Sang pewaris part 37

 

Bab 37

Sekitar dua puluh tujuh menit kemudian, aku dan Tante Wulan kembali turun ke lantai dua. Nampak Dante sedang duduk lemas tak bertenaga, sepertinya ia telah berusaha untuk melepaskan diri tetapi sia-sia. Darah pada pelipis dan ujung bibirnya pun sudah agak mengering.

“Bajingan.. Dasar sopir bangsat!!” tetap saja mulutnya masih tajam dan matanya melotot ke arahku.

“Tante Wulan, aku mohon lepaskan aku. Sadarlah, Tante. Si Iba ini hanya seorang sopir yang tidak tahu diuntung. Jangan mau diperdaya oleh dia.” kali ini ucapannya ditujukan pada wanita yang sedang kugandeng.

Aku dan Tante Wulan sama-sama tersenyum. Tanpa peduli pada pemuda itu, kami berdua saling menatap mesra, saling melempar senyum manis, dan diakhiri kecupan tipis. Teramat mesra kami melakukannya.

Bahkan Tante Wulan semakin menggelendot manja dengan melingkarkan kedua tangannya pada leherku. Bibir kami kembali beradu, saling mengecup lembut, sekali-kali diselingi juluran lidah.

“Bangsat!!” cumbuan kami terhenti ketika mendengar makian frustasi dari Dante.

Aku dan Tante Wulan sama-sama melirik ke arahnya.

“Apa mau kalian?” suara Dante mulai lemah.

Kubimbing tubuh Tante Wulan untuk duduk di atas sofa panjang. Kami berdua duduk menghadap Dante.

“Hapus file persetubuhanmu dengan Tante Wulan.” ujarku tegas.

“Lepaskan dulu ikatanku. Filenya ada di handpone.” jawabnya.

Penampilanku adalah seorang Iba, tetapi otakku adalah seorang Rei. Tidak semudah itu ia bisa memperdayaku.

Kuambil celana panjang Dante yang tergeletak di atas karpet dan kukeluarkan smartphonenya. Rupanya ia menggunakan security finger print. Tanpa banyak kata, langsung kutempelkan pada jari jempolnya.

Plaaak!!!

Tamparan keras kudaratkan ketika ia meronta. Setelah beberapa kali kucoba akhirnya kunci smartphonenya terbuka. Dengan cepat kulakukan beberapa langkah untuk mengganti kunci pengaman, beberapa kali pula kutempelkan jempol tangannya pada smartphone, lalu pada sidik jariku setelahnya. Selesai!

Aku kembali duduk di atas sofa. Tante Wulan ikut memeriksa isi smartphone Dante sambil menyadarkan kepalanya pada bahuku. Kubuka folder gallery. Nafas Tante Wulan langsung tersengal ketika melihat banyak foto mesra antara Dante dan seorang gadis. Aku ikut tersengal karena amarah.

Ada begitu banyak foto yang memamerkan kemesraan antara Dante dan Nzi. Aku bukan hanya marah pada Dante, tetapi juga pada adikku yang tanpa malu membalas cumbuan Dante sambil selfie.

“Kampret!!” gumamku.

Kubuka folder video. Tante Wulan langsung terbelalak dan menutup mulutnya yang auto menganga. Ada beberapa adegan syur di sana. Aku yakin si pria adalah Dante, tetapi ia cukup pandai dengan tidak menampilkan wajahnya. Kupretnya… si wanita bukan hanya satu, tetapi ada beberapa wanita mulai dari tante-tante sampai perempuan muda.

Tanganku gemetar membuka file satu per satu. Aku dan Tante Wulan tidak menonton penuh, melainkan hanya membuka file untuk melihat siapa yang ada di dalamnya. Tegang dan amarah bercampur menjadi satu. Aku takut jika ada adegan mesum dengan adikku di sana.

Total ada tujuh file video, dan baru kubuka empat file. Kubuka file kelima. Jreeeng… adegan panas antara Tante Wulan dan Dante terpajang. Nampak Tante Wulan sedang menggenjot penis Dante dengan posisi woman on top. Wanita itu mengerang-erang liar.

Kulirik Tante Wulan. Wajahnya merah padam. Tidak enak hati, langsung kubuka file keenam.




“Setan…” aku dan Tante Wulan berteriak bersamaan pada Dante.




Tante Wulan marah karena video yang menampilkan dirinya, sedangkan aku marah karena video keenam. Tante Wulan langsung memburu Dante dan menampari pemuda itu penuh amarah. Ia tidak melihat video yang sedang kutonton.




“Bajingan kamu, Dante. Setan…” Tante Wulan begitu murka memaki pemuda itu, kata-kata kasar keluar dari mulutnya.




Sisanya aku tidak terlalu menyimak, aku tetap fokus pada smarthphone. Meskipun penuh amarah, aku masih menyisakan sedikit akal sehat. Waktuku sangat terbatas. Kubackup semua video dan beberapa foto dan kukirim ke dalam icloud milikku.




Aku juga sadar, bisa saja Dante menyimpan file-file ini di tempat lain. Maka aku segera mengganti semua password aplikasi yang ada di sana. Cloud drive.. email.. dan beberapa aplikasi lainnya. Tentu saja dengan menempelkan kembali jari dante ketika ada permintaan konfirmasi.




Kesibukanku membuat aku tidak sadar pada apa yang sedang terjadi. Tante Wulan sudah tidak lagi menggampar dan memaki Dante, ia duduk sambil menangis. Kedua tangannya mengatup wajah.




Sedangkan wajah Dante sendiri sudah penuh lebam karena tamparan-tamparan Tante Wulan. Kedua ujung bibirnya kembali mengeluarkan darah segar. Ia hanya bisa merintih kesakitan.




Kuletakan smartphone di atas meja. Kudekati Tante Wulan dan kupeluk erat. Ia menangis; segukan dalam dekapanku.




Amarahku pada Dante sejenak teredam. Ada perasaan asing yang datang. Sesal menghampiri. Aku datang pada kehidupan Tante Wulan dengan tujuan yang tidak baik. Aku hendak membantu Enzo sahabatku. Membantu membalaskan dendamnya, dan mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Aku rela berkorban untuk itu. Rela mengkhianati Rere. Tapi kini…




Wanita itu bukanlah wanita jahat seperti yang kubayangkan. Wanita dalam pelukanku ini adalah seorang wanita rapuh yang kesepian; wanita rapuh yang menjadi korban pemerasan.




Dalam diamku, rasa bersalah pun menghampiri. Dalam arti tertentu, aku tidak ada bedanya dengan si bangke Dante. Aku memasuki kehidupan pribadi Tante Wulan untuk memanfaatkannya, dan bahkan menghancurkannya.




Pelukanku kini berbeda. Bukan dekapan palsu, melainkan peluk sayang dan sesal. Tanpa terasa mataku terasa panas. Kukecupi kepala Tante Wulan, kubelai rambutnya. Tanpa kata.




“Maafkan aku, Tante.” aku membatin sambil mengecup keningnya.




Kubiarkan Tante Wulan menuntaskan emosi dan tangisnya. Akhirnya Tante Wulan mengurai pelukan, wajahnya tengadah. Kuberikan senyumku, kuusapi wajahnya yang bersimbah air mata. Ia tersenyum lemah. Tangannya menggenggam pergelangan tanganku.




Sejenak kami berdua melupa. Lupa pada Dante. Kini seakan hanya kami berdua yang ada.




Belaianku tulus kali ini, dan sepertinya Tante Wulan merasakan itu. Ia begitu meresapi. Nampak begitu nyaman dan tenang. Binar bahagianya pun secara perlahan terpancar kembali.




Sejentik air mata kembali menyembul pada ujung matanya. Keluar karena desakan rasa haru. Kuusap. Aku merunduk, ia memejamkan mata. Kukecup keningnya, ia mengeratkan pelukan.




“Aaarrrgggh…”




Bukan Tante Wulan yang mengerang, melainkan Dante. Aku dan Tante Wulan bertatapan, lantas serempak melirik pemuda itu sambil tertawa kecil.




“Ini adalah untuk terakhir kalinya aku melihatmu.” geram Tante Wulan pada Dante. Kilat matanya berubah.




Tanpa menunggu jawaban, ia kembali menatapku, nafasnya sedikit memburu. Gesit ia bergerak dan langsung duduk di atas pangkuanku dengan posisi mengangkang. Kedua paha putihnya langsung terpajang.




Tante Wulan langsung mencumbuku dengan nafsu memburu. Kusambut. Kami berdua langsung saling berpagutan dengan panas. Lidah kami saling membelit basah.




Tanganku merambat turun dari pinggangnya. Lantas pindah membelai dan meremas kedua paha indah Tante Wulan. Tubuhnya menggelinjang-gelincang kecil tanpa melepas cumbuan. Remasanku semakin naik sekaligus mendorong tepian gaunnya hingga ke pinggang.




Langsung kuremas dua bongkahan pinggulnya yang memang sejak awal tidak memakai celana dalam.




“Mmmmh…” ia melenguh di sela cumbuan.




Lumatannya semakin panas, kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan. Duduknya semakin gelisah.




Di sela cumbuan aku masih bisa melirik ke arah Dante. Pemuda itu masih meringis kesakitan dan berusaha melepaskan ikatan, tetapi matanya selalu tertuju ke arah kami berdua.




Aku kembali fokus pada Tante Wulan. Kuimbangi cumbuannya. Hanyut… larut… gerah… panas… Di luar kendali dan kesadaran total, kami sama-sama menanggalkan pakaian. Saling menindih bergantian di atas sofa, tangan tak hentinya saling mengusap dan meremas, mulut pun enggan pisah.




“Aaaahhh…” Tante Wulan kehabisan nafas, ciumannya terlepas.




Kesempatan ini kupakai untuk menikmati bagian tubuhnya yang lain. Cumbuanku turun pada lehernya yang sudah lembab. Tubuhnya melenting ketika bibirku tiba pada pucuk payudaranya. Langsung kukulum puting hitamnya (yang cukup kontras dengan warna kulitnya yang putih), sedangkan kedua tangan meremas. Tante Wulan memekik kecil sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.




Lidahku bisa merasakan betapa keras dan tegangnya puting Tante Wulan. Pertanda bahwa ia sangat terangsang. Kukulum, kugigit kecil, dan kutarik dengan jepitan bibir. Bergantian kiri dan kanan.




Sementara tangan kanan meremas gundukan kenyal payudaranya, tangan kiri mulai beraksi di area selangkangan. Kuusapi bulu kemaluannya yang lembut, kuusapi juga bagian dalam pahanya. Tetapi aku belum menyentuh vaginanya. Aku ingin Tante Wulan kalap karena birahinya.




Kurasakan tangan Tante Wulan terulur untuk menggapai penisku. Dengan sigap aku melorot turun, ciumanku sudah sampai pada pusarnya. Tante Wulan pun tidak bisa menggapai ‘kang pepen’ jagoanku.




Tante Wulan mendengus. Ia mengubah posisinya. Duduk mengangkang di atas sofa, sedangkan aku bersimpuh di atas lantai.




Pandanganku langsung nanar melihat kemaluan Tante Wulan yang menggairahkan. Kedua bibir vaginanya terbuka, dinding dalam merah dan basah terpajang. Lubang senggamanya nampak lebih pucat dan keriput, berkedut-kedut. Semakin seksi karena berhiaskan mahkota hitam yang tercukur rapi. Menyerupai gunungan wayang.




Aku merunduk. Kuhembuskan nafas panas. Pori-pori sekitar bulu kemaluannya nampak membuka, lubang vaginanya makin berkedut.




Tangan Tante Wulan meremas rambutku, pinggulnya pun terangkat. Aku tahu apa yang ia mau, tapi inginku saat ini adalah berbeda. Lidahku terjulur basah, kusapu bulu jembutnya. Pantatnya kembali terhempas seiring dengusan resah karena desakan gairah.




Persuwiran pun kumulai. Bulu-bulu jembut Tante Wulan kusapu ke berbagai arah dengan lidah, dan kurapikan kembali dengan lidah yang sama. Sekali-kali kujepit ujung-ujung bulunya dan kutarik. Tante Wulan hanya bisa melenguh pasrah.




Tapi ia tidak kalah akal. Kedua kakinya naik ke tepian sofa, sehingga vaginanya semakin terangkat dan aku harus menaikan wajah untuk tetap bermain pada area persuwirannya. Efeknya, daguku menyentuh klitorisnya yang mengkilat berminyak.




Tangannya pun menghentak kepalaku dan mendorong ke bawah. Pinggulnya terangkat meminta vaginanya dijilat. Aku mengalah. Lidahku kembali terulur. Kusentuh dan kugelitik klitorisnya. Terasa keras.




“Aaaah…” pekiknya.




Tadi minta kusentuh, tetapi ketika ketika kucucuk dengan lidah ia tidak tahan sendiri. Pinggul lebarnya kembali terhempas di atas sofa. Satu kaki tak lagi kuat menyangga, menggelosor menapak lantai.




Langsung kukulum klitoris mungil Tante Wulan, bersamaan dengan itu kedua tangan tejulur ke atas, meremas kedua payudaranya.




Tante Wulan mulai meracau. Nikmat sangat ia rasakan, dan ia tahu, ada kenikmatan yang lebih dari itu yang akan ia dapatkan. Menanti moment itu sangatlah mendebarkan, sekaligus menggairahkan.




“Uuuh.. sayang.. geliiii…” ia merintih memohon.




Tubuh Tante Wulan memang memabukan, dan rintihannya meninggikan birahi. Ciuman dan permainan lidahku pun berpindah. Lubang senggamanya menjadi permainanku. Kuhisap cairan basah yang ada di sana, lantas kusisir segala sudut dan dinding dengan permukaan lidah.




“Mmmh.. oooh… ooh… sssh….” Tante Wulan kian meracau.




Lidahku terjulur semakin panjang. Kubuka bibir vaginanya lebar-lebar, lalu kucucuk gerbang senggamanya yang mengkerut berkedut. Tante Wulan menggelinjang hebat. Ujung lidahku bagai dihisap, tersedot ke dalam.




Racauan birahi Tante Wulan membuat birahiku sendiri semakin tinggi. Segala daya kulakukan untuk memuaskan wanitaku. Lidah, bibir, dan bahkan gigi kugarukan pada lubang kenikmatannya. Tante Wulan semakin tidak terkontrol dan…




“Aaaarggghhhh… bucaaaat….” pekiknya memenuhi seluruh ruangan.




Cairan putih kental pun meluber keluar. Kuhisap dan kutelan.




Tante Wulan terkejat-kejat sebentar, tubuhnya tegang. Lantas terhempas lemas. Menggerakan tubuh pun sepertinya sudah tidak mampu. Aku berdiri, kubaringkan tubuh polosnya, juga kuangkat dan kuluruskan kedua kakinya. Aku ikut berbaring setengah menindih. Kubelai tepian rambutnya yang basah oleh peluh. Ia membuka mata sebentar sambil tersenyum manis. Kembali terpejam dengan nafas tetap terengah.




Kubiarkan Tante Wulan berisitirahat sambil menikmati sisa orgasmenya. Tanganku tak henti membelai wajahnya. Tante Wulan nampak begitu meresapi, ia merasa telah menjadi wanita sejati.




Lantas sendu matanya terbuka. Menatapku. Kubalas. Seulas senyum saling kami sunggingkan. Lalu kukecup lembut bibirnya. Ia membalas.




Awalnya hanya kecupan-kecupan dan kuluman lembut, namun kembali saling melumat ketika birahinya bangkit kembali.




“Eh…” gumamnya.




Ia melepaskan cumbuan sambil melirik ke samping. Aku mengikuti arah pandangan matanya. Kini aku kembali sadar bahwa kami tidak sedang berdua. Ada Dante tak jauh dari kami. Pria itu nampak begitu menderita. Bukan hanya karena merasa sakit, tetapi juga karena ikut bergairah melihat percintaan kami.




“Sebentar, sayang.” bisik Tante Wulan.




Tante Wulan bangkit. Tanpa sungkan ia melenggang mendekati pemuda itu dengan tubuh telanjang. Kulihat Dante menelan liur, nafasnya tertahan. Matanya tertuju pada payudara dan selangkangan Tante Wulan bergantian.




Aku duduk di atas sofa sambil mengusap-usap ‘kang pepen’ yang sudah sangat tegang. Aku memintanya untuk sabar dan jangan muntah dulu.




Tante Wulan berubah menjadi binal. Ia mengangkang di depan Dante, payudara besarnya bergelantungan tepat di depan wajah pemuda itu, hanya berjarak beberapa senti. Tante Wulan pun bergoyang tanpa menyentuhkan kulit sama sekali. Dante nampak marah sekaligus bergairah.




Puas menggoda dan mengerjai Dante, Tante Wulan langsung membuka ikat pinggang dan melorotkan celana pemuda itu. Cukup kesulitan karena posisi Dante yang duduk terikat, ditambah ia menolak meronta.




Dante baru terdiam ketika telapak tangan halus Tante Wulan menamparnya.




“Anjiing.” maki Dante.




Tante Wulan tidak peduli. Ia terus berusaha menelanjangi bagian bawah tubuh pemuda itu. Celana itu pun melorot. Penis Dante mencuat pertanda memang terangsang.




Kulihat Tante Wulan mencibir. Ditiupnya kepala penis Dante, lalu kembali melenggang menghampiriku. Mau tak mau aku ikut tertawa kecil. Tetapi jauh lebih besar tawaku daripada ukuran penis pemuda itu.




Tante Wulan mengecup bibirku mesra. Lantas gantian, kali ini ia yang bersimpuh. Sinar matanya berbinar ketika menggenggam penisku. Aku meringis nikmat.




Ia mulai mengocok sambil menatapku penuh nafsu. Ujung bibirnya ia gigit. Kuulurkan tangan. Juntaian rambutnya kupindahkan ke belakang.




Lidah Tante Wulan pun terjulur, menyapu kepala kang pepen. Sambil mengoral ia melirik ke arah Dante dengan senyuman sinis. Seolah meledek ukuran penis pemuda itu yang kalah besar oleh punyaku.




Aku tersenyum bangga. Lantas terpejam merasakan nikmat.




Tante Wulan benar-benar memuaskanku. Mulut dan tangan bekerja bersamaan. Kuluman dan kocokannya berirama. Tak jarang ia menghisap batang kang pepen dalam-dalam sambil meremas telur puyuh si akang.




Sepertinya Tante Wulan ingin memuaskanku dengan mulutnya, ia ingin aku orgasme. Namun sia-sia. Wajahnya sudah merah padam pertanda bekerja keras, tetapi kang pepen tetap saja gagah.




Tante Wulan menyerah. Ia bangkit dengan aura birahi sangat jelas terlihat. Ia langsung mengangkang dan mendudukiku dengan posisi membelakangi, menghadap Dante.




Kugenggam batang kang pepen agar tidak nengok kiri-kanan, sedangkan Tante Wulan mengarahkan lubang kewanitaannya sambil berpegangan pada kedua lututku. Setelah pas, ia pun menurunkan pinggulnya. Cleep.. cleeep…




Tante Wulan berhenti sebentar sambil mengerang. Aku menahan nafas merasakan nikmat.




Celeeep… cleeeeeeeb. Tante Wulan menghempaskan pinggulnya, penisku terbenam.




“Aaaahhh…” erang kami bersamaan.




Tante Wulan terdiam sebentar, sedangkan aku langsung meremas kedua payudaranya. Wanitaku menggelinjang, dan tak lama kemudian menaik-turunkan pinggulnya.




Kami langsung hanyut dalam persenggamaan yang panas dan penuh nikmat. Aku terbuai oleh pompaan Tante Wulan, yang berpadu dengan goyangan memutar. Lantai dua villa pun menjadi gaduh oleh ceracauan dan jerit nikmat.




Plaaaak!!!




“Wadau…”




Aku membuka mata mendengar sebuah teriakan. Rupanya Tante Wulan memukul penis Dante yang ikutan tegang oleh pemukul lalat. Penis mini itu pun auto memerah dan menciut. Sial.. melihat penis Dante malah membuat nafsuku mengendur. Segera kualihkan konsentrasiku kembali pada tubuh Tante Wulan. Kuimbangi goyangannya; tanganku terus meremas.




Merasa lelah, Tante Wulan melepaskan penisku dan membalikan badan. Serba terburu ia kembali mengangkangiku. Kini kami bersenggama berhadapan, sambil mendekap erat. Sekali-kali kutahan bahunya ketika ia melenting ke belakang.




Khusyuk.. masyuk… riuh.. gaduh… kami terus bercinta dengan berbagai gaya. Tiga orgasme sudah Tante Wulan dapatkan, tetapi ia belum mau menyerah untuk mengalahkan kang pepen yang begitu gagah.




Kenikmatan puncak yang kutunggu pun datang. Orgasmeku sudah mendesak. Bersamaan dengan itu, Tante Wulan mulai kalap. Aku tahu, orgasme hebat akan ia dapatkan. Percintaan semalam membuatku tahu, ini bukan orgasmenya yang biasa.




Kukocok penisku dengan cepat. Tante Wulan memekik keras. Sial.. Tante Wulan terlalu cepat, sedangkan kang pepen baru menggodok lahar di dalam.




“Bucaaaaat… aaaarrrhhhh…” pekik Tante Wulan.




Segera kucabut penisku.




Cuuuurrr… crrrraaat….




Tante Wulan squirt. Cairan nikmat dan air kencing menyembur menjadi satu. Paha dan kakiku basah oleh semburannya yang deras. Tante Wulan tak mampu lagi bersuara, tetapi tubuhnya kejang-kejang dan bergetar hebat.




Tak mau menunggu, kembali kutancapkan kang pepen. Kedua bola mata Tante Wulan mendelik putih, dan kuku-kukunya mencengkeram dan menusuk bahuku. Langsung kuayunkan pinggulku, rintihan ampun tak lagi kudengar. Orgasmeku sendiri sudah mendekat.




Yang kumau pun tiba, aku orgasme. Gantian, kali ini spermaku yang mengalir deras. Memenuhi lubang vagina dan rahim wanitaku. Deras.. panas…




Di luar dugaan, rupanya Tante Wulan pun hendak squirt kembali. Dengan sisa tenaga yang ada segera kucabut kang pepen. Kuangkat tubuh kejang Tante Wulan. Susah payah aku membuatnya berdiri menghadap Dante yang sedang terbelalak.




Tubuh Tante Wulan bergetar hebat, kedua kakinya tak mampu menahan dengan sempurna. Tetapi kutahan sambil memeluk dari belakang. Tangan kiriku turun. Kukocok vagina Tante Wulan dengan dua jari sekaligus. Kukocok dan kukobel dengan cepat.




“Aaaaaaarrhhh… bucat enaaaak… uuuhhh…”




Sssrrrr… seeerrr… craaaat… cuuuurrr… Tante Wulan squirt kembali, menyembur tepat pada wajah dan dada Dante.




“Anjiiiing!” maki pemuda itu.


“Kontooool..” teriak Tante Wulan jorok.




Akhirnya Tante Wulan ambruk. Aku hanya punya sedikit tenaga untuk menyangganya. Kami berdua ambruk di atas karpet. Terkulai tak bertenaga.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar