Bab 41
Aku terbangun ketika mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Kuraih handphone untuk melihat petunjuk waktu. Baru jam empat pagi. Aku menggeliat beberapa kali. Tubuhku terasa lemas, namun hati dan pikirku terasa ringan. Aku pun melangkah ke kamar mandi.
Sisa kantukku langsung hilang. Tante Wulan sedang gosok gigi dengan keadaan tubuh yang masih telanjang. Kulit tubuhnya yang putih nampak mengkilat karena terpaan lampu, kedua payudaranya bergoyang seiring gerakan tangannya. Gundukan hitam di atas selangkangan langsung membuat dadaku berdebar.
Tante Wulan seperti tak acuh. Tapi kulihat ada senyum, ia bangga karena kukagumi.
“Pagi, Tanteku sayang.” kucium pundaknya. Bersamaan dengan itu tanganku meremas payudaranya.
“Hmm..” gumamnya sambil mendelik.
Aku menuju kloset untuk kencing. Setelahnya kembali kepada Tante Wulan yang sedang kumur-kumur. Kupeluk dari belakang.
“Ibaaa…” manjanya. “Sikat gigi dulu. Bauuu.”
Aku pun terkekeh. Aku langsung sikat gigi. Di sampingku Tante Wulan mengamati wajahnya. Tubuh atas kami yang sama-sama telanjang terpantul di permukaan cermin.
Setelah mulutku segar, langsung kupeluk tubuh polosnya. Tante Wulan memekik kecil. Ciuman hangat di pagi hari pun langsung saling kami pagutkan. Jadilah kami kembali bercumbu… Lantas mandi bersama sambil saling meremas dan meraba. Dua ronde percintaan kami lakukan lagi.
Kami baru benar-benar mengakhiri kebersamaan tepat jam setengah tujuh pagi. Tante Wulan sudah berpakaian dan berdandan rapi, ia harus segera meninggalkan hotel pagi ini karena ada meeting dengan kolega bisnisnya, dilanjutkan menjemput si bungsu ke sekolah siang nanti.
“Tante pergi dulu, ya sayang. Nanti Tante hubungi lagi.” ia mendekatiku yang masih malas-malasan di atas kasur.
“Iya, Tante.”
Setelah memberikan ciuman perpisahan, Tante Wulan keluar dari kamar hotel, meninggalkanku seorang diri. Hatiku seketika menjadi hampa.
Yeah.. kami memang tidak datang bersama ke hotel ini. Pulang pun tidak. Tante Wulan tetap menjaga agar tidak ketahuan orang-orang yang dikenal, apalagi oleh media.
Aku pun bangkit. Kusulut rokokku sambil menuju balkon. Kulihat suasana pagi kotaku. Setiap lekuk jalan di bawah sana nampak mulai ramai oleh kendaraan.
Kuhisap rokokku dalam-dalam dan berulang. Kehadiran Tante Wulan membuatku melupa dari segala persoalan. Namun setelah wanita itu pergi, aku jadi teringat kembali pada keluargaku. Tak terasa sudah seminggu aku tidak lagi bekerja, dan tidak pernah mendengar kabar tentang mereka.
Sebuah ironi telah kulakukan. Aku menaruh hati pada Tante Wulan dan bertekad membantunya untuk keluar dari persoalan, tetapi di saat yang sama aku telah menjadikannya pelampiasan untuk melupakan masalahku sendiri.
Yeaaah.. semua cerita Tante Wulan semalam telah membuatku semakin yakin untuk mendamaikannya dengan Enzo. Bukan lagi untuk membantu sahabatku membalaskan dendam dan mengambil apa yang menjadi haknya. Selama ini sahabatku telah salah paham.
Tak mau berlama merasa hampa karena kesepian. Kuhabiskan rokokku. Sudah saatnya aku pun pergi dari hotel ini. Sebuah hotel mewah yang harga sewanya setara dengan gajiku menjadi sopir selama setahun.
Kuputuskan untuk tidak sarapan, namun langsung pulang ke kostan. Jam delapan aku tiba, dan kulanjutkan tidurku. Yeah.. belakangan ini tidur dan bercinta menjadi caraku melupakan masalah, meskipun itu tidak serta-merta bisa menyelesaikannya. Melupa menjadi obat, meski ketika terjaga akan menjadi ingat kembali.
Aku terjaga ketika pintu kamarku ada yang mengetuk.
“Iya?” jawabku sambil melirik jam dinding. Buset.. sudah jam empat sore. Aku telah tidur bagai kebo. Jangankan makan, terjaga pun tidak.
Pintu pun terbuka. Sosok Salsa muncul, masih lengkap dengan pakaian kerjanya. Rupanya ia baru pulang kantor.
“Tidur mulu!!” omelnya.
“Hmmm…” kututup mukaku dengan bantal.
“Bangun, Ba. Pulang jam berapa? Semalam kemana?” Salsa malah mencecarku sambil merebut dan menyingkirkan bantal.
“Bawel!” aku kesal.
“Apa kamu bilang?” Salsa balik sewot, lenganku sukses menjadi korban cubitan-cubitannya.
“Saaaa..!!” aku protes.
“Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Ayo bangun!” suaranya masih ketus.
“Iya.. iya…”
Aku pun bangun sambil mengusapi bekas cubitannya.
“Wow.” tanpa sadar aku menggumam.
Mataku langsung terbelalak menatap paha Salsa. Usahanya membangunkanku sambil mencubitiku membuat rok selututnya terangkat. Setengah pahanya terpajang.
“Mesuum!” bukannya merapikan roknya, Salsa malah menoyor jidatku.
Aku pun pura-pura terjengkang dan kembali tiduran.
“Ibaaaa.” Salsa dibuat gemas oleh sikapku.
Ia pun kembali mencecariku dengan cubitan. Kali ini kutangkap tangannya. Gadis itu tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia ambruk di atas dadaku.
“Eh…” Salsa kaget.
Ia langsung mengangkat mukanya untuk bangun. Namun bagai ada magnet, ia berhenti. Sorot mata kami beradu. Keningnya mengkerut. Kubalas tatapannya.
“Cantik.” ujarku dalam hati.
Terus kutatap. Salsa nampak salah tingkah. Kerutan keningnya perlahan hilang, sorot matanya berubah sayu.
Kusentuh bahunya. Salsa merunduk ragu, tatapan kami tetap beradu.
Nafasku terasa semakin pendek ketika wajah kami semakin dekat.
“Iba…”
“Saa..”
Kami saling memanggil lemah, lebih beruba bisikan.
Jangan tanya aku atau Salsa yang memulai, kami melakukannya bersama. Bibir kami tiba-tiba beradu, saling kulum sebentar, dan saling melumat setelahnya.
Salsa seperti ingin menumpahkan beban perasaannya yang selama ini tidak tersalurkan. Aku tahu ia punya rasa padaku, namun selalu terhalang oleh Rere yang sering datang secara tiba-tiba. Aku sendiri kembali terbuai untuk melepaskan diri dari rasa sepi.
Ciuman kami semakin panas, dan Salsa sudah sepenuhnya menindihku.
“Sssh.. Iba… mmmh….” Salsa mulai melenguh terdorong oleh gairah.
Aku tak membalas. Langsung kuhisap lidahnya. Kurasakan tubuhnya bergetar, tangannya menangkup kedua pipiku kaku.
“Mmmmh…”
Kami sama-sama kehabisan nafas, ciuman pun terlepas. Aku dan Salsa saling menatap, dengan mulut sama-sama terbuka-basah.
Kuraih rambut lurus Salsa yang menjuntai, kusilangkan pada tengkuknya, kuselipkan lembaran halus pada belakang telinganya. Rona cantiknya semakin terpampang.
Salsa menggeleng beberapa kali. Ia seperti masih ingin meyakinkan diri atas apa yang telah kami lakukan. Tiada kata. Kami malah saling melumat kembali. Kali ini lebih lembut dan penuh perasaan. Bayangan Rere pun melintas. Ciumanku semakin hangat dan mesra, seolah aku sedang mencumbu Rereku.
“Kamu!” usai bercumbu, Salsa bangkit dan duduk di atas kasur. Pancaran bahagia dan malu terpancar.
Aku ikut bangkit. Kupeluk tubuh Salsa. Ia tidak menolak. Tubuhnya rebah pada dadaku. Tanpa Salsa tahu, aku menelan liur ketika melihat kedua pahanya yang putih mulus. Roknya sudah semakin tersingkap.
“Aku belum makan, kita cari makan di luar yuk.” ujarku. Salsa mendongak untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Kamu ngajak aku kencan atau…?”
Aku mengangguk.
“Ibaaaa…” Salsa nampak begitu senang. Ia kembali memelukku erat.
Puas berpelukan, Salsa pun pergi untuk pulang terlebih dahulu, sedangkan aku melangkah menuju kamar mandi. Setengah jam kemudian, aku dan Salsa sudah bertemu di ujung gang. Rumah Salsa dan kostan memang terpisah, walau hanya berjarak sekitar tiga ratus meter.
Salsa keluar dari mobil, gantian aku yang duduk di belakang stir.
“Mau makan di mana?” tanyaku.
Salsa menatapku dengan rona bahagia.
“Terserah kamu, kan kamu yang ngajak.” jawabnya.
Kugenggam telapak tangan Salsa, ia balas meremas. Mobil pun melaju menuju sebuah tempat makan di kawasan yang terletak di antara Bandung dan Lembang. Mobil Salsa adalah mobil matic sehingga aku bisa leluasa menyentuhnya.
Salsa pun sudah tak sungkan meletakan kepalanya pada bahu kiriku. Kukecup rambutnya. Obrolan pun tidak kaku lagi. Kami begitu riang, layaknya sepasang kekasih yang baru jadian.
“Yakin kita makan di sini? Memangnya kamu punya uang?” goda Salsa ketika aku memasuki sebuah tempat makan bernuansa alam.
“Kan aku masih punya pesangon.” jawabku sekenanya. Salsa tidak tahu saja, bahwa perkenalanku dengan Tante Wulan membuatku tidak kesulitan lagi dalam masalah keuangan.
“Belagu! Mendingan dipakai untuk usaha atau apa gitu.” ledek gadis yang tak hentinya menggenggam tanganku.
“Sekali-kali gak apa-apalah, lagian kan makannya juga dengan kamu.” ujarku.
Salsa terkekeh senang, sebuah kecupan ia hadiahkan pada pipiku. Kami pun keluar mobil, dan memasuki kompleks saung yang bersebaran di lereng bukit sampai ke tepi sungai di ujung sana. Ya.. saung-saung ini bukan tempat nongkrong, melainkan tempat makan bagi para pengunjung.
Seorang pelayan menyambut kami, dan membawa ke sebuah saung yang masih kosong. Aku cukup beruntung, karena letaknya agak di atas, dan bisa melihat pemandangan sungai yang airnya nampak begitu jernih.
“Silakan Mas, Mbak.. nanti kalau sudah siap, tinggal pukul kentongan untuk memanggil pelayan.”
“Terima kasih, Mbak.” jawab aku dan Salsa bersamaan.
“Kamu mau makan apa?” tanyaku.
Tak berselang lama aku dan Salsa sibuk memilih menu, setelah sepakat, aku pun memukul kentongan. Tak lama kemudian pelayan datang untuk mencatat orderan.
Sekepergian pelayan, Salsa menatapku sambil memainkan ujung rambut. Kuulurkan tanganku. Salsa melakukan hal yang sama untuk balas menggenggam. Namun bukan itu mauku. Kutarik supaya ia pindah duduk. Salsa akhirnya paham. Ia pun pindah. Kami yang semula duduk berhadapan, kini bersisian sambil bersandar pada dinding saung. Kami sama-sama menikmati pemandangan air sungai, yang mulai terlihat eksotik karena lampu-lampu mulai dinyalakan.
Sambil setengah memeluknya, kumainkan jemari lentik tangan Salsa. Kuusapi bulu-bulu halus pada bukunya. Gadis ini semakin menyandarkan punggungnya pada dadaku. Sejenak hanya sentuhan-sentuhan kecil yang kami lakukan, tanpa kata, tanpa suara.
Sampai sejauh ini tidak ada kata-kata ‘cinta’ yang kami ungkapkan, namun kemesraan ini sudah cukup mewakilinya. Cukup lama kami begini, dan pelayan yang menyuguhkan pesanan pun datang. Pelukan kami terurai, dan Salsa sedikit menjauh.
Hidangan pun tersaji. Kami berdua makan sambil saling lirik, sekali-kali saling tatap cukup lama. Senyum Salsa tak hentinya terpulas, binar matanya menunjukan bahwa ia cukup bahagia.
Berawal dari saling mencicipi, kami malah kemudian saling menyuapi. Tawa bahagia pun berderai.
Makan kami begitu lama karena diselingi canda dan tawa, tak jarang pula saling mengecup bibir, berbagi rasa, dan aroma masakan yang sedang kami santap. Senja pun pudar, berganti gelap yang hanya diterangi lampu-lampu. Suasana semakin romantis.
Jam delapan malam aku mengajak Salsa pulang. Ia pun mengangguk dengan enggan. Aku paham, ia masih ingin menikmati malam bersamaku. Ia sudah lama memendam rasa, dan baru hari ini cintanya bisa terbalas dan tersalurkan.
Setelah membayar dan kembali ke dalam mobil, kuputuskan untuk tidak langsung pulang. Tujuanku kali ini adalah perkebunan teh di kawasan Parongpong. Salsa tidak bertanya, tapi bahasa tubuhnya seolah suka kalau kami masih berlama-lama berdua. Manja pelukannya semakin erat.
Kususuri jalan berbatu. Goyangan mobil membuat sentuhan lenganku pada payudara Salsa semakin kerap. Empuk dan kenyal. Kang pepen pun menggeliat ketika aku membayangkan isi perabotan gadis yang sedang berada dalam pelukanku ini.
Tak lama kemudian aku berhenti pada sebuah tikungan, di bibir sebuah bukit kecil. Salsa menggeliat dan langsung terkagum-kagum.
Kami bisa melihat gemerlap kota Bandung dari tempat ini. Gemerlap lampu menjadi pemandangan yang menakjubkan.
“Aku baru tahu tempat ini, Ba, keren banget.” serunya antusias.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kumatikan lampu mobil, tetapi mesinnya tetap menyala. Mataku terpaku pada gemerlap kompleks villa di bawah sana. Hanya sekitar satu kilometer di bawah kami. Nampak keramaian di sebuah café, dan itu adalah milikku. Aku menengok ke arah barat. Rumah sekaligus villa Oma Alya ada di sana.
“Kok malah bengong?” terpaan nafas Salsa terasa begitu dekat.
“Aku suka tempat ini.” gumamku.
Aku menengok. Rupanya Salsa sedang menatapku lekat. Kubalas. Senyumnya mengembang. Tanpa sepakat kami saling mengecup.
“Aku mau merokok dulu, boleh?” ujarku.
Melihat anggukan Salsa aku pun keluar dari dalam mobil. Cuaca dingin langsung menerpa kulitku. Sebetulnya aku hanya ingin menenangkan diri. Sepertinya aku telah membawa Salsa ke tempat yang salah. Pemandangan di bawah sana malah membuatku teringat pada oma dan juga keluargaku. Apalagi begitu melihat sebuah hutan pinus. Di sanalah aku dan Rere pernah beradu mesra; aku menggendongnya ketika kembali ke rumah oma. Rere selalu mengecup pipiku ketika aku mengeluh capek. Ah…
Kuhisap rokokku dalam-dalam. Kucoba menutup semua ingatan untuk sementara.
“Kamu gak dingin, Ba?” tiba-tiba Salsa menyusul sambil membawakan jaketku. Suara mesin mobil pun sudah tak terdengar lagi.
“Eh.. kok ikutan keluar? Dingin di sini.” ujarku.
Salsa hanya menggeleng sambil tersenyum. Kupakaikan jaket yang ia sodorkan padaku. Salsa menolak, walaupun senyumnya nampak senang. Ia pun mau mengenakannya setelah aku sedikit memaksa.
Gadis itu mendorongku hingga setengah duduk pada cap mobil. Ia menyandarkan tubuhnya untuk menghalangi terpaan dinginnya angin dari arah depan.
“Aku masih merokok, Sa, nanti rambutmu bau rokok.” ujarku.
“Gakpapa, aku suka.” ujarnya.
Kupeluk tubuh Salsa dari belakang. Tangan kiriku masuk ke dalam jaket dan menumpang di atas perutnya, sedangkan tangan kanan kupakai mengapit rokok.
Kuhembuskan asap rokok. Tiba-tiba Salsa setengah membalikan badan. Ia melumat bibirku, aku gelagapan. Namun mendapat serangan gadis dalam pelukanku, langsung kubalas, dan lidah kami saling terjulur menyisiri setiap rongga mulut. Baru terlepas setelah kami puas. Tetapi selalu begitu.. Salsa seringkali mencumbuku setiap kali aku selesai menghisap rokok.
Aku yang awalnya bingung, perlahan mulai paham. Salsa menyukai aroma nikotin dari dalam mulutku. Mungkit itu adalah petist dia. Hal ini berbanding terbalik dengan Rere. Kekasihku selalu membekal permen ketika pergi berdua, dan ia selalu memintaku memakannya sebelum berciuman. Berbeda dengan Salsa, ia sepertinya malah bergairah ketika menghirup bau nikotin dari dalam mulutku.
Kubuang puntung rokok, kulumat bibir Salsa lebih panas. Bukan hanya mulut kami yang bersatu, tanganku pun mulai menelusup ke dalam kaos dan jaketnya. Salsa menggelinjang ketika aku mengusap kulit perutnya, dan merambat semakin naik.
“Mmmh.. shhhh…” ia mulai mengeluarkan suara.
Terdengar merdu sekaligus seksi menggairahkan. Birahiku tiba-tiba naik.
Salsa yang merasa pegal langsung membalikan badan. Kini ia memelukku berhadapan. Bersamaan dengan itu, aku langsung mendorong cup behanya ke atas. Tanganku langsung menggenggam kedua gunungan payudaranya yang berukuran sedang.
“Mmmh…” Salsa menggelinjang. Pelukan kami terhalang oleh tanganku yang terus meremasi payudaranya, kedua putingnya yang seksi kugosokan pada telapak tangan. Tetapi bagian selangkangan malah semakin merapat. Salsa merangsekku.
Seorang Salsa yang selama ini terkesan alim, malam ini menunjukan sisi liarnya. Entah karena desakan gairah atau memang inilah sifat aslinya. Aku tidak tahu. Tetapi sikap agresifnya membuat birahiku kian terbakar.
Ciuman kami semakin panas. Udara dingin yang menerpa pun sudah tak terasa lagi.
“Mmmmh.. Iba… sayang ooooh…” Salsa melepaskan ciuman ketika aku memelintir putingnya yang mengeras. Tubuhnya melenting ke belakang. Kedua tanganku sigap berpindah untuk menahan bahunya. Kini malah Salsa yang melepas jaketnya dan mengangkat t-shirtnya ke atas.
Di dalam keremangan, nampaklah kedua bukit kembarnya. Langsung kusosor, kijilat dan kuhisap. Salsa menjerit tertahan, dan itu membakar gairahku. Bukan aku. Melainkan Salsa yang kemudian melolosi pakaiannya. Behanya pun sudah ia lepas. Penuh gairah langsung kuhisap puting kirinya, yang kanan kuremas keras.
“Shhh.. yess.. iya Ba.. mmmh.. ssshhh…” Salsa mulai meracau nikmat, aku kian bersemangat. Payudara Salsa menjadi kesukaanku, ciuman basah dan remasan kulakukan bersamaan. Erangan-erangan pun mulai tidak terkontrol.
Tiba-tiba Salsa menarik kepalaku, nafasnya terengah. Langsung kucium bibirnya yang terbuka, dan ia membalas dengan lumatan. Aku dan Salsa semakin lupa akan keadaan, gairah kami sama-sama terbakar. Namun di sela kesadaran aku juga tidak takut ada orang. Posisi kami yang tepat berada di ujung tikungan akan membuat kami tahu kalau akan ada kendaraan yang datang. Namun ini adalah jalan perkebunan; akan sangat jarang orang yang lewat di saat malam.
Mulut kami berpagutan, tanganku kembali meremasi payudara gadisku, sedangkan tangan Salsa mulai merambat ke bawah. Batang kang pepen ia genggam dari luar celana. Kini aku yang menggelinjang ketika ia membuat gerakan kocokan.
Huuuupppp. Aku membalikan badan dan kuangkat tubuh Salsa hingga terduduk di atas kap mobil. Tubuhnya melenting nyaris berbaring. Sinar rembulan yang mulai naik pun menyinari tubuh setengah polosnya. Kulit Salsa mengeluarkan semu merah keemasan. Bukit payudaranya mengacung menggairahkan. Tau mau berlama, segera kubuka kaitan celana panjangnya. Kupelorotkan sekaligus dengan celana dalamnya. Jantungku berdebar kencang.
Aku merunduk sampai celananya benar-benar terlepas. Seyogyanya aku ingin kembali melihat vaginanya, namun betis indah Salsa menarik perhatian. Kukecupi kedua betis mulusnya bergantian, terus merambat hingga ke lutut. Duduk Salsa semakin gelisah, sekali-kali nyaris terhempas karena merasa geli sekaligus nikmat.
Salsalah yang merenggangkan kedua pahanya ketika ciumanku semakin naik. Ciumanku berbaur hisapan kali ini, usapanku bercampur remasan. Aroma khas kemaluan perempuan pun mulai tercium. Nafsuku memuncak. Dan…
Kini vagina Salsa benar-benar terpajang di hadapan mataku. Menggelembung imut, dan sedikit terbuka karena duduknya yang mengangkang. Suasana temaram memang tidak bisa membuatku bisa melihat setiap lekuknya, namun gundukannya yang bermahkotakan jembut hitam tetap menggairahkanku.
Aku mendengus di atas permukaan vaginanya. Salsa mendesis. Seperti biasa, tujuanku adalah mahkota hitam itu. Kusisir dengan jemariku ke atas, sedikit kutarik sehingga Salsa terkejat. Pinggulnya terangkat semakin atas.
Setelah rapi, kusuwir ke kiri dan kanan sambil sedikit kugaruk-garuk. Salsa semakin gelisah karena gairah. Berkali-kali ia mengangkat pinggul supaya aku menyentuh kemaluannya. Belum saatnya. Aku masih asik menyuwir. Kutiup-tiup hasil suwiranku, Salsa pun merintih geli.
Kini lidahku yang bekerja diiringi oleh dengusan-dengusan hangat agar birahi Salsa semakin memuncak. Kusapu bulu kemaluannya ke atas hingga tertata rapi. Kujepit ujungnya dengan lidah dan kujepit, kutarik.
“Oh Ibaaa… ayooo… pleaseee…” Salsa mulai memohon agar ciumanku semakin ke bawah.
Aku tidak mengikuti maunya Salsa. Setelah jembutnya rapi, kembali kusibak ke sisi berlawanan. Kurapikan lagi. Begitu seterusnya…
Salsa semakin merintih, seperti mau menangis karena gelegak birahinya sendiri. Ketika gadis itu frustasi, tanpa aba-aba langsung kucucuk klitorisnya dengan ujung lidah.
“Aaaaaahhhh….” Salsa mengerang. Gelinya bercampur nikmat.
“Uaaaah… shhhh… yessss…” erangnya lagi ketika klitorisnya yang tegang dan basah kuemut dan kujepit dengan bibirku.
Salsa menghentak kepalaku, mendorong keras ke bawah. Kubuka gunungan imutnya dengan jemari. Langsung kujilat garis lipatannya. Salsa menggelinjang. Lubang vagina Salsa kini menjadi kesukaanku. Kucucuk, kusapu, kujilat. Sekali-kali kumasukan jemariku pada empotan pintu gerbangnya.
“Ah.. ah… uuuh… gila.. enak banget sayaaang.” Salsa mengabarkan rasa nikmatnya.
Jilatanku semakin kerap, dan Salsa semakin menggelinjang tidak karuan. Mulutnya tak henti merintih.
“Aaaah… nyampeeee.” pekik salsa. Segumpal cairan kental pun keluar. Segera kuhisap dan kutelan. Cairan kedua datang, juga kuseruput. Yang ketika lebih encer, langsung kucecap.
Salsa menggelepar di atas kap mobil. Tubuhnya bergetar hebat; satu kakinya menendang-nendang angin.
“Oh.. Ba.. Iba ampuuun.” ia memekik ketika aku masih melanjutkan menjilat. Dengan segala upaya dan tenaga sisa, Salsa bangun sambil mendorong kepalaku. Kedua pahanya langsung dilipatkan, kedua lututnya terlihat gemetaran.
“Jahaaaat.” rengeknya. Segera kupeluk dan ia memukuliku lemah.
“Katanya enak, tapi kok jahat godaku.”
“Geli tahu.. aku istirahat dulu bentar.” ia cemberut. Ekspresi lelah sekaligus puas terlihat.
Kurapikan rambutnya yang acak-acakan lalu kepeluk. Setelah Salsa lebih tenang, kucium kembali bibirnya. Kuremas pula payudaranya. Tak perlu menunggu waktu lama, Salsa pun merespon, gairahnya sudah bangkit kembali.
Setelah saling melumat, Salsa menggelosor turun dari atas mobil, kubantu memangkunya. Dengan sedikit binal ia mendorongku, dengan cepat dan kasar ia juga melolosi celanaku.
Tuiiing.. Kang pepen pun mendongak. Salsa menyeringai senang. Nafasnya tersengal.
Begitu celanaku terlepas ia mendongak dan mengerling nakal. Penisku langsung ia genggam. Kali ini aku yang meringis nikmat.
Sambil mengocok, lidah Salsa terulur dan menjilat kepala kang pepen. Geli dan nikmat semakin kurasakan. Sepertinya gadis itu mau balas dendam menggodaku. Ia tidak langsung membuka mulut. Melainkan menjilati urat-urat penisku sepanjang batangnya. Lidah halus dan basahnya sangat merangsangku. Lututku mulai bergetar.
Dengan nakal pula ia menggigit-gigit kecil batangku dengan giginya. Dicaploknya juga si kembar yang sedang bersarang, sementara tangannya berganti mengocok.
“Mmmh… Sa…” aku mendesis nikmat.
Salsa semakin bersemangat. Sepertinya ia berusaha membuat kang pepen muntah oleh lidah dan mulutnya. Ia tidak tahu kalau kang pepen sudah cukup berpengalaman. Bunda Rahma dan Tante Wulan sudah memberikan latihan yang sangat keras.
Merasa bahwa tidak ada tanda-tanda aku akan orgasme, Salsa mengurut batang kang pepen lebih keras. Mulutnya terbuka, dan kepala botak kang pepen masuk dengan susah payah. Salsa nampak mengap-mengap, ia hanya bisa bernafas melalui hidung.
Permainan Salsa memang luar biasa. Permainan mulut dan lidahnya, yang berpadu dengan kocokan tangan dan remasan pada kantong semar sangatlah seirama. Ia bukan amatiran.
Berulang kali Salsa berusaha memasukan penisku sampai kepalanya menyentuh gerbang tenggorokan. Namun selalu gagal memasukan semuanya. Ia pun menyerah.
Salsa bangkit. Kusambut dengan ciuman panas. Buah dadanya kembali kuremas.
Aku mulai memosisikan diri. Aku berdiri dengan pinggul bertumpu pada mobil. Salsa menaikan satu kakinya ke atas bamper. Salsa sendiri yang mengarahkan penisku, sedangkan aku meremas kedua pinggulnya sambil menekan.
Ciuman kami terlepas. Salsa mengatur nafas sambil menggigit bibir. Sementara penisku sudah membelah bibir vaginanya.
Susah payah aku melakukan penetrasi. Lubang vagina Salsa terlalu sempit untuk ukuran kang pepen. Malah ngilu kurasa. Salsa sendiri tak hentinya meringis dan menghentikan tekanan pinggulnya.
Setelah terus berusaha, seperempat penisku mulai terbenam. Disambut jepitan sempit dan kedutan dinding-dinding lembut vaginanya. Kocokan lambat dan berirama pun kulakukan. Salsa mulai merintih nikmat. Dan…
Blesssss!!!
Sekali hentakan keras penisku langsung terbenam. Salsa memekik keras membelah sunyinya malam perkebunan teh. Aku sendiri menahan nafas untuk merasakan nikmat yang tiada tara. Penisku terasa diurut-urut, kedutan dinding rahimnya juga membuat melayang.
“Sayang.. uuh.. sakiiit.” keluh Salsa.
Kulumat bibirnya, dan kami saling mencumbu basah. Setelah Salsa mulai terbiasa, dan vaginanya sudah bisa menyesuaikan diri. Aku mulai memompa kang pepen.
“Ssh… ah.. ah.. aah..” Salsa tak hentinya mengerang seirama dengan bunyi pompaan penisku.
Kurasakan Salsa mulai hilang keseimbangan. Berulang kali pelukannya melemah. Segera kucabut penisku dan berbalik ke belakang. Salsa paham. Ia pun menungging sambil berpegangan pada kap mobil.
“Buruan.. memekku gatel banget.” seru Salsa. Bakaran birahinya membuat ia mabuk kepayang, ceracauannya mulai jorok. Tetapi itu malah semakin menaikan birahiku.
“Aaaah…” pekiknya ketika aku membenamkan kembali penisku dalam sekali hentakan.
Kutampar pinggulnya, lalu mulai memompa kembali.
Suasana malam pun menjadi gaduh. Salsa tak hentinya meracau, seirama dengan bunyi becek peraduan kelamin kami berdua.
Kali ini Salsa benar-benar bisa mengimbangiku. Pertahanannya sangat kuat. Segala upaya kulakukan untuk membuat Salsa segera orgasme, namun sia-sia.
Bosan dengan doggy style, aku kembali mencabut penisku. Kutidurkan Salsa di atas kap mobil. Kedua kakinya menjuntai menginjak bamper.
Kali ini aku bisa menyetubuhi Salsa sambil melihat ekspresi wajahnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan. Tangannya berpengangan erat.
Salsa melingkarkan kedua kakinya pada pinggangku, kelamin kami pun semakin rapat beradu.
“Aaah… aaah….” Salsa kembali mengabarkan rasa nikmatnya.
Kuremas pula kedua payudaranya. Salsa pun kalap. Gelombang rasa nikmat ia dapatkan. Gerakannya semakin liar, tubuhnya lebih berupa meronta-ronta, bukan lagi menggelinjang.
Kurasakan dinding-dinding vaginanya berkedut hebat, dan dinding rahimnya seolah terus menghisap. Penisku bagai diperah.
Aku tahu Salsa akan segera orgasme, dan aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Gelombang nikmat semakin mendesak. Penisku terasa membengkak karena desakan sperma.
“Mmmh.. Sa…” aku menggeram.
Salsa sepertinya paham. Gerakan maju-mundurnya makin cepat, diimbangi dengan gerakan memutar. Penisku bagai dipelintir dan diperah.
“Aaah… sayaaang… ayooo…” pekik Salsa.
“Dimana?” aku bertanya.
“Aaah.. ngentoooottt enak…” pekiknya tanpa menjawab pertanyaanku.
Salsa semakin liar, kocokanku pun semakin keras.
“Aah.. aaah… aaahk… ngentot… kontol.. memekku aaah…” racauan Salsa membuatku kalap.
Hentakan-hentakan keras kulakukan. Rasa dan anganku melayang. Aku melupa dari segala, adaku hanyalah rasa nikmat. Diriku bagai melambung diiringi musik birahi dari mulut gadis yang sedang kugumuli. Dan… kami pun memekik panjang seiring orgasme yang sama-sama kami dapatkan.
Spermaku menyembur deras, membaur dengan derasnya cairan orgasme Salsa. Tubuh kami mengejang, dan aku ambruk menindihnya. Hanya kaki yang menjadi tumpuan agar tidak oleng dan terjatuh ke tanah.
“Gila enak banget.” suara Salsa terdengar. Lantas tubuhnya terhempas lemas. Ia sudah tak bisa lagi menggerakan tubuhnya.
Butuh sekitar lima menit bagiku untuk meresapi sensasi rasa nikmat, dan lima menit untuk mengumpulkan tenaga. Sementara Salsa masih terkulai tertidur.
Aku merasakan dingin pada kulit tubuhku. Sadar bahwa kami sedang berada di alam terbuka, kucoba membangun Salsa. Namun ia sama sekali tidak bereaksi. Aku pun berdiri tertatih. Kupungut celanaku dan kukenakan kembali.
Kupungut pula pakaian Salsa, dan kumasukan ke dalam mobil. Aku kembali pada tubuh polosnya. Kuamati vaginanya. Masih berlendir basah, dan tiada darah.
Aku tidak terkejut. Video keenam pada smartphone Dante sudah membuktikannya. Salsa tak lagi perawan. Alasan itu pulalah yang membuatku berani menyebutuhi Salsa, aku tidak harus merasa bersalah karena telah merenggut keperawanannya.
Meski begitu, aku mendesah resah. Entah kutuk apa sehingga aku harus meniduri dua wanita bekas pemuda kampret itu. Sebelumnya Tante Wulan, dan kini Salsa.
Kupangku tubuh Salsa ke dalam mobil. Susah payah aku mendudukannya, karena Salsa tiada ubahnya dengan orang pingsan. Kubuat posisinya senyaman mungkin tanpa niat untuk mengenakan pakaiannya.
Aku pun kembali ke jok di belakang stir. Duduk sambil mengamati tubuh polos Salsa. Nampak banyak tanda merah karena cumbuanku. Vaginanya juga masih terlihat basah oleh cairan cinta kami berdua. Kuturunkan kaca dan kuhisap rokokku.
Kulihat layar handphoneku menyala, nama Tante Wulan terlihat. Kuangkat dan kujawab. Aku menjawab percakapan dengan pelan agar Salsa tidak terbangun. Tante Wulan malah menggodaku dengan bercerita bahwa ia sedang tidur tanpa busana. Andai saja ia tahu, bahwa aku pun sedang duduk di samping gadis yang tanpa busana.
Tiba-tiba perasaanku berdesir. Menerima telpon dari wanita tanpa busana di samping gadis yang juga tidak berbusana, membuat pikiranku melayang kemana-mana. Aku hanya menjawab Tante Wulan seadanya, sedangkan anganku melayang sambil membayangkan bergumul bertiga. Melakukan threesome sepanjang malam yang penuh gairah sekaligus melelahkan.
Tanpa memutuskan sambungan telpon, kubuka tas Salsa. Kutemukan apa yang kumau, sebuah botol deodoran. Di ujung telpon Tante Wulan menyampaikan rasa rindunya, tak tahan ingin kusetubuhi kembali. Aku pun memancingnya. Ia pun mendesah. Kuyakin ia mendengarkan suaraku sambil menggerayangi tubuhnya sendiri.
Penisku pun tegang kembali, tetapi tidak ada niat untuk menyetubuhi Salsa. Kumasukan botol deodoran ke dalam vaginanya. Dan kutancapkan sampai setengah. Vagina mungilnya merekah, dan sisa orgasme yang tersisa meluber sampai tumpah.
“Mmmmh…” Salsa menggeliat.
“Aaaaah…” Tante Wulan mengerang.
“Siapa, Ba?” Tanya Salsa dan Tante Wulan bersamaan.
BERSAMBUNG
0 Komentar