BAB 17
Ariska sudah bisa melupakan pengalaman emosionalnya di Lawang Sewu tadi, tepatnya bisa menutupi dan menyembunyikan. Ia kini sedang menikmati hidangan di hadapanku. Sengaja aku membawanya ke sebuah restoran yang agak cozy agar kami bisa ngobrol dengan santai.
“Sebentar yah,” ujarku sambil mengeluarkan smartphone.
Kutelpon Tante Puki dan suara merdunya langsung terdengar.
“Sudah nyampe rumah, yank?”
“Udah, sayang, ni baru aja nyampe.”
“Yaudah istirahat dulu gih, jangan sampai sakit.”
“Iya.. aku pasti istirahat. Ni lagi nyuruh si bibi beli obat ke apotik. Tapi kamu gak usah khawatir yah.. cuma masuk angin biasa aja kok. Kamu masih bareng Ariska?”
“Iya nih.. kami lagi makan.”
“Yaudah enjoy ya, tadi Ariska udah nge-WA kok, bilang kalau kalian mampir ke Lawang Sewu dulu dan langsung makan. Jaga hati kamu untuk aku yah.”
“Ok. Love you, sayang.”
“Love you too, Enzoku sayang.”
“Husshh…”
“Hihi… iya.. iya.. aku juga sayang kamu, Mas Kataku sayang.”
“Daah.”
Klik.
“Aku gak tahu, Ka, apakah kamu atau Poetry yang beruntung,” Ariska menatapku sambil memainkan garpu di tangannya.
“Maksudmu?”
“Iyah.. maksudku.. apakah kamu yang beruntung bisa punya pacar secantik dan sebaik Poetry, atau Poetry yang beruntung bisa dapetin kamu. Tapi kayaknya yang pertama deh hihi…”
“Ris?!! Kamu kok sentimen banget sih?!”
“Hihi.. abisnya kok mau-maunya Poetry pacaran ama kamu secara kamu tuh…”
“Mesum?”
“Kamu yang bilang yah, bukan aku. Hahaha….”
Entah harus kesal atau senang melihat perubahan sikap Ariska. Ia yang tadi galak saat di mobil dan bersedih di Lawang Sewu, kini riang meledekku. Aku suka caranya bisa keluar dari perasaan-perasaan tidak nyaman yang ia miliki, tetapi tetap saja ledekan usilnya membuatku keki.
“Gak perlu ngambek juga kali secara kamu kan memang mesum hahaha…” Ariska masih belum puas, lanjutnya lagi, “Eh tapi ngomong-ngomong kenapa kamu gak bilang kalau Poetry itu seorang pengusaha? Aku sampai malu tahu!”
“Eh emangnya apa urusannya dengan kamu sampai harus bilang-bilang segala? Lagian, malu kenapa?” aku bersikap polos.
“Aku tuh baru masukin lamaran ke PT. Luragung Mas tahu.. eh gak tahunya perusahaan itu milik Poetry, Mas Gandul juga menjadi salah satu direkturnya di sana.”
“Hahaa.. dunia memang sempit yah?!” aku mencoba santai agar bisa mengorek alasan gadis ini mengajukan lamaran. “Emangnya kenapa kamu ngelamar ke sana, bukannya ayahmu sendiri seorang pengusaha?”
“Aku mau mengejar mimpi,” Ariska memamerkan barisan giginya yang putih dengan mata sedikit mengerling.
“Seriuslah, Ris!”
“Beneran.. aku serius… aku mau mengejar mimpi.”
“Emang mimpi apaan?”
“Enzo.”
Zleeeeebbb!!
“Segitu sayangnya kamu ama Enzomu itu yah? Emangnya ia kerja di sana?”
“Sayanglah!!! Ya enggak juga… maksudku gak tahu apakah dia ada di sana atau tidak… tapi aku merasa bahwa aku akan bisa menemukan jejaknya di sana.”
Dug dug dug. Jantungku berdegup kencang.
Kutatap wajah Ariska dalam-dalam, ia tidak main-main dengan ucapannya, mimik mukanya sangat serius sekaligus tulus.
“Terus kalau memang bener kamu bisa menemukan Enzomu dan ternyata dia sudah menjadi milik perempuan lain gimana?”
Ariska membalas tatapanku sesaat, lalu menarik nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Kamu gak ngerti sih, Ka.” suaranya pelan. “Kalau aku bilang ‘sayang’ jangan kamu artikan sebagai rasa seorang gadis pada pemudanya, tetapi sebuah perasaan yang melampaui itu semua. Kalau ternyata ia sudah memiliki pasangan, ya mungkin aku cemburu, mungkin juga tidak. Ya gakpapa.. aku mencarinya bukan untuk itu, melainkan memulangkan apa yang menjadi miliknya.”
Aku mengernyit sambil mencoba memahami penjelasan Ariska, tapi otakku terlalu buntu sehingga tidak mampu mencernanya.
“Bingung aku,” keluhku sambil menyulut sebatang rokok.
“Hihi.. kamu gak akan mengerti, Ka, secara isi kepalamu cuma pikiran mesum hahaha… Udah ah.. itu urusan pribadiku dan juga hanya masalah keluarga. Yang pasti aku seneng bahwa Poetry dan Mas Gandul membolehkanku kerja di Luragung Mas. Kamu sendiri kenapa gak kerja di sana?”
“Iye kalii.. kerja dan numpang sukses pada calon istri!! Gini-gini juga aku masih punya harga diri. Mendingan bikin usaha sendiri walaupun harus mulai dari bawah, siapa tahu ke depannya aku jadi pengusaha angkringan yang sukses.”
“Aminin aja deh… hihi…”
Obrolan pun dilanjutkan tanpa arah dan tema yang jelas. Apa yang ada di kepala, itu yang kami ungkapkan. Tak sedikit kami saling tergelak ketika menyisipi candaan-candaan yang cukup menggelikan. Kini aku sedang melihat seorang Ariska yang lain, seorang gadis yang asik dan menyenangkan. Jauh dari kata jutek dan galak.
Drrrttt… drrrrt….
“Ndul? Bentar yah,” aku meminta ijin pada Ariska lalu kuangkat nada panggilan dari Ndul.
“Ya bro?”
“Lu udah ngubungin Poetry belum?” Ndul tanpa basa-basi.
“Udah tadi, katanya baru nyampe rumah.”
“Haissh.. maunya tuh cewek apaan sih. Bohong dia!!!”
“Haaah?!!! Maksudnya bohong?”
“Tadi dari bandara gua langsung membawanya ke rumah sakit karena mual-mual terus dan mukanya pucat.”
“Whaat??!! Lalu sekarang gimana? Apa kata dokter? Dirawat gak?” aku langsung panik.
“…”
“Ndul?!!! Woooi…?”
“Ada siapa di situ?”
“Ariska. Postry gimana?”
“Bro.. gua.. gua mau ngomong ama lu.”
“Kupret ini lagi ngomong. Buruan mau ngomong apa? Poetry sakit apa memangnya?” aku tidak sabar sambil melangkah sedikit menjauh dari Ariska.
Kudengar Ndul menarik nafas berat, membuat jantungku berdegup kencang, aku takut kalau terjadi apa-apa dengan Tante Puki.
“Tante Pupuh.. maksud gua Poetry… Poetry hamil, bro.”
Duaaaaarrrr!!!!
Aku tercekat beberapa detik lamanya, kabar ini sangatlah mengejutkan. Tetapi rasa kagetku berubah menjadi senyuman, panikku hilang.
“Serius lu, Ndul? Akhirnya.. ia mengandung anak gua dan Poetry jadi punya alasan untuk cerai.”
“Taik lu!! Dengerin dulu penjelasan gua.”
“Loh emangnya kenapa dengan kandungan Poetry, ada masalah?”
“Lu ketemu terakhir kali ama Poetry kapan?” Ndul malah balik bertanya.
“Tadi di bandara.”
“Bangke!!! Maksud gua sebelum pertemuan yang sekarang!”
“Tiga bulan lalu, waktu ia ngunjungin gua pertama kalinya.”
“Kalian ngewe waktu itu?”
“Anjiiir tuh mulut. Iyalah.. masa gak gua suwir. Hehehe….”
“Nah itu masalahnya!”
“Masalah apaan? Kagak ngarti gua.. lu ngomong yang jelas donk.” aku kembali tak sabar.
“Tadi dokter bilang kalau usia kandungan Poetry sudah satu bulan, berarti tuh isi perutnya bukan anak lu. Ngarti?!! Berarti anak suaminya, secara gua yakin kalau Poetry gak akan pernah selingkuh. Satu-satunya selingkuhan Poetry ya lu. Ngerti sekarang?!”
Pandanganku tiba-tiba nanar. Kusandarkan tubuhku pada dinding restoran, tanganku yang sedang memegang smartphone langsung terkulai. Samar-samar terdengar suara Ndul yang memanggil, tapi aku masih shock dan kecewa.
Yang terdengar malah seruan si mamang, “Bersambung, Zo…”
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar