Enzo part 22

 

BAB 22






Aku mengerjap saat terasa ada yang sedang mengusapi wajahku. Tapi urung membuka mata ketika kepalaku terasa masing pening. Perutku juga terasa masih ngilu bekas tonjokan pria asing di depan restoran tadi. Aku bahkan tidak tahu sekarang sedang ada di mana, dan aku kecewa karena gagal mati.




“Kondisinya baik-baik saja, Neng Riska tidak usah khawatir.” terdengar suara seorang pria.


“Terima kasih, dok.”


“Nanti kalau sudah sadar, obatnya disuruh minum.”




Aku mendengar perbincangan, dan aku sangat hafal kalau suara sang perempuan adalah Ariska. Kudengar langkah mereka meninggalkan kamar, si pria yang nampaknya dokter terdengar pamit. Aku pun memicingkan mata untuk melihat keberadaanku. Rupanya aku sedang berbaring di dalam kamar yang luas dan mewah.




Aku kembali memejamkan mata ketika terdengar langkah yang mendekat kembali. Tak lama kemudian kasur pun bergoyang pertanda ada yang duduk di sebelahku.




“Kamu tuh nyebelin banget sih jadi orang.” suara Ariska terdengar. Meski mengungkapkan rasa kesal, namun nada suaranya sangat lembut penuh khawatir.




Kurasakan tangan halusnya membelai wajah dan rambutku, tak lama kemudian aku merasakan nafas hangat yang sangat dekat.




Cuuuuppp!!!




Dug dug dug!!! Ajiiib… seorang Ariska mencium keningku. Kuputuskan untuk tetap bertahan dalam posisiku, aku tak ingin dia malu sekaligus ingin tahu apa yang selanjutnya akan gadis ini lakukan. Semoga saja ciumannya pindah ke selangkangan. Aku sudah tidak peduli. Kehilangan Tante Puki membuat aku lelah menjadi orang baik. Biarlah kini aku berkelana menjadi apa yang kumau tanpa perlu jaim.




Eh.. ada setitik air yang jatuh pada pipiku. Air matakah? Sepertinya betul karena tak lama kemudian Ariska mengusapnya.




“Mau sampai kapan kamu sembunyi, Zo? Sampai kapan hiiiks..!!”




What the fuck!!! Sejak kapan dia tahu kalau aku adalah Enzo?! Bangke!! Ini pasti ulah si Ndul!!! Bangsat tuh orang, sudah berani-beraninya mengkhianati kepercayaanku.




Dug dug dug… Dadaku terasa sakit karena tetap berusaha mengatur nafas yang tiba-tiba mulai tersengal.




“Kamu bukan lagi Enzo yang kukenal, aku kecewa ama kamu, kamu nyebelin!! Tapi hiks.. aku sayang kamu. Hiks hiks…”




Aku pun kembali pingsan mendengarnya. Kali ini bukan pura-pura, melainkan pingsan beneran. Kalau pemirsa tahu bahwa aku pingsan, itu karena si mamang yang menuliskannya untukku.




“…..”




BERSAMBUNG lagi.. kan pingsan beneran…



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar