BAB 20
“Hai, sayang!! Masih inget pulang toh? Hihi…” sesosok tubuh menyambutku dengan ramah, dan setelah mencium kedua pipi ia langsung memelukku erat.
“Tante kangeeen..”
Aku hanya bisa berusaha tersenyum sambil melihat sosok Om Toyski di belakangnya, ia menunggu giliran kusalami. Kupret!!! Entah ini sandiwara yang dibuat oleh Tante Puki di depan suaminya, atau ia memang benar-benar bahagia mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kami. Jika jawabannya yang kedua, apakah secepat itu?! Atau selama ini ia hanya mempermainkanku?!!
“Hehe.. apa kabar, tante?” aku bahkan tidak tahu kalau tawa kecilku sungguh terdengar wajar atau hambar.
“Tidak baik, abisnya keponakan tante satu-satunya ini sangat sombong?” ujarnya sambil mengurai pelukan lalu menepuki kedua pipiku.
Srrrrr….!!!
Jantungku berdesir, di balik senyum itu ada sorot mata yang kosong, wajahnya seolah tanpa sinar. Bibirnya juga terlihat pucat dan di bawah kedua kelopak matanya ada gelayutan hitam yang disamarkan oleh makeup.
“Ah tante…” aku berusaha menekan perasaan, lalu aku mengulurkan tangan pada suaminya, “Om, apa kabar?”
“Baik, Zo, kamu sendiri gimana?” sambutnya ramah.
Berbeda dengan Tante Puki, senyum bahagia Om Toyski nampak tulus dan apa adanya. Sepertinya ia sedang benar-benar bahagia.
Kami bertiga pun saling “kangen-kangenan” beberapa saat lamanya sebelum akhirnya mereka mempersilakanku masuk, dan mengajakku duduk di ruang keluarga. Sesungguhnya perasaanku sangatlah tidak karuan, namun aku berusaha bersikap wajar di hadapan mereka, aku lebih memokuskan diri pada Om Toyski daripada kepada Tante Puki.
Aku Enzo.. eh Kata… ah bangke!!! Terserah mau dipanggil apapun, aku sudah terbiasa menekan perasaan sejak masa kecil; aku sudah terlatih untuk menjalani masa-masa pahit tanpa harus menjual harga diri dengan mengobral kesedihan dan kepahitanku di depan orang lain.
“Tante kok nampak sedih?” tanyaku pada wanita yang telah membuatku sakit hati ini.
“Masa sih.. Tante biasa aja…” kilahnya sambil tersenyum.
“Bukan sedih, Zo, tantemu itu cuma terharu karena apa yang bertahun-tahun kami nantikan akhirnya datang juga; ditambah lagi sekarang kamu juga ada di sini,” Om Toyski menyahut.
“Berisik lu… bahagia bulu hidungmu… gara-gara kamu, Tante Puki meninggalkanku…”
“Alhamdullilah Om… Tante… selamat ya… aku ikutan seneng,” aku menjawab sambil menatap perut Tante Puki. Masih langsing karena usia kandungannya baru beberapa minggu, yang terbayang malah lubang pusarnya yang seksi dan menjadi kegemaranku untuk kukilikitik dengan ujung lidah.
“Om sih bersyukur banget. Setelah menunggu sepuluh tahun akhirnya kami dipercaya punya momongan,” sambut Om Toyski dengan sumringah.
“Iya kan, mah?” sambil menatap mesra istrinya.
Kupreeet!!!
“Ya gimana gak nunggu lama?!! Abisnya Mas pergi melulu!!” Tante Puki cemberut.
“Ya.. namanya juga kerja di kapal pesiar, mau gimana lagi. Tapi kan sekarang aku sudah resign, aku janji untuk selalu menemani mamah dan si dedek.”
Percakapan macam apa ini. Taik!! Bangke!! Kupret!!! Bahagia lu, derita gue!! Aku tersenyum, tapi ulu hatiku bagai diremas. Kubuang pandanganku pada Om Toyski, aku tidak tahan beradu pandang dengan Tante Puki yang menatapku sendu.
Obrolan terpotong saat Bi Uyup mengantar minuman untukku, sesaat kami saling sapa karena memang sudah saling mengenal, ia nampak semakin tua dan mulai keriput, kedua payudaranya kelihatan tidak membusung lagi. Kupikir itulah fungsinya beha, agar payudara tidak menggelambir. Kalau yang masih ranum, tidak pake beha juga aman karena tidak akan merosot.
Sisanya adalah obrolan biasa layaknya sebuah keluarga. Saling berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing, dan terutama Om Toyski banyak bertanya tentang pencarian dan perjalananku di tanah rantau. Setengah jam.. satu jam.. dan hampir dua jam aku terkurung dalam situasi dan obrolan yang tidak nyaman. Aku ingin dirokok.. eh.. merokok.. tapi merokok sambil dirokok pun baik adanya.
Haisssh!!!
Dan aku benar-benar bernafas lega ketika Om Toyski pamit untuk mandi sebelum kami sama-sama makan malam. Aku sendiri melangkah ke halaman belakang untuk merokok, dan itu memang yang kumau ketika Tante Puki mengikutiku.
Kusulut marlboro merahku sambil menatap hampa ke tengah kolam ikan.
“Hiiikss.. maafkan aku, sayang.” Tante Puki memelukku dari belakang sambil terisak, sedangkan aku tetap mematung sambil menghembuskan gulungan asap dari mulutku.
Isaknya cukup pelan namun terdengar sangat memilukan, pelukannya pun teramat erat. Aku hanya diam, sakit hatiku kini menggumpal kembali. Amarahku mendesak dan seakan mau meledak. Hanya rokok ini yang sedikit meredam sehingga aku bertahan untuk mematung diam.
“Aku butuh penjelasan,” ujarku di akhir hisapan terakhirku, suaraku sedikit bergetar. Kuinjak puntung dengan sedikit kasar.
“Aku sudah menjelaskannya ditelpon, sayang. Hiiksss…”
Kubalikan tubuhku dan kini kami berdiri berhadapan. Kini amarah dan iba bercampur menjadi satu, bunga mimpiku tak lagi indah, wanitaku nampak kacau dan bermuram. Ia hanya menutup mulut agar tangisnya tidak pecah, sedangkan air matanya ia biarkan berderai.
“Aku sayang, tante, sangat sayang…” kukabarkan perasaanku dengan nada tinggi. Kuhembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan menyampaikan unek-unekku, “Aku bersedia mendampingimu seumur hidupku, dan menjadikan janin dalam kandunganmu sebagai anak kita!”
“Hiks.. hiks.. aku tahu.. hiiiks… aku juga sayang kamu, Zo, tapi bukan dengan itu caranya kita saling menyatukan rasa sayang. Aku…”
“Lalu apa yang selama ini kita lakukan?” aku memotong ucapannya. Aku sudah terlalu emosi karena rencana indah yang sempat kami buat bersama kini ia hancurkan dalam waktu sekejap. Bahkan lagu kenangan “Sampai Jadi Debu” seolah hanya hisapan kontol tanpa crot belaka.
“Maafkan aku.. hiiiks… aku sayang kamu.. aku tidak pernah menyesal menyayangi kamu.. juga tidak pernah menyesal atas apa yang kita perbuat selama ini. Hiiiks… tapi.. tapi bayi ini menyadarkanku bahwa pilihanku salah. Aku harus memilih suamiku, dan janin inilah yang seolah memilih ayahnya sendiri. Ia menginginkan ayah kandungnya, bukan kamu. Semuanya ini aku lakukan demi bayiku, demi kamu, dan juga demi keluargaku. Hiiiks…”
“Bagaimana mungkin janin yang baru berusia beberapa minggu bisa menyampaikan keinginannya?” aku tidak bisa menerima semua alasan yang ia sampaikan.
“Hiks.. kamu tidak mengerti, Zo, aku ibunya.”
“Kalau begitu, buat aku mengerti!!”
“Hiiiks…”
“…”
Meski diam, kali ini aku membalas tubuhnya yang kembali memelukku. Biar bagaimana pun dia adalah satu-satunya wanita yang selalu ada dalam hidupku, dan telah membesarkanku menjadi seperti sekarang ini. Tanpa Tante Puki, mungkin tak seorang pun akan mengenal bahwa di dunia ini pernah ada seorang Enzo.
“Sekali lagi tante mohon maaf…” ia bahkan sudah menyebut dirinya “tante” seperti dahulu. “Mungkin kamu tidak mengerti sekarang, tapi tante harap suatu saat kamu akan bisa mengerti. Tante tidak bisa memungkiri bahwa keputusan ini sangat cepat dan mendadak, tapi sekali lagi, ini semua tante lakukan demi kebaikan semuanya, termasuk bayi ini…”
“Jangan pikir bahwa tante tidak sedih dengan ini semua. Tante sedih.. hiiiks… sangat sedih.. Tante sangat sayang kamu, Zo, seperti juga kamu menyayangi tante. Tapi tante pikir bahwa bayi ini hadir tepat waktu, ia yang membuat hati dan pikiran tante terbuka. Tante telah menyayangimu dengan cara yang salah…”
“…”
“Selama ini tante kesepian karena sering ditinggal suami, dan satu-satunya pria yang bisa menemani hari-hari sepi tante adalah kamu, sayang. Selama ini satu-satunya orang yang tante miliki hanyalah kamu. Tapi hiiiks…”
Aku sudah tidak bisa menyimak lagi seluruh ucapan Tante Puki. Kini aku berperang antara mempertahankan ego atau membiarkan wanita ini menemukan bahagia dengan caranya. Terlintas dalam benakku nasihat-nasihat Bu Ningnung, dan rasa sesak di dalam dada ini semakin kuat. Tante Puki mungkin benar, nasihat Bu Ningnung juga benar, dan kini aku tersakiti karena mereka benar!
“Ajari aku agar aku bisa menerima dan menjalani ini semua.” Kupret!! Mulutku berkhianat, ia mengatakan bukan apa yang kurasakan.
Sialnya, tubuhku juga berkhianatan dengan membalas pelukan Tante Puki dan mengusapi punggungnya dengan lembut. Satu-satunya anggota tubuh yang masih bersahabat adalah mata ini, ia tidak menangis. Eh ada satu lagi.. penisku juga hanya diam dan tertidur.
“Itu pasti, sayang, pasti… Tante tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, suami, dan calon sepupumu.”
Sisanya kami hanya saling dekap dalam kecamuk perasaan masing-masing. Aku bahkan tidak tahu apakah aku sedang bahagia atau menanggung lara.
Aku masih ingin berdua, aku masih ingin berbicara. Banyak hal yang harus kusampaikan, banyak beban yang harus kuungkapkan. Tapi waktuku terbatas, Om Toyski mungkin saja sudah selesai mandi, dan aku tidak ingin dia melihat istrinya sembab oleh air mata. Kuuraikan pelukan dan Tante Puki menciumiku dengan wajah basah, aku hanya diam tanpa membalas.
Kami benar-benar merenggangkan diri ketika di depan rumah terdengar suara kendaraan memasuki pekarangan. Kutatap kosong wajah Tante Puki yang sedang mengusapi wajahnya, ada senyum di sana, meski terlihat sedikit dipaksakan.
“Bayiku adalah alasanku saat ini, tapi ada alasan lain demi kebaikanmu. Tante harap suatu saat nanti kamu akan mengerti, sayang.” aku hanya terdiam mendengarnya, tak sedikit pun aku mengerti. Lantas sebuah kecupan kuterima sekali lagi, kecupan tipis pada bibir, lalu ia mendahuluiku memasuki rumah.
Aku masih ingin sendiri, aku ingin merasakan rasa hampaku seorang diri. Aku pun melangkah menuju bangku di tepi kolam, kunyalakan kembali sebatang rokok. Kuhisap dalam-dalam meskti tiada kunikmati.
“Bangke!!! Suruh nunggu gua dulu malah kabur duluan!!! Lu gak aneh-aneh di depan Om Toyski, kan?” sosok Ndul muncul dengan masih mengenakan pakaian kerja, tangannya menenteng kunci mobil.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar