Sang pewaris part 34

 

Bab 34








Aku dan salsa memang jadi makan, tetapi tidak hanya berdua. bagiku; juga bagi Salsa. Sebetulnya ini menjadi sebuah keuntungan karena aku bisa berdekatan dengan kekasihku; dan aku terbebas untuk menjelaskan kepada Salsa tentang alasan kemurunganku tadi. Tetapi ciumanku tadi membuatku merasa bersalah pada Rere.




Semuanya menjadi rumit. Bukan Rere yang cemburu, melainkan Salsa yang cemburu pada sahabatnya itu. Rere begitu perhatian padaku dan sama sekali tidak memberi celah padaku dan Salsa untuk berdekatan, apalagi saling bersentuhan. Bangkenya… aku juga ikutan cemburu dan kecewa! Aku cemburu pada diriku sendiri, kenapa kekasihku begitu perhatian pada seorang sopir bernama Iba dan seolah sudah melupakan Reinya.




Aku dan Salsa sering saling mencuri pandang, dan Rere selalu bisa mengalihkan dengan obrolan-obrolannya. Kekasihku berubah menjadi ceriwis, menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.




Merasa jengah, aku pun permisi ke toilet. Aku perlu menenangkan diri dan mengontrol emosi. Kutinggalkan keduanya. Aku turun ke lantai dasar cafe, karena toilet memang ada di sana. Sedangkan kami makan di lantai dua.




“Iba.” suara seorang wanita memanggilku.


“Eh.. Bu Wulan. Selamat malam.”




Aku terkejut atas kehadirannya. Kali ini ia nampak seorang diri, mungkin para bodyguardnya menunggu di parkiran. Yang membuatku terpesona adalah penampilannya. Malam ini ia terlihat begitu cantik dan seksi. Tubuh mulusnya hanya dibungkus rok terusan selutut, dengan bahu terpamer bersinar keemasan karena terpaan cahaya lampu.




Aku membungkuk hormat, dan ia mendekat. Harum parfum langsung menghinggapi penciumanku.




“Ah syukurlah saya bisa ketemu kamu di sini. Saya menghubungi Rei tapi kok nomornya tidak aktif ya.” ujarnya.


“Mas Rei sedang ke kampung halamannya, Bu, dan di sana susah sinyal.” jawabku sambil mencuri pandang pada betisnya yang putih menggairahkan.


“Oh pantesan. Tapi sebenarnya saya bukan ada perlu dengan Rei, tapi mencari kamu.” Tante Wulan seperti tidak malu.


“Eh ada apa, ya Bu?” kutatap wajahnya, tapi langsung menunduk kembali.


“Kenapa kamu tidak menghubungi saya? Kan sudah saya kasih kartu nama? Saya tuh berharap banget kamu nelpon atau nge-WA.” ujarnya dengan sedikit agresif.




Aku paham. Ia sudah terpengaruh oleh pesonaku karena aku mencium bandul kalung di depan tatapan matanya. Siapapun wanitanya, tidak akan lagi merasa malu karena kalah oleh rasa rindu.




“Maaf, saya.. saya…” aku pura-pura gugup.


“Mana handphonemu?” tangannya terulur.




Mau tidak mau aku membalas tatapannya. Benar-benar seorang wanita paruh baya yang cantik dan menggairahkan. Dan ia tersenyum dengan tangan tetap terulur… aku luluh… Kukeluarkan handphone dan kuberikan padanya.




Jari-jari lentiknya sigap menekan serangkaian nomor pada layar hapeku, dan smartphone bergetar. Jari lentiknya terus mengetik.




“Saya sudah save nomor saya di hapemu.” ujarnya.




Tanganku sedikit bergetar menerima handphone yang ia kembalikan. Selebihnya ia menyimpa nomorku di dalam smartphone-nya.




“Kamu dengan siapa di sini, Ba?” tanyanya penuh selidik.


“Bareng teman, Bu.”


“Cewek?”


“Eh iyah.. mereka di atas.”




Tante Wulan nampak bernafas lega ketika aku mengucapkan ‘mereka’, ia senang bahwa aku tidak sedang kencan.




“Terus sekarang kamu mau kemana?”


“Saya mau ke toilet, Bu.”


“Oh bareng aja kalau gitu.” sahutnya lagi.




Mataku langsung berbinar mendengarnya, di benakku langsung terbayang tubuh mulusnya mengangkang dan kemaluannya memancarkan air seni.




“Pasti mesum.” godanya. “Lagian masa kamu masuk ke toilet cewek.”




Aku pun tersipu mendengarnya. Entah kenapa kekacauan hari ini membuatku menjadi bloon. Dan mesum seolah menjadi pelampiasan agar bisa melupakan semuanya.




“Nanti malam telpon saya ya. Tapi kamu tunggu kabar dari saya dulu.” ujarnya ketika kami berjalan bersisian menuju toilet.


“Iiiya, Bu.”




Suasana lorong toilet nampak sepi. Kami berdua tiba di depan sebuah toilet yang diperuntukan untuk kaum difable, dan kami harus berpisah sesuai petunjuk arah.




“Saya permisi, Bu, takutnya nanti tidak bertemu lagi.” pamitku sambil modus mengulurkan tangan untuk salaman.


“Iya.” singkatnya.




Begitu kami bersentuhan dan saling menjabat tangan, efeknya sesuai yang kuinginkan. Tante Wulan nampak begidik dengan tatapan berubah sayu. Ujung bibirnya ia gigit kecil.




“Enzo, target kita sudah masuk perangkap.” aku membatin.




Tante Wulan celingukan sebentar dengan nafas sedikit tersengal. Begitu yakin sepi, tubuhnya semakin mendekat. Aroma parfumnya membuatku bergairah. Mataku nanar pada mulus kulitnya di atas gelembungan kedua payudara.




Cekrek!!




Tante Wulan membuka pintu toilet yang diperuntukan bagi kaum difabel, dan ia langsung menarik tanganku sehingga sedikit terhuyung. Dengan cepat ia menutup kembali pintu dan menguncinya.




Dengan agresif wanita yang terkenal alim itu langsung mendorongku mepet ke tembok. Deru nafasnya menerpa wajahku. Aku sudah cukup tahu…




Kutarik pinggangnya sehingga selangkangan kami saling merapat. Kedua tangan Tante Wulan terangkat sehingga ketiak mulusnya terlihat. Ia langsung melingkari leherku dan cuuuup. Bibir kami beradu.




Tidak ada kecupan dan kuluman. Yang ada langsung lumatan-lumatan panas dengan lidah saling mencucuk dan membelit.




Sambil mengimbangi cumbuannya, aku mulai berani. Tanganku turun meremas bongkahan pinggulnya yang sekal terbungkus rok ketat. Ia melenguh sambil menjinjit. Penisku yang tegang langsung menyentuh guntukan kenyal selangkangannya.




“Mmmh..” lenguhnya sambil melepas cumbuan. Bibirnya terlihat semakin seksi karena basah.




Ia hanya mengambil nafas sebentar, sisanya kembali melumat. Ciuman kami semakin panas dan mulai berani saling mengusap dan bahkan meremas.




Tanganku bagai punya mata. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan… turun mengusapi kulit pahanya. Lembut dan halus kurasakan. Tante Wulan menggelinjang, lumatannya semakin dalam.




Tanganku bukan hanya mengelus, tetapi juga meremas.




“Aaaah..” ia menjerit tertahan ketika tanganku mulai meremas bongkahan pinggulnya.




Tiba-tiba ia mendorong dadaku dengan nafas tersengal. Mulutnya terbuka, matanya terbelalak.




Ia berjingkat cepat menuju closet. Tanpa sungkan ia menaikan roknya hingga ke pinggang. Kini aku yang terbelalak. Paha dan betis Tante Wulan benar-benar mulus dan sangat menggairahkan. G-string merah ia kenakan. Nampak menggunung hanya menutupi bagian pucuk bibir kemaluannya, kedua sisi kulit gundukannya terlihat. Penisku auto berdenyut.




Tante Wulan menunduk dan memelorotkan celana dalamnya dengan sangat tergesa.




“Aaaaaah… ssssh… uuuhhh…” lenguhnya.




Ia melempar pantatnya hingga terduduk di atas kloset. Mulutnya terbuka dan satu tangan tergapai mengundangku datang.




Srrr.. srrr… creeet…. Tante Wulan terkencing-kencing dengan beberapa kali semburan kencang. Rupanya ia orgasme. Air seni dan cairan orgasmenya bercampur menjadi satu.




Bukannya mendekat, aku malah hanya mematung melongo. Takjub dan nafsu menjadi satu, tetapi mendekat aku tidak mampu.




Tubuh Tante Wulan bergetar hebat, tubuhnya setengah terjengkang hingga bersandar. Kaki kirinya menendang-nendang, sedangkan kaki kanan dijadikan tumpuan.




Tubuh kejang Tante Wulan berubah lemas seiring dengan semburan terakhir cairan orgasme dan air seninya. Aku sigap mendekat dan menahan kedua bahunya agar tidak terjatuh. Ia memelukku dan wajah terbenam di atas perut.




“….”




Sekitar tiga menit kami terdiam. Nafasku memburu.




“Mmmh.. baru mencumbu kamu aja udah enak banget apalagi…” ujaran binalnya tidak ia lanjutkan. Pelukannya terurai.


“Shhh…” kali ini aku yang mendesis.




Tangan Tante Wulan menggenggam penisku yang sedari tadi tegang maksimal. Aku menunduk. Tanpa sungkan Tante Wulan langsung membuka kaitan celanaku. Ia pelorotkan sekaligus bersama celana dalam.




Tante Wulan terbelalak. Lalu mendongak dengan kilatan sorot mata yang kembali menunjukan gairah.




Sisanya aku hanya mendesis-desis dan menahan erangan. Tante Wulan mengoralku sampai aku terkejang, menyemburna sperma di dalam mulutnya.








https://t.me/cerita_dewasaa








Rere dan Salsa menelponku berulang-ulang. Kedua gadis itu sudah menungguku di luar cafe. Aku pun diberondong dengan berbagai pertanyaan karena lama menghilang. Kujawab dengan lesu bahwa aku sakit perut karena tidak terbiasa menyantap makanan enak. Sebetulnya aku lesu bukan karena diberondong seperti itu, melainkan karena lemas pasca diservis oleh Tante Wulan di dalam toilet. Yeaaah.. kami memang tidak bersetubuh, tapi permainan mulutnya sangatlah nikmat dan menguras energiku.




Aku menikmatinya. Tetapi kembali berhadapan dengan kedua gadis itu malah membangkitkan rasa bersalahku. Aku telah mengkhianati Rere dengan mencumbu Salsa dan berbuat enak yang terlarang dengan Tante Wulan. Aku juga telah memberi harapan palsu pada Salsa.Damn … hari yang aneh.




Aku kembali menyopir menuju kostan. Rere lebih banyak ngoceh, sedangkan Salsa hanya diam mendengarkan. Sejak berangkat dari kostan moodnya memang tidak baik, rencana jalan berdua gagal karena kehadiran Rere yang tiba-tiba. Sepertinya ia juga tidak enak hati, karena ia tahu aku sedang punya masalah.




Jam sepuluh malam kami tiba di kostan. Masalah baru muncul. Rere rupanya datang dengan menggunakan jasa




“Yaudah pesan Gocar lagi aja pulangnya, Re.” usul Salsa.


“Nggak ah.. kamu anterin aku pake motormu, Ba.” ujar Rere.


“Eh…” aku bengong.


“Heeeh…?!!” Salsa auto tidak setuju.




Perdebatan pun terjadi, dan keputusan akhir aku tetap harus mengantar Rere pulang. Salsa terlihat sangat kecewa, aku merasa berdosa.




“Maaf…” ujarku tanpa suara pada gadis itu.




Salsa mengangguk dan berusaha tersenyum. Keduanya saling cipika-cipiki, kemudian Rere langsung duduk di belakangku yang sudah menyalakan mesin motor. Aku mengangguk pada Salsa, sedangkan mereka saling melambaikan tangan. Salsa menyunggingkan senyum palsu pada sahabatnya.




Kulajukan motor dengan kecepatan sedang. Aku takut Rere masuk angin karena tidak mengenakan jaket.




“Maaf, ya Iba, aku jadi ngerepotin kamu.” ujar Rere dari belakang. Kuyakin ia hanya basa-basi. Aku sudah cukup tahu karakter gadis ini, ia cukup keras pada kemauannya.


“Iya, tidak apa-apa, Neng.”




Ah.. aku tidak senang membonceng kekasihku sendiri. Tetapi juga tidak sedih. Perasaanku berubah hampa setelah kejadian bertubi-tubi hari ini. Kecewa tetap ada ketika mengingat kembali kejadian ketika menguping tadi.




Sebelum memasuki sebuah kompleks perumahan elite yang banyak dihuni oleh para pejabat berbintang, Rere memintaku berhenti. Ia mengajakku menikmati wedang ronde tak jauh dari gerbang kompleks.




“Kamu kok kelihatan murung, Ba?” tanyanya sambil duduk di depanku seusai memesan dua gelas wedang.


“Nggak kok, Neng.” aku berusaha tersenyum.


“Bener?” Rere sedikit merunduk dan menyelidiki raut mukaku.




Kuberanikan diri membalas tatapannya. Aaah.. si cantikku nampak lebih kurus sekarang. Ingin rasanya aku mengulurkan tangan dan mengusap pipinya.




Takut tak bisa mengendalikan perasaan, aku segera menunduk.




“Ada apa?” Rere seolah yakin bahwa aku berbohong.


“Neng, ben…”


“Ada apa? Tapi kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa sih.”




Aku menghela nafas panjang, dan rere tesenyum dan tak hentinya menatapku “Sayang, kenapa kamu memberikan senyum itu? Bukankah senyum seperti itu hanya kamu berikan pada Reimu?”




Aku berusaha menimbang. Kupikir tak ada salahnya jika aku jujur pada Rere, siapa tahu kekasihku bisa membantu.




“Ini tentang keluarga calon mertua Neng Rere. Tapi Neng Rere harus janji untuk tidak bilang lagi pada mereka.”




Rere mengangguk. Keningnya sedikit mengkerut heran.




Wedang jahe pesanan pun datang. Lalu kuceritakan apa yang kulihat dan kudengar tadi sore. Sekali-kali sambil diselingi menyeruput wedang jahe tanpa bisa kunikmati.




“Ini gak mungkin, Ba, gak mungkin. Kamu gak bohong, kan?” Rere nampak begitu terkejut.




Kugelengkan kepala. Rere menghela nafas panjang.




“Gak mungkin Nzi dan kakak merasa ayah dan mamah pilih kasih. Aku lihat selama ini mereka baik-baik saja. Kakak dan Nzi juga tidak pernah ribut dengan Rei tentang hal ini. Ini ada yang tidak beres…” Rere seolah sedang ngomong sendiri.


“Keluargaku tidak seperti, Ba.” ujarnya lagi.




Pandanganku sedikit berkabut mendengar ucapan terakhirnya. Ia menyebutkan kata ‘keluarga’. Kuyakin bahwa ‘keluarga’ yang dimaksud bukan karena Tante Nur yang sudah dianggap sebagai adik ayah dan mamah, melainkan karena hubungannya dengan Rei. Dan itu adalah aku!




“Maaf, ya Neng. Neng Rere jadi tahu sisi lain keluargaku yang selama ini Neng Rere tidak tahu.” ujarku.


“Keluarga siapa, Ba?”


“Eh.. maksud saya.. keluarga majikanku.” aku gugup karena telah salah ucap.




Rere menatapku tajam tanpa menyahut, kemudian ada seulas senyum yang coba ia sembunyikan.




“Nggaklah, Ba. Aku malah berterima kasih karena kamu telah memberitahuku. Aku juga senang karena kamu bukan hanya bekerja, tetapi sangat peduli pada keluargaku.” ujarnya tulus.




Rere kemudian banyak bicara tentang keharmonisan keluargaku. Sangat jelas tergambar kekaguman dan rasa cintanya. Ia pun berjanji untuk mencari tahu akan apa yang sesungguhnya terjadi.




“Makasih, Neng.”


“Loh kok malah kamu yang berterima kasih? Harusnya aku donk.”


“Eh.. Iiyaa.”




Senyum Rere terulas kembali. Tangannya terulur menepuk-nepuk punggung tanganku. Aku tersipu. Dalam hati sedikit heran.. itu bukan tindakan spontan sebagai ungkapan terima kasihnya, melainkan sebuah tindakan sengaja untuk menyentuhku.




Adalah telpon Rere yang bergetar yang harus mengakhiri kebersamaan kami. Tante Nur menelpon karena Rere tak kunjung pulang.




Rere pun langsung membayar, dan aku memboncengnya kembali memasuki kompleks. Tidak banyak pertanyaan dari securty karena Rere membuka kaca helmnya.




“Makasih, ya Ba.” ujarnya ketika tiba di depan gerbang sebuah rumah.


“Sama-sama, Neng.” kuterima helm yang ia sodorkan dan kukaitkan.




Aku pun mengangguk pamit untuk pulang.




“Iba..”


“Iya, Neng?” aku urung memutar gas motor.


“Kamu beneran gak pacaran ama Salsa, kan?”


“Eh.. itu.. anu.. nggak, Neng.”


“Seriusan?”




Aku mengangguk.




“Yaudah buka dulu helmmu.”


“Untuk apa, Neng?”




Rere tidak menjawab, dan aku tetap melakukan permintannya. Kubuka helm.




“Awas kalau kamu pacaran.” suaranya dibuat judes. Tiba-tiba…




Cuuuup!




Rere merunduk dan mencium pipiku. Aku terperangah kaget. Mematung kaku di atas motor, sedangkan si pelaku sudah berlari tanpa permisi. Tubuhnya menghilang di balik gerbang.




Nafasku tersengal. Kuusap bekas kecupannya. Rasanya aku tidak bahagia, perasaanku malah terasa perih. Aku memang telah tidak setia. Aku telah bercumbu dengan Salsa, dan juga melakukan perbuatan terlarang dengan Tante Wulan. Tapi.. kenapa Rere juga seakan mulai bermain api? Ia mulai mau selingkuh?! Memang aku dan Rei adalah orang yang sama, tapi sosokku berbeda. Sial.. Rere telah melupakan Reinya, dan jatuh hati pada seorang Iba!




Kupret!! BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar