya baru pulang dari rumah sakit selepas membezuk Rere.




Mamah terbelalak, tangannya langsung menutup mulutnya yang terbuka. Setelah mematung sejenak tiba-tiba air matanya berlinang.




“Rei? Ini beneran kamu, sayang?” mamah seakan tidak percaya bahwa satu-satunya si ganteng yang ia lahirkan sudah pulang.




Aku menjawab dengan memeluknya. Kutumpahkan rasa rinduku. Mamah balas mendekap, isak bahagia tak lagi mampu ia bendung.




Lalu mamah melepas pelukan, tangannya mengusapi wajahku untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sementara air matanya terus berderai.




“Aku sudah pulang, mah.” suaraku bergetar.




Peluk hangat kembali bertautan. Mamah terisak sambil mendekapku erat.




“Yaampun, sayang, mamah kangen banget.” mamah melepas pelukan dan menemuki pipiku.


“Aku juga kangen, mah. Ayah mana, mah? Kakak dan adik?”


“Mereka masih di rumah sakit. Mungkin baru tengah malam mereka pulang. Kita jangan hubungi mereka dulu, biar surprise.” ujar mamah. Ia tertawa kecil sambil mengusapi sisa air matanya. Mamah terlihat sangat bahagia.




Kami berdua memasuki kamar, dan mamah menutup pintu.




“Kamu?” mamah tiba-tiba cemberut sambil mengacak-acak rambutku. Lalu dengan gemas menciumi kening dan pipiku.


“Gimana misimu berhasil, nak?” mamah menatapku, senyum bahagianya selalu mengembang.




Aku mengangguk. Dan mamah kembali mendekapku sambil sama-sama duduk di pinggiran ranjang.




“Mamah gak kebayang bagaimana reaksi kakak dan adikmu nanti. Mereka pasti senang.” ujarnya.


“Mamah juga senang kan aku pulang?” godaku.


“Ya iyalah.. kamu tuh bikin mamah sedih Mamah selalu merindukanmu.” jawabnya sambil menjembeli pipiku.


“Maafin Rei, ya mah.” ujarku.




Aku dan mamah saling bertatapan, senyum bahagia sama-sama kami sunggingkan.




“Kamu sudah makan? Kangen masakan mamah gak?”


“Hehe.. iya mah kangen banget. Tapi lebih kangen ama mamah.” jawabku.


“Kamu! Rei.. Rei.. punya anak laki-laki satu-satunya tapi kok malah bikin mamah sedih.” ujar mamah dengan gemas.




Aku pun tertawa getir. Mamah tidak sedang sungguh-sungguh mengeluh, tetapi lebih berupa ungkapan sayangnya padaku.




Serempak aku dan mamah berbaring di atas kasur. Saling menatap, mencurahkan rasa rindu dan sayang. Mamah tak hentinya membelai wajahku, lantas aku memejamkan mata untuk meresapinya. Tanganku memeluk pinggang mamah.




“Mamah senang banget kamu sudah pulang, nak.” kurasakan kecupan pada keningku.




Aku membuka mata. Kami saling tatap dekat, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas halusnya.




“Jangan pernah tinggalin mamah lagi.” gumam mamah.


“Iya, mah.”




Cuuuup. Mamah pun mengecup bibirku lembut. Hanya sebentar, tapi tetap membekas. Aku bahkan tidak pernah ingat kapan terakhir kali mamah mencium bibirku, mungkin waktu aku masih kecil. Bahkan mungkin tidak pernah. Tetapi malam ini kecupan itu mendarat pada bibirku.




Dengan gemas mamah meraih kepalaku agar menumpang pada dadanya. Kepalaku berbantalkan kedua payudaranya, sedangkan mamah mendekap kepalaku sambil tak hentinya membelai rambutku yang mulai sedikit gondrong.




Mataku kembali terpejam. Tetapi ciuman itu… halus dan lembutnya bibir mamah masih terasa. Perasaanku berdesir aneh. Sebuah perasaan yang tidak pernah ada sebelumnya. Kasih sayang aku dan mamah selama ini memang besar, tetapi masih dalam tahap wajar sebagaimana layaknya hubungan ibu dan anak. Namun tidak malam ini.




Aku merasakan desiran asing. Sama seperti perasaan yang kumiliki ketika sedang bersama Rere, bahkan ketika sedang bersama Tante Wulan atau Salsa.




Kenyataan bahwa aku sedang didekap mamah tepat di atas kedua payudaranya membuat persaanku semakin berdesir, jantungku mulai berdetak lebih kencang. Kubuka mata. Aku tercekat. Posisi seperti ini membuat mamah tidak bisa mengatur pakaiannya. Roknya terangkat hingga setengah pahanya terpajang.




Mamah memang sudah tidak muda lagi. Tubuhnya sudah tidak selangsing dulu, walaupun tidak bisa juga disebut gendut. Tepatnya mamah itu bertubuh montok. Yeah walaupun orang lain tak akan percaya bahwa usia mamah tidaklah semuda wajahnya. Ayah pernah bilang bahwa para wanita Keluarga Sawer dan Ewer memiliki ramuan khusus untuk membuat awet muda, dan itu sudah menjadi rahasia keluarga yang diwariskan semenjak zaman (alm) Uyut Rohmah.




“Kok diam saja, sayang?”




Aku pun mendongak. Wajah kami kembali bertatapan dekat. Gila.. mamahku sangat cantik dan seksi. Bibir bawahnya yang memang lebih tebal dari bibir atas terlihat begitu menggairahkan. Ada garis-garis lipatan pada lehernya. Itu membuatnya terlihat semakin menggiurkan sebagai wanita paruh baya yang matang dan penuh kasih sayang.




Aku mengerjap, sekuat tenaga menepis pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba merasuki.




“Mamah kangen.” mamah kembali mengabarkan perasaannya.




Aku tersenyum. Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering, dan aku takut ketahuan kalau aku sedang mengaguminya bukan sebagai ibu, melainkan sebagai wanita seksi yang menggairahkan.




Tanpa sadar akan apa yang sedang kurasakan, mamah malah kembali menciumi wajahku dengan gemas. Tentu saja perasaanku kembali berdesir. Wajahku berubah kaku, dan di bawah sana kang pepen malah menggeliat dan ikut-ikutan kaku.




Kuyakin tidak sengaja ketika mamah mencium tepi bibirku, tetapi itu membuatku limbung. Akal sehatku mulai kabur. Aku bergerak sedikit dan kukecup bibir mamah. Mamah nampak kaget, tetap kemudian membiarkannya. Bibir kami masih sama-sama menempel tanpa gerakan.




Jantungku berdetak kencang sekali. Kukecup lagi. Mamah tercekat. Kukulum.. bibir mamah bergerak dan sedikit tercekat.




“Reii.. kenapa kamu cium mamah seperti itu, sayang?” mamah akhirnya sadar. Kulihat bibirnya sedikit terbuka untuk mengatur nafasnya yang ikut-ikutan terengah.


“Aku sayang mamah.” suaraku bergetar.


“Mamah juga sayang kamu, nak.”


“Tapi mah…”


“Iya mamah tahu.”




Hmmmffff. Kali ini mamah yang mencium bibirku, dan langsung mengulum hangat. Aku gelagapan sesaat, namun tak lama kemudian membalas. Aku terbuai, perasaanku melayang. Ciuman ini begitu menghanyutkan.




Lenguhannya mulai terdengar, langsung disambut lumatan. Kepala kami sama-sama miring, ciuman kami semakin dalam.




“Mmmmh…” mamah menggeliat ketika ujung lidah kami bersentuhan. Kami saling diam selama beberapa detik. Berlanjut lumatan panas.




Mamah menggulingkan tubuhku tanpa melepas cumbuan. Ia menduduki pahaku dengan tubuh membungkuk.




Aku mulai berani. Tanganku merambat mengusapi paha putihnya. Terasa halus dan semakin meninggikan gairah. Yeaaah.. aku sudah terbiasa melihat mamah berpakaian mini, tetapi malam ini berbeda. Saat ini sayang dan kagumku lain sekali.




“Mmmh.. puaskan mamah, sayang.” aku tidak menyangka mamah akan berkata seperti itu.




Gairahku pun kian terbakar. Tanganku semakin merangsek naik sambil mendorong terpian roknya. Ciumanku bergetar ketika tanganku sudah menyentuh celana dalamnya, dan langsung kuremas bongkahan pinggul yang besar dan kenyal itu.




Mamah mendengus keras. Ia membalikan badan, kali ini aku yang menindihnya. Pusat selangkangan kami saling menekan, cumbuan kami semakin liar dan basah.




“Ayo suwir mamah, sayang.” desahnya.




Mamah mengarahkan tanganku supaya meremas payudaranya. Aku menurut, dan itu menyukakanku. Kuremas payudaranya yang masih tetap kenyal. Mamah menggelinjang, mulutnya mengerang.




“Suwir.. suwir.. suwir.. suwiiiiir…” kata-kata mamah barusan terus terngiang dalam benakku. Tiba-tiba aku teringat Ki Suwir Jagat, ayahku.




Aku tercekat. Segera kulepaskan cumbuan, kuhentikan remasan. Aku langsung bangkit dan duduk menjauh. Nafasku terengah.




“Sssh.. kenapa, sayang. Ayo.. mamah sudah tidak tahan.”


“Mah, ini salah.” aku berusaha mengingatkan.




Mamah nampak marah. Ia langsung melucuti pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalam. Aku terbelalak. Tubuhnya memang sangat menggairahkan. Tapi akal sehatku kembali bekerja.




Mamahku adalah wanita terhormat. Ia tidak mungkin akan menjadi sebinal ini. Dan aku sendiri tidak mungkin memesumi wanita yang telah melahirkanku. Kuusap wajahku beberapa kali.




Mamah menggunakan kesempatan ini. Ia langsung menubrukku. Ia mencari bibirku, tangannya dengan gesit meraih tanganku supaya kembali meremas payudaranya yang kali ini sudah tanpa penghalang. Kurasakan putingnya sudah sangat tegang.




Tangan kirinya mulai membuka ikat pinggangku. Beberapa detik aku terbuai, namun bayangan ayah terus berkelebat, kata-kata ‘suwir’ juga kembali terngiang.




“Mah.. mah.. hentikan, mah.” aku setengah berteriak.




Bukannya menurut, mamah semakin kasar dan binal. Ia mendorongku hingga terjengkang. Dengan gesit ia membuka dan memelorotkan celanaku. Aku meronta. Kudorong tubuhnya.




Sorot matanya berkilat. Damn.. itu bukan tatapan mamah.




“Hentikan!” bentakku.




Mamah terlihat semakin marah. Ia bersiap menindihku. Kutekuk kedua kaki dan kutahan tubuhnya dengan lutut. Kudorong bahunya agar ia tidak berhasil mencium kembali. Mamah semakin kalap, aku tak kalah kalapnya dengan alasan yang berbeda.




Kuhentak tubuh mamah dengan keras.




“Aaaaaauuuuww…” pekiknya. Tubuhnya terjengkang, terjungkal ke atas lantai.


“Mamah!” aku panik karena telah berbuat kasar.




Aku segera bangkit ke tepi ranjang untuk menyusulnya. Dan… mamah sudah tidak ada. Aku mengerjap. Buru-buru kucari keberadaannya. Di bawah ranjang, di setiap sudut kamar. Mamah hilang tanpa jejak.




“Mah.. mamah…” aku terus mencarinya. Jangankan sosoknya, jawabnya pun tidak ada. Kupakai kembali celanaku. Kucari mamah di dalam kamar mandi, juga tidak ada. Aku berburu keluar kamar. Keadaan rumah nampak sepi.




Setengah berlari aku menuruni tangga, tetapi seperti ada dorongan batin untuk kembali. Aku pun kembali ke dalam kamarku dengan lunglai. Hatiku diliputi rasa bersalah, sekaligus dipenuhi rasa heran karena mamah tiba-tiba menghilang. Jelas ini bukanlah mimpi.




Kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi, kuguyur tubuhku tanpa melepas pakaian. Semuanya basah. Lagi-lagi.. ini bukan mimpi.




Kudinginkan kepalaku, dan akhirnya aku berlama-lama mandi sambil berusaha menenangkan pikir. Sejam kemudian aku baru keluar dari kamar mandi. Kukeringkan tubuh dan kuganti pakaian. Tak lama berselang terdengar suara-suara di luar. Awalnya samar, dan semakin jelas kemudian. Kakak dan adikku sudah pulang.




“Mamah punya kejutan untuk kalian berdua.”




Degh. Aku mendengar suara mamah. Pikir dan rasaku kembali tidak karuan.




“Kejutan apa, Mah?” terdengar adikku ceriwis.




Tidak ada jawaban, namun pintu kamarku terbuka. Terlihat tiga sosok wanita yang kusayangi muncul. Kulihat mamah tersenyum. Tidak ada kemarahan, apalagi kebencian. Senyumnya sebagai seorang ibu terpancar.




“Kakaaaaak.”


“Reiiii?”




Adik dan kakakku memekik bersamaan. Keduanya langsung menghambur memelukku. Mamah sendiri tidak masuk, malah menutup pintu dari luar kamar.




“Aku kangeeeeen. Hiiiiksss…” Nzi histeris sambil memelukku erat.




Kakak terisak bahagia sambil juga memeluk. Kami berpelukan bertiga menumpahkan rasa rindu dan sayang, tetapi pikirku masih gamang. Jarak antara kenyataan dan khayalan terasa sangat begitu tipis.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar