Bab 35
Langit sore nampak mendung. Kutatap kosong. Sementara asap rokok terus mengepul keluar dari mulutku. Kopi sudah dingin tanpa selera kuhabiskan. Hembusan nafas resah sekali-kali kuhembuskan.
Sudah seminggu sejak kejadian malam itu, dan aku semakin larut dalam gelombang keseharian yang membingungkan, tanpa mampu bisa kukendalikan. Entah apa yang terjadi dalam keluarga ‘majikanku’. Mereka sudah tidak lagi saling bertengkar namun keadaan rumah masih saja muram.
Aku tak punya lagi teman. Salsa menghindariku tanpa alasan. Sedangkan Rere bagai angin yang datang dan perginya tanpa bisa kutebak, kadang hadir bagai sepoi angin yang lembut menyejukan tetapi tak jarang ibarat badai yang begitu galak dan tak sungkan memarahiku tanpa alasan.
Masih hangat di ingatan kejadian beberapa jam yang lalu..
“Iba, kamu mau kemana?” tiba-tiba Rere muncul di depan kamarku dengan wajah sumringah. Namun langsung berubah dan nampak sedikit heran karena aku sudah mandi dan berganti pakaian.
“Eh.. Neng Rere.. saya mau ke kosan. Besok ibu tidak ada jadwal ngajar, jadi saya boleh libur.” jawabku.
Raut muka Rere berubah.
“Kamu gak janjian ama Salsa, kan?” dengan tatapan penuh curiga.
“Ngg.. nggak, Neng.”
Aku tidak berbohong, tetapi tetap saja sedikit gugup. Rere menyelidiku dengan sorot matanya, dan menghela nafas begitu yakin aku tidak berbohong.
“Jadi besok kamu libur?”
“Iya, Neng.”
“Kalau aku kasih pekerjaan tambahan mau gak?”
“Maksud Neng Rere?”
“Mau nggak?!”
“Eh.. Iiya, Neng.”
“Besok kamu antar jemput aku ke kantor.”
“Tapi Neng…”
“Tadi katanya mau?!”
“Eh.. iya Neng, siap. Memangnya mobilnya Neng Rere kenapa?”
“Kok jadi banyak tanya sih?”
“Maaf.”
Sial! Aku semakin tidak paham atas sikap Rere selama ini. Ia seperti possesif atas diriku, tetapi juga sangat kelihatan kalau ia selalu berusaha menghindar. Ada dan tiadanya semakin sulit kutebak, apalagi kemauannya.
“Kamu gak harus pergi buru-buru, kan?” ujarnya.
“Eh..” aku kaget ketika ia tiba-tiba masuk dan duduk di sampingku, di tepian ranjang.
Ada rasa senang karena bisa berdua dengannya, tetapi juga kecewa karena ia begitu mudahnya masuk kamar ‘pria lain’, padahal ia sudah punya kekasih.
“Kok diam?” ia menatapku, begitu dekat. Aku grogi sendiri.
“Nggak.. nggak kenapa-napa, Neng.”
“Bisa gak kalau lagi berdua begini kamu panggil aku dengan nama aja?”
“Gak bisa, Neng, maaf.”
“Loh kenapa?”
“Saya takut dimarahi majikan saya, Neng. Neng Rere kan calon menantu bapak dan ibu.”
Rere menghela nafas dalam. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
“Tapi kan aku bilang kalau sedang berdua saja. Mereka tidak akan tahu.”
“Maaf, Neng. Kalau dibiasakan nanti saya takut keceplosan di depan mereka.”
Kekasihku kembali menghela nafas dan terdiam.
“Lagian apa Neng Rere gak takut dimarahi Mas Rei kalau ketauan dekat dengan sopir seperti saya?” aku memberanikan diri menatap wajahnya.
“Kok kamu jadi nyebut-nyebut nama Rei sih?” nada suara Rere sontak meninggi.
“Anjriit!! Ni Rere kenapa sih? Ia malah seperti tidak suka aku menyebut nama kekasihnya sendiri!”
“Kan Mas Rei adalah kekasih Neng Rere.” aku mulai berani.
Rere tidak menjawab. Hanya deru nafasnya yang mulai tersengal. Bola matanya melebar. Aku berusaha melawan tatapannya, tetapi segera menunduk karena takut dianggap kurang ajar.
“Liat aku!” perintahnya dengan suara bergetar.
Dengan ragu aku kembali mendongak. Sorot mata kami kembali beradu. Perasaanku kali ini langsung berdesir. Biar bagaimana pun Rere adalah kekasihku dan aku sangat merindukannya.
Sesaat kulihat Rere terbelalak, nampak tercekat dengan nafas tertahan beberapa detik.
“Kamu..” hanya suara pelan yang keluar tanpa sanggup ia lanjutkan.
Aku diam. Berusaha mengendalikan perasaan yang tiba-tiba bergemuruh tak karuan.
Detak jantungku berdegup lebih keras ketika sorot mata Rere berubah sendu. Tangannya terulur mengusap pipiku, tepat pada bekas kecupannya malam itu. Dingin kurasa, namun tak mengurangi lembut dan halusnya.
Sial! Aku hanya mematung diam dan malah menikmati usapan jemari Rere. Tatapannya semakin sayu merindu.
Srrr… dugh dugh…
Wajahnya mendekat, sengal nafasnya menerpa wajahku. Ingin aku menghindar, tapi aku bagai tersirep oleh pesonanya. Ingin aku mengingatkan Rere, tapi yang ada aku malah sedikit merunduk. Bibir kami semakin dekat. Nafas kami beradu.
Aku melupa. Rasa rindu mengalahkan akal sehat akan misi yang sedang kujalani.
Cuuup!!!
Bibir Rere dan bibirku beradu. Tanpa gerakan tapi sama-sama bergetar. Terlena.. aku memejamkan mata, pun pula Rere. Perlahan tapi pasti kami sama-sama menggerakan bibir. Saling mengecup lantas menjadi kuluman lembut.
Tak berselang lama menjadi lumatan penuh rindu. Rere memelukku, dan kepala kami miring berlawanan arah. Ciuman ini semakin dalam, bernada lenguhan halus gadisku. Syahdu..
Tik tok tik tok..
Plaaaak!!!!
Anganku yang sedang melayang karena indahnya cumbuan langsung buyar. Rere tiba-tiba melepas bibirnya dengan kasar dan menamparku. Keras.. teramat keras! Panas kurasa! Bukan hanya itu, ia juga menghentak tubuhku hingga nyaris terjengkang. Raut wajah Rere berubah penuh amarah.
“Kenapa kamu menciumku? Kurang ajar kamu!!” nafasnya tersengal dan kedua bola matanya memerah. Sedikit berlinang oleh air mata.
Aku hanya bisa melongo tanpa bisa berkata-kata. Semuanya serba cepat dan membuat aku shock.
“Kenapa? Hah?!”
“Kupret.. kamu yang duluan menciumku, Re.” aku mulai bisa menguasai keadaan. Aku balik marah walau tidak berani kuungkapkan.
“Kamu kan tahu kalau aku adalah kekasih anak majikanmu, tapi kenapa.. aaaargggh… Iba… kurang ajar kamu!!” pekiknya. Tangisnya sudah tidak bisa ia bendung.
“Anjrit!!!”
“Neng.. kan Neng Rere…” belum juga aku membela diri, Rere kembali mendorong dadaku. Kali ini aku benar-benar terjengkang ke atas kasur.
Rere mengusap bibirnya dengan kasar seolah jijik telah berciuman denganku. Tanpa babibu lagi ia berjingkat meninggalkanku.
Bruuuuk!!!
Tanpa kami berdua sadari dua orang gadis sedang berdiri melihat kejadian di dalam kamar. Tanpa sengaja Rere menabrak salah satunya hingga keduanya terhuyung.
“Kak Rereee… aku gak nyangka kalian.. kalian hiiiks…” tiba-tiba gadis yang tidak tertabrak menjerit sambil menangis marah. Dia adalah adikku Nzi.
“Dek.. aku aku.. hiks…” Rere mencoba menjelaskan.
“Kakak jahat! Kakak udah mengkhianati Kak Rei. Pokoknya aku kecewa ama kakak! Huaaa hiiiiks.” Nzi semakin menangis.
“Jadi ini yang namanya Iba?” ujar si gadis satunya sambil mencoba menegakan berdirinya sambil setengah memeluk Rere.
“Dek, dengerin kakak dulu.” teriak Rere.
“Kenziii.. tungguin gua donk!”
Sia-sia. Enzi sudah berlari sambil menangis. Keduanya langsung menyusul. Aku hanya bisa bengong tanpa bisa mencegah walau hanya sekedar untuk meluruskan masalah.
Bangke!!
Mengingat kejadian itu malah membuat amarahku kembali bergelora. Kini aku sungguh merasa kecewa. Kecewa karena Rere mencumbu pria selain Reinya. Rasa sakit hati ini mengalahkan rasa takutku pada keluarga ‘majikanku’ yang bisa saja memecatku. Tetapi meskipun marah dan kecewa pada Rere, aku juga takut jika gadis itu bertengkar dan kemudian bermusuhan dengan Nzi; dan keluargaku ikut kecewa pada Rere. Apalagi bukan hanya Nzi yang menjadi saksi, tetapi juga sepupuku yang entah kenapa tiba-tiba ada di Bandung.
Tanpa sadar rokokku patah karena kuremas. Kunyalakan lagi rokok baru dengan hisapan resah.
“Iba?” tiba-tiba sebuah suara berat menyapaku.
Aku mendongak. Seorang lelaki berbadan kekar sudah berdiri di hadapanku dengan tatapan penuh selidik. Aku begidik! Didorong Rere saja aku terjengkang apalagi kalau dihantam tinju pria asing ini.
“Iya. Mas siapa ya?” aku berusaha bersikap wajar.
“Sudah baca pesan dari ibu?” ia balik bertanya.
“Ibu?”
Pria itu tidak menjawab. Spontan kekeluarkan hapeku dan ternyata ada misscall dan serangkaian pesan WA dari Tante Wulan. Sekarang aku paham.
“Iya, Mas, saya Iba.” ujarku tegas pada pria di hadapanku.
Pria itu mengangguk.
“D 69 SWK.” sambil menyodorkan kunci mobil.
“Terima.. kasih…” aku menerima kunci itu.
Tanpa permisi pria asing itu langsung pergi. Aku tidak mengenalnya, tapi aku sudah tahu siapa yang mengutusnya.
Kugosok wajahku dengan kedua telapak tangan. Besok aku libur, dan entah kebetulan atau tidak, eh Tante Wulan malah mengajakku ‘berlibur’. Aku tidak peduli pada permintaan Rere untuk antar-jemput ke kantor. Toh dengan kejadian tadi pasti ia juga tidak ingin lagi kusopiri. Seandainya ia masih mau bertemu denganku saja masih untung.
Kukirim pesan kepada Tante Wulan, lalu beranjak meninggalkan coffee shop tempatku nongkrong. Tanpa susah payah mencari, mobil yang tadi disebutkan nomornya langsung kutemukan. Sebuah sedan ternama keluaran terbaru.
Entah kenapa perasaanku seakan tertutup. Aku tidak bimbang dan ragu. Aku yang telah cukup kecewa pada Rere kini merasa tidak bersalah untuk menyelingkuhinya, lebih parah daripada apa yang ia lakukan.
Setibanya di dalam mobil, kubuka dashboard dan kutemukan amplop coklat berisi segepok uang. Tak perlu bertanya.. aku sudah tahu untuk apa. Kulajukan mobil keluar dari parkiran. Tujuanku adalah sebuah distro elite di kota ini.
“Anjiiing.. mobil aja mewah tapi tidak tak sanggup membayar parkir!!” samar-samar terdengar teriakan.
“Sorry, bro. Aku lupa.” aku ngomong sendiri sambil melirik spion.
https://t.me/cerita_dewasaa
Tepat jam delapan malam aku sudah melenggang memasuki sebuah mall di kawasan Setiabudi. Pakaianku sudah necis dan tak seorang pun akan menyangka bahwa aku adalah seorang sopir. Langkahku tegap dan penuh percaya diri. Rasanya penampilanku sekarang lebih keren daripada Rei si kampret itu. Parfumku juga lebih bermerk daripada yang biasa Rei pakai.
Lirikan-lirikan kaum hawa dari emak-emak sampai gadis belia membuatku semakin percaya diri.
Tak perlu lama mencari. Aku tiba pada sebuah toko yang menjual gaun-gaun perempuan kelas wahid. Para pelayan menyambutku dengan ramah, dan aku tersenyum. Bukan pada mereka senyumku kuberikan, melainkan pada seorang wanita yang nampak terperangah menyambut kehadiranku.
“Wow.. hai…” sambutnya penuh kagum.
“Hai…” jawabku sopan dan elegan.
Kukecup pipinya, membuat ia merona. Kuabaikan tatapan-tatapan iri dari beberapa wanita sekitar.
“Sudah selesai belanjanya?” tanyaku.
Tante Wulan menggeleng. Bukan karena menjawab pertanyaanku, melainkan karena seolah masih tidak percaya akan perubahan penampilanku. Kuberikan senyumku, kuambil gaun yang sedang ia pegang dan kuberikan penilaian.
“Bagus. Aku suka.” ujarku.
“Serius?”
Aku mengangguk. Tante Wulan pun langsung mengapit lenganku setengah memeluk. Sekitar setengah jam aku menemaninya belanja, lalu bergandengan menuju valet parkir. Tante Wulan tidak mau berlama karena takut ada yang mengenalnya. Walaupun sesungguhnya aku tahu bahwa ada yang selalu mengawasi kami. Bodyguardnya. Tentu saja Tante Wulan sudah menyuap dan memberikan sejumlah uang besar agar kelakuannya tidak dilaporkan pada sang suami.
Sambil menunggu mobil, kupeluk pinggang rampingnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan menjinjing tas belanjaan. Tante Wulan tersenyum senang, ia mengecup pipiku tanpa malu pada beberapa petugas valet.
Sejak kejadian di toilet kala itu, memang baru kali ini aku dan Tante Wulan bertemu lagi. Tapi hubungan kami sudah sangat intens. Hampir setiap malam saling video call, dalam keadaan sama-sama telanjang.
Mobil pun datang, seroang petugas langsung menggangguk sopan sambil membukakan pintu untuk kami berdua.
“Ini beneran aman, Tan?” tanyaku. Kini aku sudah tidak memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’ lagi.
“Kamu tenang aja. Suamiku masih di Surabaya dan anak-anakku tahunya aku sedang ke Singapura sampai lusa.” jawabnya. Aku pun tersenyum. Mendengar gaya bahasanya aku merasa sedang mengencani seorang gadis muda.
Setibanya di dalam mobil, aku tidak langsung menginjak pedal gas. Kuhembuskan nafas sambil meliriknya.
“Kenapa, sayang?” Ciee.. ia sudah memanggilku seperti itu. Aku senang karena aku sudah bisa menjerat hatinya. Misiku untuk membantu Enzo sahabatku sekaligus menyingkirkan Dante akan segera berhasil. Dan aku akan mendapatkan kenikmatan sebagai bonus.
Hanya mataku yang menjawab. Kulirik belahan payudaranya yang seksi menggunung. Karena berupa gaun tali, aku juga bisa melihat kulit gunungannya dari samping. Tangannya yang sedang bergerak menarik safetybelt membuat ketiak putihnya juga terlihat. Perasaanku auto berdesir menyaksikannya.
Gaunnya memang panjang sampai mata kaki. Tetapi belahan sampingnya sampai ke paha. Aku bisa menjelajahi keindahan kaki dan pahanya karena kainnya tersingkap.
Sadar bahwa aku sedang mengagumi kemolekannya, Tante Wulan memeletkan lidah bagai gadis belia yang sedang menggoda. Pipinya bersemu merah karena malu sekaligus bangga.
“Ayo jalan.” ujarnya pelan.
“….”
“Sayang.. jalaan..” suaranya dibuat merengek.
“….”
Cuuup!!
Akhirnya bibir bergincu basah itu mendarat pada pipi kiriku. Aku terkekeh senang, dan cubitan kecil mendarat pada pahaku. Rasanya aku ingin mencubit balik.. yaitu mencubit klentitnya.
Sepanjang perjalanan kami tidak banyak berbicara. Tapi tangan kami saling berbicara. Bahkan ia tidak menolak ketika tanganku mengusapi paha, tak tanggung sampai ke tepian celana dalamnya. Ia manja menempelkan payudaranya pada lenganku. Kepalanya bersandar pada bahuku.
Tujuan kami adalah Lembang. Ia menyebutkan sebuah villa pribadi, yang kutahu sangatlah mewah; dan itu adalah villa berbeda dengan villa yang dipakai ketika aku melihatnya sedang bersetubuh dengan Dante.
batinku. Enzi pernah dengan konyolnya meminta ayah dan mamah membeli villa itu, padahal kami tidak tahu siapa pemiliknya.
Setibanya di sebuah bangunan megah yang agak terpencil, Tante Wulan mengeluarkan remote dari dalam tasnya. Gerbang tinggi pun terbuka otomatis.
“Tidak ada penjaga?” tanyaku.
Tante Wulan menggeleng sambil tersenyum penuh arti. Ah.. ia telah mempersiapkan semuanya ini. Seluruh pegawai villanya sudah ia suruh pergi.
Kumasukan mobil dan berhenti di depan garasi. Kami berdua turun. Tante Wulan langsung menggandeng lenganku. Senyumnya selalu tersungging.
Seluruh ruangan kuamati. Megah dan mewah. Tetapi Tante Wulan tidak berhenti, ia menggandengku menaiki tangga. Lantai dua kami lampaui. Ia membawaku ke lantai tiga.
“Mewah.” gumamku seperti berbicara sendiri.
“Kamu suka interiornya?” tatapannya membuat pori-pori jembut berkedut-kedut.
Aku mengangguk pelan.
Tante Wulan membawaku memasuki sebuah kamar yang sangat besar dengan interior mewah. Hamparan permadani menutupi seluruh lantai dengan ranjang king size di bagian tengah.
Aku menghela nafas memikirkan bahwa aku akan menggumuli wanita semok paruh baya di sampingku. Penisku mulai berkedut-kedut seolah tak sabar menggali lubang.
Kupegang kedua sisi pinggang Tante Wulan dengan pandangan mesra. Wanita itu menjatuhkan tasnya di atas permadani. Kedua tangannya terangkat, ketiak putihnya mengkilat seksi. Ia melingkari leherku dengan tatapan tak kalah mesra. Wajah kami dekat.
Sial..! Ia hanya mengecup bibirku tipis, dan menolak ketika hendak kulumat. Ia mendorong halus dadaku, lantas menuntunku menuju balkon. Rupanya Tante Wulan sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya agar mempersiapkan momen romantis untuk kami berdua.
Sebuah meja bundar bertaplak putih sudah terpasang. Hidangan makan malam sudah tersaji, lengkap dengan red wine di atasnya. Tiga batang lilin elektronik menyala.
Aku paham. Wanita binal ini tidak ingin terburu. Ia ingin diperlakukan secara romantis. Setibanya di pinggir meja, kutarik kursi untuknya. Ia pun tersenyum dan duduk dengan anggun. Setelah ia duduk, barulah aku menuju kursiku sendiri. Kami duduk berhadapan, mesra bertatapan.
Kami bercengkrama ringan sambil menikmati makan malam yang sangat lezat. Sekali-kali pandangan kami terarah ke kota Bandung di bawah sana.
Tante Wulan banyak bertanya tentang asal-usulku, tetapi pelit bercerita tentang dirinya sendiri. Ia cukup cerdik dan lihai menutupi rahasia pribadi dan keluarganya. Aku tidak keberatan. Kuyakin akan tiba saatnya ia membuka semuanya tanpa kuminta.
Aku hanya berusaha menjadi seorang pria idaman baginya. Membuat rasa dan pikirnya terbuai oleh kesantunan dan perlakuan mesra. Memang.. beberapa kali berkelebat bayangan Rere. Aku bimbang.. lantas hilang ketika aku berusaha mengingat perlakuannya yang mengecewakan.
Yeah aku tahu.. menjerat Tante Wulan bukanlah bagian dari rintangan ritual, melainkan demi memenuhi sebuah janji pada sahabat. Kini kesempatan itu datang, dan aku tidak mau membuang peluang. Lupakan kesetiaan.. si jalu mungkin berkhianat, tapi hati tetap padanya meski harus ada bumbu kecewa. Penis bisa berganti-ganti lubang, tetapi ada satu yang tidak bisa dipindahkan, yaitu rasa cinta.
Tante Wulan menuang anggur merah pada gelas kami berdua.
“Toast!” ujar kami disusul denting gelas.
Kutatap bibir seksinya yang menyentuh gelas. Kami sama-sama menikmati tegukan pertama sambil saling bertatapan.
“Uhuk.. uhuk…” aku terbatuk.
“Hihi.. kamu tidak pernah minum anggur, ya sayang?” ujarnya sambil mengulum senyum.
“Iyah, Tan, ini baru pertama.”
Aku berbohong. Bukan anggur ini yang membuatku terbatuk, namun kelebatan Sawaka yang sudah lama tidak menampakan diri. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak. Firasatku mengatakan bahwa Sawaka membawa kabar buruk. Ingatanku tiba-tiba tertuju pada seseorang yang sangat kusayang.
“Minumnya harus pelan-pelan sambil dinikmati, jangan seperti minum air putih.” ujar Tante Wulan dengan lembut. Tangannya mengambil lap makan lalu terulur mengusap tepi bibirku yang basah.
“Makasih.” ujarku pelan.
Aku mengerjap untuk kembali fokus pada wanita di hadapanku. Kubuang bayangan yang baru saja terlintas dengan meneguk kembali gelasku.
“Kamu ambilin tasku donk, sayang.” pinta Tante Wulan.
Aku pun mengangguk dan melangkah menuju kamar. Kesempatan ini kupakai untuk menenangkan diri, fokusku saat ini adalah Tante Wulan, bukan yang lain-lain. Kuambil tas dan kuberikan kepada pemiliknya.
“Terima kasih.” ujarnya lembut. Aku mengangguk sambil tersenyum dan kembali ke tempat dudukku.
“Eh.. Tante merokok?” heranku ketika ia mengeluarkan rokok putih dari dalam tas itu.
“Suami dan anak-anakku tidak tahu.” jawabnya.
Aku langsung merogoh korekku dari kantong celana dan menyalakan rokok Tante Wulan. Wanita itu nampak begitu sumringah, senang kuperlakukan bagai ratu. Entah mengapa aku malah merasakan sensasi yang mendebarkan ketika menyaksikan wanita cantik merokok. Kukeluarkan rokokku sendiri dan menghisapnya dengan nikmat.
Pengaruh anggur dan rokok membuat pertahanan Tante Wulan longgar. Ia lebih mudah kupancing untuk bercerita tentang kehidupan rumah tangganya.
Dari mulutnya mulai mengalir cerita tentang kesepian-kesepiannya, kekecewaannya pada suami, dan juga rasa lelahnya karena harus selalu tampil jaim di kalangan kaum langitan lingkungan pergaulannya.
“Dulu tante pikir bahwa tante akan bahagia ketika meraih semua kemewahan yang diberikan suami, tetapi nyatanya sama sekali tidak. Tante malah sering dihantui rasa berdosa pada…” ia menggantung kalimatnya.
"… pada siapa, Tante?” aku penasaran.
“Ah.. sudah lupakan saja.” ia mengelak sambil menghabiskan isi gelas dan menuangnya kembali dari dalam botol.
Aku tak ingin memaksa, tapi aku sudah punya senjata. Aku harus menjadi tempat bagi Tante Wulan untuk menghilangkan kesepiannya; menjadi tempat berkeluh kesah dan jika perlu sambil berpeluh dan mendesah-desah. Masa depanku masih akan aman karena ia mengenalku sebagai Iba, bukan Rei yang ia kenal.
Wanita di hadapanku meneguk kembali isi gelasnya sampai habis. Dihisapnya rokok yang terselip pada jemarinya dalam-dalam, lalu mematikannya. Sikapnya sudah tidak seanggun tadi, gerak-geriknya menunjukan sisi binalnya yang asli.
Ia berdiri menuju pagar balkon. Pandangannya menerawang jauh seolah ingin terbang bebas, terlepas dari segala beban yang selama ini ia rahasiakan. Rambutnya yang sedikit pirang berkibar. Pun pula tepian belahan rok panjangnya. Betis sampai setengah pahanya terpajang. Aku meremang.
Kuhabiskan isi gelas dan menyusul Tante Wulan. Kupeluk dari belakang. Daguku menumpang pada kulit pundaknya, kukecup lehernya, dan kuhirup aroma tubuhnya.
Tante Wulan memejamkan mata. Berat tubuhnya terdorong ke belakang, setengah bersandar padaku.
“Tante cantik sekali.” gombalku di dekat telinganya.
Kukecup tipis bagian belakang telinganya sambil menghembuskan nafas hangat. Tante Wulan meringis geli, tanganya meremas punggung tanganku.
Ia membuka mata, menengok dengan sorot mata sayu. Bibir basahnya terbuka. Tak mau kusia-siakan, langsung kukecup lembut. Tante Wulan kembali memejamkan mata sambil membalas kulumanku. Berat tubuhnya sudah sepenuhnya bertumpu padaku.
Aku harus bisa merebut hati Tante Wulan dari tangan Dante, dan melalui wanita ini aku ingin mengenyahkan dia dari adikku. Maka meski nafsu mulai memburu, aku berusaha bersabar. Kuperlakukan Tante Wulan dengan lembut; membiarkan perasaannya melayang karena diperlakukan sebagai wanita seutuhnya dalam meraih kenikmatan.
Aroma anggur dan nikotin yang keluar dari mulut Tante Wulan mau tidak mau membuat perasaanku sendiri melayang. Aku melupa.. kucumbu mesra wanita yang sedang berada dalam dekapanku ini seolah ia adalah kekasihku sendiri.
Tanpa melepas cumbuan, Tante Wulan membalikan badan. Tangannya melingkari leherku, sedangkan aku semakin memeluk pinggangnya erat. Ciuman kami semakin rapat dan dalam.
“Mmmh…” lenguhnya, seksi terdengar.
Tubuh kami sama-sama bergetar ketika ujung lidah kami bertemu. Saling mencucuk lembut, menggelitik kecil, lantas saling menyapu berbalut nafsu.
Cukup lama kami saling mencumbu. Wanitaku mulai gelisah karena dorongan gerah gairah. Kaki kirinya terangkat sampai ke pinggangku, segera kutahan. Kemaluan kami beradu. Penis tegangku menekan-nekan selangkangannya yang kembung.
“Shhhh.. sayang…” mulut kami terpisah dengan nafas terengah.
Sadar Tante Wulan mulai birahi, segera kuangkat tubuhnya dan ia memekik. Dengan cepat ia membelitkan tangannya kembali.
Kubopong tubuh Tante Wulan ke dalam kamar. Ia menatapku dengan kagum karena aku bisa menggendong tubuh montoknya tanpa kesusahan. Binar bahagia bercampur birahi terpancar menjadi satu.
Inginku adalah membaringkannya di atas kasur dan mencumbunya kembali. Tetapi Tante Wulan adalah wanita berpengalaman yang bisa mengatur gairahnya, sekaligus berusaha mempermainkan nafsuku. Ia memintaku melepaskannya dengan alasan mau kencing terlebih dahulu.
Dengan genitnya ia mencolek hidungku sambil memeletkan lidah. Tanpa permisi lagi lantas melenggang ke dalam kamar mandi. Meninggalkanku terkentang-kentang.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar