BAB 43
Keesokan harinya….
Aku baru saja selesai mandi dan berpakaian ketika kudengar ketukan pada pintu kamar kostku.
“Iya?”
Aku pun membuka pintu. Sosok Salsa hadir sambil membawakan secangkir kopi dan nasi goreng sebagai sarapanku.
“Pagi, sayang.” sapanya ramah. Senyumnya manis dan indah.
“Pagi, Sa.” kuambil cangkir kopi dan kuseruput sambil memasuki kamar.
“Makasih.” ujarku lagi ketika kami sudah duduk berdua di tepi ranjang.
“Aku telpon kok gak dijawab? Kemaren pulang jam berapa?” tanyanya, jemarinya merapikan rambutku yang belum sempat kusisir.
“Hmm.. pulang sore kok. Hapeku rusak karena kehujanan. Nanti siang deh aku servis.”
Salsa melirik ke arah meja, hapeku memang tergeletak di sana.
“Aku beliin yang baru, mau?”
“Jangan, Sa, aku masih punya uang kok untuk menyervisnya.”
“Aku beliin aja yah.” ia mulai manja.
Aku menggeleng. Ia menatapku. Aku kembali menggeleng.
Salsa pun mengambil cangkir kopi dari tanganku dan meletakannya di atas meja.
Hmmff… ia duduk mengangkang di atas pangkuanku. Roknya otomatis tersingkap. Bibir kami langsung beradu dan saling mengulum. Kepala kami berputar berlawanan arah, bibir kami berdua sama-sama terbuka, dan lumatan hangat pun saling kami berikan di awal hari.
Salsa terbuai, aku terlena. Kamu terus berpagutan, dan aku sudah menindihnya di atas kasur.
“Mmmh.. sayang, jangan.” Salsa menepis halus tanganku ketika aku mulai meremas payudaranya.
“Aku bisa terlambat masuk kerja.” ia menjelaskan.
Kulumat bibirnya sekali lagi lalu membiarkannya bangkit. Kulirik jam, sudah jam tujuh pagi. Artinya, Salsa masih punya waktu satu jam.
Salsa pun merapikan kembali pakaiannya, sedangkan aku menuju pintu. Kututup dan kukunci.
“Sayang?” Salsa protes.
“Kamu yang memulai. Aku pengen.” ujarku dengan nafas sedikit tersengal.
“Aku bisa terlambat kerjaa.” rengeknya.
Aku tidak menghiraukannya. Kulumat bibirnya sehingga Salsa gelagapan. Tapi akhirnya membalas tanpa penolakan.
Dengan tergesa kuangkat roknya dan kulepaskan celana dalamnya. Karena tidak punya banyak waktu, aku pun langsung menyetubuhi Salsa dengan hanya menyingkap bagian bawah pakaiannya. Persenggamaan kami tidak lama, tanpa banyak pemanasan, tapi kami sama-sama puas. Kami sama-sama mengejang sambil saling menyambut semburan orgasme.
“Gila kamu!” Salsa cemberut sambil memelukku lemas.
Setelah tenaganya sedikit pulih, ia pun membersihkan vaginanya dengan tissue dan mengenakan kembali celana dalamnya. Salsa merapikan pakaiannya, sedangkan aku memulai sarapan yang ia bawakan.
“Aku berangkat kerja dulu ya.” Salsa menciumku, dan tangannya nakal meremas penisku yang masih menggantung bebas.
“Iiih masih basah.” ia baru sadar. Aku tertawa kecil saja.
Salsa menggodaku. Disingkapnya roknya, dan ia mengelap tangannya pada celana dalamnya sendiri. “Biar, ingat terus ama penis kamu,” ujarnya binal.
Aku hanya menggeleng melihat paha putihnya yang kembali terpajang. Aku kembali sange, tapi Salsa yang tahu akan pergerakan penisku, langsung berlari sambil tertawa kecil.
“Dadah, Iba.” terdengar ia setengah berteriak dari luar.
“Daaah.” jawabku, lantas kuselesaikan sarapanku.
Sekepergian Salsa, aku menyelesaikan sarapanku, baru mengenakan kembali celana setelahnya. Kuambil hape untuk menghubungi Tante Wulan. Sial.. aku lupa kalau hapeku sedang rusak. Akhirnya kuputuskan untuk bermalas-malasan sambil merokok. Sekitar jam sepuluh kudengar suara langkah kaki. Kupikir adalah tetangga kamar, tetapi…
“Adek?” aku yang sedang rebahan di atas kasur langsung bangkit.
“Adek?” ia balik bertanya dengan heran.
“Eh.. mmaksud saya, Neng Nzi. Kok tahu kostan saya?” gugupku.
Nzi nampak kaget karena aku memanggilnya ‘adek’, tapi sepertinya ia sedang kalut sehingga tidak terlalu memikirkannya.
“Susah tahu mencari kosanmu, mana hapemu masih mati lagi. Sekarang kamu ikut aku, buruaan!”
“Eh.. ada apa, Neng?”
“Gak usah banyak tanya. Ikut saja.” Nzi tidak sabar.
Nampak jelas kalau ia terlihat sedih dan panik.
“Iiya Neng, tapi kita mau kemana?”
“Buruaaan!” ia setengah membentakku.
Aku pun terhuyung mengikuti langkahnya. Tanganku ia tarik. Aku pun mengikuti langkah adikku tanpa banyak bertanya lagi. Pintu kamar pun tak sempat aku tutup.
Setibanya di ujung gang, kami berdua masuk ke dalam mobil. Nzi menolak ketika aku menawarkan agar aku yang menyopir. Ia pun tancap gas dengan kecepatan cukup tinggi. Perkataanku agar jangan ngebut tidak ia hiraukan.
“Kita mau ke mana, Neng?”
“Ke rumah sakit.”
“Haah.. siapa yang sakit?”
“Bawel! Nanti kamu tahu sendiri.”
Aku panik sendiri. Tempat yang Nzi sebutkan membuat dadaku bergemuruh. Takut pun menerjang. Siapa yang sakit? Sementara tanyaku tidak ia hiraukan.
“Ba, kamu dan Dante punya hubungan apa? Kenapa kamu bisa mendapatkan video itu?” Nzi malah mengalihkan percakapan.
“Kami tidak punya hubungan apa-apa, Neng. Saya mendapatkan video itu dari seorang teman yang bekerja sebagai sopir pada salah seorang wanita selingkuhannya.” aku berbohong.
“Hmmm… bangsat tuh orang!” gerutunya.
Ujarnya lagi, “Tadi pagi si Dante menghubungiku lagi dan meminta maaf. Ia mengajakku balikan. Sepertinya ia sudah tahu kalau kamu tidak lagi bekerja di keluargaku, dan ia terdengar senang.”
“Bangsat!!” kali ini aku yang memaki meski hanya dalam hati.
“Aku takut, Ba. Dante pasti masih menyimpan video itu dan akan menyebarkannya jika aku tidak mau balikan.” adikku terdengar bingung dan sedih.
“Neng Nzi tenang saja. Teman saya sudah menghilangkan semua file, dan satu-satunya yang tersisa adalah yang saya berikan kepada Neng Nzi kemarin.” aku menenangkannya.
“Kamu yakin, Ba? Seriusan?” Nzi nampak girang.
“Saya tidak bohong, Neng.”
“Terima kasih, ya Ba.”
“Sama-sama, Neng.”
“Aaaah kenapa harus begini sih. Semua masalah datang bertubi-tubi dalam hidupku. Kakaaaak…” keluhnya.
“Neng Nzi masih kangen Mas Rei, yah?”
“Bukan Ibaa! Kak Rere tadi pagi pingsan dan sekarang masih di ICCU. Kita akan kesana.”
Jegeeeeeerrrrr!!!
Nafasku langsung tersengal. Kelopak mataku seketika panas. Telapak tangan mengepal erat. Aku abai pada adikku yang sedang memperhatikanku.
“Sayang..” batinku menjerit memanggil namanya.
Kalau tadi aku meminta supaya Nzi tidak ngebut, sekarang malah berbalik memintanya supaya ia menambah kecepatan. Kulihat Nzi sangat heran dan mulai curiga, namun benakku saat ini hanya dipenuhi bayangan kekasihku.
Lima belas menit kemudian kami tiba rumah sakit. Tanpa banyak kata Nzi mengajakku menaiki lift dan menuju ruangan ICCU kelas VVIP.
“Om.. Tante.. gimana Kak Rere sudah sadar belum?” ujar Nzi.
Tante Nur yang sedang menangis dalam pelukan suaminya pun langsung mendongak. Ia menggeleng sambil mengusapi air matanya. Di samping mereka berdua, ada juga mamah dan Kak Kekey.
Kusalami mereka satu per satu. Mereka menyambutku meski nampak heran karena aku datang bersama Nzi.
“Siapa di dalam?” tanya adikku lagi.
“Inka, sayang.” kali ini mamah yang menjawab.
Aku paham. Hanya satu orang yang boleh menemani pasien di ruangan khusus itu. Maka kami harus bergantian jika ingin membezuk.
Sebetulnya aku sangat panik dan ingin menerobos masuk. Tetapi aku masih sadar akan misi penyamaranku. Sekuat tenaga aku memosisikan diri sebagai orang luar, mantan sopir yang membezuk mantan majikan.
“Kok bisa bersama Iba, dek?” tanya kakak.
“Tadi aku ketemu di jalan.” jawab adikku.
“Oooh.. makasih ya Iba sudah mau datang.”
“Sama-sama, Neng.”
“Syukurlah ada kamu, Ba. Kamu tetap di sini ya, biar ada orang yang gampang dimintai tolong.” ujar ayahnya Rere. Mamah dan Tante Nur mengangguk mengamini.
“Siap, Pak.” jawabku dengan bibir bergetar.
Aku pun menjauh karena tidak ingin dianggap tidak sopan jika tetap berdekatan dengan mereka. Aku duduk pada kursi kosong di pojokan. Meski begitu, aku mencoba menguping akan apa yang terjadi sebenarnya. Nihil. Aku kehilangan berita tentang asal-mulanya Rere pingsan. Kini yang kudengar hanyalah kondisinya sekarang ini.
Waktu pun terasa merambat dengan sangat lambat. Setelah Inka keluar, giliran mamah yang masuk. Waktu mereka memang dibatasi, hanya sepuluh sampai lima belas menit untuk setiap orang. Tetapi bagiku terasa berjam-jam.
Aku merasa lega ketika adikku menjadi orang terakhir yang masuk. Namun legaku hanya sebentar. Rombongan dari pihak keluarga besar Sawer pun mulai berdatangan, dan bergiliran menjenguk ke dalam. Aku yang adalah orang ‘asing’ hanya bisa frustasi menunggu kesempatan.
Mereka semua berkumpul, saling bercakap-cakap. Hasil diagnosa sudah didapatkan, tapi aku tidak paham apa dan kenapa. Tahuku hanya Rere perlu dirawat secara intensif.
Aku malah semakin panik ketika melihat mamah dan Tante Nur menangis berpelukan. Kakak dan adikku menangis dalam pelukan ayah yang baru datang. Kulihat ayah nampak kaget setelah mendapat penjelasan tentang penyakit Rere. Namun setelahnya, ayah adalah satu-satunya orang yang paling tenang.
Meski hanya bisa melihat dari kejauhan, sikap ayah seperti itu membuatku sedikit lebih lega. Ayah bukanlah orang sembarangan, ia bukan sekedar seorang pengusaha sukses seperti yang selama ini dikenal kebanyakan orang. Ayah pasti bisa melakukan sesuatu untuk Rereku.
“Kamu apa kabar, Ba?” mamah dan kakakku mendekat, diikuti oleh Nzi, sedangkan ayah masuk untuk menengok Rere dan melihat keadaannya.
“Baik, bu.” aku mengangguk sopan.
Ada banyak tanya yang mamah dan kakakku lontarkan, dan aku menjawab seperlunya, kadang-kadang harus disertai dengan kebohongan. Mamah malah menawari untuk kembali bekerja sebagai sopirnya, tapi aku menolak dengan halus.
Mamah pergi ketika melihat ayah keluar dari ruangan. Menyisakan kakak dan adikku.
“Jadi kalian sudah baikan? Kalian ketemu di mana?” goda kakak. Meskipun sedang khawatir oleh keadaan Rere, ia nampak bisa menyembunyikannya.
“Iya, donk.” adikku mengerling pada kakak.
“Eh…” aku terkejut ketiba tiba-tiba ia pindah duduk dan mengapit lengan kananku.
Aku menolak halus, tetapi Nzi malah memeluk lenganku semakin erat. Seakan sengaja ingin memamerkannya di depan kakak.
“Maaf, Neng.” aku salah tingkah karena Kak Kekey menatapku penuh selidik.
“Dek?” desak kakak.
“Nanti di rumah aja ceritanya.” adikku tetap tidak mau menjelaskan.
“Kamu!”
Jembelan pada pipi adikku mendarat. Nzi tidak bisa menghindar, tetapi setelahnya ia malah menyembunyikan wajahnya pada belakang punggungku untuk menghindari jembelan susulan.
Dudukku seketika menjadi kaku. Kakak tahu itu. Tapi ia sepertinya tidak marah pada Nzi maupun padaku.
Di depan pintu ICCU nampak ayah sedang mengobrol serius dengan orangtua Rere. Mereka sepertinya sedang mengatur jadwal jaga. Benar saja, ayah mengajak kakak dan adikku pergi untuk makan siang. Begitu juga yang lain, menyisakan mamah dan Tante Nur.
Aku menghela nafas. Kini aku sudah punya kesempatan untuk melihat keadaan Rere. Tetapi sial.. Bunda Rahma dan Tante Rinjani datang, mereka berdua menemani Oma Era. Setengah jam kemudian datang pula Oma Alya dan Opa Ardan. Aku merasa frustasi.. tapi apalah dayaku.
Menjelang sore giliran teman-teman Rere yang datang. Sedangkan keluarga yang jaga adalah Tante Nur dan Kak Kekey. Aku hanyalah sopir, tepatnya mantan sopir, hanya tunduk pada majikan dan keadaan. Aku harus menanggung derita tanpa bisa melihat kekasihku. Aku ingin marah, ingin menangis, ingin teriak..!! Lara ini terasa begitu menyesakan dada.
“Kamu kok ada di sini juga, sayang?” Salsa yang datang bersama beberapa temannya menghampiriku.
“Eh.. iya, Sa. Tadi aku diberitahu Neng Nzi.” aku sedikit gugup.
“Ooh.”
Jawaban Salsa hanya berupa gumaman, tetapi sorot matanya penuh selidik. Sangat jelas ada pancaran cemburu di sana.
“Kita bicara.”
Salsa pun menarik tanganku dan kami berjalan sedikit menjauh. Kami berdiri berhadapan di lorong rumah sakit yang sedikit sepi.
“Kalian dan Rere tidak ada hubungan apa-apa, kan? Tidak pacaran? Ingat loh, Rere sudah punya pasangan.” Salsa langsung mencecarku.
Aku yang sudah gelisah sejak tadi siang, langsung tersulut emosi mendapat perlakukan Salsa seperti ini.
“Sa?! Kok kamu ngomong kayak gitu sih? Hubungan aku dan Rere hanya sebatas mantan pegawai dan majikan.” ujarku dengan emosi tertahan.
“Iya aku tahu, kalian mantan majikan dan sopir, tapi Rere selalu membuntutimu kemana pun kamu pergi!” Salsa tidak suka atas sikapku.
“Sa!! Rere sedang sakit, kok kamu malah curigaan?” marahku rasanya mau meledak.
“Kok malah jadi kamu yang sewot? Aku hanya cemburu, Ba. Cemburu!!” Salsa berusaha meredam suaranya.
Aku mendengus kesal sekaligus resah.
“Sa, aku dan Rere itu….”
“Dengar, ya Ba…” Salsa memotong. “Aku ingin agar hubungan kita punya nama, dan itu bukan hubungan ‘teman’. Aku ingin kita melanjutkannya dengan sebuah komitmen, bukan hanya sekedar bersenang-senang. Kamu pikir aku perempuan apaan?”
Aku terbelalak mendengar ucapan Salsa. Gadis ini benar, dan ia tidak salah jika menuntut lebih, tetapi saat ini yang memenuhi pikirin dan perasaanku hanyalah Rere. Aku terlalu egois, dan malah balik memarahinya. Salsa pun menangis.
“Maaf.” gumamku. “Kita bicarakan lagi ini nanti, sekarang kamu jenguk Rere dulu gih. Tuh teman-temanmu sudah selesai.”
Salsa pun mengusapi air matanya. Ia terlihat masih marah dan kecewa.
“Kok nangis, Sa.” Kak Kekey menyambut kami.
“Kasihan Rere, kak.” Salsa berbohong sambil mengeratkan bibirnya.
“Kamu bantu doa saja ya.” sahut Tante Nur sambil mengusap air matanya sendiri.
Salsa pun ijin masuk, dan aku kembali menunggu. Nafasku tersengal. Bayangan-bayangan Rere terus melintas, dan semuanya semakin kacau setelah kejadian baru saja dengan Salsa. Gadis itu mulai possesif dan menuntut apa yang menjadi haknya. Aaaarggghhhh!!!
Setengah jam kemudian, Salsa keluar. Sebelum ia memintaku mengantarnya pulang, aku pun mendekati Tante Nur dan Kak Kekey.
“Maaf, Bu, Neng… apakah saya boleh melihat Neng Rere?”
Tante Nur dan kakak tersenyum. Sebaliknya, Salsa terlihat terbelalak kesal.
“Ya tentu saja boleh, Ba. Sekalian bantu doa ya.” jawab Tante Nur.
“Terima kasih, Bu.”
Setelah mengangguk sopan aku pun melangkah menuju pintu.
“Jangan lama-lama, aku tunggu.” bisik Salsa. Aku pun menganggguk.
Kututup pintu dari dalam. Kukenakan pakaian khusus yang menggantung pada lemari. Kulepas juga sepatuku.
Seorang perawat menyambutku dan menunjukan ruangan Rere. Pesannya, “Jangan lama-lama, ya mas.”
Aku hanya mengangguk. Langkahku panjang menuju ruangan Rere. Pandanganku langsung kabur ketika melihat kondisi kekasihku yang masih belum sadarkan diri. Wajahnya nampak pucat, dan mulutnya dipasang oksigen. Beberapa selang dan kabel menempel pada tubuhnya.
“Sayang.” lirihku bergetar. Kuusap air mataku.
Pertahanan diriku benar-benar runtuh. Aku tak sanggup melihat Rere seperti ini. Kuusapi rambutnya dan kuciumi wajahnya sambil berlinangan air mata.
“Sayang, ini aku. Aku mohon bangunlah sayang.” bisikku pada telinganya.
Rere tidak bereaksi. Ia hanya berbujur lemah. Sementara aku masih belum tahu apa penyakitnya.
“Sayang.. aku mohon bangunlah.. ini aku… Reimu.” bisikku lagi.
Kuusap lengannya yang dipasang infus, sedangkan tangan kiri membelai pipinya. Tak hentinya aku memohon agar kekasihku bangun.
“Sayaang aku mohon, bangunlah…” aku mulai menggoncangnya.
Aku pun tak kuat lagi. Kudekap tubuh lemahnya sambil menangis.
“Mas.. mas.. harap tenang ya. Jangan didekap seperti itu.” seorang perawat datang.
“Sakit Rere apa, sus?”
“Maaf, masnya ini siapa ya?”
“Saya tunangannya, sus.” ujarku.
Perawat itu menyelidiku dengan tatapannya, lantas menggeleng.
“Maaf, ya mas. Saya tidak punya wewenang menyampaikannya. Mas bisa menanyakannya sendiri pada dokter atau orangtua Rere.” jawabnya.
Merasa tidak mendapat pertolongan, fokusku kembali kepada Rere. Kuciumi kembali wajahnya sambil memohon-mohon agar ia bangun.
Perawat pun kembali mengingatkanku. Mendapat perlawanan, ia pun memanggil temannya. Aku ditarik keluar, dan memintaku supaya meninggalkan ruangan. Perdebatan pun terjadi, kemarahanku pun tak lagi mereka hiraukan.
“Kalau mas sayang Rere, tolong tunggu di luar.” bentak seorang perawat lainnya, ia pun seperti tidak sabar atas sikapku.
Aku geram, tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak ingin membuat kegaduhan yang malah bisa membuat Tante Nur dan Kak Kekey ikut marah. Aku meninggalkan pintu kaca. Kukembalikan baju putih yang kukenakan pada tempatnya.
Nafasku tersengal, air mataku sudah berhenti mengalir, meski tetap berlinang. Tanganku mengepal. Sebuah tekad kubulatkan. Persetan dengan semua rintangan bodoh ini. Aku ingin selalu berada di dekat Rere, dan satu-satunya cara adalah dengan mengaku siapa aku yang sebenarnya. Tante Nur dan Kak Kekey harus tahu; pun pula keluargaku.
Ceklek. Kubuka pintu, aku sudah benar-benar nekad untuk membuka identitasku.
Sreeeet… byaaaar…. Tiba-tiba ada energi kuat yang menarikku. Tubuhku terasa melayang memasuki gelimang cahaya yang menyilaukan. Aku seperti tersedot ke dimensi lain, yang melampaui ruang dan waktu manusia. Aku pun berteriak sambil memanggil-manggil nama kekasihku, tetapi tidak berdaya melawan energi yang menyeret tubuhku.
BERSAMBUNG…. [Akhir dari rintangan pertama]
Report content on this page
0 Komentar