Bab 44
Aku membuka mata, lantas menggeliat. Badanku terasa remuk. Tenggorokanku kering. Kurasakan pipi kiriku dingin. Rupanya aku sedang terkapar di atas lantai batu.
“Selamat datang kembali di Anta, Rei.” terdengar sebuah suara.
Aku mengangkat tubuhku sambil mengerjap-ngerjap mencari datangnya arah suara. Sepertinya aku pernah berada di tempat ini, tapi di mana?
“Kau!” aku langsung kesal begitu tahu siapa yang sedang berada bersamaku.
Mahapatih Sawaka sedang duduk di atas singgasananya. Yeah.. rupanya makhluk itu telah membawaku ke alamnya, tepatnya ke Gerbang Sukma Wawaha yang pernah kukunjungi di tahun yang silam.
“Hahaha.. yang sopan, Rei, kamu sedang berhadapan dengan seorang mahapatih.” tawanya terdengar angkuh.
“Kupret!” aku memaki sambil duduk pada sebuah kursi.
Sawaka tertawa terbahak. Ia menepuk tangannya, dan tiga orang bidadari masuk sambil membawakan suguhan yang nampak lezat. Tanpa sadar aku menelan liur melihat perabotan para bidadari itu yang nampak menerawang dalam pakaian sari tipis yang mereka kenakan. Ketiganya tidak mengenakan dalaman.
“Hahaha.. dasar mesum kamu, Rei.” Sawaka kembali terbahak.
Ia turun dari singgasananya dan menemaniku duduk menghadapi hidangan yang sedang disajikan.
“Kamu kemana aja selama ini?” protesku pada Sawaka.
“Hahaha.. kamu benar-benar kurang ajar.” bahaknya lagi.
Para bidadari mengangguk hormat lantas bergerak meninggalkan ruangan. Tanganku sempat terulur untuk meremas selangkangan salah satu di antara mereka, namun keburu sadar aku sedang berada di alam siluman.
“Ayo makan dulu. Setelah makan, akan kusampaikan rintangan berikutnya.” perintah Sawaka.
“Jadi aku sudah berhasil melewati rintangan pertama?” senang dan heran bercampur.
“Ya kamu sudah berhasil menjalankan rintangan pertamamu, meskipun hampir gagal. Untung kamu diselamatkan oleh waktu yang Raja Anta berikan. Kalau tidak, semuanya bisa berantakan.”
Aku tersenyum kecut. Berarti aku diselamatkan karena waktuku keburu habis hanya beberapa detik sebelum aku mengakui identitasku pada Tante Nur dan Kak Kekey.
“Rere.” tiba-tiba aku teringat kekasihku yang sedang sakit. Selera makanku langsung hilang.
“Sudah kamu makan dulu.” Sawaka kembali memerintah sambil menuang piring rotannya lebih dulu.
“Tapi sekarang bagaimana keadaan Rere?”
“Percayakan semuanya padaku.”
Aku menghela nafas. Rasa lega bercampur rindu langsung menyerbu. Kuisi piringku. Awalnya kumakan tanpa selera, namun rasa lezatnya akhirnya membuatku lahap. Kami makan tanpa saling berbicara.
Usai makan, Mahapatih Sawaka mengajakku duduk di serambi sambil menikmati secangkir kopi. Mataku langsung disuguhi pemandangan indah pusat kerajaan di lembah sana.
“Sebetulnya aku sudah menemuimu untuk memberitahu bahwa waktumu tinggal sedikit lagi. Tetapi kamu sedang dipenuhi emosi sehingga aku kesulitan membuka mata batinmu.” ujar Sawaka.
“Hah? Kapan?”
“Kamu yang menabrak mobilku.”
“Kupret!”
“Hahaha…”
“Sekarang aku ingin tahu bagaimana keadaan Rere saat ini, dan kenapa dia bisa sakit? Kekasihku sakit apa sebetulnya?”
Sawaka tak bergeming. Ia menyeruput kopinya. Sadar bahwa aku tetap menatapnya tajam, akhinya ia pun menjawab. “Itu bukan urusanmu, nanti kamu akan tahu pada waktunya. Yang terpenting sekarang adalah rintanganmu yang kedua.”
Aku sudah membuka mulut untuk menyahut, tetapi Sawaka berkata lebih cepat, “Kamu telah berhasil bekerja pada keluargamu sendiri tanpa ketahuan. Yeah.. walaupun ada beberapa orang yang tetap merasakan auramu yang asli. Dan.. walaupun kamu hampir menggagalkannya!!! Kamu telah ceroboh, Rei! Ingat ini bukan hanya untuk menentukan nasibmu, tetapi juga nasib Sawer dan Ewer!”
Mendengar suara Sawaka yang berubah dalam dan berwibawa aku hanya bisa bungkam.
“Tapi kamu juga jangan bangga dulu dengan keberhasilan ini. Ada beberapa catatan yang harus kamu camkan. Kamu menjadi liar dan mesum!”
“Bukankah itu yang diinginkan oleh Raja Anta.” kilahku.
“Kamu benar. Tapi sejak kamu berhasil melewati rintangan pertamamu, Maharaja Anta sudah mempercayakan perjalanan selanjutnya padaku. Sekarang semuanya aku yang menentukan dan mengambil keputusan. Dan kamu harus selalu mengingat rencana besar kita di belakang maharaja. Camkan itu!”
Aku mengangguk. Aku tidak lupa. Raja Anta memang memberiku banyak rintangan agar aku bisa meneruskan tradisi leluhur, dan menyempurnakan apa yang ayahku tidak selesaikan. Tetapi di balik itu semua, aku dan Sawaka sudah punya rencana sendiri untuk menjatuhkan Raja Anta yang mulai semena-mena khususnya dalam dunia persuwiran bangsa manusia di sekitar Sawer dan Ewer.
“Jadi kamu tidak suka kalau aku mesum?” tanyaku lagi.
“Bukan aku. Tetapi “Leluhur Terpilih” tidak menghendakinya.”
Aku menghela nafas. Tidak perlu tanya tentang siapa yang dimaksud, aku sudah tahu kisah mereka. Kini arah perjalanan rintanganku mulai dirubah, bukan lagi di bawah kuasa Raja Anta, melainkan di bawah Sawaka. Aku tidak serta-merta menjadi senang, kini “Leluhur Terpilih” sudah mulai campur tangan. Bisa jadi malah tantangan berikutnya akan lebih berat, tergantung kesalahanku sebelumnya.
“Apa rintangan berikutnya?”
“Siapa orang-orang yang kamu cintai?” Sawaka malah balik bertanya.
“Maksudmu?”
“Sebutkan saja!”
Kusebutkan daftar keluargaku, mulai dari orangtua, oma dan opa, para om dan Tante, para sepupu, dan tentu saja Rere kekasihku.
“Sekarang dari semua orang yang kamu sebutkan, pilih lima wanita yang paling kamu cintai!” perintahnya lagi.
“Aku mencintai mereka semua.”
“Kamu harus memilih lima yang ‘paling’ kamu cintai dari antara wanita-wanita yang kamu cintai.”
“Harus banget?”
Sawaka pura-pura tidak mendengar. Kuseruput kopiku sambil menimbang-nimbang.
“Mamah.” jawabku kemudian.
“Kakak.”
“Adikku.”
“Rere.”
Aku pun terdiam.
“Yang kelima?” desak Sawaka.
Aku berpikir keras. Nama-nama berkelebatan. Bahkan wajah Tante Wulan dan Salsa pun melintas dalam benakku.
“Inka dan Rana.” akhirnya aku memutuskan jawaban.
“Pilih salah satu dari mereka!”
Njir. Sawaka benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk berkompromi.
“Rana!” aku menjawab gamang.
“Hmm.. baiklah.. jadi ibumu, kakak dan adikmu, pacarmu, dan Inka.” sahut Sawaka.
“Heh? Aku bilang yang terakhir adalah Rana.” aku meluruskan ucapannya.
“Aku mendengarnya Inka.”
Kupret! Aku tidak paham apa isi kepala Sawaka. Ia sendiri yang memintaku memilih, tapi pada akhirnya ia yang memilihkan sendiri.
“Baiklah. Tapi mengapa aku harus memilih lima orang?” aku masih penasaran.
“Kamu akan tahu maksudku pada saatnya nanti. Yang jelas sangat berkaitan dengan rintanganmu.”
“…”
"Sekarang kamu istirahat dulu. Nanti malam akan kusampaikan rintangan keduamu."
Buzzzzz!!!
Belum juga aku menjawab, tiba-tiba Sawaka menghilang. Tinggal aku seorang diri. Suara hatiku menuntun menuju sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar tidur khas ala kerajaan. Kurebahkan diriku, mataku terpejam, ingatanku hilang.
Aku membuka mata ketika hari sudah gelap. Aku mengerjap untuk mengingat-ingat keberadaanku. Kugosok mukaku sambil duduk di atas ranjang.
“Sekarang kamu dengarkan baik-baik…” terdengar suara Sawaka.
Aku memicingkan mata untuk melihat ke seluruh ruangan. Hanya gulita yang ada. Suaranya terdengar lagi. “Kamu telah mesum Rei, sama seperti kedua pendahulumu. Dan kamu harus memutuskan rantai itu. Inilah rintangan keduamu…”
Makhluk tanpa sosok itu pun menjelaskan rintangan keduaku. Aku berusaha menyimak, tetapi tetap gagal paham. Kepalaku tiba-tiba terasa pening, dan aku hanya bisa mendengar perkataan terakhirnya secara samar-samar: “Jangan pernah ejakulasi selama ia ada.”
Aku berusaha turun dari tepat tidur, tanganku merayap untuk mencari pintu keluar. Aneh.. aku sepertinya hafal ruangan ini. Aku pun berjalan dengan tangan terus menggapai.
Akhirnya aku menemukan sebuah tombol. Saklar.
Kliiiiik! Byaaaarrrrr….!!
Aku pun terperangah senang. Aku sudah pulang.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar