Bab 39
Setelah ayah dan mamah makan kue potongan pertama. Para gadis kemudian menyuapi anggota keluarga dari yang paling tua sampai yang paling muda. Sebagai yang termuda, adikku malah makan kuenya sendiri tanpa meminta disuapi. Maka suasana pun semakin mencair dan orang pada tertawa melihat tingkahnya.
Tidak denganku. Aku langsung pura-pura ke belakang, tidak tahan melihat suasana gembira dan haru, sekaligus berbumbu palsu. Aku menangis tanpa air mata di dalam toilet. Butuh sekitar sepuluh menit aku di sana, sebelum akhirnya kembali bergabung dan ikut menyantap hidangan.
Suasana cukup cair dan membahagiakan, sepertinya tak seorang pun sadar bahwa Rere dan Nzi tidak pernah saling berbicara. Rana juga nampak selalu sinis padaku. Namun semuanya terabaikan karena ada oma yang selalu menjadi pusat perhatian.
Oma Ewer tak hentinya bernostalgia tentang masa kecil Kak Kekey, aku, dan juga Nzi. Disambut derai tawa. Oma juga menunjukan kebanggaannya atas kami bertiga. Atas Kak Kekey dan Kak Rega. Atas aku dan Rere. Atas Nzi yang bahkan sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri. Di antara kami bertiga, hanya Nzi yang bisa membiayai kuliahnya sendiri tanpa mau melibatkan ayah dan mamah. Ia sudah berpenghasilan yang cukup dari konten-konten yang ia posting di youtube.
Tentu saja Inka dan Rana juga tidak luput dari pujian. Kasih sayang orangtua dan keluarga besar tetaplah sama.
Tak seorang pun tahu bahwa aku dan Rere saling tatap ketika oma berbicara tentang hubungannya dengan Rei. Sama-sama merasa bersalah. Yeah.. sebuah rasa yang ganjil karena sesungguhnya kami adalah sepasang kekasih yang sedang dibicarakan. Seharusnya tidak merasa bersalah, seharusnya sama-sama bahagia… tapi yasudahlah. Tak ada yang tahu juga, ketika Nzi melirik secara sinis kepadaku dan Rere.
Acara makan-makan dan obrolan berlangsung sampai jam sembilan. Jujur aku merasa lega ketika selesai, rambatan waktu terasa telah berjalan begitu lambat. Keluarga besarku dan para wanita ritual berpindah ke ruang keluarga, sedangkan kami para pegawai membereskan kembali ruang makan.
Sejatinya aku sangat ingin ngobrol dengan Indra, tetapi ia malah diminta untuk menemui Tante Rinjani sekalian mengantar Inka. Selain mengantar oma, ia memang ada urusan soal bisnis kopi. Mengingat ia akan kembali ke Ewer besok pagi-pagi, maka urusannya harus diselesaikan malam ini juga. Hanya sepuluh menit kami punya waktu untuk berbicara berdua, dan itu sudah lumayan menguatkanku.
Aku tidak ingin menyendiri karena itu hanya akan membuat perasaanku tidak menentu. Kuputuskan untuk nongkrong di pos jaga sambil merokok.
Indra dan Inka pergi. Tak lama kemudian ayahnya Rere juga pulang.
“Kok tidak sama ibu, Pak?” sapaku ramah.
“Ibu nginap di sini. Ah biarin aja namanya juga ibu-ibu.. biarin pada bernostalgia.” jawabnya sambil terkekeh.
Aku ikut terkekeh mendengarnya. Namun jauh di dalam lubuk hatiku aku mulai curiga bahwa malam ini akan ada pertemuan rahasia. Tidak ada tanda-tanda bahwa Oma Ningrum dan Oma Ratih akan segera pulang.
Aku pun melanjutkan ngobrol dengan Pak Uri yang hari ini tugas jaga malam. Berbatang rokok kami hisap sambil bercerita. Aku cukup terhibur karena bisa melupakan sejenak persoalanku.
“Kamu di sini dulu, ya Ba. Bapak mau ke WC dulu.” pamitnya.
“Siap, Pak.”
Tak berselang lama kulihat ada dua sosok keluar dari rumah. Aku berdiri untuk bergegas menuju sebuah sedan. Tapi urung dan duduk kembali ketika melihat pemandangan di sana. Rupanya Kak Rega mau pulang, kakak mengantar sampai depan.
Kakakku yang tegas dan terkesan galak, kini nampak begitu manja pada kekasihnya. Ia seakan berat berpisah. Keduanya berpelukan mesra. Kak Rega mengecup kening kakak, dan kakakku malah melingkarkan kedua lengannya pada leher Kak Rega. Keduanya nampak saling mengecup lembut, berlanjut kuluman dan lumatan hangat.
Aku sungguh bangga melihat kemesraan mereka. Tetapi juga iri. Wajah Rere terlintas. Rindu dan marah kembali berseliweran beradu. Dengus nafas kuhembuskan.
Aku baru berani mendekat ketika akhirnya Kak Rega masuk ke dalam mobil.
“I love you.” ujar Kak Rega.
“I love you too. Hati-hati, sayang.” balas kakak.
Kak Rega pun mengangguk dan memundurkan mobil, aku membantu memarkirkan. Setelah mobil menghilang, Kak Kekey kembali ke dalam rumah, sedangkan aku menutup gerbang.
'I love you, Rei. Selamat ulang tahun.” aku ngomong sendiri.
“Bangke!!” aku kembali bergumam, kali ini berupa umpatan. Aneh rasanya bilang ‘I love you’ pada diri sendiri.
Aku baru sadar kalau kunci mobil Rere masih kukantongi. Segera aku masuk ke dalam rumah untuk mengembalikannya. Suasana ruang keluarga sudah sepi. Ruangan pun temaram. Aku berjalan pelan sambil memasang telinga. Oma, opa, orangtua, dan para wanita ritual tidak terdengar suaranya. Aku sudah paham seluk belum ruangan rumahku sendiri, tidak mungkin mereka berkumpul di atas karena ada kedua saudariku, juga Rere dan Rana. Aku curiga mereka pergi ke tempat lain. Kemampuan yang mereka miliki sangat memungkinkan untuk itu.
Kuputuskan untuk menaruh kunci mobil Rere pada laci khusus yang memang diperuntukan untuk menyimpan kunci kendaraan. Belum juga aku meninggalkan ruangan, terdengar teriakan Nzi dari atas.
“Pokoknya aku benci kakak!! Aku kecewaaa!!!”
Degh!!
Aku urung melangkah. Berdiri mematung sambil menajamkan pendengaran.
“Adek, dengerin kakak dulu.” kudengar suara Rere.
“Pokoknya aku benci kakak. Kakak udah mengkhianati Kak Rei!!” Nzi terdengar begitu marah.
“Adek!! Gak boleh kasar begitu, kita bicarakan baik-baik. Ini ada apa sebenarnya, coba kalian jelaskan ke kakak?” terdengar suara Kak Kekey.
“Huaaaa hiiiksss… aku benci Kak Rere, kaaak. Kak Rere udah jahat ama Kak Rei.” terdengar tangis Nzi meraung, lantas terbenam, mungkin ia memeluk kakak.
“Hiiiks… apa yang kamu liat itu…” terdengar Rere ikut menangis.
“Apa? Yang kulihat itu apa? Salah?! Salah paham? Bukan hanya aku yang lihat loh, kak!! Rana juga melihat perbuatan kalian berdua. Pokoknya aku benci kakak dan Iba!!” emosi adikku meluap-luap di sela tangisnya.
Perdebatan diselingi isak tangis pun terdengar. Aku sebetulnya ingin marah, ingin pula menangis. Dua orang yang kusayangi sedang bertengkar, dan penyebabnya adalah aku. Walaupun sebenarnya juga demi membela aku. Aaah.. rumit!!!
“Nzi! Rere!! Kalian diam dulu, dengerin kakak!!” terdengar suara kakak sangat tegas, Nzi dan Rere pun bungkam,
Suasana cukup hening sesaat. Kleeek!! Sial, rupanya pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam. Percakapan pun menjadi samar dan aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Satu kakiku sudah menginjak anak tangga untuk naik, tapi kemudian urung karena takut ketahuan berkeliaran di rumah utama malam-malam.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamarku di bangunan belakang. Sedih, marah, takut bercampur menjadi satu. Dua orang yang kusayangi saling bertengkar dan penyebabnya adalah aku sendiri. Rere pasti sedang diadili, dan bahkan bisa dibenci.
Membayangkan itu semua aku menjadi kalut sendiri. Aku memang kesal pada Rere atas sikapnya, tapi rasa cinta tidak bisa luntur begitu saja. Setidaknya sampai aku mendengar sendiri penjelasan dari gadis itu.
Mataku berkaca-kaca. Kusulut rokokku sambil duduk di tepian ranjang. Sama sekali tidak bisa kunikmati, tetapi kuhisap dan kuhisap lagi. Setengah bungkus kuhabiskan tanpa henti.
Aku benar-benar kacau, sementara untuk kembali masuk dan menemui mereka, aku tidak punya nyali. Kalau yang kuhadapi adalah majikanku dalam arti yang sesungguhnya mungkin aku akan berani, tetapi persoalannya tidak sesederhana itu, yang kuhadapi adalah kekasih dan keluargaku sendiri.
Aku berpikir untuk kabur, tetapi itu malah akan membuat misiku berantakan. Rintanganku bisa gagal kembali, dan Raja Anta akan semakin semena-mena. Tapi kalau bertahan, aku tidak tahu ayah dan mamah, juga keluargaku, akan mengadiliku seperti apa. Mending kalau hanya aku yang dimarahi, bagaimana kalau Rere juga dijauhi dan hubungan kami tidak lagi direstui?
Buntu! Otakku benar-benar buntu. Sial.. Indra malah pergi sehingga aku tidak punya teman bicara yang bisa kumintai pendapat. Nomornya pun aku tidak punya.
Akhirnya aku tidak bisa tidur sama sekali. Pagi pun datang, dan aku menyambutnya dengan penuh ketakutan.
Setelah mengelap mobil dan mandi, aku sama sekali tidak berani masuk ke dalam rumah. Aku menunggu mamah di dalam mobil. Mobil Oma Ningrum dan Oma Ratih sudah tidak ada, entah mereka pulang jam berapa. Pak Uri pun tidak tahu.
Tepat jam tujuh, penghuni rumah pada keluar. Rere sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Nzi juga bersiap berangkat kuliah. Tante Maya dan Tante Nur juga keluar, tetapi mereka masih mengenakan pakaian rumahan pertanda tidak akan bepergian.
Aku cukup grogi karena takut diadili, apalagi ketika melihat kilatan mata Nzi yang penuh kebencian. Daripada terjadi prahara, aku bergegas masuk ke dalam mobil.
Mamah masuk ke dalam mobil setelah mencium pipi kakak, Nzi, dan Rere; juga setelah mendapat ciuman dari ayah.
“Selamat pagi, Bu.” sapaku.
“Pagi. Kamu sudah sarapan?”
“Sudah, Bu.” aku berbohong.
“Bagus kalo gitu, kita berangkat.”
Ah sikap mamah terlihat wajar, sepertinya para orangtua belum tahu tentang pertengkaran semalam. Aku melajukan mobil keluar pekarangan, beriringan dengan mobil ayah yang disopiri Mang Karta, mobil Nzi, dan mobil Rere. Ada yang aneh. Kak Kekey tidak berangkat kerja bersama ayah. Ia malah kembali masuk ke dalam rumah bersama kedua tanteku. Jangan tanya soal Rana, jam segini pasti masih meringkuk di bawah selimut.
Sikap mamah benar-benar tidak ada yang berubah. Ia ramah seperti biasanya, dan mengajakku ngobrol dengan wajar. Aku cukup merasa lega.
“Kamu pulang aja dan tidak usah nunggu di kampus, Ba.” ujar mamah setibanya di depan Fakultas Ekonomi.
“Nanti ibu pulangnya bagaimana?” heranku.
“Ya tetap kamu jemput, nanti jam tiga sore. Tapi kamu pulang dulu, katanya Kekey mau minta diantar kemana gitu.”
Degh!
Sepertinya bukan orangtuaku yang akan mengadiliku, bukan pula Nzi, melainkan kakak.
“Kok diam?”
“Eh I.. iya, Bu. Siap.”
Aku tiba-tiba menjadi gugup.
“Yaudah sana, hati-hati dan jangan ngebut.”
“Bbaik, Bu.”
Aku pun kembali pulang. Benar saja, Kak Kekey sudah menungguku di depan rumah. Ia terlihat gelisah.
“Iba, ikut saya.”
Belum juga aku menyapa, ia sudah memerintah. Aku mengikutinya dengan gugup. Kakak rupanya membawaku ke ruang kerja ayah dan mamah,
“Duduk.”
“Makasih, Neng.”
Kakak duduk pada kursi kerja ayah, dan aku duduk menunduk di hadapannya. Aku sama sekali tidak merasakan aura seorang kakak yang mengayomi, melainkan seorang boss yang galak dan tegas.
“Kamu tahu kenapa aku panggil?” kakak tidak mau basa-basi.
“….”
“Kok diam?”
“Tahu, Neng.” aku tidak ingin membuatnya marah karena aku belaga bego.
“Bagus kalau begitu. Sekarang coba jelaskan, saya ingin mendengar cerita yang sebenarnya menurut versi kamu.”
Di sini aku bimbang. Kalau aku menceritakan apa adanya, bisa jadi Rere menjadi satu-satunya pihak yang dipersalahkan. Tetapi kalau aku mengatakannya secara jujur, aku bisa dipecat dan diusir. Bahkan bukan tidak mungkin aku akan kembali gagal menjalani rintangan.
Tik tok tik tok.
“Kok diam lagi?!”
“Iiiya, Neng. Maaf…”
Kuhela nafas berat. Kuambil keputusan dengan cepat, apapun resikonya.
“Saya memang salah, Neng. Saya mohon maaf karena telah mengganggu Neng Rere.” aku diam sejenak untuk membasahi tenggorokan.
“Kenapa bisa begitu?” suara kakak datar. Tidak galak, tetapi juga tidak ramah.
“Ya.. awalnya saya hanya mengagumi Neng Rere. Saya kagum karena ia juga seperti semua keluarga Neng Kekey, sangat ramah dan dekat dengan orang-orang kecil seperti saya…”
“…”
“Beberapa kali juga kami pergi jalan-jalan, walaupun bukan hanya berdua, tapi ada Salsa juga. Dari situ kami semakin dekat. Dan entah bagaimana… kami melakukannya di kamar saya saat itu.” aku mengakhiri cerita sambil menunduk, tak berani menatap kakak sedikit pun.
Kakak menghela nafas panjang sambil mengetuk-ngetukan kukunya pada meja.
“Kamu sayang Rere?”
“Iya, Neng. Saya sayang Rere.”
Oooopss!! Aku sungguh keceplosan, jiwa Reiku yang menjawab, bukan Iba.
“Euuu.. mmaksud saya… maaf…” aku kehilangan kata-kata untuk mengklarifikasi.
“Hmmm…” kakak hanya bergumam. Aku semakin mati kutu tanpa tahu harus berkata apa lagi.
“Kalau menurutmu, Rere sayang kamu gak?” akhirnya kakak memulai pembicaraan kembali.
“Euuu… nnng… nggak, Neng. Sepertinya Neng Rere hanya terbawa suasana saja. Kehadiran saya mengingatkannya pada Mas Rei.”
“Nah itu poinnya.” Kak Kekey menjentikan jari sambil merunduk agar bisa menatapku lebih dekat.
“Banyak orang yang bilang ada sesuatu dalam dirimu yang mengingatkan pada Rei, walaupun kalian sama sekali tidak mirip.
“Maafkan saya, Neng.”
“Yeah… kalau masalah itu sih bukan salahmu, Ba. Tapi apa yang kamu lakukan bersama Rere, itu yang salah.”
“Maaf.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu?” ujar Kak Kekey lagi. Kali ini suaranya terdengar lemah, tanpa kemarahan. Ia juga seperti sedang menyimpan sesuatu yang berat untuk disampaikan.
“Saya siap mengundurkan diri, Neng. Saya tidak mau menjadi orang yang menjadi sumber kekacauan di rumah ini.” jawabku lemah.
Usai berkata begitu, aku langsung meremasi tangan sendiri. Aku tidak menyesal mengatakan itu, dan aku memang siap. Tetapi bahwa ada kemungkinan bahwa aku harus mengulangi rintangan, itu yang sedikit memberatkan.
Kak Kekey menghela nafas sambil merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Kamu anak yang baik, Ba, tapi apa yang kalian lakukan telah membuat kacau semuanya.” keluh Kak Kekey. Aku diam, mendongak pun tidak berani.
“Kamu lihat kan semalam, kalau ayah dan mamahku begitu gembira meskipun Rei tidak ada di tengah kami. Dan aku tidak mau merusak kegembiraan mereka. Maka baik aku maupun Nzi, termasuk Rere dan Rara sepakat untuk tidak memberitahu siapapun tentang hal ini. Tapi Nzi memberi syarat….”
Kakak seperti tidak tega untuk menyelesaikan kalimatnya. Aku sudah bisa menebak, tetapi takut salah.
“Syaratnya apa, Neng?” akhirnya aku memberanikan diri bertanya sambil mendongak.
Kak Kekey menggunakan kesempatan ini untuk menatap mataku dalam-dalam. Aku langsung menghindar dengan menunduk kembali.
“Kamu resign sebagai sopir keluarga kami.” terdengar suara Kak Kekey datar.
Sebagai seorang boss tentu tidak sulit untuk menyampaikan hal seperti ini. Tetapi tetap saja, aku mendengar suara kakak sedikit bergetar, seperti tidak rela.
“Kamu jahat, dek.”batinku. Aku memang siap dipecat, tetapi cukup kecewa juga atas sikap adikku.
“Maafkan kami, Ba. Maafkan Nzi juga. Tapi ini adalah satu-satunya pilihan yang kami sepakati, dan jika tidak, Nzi akan melaporkan pada ayah dan mamah.”
“Saya mengerti, Neng.” aku menyahut lemah. Berusaha tulus dan pasrah menerima kenyataan.
Aku berpikir apakah Rere tidak membelaku sama sekali? Apakah ia memang tidak punya niat untuk meluruskan persoalan dan membicarakannya secara baik-baik berdua?
“Rere sendiri tidak setuju, Ba, ia bahkan membelamu mati-matian di depan Nzi supaya kamu tidak dipecat.” Kak Kekey seolah bisa membaca isi hatiku.
“Sekali lagi, saya harap kamu bisa memaafkan Nzi. Adikku memang keras kepala, mungkin karena kami terlalu memanjakannya. Tapi saya tahu, ia keukeuh begitu juga karena ia mencinta Rei kakaknya, yang adalah adikku juga.” jelas Kak Kekey lagi.
“Iya, saya paham, Neng. Neng Rere dan Neng Nzi tidak salah apapun, justru saya yang memohon maaf karena telah menodai kepercayaan yang Neng Kekey dan keluarga berikan kepada saya.” jujurku.
“Terima kasih, Ba, kamu benar-benar pemuda yang baik.” ujar kakak.
“Tapi maaf, Neng, kalau saya lancang. Lalu bagaimana tentang Neng Rere dan Mas Rei ketika Mas Reinya sudah pulang?” aku ingin memastikan bahwa Rere memang tidak dikucilkan apalagi dibenci.
“Begini, Ba, selain berbicara dengan mereka berdua di hadapan Rana, aku juga sudah berbicara empat mata dengan Rere. Ada hal-hal yang tidak bisa saya sampaikan kepada kamu. Tapi percayalah, Rere tetap kekasih Rei, tetap anggota keluarga kami. Nah, masalah masa depan hubungan Rere dan Rei ke depan, Rere sendiri yang akan jujur dan menjelaskannya pada adikku. Apakah mereka tetap akan melanjutkan hubungan atau tidak, itu tergantung mereka berdua.” kakak berbicara panjang lebar.
Aku bernafas lega mendengarnya. Aku juga cukup bangga ketika mendengar bahwa Rere akan jujur pada Rei. Ya.. padaku.
“Baik, Neng.”
Selanjutnya Kak Kekey menawarkan supaya aku bekerja di kantornya, dan aku bisa memilih apakah mau tetap menjadi sopir atau menjadi OB. Ia memecatku karena demi kebaikan ayah dan mamah, terutama mamah, tetapi bukan berarti ia mau menelantarkanku.
“Terima kasih, Neng. Neng Kekey sangat baik. Tapi untuk masalah pekerjaan, sepertinya saya ingin istirahat dulu. Saya akan pulang kampung untuk menenangkan diri sambil merefleksikan kesalahan yang sudah saya buat. Nanti kalau sudah siap, baru saya kembali ke kota lagi untuk bekerja.” aku menolak halus.
Kulihat Kak Kekey nampak kecewa, tetapi cukup menghargai keputusanku.
“Baiklah kalau itu keputusanmu. Kamu jangan sungkan untuk menghubungi aku kalau sudah siap bekerja lagi. Aku pasti akan membantu.”
Masih banyak hal lain lagi yang kami bicarakan. Pada titik ini aku semakin mengagumi kakak. Ia adalah seorang wanita karier yang cukup tegas dan berwibawa, tetapi juga lembut dan penuh perhatian pada orang-orang kecil sepertiku.
https://t.me/cerita_dewasaa
Tiga hari kemudian…
Aku melenggang meninggalkan rumah megah yang selama ini telah memberiku naungan. Aku pamit secara resmi kepada majikanku. Ayah dan mamah tentu saja kaget ketika aku tiba-tiba mengundurkan diri. Tetapi mereka akhirnya menerima keputusanku, meskipun tidak ada alasan masuk akal bagi mereka. Alasanku memang hanya satu, ingin berhenti bekerja. Tidak ada alasan lain yang kusampaikan.
Ayah ingin menghadiahiku motor yang selama ini kupakai, tetapi kutolak. Uangku sudah lebih dari cukup. Selain pesangon yang besar, kakak masih memberi tambahan yang menurutku sangat berlebih.
Sebenci-bencinya Nzi padaku, ia masih mau menemui dan menyalamiku ketika pamit. Berbeda dengan Rere. Ia seperti menghindar dariku. Ia hanya datang pagi-pagi (sebelum berangkat ke kantor) untuk mengganti bunga di dalam kamar, selebihnya tidak pernah muncul lagi.
Jadilah.. aku pergi tanpa pernah melihatnya lagi. Persoalan antara kami (Rere dan Iba) pun tidak pernah terselesaikan.
Menjelang maghrib aku tiba di kamar kosan. Kubuka pintu dengan lesu. Hatiku terasa sangat sedih. Bukan sedih karena dipecat, tetapi karena harus jauh dari keluargaku sendiri. Kini kesempatan untuk bertemu mereka akan semakin sulit.
Betapa terkejutnya aku ketika kulihat ada sebuah kado di atas kasur. Segera kuambil dan kubolak-balik. Sebuah tulisan kecil jelas menunjukan bahwa kado ini untukku. Kubuka dengan perasaan heran.
Tanganku sedikit bergetar ketika menyadari apa yang sedang kupegang. Sebuah kotak beludru. Ini adalah kotak yang diterima Rere dari pemuda tak kukenal di kantornya kala itu.
Kuraih sebuah kartu kecil:
“Maafkan aku.
Semoga kamu mengerti. Jika tidak, biarlah Reiku yang mengerti.”
-Rere-
Kubaca berulang-ulang, tetapi tetap saja aku tidak paham.
Kubuka isi kotak. Mataku langsung terbelalak. Sebuah jam tangan Rolex yang harganya mencapai puluhan juta.
“Re, apa maksud dari semuanya ini?” aku bergumam sendiri.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar