Enzo part 18


BAB 18






“Kamu cuci muka dulu dan langsung tidur, kalau ada yang mau kamu ceritakan kamu bisa mengetuk kamarku kapan saja.”




Suaranya terdengar lembut, sorot matanya penuh simpati sekaligus khawatir. Aku mencoba tersenyum tanpa sepatah kata pun mampu kuucapkan. Berterima kasih pun aku tidak bisa. Ariska menepuk bahuku, dan tetap mematung sampai aku melangkah dan menghilang dari pandangannya.




Setelah menyalakan lampu, kusapukan pandanganku pada seluruh sudut kamar, dan lama memandang pembaringanku yang selama tiga malam berturut-turut telah menjadi saksi kemesraan antara aku dan Tante Puki. Bahkan sepreinya pun belum diganti. Bercak cairan percintaan pasti masih ada.




Waktu sudah hampir tengah malam, dan aku terlalu malas untuk melakukan apa yang Ariska minta. Kubuka pintu jendela dan duduk pada kursi kayu, kunyalakan rokokku tanpa sedikit pun kunikmati. Pandanganku kosong pada keremangan angkringan. Bayangan hitam pohon sawo nampak bergoyang diterpa angin musim kemarau.






“Maafkan aku, sayang, aku bener-bener lalai waktu itu. Aku tidak mungkin menolak suamiku sendiri, sekaligus aku juga menikmatinya karena yang ada dalam bayanganku saat itu adalah kamu.”






Kata-kata Tante Puki kembali terngiang dalam percakapan ditelpon tadi, setelah sebelumnya aku marah karena ia telah membohongiku.






“Aku sangat menyayangimu, Zo, sangat… Dan aku telah menyerahkan bukan hanya tubuhku tetapi juga seluruh hatiku untukmu. Hiiiksss…. Aku sudah yakin untuk menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Aku sudah bertekad untuk meminta cerai dan menjadikanmu sebagai suamiku. Tapi itu.. hiiiiksss… itu kemarin sebelum kenyataan tak terduga ini terjadi. Aku tidak mau kamu mempertanggungjawabkan janin yang bukan anakmu. Ijinkan aku pergi untuk menjadi ibu bagi anakku dan istri bagi suamiku, dan aku akan melepaskanmu untuk menemukan pasanganmu. Hiiiksss….”






Kata-kata Tante Puki telah benar-benar meruntuhkan seluruh mimpi indahku, mengkhianati nyanyian “Sampai Jadi Debu” yang kami senandungkan dalam perjalanan menuju Semarang pada pagi harinya. Aku terluka!! Dan aku tidak mampu merayu kekasihku sekaligus tanteku itu untuk melanjutkan mimpi kami bersama; ia telah memilih untuk mempertahankan rumah tangganya. Ia menolak inginku untuk menjadikan janinnya sebagai anakku.




Kalau tidak ada ariska mungkin aku sudah menceburkan diri ke dalam tempat ojol kecebur setelah nabrak becak, atau mungkin aku sudah mati keselek makan lumpia. Yeah.. gadis itulah yang berusaha menemaniku, berusaha menghiburku, meskipun aku tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Bahkan dialah yang mengendarai mobilku dalam perjalanan pulang dari Semarang.




Usahanya untuk mengiburku dan membiarkanku bercerita dengan keliling Semarang sampai badha Isa sia-sia, aku tak ubahnya dengan mayat hidup atau manusia mati.




Kini aku meratapi kisah cintaku sambil menatap kosong angkringan yang baru dirintis. Kisah asmaraku telah hancur, dan aku sudah tidak memiliki gairah apapun untuk melanjutkan mimpi dengan membesarkan Angkringan NeNeN. Mungkin hilang dari dunia ini adalah yang terbaik, seperti juga ayah dan ibuku yang menghilang tanpa jejak. Tapi bagaimana caranya hilang? Bunuh diri seperti bersitan niat ketika di Semarang tadi? Ya bisa saja… tapi aku takut kalau aku mati dengan cara yang salah aku malah hanya akan menjadi hantu.




Tok tok… Terdengar ketukan pada pintu, aku enggan menjawab.


Tok tok… kali ini lebih keras, aku masih malas menyahut.


Tok tok… lebih mirip gendoran, tapi pintu hatiku belum terketuk untuk bertemu orang lain. Aku ingin menyendiri.




Kreeek.. pintu pun terbuka, pelakunya tidak peduli pada keinginanku untuk sendiri, dan malah membuka dari luar. Sial.. seharusnya tadi aku menguncinya.




Nampaklah Ariska muncul sambil membawakan teh hangat, ia tidak sendiri, ada Bu Ningnung yang ikut masuk. Wanita itu nampak berbeda karena hanya mengenakan daster selutut. Nampaknya ia terbangun karena kedatangan kami, atau malah mungkin sengaja dibangunkan oleh Ariska.




“Nak…” hanya itu yang terucap. Bu Ningnung langsung duduk di hadapanku sambil tangan halusnya mengusapi rambutku yang acak-acakan. Sorot matanya jelas menunjukan kekhawatiran yang teramat sangat.


“Minum dulu, Ka.” Ariska menyodorkan gelas.




Melihat aku hanya diam, Bu Ningnung mengambil gelas itu dan mendekatkan pada bibirku, dan mau tidak mau aku pun membuka mulut dan meneguknya. Njiiir… enak juga ini teh. Akhirnya kuraih gelas itu dan kuhabiskan isinya tanpa sisa.




Bu Ningnung tersenyum iba, Ariska geleng-geleng kepala.




“Kamu istirahat dulu aja, Ris, besok sore kan kamu juga akan kembali ke Bandung. Biar ibu yang menemani Nak Kata.”


“Tapi Bude…”


“Udah sanah.. daripada kamu kecapean dan malah jadi sakit.”




Ariska menatapku beberapa saat lamanya, tapi kubuang pandanganku ke luar jendela. Dengus halus terdengar sebelum akhirnya ia melangkah pelan. Aku masih merasakan tatapan khawatirnya sebelum akhirnya ia benar-benar keluar kamar dan menutup pintu dari luar.




Bu Ningnung mengambil gelas kosong dari tanganku dan meletakkannya di atas meja, setelahnya diraihnya telapak tanganku dan menggenggam. Sorot matanya sangat keibuan, terasa begitu menyejukan sekaligus membuat perasaan berdesir halus.




“Ceritalah ke ibu, nak,” suaranya terdengar lirih, aku pun lumer dan luluh.




Aku berdiri dan mematikan rokok, sedangkan Bu Ningnung menutup jendela. Tubuhnya yang sedikit membungkuk dengan membelakangiku memberi pemandangan yang indah. Bokongnya lebar dan besar, dasternya terangkat sehingga memamerkan paha belakangnya. Tanpa noda di sana. Tanganku bergetar antara ingin meremasnya dan takut, hatiku berdebar antara kecewa pada Tante Puki dan menginginkan wanita yang sekarang ada di hadapanku.




Melihatku hanya mematung, Bu Ningnung mengapitku menuju tempat tidur, sikutku sukes menyentuh tonjolan payudaranya. Terasa besar dan kenyal.




Bu Ningnung menuntun dan menidurkanku, posisinya yang membungkuk dan bersimpuh di tepi kasur membuat belahan dasternya terbuka, dan belahan payudaranya sukses terpamer tepat di depan wajahku. Menggantung dan sepertinya kenyal dan juga tanpa noda. Tanpa sadar aku pun menelan liur.




Ia memasangkan selimut dengan sangat telaten, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusapi rambutku, sekali-kali pada kening dan pipiku. Sorot matanya teduh dan ia seolah siap menunggu sampai kapanpun untukku bercerita.




“Temani aku, bu,” untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke rumah aku mengucapkan sepatah kata.


“Ibu di sini, nak,” suaranya lembut.




Kuambil tangannya dari pipiku dan kugenggam erat, helaan nafas panjang pun kuhembuskan.




“Poetry yah? Kalian ribut? Tadi Ariska bilang Nak Kata jadi begini setelah menelpon Poetry,” sambil membalas remasan tanganku.


“…”


“Kalian kenapa? Selama di sini sampai kalian berangkat, ibu lihat kalian baik-baik saja.”




Dadaku kembali terasa sakit mengingat nama itu, meski begitu otakku sedikit bekerja. Jawabku, “Ia dijodohkan orangtuanya, Bu, dan Poetry mau.”




“Haah?!! Eh…” Bu Ningnung terkejut sambil sigap menutup mulutnya yang terbuka.




Raut wajahnya langsung berubah kaku setelah mendengar penuturanku, matanya yang bening nampak terbuka lebar. Sedangkan aku mengangguk lemah untuk meyakinkan wanita itu.




“Ibu tidak percaya kalau Poetry bisa semudah itu mau dijodohkan. Ibu lihat kalian sangat cocok dan Poetry sangat menyayangimu. Tidak semudah itu hati perempuan bisa berpaling. Ini pasti ada alasan lain yang membuat Poetry seperti itu.”


“Ibu benar. Poetry sangat sayang padaku, bahkan mungkin rasa sayangnya lebih besar daripada perasaanku padanya, tapi ia tidak bisa menolak jalan hidup yang dipilihkan oleh orangtuanya sendiri.”




Aku merasa begitu sakit ketika mengatakan itu semua. Dalam hal ini aku memang tidak berbohong, ia sangat menyayangiku, ia begitu mencintaiku. Janin itulah yang akhirnya memilihnya untuk setia. Demi janin itu, dan juga demi aku sendiri, ia rela kehilangan aku. Ia ingin memulai kembali hidupnya, dan menghendaki agar aku pun memulai hal yang sama dengan pasanganku, siapapun dia nantinya. Memulai sesuatu yang baru dengan luka di hati memang sangatlah tidak mudah, tapi itulah yang telah menjadi pilihannya.




“Sebetulnya akulah yang telah merebut dia dari kekasihnya…” aku memulai cerita dengan sedikit menyamarkan keadaan yang sebenarnya. Aku menyebut suami Tante Puki sebagai “kekasih”nya.




Entah mengapa, dari mulutku mengalir begitu saja tentang bagaimana awalnya aku jatuh cinta, sampai akhirnya kami bisa saling menjalin relasi yang begitu mendalam. Aku juga tidak malu mengakui bahwa kami sudah berhubungan layaknya suami-istri. Banyak hal yang kuceritakan pada Bu Ningnung. Satu hal yang tidak keluar dari mulutku: bahwa ia adalah tante jauhku dan sudah bersuami, dan bahwa Poetry adalah Pupuh Kinanti yang telah membeli rumah ini atas namaku.




Tanpa sadar rupanya aku bercerita sambil berlinang air mata, dan Bu Ningnung malah terisak di atas tempat tidur. Ia sudah duduk bersender di atas kasur, sedangkan kepalaku menumpang di atas pangkuannya. Kami melakukan ini semua tanpa sadar dan terjadi begitu spontan, yang dalam keadaan normal mungkin Bu Ningnung akan berpikir puluhan kali, dan bahkan tidak akan berani melakukannya.




Tik tok tik tok.




Hanya isak Bu Ningnung yang terdengar, tangannya bergantian antara mengusapi rambutku dan mengusap air matanya sendiri. Dari pihakku, aku merasa sedikit lebih lega karena sudah menceritakan beban hatiku pada Bu Ningnung, meski luka itu tetap terasa menyakitkan.




“Sakit, bu, sakit,” keluhku sambil menggosok muka dengan kasar.




Bukannya menjawab, Bu Ningnung malah meluruhkan tubuhnya sehingga berbaring bersisian dan langsung memelukku erat. Sikap keibuannya begitu kurasakan, namun ia lupa bahwa ia adalah wanita matang yang masih memiliki tubuh yang memesona dan menggiurkan. Relasi apapun yang kami proklamirkan, toh pada kenyataannya kami adalah orang asing yang belum lama saling mengenal; kami adalah lelaki dan perempuan. Ia tidak sadar bahwa pelukan ini membuatku merasa begitu nyaman sekaligus terbuai.




Untuk pertama kalinya sejak kami saling mengenal, apa yang menjadi pusat lirikanku selama ini, kini sudah menempel ketat di antara dada kami. Empuk dan kenyal. Belum lagi setengah pahanya yang terpajang karena dasternya terangkat saat menggelosor tadi, sedangkan setengah tubuhku masih tertutup selimut.




“Kejar Poetry, Nak, perjuangkan cintamu. Ibu yakin kalau Poetry masih bisa berubah pikiran, wanita itu pada dasarnya adalah setia dan tidak akan mudah berpaling.” lirihnya sambil merenggangkan pelukan dan menatapku iba.


“Kenapa ibu berkata begitu?” aku menatapnya, tepatnya melihat bibirnya yang seksi dan merah alami.


“Karena ibu perempuan, nak. Jalan hidup mungkin berbeda, tapi hati tetap sama.”


“Jadi ini alasan ibu tidak mau menikah lagi?” aku mulai mengalihkan pembicaraan. Tidak ada maksud lain sebetulnya, sekedar untuk lebih memahami isi hati perempuan.


“Almarhum ayahnya Yaning…” Bu Ningnung mengusap sisa air matanya sebelum melanjutkan, “Mungkin bukanlah seorang sosok seorang suami yang baik dan setia, tapi ibu tidak bisa berhenti mencintainya. Ibu tetap berusaha menjadi istri yang baik dengan harapan agar suami ibu bisa berubah. Walaupun.. yeah… ibu lebih banyak merasa sakit hati dan kecewa daripada bahagianya. Tapi ibu tetap sayang dia…”


“…”


“Nah ibu yakin kalau Poetry itu sangat menyayangimu. Dan kalau memang ia sudah menentukan pilihan untuk menerima perjodohan itu, tetapi ibu yakin kalau yang ada dalam hatinya adalah Nak Kata. Kejar dia sebelum terlanjur… jangan membuat Poetry menderita… jangan juga Nak Kata menyiksa diri sendiri. Mumpung masih ada waktu dan kesempatan!!”




Fiuuuh… andai saja Bu Ningnung tahu bahwa Tante Puki memilih setia pada suaminya, mungkin nasihatnya tidak akan seperti itu. Tapi diam-diam aku banyak mengamini masukkannya.




“Aku bingung, Bu,” aku hanya bisa mengeluh.


“Kejar dia. Temui Poetry dan bicarakan semuanya baik-baik. Besok ikut bareng Ariska aja ke Bandung biar ada teman, sebelum semuanya benar-benar terlambat,” Bu Ningnung menyemangati dan memberikan masukan.


“Nak Kata jangan mengkhawatirkan angkringan, percayakan semuanya pada ibu dan Yaning.” Bu Ningnung seakan sedang membaca pikiranku, dan itu salah. Aku sama sekali tidak berpikir tentang Angkringan NeNeN tapi sedang menghitung untung-ruginya jika aku datang ke Bandung.




Aku pun mengangguk setuju, dan seulas senyum ia berikan. Wajahnya nampak begitu manis dan penuh kasih sayang keibuan.




“Makasih, bu,” aku pun membenamkan kepalaku pada dadanya, dan ia malah mendekapku erat. Ia tidak tahu bahwa aku sungguh menikmati gundukan empuknya bukan seperti anak pada ibu, melainkan seorang lelaki pada perempuan. Aku tidak meniadakan kasih sayang dan perhatian keibuannya, tapi toh aku juga tidak menampik kalau Bu Ningnung itu bukan hanya hatinya yang baik tetapi tubuhnya juga menarik.




“Yaudah Nak Kata istirahat dulu,” ia mengurai pelukan dan hendak turun.


“Ibu temani aku,” mohonku.




Bu Ningnung menatapku gamang, namun setelah melihatku memelas, ia mengangguk sambil tersenyum. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Kami berbaring miring saling menghadap, wajah kami dekat sehingga nafas hangat Bu Ningnung sekali-kali menerpa wajahku.




“Makasih, Bu,” pelanku sambil menumpangkan tangan pada pinggangnya.




Tidak ada yang aneh, tidak ada yang berubah, Bu Ningnung nampak tenang dan tulus menemaniku. Dari mulutnya masih keluar kata-kata bijaksana yang meneguhkan, menguatkan, dan menyemangatiku. Sampai pada satu titik…




Bahasa tubuh dan bahasa hati berbeda! Semua kata terhenti, logika beristirahat dalam benak, dan kami terdiam saling tatap. Senyum ramahnya berubah, gurat wajahnya berangsur tegang, dan sorot matanya seketika sayu. Nampaknya Bu Ningnung baru menyadari keadaan kami yang sedang tidur di atas kasur yang sama, sebuah keadaan yang sudah belasan tahun tidak ia lakukan dengan pria manapun. Ia sadar bahwa yang ia lakukan pada awalnya tak lebih dari sikap dan perhatian seorang ibu.. namun pada titik yang sama sepertinya ia juga sadar bahwa ia sedang tidur berdua dengan lelaki lain, dan itu adalah pria ganteng sepertiku. Kini sisi batinnya sebagai seorang wanita yang tergelitik, bukan lagi dimensi keibuannya.




Aku dan Bu Ningnung hanya terpaku diam, hanya sorot mata kami yang beradu. Kurasakan nafasku mulai berat, dadaku tersengal. Pun pula Bu Ningnung, ia seperti sedang menahan sesuatu, keningnya mengkerut bimbang.




Aku sendiri mulai lupa akan keadaan, duniaku hanyalah wajah di depanku. Wajah cantik dan manis, dengan bibir merah dan nampak basah. Raut wajahnya yang sembab bekas tangisan malah semakin menampilkan gurat-gurat kedewasaan dan kecantikan alami.




Nafas kami hangat beradu, cenderung panas, dan entah siapa yang memulai tangan kami sudah saling genggam dan remas. Kami sudah mulai terjerat kubangan bernama birahi. Suka atau tidak, ditolak atau dimaui, kami sudah berada di dalam lingkarannya. Kulitku terasa meremang dan sensitif, sentuhan dan remasannya membuatku terbuai.




Nafas kami semakin beradu seiringnya mendekatnya bibir ini, sedangkan sorot matanya meredup. Kurasakan tangannya berubah dingin dan kaku, remasannya terhenti.




Dug dug dug. Jantungku berdegup kencang, akal sehat melintas, namun sedetik kemudian hilang kembali. Fokusku tertuju pada bibir seksi Bu Ningnung yang semakin terbuka dan bergetar.




Akhirnya matanya benar-benar terpejam, berbanding terbalik denganku. Aku enggan melewatkan kecantikannya. Paras manis yang selama ini hanya kucuri pandang, kini hanya berjarak kurang dari dua centi di hadapanku. Kubuka bibirku seolah hendak menghisap aroma nafasnya, perlahan tapi pasti aku pun mendekat untuk menyambutnya.




Tik tik tik tok… cuuuuupppp….!!!




Perjalanan yang terasa begitu panjang dan mendebarkan itu akhirnya sampai pada ujungnya. Bibir kami bertemu, melekat kaku. Kurasakan ia bagai tersentak, dan tubuhnya bergetar.




Aku terdiam merasakan sentuhan lembut bibirnya, aku ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi. Setelah yakin tidak ada penolakan, aku mulai mengulum lembut. Bu Ningnung masih belum membalas, tetapi juga tidak menolak. Satu hal yang pasti, genggamannya semakin erat dan kaku.




Detik-detik berikutnya adalah moment indah yang tak bisa dilawan, meskipun oleh akal sehat sekalipun. Ia membalas dan kami pun saling mengulum lembut. Aku bahkan sudah memegang pipinya dan mengelus pelipisnya dengan jemari. Ia menggelinjang halus, dan kuluman berubah menjadi lumatan. Terasa indah.. terasa manis.. aku pun melupa dari segala persoalan. Hanyut dan larut dalam syahdunya percumbuan.




Bibir lembut Bu Ningnung sungguh memabukanku, membuatku melumat lebih dalam dan dalam lagi. Kuhisap bibir bawahnya, dan ia setengah menggigit bibir atasku. Kulakukan bergantian. Dan… hash.. hash…




“Kenapa jadi begini, Nak?” tiba-tiba ia mendorong wajahku dan ciuman kami terlepas. Bibirnya terbuka dengan nafas tersengal. Nampak basah. Sedangkan matanya sendiri terlihat sayu dan gamang.




Aku tidak menemukan sebuah jawaban dan alasan. Aku terdiam sambil membalas tatapannya. Inginku malah lebih dan lebih lagi. Aku mendekat untuk mencumbunya kembali, namun ia berpaling sehingga ciumanku hanya mendarat pada pipi.




Kepalang tanggung, kuciumi pipinya, dan bergerak perlahan menuju lubang terlinga. Bu Ningnung melenguh dan menjambak rambutku, bukan menjauhkan, melainkan semakin menekan. Tak perlu waktu.. akhirnya bibir kami kembali bertemu. Langsung panas saling melumat, dan kami sama-sama menggelinjang ketika ujung lidah ini bersentuhan.




Cumbuanku membuat Bu Ningnung tidak bisa berpikir lama, kesadarannya yang sempat mampir langsung sirna, terbuai oleh nikmatnya penyatuan ini. Ia bahkan sudah tidak sungkan meremasi rambut, punggung, pinggang, dan apapun yang bisa ia sentuh dari tubuhku.




“Sssh…. yang ini jangan…” bisikannya seperti memelas ketika aku mulai meremas gundukan payudaranya. Aku tidak menghiraukan. Payudaranya yang selama ini hanya membuatku menelan liur, kini sudah bisa kusentuh langsung; bahkan meremasnya. Benar-benar besar dan sekal.




Bu Ningnung hanya pasrah sambil kembali membalas lumatanku, tangan yang semula menolak remasanku, kini malah seolah meminta lebih keras lagi dengan cara menekan-nekan. Tanpa melepas cumbuan, aku pun menggeser tubuh dan menindihnya. Bibir kami basah saling melumat, dada kami saling menempel ketat, dan kemaluan kami merapat.




Kini kami tak ubahnya dengan dua manusia berlainan jenis yang sedang bersetubuh, meskipun masih terlindung pakaian masing-masing.




“Yang ini jangan shhhh….” ia melenguh ketika tanganku turun dan langsung mengusapi serta meremas pahanya yang halus.




Aku mengikuti maunya, aku tidak mau terburu dan melukai hatinya dengan seolah memperkosanya. Kembali aku mencumbunya sambil menekan dan menggoyang pinggul. Secara naluriah ia membalas, dan bahkan kemudian melilitkan kakinya pada pinggangku. Kemaluan kami semakin ketat dan saling menempel. Indah dan nikmat!




Wajah Bu Ningnung yang berkeringat membuatnya terlihat semakin seksi, aku pun semakin bergairah. Kuciumi wajahnya, dan selalu berakhir dengan melumat bibirnya. Sedangkan kini malah ia yang gantian menggoyang pinggulnya, sambil menggunakan kedua tangannya untuk menggerakan pinggulku. Duniaku melayang, dan aku orgasme dengan menyemprotkan sperma di dalam celana dalam. Bersamaan dengan itu, Bu Ninggung meremas pinggulku dengan tubuh bergetar-getar-kejang. Suara erangannya terbenam dalam gigitan pada pundakku.




Aku puas, sekaligus lelah. Semua rasa marah, kecewa, sedih, dan segala perasaan tak nyaman lainnya kini tertumpah. Aku pun terkulai dengan nafas menderu, sedangkan telingaku mulai mendengar isak tangis dari tubuh lemah yang sedang kutindih.




“Bukan begini caranya untuk melampiaskan sakit hatimu, Nak Kata, hiiiiksss…” suaranya lirih dan terdengar pilu, tetapi aku sudah terlampau lelah, lalu pulas.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar