Sang pewaris part 33


Bab 33






Kututup telpon sambil menghela nafas panjang. Aku senang mendengar suaranya. Aku senang karena sudah dua minggu ini ia begitu perhatian padaku. Aku juga senang ketika beberapa kali ia minta kusopiri -tentu saja atas seijin mamah- ketika ia bepergian. Tapi lama-lama aku sadar.. kenapa ia begitu perhatian padaku? Kenapa caranya menatapku sama seperti ia menatap seorang Rei? Kenapa ia sering cemberut dan marah ketika merajuk mencari perhatian? Bukankah itu biasanya hanya ia tunjukan di hadapan seorang Rei? Memang.. aku dan Rei adalah orang yang sama, tetapi tidak mungkin Rere tahu identitasku. Apakah ia mulai jatuh hati pada seorang Iba, dan berpaling dari Reinya?




Kuusap wajahku beberapa kali sambil menunggu lampu merah hijau kembali. Aku dalam perjalanan pulang seusai mengantarkan kue bikinan mamah kepada oma di Lembang. Baru saja Rere menelponku, hampir setengah jam.. dan isinya hanya berupa interogasi tentang kegiatanku hari ini dan menyelidiki apakah aku ada rencana ketemuan dengan Salsa atau tidak.








“Kalian pacaran?” tiba-tiba Rere bertanya tanpa basa-basi.


“Iya, donk.”


“Nnggak, Neng.”




Aku dan Salsa menyahut bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Mata Rere nampak memerah dan menatap ke arah tangan kami yang masih saling menggenggam. Tangannya terulur dan tanpa permisi melepaskan tangan kami. Cukup pelan namun aku merasakan hentakannya.




“Jadi mana yang bener? Pacaran atau nggak?” kali ini sambil menatap Salsa sahabatnya.


“Idiih kamu kenapa sih? Gak boleh yah aku sayang pada Iba?” Salsa malah menggoda dengan mengulurkan tangan untuk menjembel kedua pipi Rere, tapi gadis itu berhasil menepis.




Aku mundur beberapa langkah karena tidak enak hati. Aku tidak tahu apakah Salsa hanya sekedar bercanda atau sedang memberi kode tentang perasaannya.




“Jadi?” desak Rere.


“Tanya sendiri ama Iba.” Salsa nampak mulai jengah atas sikap Rere yang rupanya tidak sedang bercanda.




Sorot mata Rere berkilat menatapku. Sangat tajam dan menggetarkan. Aku sedikit membungkukan badan dengan salah tingkah.




“Iba, kamu pacaran dengan Salsa?” tanyanya, bahkan ia sudah menyebut namaku tanpa imbuhan ‘mas’ seperti biasanya.


“Ehhh.. ngg.. nggak, Neng.” aku sedikit gugup.


“Jujur?!”


“Benar, Neng. Kami hanya berteman. Lagian mana mungkin seorang sopir seperti saya pacaran dengan sarjana seperti Salsa.” sahutku, kali ini kujawab dengan lancar.




Kulihat Rere menghembuskan nafas lega. Urat-urat wajahnya yang tegang mulai mengendur. Tetapi hal sebaliknya terjadi dengan Salsa. Gadis itu nampak kecewa dan memalingkan muka.








Itulah awal mula dari semuanya. Seorang Rere yang mulanya menggoda kedekatan kami ketika Salsa menjemputku, kemudian malah panik menyusul dan seolah tidak suka jika aku berdekatan dengan sahabatnya sendiri. Rencana ‘hang out’ berdua pun menjadi berantakan, karena Rere selalu ikut.




Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Mataku menatap jalanan yang cukup padat, tetapi pikiranku terus melayang memikirkan perubahan Rere yang cukup drastis. Semakin aku berusaha mencari jawaban, semakin penat kepalaku.




Tak berselang lama handphoneku kembali berbunyi. Kali ini Salsa yang menelpon.




“Hallo, Sa.”


“Hai, Ba.”




Salsa rupanya mengajakku jalan nanti malam. Nongkrong di Teras Cikapundung sambil menikmati jajanan pasar.




“Itu juga kalau kamu mau.” celetuknya.


“Aku bisa sih, Sa, tapi…”


“Gak mau yah?”


“Eh bukan gitu..”


“Bisa kan belum tentu mau.” potongnya lagi dengan suara ketus.




Aku menghela nafas.




“Bukan gituu.. tapi aku harus ijin ke majikanku dulu.”


“Oh kirain. Yaudah kamu minta ijin dan kabari aku.”




Belum juga aku menjawab, ia melanjutkan. “Dan harus bisa. Kamunya juga harus mau. Aku tunggu di rumah jam tujuh malam ya. See you, Ba.”




Klik!




Si kampret! Main matiin handphone aja. Rere yang bukan majikanku sudah mulai mengekangku, dan kini ditambah oleh Salsa yang mulai posesif.




Kulihat jam pada handphoneku. Baru jam tiga sore. Kupercepat laju mobil, aku ingin segera tiba dan istirahat sejenak untuk sekedar menenangkan pikiran.




Setibanya di rumah majikanku dan memarkirkan mobil, aku langsung melenggang untuk mengembalikan kunci pada rak di ruang keluarga. Suasana rumah yang sepi membuatku nyelonong dengan santai.




Deg!!!




Ternyata keluargaku sedang kumpul. Duduk melingkar di atas sofa. Saling diam. Kulihat mamah berlinang air mata, pun pula Kak Kekey. Enzi tidak menangis, tetapi sangat terlihat jelas kedua matanya memerah.




Aku mematung beberapa detik. Kuputuskan untuk kembali tetapi ayah yang paling pertama menyadari kehadiranku memberi kode. Aku membungkuk hormat, lalu melangkah melewati mereka dengan sungkan. Tanpa kata. Tanpa suara. Melirik mereka pun aku tidak berani, walaupun hatiku sesungguhnya sangat penasaran atas suasana muram yang tiba-tiba meliputi.




“Oma apa kabar, Ba?” tiba-tiba Kak Kekey menghentinkan langkahku yang hendak kembali menuju pintu dapur.


“Baik, Neng. Oma dan Opa nampak sehat.” jawabku sambil menunduk.


“Oh syukurlah. Makasih, ya Ba.” balasnya.


“Makasih.” mamah ikut berujar tanpa semangat.




Aku kembali mengangguk lalu permisi.




“Jadi bener tadi mamah menangis karena kangen Kak Rei?” suara Nzi terdengar.




Aku yang berniat istirahat di kamar pun urung. Kubuka kulkas dapur untuk mengambil minuman sambil menguping.




“Jadi selama ini mamah hanya pura-pura tersenyum, padahal di belakang aku dan kakak selalu menangis?” merasa tidak mendapat jawaban Nzi bertanya lagi dengan nada suara yang semakin tinggi.


“Adek!!” kudengar kakak menghardik.




Mamah tetap tidak menjawab, tetapi isak tangisnya mulai terdengar. Dadaku ikut sesak. Aku sudah bisa menyimpulkan pertanyaan adikku. Jadi selama ini sikap gembira mamah di depan orang-orang hanyalah pura-pura.




“Ayah kenapa gak pernah bilang kalau selama ini mamah bohong?” adikku terdengar sedih bercampur marah.


“Adek tenang dulu!” kakak menengahi.


“Mamah kangen kakakmu, dek. Hiiiks…” mamah akhirnya menjawab di sela isak tangis.




Perasaanku teriris mendengarnya, tetapi juga kesal pada adikku yang terdengar kurang ajar dengan setengah membentak mamah. Kesal juga pada si Suwir Jagad yang hanya diam.




“Mamah pikir aku gak kangen Kak Rei? Mamah pikir aku juga tidak sayang? Sayang, Mah… Sayaaang!! Kangen juga… hiks… hiiiks…” Nzi mulai histeris.




Lanjutnya, “Tapi anak mamah bukan hanya Kak Rei. Kak Kekey dan aku juga anak mamah. Kenapa mamah selalu mikirin Kak Rei. Kenapa mamah gak pernah mikirin perasaan aku dan Kak Kekey?!! Hiiiiksss…”




“Adek!!! Hiiiks…!!” kakak ikutan histeris.


“Sayang!! Hiiiks.. kenapa kamu ngomong begitu, sayang?” mamah terdengar memelas.


“…” Bangke! Kenapa ayah diam saja!!




Aku sangat marah mendengar ucapan Nzi. Tidak seharusnya ia berkata seperti itu pada seorang wanita hebat di keluarga ini. Dan itu adalah mamah. Tanganku bergetar memegang gelas, urung meneguk isinya meski sempat menyentuh bibir. Nafasku tersengal.




Kuberanikan mengintip. Nampak mamah berdiri untuk memeluk Nzi. Tetapi adikku lebih sigap, ia berlari sambil menangis.




“Adek!! Duduk!!” suara tegas penuh wibawa terdengar. Akhirnya ayah buka mulut.




Adikku tercekat. Ia nampak sedikit pucat mendengar bentakan ayah. Mamah dan Kak Kekey langsung menghambur untuk memeluk Nzi, tetapi ia memberontak. Meski begitu ia tidak menolak ketika mamah mengusapi rambutnya.




Sejenak suasana menjadi tegang. Hanya isak tangis ketiga wanita yang sangat kucintai yang kudengar. Dan aku.. ikut menangis dalam diamku… di dalam dadaku.




“Dek, kamu sadar apa yang kamu ucapkan? Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu. Ayah dan mamah tidak pernah pilih kasih.” suara-dalam ayah terdengar. “Duduk! Ayah dan mamahmu selalu mengajarkan kalian untuk tidak pernah pergi meninggalkan masalah!”




Kulihat Nzi melangkah gontai kembali ke tempat duduknya. Air matanya masih mengalir. Mamah bertukar tempat duduk dengan kak Kekey, dan wanita hebat itu memeluk adikku meski Nzi tidak membalasnya.




Setelah semuanya duduk dan tangis mereka reda, ayah kembali berbicara. Ia yang lebih sering menempatkan diri sebagai seorang teman bagi anak-anaknya, kini ia menjalankan perannya sebagai seorang ayah yang mengayomi keluarga. Kebijaksanaannya pun jelas terlihat. Sesungguhnya aku bangga pada ayah, kini ia tampil sebagai seorang yang sangat berwibawa, layaknya orang terpilih yang menjadi orang nomor satu atas Sawer dan Ewer.




Namun rasa sedih lebih menguasaiku saat ini. Ayah meminta Nzi mengeluarkan semua unek-uneknya tanpa boleh ada yang memotong apalagi membantah. Isak tangis mamah kembali keras mendengar pengakuan anak bungsunya. Setelah Nzi merasa puas, kini giliran kakak yang diminta berbicara. Terakhir mamah.




Aku tidak kuat lagi mendengar perbincangan mereka. Dadaku sesak dan kelopak mataku terasa panas. Ingin aku berlari ke tengah mereka, dan mengeluarkan emosi-emosiku. Memarahi kakak dan adikku, menyanggah pengakuan mereka. Tapi siapakah aku ini, parasku sangat jauh berbeda, dan keluargaku sendiri tidak akan mengenaliku. Lagipula, aku tidak ingin membuat rintangan pertamaku dari raja Anta gagal.




Dengan penuh amarah dan rasa kecewa pada kedua saudariku, aku pun meninggalkan dapur. Aku nyaris menubruk Bu Epah yang baru pulang dari supermarket, wanita itu setengah menjerit. Tapi aku sudah tidak peduli. Segera berlari menuju garasi. Kuambil motor dan melaju kencang meninggalkan pekarangan.




Kini air mataku sudah tidak bisa kutahan. Pandanganku menjadi samar, apalagi kaca helm turut berembun. Kulaju tanpa arah, dengan gemuruh perasaan yang berkecamuk. Aku sungguh tidak menyangka.. keharmonisan kami ternyata semu. Selama ini kakak dan Nzi menyembunyikan rasa cemburu, karena menganggap mamah menganak-emaskanku.




Ciiiitttt…!!! Bruuuuk!!! Braaaak!!!




Aku tercekat. Ah.. bukan aku yang celaka. Ternyata sebuah motor menabrak tukang cuankie yang sedang menyeberang. Apa peduliku! Rasa sakit di dadaku lebih perih daripada kepala si pengemudi yang mungkin bonyok karena terjungkal ke dalam selokan. Lebih panas dan perih dari pada perut si mamang cuankie yang tersiram kuah dagangannya sendiri.




Ah kalau aku celaka dan mati mungkin akan lebih baik. Kubanting stang untuk menggeleng bakso yang menggelundung dengan harapan aku terpeleset. Tetapi hanya baksonya yang penyek.. aku tidak apa-apa.




Kulajukan motorku dan terus melaju. Tanpa arah dan tujuan. Sampai aku lelah…!!! Kuputuskan untuk menyendiri di kostan dan menjelang magrib aku tiba di kamarku.




Bleeeefff. Kulempar tubuhku di atas kasur. Kututup kepala dengan bantal. Sial!!! Air mataku malah kembali berlinang.




“Ibaaaaaa!!! Kamu budek yah? Dipanggil-panggil dari ujung gang gak denger!” tiba-tiba ada yang ngoceh di ambang pintu.




Fuck!! Semesta seolah tak mengijinkan menyendiri. Salsa tiba-tiba nongol dan ngomel. Kurapatkan bantal agar semakin menutupi kepala dan kedua telingaku.




“Ibaa!! Kamu kenapa sih?!” Salsa sudah duduk di tepi kasur sambil menggoyang-goyang tubuhku.




Aku tak bergeming. Aku sungguh sangat terganggu atas kehadirannya. Namun apa daya, gadis itu berhasil merebut bantal. Aku berbalik badan.




“Eh.. Iba, kamu kenapa?” sikap galak Salsa berubah. Ia terkejut atas tampangku yang awut-awutan, dan kuyakin lembab karena bekas air mata.




Aku hanya menggeleng. Salsa langsung merapikan rambutku dan mengusapi kedua pipiku dengan sorot mata penuh khawatir. Sikap lembutnya membuatku luluh. Aku mulai bisa menerima kehadirannya.




Setelah melihatku sedikit lebih tenang, ia berjingkat menuju meja kecil dan mengambil botol minum.




“Minum dulu.” lembutnya.




Aku duduk di atas kasur sambil bersandar pada dinding kamar. Kuteguk air mineral yang ia sodorkan.




“Makasih.” ujarku lemah.




Salsa menutup kembali botol dan meletakannya di lantai. Tangannya kembali terulur mengusapi pipiku, ibu jarinya ia sapukan pada bawah kelopak mataku. Refleks tanganku terulur dan meremas punggung telapak tangannya yang lembut.




“Ada masalah dengan kerjaanmu?” tanyanya.




Aku menggeleng.




“Mantan?”




Aku kembali menggeleng.




Salsa menghela nafas lembut. Seulas senyum ia sunggingkan. Ia paham, aku belum mau cerita, dan rasanya aku tidak akan pernah bisa cerita tentang apa yang sedang kualami.




“Aku boleh pinjam bahumu?” aku meminta ijin.




Ia tidak menjawab. Tetapi ia menarik kepalaku dan aku memeluknya. Kupejamkan mata, kucari ketenangan dalam dekapannya. Kurasakan ia mengusapi punggungku dengan lembut.




Aku terbuai. Perlahan tapi pasti aku mulai tenang. Amarah dan kecewaku lumer, berganti dengan desir-desir asing yang tiba-tiba menghangatkan perasaan. Bukannya melepas pelukan, aku malah semakin mendekap tubuh wangi Salsa.




“Sa..” untuk pertama kalinya aku membuka mata dan mendongak.




Gadis itu menunduk. Wajah kami dekat. Sorot mata saling beradu syahdu.




“Malam ini kita gak usah pergi ya. Nanti aku pesenin makanan dan kita makan di kamarmu aja.” lirihnya.




Aku tak menjawab. Berada dekat seperti ini membuatku tersadar pada pesonanya. Salsa mengerutkan dahi sejenak, tiba-tiba nafasnya menjadi pendek dan hangat. Dekat dan dekat… ada magnet yang saling menarik dan mempersatukan.




Tanpa saling meminta persetujuan. Bibir kami sudah beradu. Salsa tercekat, tangannya meremas punggungku.




Kutarik bibirku. Sejenak saling menatap. Sisanya saling menyambut dan melumat. Pagutannya kuat, tetapi tubuhnya luruh bagai lemas. Kubaringkan. Kutindih setengah badan. Tangan Salsa beralih meremas rambutku. Ciuman kami semakin dalam, bibir kami terbuka.




“Mmmmh…” ia melenguh ketika ujung lidah kami beradu.




Jelas.. aku bukan orang awam dalam hal percumbuan. Salsa terbuai, dan aku menikmatinya. Kami sama-sama terbuai. Sampai pada titik… ia sedikit mendorong bahuku. Ciuman kami terlepas, sama-sama tersengal.




Aku yang sadar mulai panik. Takut Salsa marah. Tetapi rupanya tidak. Wajah cantik di hadapanku tidak sedang menunjukan kemarahan, melainkan memancarkan semu malu layaknya seorang gadis yang sedang jatuh cinta.




Sebetulnya aku menyesal dan merasa bersalah. Aku menyesal telah membuat langkah yang salah, meski awalnya tanpa kusengaja. Perasaan Salsa bisa semakin terikat, sementara bayangan Rere pun berkelebat.




Aku berusaha gentle dengan tidak meminta maaf. Jika berbuat seperti itu, sama saja dengan tidak menghargainya. Ia akan merasa dipermainkan, dan hanya menjadi pelampiasan atas permasalahanku saat ini. Masalah yang belum ia ketahui.




“Kamu mandi dulu gih. Bau keringat.” ia menyembunyikan kegugupannya, tapi sorot bahagia tidak mampu ia sembunyikan.




Sial! Tangan ini tidak bisa kukontrol. Kubelai rambutnya sambil tersenyum. Inginku adalah berterima kasih atas ketulusannya, tetapi binar bahagianya semakin tergambar. Tentu saja bukan bahagia seorang sahabat, melainkan bahagia gadis yang sedang jatuh cinta.




Ia mencubit lenganku. Bahuku ia dorong supaya segera mandi. Kuambil handuk dari dalam lemari. Ia mengambil smartphone-nya.




“Kita makan di luar aja sesuai rencana.” aku mencegahnya memesan makanan.


“Yakin?”


“Iya.”


“Yaudah buruan mandinya.”




Aku meraih gayung yang berisi perlengkapan mandi, dan melenggang menuju kamar mandi umum di ujung kostan.




Kesdihan ini kembali muncul, namun dadaku tidak sesesak tadi. Aku lebih tenang. Salsa telah ada dalam susahku. Kuputuskan untuk menunda masalahku dengan keluarga tercinta, menghibur diri bersama Salsa akan menjadi saat yang baik agar bisa lebih menenangkan diri.




Keluar dari kamar mandi, bukan hanya tubuhku yang segar, pikiranku juga lebih jernih. Kukeringkan rambutku sambil melangkah ringan kembali ke dalam kamar. Terdengar obrolan. Dan aku hanya bisa terbengong.




“Neng Rere?”




Gadis itu sudah ada di dalam kamarku, ngobrol bersama Salsa yang nampak tidak suka atas kehadiran sahabatnya.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar