BAB 40
Bandung belum larut malam. Dua jarum jam tepat menumpuk pada angka 10. Aku duduk bersandar pada kepala ranjang. Seorang wanita cantik bersandar pada dadaku sambil menikmati payudaranya yang selalu kuremas lembut. Tubuh kami masih sama-sama telanjang setelah persetubuhan panjang sejak sore tadi.
Kalau tadi kami selalu bergumul dan mengerang penuh gairah, kini sudah sejam kami hanya saling membelai dengan suasana sendu. Kadang wanitaku terbata-bata di balik semua cerita resahnya. Tak sedikit pula aku harus mengusap air matanya dan diakhiri kecupan lembut pada bibir atau keningnya.
“Ah keseeeeel.” rengeknya manja. Tingkahnya tidak menunjukan bahwa ia adalah seorang wanita dewasa yang usianya sudah mendekati 50 tahun.
“Kenapa?” tanyaku. Tatapan kami dekat.
“Ya karena kamu.” ia cemberut. Aku mengernyit sambil tetap menatapnya.
“Bodoh.. bodoh.. kenapa tante mau cerita semuanya ke kamu. Padahal kita belum lama saling mengenal dan kamu juga hanya seorang…” ia terkejut sendiri dan tidak melanjutkan ucapannya.
“Sopir?” aku melanjutkan.
“Maaf. Bukan maksud tante untuk meng…”
Kulumat bibirnya untuk menghentikan ucapan.
“Mmmmh… Ibaaa…” ia melenguh sambil meronta halus.
“Aku tidak tersinggung.” kulepas ciuman. Sebelum ia menjawab, kulumat lagi bibir indahnya. Dan kami saling mencumbu hangat. Wanitaku menggelinjang ketika remasanku pada payudaranya semakin keras.
“Sekarang apa rencana Tante?” tanyaku ketika ia sudah menghempaskan kembali kepalanya di atas dadaku.
“Tante tidak tahu. Tapi tante sangat menyesal.” lirihya diikuti hembusan nafas.
Setelah berpikir sejenak, aku pun berujar, “Maafkan aku, Tante. Aku tidak bisa membantu. Tetapi kita punya orang yang bisa membantu menyelesaikan masalah Tante.”
“Hah? Siapa?” ia mendongak, kedua matanya menyipit.
“Mas Rei.”
“Gila kamu. Nggak! Tante tidak mau!” ia langsung cemberut menolak.
“Dengarkan aku dulu, Tante.” ujarku.
Kurengkuh pinggangnya supaya ia mendudukiku. Penisku yang mulai tegang kembali langsung menyentuh vaginanya. Rambut jembutnya menggelikan batang kang pepen.
Sejenak aku menelan liur ketika melihat gelantungan payudaranya yang putih dan mulus. Sudah berulang kali aku menikmatinya, namun tetap saja aku terpesona. Yeah.. inilah Tante Wulan. Wanita paruh baya yang wajah dan tubuhnya masih menampakan usia awal empat puluhan. Aku tidak heran. Wanita berlimpah harta tidak akan kesulitan untuk merawat tubuh.
Tante Wulan tahu sedang kukagumi. Pipinya merona, lalu meremas rambut belakangku. Wajahku terbenam di antara kedua payudaranya. Obrolan pun berhenti sejenak. Kuciumi payudara Tante Wulan sambil meremas kedua bongkahan pinggulnya. Kemaluan kami semakin menempel dan saling menggesek. Terasa masih lengket sisa percintaan terakhir kami.
“Mmmh… udah dulu. Tante geliii.” rintihnya. Ia yang meminta kucumbu, tetapi ia sendiri yang tidak tahan.
“Kenapa?” tanyanya sambil memainkan bandul kalungku. Kedua tanganku berpindah mengusapi pahanya.
Aku paham akan pertanyaan singkatnya. Aku tidak tahu akan sampai kapan menjadi seorang Iba, tetapi yang pasti, aku akan kembali menjadi Rei. Ketika itu terjadi, sudah tentu aku tidak mungkin kembali menjadi Iba. Maka satu-satunya orang yang akan bisa membantu Tante Wulan adalah seorang Rei.
“Sekarang saatnya aku yang jujur pada Tante.” ujarku. Setelah saling tatap sejenak, aku memulai ceritaku, “Sebenarnya aku adalah orang kepercayaan Mas Rei. Hubungan kami sudah seperti sahabat, walaupun latar belakang kelas sosial kami berbeda.”
Aku pun mengarang cerita. Kusampaikan pada Tante Wulan tentang kedekatan kami. Rei pergi untuk melakukan perjalanan bisnis yang cukup lama, oleh karena itu ia memintaku menjaga keluarganya dengan pura-pura bekerja sebagai sopir.
“Lalu apa hubungannya dengan masalah Tante?” ia mengernyitkan dahi.
“Karena Rei kenal putranya Om Rudy, suami Tante.” jawaku tegas.
“Apaa? Kamu gak bohong, kan Ba?” Tante Wulan terbelalak. Mulutnya terbuka seakan tidak percaya.
Aku menggeleng sambil tersenyum. Ujarku, “Namanya Enzo, bukan?”
Tante Wulan semakin terbelalak. Tetapi anggukan kecil sudah cukup bagiku.
“Mas Rei dan Mas Enzo itu bukan hanya saling kenal, tetapi mereka juga bersahabat. Persahabatan mereka memang belum lama, tetapi keduanya menjadi dekat karena Arischa, istrinya Mas Enzo.” ujarku. Lalu kusampaikan bahwa dulu Rei berpacaran dengan Arischa, namun Rei memilih melepaskan gadis itu karena hatinya selalu terikat pada Enzo, sahabat masa kecilnya.
Tante Wulan mengerjapkan mata beberapa kali sambil menutup mulut. Awalnya ia nampak ragu, namun perlahan tapi pasti sorot matanya berubah. Ia mempercayai ceritaku.
“Jika Tante memang punya niat baik dan ingin bertemu Mas Enzo, hanya Mas Rei yang bisa membantu.” aku kembali meyakinkannya.
“Tapi kalau Rei tahu, aku takut akan menjadi masalah bagi keluargaku.” Tante Wulan nampak bimbang.
“Tante sudah kenal Mas Rei, kan? Seharusnya Tante bisa mempercayainya. Kalau aku sih sangat yakin kalau Mas Rei bisa membantu tanpa merusak apa yang Tante khawatirkan.”
“Beri Tante waktu untuk memikirkannya.”
Aku mengangguk sambil memberikan senyumku. “Tante tenang saja. Tante masih punya banyak waktu untuk memikirkannya. Lagian, sekarang kan Mas Reinya juga masih di luar negeri.” ujarku.
Ia tersenyum manis. Kami saling menatap dekat. Tante Wulan kemudian merunduk dan menempelkan keningnya. Nafas hangat kami saling menerpa.
Cuuup. Bibir kami kembali beradu, disusul lumatan panas.
Kuangkat pinggulnya. Tante Wulan mengerti mauku. Ia berpijak pada kasur empuk, pinggulnya terangkat. Kugenggam penisku dan kuarahkan pada lubang lembab vaginanya. Cleeep.. blessss…!!
“Shhhh…” Tante Wulan mendesis, lumatan kami terhenti sejenak.
Ini bukan yang pertama kang pepen memasuki sarungnya yang menganga di tengah selangkangan Tante Wulan, tetapi sensasinya selalu menggetarkan. Ini adalah pertemuan kami yang ketiga sejak aku keluar kerja seminggu yang lalu.
Kini tak ada lagi kisah atau cerita, melainkan tubuh kami yang berbicara. Saling memompa, menggoyang, dan memutar. Hentakan pinggul dan dorongan per kasur membuat pergumulan kami kian lekat dan rapat. Saling berguling, saling mengerang, bahkan bertukar tindihan.
“Aaaaah…” kami mengerang bersama. Kami kembali orgasme setelah mengalami pergumulan yang panjang. Spermaku sudah tak sebanyak sebelum-sebelumnya, namun tetap menyembur hangat. Beradu dengan hentakan cairan orgasmenya yang menyemprot.
Kami pun terhempas lemas di atas kasur, ia menindihku dengan nafas terengah.
“Makasih.” bisiknya.
“Aku yang berterima kasih.” balasku.
Kukecup tipis bibirnya, dan ia pun menggulingkan diri ke samping. Kami sama-sama meringis ketika penisku terlepas dari lubang vaginanya.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar