Sang pewaris part 38

 

Bab 38

Rere benar-benar marah. Ia sewot karena aku ingkar janji untuk antar jemput ke kantor. Meski begitu, ia tetap memintaku menjemput pada sore harinya. Setelah hampir seharian tidur karena lelah setelah ‘mengurus’ Dante dan ‘mengerjai’ Tante Wulan, jam tiga sore aku meluncur menuju kantor Rere. Naik ojek tentu saja, karena Rere berangkat ke kantornya membawa mobil.

Jam 15.45 aku pun tiba di depan sebuah gedung tinggi dan megah. Masih ada waktu seperempat jam sebelum ia pulang kantor. Kukeluarkan handphoneku sambil menyulut rokok. Rupanya sudah ada pesan WA dari gadis itu supaya aku datang ke ruangannya.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Kumasukan kembali rokokku ke dalam bungkusnya. Seorang security mengarahkanku supaya menuju front office. Wajah-wajah ramah kurasakan, tidak ada bedanya dengan suasana di kantor ayahku. ‘Sang Pendahulu’ sudah meletakan pondasi yang kuat untuk memperlakukan semua yang berkunjung sebagai manusia, tanpa memperhatikan tampang, cara berpakaian, atau pun status.

“Selamat sore dan selamat datang di FAF. Ada yang bisa saya bantu, Mas?” sapa seorang officer.

“Selamat sore, Mbak. Saya mau menjemput Bu Rere, tetapi saya diminta untuk datang ke ruangannya.” jawabku sopan.

Sebelum si mbak cantik menelpon ke ruangan Rere, kutunjukan isi WA. Ia pun tersenyum ramah, lantas menunjuk arah lift dan menyuruhku supaya naik ke lantai lima.

“Terima kasih, Mbak.” ujarku.

Aku melenggang menuju lift. Perasaanku sebenarnya tidak tenang, aku tidak bisa menebak kemarahan seperti apa yang akan Rere buncahkan atas kesalahanku.

Begitu pintu lift terbuka di lantai yang kutuju, beberapa orang yang mau pulang kerja sudah menunggu di depan pintu.

Lagi-lagi aku disapa seorang wanita cantik. Rupanya ia adalah sekretaris Tante Rinai, putri sulung Oma Era. Kujelaskan maksudku, dan wanita itu pun menunjukan ruangan Rere. Aku melangkah sambil mengusap-usap celana. Telapak tanganku terasa basah.

Aku mematung sebentar di depan sebuah pintu kaca. Tanganku urung mengetuk ketika terdengar percakapan di dalam. Rupanya masih ada rekan kerja Rere di sana.

Pintu kaca tidak sepenuhnya tertutup, melainkan berupa motif yang dari celahnya aku masih bisa melihat ke dalam.

Samar-samar kulihat gadisku sedang berdiri, berhadapan dengan seorang pemuda yang berpakaian rapi dan mengenakan jas. Aku hanya bisa melihat punggung pria itu.

Takut mengganggu, kuputuskan untuk menunggu. Namun… deg.. deg.. jantungku langsung berdetak kencang. Kulihat pria itu menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna biru kepada Rere, dan kekasihku menerima dengan senang hati. Awalnya aku tidak tidak terlalu curiga. Namun perasaanku langsung bergemuruh ketika tiba-tiba Rere memeluk pria muda itu. Sial.. si pemuda bukan hanya menyambut pelukan, tetapi juga mengecup kepala Rere. Tangannya pun mengusapi punggung Rere dengan lembut.

Aku mencari celah agar bisa melihat lebih jelas. Benar saja. Rere malah tersenyum sendu diperlakukan lembut sang pemuda dalam pelukannya.

Ingin rasanya aku menerobos masuk dan menghajar pemuda itu. Tapi aku sadar, aku bukanlah Rei, melainkan seorang Iba yang hanya berprofesi sebagai sopir. Aku hanya bisa mengeratkan rahang. Kedua tanganku terkepal.

Keparat! Si pria merunduk lagi, kali ini mengecup kening Rere, sepertinya kekasihku menerimanya dengan sukarela, bahkan meresapi. Mata Rere terpejam. Nafasku tersengal melihatnya. Dan.. itu belum selesai. Bukan pemuda itu.. melainkan Rere yang mencium kedua pipi si pemuda.




Hatiku sangat panas. Nafasku kian tersengal. Gigiku merapat, tanganku mengepal erat. Aku bukan pria setia, tetapi melihat kekasihku jatuh ke dalam pelukan pria asing tetap saja membuatku marah dan dibakar cemburu. Namun apa daya, aku bukan siapa-siapa.




Kulihat keduanya berpelukan cukup lama. Kepala Rere kembali dikecup.




Aku melangkah mundur. Tak sanggup melihat lebih lama. Kuputuskan untuk pulang, langkahku panjang. Namun setibanya di depan lift aku kembali berpikir, Rere akan semakin marah jika aku tidak menjemputnya. Selain itu, aku tidak akan pernah tahu siapa pemuda itu.




Setelah menarik dan menghembuskan nafas panjang berulang-ulang, kuputuskan untuk kembali. Langkahku kali ini gontai.




Belum juga aku mengetuk, pintu ruangan Rere terbuka. Sosok gadis itu muncul. Si pemuda sudah tidak ada. Aku cukup heran karena posisi lift berada di ujung lorong, namun aku tak melihat pria yang tadi memeluk Rere keluar.




“Selamat sore, Neng.” sapaku sambil menunduk. Kali ini bukan karena takut dimarahi, melainkan karena aku sendiri yang sedang marah.


“Kamu baru datang?” sapanya ketus. Ia seperti ingin memastikan bahwa aku tidak melihat perbuatannya di dalam tadi.


“Iya, Neng.” singkatku, aku bisa mendengar kalau suaraku sendiri bergetar.


“Hmm!! Kamu masuk dulu.” ketusnya.




Aku pun mengangguk dan mengikuti Rere. Ruangan kerja Rere cukup luas, dan ada lima meja kerja di dalamnya. Namun sudah pada kosong pertanda pegawainya sudah pulang. Kulihat ada pintu tembus yang menghubungkan dengan ruangan lain. Sepertinya itu adalah ruangan pimpinan divisi ini. Dan aku paham, si pria menghilang melalui pintu itu.




“Duduk!” judes Rere.




Aku hanya bisa menurut. Duduk pada kursi di depan meja kerja Rere. Sedangkan gadis itu sendiri tidak duduk, malah sibuk mematikan komputer, lantas merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Sepintas aku mengamati kotak pemberian si pemuda tadi dengan panas hati, namun tidak berlangsung lama karena Rere buru-buru memasukannya ke dalam tas.




Ingin rasanya aku memberondong Rere tentang apa yang kulihat tadi, tapi lagi-lagi aku harus menahan diri. Aku sedang melakukan sebuah misi, menjalankan rintangan yang Raja Anta berikan. Identitas masih harus disembunyikan.




Sebetulnya tidak banyak yang harus Rere bereskan, namun sepertinya ia sengaja melakukannya berlama-lama. Aku mati kutu. Duduk mematung dengan perasaan tidak karuan.




Kudengar Rere menghela nafas panjang sambil menghempaskan dirinya pada kursi kerja. Sepintas aku bisa melihat kilatan matanya yang penuh amarah. Aku hanya bisa semakin menunduk tanpa sanggup balas menatap.




“Sekarang kamu jelaskan!” ujarnya tegas dan ketus.




Gila!! Rasanya aku sedang menjumpai seorang Rere seperti pertama kali kukenal di Ewer dulu. Seorang gadis yang galak dan judes.




“Maksud, Neng Rere?” aku sedikit gugup. Sebetulnya bukan karena takut, namun benakku masih dihinggapi bayangan Rere berpelukan dengan pria asing tadi.


“Apa? Kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh?!” emosi Rere terdengar meluap.




Aku terperangah. Sepanjang aku mengenalnya, belum pernah aku mendengar Rere berucap sekasar itu. Kata ‘bodoh’ adalah ucapan tabu dalam keluarga besar kami.




Aku mendongak dan memberanikan diri membalas tatapan tajamnya. Aku terhenyak. Bukan hanya karena melihat kemarahan Rere, tetapi juga karena kulihat kelopak bawah mata Rere lumayan bengkak. Sepertinya ia kurang tidur, atau terlalu banyak menangis. Makeup yang ia pulaskan tidak bisa menyembunyikannya.




Sejurus kemudian aku kembali menunduk.




Rere tetap diam sambil menatapku tajam. Aku tahu, ia tidak ingin mengulang pertanyaannya, dan kini ia sedang menunggu jawaban.




“Eu.. anu, Neng…” aku tercekat. Pikiran dan perasaanku benar-benar kacau.


“…” Rere tidak bereaksi.


“Saa.. saya takut.” akhirnya aku mulai menemukan sebuah alasan.


“Hmmm?” ia menyelidik.


“Takut Neng Rere marah.” kini suaraku mulai lancar.


“Kamu pikir sekarang aku sedang tidak marah?! Hah?!” sama sekali tidak ada suara ramah pada gadis di hadapanku ini.




Kuhela nafas panjang. Mungkin ini saatnya aku menyelidiki Rere secara terselubung.




“Euu.. maksud saya. Saya takut karena saya sudah berbuat salah tempo hari ketika.. ketika…” kutatap Rere sebentar.




Rere menghempaskan sandarannya. Sepertinya ia sudah paham apa yang kumaksudkan.




“Apa yang kita perbuat adalah salah, Neng. Dan saya takut terulang. Apalagi Neng Nzi sempat memergoki kita.” usai berkata begitu kubasahi tenggorakanku yang terasa kering.


“Memang salah!” balas Rere dengan nada tetap ketus.


"Njir, kalau sudah tau salah kenapa kamu lakukan? Kamu yang memulainya, re!." aku kesal, tapi tidak berani kuungkapkan.


“Ok. Apapun alasanmu, lalu kenapa kamu tidak mau memberitahuku? Ditelpon pun tidak kamu angkat. WA juga tidak kamu balas?!” Rere masih keukeuhpada persoalan sepele, sedangkan soal ciuman yang menurutku adalah masalah besar malah ia abaikan.


“Maaf. Saya salah.” gumamku pelan.


“Kan aku sudah bilang, kamu memang salah!!” suaranya kembali meninggi


“….” aku bungkam.


“Kamu tidak pergi dengan Salsa, kan?” ia mulai menginterogasi.




Aku menggeleng.




“Dengan perempuan lain?”




Aku kembali menggeleng, meskipun hati mengiyakan.




“Yang bener kamu?! Jawab yang jujur!”




Rasanya kesabaranku mulai hilang. Aku seperti tidak mengenal kekasihku sendiri.




“Maaf, Neng.” aku mendongak, kali ini kubalas tatapan tajam Rere.


“Kalaupun saya jalan dengan perempuan lain, apakah saya salah? Kalau saya pacaran dengan Salsa atau perempuan manapun, apakah saya salah? Neng Rere kan bukan siapa-siapa saya. Hidup kita ibarat bumi dan langit, Neng, mana mungkin kita menjalin hubungan, bukan?!!” kuluapkan emosiku yang sejak tadi kutahan. Aku sudah tidak peduli seandainya karena ini Rere mengadu, dan keluargaku memecatku.




Rere nampak kaget melihat aku berbicara berapi-api. Aku bukan lagi seorang sopir yang lembek dan hanya bisa pasrah.




“Lagi pula, walaupun Neng Rere ke-ka-sih Mas R-E-I, Neng Rere itu bukan majikan saya. Majikan saya adalah keluarga Pak Sirna.” ujarku lagi sambil sengaja memberi penekanan pada beberapa kata.


“Kamu?!” Rere hampir saja menunjuk mukaku, tapi urung. Untung saja ia menghentikan tangannya, kalau tidak aku pasti akan sangat kalap.


“Kamu sudah mulai berani yah?” ia nampak meredam emosinya.


“Iya, Neng, saya berani karena saya merasa benar. Kalau saya salah, tolong beritahu saya, dimana letak kesalahannya.” aku merasa berada di atas angin.




Rere sepertinya tak bisa lagi mendebat. Kini saatnya aku yang mengorek dia, kenapa ia berani mencium -dan bahkan dicium- pria selain Reinya.




“Sekarang saya yang meminta penjelasan, kenapa Neng Rere mencium saya?”




Rere terbelalak menerima pertanyaan balikku. Mulutnya terbuka untuk menjawab, namun bungkam kembali sedetik kemudian.




Tik tok tik tok.




“Bukan urusanmu. Kita pulang!!”




Anjrit!! Menyesal aku punya kekasih searogan ini.




Rere langsung berdiri dan meraih tasnya. Tanpa kata, ia mendahuluiku meninggalkan ruangan. Aku masih ingin marah, tetapi biar bagaimana pun aku masih sadar akan identitasku. Aku segera berdiri dan mengikutinya dari belakang.




Beruntung bagi Rere, ia lepas dari cecaran pertanyaanku ketika di lorong berjumpa dengan beberapa staf yang juga mau pulang. Rere berdrama. Ia tiba-tiba menjadi ramah seolah tidak sedang terjadi apa-apa.




Bahkan di lift pun ia lebih memilih bercengkerama dengan para rekan kerjanya; aku seperti dianggapnya tidak ada. Aku hanya diam dan bungkam. Sekali-kali merunduk dan tersenyum pada orang-orang yang melirik ke arahku.




Sampai lobi semuanya terlihat wajar. Salam dan sapa perpisahan ramah antara pegawai sangat terasa. Namun semuanya kembali beku ketika tiba di parkiran.




Tanpa kata, Rere memberikan kunci mobil padaku. Dan ia pun memilih duduk di belakang. Aku tidak protes, toh aku memang sopir. Tapi tetap saja aku kesal, karena Rere tidak menjelaskan apa-apa. Ia menjelma menjadi seorang gadis yang egois, yang hanya menimpakan semua kesalahan padaku.




Aku pun sudah malas bertanya. Kujalankan tugasku melajukan mobil, merayap di tengah kemacetan. Diamku menjadi satu-satunya cara untuk meredam amarah yang masih bergemuruh. Aku takut kembali meledak jika membuka mulut. Rere sendiri lebih memilih sibuk dengan smartphonenya.




“Mampir ke Wastukencana dulu, aku mau beli bunga.” ujar Rere. Aku mengangguk. Selebihnya tidak ada percakapan, seolah hanya aku saja yang sedang berada di dalam mobil ini.




Rere membeli rangkaian mawar di toko bunga. Aku memang ingat, ini menjadi kebiasaannya, yaitu mengganti mawar di kamarku, tetapi kali ini berbeda. Rere membelinya bukan hanya satu tangkai.




Sisa perjalanan masih tetap tanpa percakapan. Sekali-kali kulirik gadis di belakangku melalui kaca spion.




Wajah Rere yang tadi galak dan judes kini terlihat sendu. Tak hentinya ia mengecup bunga itu, dengan pandangan kosong keluar jendela.




Mau tidak mau aku pun terenyuh. Memang ada banyak tanya yang belum kutemukan jawabnya. Ada misteri yang belum terpecahkan. Rere ‘selingkuh’ denganku? Selingkuh dengan bossnya di kantor? Jawabnya bisa ‘iya’, bisa ‘tidak’. Apapun itu, aku kesal dan jengkel. Tetapi bahwa ia berubah seperti ini, marahku perlahan luntur. Rere seperti sedang merindu seseorang, pikirnya jauh melayang entah kemana, walaupun tubuhnya ada di dalam mobil ini.




Sepintas kulihat Rere mengusap ujung matanya. Sepertinya ia menitikan air mata, entah kenapa dan untuk siapa.




“Ehem.. maaf kita kemana, Neng? Ke rumah Neng Rere atau..?” aku membuyarkan lamunannya.


“Cempaka 27.” singkatnya.




Aku tahu itu adalah rumahku. Maka kulajukan mobil ke sana.




Memasuki pekarangan, aku cukup heran karena suasana cukup ramai. Nampak ada beberapa kendaraan sehingga aku harus memarkirkan mobil di dekat pos jaga.




Rere langsung turun dan melangkah menuju rumah. Tiada kata, berterima kasih pun tidak.




“Ada apa, Pak? Kok ramai?” tanyaku pada Pak Uri.


“Ada syukuran, Jang. Hari ini kan ulang tahunnya Mas Rei.” jawabnya.




Degh. Aku bahkan lupa hari ulang tahunku sendiri.




“Emang Mas Reinya sudah pulang?” tanyaku lagi.


“Belum sih, tapi mereka tetap merayakannya.”




Setelah perasaanku tidak karuan karena Rere, kini kembali bergejolak karena kasih sayang keluargaku. Kelopak mataku terasa panas.




Aku duduk di bangku kayu depan pos satpam sambil merokok. Kuamati beberapa mobil yang terparkir. Ada mobil oma Alya dan Opa Ardan, mobil Tante Nur, juga mobil Tante Maya. Mobil Inka juga ada di sana. Sisanya tidak kukenal.




Tidak ada mobil lain dari keluarga Sawer, sepertinya tidak ada pesta besar seperti lazimnya. Hanya syukuran keluarga inti. Tetapi tetap saja aku terharu. Mereka merayakan orang yang tidak ada, tanpa tahu aku berada di tengah mereka.




Tak lama kemudian Bi Epah datang. Ia memanggil aku dan Pak Uri untuk masuk karena acaranya akan segera dimulai. Sudah menjadi kebiasaan jika keluarga mengundang semua pegawai untuk ikut santap malam pada acara-acara khusus.




Tanpa keduanya tahu, kugosok muka dengan kedua telapak tangan untuk menenangkan diri. Perasaanku sungguh-sungguh berantakan. Kesal dan cemburu masih tersisa, iba juga ada, kini dipadu sedih dan haru.




“Masuk, Ba. Malah bengong.” ujar Bi Epah ketika aku malah mematung di dapur.




Aku mengangguk, lalu mengikuti langkahnya menuju ruang makan. Suasana cukup ramai. Nampak ayah dan mamah sudah berpakaian rapi. Senyum bahagia sekaligus sedih terbungkus rindu senantiasa mengembang pada wajah mamah.




Yang membuatku ingin menangis adalah kehadiran Oma Alya dan Opa Ardan. Aku rindu. Ingin rasanya aku mencium kedua tangan mereka lalu memeluk erat. Lebih ingin menangis lagi ketika kulihat Oma Ewer. Beliau juga hadir. Kalau tidak sadar akan status penyamaranku, sudah tentu aku akan memeluknya erat.




Rana sepupuku diapit oleh papah dan mamahnya. Ah aku kangen. Juga pada tante dan om. Aku menunduk ketika Rana menatapku tajam. Dialah gadis yang bersama Nzi ketika memergokiku berciuman dengan Rere.




Tak kalah mengejutkan, sahabatku di Ewer juga datang. Indra. Sepertinya ia datang untuk mengantar oma, tentu saja ada maksud terselubung untuk menemui dan melihat keadaanku. Kami saling lihat, dan ia tersenyum penuh arti.




Yang mengejutkan adalah kehadiran Oma Ningrum dan Oma Ratih. Malam ini para wanita ritual ayah lengkap berkumpul. Apakah ini yang pernah disampaikan mamah bahwa para wanita ritual akan berkumpul untuk membantu misiku kala itu? Tapi itu kan dulu, sebelum rintanganku gagal gara-gara menggumuli Bunda Rahma.




“Oh iya, ini kenalin Iba, sopir baru.” mamah memperkenalkanku pada keluarganya.


“Saya Iba, Oma.” aku menyalami tangan Oma Ewer, spontan pula aku mencium tangannya yang mulai keriput. Kueratkan bibirku untuk menahan gejolak emosi.


“Kamu sudah berapa lama kerja di sini, Nak?” tanya Oma Ewer.


“Sudah hampir dua bulan, Oma.” mau tidak mau aku menatapnya sopan. Aaah.. aku sungguh ingin memeluk tubuh ringkihnya.


“Kamu betah kerja di sini?” tanyanya lagi. Ia juga nampak senang atas sikap santunku


“Betah, Oma.” singkatku.


“Syukurlah kalau begitu. Jaga keluarga Oma, ya.”


“Baik, Oma.”




Setelah menyalami Oma Ewer aku melewati Nzi untuk menyalami Oma Alya dan Opa Ardan. Ia memang berdiri di antara kedua oma tersayang. Adikku sangat tidak ramah. Wajahnya melengos, melihatku pun sepertinya tidak mau. Sekuat tenaga aku menahan diri dan tetap berusaha bersikap sopan.




“Oma.” sapaku sambil mencium tangan Oma Alya, lalu mencium Opa Ardan setelahnya. Kami memang sudah beberapa kali bertemu sehingga tidak perlu memperkenalkan diri lagi.




Kusalami pula yang lain. Tante Maya nampak terkejut. Tetapi ia bersikap wajar ketika menerima uluran tanganku.




“Iba.” aku memperkenalkan diri pada Rana.




Gadis itu menyambut uluran tanganku, tetapi sorot matanya seolah menelanjangi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tante Maya menegur dengan mencolek lengan putri sematang wayangnya itu.




Setelah semuanya kusalami, aku kembali berdiri di antara barisan para karyawan. Diam-diam aku mencuri pandang pada Rere dan Nzi. Sepintas tidak ada yang aneh. Tetapi kalau kuperhatikan secara seksama, rupanya mereka yang selama ini sangat akrab, kini tidak lagi saling bertegur sapa. Nzi menyibukan diri dengan bermanja pada Oma Alya dan Oma Ewer, sedangkan Rere lebih banyak diam sambil sekali-kali ngobrol dengan Inka atau dengan mamah dan ayahnya.




Satu hal yang pasti, senyum dan sikap riang mereka palsu. Keduanya sama-sama berusaha menyembunyikan kesedihan. Kak Kekey beda lagi, ia nampak lebih tegar dan tenang. Sepertinya ia sudah sangat paham akan misi yang sedang kujalankan sehingga harus meninggalkan keluarga.




“Kalian ke sini.” ayah meminta kakak, Nzi, dan Rere mendekat. Nzi langsung memosisikan diri supaya tidak bersebelahan dengan Rere, mereka terpisah oleh Kak Kekey. Ayah dan mamah mengapit mereka bertiga dengan berdiri di kedua sisi. Rere nampak sedikit salah tingkah, senyumnya hambar, sorot matanya penuh rasa bersalah.




Ayah membuka acara dan berterima kasih atas kehadiran mereka semua. Secara terselubung ia menyampaikan alasan tidak hadirnya aku malam ini. Semua orang mengangguk, tetapi hanya kedua orangtua dan para wanita ritual yang sungguh-sungguh paham. Kakak-adik dan Rere juga tahu, tetapi mereka tidak sungguh paham tentang rangkaian ritual yang sesungguhnya.




Setelah ayah, giliran mamah yang berbicara.




“Mamah ingin, agar kita melupakan apa yang terjadi beberapa hari ini. Kalian berdua tidak boleh salah paham lagi. Ayah.. mamah… menyayangi Kekey, Nzi, dan juga Rei secara sama. Kebetulan Rei yang sedang meninggalkan kita, seandainya bukan Rei yang pergi, tapi amit-amit.. Kekey atau Nzi, mamah juga pasti akan merasakan kesedihan yang sama, kehilangan yang sama, dan rindu yang sama.” ujar mamah.




Kakak dan Nzi langsung bergeser dan memeluk mamah, Nzi bahkan menangis penuh sesal.




Oma Alya dan Oma Ewer mengangguk sambil tersenyum, meski begitu air mata keduanya berlinang. Sepertinya mereka sudah diberitahu tentang pertengkaran yang tempo hari terjadi di dalam rumah ini.




Sebagai seorang kakak yang sangat mengenal Nzi aku paham, Nzi tidak sungguh-sungguh memvonis mamah sebagai ibu yang pilih kasih. Ia hanya tidak tahan menahan rindu padaku. Ia juga tidak tahan melihat mamah yang terus-terusan bersedih. Ia ingin mengingatkan mamah, tetapi caranya saja yang salah.




“Maafkan aku, Mah. Hiiks…” isak Nzi.


“Iyah.. mamah selalu memaafkan anak-anak mamah seandainya pun tidak diminta. Lagian kalian tidak pernah berbuat salah apa-apa. Mamah bangga pada kalian bertiga. Mamah menyayangi kalian.” kali ini mamah menempatkan diri sebagai seorang wanita terpilih. Tidak rapuh seperti selama ini. Ia menunjukan kehebatannya sebagai ‘ratu’ atas Sawer dan Ewer.




Para wanita berkaca-kaca, tak terkecuali Inka. Bahkan si tomboy Rana pun mengusap ujung matanya. Yang paling histeris malah Rere, tiba-tiba ia menangis, lebih keras dari pada Nzi. Ayah mengusapi punggung Rere, dan Tante Maya lebih cepat daripada Tante Nur untuk memeluk dan menenangkan Rere.




Aku tidak paham, kenapa Rere bisa histeris begitu. Toh Rere tidak ada ketika terjadi pertengkaran kala itu.




Suasana sejenak berubah haru dan bahkan pilu. Bi Epah pun tak sanggup melihat kesedihan keluarga majikannya, ia langsung pergi ke dapur.




Suasana haru membuatku hampir tak tahan menitikan air mata. Tetapi Indra selalu mengingatkanku dengan menginjak atau menyenggol lengan. Yeah.. dialah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu identitasku yang sesungguhnya.




Setelah semuanya kembali tenang, kulihat Rere berbisik pada Nzi. Adikku nampak sewot tetapi tetap mengangguk menyanggupi.




Mamah pun melanjutkan sambutannya. Bangga, cinta, dan rindu ia sampaikan. Setelahnya kedua oma kami dan opa yang bergantian memberi wejangan. Oma Ewer malah memastikan bahwa aku baik-baik saja, seolah ia sungguh tahu, padahal mengenalku pun tidak.




Ayah meminta kakak, Nzi, dan Rere memotong kue. Tetapi kakak mengundang juga Inka dan Rana. Jadilah kelima gadis itu memegang pisau bersamaan dan memotong kue.




“Potongan pertama untuk siapa, nih?” celetuk Rana.


“Rere donk,” ujar Inka.




Nzi sudah membuka mulut pertanda tidak setuju, tetapi Rere sepertinya paham dan langsung membuat keputusan. “Potongan pertama biar untuk mamah dan ayah saja. Rei adalah sosok pemersatu keluarga kita, jadi tidak boleh lagi ada konflik di antara kita karena Rei.”




Semua mengangguk setuju, senyum bangga pun nampak terulas pada setiap yang hadir. Kecuali Nzi tentu saja.




Dalam keadaan normal aku juga pasti akan bangga pada kekasihku, tapi tidak kali ini. Aku tidak tahu, apakah Rere benar-benar tulus atau hanya sedang bersandiwara belaka. Apa yang telah kami lakukan, apa yang kulihat di kantornya, kemarahannya, dan juga tidak adanya niat untuk meluruskan persoalan diantara kami berdua membuat perasaanku gamang. Hati dan pikirku dipenuhi oleh tanda tanya dan kecurigaan.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar