Bab 36
Tante Wulan yang nampak alim dan lembut, ternyata sangat binal di atas ranjang. Aku nyaris kepayahan, dan energiku terkuras habis. Aku terjaga tanpa tahu jam berapa. Kupicingkan mata karena wanita yang tadi orgasme terkencing-kencing sudah tidak lagi memelukku.
Rupanya ia sudah bangun dan sedang berdiri di depan layar televisi lebar yang menampilkan tangkapan kamera CCTV. Tubuhnya yang masih polos nampak gelisah. Tanpa ia sadari, aku mengucek mata untuk memulangkan kesadaran. Pada layar terpampang sebuah sedan sedang memasuki pekarangan.
“Dante!!” desis Tante Wulan.
Sejatinya aku ingin bangun dan bersiap sembunyi. Tetapi mendengar Tante Wulan menyebut nama siapa yang datang, aku pura-pura tidur kembali. Ini adalah kesempatan untuk mengenyahkan pemuda itu, sekaligus merebut Tante Wulan. Wanita itu pasti akan tunduk padaku jika aku tahu rahasia pribadinya yang doyan daun muda.
Dari sudut mataku nampak Tante Wulan buru-buru mengenakan pakaian dan merapikan rambut dan wajahnya di depan cermin. Ia nampak begitu panik.
Terburu ia mendekatiku seperti hendak membangunkan, tapi urung.
“Iba.” suaranya terdengar.
Aku tak bergeming. Kurapatkan mataku.
Tiga kali panggilan lagi terdengar, tetapi aku bertahan dengan tetap pura-pura tidur. Tante Wulan sudah tidak punya banyak waktu. Hembusan nafasnya terdengar, lalu setengah berlari meninggalkan kamar.
Aku baru benar-benar bangun ketika terdengar pintu kamar ditutup dari luar. Kukenakan pakaianku dengan terburu, kuraih juga handphoneku. Perlahan aku mengendap keluar kamar. Terdengar percakapan di lantai dasar.
Setelah yakin aman aku menuruni tangga menuju lantai dua. Nafasku tersengal ketika berusaha mengintip ke bawah.
Nampak Tante Wulan sedang berdebat dengan Dante.
“Kenapa Tante susah dicari? Tante ke sini dengan siapa? Apa dengan lak-laki lain?” cecar pemuda keparat itu.
“Tidak, sayang.” Tante Wulan berkilah. “Tante nginap di sini karena sedang ingin menyendiri, di rumah banyak masalah.”
“Tante pasti bohong!! Tante pasti kegatelan bawa lelaki lain ke sini!” Dante tidak percaya.
“Masa tante bohong sih? Selama ini hanya ada kamu dalam hati tante. Hanya kamu yang bisa membuat tante bahagia.” Tante Wulan berdrama dan mulai menitikan air mata.
“Aku baru percaya kalau sudah bisa membuktikannya!” Dante mulai kehilangan sopan santun pada wanita yang selama ini telah memenuhi segala kebutuhannya.
“Sayang!” Tante Wulan panik ketika Dante melangkah menaiki anak tangga. Ia memeluk Dante dari belakang untuk menahan. Sikap Tante Wulan tentu saja malah membuat pemuda itu semakin curiga. Dengan kasar ia melepaskan pelukan Tante Wulan.
Dante berlari menaiki anak tangga, Tante Wulan menyusul dari belakang. Aku segera menyelinap, bersembunyi di balik gorden salah satu dinding kaca.
Pertengkaran hebat terdengar. Kata-kata kasar saling mereka ucapkan. Apapun itu, intinya Tante Wulan membantah bahwa ada laki-laki lain di villa ini, sekaligus berusaha mencegah agar Dante tidak naik ke lantai tiga.
“Dasar perek!! Kau tidur dengan siapa, hah?!” bentak Dante.
Aku yang bersembunyi pun langsung tersulut emosi mendengarnya. Kusingkap gorden untuk mengintip.
“Kamu!!!” Emosi Tante Wulan tersulut, tangannya melayang untuk menggampar mulut Dante.
Namun pemuda itu sigap menangkap pergelangan tangan Tante Wulan. Wanita itu meronta dan mulai memaki-maki. Ia tidak terima dipanggil perek oleh pemuda yang selama ini telah memanfaatkannya.
“Bangsat kamu!! Kurang ajar!! Ingat, kalau bukan karena tante kamu bukanlah siapa-siapa!!” jerit Tante Wulan. Ia mulai menangis histeris.
“Hahaha… jadi tante mau menyingkirkanku?! Hahaha.. ingat aku masih punya rekaman persetubuhan kita yang bisa kuberikan kapan saja kepada suami dan anak-anakmu!” Dante menjawab dengan pongah penuh intimidasi dan acaman.
“Bajingan kamu…!!!” Tante Wulan kian marah, tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Dari pertengkaran mereka aku langsung paham bahwa hubungan mereka sesungguhnya tidaklah harmonis. Tante Wulan memenuhi semua keinginan Dante hanya karena ia diancam.
“Bangsat!!!” kini malah aku yang memaki meski hanya di dalam hati. Bayangan adikku langsung terlintas.
Merasa berada di atas angin, Dante menyeringai penuh kemenangan. Ia segera berlari menaiki anak tangga. Tante Wulan menyusul sambil menangis.
Sial!! Kini malah aku yang tertahan. Jika aku ikut menyusul malah beresiko ketahuan. Bertahan adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.
Aku bisa membayangkan betapa paniknya Tante Wulan ketika Dante memaksa memasuki kamar, sekaligus akan merasa sangat lega ketika aku sudah tidak ada di sana. Ah.. aku tidak melihatnya. Bisaku hanya mendengar samar-samar perdebatan, yang perlahan-lahan nada tinggi mereka menjadi wajar.
“Tante kan sudah bilang kalau tante itu hanya ingin menyendiri. Kamu kok mikirnya jahat banget sih?” terdengar suara Tante Wulan mendekat. Keduanya kembali menuruni tangga.
“Maafkan aku, Tante. Tadi aku keburu emosi karena cemburu. Aku sangat sayang, Tante.” si bajingan itu kembali merayu. Kuyakin Tante Wulan tersenyum mendengarnya walaupun hatinya pasti penuh cacian dan kutukan.
“Terus kamu mau kemana sekarang?” tanya Tante Wulan.
“Mau pulang, kan Tante juga sedang ingin sendiri.” jawabnya.
“Temani tante malam ini.”
Tante Wulan cukup cerdas untuk meyakinkan Dante bahwa ia memang sedang sendiri. Sebuah pilihan beresiko jika saja aku menampakan diri.
“Bukan aku tidak mau, Tanteku sayang. Besok aku ada kuliah pagi. Tante tahu sendiri macetnya Setiabuhi kalau jam masuk kerja.” Dante berkilah.
Dugh.. dugh.. dugh…
Jantungku kini yang berdetak kencang. Rupanya Dante belum percaya begitu saja. Ia mengurungkan niatnya menuruni tangga dan memilih untuk mengelilingi lantai dua. Dari tempatku mengintip terlihat ekspresi Tante Wulan yang kembali panik.
Sial… Tante Wulan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Ia mulai menggoda Dante dengan menggelendot manja memeluk pemuda itu. Itu menjadi satu-satunya cara yang ia pakai untuk mencegah Dante memeriksa seluruh ruangan dalam villa ini. Mungkin Tante Wulan berharap, aku akan melarikan diri ketika mereka sedang bercumbu rayu. Kalau memang begitu, wanita itu salah. Justru aku menunggu moment itu.
“Puaskan tante dulu sebelum kamu pergi, sayang.” Tante Wulan semakin melancarkan rayuan palsunya.
Senang dan kesal pun bercampur dalam perasaanku. Kulihat Dante luluh dan tergoda. Ia membalas pelukan Tante Wulan dan mengusap rambutnya. Bibirnya mengecup kepala wanita itu.
Aku tahu Tante Wulan tidak sedang senang diperlakukan seperti itu. Dan ia pasti akan semakin tidak senang seandainya mengetahui kilatan mata pemudanya. Yang ada di sana adalah seringai kemenangan, bukan ungkapan rasa sayang.
“Maafkan aku atas kata-kata kasarku tadi, ya tanteku sayang. Aku benar-benar menyesal, dan tidak akan mengulanginya lagi.” ujar Dante.
Tante Wulan mengangguk dalam pelukan pemuda itu.
Dante langsung mengangkat wajah Tante Wulan dan mencumbunya. Sangat jelas terlihat ekspresi Tante Wulan ketika membalas. Ia melakukannya dengan sangat terpaksa.
“Bayangkan bahwa Tante sedang bercumbu denganku, Tante.” batinku. Aku seolah sedang mentransfer energi.
Uniknya.. Tante Wulan seolah bisa mendengar. Ia mencumbu Dante dengan luwes, tidak sekaku sebelumnya.
Dante membimbing Tante Wulan menuju sebuah sofa tanpa melepas cumbuan. Tangannya mulai liar menggerayangi tubuh seksi wanita itu. Tak sampai lima menit, Tante Wulan sudah telanjang bulat, sedangkan Dante menyisakan celana dalam.
Tubuh Tante Wulan melenting-lenting dan mulai meracau ketika Dante mencumbu kedua payudaranya. Tante Wulan sepertinya mulai terbuai, rasa nikmat pada tubuh mengkhianati kebenciannya. Ia mulai terlena.
Mulut Dante semakin turun menuju vagina Tante Wulan. Dasar amatir.. ia tidak pandai menyuwir mahkota hitam yang halus dan terawat itu. Lidahnya langsung menuju lubang kenikmatan si tante.
Boro-boro nafsu melihatnya, aku malah menyeringai penuh kemenangan di balik persembunyian. Aku berharap Tante Wulan belum mencuci vaginanya sehingga Dante malah menjilati sisa spermaku. Semoga si bangke itu keracunan dan lidahnya mati rasa selamanya. Jika perlu impoten forever.
Aku mengijinkan Dante menjilati vagina marem Tante Wulan, kubiarkan pula wanita itu kelejotan sambil mengerang kenikmatan. Tetapi ketika Dante mulai menurunkan celana dalamnya, aku tidak Rela. Vagina Tante Wulan sudah menjadi milikku. Dante tak boleh lagi mengambil jatah.
Dengan segera kukantongi handpone yang sedari tadi kupakai merekam adegan di depanku.
Huufffff…
Aku meloncat keluar dari persembunyian, tetapi kaki keserimpet karpet.
Bruuuukkkk!!! Aku ambruk di atas lantai.
“Hiyaaaaaa…” Tante Wulan menjerit sambil menutupi bagian intim tubuhnya.
“Siapa kamu?!” Dante gelapan berdiri sambil menaikan kembali celana dalamnya untuk menutupi kembali penisnya yang hanya sebesar kelingking Sawaka.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa ngilu pada dagu yang menghantam lantai.
“Iba?! Kamu!!!” akhirnya Dante menyadari identitasku.
Wuuuuutttt!!! Buuuuk!!!!
Aku menjawab dengan pukulan. Tinjuku sukses menghantam dagunya.
“Du di du dam dam dam dudidaaaammmm!!!” teriak Dante kesakitan.
Tubuhnya terjengkang. Kepalanya membentur ujung sofa.
“Anjiiiinggg!!” erangnya.
Aku merunduk. Maksud hati ingin menarik kerah bajunya. Aku lupa kalau ia masih telanjang dan hanya memakai celana dalam. Maka tanganku berpindah menjabak rambut.
Tante Wulan menjerit hendak mencegah, tapi kuberi kode dengan lirikan pada vaginanya yang masih basah karena lidah Dante. Wanita itu nampaknya sadar kalau masih telanjang, ia segera mengambil gaun tidurnya.
Sial.. dengan begitu aku kehilangan kewaspadaan. Dante yang meronta dan tinjunya berhasil menghantam perut.
“Heeeeekkkk!!!” aku terhuyung.
Jambakanku lepas, akibatnya Dante juga ikut terhempas.
Cuiiiih!!!
Kuludahi si kampret itu.
Buk.. buk… buuuuk… tanpa memberi kesempatan tinjuku menghantam dada dan dagunya.
“Aaararrggghh… kunyuuuuk… sopir tak tahu diuntung…” Dante hanya bisa meraung tak berdaya.
“Awas kamu, bangsat!!! Akan kulaporkan pada majikanmu!!” ia masih mencoba mengintimidasi.
“Dan akan kutunjukan rekaman kalian pada Neng Nzi.” jawabku santai.
“Kamu!!” ia menunjuk mukaku dengan penuh emosi, tetapi sudah tidak berdaya menggerakan tubuhnya.
“Kamu!!” aku menirukan gayanya sambil cengengesan. Aslinya perutku masih ngilu tapi kutahan.
Tante Wulan mendekat sambil menangis. Ia seperti kalangkabut tanpa tahu apa yang harus ia lakukan.
“Tante Wulan tenang saja. Aku sudah mendengar percakapan Tante dan si bedebah itu. Aku janji, mulai saat ini ia tidak akan menyakiti tante lagi.” ujarku.
“Hiks.. hiks…” tangisnya malah semakin keras.
Kupeluk tubuh rapuh Tante Wulan, sementara Dante kokosehan berusaha berdiri.
“Dasar pereee…”
Buuuuukkkk!!! Kutendang mulutnya sebelum ia berhasil menyelesaikan ucapannya.
“…eeekkkkk.” ia mengerang dan mengejan. Tubuhnya kembali terjengkang.
“Tante tenang saja. Percaya sama aku.” kududukan Tante Wulan di atas sofa.
Kuusap air matanya. Kurapikan rambutnya.
“Awaaassss..!!” pekik Tante Wulan.
Kutendangkan kakiku ke belakang.
Duuuuk…
“Heeeeekkk…” bruuuuk!!!
Rupanya Dante masih berusaha menyerangku dengan sisa tenaganya. Beruntung kakiku berhasil membentur selangkangannya sehingga ia terhuyung terbawa oleh tenaganya sendiri.
Duaaak!! Buk buuuk!!!
Tiga kali pukulan sudah cukup bagiku untuk membuat Dante benar-benar terkapar. Bibirnya berdarah.
Dengan gesit kuseret tubuh Dante dan kududukan di atas sofa kecil. Kutarik kedua tangannya ke belakang dan kuikat dengan sweaternya sendiri. Mulutnya tak henti mengaduh dan meminta ampun, tapi kebencianku sudah menutupi rasa iba.
Kulihat Tante Wulan nampak bimbang. Ia tidak tahu harus membela siapa dan berpihak pada siapa. Sudah waktunya aku meyakinkan wanita itu.
“Tante jujur ama aku.. apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan Tante dan si kunyuk Dante itu?”
Bukannya menjawab, Tante Wulan malah menangis kembali. Aku berusaha bersabar dan terus membujuknya. Kuyakinkan pula bahwa aku akan membantunya, dan tidak akan pernah membocorkan rahasianya.
“Dante.. hiiiks.. Dante itu bajingan.” akhirnya ia mulai bisa bercerita.
Dante terlihat hendak balik memaki, tetapi satu pelototan sudah cukup membuatnya bungkam.
Tante Wulan pun bercerita bahwa ia sudah mengenal Dante selama hampir tujuh tahun tetapi baru melakukan hubungan terlarang dalam dua tahun terakhir ini. Awalnya Tante Wulan bahagia karena ada pemuda yang bisa mengisi kesepiannya. Segala kebutuhan Dante pun ia penuhi.
Lama-kelamaan Dante mulai kurang ajar dan memanfaatkan kekayaan dan status Tante Wulan. Ia merekam salah satu persetubuhan mereka, dan itu menjadi senjata untuk memeras Tante Wulan. Permintaan terakhir Dante yang dipenuhi Tante Wulan adalah dengan membuatkannya café di kawasan elite Setiabudi.
Yang awalnya takut-takut dan ragu, Tante Wulan akhirnya bisa bercerita panjang lebar. Makian dan bantahan si kunyuk tak lagi mengganggu semua penuturannya.
Setelah Tante Wulan terlihat lega seusai mengungkapkan semua unek-uneknya, aku berbisik dan mengajaknya pergi ke dalam kamar. Wanita itu setuju.
“Heiii.. bangsat!! Mau kemana kalian?! Lepaskan aku!!!” Dante berteriak, tapi aku dan Tante Wulan tidak peduli.
Setibanya di dalam kamar di lantai tiga, kusampaikan rencanaku. Tante Wulan tentu saja protes keras.
“Tante bisa memegang kata-kataku. Ini buktinya rekaman yang saya buat tadi.” ujarku sambil mengeluarkan handphone.
Kutunjukan hasil rekamanku. Hasilnya cukup jernih dan jelas.
Dalam video itu wajah Dante cukup jelas ketika sedang mencumbu dan menggerayangi tubuh Tante Wulan, tapi tak ada sedetik pun rekaman yang menampilkan wajah Tante Wulan.
“Video ini bisa menjadi senjata untuk menekan balik si Dante.” ujarku.
Tante Wulan menghela nafas lega, lalu mengangguk setuju.
“Tapi kenapa kamu mau membantu tante?” ia nampak masih trauma. Tidak ingin hubungannya denganku sama seperti dengan Dante yang ujung-ujungnya hanya memanfaatkan kekayaan dan popularitasnya sebagai istri seorang pengusaha kelas kakap.
“Karena Dante adalah pacar putri bungsu majikanku, dan aku tidak ingin gadis itu menjadi korban berikutnya.” aku menjawab dengan tegas.
“Tante mengerti. Tante juga percaya sama kamu. Makasih, Iba.” Tante Wulan memelukku erat. Kubalas dekapannya sambil mengusapi rambutnya.
“Sekarang saatnya kita berpesta untuk merayakannya.” ujarku.
“Tante malu!” ia mendongak, kedua pipinya nampak memerah.
“Gak perlu malu.. kita beri dia pelajaran.” gumamku.
Tante Wulan nampak berpikir, tapi kemudian tersenyum. Ia malah nampak antusias untuk mengekspresikan sisi liar yang selama ini selalu terkekang atas nama norma, nama baik, dan kehormatan.
“Bentar yah.” ia mengecup bibirku lalu beranjak menuju kamar mandi.
“Cuci yang bersih!” ledekku.
Tante Wulan mendelik. Mulutnya manyun menggemaskan. Aku menyeringai senang. Kini saatnya bagiku untuk menyiksa Dante, bukan hanya membuatnya kesakitan secara fisik tetapi juga menderita karena birahi yang tak tersalurkan. Aku akan menyetubuhi Tante Wulan di hadapan pria brengsek itu.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar