Enzo part 19

 

BAB 19








Sentuhan lembut terasa pada tanganku. “Ka, kita sudah sampai,” suara lembut itu membangunkanku.




Aku yang sejatinya hanya pura-pura tidur karena memang tidak bisa terlelap sama sekali langsung membuka mata dan melirik ke arah sosok manis di sampingku. Pagiku disambut wajah cantik dan senyum manisnya. Ia nampak sudah segar karena mungkin membilas wajahnya dengan tissue basah dan memulas kembali makeup-nya. Dia adalah Ariska, dan kini kami sudah tiba di Stasion Hall. Atas anjuran Bu Ningnung, aku ikut Ariska ke Bandung.




Sebetulnya aku kembali ke kotaku dengan dendam kesumat. Dendam pada nasib, marah pada takdir, kesal pada keadaan, benci pada para zembuters, suwiranku dicuri orang. Dan pria itu adalah suaminya sendiri. Bangke!!!! Pikiranku juga sebetulnya terganggu karena sikap Bu Ningnung yang tiba-tiba diam dan banyak melamun. Sepertinya ia masih menyesali apa yang kami lakukan kemarin malam. Ia hanya ramah dan bersikap wajar jika di hadapan Ariska atau Yaning, sisanya ia banyak menghindar.




“Kamu bareng kami, kan? Nanti biar kami berdua yang nganter,” ujarku pada Ariska sambil ikut berdiri untuk membantunya menurunkan koper.


“Nggak usah, Ka, aku dijemput sopir kok. Lagian arah rumah kita kan berlawanan arah. Kamu ke Dago, aku ke Batujajar.”


“Yee kok gitu, aku kan udah bilang biar aku dan Ndul aja yang nganter,” aku merasa tidak enak hati.


“Udah.. gakpapa kok… keep contact yah… dan kita ketemuan dulu sebelum kamu kembali ke kota NeNeN.”


“Siap. Makasih banyak, Ris, aku sangat menghargai bantuanmu. Maaf yah aku belum bisa cerita sekarang, mungkin kapan-kapan aku akan cerita ke kamu.” ujar tulusku sambil mengikuti gadis itu dan membawakan kopernya. Bawaanku sendiri hanya tas ransel.


“Nyantai aja, Ka,” jawabnya tanpa menengok.




Kami pun menuruni kereta dan menyeberangi beberapa jalur rel menuju pintu selatan. Banyaknya penumpang dan ramainya suasana membuat kami tidak bisa banyak berbincang. Aku hanya bisa melangkah dengan membuntutinya dari belakang.




“Ka..” tiba-tiba Ariska berhenti dan berbalik kepadaku. Tinggal beberapa meter saja kami keluar pintu gerbang stasion.


“Aku tidak tahu persisnya ada apa dengan kamu dan Poetry, tapi seandainya kalian tidak bisa melanjutkan hubungan kalian, boleh gak kalau aku tetap kerja di perusahaan Poetry?” ia seolah sedang memohon.


“Ya bolehlah, Ris, kenapa juga harus nanya gitu. Gak ada hubungannya itu mah,” aku menjawab sigap.


“Ya siapa tahu kalau kalian bubar terus kamu gak mau lagi berteman ama aku secara aku kerja pada Poetry.”


“Emang kita temenan?”


“Raka!! Nyebelin banget sih jadi orang!!!”


“Hehe… iyah… iyah… nyantai aja, Ris, masalah pribadi gak ada hubungannya dengan kerjaan,” aku mencoba sok tegar, padahal aku datang ke Bandung karena aku masih punya harapan bahwa hubunganku, tepatnya hubungan cintaku dengan Tante Puki tidak akan berakhir.


“Ya siapa tahu… hehee… makasih Kata mesum!”


“Nah kayaknya aku berubah pikiran deh,” protesku.


“Hihi.. iya.. iya.. bercanda kali.”




Kekehan Ariska membuatnya nampak semakin cantik. Bahkan sikapnya yang mendorong-dorong pipiku dengan tinjunya membuat gadis itu nampak lucu dan menggemaskan.




“Selamat memperjuangkan cintamu!”


“Makasih!! Eh…”




Aku terkaget ketika Ariska tiba-tiba memelukku, membuatku sedikit terjejer ke belakang.




“Makasih atas semua yang sudah kamu berikan kepada Bude dan Yaning, dan juga kepadaku, Ka. Makasih karena mau berteman denganku.” ujar Ariska sambil memelukku erat, dan secara spontan aku membalasnya dengan satu tangan karena tangan satu lagi sedang memegang gagang koper.


“Aku berdoa untukmu, semoga kamu berhasil memperjuangkan cintamu.”


“Makasih, Ris.”




Pelukan pun terurai, dan aku tidak paham ketika melihat Ariska menitikan air mata karena seharusnya malah aku yang bersedih.




“Semangat!!!” Ariska mengepalkan kedua tangan untuk menyemangatiku.


“Semangat!!!” aku menjawab diakhiri tawa hambar.




Ariska tersenyum tanpa menyeka air matanya. Ia malah merapikan kerah baju dan rompiku yang sedikit tidak rapi. Aku hanya mematung bingung tanpa tahu apa yang harus kulakukan.




“Udah yuk,” Ariska mengambil gagang koper dari tanganku dan melangkah duluan.




Keluar dari Stasion, Ndul sahabatku sudah menunggu, dan langsung menyambut kami berdua. Kami masih ngobrol sambil menunggu jemputan Ariska. Suasana masih cukup wajar, dan Ndul pun tak mau membahas tentang Tante Puki sama sekali. Barulah setelah kami berdua berpisah dengan Ariska, ia memaki-maki karena sesungguhnya ia sangat tidak setuju kalau aku datang ke Bandung dalam situasi sekarang.




“Kupret!! Bangke!!! Taik.. lu memang bener-bener nekad, bro!!” maki Ndul setibanya kami di dalam mobil.




Aku hanya diam, sementara ia menyalakan mesin dan melajukan kendaraan meninggalkan parkiran. Waktu masih menunjukkan jam setengah enam pagi.




“Gua kan udah bilang sebaiknya lu mengalah dan menuruti maunya Tante Pupuh, ia punya itikad baik untuk mempertahankan rumah tangganya. Seharusnya lu bantu, bukan malah merusak!!!”


“Tapi Ndul…”


“Apa? Lu gak bisa lupain suwirannya? Naif lu…!!!”


“Kalo suwiran yang itu mungkin bisa, tapi dia telah bener-bener nyuwir hati gua!!” aku tidak terima.


“Bacot lu!! Lu ditawarin suwiran lain juga pasti lu mau, gak usah sok-sokan cinta matilah kalau tuh kontol gak sinkron ama hati lu!!”




Kupret memang sahabatku, dia bukannya menghibur dan mendukung, tetapi malah mencaci maki. Dia memang ada benarnya, buktinya kemarin malam aku terhanyut dalam cumbuan dengan Bu Ningnung, tapi aku masih yakin bahwa hatiku hanyalah untuk Tante Puki. Aku lelaki dan aku punya harga diri, apapun yang terjadi, aku harus memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku.




“Jadi apa rencana lu?”


“Nemuin dia secepatnya.”


“Haiiish… lu istirahat dulu dah di apartemen gua. Hari ini Tante Puki gak masuk kerja, dia masih butuh istirahat, lagian di rumah ada suaminya! Jadi nanti sore kita baru kesana, dan gua harus ikut! Haruusss!!!”


“Ndul?!!”


“Kalau gua bilang “harus” ya harus. Ntar kalau lu mati karena patah hati, terus siapa yang bawain lu ke rumah duka dan adzanin lu?!!”


“Taik lu memang!!”


“Hehehe… lah emang bener, kan?”




Hanya tonjokan pada perutnya yang bisa kulakukan, membuat sahabatku meringis dan kendaraan sedikit oleng. Untung jalanan masih cukup sepi.




Jam enam lebih sedikit kami tiba di apartemen milik Ndul, sebuah apartemen mewah milik sang direktur SDM di PT. Luragung Mas.




“Gua mandi dulu, kalau lu mau sarapan cari aja sendiri dah. Gua harus masuk kerja karena banyak urusan di kantor. Lu tahu sendiri kan, boss gua minggat dari perusahaan dan lebih milih bikin Angkringan NeNeN, sedangkan wakilnya juga bolos karena bunting.” mulut Ndul benar-benar pedas, itu pun konon kata mantan pacarnya yang pernah ciuman dengan dia. Mungkin karena dia suka makan sambel “Bu Rudy”.




Daripada berdebat tidak jelas, aku hanya mengiyakan dan langsung merebahkan diri di kamar tamu, yang sebetulnya dulu biasa kupakai tidur jika malas pulang ke rumah. Tanpa sepengetahuannya, aku mengirim WA kepada Tante Puki bahwa aku sudah di Bandung dan memintanya ketemuan nanti siang.




Sisanya aku jatuh tertidur, tanpa aku tahu apa yang terjadi. Aku terlalu lelah, baik pikiran maupun fisik.




Jam sepuluh aku baru bangun, itu pun karena penis tegang kebelet kencing. Batangku mengeras karena air seni. Aku terhuyung menuju kamar mandi dan memuncratkan gelontoran air berbau pesing. Kondisinya yang tegang membuatku sulit mengarahkan air seni pada lubang yang seharusnya, maka air kencing pun muncrat sampai ke tembok dan mengalir di atas lantai.




Lega rasanya ketika kantong kemihku sudah kosong, maka aku pun keluar kamar mandi dengan penis masih nongol keluar risleting. Ya tetap begitu karena aku masih menggoyang-goyangkannya sambil melangkah. Itu kulakukan untuk mencipratkan sisa bintik seni yang masih ada. Yah lumayan… nulis tentang air seni aja bisa memperpanjang updetan, nambah dua alinea.




“Hiyaaaa… Ya ampun… Nak Enzo…!!!” aku disambut jeritan perempuan setengah baya. Ia melotot dengan mulut terbuka, sorot matanya bergantian menatap wajah dan penisku.


“Bbbi.. bibi sudah datang?!” aku sedikit gugup. Bi Lasmi, pembantunya Ndul sudah ada di dalam apartemen. Aku lupa kalau sekarang adalah hari Selasa, dia memang biasa datang untuk beres-beres rumah setiap Senin dan Jumat. Senin untuk membersihkan lelehan sperma sahabatku yang biasanya membawa perempuan sejak Sabtu, dan Jumat untuk menyiapkan kamar bagi pertempuran Ndul weekend berikutnya. Tapi itu dulu, gak tahu deh kalau sekarang.




Karena kaget aku langsung melepaskan tanganku dari batang penis, namun aku lupa memasukan kembali ke dalam kandangnya.




“Bibi apa kabar?” seruku pada perempuan yang sudah lebih dari setengah tahun tidak ketemu itu.


“Baik, Nak. Nak Enzo apa kabar? Kok kelihatan pucat?” jawabnya sambil mendekat, lalu ia langsung memelukku. Kami memang cukup dekat dan sangat akrab. Aku dan Ndul malah sudah memperlakukannya bukan sebagai pembantu, melainkan seperti anggota keluarga sendiri.




Aku membalas pelukannya dengan hangat. Bu Lasmi langsung nyerocos menyampaikan rasa kangennya sambil mengusapi punggungku.




“Eh…” ia sadar.




Ya.. penisku masih nongol dan menyundul-nyundul roknya di bagian selangkangan.




“Masukin dulu.. Nak Enzo dan Nak Gandul memang sebelas-dua belas kalau urusan mesum,” ujar Bu Lasmi.




Aku pun terkekeh sambil memasukan penisku, lalu kubalas kembali pelukannya sambil mengusapi punggung janda beranak satu itu. Hehe.. aku malah seperti sedang ngelap tanganku yang bekas megang penis.




“Neng Dian apa kabar, Bi?” tanyaku sambil melangkah menuju ruang makan diikuti oleh Bi Lasmi.


“Baik, Nak, sekarang sudah semester terakhir dan sedang magang di RSP Bersaudara.”


“Oh syukur atuh, semoga nanti setelah lulus bisa langsung kerja di sana.”


“Amiiin.”




Wanita itu langsung menyeduhkan kopi untukku, ia sudah tahu jenis kopi kesukaanku, juga takaran dan kadar suhu airnya yang harus dituangkan. Sambil menunggu kopi, aku pun menghisap sebatang rokok. Aku mendengarkan ocehan “kangen”nya dan hanya menyahut sekali-kali.




“Silakan, Nak, diminum. Sarapannya mau apa?”


“Nasi goreng sambal ijo andalan Bi Lasmi donk.”


“Hehe.. Ah Nak Kata masih ingat aja.”


“Pastinya!!”




Jadilah… Bu Lasmi sibuk menyiapkan sarapan untukku, sedangkan aku menikmati secangkir kopi dan berbatang-batang rokok. Sekali-kali mataku menatap keluar kaca, untuk melihat suasana kota yang sudah cukup lama kutinggalkan.




Aku beranjak sebentar ke dalam kamar ketika mendengar smartphone-ku berdering. Rupanya Ariska yang menelpon, ia hendak memastikan keadaanku. Duh.. sebegitu perhatiannya dia padaku. Padahal kekasihku sendiri hanya membalas singkat pesanku, yang isinya ia tidak mau datang ke apartemen dan malah memintaku untuk datang ke rumah dan makan malam dengan suaminya. Kupret!!! Sebegitu cepatkah dia berubah?!




“Hallo, Ris.”


“….”


“Iya.”


“….”


“Iya.”


“….”


“Iya.”


“….”


“Iya.”


“….”


“Iya.”


“….”


“Iya.”




Aku hanya mengiyakan ocehan Ariska di ujung sana.




“Nanti malam ketemuan yuk.”


“Iya. Eh… enggak aku mau ketemu Poetry.”


“Oh.. Yaudah atuh.. semangat, Kata. Sukses ya.”


“Makasih.”




Pembicaraan pun berakhir.




“Siapa tuh? Pacar Nak Enzo yah?” Bi Lasmi kepo sambil menata meja. Nasi goreng pun sudah matang, mengepulkan aroma sedap.


“Bukan, Bi, teman…”


"Halah… dari dulu Nak Enzo hanya berteman dengan perempuan, kapan atuh pacarannya? Apa gak pengen… eh… hihi….”


“Yeee… Bibi sendiri apa gak pengen? Kan udah lama menjanda!”


“Hihi… ya pengen, tapi bibi mah udah kering.”


“Tapi masih bisa disuwir, kan Bi?”


“Disuwir itu apa, Nak? Nih nasi gorengnya udah bibi kasih suwiran daging ayam kok.”




Hadoooh… dia tidak mengerti.




“Makasih, Bi.”




Aku pun sarapan, sedangkan Bi Lasmi menuju kamar Ndul untuk membersihkannya.




Tak terasa waktu pun beranjak siang, dan aku sudah menyelesaikan sarapan sekaligus makan siangku. Kini aku duduk di atas balkon sambil menghisap rokok dan menikmati pemandangan kota.




“Bi…” sambutku pada Bi Lasmi yang menghampiri dan duduk di depanku. Wajahnya sedikit berkeringat selepas membersihkan ruangan.




Awalnya kami ngobrol ringan, ia ingin tahu tentang kehidupanku di kota NeNeN. Yeah.. aku lebih senang menyebutnya begitu, daripada menyebut nama aslinya. Toh tidak ada salahnya juga, karena memang di sana sudah ada Angkringan NeNeN. Tapi lama-kelamaan aku malah bercerita tentang tujuanku kembali ke Bandung. Aku merasa lebih nyaman bercerita kepada Bi Lasmi, dan dari mulut ini mengalir cerita begitu saja.




“Aku tahu sih kalau itu salah, Bi. Aku tahu dia sudah bersuami dan sekarang sedang hamil muda, tapi aku sangat mencintainya.” ujarku sambil menatap wajah Bi Lasmi.


“Tidak ada yang salah, sih Nak.” ujar di sela senyumnya.


“Jadi aku gak salah mencintai istri orang?” aku merasa mendapat dukungan.


“Bukan begitu, maksud bibi…”




Bu Lasmi diam sebentar untuk menurunkan ujung roknya yang sedikit terangkat, dan seandainya semakin ditarik pun aku sama sekali tidak tertarik. Kulihat ada beberapa bekas koreng di sana.




“Mencintai itu tidak pernah salah, namun caranya mencintainya yang mungkin saja salah.”


“…” aku berusaha menyimak ucapan pembantu sederhana ini.


“Semua orang bisa saja mencintai lawan jenis yang bukan pasangannya, Nak. Entah itu orang langitan atau kaum ferguso seperti bibi. Itu wajar saja, toh cinta juga datang dan pergi tanpa diminta, tanpa kita maui. Kita tidak bisa memilih untuk mencintai si A dan tidak mencintai si B. Semuanya datang secara natural.”


“…” mulutku terdiam, tapi pikiranku bekerja untuk menyimak ucapan Bi Lasmi yang nampaknya sudah menjadi korban telenovela zaman dulu.


“Seperti Nak Kata mencintai istri orang… atau perempuan itu mencintai Nak Kata… kan kalian tidak bisa menyangkal karena kenyataannya kalian memang saling mencintai. Kalian tidak bisa bilang “tidak saling cinta” karena kenyataannya memang saling mencintai. Ya begitulah cinta… kita tidak bisa tahu kapan datangnya, tidak bisa mengatur kepada siapa jatuhnya.”


“…” kunyalakan rokok baru.


“Makanya bibi tadi bilang bahwa mencintai itu tidak salah karena kita tidak bisa menolak kehadirannya. Seperti juga mencintai istri orang itu tidak salah, tapi…”


“…”


“Kalau kita memaksakan cinta kita, dan atas nama cinta yang kita miliki lantas mau menghancurkan cinta orang lain, itu yang menurut bibi salah.”


“Gak paham,” gumamku.


“Mencintai istri orang itu tidak salah, tapi merebutnya dari suaminya itu yang salah.”


“Berarti kalau selingkuh bener donk, Bi?”


“Ya salah juga, Nak. Perasaan itu tidak pernah salah, tapi cara mengungkapkan dan mewujudkannya yang seringkali salah kaprah.”


“Jadi selama ini aku salah?”


“Nak Enzo yang bilang, bukan bibi. Hihi….”




Kutatap wajah Bi Lasmi dengan kening mengkerut. Wanita yang selama aku di Bandung ini sangat dekat dan kuanggap sederhana ternyata memiliki pemikiran yang terbuka dan luas.




“Bibi belajar dari telenovela mana sih? Atau dari sinetron apa?”


“Hihi… Nak Gandul yang pernah bilang begitu.”




Kupreeeet!!! Segala kekagumanku langsung hilang, keterpesonaanku sirna.




“Jangan lihat siapa yang mengatakannya, nak, tapi lihat apa yang dikatakannya.”


“….” aku benar-benar speechless.


“Hihi…”


“Yaelah bibiii… malah ketawa lagi. Rusak moodku…” ketusku.


“Hihi.. jadi kata bibi mah, ya nak, kalau memang wanita itu tetap memilih suaminya dan ia bahagia dengan itu, ya biarin aja. Membiarkan pilihan hidupnya, bukan berarti Nak Enzo tidak mencintainya, bukan? Dan kalau dia akhirnya lebih memilih suami dan keluarga, bukan berarti dia tidak mencintai Nak Enzo, bukan?”


“Iya juga sih, Bi.”


“Dia tidak salah mencintai Nak Enzo, dan dia tidak salah menentukan pilihan untuk tetap setia pada suaminya. Nak Enzo juga tidak salah mencintainya, tapi Nak Enzo salah jika tetap memaksakan kehendak untuk merebut dan memilikinya.”




Ucapan Bi Lasmi kali ini membuatku terdiam, secara logika aku setuju, tapi hati ini belum rela.




“Makasih, Bi.” hanya itu yang terucap, sementara otakku masih berpikir keras. Pikiran dan hati bisa beda, mulut dan perbuatan apalagi. Kini aku merasa kosong, dan bahkan ragu pada apa yang menjadi mauku.


“Jadi aku harus gimana sekarang, Bi?”


“Nak Enzo sudah tahu jawabannya. Hihi…”


“Aku gak tahu, Bibiiii!”


“Tahu!”


“Nggak!!”


“Tahu!”


“Nggak!!”


“….”


“Hihi.. dah ah bibi pulang dulu ya. Besok main atuh ke rumah, biar ketemu ama Dian juga, pasti dia kangen tuh karena udah lama tidak ketemu Nak Enzo.”




Aku mengangguk sambil menyambut uluran tangannya, lalu mengantar kepergian wanita itu dengan sorot mataku. Aku kini malah seolah sedang melihat orang asing, seorang Bi Lasmi yang tak kukenal. Celakanya.. aku pun malah merasa asing dengan diri sendiri. Inilah moment terkupret dalam hidupku, dibanding kekupretan ketika mendengar keputusan Tante Puki untuk tetap setia dengan Om Toyski.




Kuputar-putar rokokku di antara sela jemari. Kesimpulan sementara, ada orang-orang yang menjadi dalang di balik ini semua. Bu Lasmi sepertinya sudah dijadikan senjata dengan menjadi penyambung lidah. Mungkin orang itu adalah Ndul, mungkin Tante Puki sendiri secara dia adalah tanteku, mungkin Ariska, atau mungkin orang lain yang masih tersembunyi. Tapi bisa juga aku yang salah dan terlalu berpikiran negatif. Haiiish… kalau lagi pusing begini enaknya memang nyuwir. Tapi aku mau menyuwir siapa? Andai saja aku satu generasi dengan Tante Callista. Haiiish!!! Come on.. move on!!!




Daripada ngawur mending BERSAMBUNG….



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar