Bab 42
Bandung hujan. Jalanan macet, beberapa titik jalan menggenang. Aku mengikuti sebuah BMW putih yang sedang berusaha meloloskan diri dari panjangnya antrian.
“Bangke!!” entah berapa kali aku memaki seperti ini. Emosiku meluap dan darahku mendidih.
Lima belas menit yang lalu aku keluar dari hotel, setelah sex after lunch bersama Tante Wulan. Sial.. aku malah melihat Dante dan adikku keluar dari hotel yang sama. Pemuda itu sepertinya masih mau bermain-main denganku. Ia tidak memutuskan Nzi seperti janjinya. Dan.. mereka ada di hotel itu?!!!
Damn!! Tanganku menggenggam gas motor dengan erat, lebih berupa kepalan. Tapi yang ada malah di luar dugaan, motorku melonjak dan braaaaak!!!
Aku menabrak sebuah alphard, disambung rantaian klakson dari belakang. Sejenak aku bimbang antara berhenti dan menyusul Nzi.
“Hei..!! Kenapa, Mas? Mabok ya?”
Sopir empunya kendaraan yang kutabrak sudah keluar dari mobil sambil membuka payungnya.
“Maaf, Pak. Jalannya licin dan rem saya kurang pakem.” jawabku. Ujarku lagi, “Kita minggir dulu, Pak, saya akan bertanggung jawab.”
“Eh kamu?!” aku pun mendongak mendengar ucapannya. Kutatap dan seratus persen aku tidak mengenalnya. Tapi kok sepertinya ia kenal aku?
“Yaudah tidak apa-apa. Lain kali hati-hati.”
“Pak? Maksudnya?”
Tapi si bapak tak lagi menggubrisku. Ia kembali ke dalam mobil. Aku terbengong sambil melirik bayangan seorang wanita yang duduk di jok belakang.
Si bapak menurunkan kaca dan menengok kembali ke arahku, “Emosi bukan solusi, Jang.”
Aku mengerutkan dahi. Mobil yang kutabrak pun bergerak, dan klakson di belakang membuatku sadar. Kulajukan kembali motorku. Kusalip dan kulirik ke samping. Ah kacanya terlalu gelap.
“Terima kasih.” aku bicara sendiri, meski sang sopir tidak akan mendengarnya.
Fokusku kembali ke jalanan, menyelinap di antara barisan kendaraan roda empat. Beruntung kondisi jalan sangat macet, sehingga tiga ratus meter kemudian aku bisa menyusul BMW putih itu. Sepuluh menit kemudian Dante dan Nzi keluar dari kemacetan, memasuki jalan kompleks perumahan, itu adalah kompleks rumahku.
Aku membuntuti. Tubuhku sudah basah kuyup karena jas hujanku terbuat dari bahan murahan yang kubeli dadakan di pinggir jalan.
Aku berniat untuk menyalip dan menghentikannya. Namun sebelum niatku kulaksanakan, BMW itu sudah berhenti sendiri.
Aku ikut berhenti sekitar lima puluh meter di belakang. Pikiranku langsung kacau, jangan-jangan mereka berbuat mesum lagi.
Lima menit kemudian.. adikku keluar dari dalam mobil, tubuhnya langsung basah kuyup diguyur hujan.
Dante ikut keluar. Keduanya terlihat berdebat.
Uuuh… kulihat adikku menggampar Dante. Adikku langsung menunjuk-nunjuk wajah pemuda itu dengan murka. Tak lama berselang, Nzi berlari menuju sebuah taman yang lebih menyerupai hutan buatan.
Dan si pengecut itu bukannya menyusul adikku dan mengantar pulang, melainkan malah kembali masuk ke dalam mobil. Lantas berputar arah.
Emosiku kembali tersulut. Langsung kubanting stir untuk menutup jalan. Suara rem terdengar dan mobil pun berhenti. Moncongnya hanya berjarak kurang dari satu meter dari posisiku berdiri.
“Woiii.. mau mati lu, ya?” Dante berteriak sambil menurunkan kaca.
Aku bergerak.
Buuuuk!!! Kuhantam dagunya. Bentakannya kujawab dengan pukulan keras. Dante pun mengerang.
“Kamu apakan, Nzi?” teriakku.
“Siapa kamu?”
Tanganku kembali terayun.
Braaaak!!! Kali ini aku yang meringis. Dante sigap menutup kaca dan pukulanku salah sasaran. Aku tidak tahu apakah kacanya retak atau tidak, tetapi tanganku terasa sangat sakit.
Mobil pun bergerak. Sepertinya Dante berusaha kabur. Aku mencoba menghalangi dengan menarik pintu. Sial.. Dante terlihat nekad dan aku harus menghintar daripada tergilas.
“Anjing!!” teriakku sambil menunjuk-nunjuk ke arah mobil yang mulai menjauh.
Segera aku berlari kembali ke motorku. Sedianya aku hendak menyusul Dante, tapi aku teringat adikku. Ia sedang hujan-hujanan di dalam taman.
Kupinggirkan motor, dan berlari untuk mencari keberadaannya. Sudah lima menit aku berkeliling taman sambil mengusapi tanganku yang masih terasa nyeri, tetapi adikku belum juga kutemukan.
“Nzi, kamu di mana?” keluhku sambil bersandar pada sebuah pohon.
Ingatanku melayang. Langkahku kembali terayun, lariku kembali kencang. Benar saja.. adikku sedang duduk pada sebuah kursi, di pinggir danau buatan. Inilah tempat bermain masa kecil kami, kakak selalu mengajak kami berdua bersepeda ke tempat ini.
Ia nampak kacau. Menangis tersedu sambil menutupi wajahnya. Tubuhnya benar-benar basah kuyup.
Dengan sigap kulepas poncoku, dan kujadikan naungan bagi Nzi agar bisa menahan derasnya air hujan. Adikku mendongak. Ia langsung berdiri untuk menghindar.
“Siapa kamu?” takutnya sambil mengusapi air mata.
Aku sadar kenapa ia tidak mengenaliku. Segera kulepaskan helm full face-ku.
“Kamu?!” takutnya berubah terkejut.
“Neng Nzi kenapa hujan-hujanan di sini? Ayo saya antar pulang.” ujarku.
“Kamu sendiri ngapain di sini, Ba? Aku sedang ingin sendiri, tolong tinggalkan aku.” ia tidak menghiraukan pertanyaanku.
Adikku kembali duduk. Air matanya kembali mengalir, bercampur air hujan.
“Pergi kubilang!” ia marah ketika aku tak bergeming, dan kembali menaungi tubuhnya dengan ponco.
“Saya tidak mau pergi kalau Neng Nzi masih di sini.” jawabku tegas.
Adikku terlihat geram, telunjuk lentiknya hendak menunjuk mukaku. Namun urung. Ia kembali duduk dan kembali menangis. Kini kehadiranku tidak dihiraukannya. Aku seolah-seolah tidak ada saat ini.
Ia juga bagai patung ketika kupakaikan jas hujan. Ia tidak menerima, tetapi juga tidak menolak. Kami duduk bersisian. Nzi tetap dengan tangisnya, aku dalam bingungku.
Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya yang sedang ringkih. Mendekapnya memberi kehangatan dan mengajaknya pulang. Tetapi aku masih menjadi seorang Iba, dan Nzi tidak akan mempercayaiku begitu saja bahwa aku adalah kakaknya.
“Neng Nzi baru putus dengan Mas Dante?” akhirnya aku tidak betah berdiam diri.
“Bukan urusanmu.”
“…”
Tik tok tik tok.
Otakku terus berputar agar Nzi mau berbicara denganku.
“Maafkan saya kalau lancang, Neng…” aku memberanikan diri. “Kalau menurut saya, Mas Dante bukan pemuda yang cocok untuk Neng Nzi. Seharusnya eneng malah bersyukur karena terlepas dari dia. Dia bukan pemuda yang baik, Neng.”
Nzi menegakan duduknya. Nafasnya tersengal. Diusapi air matanya dengan kasar, namun kembali basah karena guyuran hujan.
Ia membalikan badan dan menatapku tajam.
“Hebat! Mas Iba sudah hebat ya sekarang!” marahnya. “Sudah berani berkata begitu tentang Dante. Kamu harusnya ngaca, apakah kamu juga pemuda yang baik ketika menggoda pacar majikanmu sendiri? Hah?!”
Wadidau. Nzi rupanya masih dendam akan hal ini. Aku malah langsung teringat Rere. Jangan-jangan sampai sekarang hubungan mereka berdua masih tidak harmonis.
“Kenapa diam? Ayo jawab!!”
“Anu Neng…”
“Kamu dan Kak Rere telah benar-benar membuatku kecewa. Aku benci kalian berdua hiiiiiksss… benciiiiiii… kamu telah membuat Kak Rere mengkhianati cinta dan kepercayaan kakakku!!” Nzi menjadi histeris.
Pukulannya menghujami dadaku. Aku tak melawan. Kubiarkan ia menumpahkan seluruh kemarahan dan beban hatinya.
“Asal kamu tahu, Ba, Kak Rei sangat menyayangi Kak Rere. Kamu pernah baca novel kakakku, kan? Itu semua berbicara tentang rasa cintanya pada Kak Rere. Itu bukan fiksi!! Tapi nyata berdasar apa yang kakak rasa!”
“Kamu benar, dek.” batinku. Tapi yang kuucapkan berbeda, “Iya, saya tahu, Neng. Tapi Neng Nzi jangan salah paham dulu. Tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan.” jawabku. Kali ini sambil menangkap pergelangan tangannya. Nzi pun meronta.
“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Sekarang aku minta satu hal.. tinggalkan keluargaku dan jangan pernah temui Kak Rere lagi!”
Nzi nampak begitu murka. Aku menghela nafas menghadapi keras kepalanya. Lagi pula kenapa harus aku dan Rere yang menjadi objek pembicaraan, padahal ia sendiri sedang patah hati.
“Maaf, Neng. Neng Nzi sangat tidak adil dengan membeciku dan Neng Rere. Harusnya eneng yang malu karena perbuatan eneng dan Mas Dante.” aku pun tidak mampu mengontrol emosiku.
“Apa kamu bilang?!” mata Nzi kembali menyala.
“Neng Nzi memang tidak selingkuh, tapi eneng telah mengecewakan orang tua Neng Nzi sendiri.. mengecewakan Neng Kekey… dan mengecewakan Mas Rei…” kali ini aku yang berapi-api. Nzi nampak terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka.
“Tadi bukan yang pertama kan kalau eneng pergi ke hotel berdua dengan Dante? Aku tahu perbuatan Neng Nzi.” marahku lagi.
Plaaaak!!!
Nzi menjawab dengan tamparan keras. Kami berdua sama-sama kaget. Aku kaget karena adikku bersikap seperti itu, sedangkan Nzi kaget karena kuyakin inilah tamparan keduanya seumur hidup dia. Yang pertama adalah ketika tadi menggampar Dante.
“Kamu tidak tahu apa-apa, Ba. Dan kamu tidak usah mengalihkan pembicaraan!!” ia menutupi rasa bersalahnya dengan kemarahan.
“Aku melihatnya, Neng.” ujarku sambil mengusapi pipi.
Aku dan Nzi kembali terdiam. Duduk bersisian dengan pandangan sama-sama ke arah danau. Nzi kembali menangis.
“Maaf..” setelah sekian lama membisu, Nzi kembali membuka percakapan. “Seumur hidup aku, baru kali ini aku menampar orang. Dan kenapa juga harus menggampar dua lelaki brengsek di waktu yang berdekatan.”
Aku mengangguk. Tatapanku masih tetap ke depan, melihat setiap riak air danau yang tertimpa butiran hujan. Nzi tiba-tiba nyerocos menumpahkan semua kemarahan dan kekecewaannya. Dante.. aku.. Rere… berpuluh kali disebut sebagai orang-orang yang telah menjadikannya terpuruk seperti sekarang ini. Tangisnya semakin keras ketika tanpa sungkan mengungkapkan rasa rindunya pada sang kakak.
Apa dayaku. Aku hanya bisa mematung diam; mendengarkan. Tanpa ia tahu, aku pun menitikan air mata. Adik kesayanganku sedang menumpahkan semua gundah dan marah, segala kecewa bercampur rindu, tanpa ia tahu bahwa sang kakak ada di sampingnya.
“Aaaaarrrghhhhh….” Nzi berteriak kencang, suaranya melengking lantas hilang kalah oleh gemuruh hujan.
“…”
Kami sama-sama kembali terdiam. Gundah dengan kecamuk perasaan masing-masing.
“Kamu salah paham, Ba…” Setelah merasa lebih tenang, Nzi akhirnya membuka kembali pembicaraan.
“Aku dan Dante ke hotel bukan karena berbuat mesum, tapi aku memintanya menemaniku untuk bertemu client.” suara Nzi kali ini sudah tanpa emosi. Malah terkesan datar dan dingin. “Ada seorang client yang ingin memasang endorse di kontenku dan memintaku bertemu di sana.”
“Maaf.” kali ini aku yang merasa bersalah karena telah menuduh adikku sendiri.
“Yaah aku meminta Dante menemaniku sebenarnya sebagai alasan saja. Sudah seminggu ini ia selalu menghindar, dan hari ini ia akhirnya mau bertemu tapi… hiiiiks…”
“Ia memutuskan hubungan kami. Tanpa sebab… tanpa alasan…. hiks…”
Damn!! Rupanya Dante telah memenuhi janjinya, tapi tadi aku malah menghajarnya. Otakku berputar dan mengingat ke belakang. Dante sempat babak belur setelah kuhajar di villa kala itu, dan ia sepertinya baru mau menemui Nzi setelah luka lebamnya hilang.
“Saya tahu alasannya, Neng, dan Neng Nzi tidak seharusnya meratapi keputusan Dante.” ujarku.
“Hah? Apa maksudmu? Kamu dan Dante berteman dekat?”
“Bukan begitu, Neng. Aku punya bukti dari seseorang yang tidak bisa kusebutkan.”
Kukeluarkan hapeku. Sial.. karena hapeku masih hape murah, kini kondisinya mati karena basah.
“Kamu pembohong, Ba.” desah Nzi.
“Aku tidak bohong. Tapi lihat.. hapeku basah dan tidak bisa dinyalakan.” sambil menunjukan di hadapannya.
“Memangnya kamu punya bukti apa?”
“Video-video Dante dengan para wanita selingkuhannya, termasuk.. termasuk…”
Nzi menatapku, “…?”
“Termasuk video bugil Neng Nzi dan Mas Dante.” setelah mengucapkan itu, nafasku rasanya langsung terhenti. Aku telah menyampaikan video ketujuh yang dimiliki Dante. Video keenam adalah perbuatan mesumnya dengan Salsa, sedangkan video terakhir adalah gambar ia dan adikku yang sedang mandi bersama.
“Ba.. Iba.. kamu tidak sedang berbohong, kan?” Nzi menggucang kedua pundakku. Ekspresi marah, sedih, malu, dan takut tergambar menjadi satu.
Aku mengangguk. Nzi pun nampak lemas, duduknya menggelosor dan tatapannya berubah kosong.
“Itulah sebabnya tadi saya bilang kalau Neng Nzi itu seharusnya bersyukur telah putus dengan Dante.” gumamku. Nzi tak menjawab, ia terlihat masih shock.
Setelah menimbang cukup lama, kucoba melindungi hapeku dari guyuran hujan, lalu kukeluarkan SD Cardnya. Aku tidak perlu khawatir karena aku masih punya backupnya di dalam cloud, sehingga aku bisa membukanya kapan pun ketika dibutuhkan. Dante adalah seorang pemuda yang licik. Ia akan selalu punya cara untuk menyingkirkanku dan kembali masuk ke dalam kehidupan Nzi dan keluargaku.
“Ini buat Neng Nzi. Eneng boleh membukanya. Setelah itu terserah Neng Nzi apakah mau disimpan atau dibuang.” Nzi menerima dengan tangan bergetar, dan langsung memasukan ke dalam tas tangannya.
“Kamu sudah cerita ke siapa saja?” tanyanya lemah.
“Saya tidak cerita ke siapapun, Neng.”
“Keluargaku?”
Aku menggeleng. Nzi pun menghela nafas. Nampak sedikit lega meski resah itu masih ada.
“Sekarang saya antar Neng Nzi pulang. Neng Nzi bisa sakit kalau hujan-hujanan seperti ini.” ujarku sambil menatapnya.
Nzi menatapku sebentar. Ada seulas senyum di sana. Namun bukannya berdiri, ia malah menaikan kedua kakinya lantas duduk memeluk lutut.
“Neng?”
“Aku masih ingin di sini. Aku kangen kakak.” lirihnya.
Aku menghela nafas. Aku tahu siapa orang yang dimaksud. Situasinya akan sangat berbeda senadainya ia tahu siapa aku.
“Hal-hal seperti ini aku hanya bisa cerita ke Kak Rei.” Nzi seperti berbicara sendiri. Lanjutnya, “Ia pasti akan sangat kecewa, tapi ia juga pasti akan memaafkanku.”
“…” (“Kamu benar, dek.”)
“Kakak akan marah bukan karena perbuatanku itu sendiri, tapi karena aku telah mengabaikan kepercayaan ayah dan mamah.” suaranya terdengar hambar tanpa sukma.
“…”
“Mungkin karena itulah aku sangat marah padamu dan Kak Rere. Aku memang kecewa, tapi sepertinya aku tidak sungguh-sungguh marah pada kalian berdua, tapi marah dan kecewa pada diri sendiri.”
“…”
“Yang kalian lakukan adalah salah, tapi apa yang kuperbuat lebih parah.”
“…” (“Kakak lebih parah darimu, dek.)
“Tapi aku tidak selingkuh seperti apa yang dilakukan Kak Rere padamu.” ia melirik ke arahku.
“Neng Rere tidak selingkuh, Neng.” aku memelas.
Nampaknya Nzi sudah lelah, ia tidak membantah sanggahanku.
“Iba…” kali ini sambil menghadap ke arahku.
“Iya, Neng?”
“Aku belum tahu video apa yang kamu lihat tentangku dan Dante, tapi aku juga masih punya harga diri. Aku masih bisa mempertahankan ke.. ke…”
“.. keperawanan Neng Nzi?” potongku karena Nzi malah tergagap.
Kulihat wajah Nzi yang pucat kedinginan sedikit merona. Tanpa ia tahu aku menghela nafas lega mendengarnya. Dan aku bangga. Aku membayangkan, malah ia yang tidak akan bangga padaku seandainya adikku tahu apa yang telah kulakukan selama ini.
“Saya percaya, Neng. Dan apapun itu, sebenarnya Neng Nzi tidak perlu memberitahuku.” ujarku.
“Kita pulang, Neng.” aku kembali mengajaknya meninggalkan tempat ini.
“Kamu jelaskan dulu tentang hubunganmu dengan Kak Rere.” ia masih tidak mau beranjak.
“Saya dan Neng Rere tidak ada hubungan apa-apa, Neng.”
“Pokoknya aku baru mau pulang kalau kamu sudah menjelaskan. Lagian mana mungkin kalian bercumbu seperti itu kalau tidak ada hubungan apa-apa.”
“Apa Neng Nzi tidak pernah menanyakannya secara langsung pada Neng Rere?”
“Kak Rere pernah menjelaskannya di depan Kak Kekey dan juga Rana, tapi sekarang aku ingin mendengarnya sendiri dari pihakmu.”
Aku kembali menghela nafas. Kali ini aku yang merasa terpojok.
“Saya bingung, Neng.” keluhku.
“Kenapa bingung?”
“Saya.. saya sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu.. Tapi satu yang pasti, Neng Rere selalu mengira bahwa aku adalah kakak Neng Nzi. Dan ia seperti ingin membuktikannya dengan menciumku.”
“Hmmm.. jawaban yang sama dengan Kak Rere. Tapi kenapa kamu membalasnya?”
“Euuu.. anu Neng…”
“Kamu suka ama Kak Rere?”
“Ngg.. nggak Neng. Bukan begitu…”
Aku benar-benar gugup.
“Lalu?”
“Saya memang salah, Neng. Maaf. Saya sama sekali tidak punya niat buruk. Tetapi lelaki mana yang tidak membalas ketika dicium oleh gadis.. gadis secantik Neng Rere.” aku akhirnya menemukan sebuah alasan.
Adikku menghela nafas. Sepertinya ia bisa menerima alasanku.
“Saya ini orang kampung, Neng. Pacaran tahunya ya jalan berdua.. paling-paling hanya gandengan tangan, kalau pun saling mencium, itu juga hanya sebatas pipi.” ujarku.
Aku terpaksa berbohong. Padahal bibirku sudah terbiasa bersentuhan dengan bibir rahasia yang tersembunyi di tengah selangkangan perempuan.
“Menurutmu aku dan Kak Kekey cantik, gak?” pertanyaan Nzi terdengar nyeleneh. Tapi ketika kubalas tatapannya, ia terlihat serius.
“Iiiya.. cantik, Neng.”
“Jadi seandainya aku atau kakak menciummu, kamu akan membalas?”
“Maaf Neng, Neng Nzi kok nanyanya begitu?”
“Jawab saja.”
“Iya, Neng. Mungkin akan saya balas. Tapi kan gak mungkin kalian berdua melakukannya.”
Nzi terlihat tersenyum. Sedihnya karena putus dengan Dante dan juga kecewanya padaku nampak mulai pudar.
“Kamu jahat, Ba!” ujarnya ketus. Meski gitu ia tidak bisa menyembunyikan sedikit senyumnya.
“Maaf.” aku memelas.
“Kamu jahat karena kamu sudah mencium Kak Rere. Dan yang kedua.. kamu.. kamu telah melihat tubuh polosku.”
Aku melongo. Nzi benar. Tapi ucapannya tetap saja membuatku bengong. Aku tidak menyangka adikku akan berkata seperti itu.
“Ayo antar aku pulang!!”
Tanpa menunggu jawaban, Nzi langsung berlari meninggalkan taman. Sigap aku menyusulnya dan membuntuti dari belakang.
Kalau tadi suasana hujan tidak terlalu menganggu karena masing-masing lebih dikuasai oleh pikiran dan berbagai emosi perasaan, kali ini berbeda. Nzi nampak pucat dan tubuhnya mulai menggigil.
Segera aku memacu motorku dan mengantarnya pulang.
“Kamu masuk dulu, Ba.” ujar Nzi.
“Saya langsung pulang saja, Neng. Tubuh saya basah dan di sini kan sudah tidak punya pakaian ganti.” aku menolak halus.
“Masuk aja, Ba. Nanti kupinjami baju Kak Rei. Sekalian kita ketemu ayah dan mamah. Aku akan meminta mereka supaya kamu boleh bekerja lagi di sini.”
“Terima kasih atas kebaikan Neng Nzi. Tapi saya belum punya rencana untuk bekerja lagi. Saya ingin tenang dulu selama beberapa minggu ini.”
“Hah? Kamu yakin, Ba?”
“Iya. Saya yakin Neng.”
“Baiklah kalau begitu. Maafkan aku ya karena telah membuatmu kecewa karena kakak memecatmu atas permintaanku.”
“Neng Nzi dan keluarga eneng tidak salah apapun. Saya permisi, Neng.”
Kupakai jas hujan yang Nzi kembalikan dan bersiap meninggalkan rumah ini, yang adalah rumahku sendiri.
“Iba.”
“Iya, Neng?”
“Kamu sudah punya pacar?”
Aku menggeleng.
Nzi mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum. Sebuah senyum yang indah sekaligus terasa misterius bagiku. Aku pun mengangguk sungkan, lalu melajukan motorku tanpa menengok lagi.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar