Enzo part 21

 

BAB 21

“Selamat tinggal masa lalu, aku kan melangkah…” senandung serakku berhenti ketika sosok yang kutunggu muncul juga. Inilah hari ketujuh aku berada di Bandung, atau hari terakhir sebelum aku kembali ke kota Angkringan NeNeN.

Aku sengaja tinggal lebih lama di kota ini agar aku bisa menyelesaikan semua ganjalan hatiku terhadap Tante Puki. Tidak mudah, tapi aku harus bisa menerima. Tidak gampang, tapi aku harus berlapang dada. Ndul si tengil banyak membantuku, beberapa kali juga Bu Ningnung menelpon untuk mengetahui kabarku, dan tiba-tiba saja.. ada malaikat lain yang setia menemani dan menghiburku. Dia adalah Ariska.

“Jadi udah move on nih?” tanyanya dengan senyum seolah meledek.

“Pastilah!!” aku menjawab dengan percaya diri, meski hati ini belum menerima sepenuhnya.

“Iya deh.. aku mah percaya aja.” senyumnya nampak menjengkelkan, tepatnya menggemaskan.

“Ingat, Ka, jam mati aja selalu benar dua kali dalam sehari.” ujarnya sambil duduk di sampingku. Aku pun tersenyum mendengarnya, sudah belasan kali aku mendengar kalimat itu dari mulut seorang Ariska.

“Besok aku mulai kerja, doain aku yah, agar aku tidak mengecewakan Kak Pupuh. Yeaaah.. cukuplah kamu yang mengecewakan dia, tapi aku gak mau ikut-ikutan ngecewain boss baruku,” Ariska berubah ceriwis.

“Eh kok jadi aku? Ada juga dia yang mengecewakan aku!” aku tersinggung.

“Hihi.. gak usah ngegas juga kali, Ka, lagian aku kan udah bilang kalau dia sudah memilih yang terbaik untuk kamu dan hidup dia sendiri. Jadi tidak perlu lagi saling sakit hati.”

“Habisnya kamu…

“Apa?!!”

“Nggak.”

“Apa?”

“Nggak!! Iya.. iya kamu selalu benar.”

“Ya iyalah.. Ariskaaa..!!!”

Entah berapa kali percakapan seperti ini terjadi, namun selalu terulang dan terulang lagi. Ia memang baik, tetapi selalu galak, dan tak jarang ia juga narsis. Entahlah.. apakah aku harus kesal atau gemas pada setiap ulahnya.

Tiba-tiba Ariska pun nyerocos antusias karena mulai besok akan bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Tante Puki. Ia mengaku sangat senang karena bisa membuktikan pada kedua orangtuanya bahwa ia bisa mandiri dan tidak menumpang pada kesuksesan mereka.

“Dan yang paling penting…” kali ini ia berujar sambil menatapku lekat. “Aku bisa mengejar mimpiku.”

“Emang mimpi apaan sih?” aku membalas tatapannya.

“Hihi.. kamu gak akan mengerti. Percuma juga kalau aku cerita ke kamu.”

Ariska pun tertawa ketika melihatku menghela nafas, ia seolah puas ketika melihatku salah tingkah di hadapannya

“Ka..!!”

“Hmmm..?”

“Menurutmu aku gimana?”

“Gimana apanya?”

“Ya penilaianmu terhadap aku?!”

“Hmmm kamu baik.”

“Udah gitu aja? Standar banget sih.”

“Emang kamu gak merasa baik?

“Bodo!! Dasar gak peka!”

“Loh.. salah lagi kan akunya.”

“Emang salah!”


“…”




Tanpa peduli aku pun berdiri meninggalkan taman jomblo di bawah jembatan layang Pasupati, Ariska membuntutiku sambil menggerutu. Tujuanku adalah mobil Ariska yang tadi diparkir di basement mall. Seyogyanya aku menemani dia belanja, namun aku lebih memilih menyendiri di taman sambil menunggu gadis itu membeli keperluannya.




“Ka, kita makan dulu yah.


“Iya.”


"Kamu mau makan apa?”


“Makan nasi.”


"Itu aja?”


“Ama pepes ikan.”


“Lalu?”


“Pake sambel.”


“Minumnya?”


“Air.”


"Air putih doank?”


“ASI.”


“Hihi.. dasar mesum!”




Dan setengah jam kemudian kami pun tiba di sebuah resto di kawasan Setiabudi. Tempatnya cukup cozzy dan tidak terlalu ramai.




“Aku ke toilet dulu yah.” pamit Ariska seusai memesan makanan.


“Jangan lupa cuci “itu”nya dan cuci tangan, kan mau makan.”


“Mesum kok gak ilang-ilang.. Kata.. Kata…” ia menoyor kepalaku sambil menggelengkan kepala, sedangkan aku tak acuh sambil mengeluarkan smartphoneku.




Kubuka beberapa pesan, isinya hanya dari Ndul dan Tante Puki. Tante Puki malah memintaku ketemu dulu sebelum aku berangkat dengan kereta malam. Segera kubalas singkat sekedar untuk meng-iya-kan.




“Hai.. Masnya yang tinggal sekompleks dengan kami, kan? Kok sudah lama tidak kelihatan?” tiba-tiba suara merdu seorang wanita paruh baya menyapaku.




Aku pun mendongak melihat sosoknya. Sesaat aku hanya terperangah dan jantungku berdebar kencang. Wanita yang dulu diam-diam sering kuamati kini sudah berdiri di hadapanku. Wajahnya cantik dan senyumnya menawan. Bibirnya seksi dengan bagian bawah nampak sedikit lebih tebal.




“Eh saya salah ya?” tanyanya lagi.


“Eh.. tante.. tante.. iyah kita tetanggaan.” jawabku sambil pura-pura mengingat namanya.




Aku sudah tahu nama wanita ini, dia adalah Wulan Ningtyas, menurut Ndul suaminya bernama Reno Ban Fith. Tapi aku tidak mau ketahuan kalau dulu aku sering memperhatikannya. Aku harus jual mahal.




“Saya Wulan, istri Mas Reno. Itu loh.. kami tinggal di rumah No. 27.” ia menjelaskan, dan dia tidak berbohong.


“Oh iya tante.. Tante Wulan…” aku pun berdiri dan menyalaminya.




Jantungku sedikit berdesir ketika kulit telapak tangan kami bersentuhan. Lembut kurasakan.




“Saya sih hanya sering lihat mas aja kalau jogging di kompleks, tapi kalau nama saya tidak tahu. Kok sudah lama tidak kelihatan?” tanyanya lagi. Bibirnya terlihat menggemaskan ketika ia sedikit cerewet menanyaiku.


“Saya En.. eh Kata, tante.” aku hampir salah sebut nama.


“Nama yang bagus. Unik…” gumamnya.


“Sudah enam bulan ini saya merantau ke Jateng, biasa mencari isi perut hehee…” jelasku sambil menarik tangan yang dari tadi tanpa sadar masih berjabatan. Tante Wulan pun nampak tersipu karena tidak menarik jabatan tangannya.


“Jawa Tengahnya di mana?”


“Kota NeNeN, Tante.”


“Hah?”


“Eh.. maaf Tante.. mmmasksud saya kota R.”


“Oh.. kamu lucu deh.” ia nampak menyembunyikan senyum, lantas tanyanya lagi, “Wah kebetulan suami saya berasal dari sana. Boleh donk kita ketemuan kalau kami pas mudik?”


“Oh sangat boleh, Tante.” aku antusias.




Tak perlu modus untuk mendapatkan nomor telponnya karena ia sendiri yang meminta nomorku dan langsung misscall. Setelah saling berbagi nomor, ia pun pamit karena suami dan kedua putrinya sedang menunggu di lantai dua restoran.




Tante Wulan pun meninggalkanku, dan aku menghantarnya dengan tatapan pada bokongnya yang bergoyang di balik balutan ketat rok yang ia kenakan. Semesta seakan sedang berada di pihakku, pertemuan tak terduga ini seakan menjadi lampu hijau untuk mengenal keluarganya dan mencari keterkaitannya dengan orangtuaku di masa lalu.




“Hayo… tuh mata jaga, Ka. Masa seleramu tante-tante melulu.” keterpesonaanku pada bokong Tante Wulan membuat aku tak sadar kalau Ariska sudah kembali dan duduk di hadapanku.


“Rejeki, Ris.” jawabku santai.


“Beruntung Kak Pupuh…”


"Loh kok beruntung?”


“Ya beruntung ia berani mengambil keputusan untuk meninggalkanmu, secara kamunya kan mesum begitu!”


“Ris!!!”


“Apa?!”


“Nggak!”


“Hihi… mesum mesum mesuuum…!”




Aku hanya diam tanpa mau meladeni ledekan Ariska, percuma debat dengan dia karena ujung-ujungnya aku yang selalu harus mengalah. Beruntung makanan yang kami pesan segera datang sehingga aku bisa mengalihkan kekesalanku pada Ariska dengan menyantap menu yang kami pesan. Aku makan dengan lahap, bukan karena lapar, tapi karena perut keroncongan.




“Ka..”


“Hmmm?”


“Nanti kalau cuti aku main ke rumahmu yah dan numpang nginap di sana.”


“Kerja aja belum, udah mikirin cuti.”


“Kata!!! Aku bilang kan “kalaaaau”!!”


“Iyah boleh.”


“Beneran??”


“Iyah!! Percuma bilang “nggak” juga, kamu pasti tetep datang.”


“Huuh.. kepedean.”


“Emang bener, kamu pasti kangen 


Aku!!”


“Whaat?!! Nggak yah.. aku kan mau ngunjungi Bude dan Yaning doank.”


“Yaudah kalau kamu datang, aku pergi.”


“Loh kok gitu?”


“Laah.. kan kamu cuma ingin ketemu Bu Ningnung dan Yaning doank.”


“Jadi kamu gak mau ketemu aku?”


“Jadi tujuanmu mau ketemu aku atau ketemu mereka?”


“Bodo!! Kamu nyebelin!!!”




Haissssh!! Salah lagi.. salah lagi…!! Kadang ngeselin nih cewek, tapi aku cukup senang juga karena kehadiran dan ulahnya membuat aku bisa melupakan Tante Puki walau sejenak.




“Betewe, gimana Enzomu?” ujarku setelah menelan suapan terakhir.


“Baik.”


“Loh kamu udah ketemu dia?”


“Belum.”


“Kok bilang ‘baik’?”


“Ya karena aku yakin dia baik-baik saja!”


“…”


“Estewe, gimana hubunganmu dengan Iban?”


“Baik.”


“Kalian udah lama pacaran?”


“Belum.”


“Hah?”


“Kami tidak pacaran!!”


“Haah??!! Kok udah saling suwir?”




Plaaaak!!!!




Fiuuuh.. pipiku terasa panas karena tamparannya terlampau keras.




“Jaga omongan kamu?!! Sembarangan aja!!!”


“…” Aku hanya diam sambil mengusapi pipiku, lalu menyeruput jus jeruk sampai ludes.


“Jadi kamu masih perawan, Ris?”




Wuuuuttt… tangannya kembali melayang tapi kali ini aku berhasil menangkap pergelangannya.




“Otakmu itu, Ka, gak jauh dari selangkangan.” gerutunya.


“Ya karena bagian itu enak banget, Ris.”


“Kamu tuh bener-bener yaaah… ngeselin banget sih jadi orang?!!”




Tiba-tiba Ariska berdiri dan mengambil kunci mobil di hadapanku, tanpa permisi ia pun berlalu dengan langkah panjang.




“Ris…!” buru-buru aku mengejarnya.


“Mas.. mas.. tolong bayar dulu.”




Sial!! Aku pun segera menuju kasir untuk membayar makanan, dan ketika berlari keluar, Ariska dan mobilnya sudah tidak ada.




Kupret!!! Aku pun hanya celingukan, lalu duduk pada bibir pot bunga. Kuhisap sebatang rokok sambil berpikir bagaimana caranya aku pulang ke apartemen Ndul.




“Pulang pake Gojek aja!!! Mesum!!!” Ariska seolah tahu kebingunganku, ia mengirim pesan WA.


“Fiuuuh..!! Apa maunya gadis ini?” dumelku dalam hati. Ia marah meninggalkanku, tetapi juga seolah sok perhatian. Sungguh gadis yang aneh.


“Maaf Mas, jangan duduk di situ nanti potnya pecah.”


"Kumaha sia wae!!(terserah lu!!)” dumelku.


“Laah.. dikasih tahu malah nyolot!! Mau mas apa?!!” Hayang paeh!!! (pengen mati!)”




Buk!! Buk!!! Buuuuk!!!




Aku pun terhuyung sambil memegangi ulu hati, darah segar menyembur, dan aku pun tak sadarkan diri.




BERSAMBUNG.. kan lagi pingsan…



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar