Enzo part 16

 

BAB 16






“Hu uuu uuuuuu….”




Tante Puki yang duduk di jok belakang bersama Ariska bersenandung, mengikuti alunan musik pada tape mobil yang ia koneksikan melalui blutooth smartphonenya.




Di sampingku, Ndul melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, menyusuri jalur pantura yang pagi ini tidak terlalu padat. Ocehan sahabatku terdiam saat mendengar dentingan instrumen dan senandung lirih wanitaku.




“Badai puan telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?




Tiap pagi menjelang kau di sampingku, kuaman ada bersamamu.”




tante Puki mulai bernyanyi.




Mendengarnya aku ikut bersenandung pelan, suara kami menyatu dalam satu lantunan “Selamanya… sampai kita tua, sampai jadi debu, ku di liang yang satu, ku di sebelahmu.”


“Ehem…” Ndul dan Ariska berdehem berbarengan, tapi aku dan Tante Puki tak acuh.


Kulanjutkan bait berikutnya, sedangkan tante puki terdiam “Badai puan telah berlalu, salahkah kumenuntut mesra? Tiap tampar menyerang, kau disampingku, kau aman ada bersamaku.”


Kami kembali berdendang bersama “Selamanya… sampai kita tua, sampai jadi debu, ku di liang yang satu, ku di sebelahmu.”


“Bangke kalian, ingat ada jomblo di sini woiii,” Ndul ngedumel. Kusambut tangan Tante Puki yang tiba-tiba menyondongkan posisi duduknya dan mengusapi bahuku. Aku melirik dan kukecup pipinya mesra.


“Ehem.. kok mobilnya jadi panas, ya Mas Gandul? Emangnya AC-nya dimatiin?” Ariska yang sejak tadi hanya diam sepertinya mulai tidak tahan melihat kemesraan antara kami berdua.


“Udah ‘on’ dari tadi, Ris, ini mah panas karena aura birahi!” Ndul menyahut sambil memindahkan perseneling untuk menambah kecepatan, menyalip sebuah truk gandeng.




Kudengar Ariska tertawa hambar, sedangkan Tante Puki terkekeh sambil mengecup pipiku, lalu menegakan kembali duduknya.




“Iri aja,” goda Tante Puki sambil menjawil pipi Ariska.




Aku hanya tersenyum, bahagia ini tak terkira, meski harus bercampur rasa sedih karena aku dan wanitaku harus kembali berpisah. Ya.. kami sedang dalam perjalanan menuju Semarang untuk mengantar Tante Puki dan Ndul yang akan kembali ke Bandung. Ariska ikut serta atas desakan Tante Puki, dengan alasan agar aku punya teman ketika kembali ke kota Angkringan NeNeN. Sebetulnya aku ingin duduk di belakang agar bisa memeluk dan mencumbu Tante Puki dengan bebas, namun Ariska keukeuh tidak mau duduk di depan. Ia seolah sengaja ingin memisahkan kami berdua.




Sisa perjalanan pun kami lalui dengan nyanyi bersama, dan Tante Puki mengganti musik slow dengan lagu-lagu yang sedikit lebih ngebit. Sekali-kali kami saling tertawa karena candaan-candaan Ndul, ia seolah sengaja ingin menghiburku yang sudah merasa kehilangan, bahkan sebelum kepergian mereka.




Jam dua belas kami tiba di bandara, dan kami masih memliki waktu sejam setengah sebelum benar-benar berpisah.




“Kita ngopi dulu,” ujar Ndul sambil mematikan mesin.




Kami berempat turun dari mobil, dan setelah mengambil koper mereka berdua, kami sama-sama menuju sebuah coffee shop. Aku dan Ndul memesan americano, sedangkan Tante Puki dan Ariska memesan capuccino.




Kuabaikan Ariska yang sering mencuri pandang padaku, fokusku hanyalah Tante Puki. Aku menyayanginya lebih dari gadis mana pun, dan aku juga sedih karena harus kembali terpisah oleh jarak ruang dan waktu. Wanitaku nampak mengerti apa yang kurasakan, ia menggenggamku tanpa sungkan pada Ndul dan Ariska.




“Sedih yah?” genitnya sambil memeletkan lidah.


“Nggak. Biasa aja.”


“Masa? Ngaku juga gakpapa kok.”


“Beneran.. aku gak sedih…” aku masih menyangkal.


“Kalo gak sedih pisah berarti gak sayang donk?”


“Nah kalo itu salah.. aku sayang banget ama kamu.”




Wajahnya tersipu dengan senyum yang menggemaskan, kurasakan ia meremas tanganku dengan sedikit lebih erat.




“Sekarang gua bener-bener menyesal berada di antara kalian berdua. Kampret banget dah..” Ndul tiba-tiba nyeletuk sambil memisahkan tangan kami berdua, tapi aku berhasil menahan dengan tangan satunya.


“Kamu tuh kenapa sih, Ndul? Iri ajah.. makanya jangan jomblo mulu…!” kekasihku pura-pura cemberut.


“Getek gua liat gaya dan omongan kalian,” Ndul mendengus. Lalu ia meminta persetujuan Ariska, “Iya kan, Ris? Gua sih merasa sedang berada di tengah cabe-cabean yang sedang saling jatuh cinta.”


“Hehehe…” Ariska hanya terkekeh sambil pura-pura mengaduk kopinya.


“Tuh Ariska aja setuju?”


“Eh aku gak bilang gitu.”


“Ketawa berarti mengamini.”


“Aku sih yakin yah…” Tante Puki menyahut, “Dalam waktu gak lama lagi pasti ada yang minta ijin cuti kerja dan akan datang lagi kemari.”




Ndul yang merasa bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh Tante Puki langsung mengelak, “Lah ngapain gua datang lagi kemari? Ogah gua..!!”




“Beneran? Gak kangen ama Yaning? Semalam abis tutup angkringan kalian berdua pada ngapain tuh? Masa ngobrol sampai jam dua?!”


“Eh?! Ngg…”


“Mau ngelak lu?!”


“…”


“Eh..” Ariska menyahut perdebatan antara Ndul dan Tante Puki. Lanjutnya, “Mas Ndul lagi pedekate ke Yaning yah? Awas yah aku gak mau sepupuku dimesumin! Dia itu masih polos tahuuu!”


“Eh aku gak mesum kok, Ris. Aku mah orangnya bertanggungjawab dan murah hati,” kilah Ndul.


“Iya.. pokoknya awas aja kalau membuat sepupuku kenapa-napa. Aku gak mau dia jadi korban mesum.. yaaah…. aku sih berharap Mas Ndul gak mesum kayak… ooopss…”


“Siapa?” aku yang merasa disindir langsung menyahut.


“Eh ada yang merasa merasa tuh,” cibir Ariska.


“Riiiissss… pacarku gak mesum yaaah!!! Enak aja kamu nuduh…” aku tersenyum karena merasa dibela Tante Puki. Tapi ujungnya tetap gak enak, “Eh.. kalo mesumin aku sih sering hihi…”




Ndul pun terbahak, sedangkan Ariska langsung mencubiti kekasihku kekasihku, membuat kedua wanita itu saling tergelak.




“Ndul?!” aku melirik sahabatku.




Ia mengangguk sambil cengengesan dan aku hanya bisa menghela nafas halus. Fix.. Yaning sudah menjadi target sahabatku sehingga aku tidak bisa macam-macam pada gadis itu, padahal perabotannya masih ori semua.




“Berarti sebentar lagi ada yang gak jomblo donk?” aku berusaha menyembunyikan rasa kecewa. Hadooh.. nih otak… udah ada Tante Puki tapi tetap saja kalau urusan mesum gak bisa ilang.


“Yuuups,” Ndul sigap menyahut.


“Nah kan beneerrr.. tadi ngeles sekarang ngaku sendiri,” celetukan Tante Puki sukses membuat Ndul terdiam, ia telah keceplosan.




Tentu saja sikapnya membuatku tertawa, sahabatku memang tolol. Konon orang bisa saling bersahabat karena memiliki kesamaan yang membuat mereka saling nyambung, dan aku yakin yang membuat aku dan Ndul nyambung bukan karena kami sama-sama tolol. Aku cuma mesum dan tidak tolol. Titik!!!




“Kamu sendiri sebenernya pacaran gak sih ama Iban?” pertanyaan Tante Puki kali ini ditujukan pada Ariska.


“Eh? Kok jadi ke aku?” kulihat air muka Ariska berubah.


“Yee.. emangnya kenapa? Tinggal jawab ‘iya’ atau ‘nggak’ aja, apa susahnya sih?” goda kekasihku.


“Aku dan Iban…”




Cicit cuit cicit cuiit…uhuk uhuk…




Belum juga Ariska menyelesaikan jawabannya, tiba-tiba smartphone Tante Puki berdering. Aku menghela nafas karena urung mendengar menjawaban Ariska, rasanya seperti mau bersin tapi tidak jadi. Seperti buang air besar tanpa kencing.




“Bentar, yah.” wanitaku langsung berdiri untuk menjauh, air mukanya berubah.


“Emang bener yah kalo Yaning gak diijinin ibunya pacaran sebelum lulus kuliah?”




Sial!! Ndul benar-benar mengalihkan pembicaraan padahal aku sedang penasaran tentang hubungan antara Ariska dan Iban. Entah kenapa, aku sendiri enggan menanyakannya secara langsung.




“Tergantung,” aku dan Ariska menjawab bersamaan.


“Maksudnya?”


“Ya tergantung…” Ariska menjawab, tapi segera kupotong, “Kalau cowoknya kayak gua sih pasti diijinin.”




Ucapanku sukses disambut pelototan Ariska dan jitakan Ndul pada kepaku. Bangke… ia melakukannya dengan sangat keras.




“Ingat Poetry,” gerutu Ndul.


“Dasar mesum!! Udah mesum kepedean lagi!” Ariska malah nampak sewot.




Aku hanya nyengir domba sambil mengusapi bekas jitakan sahabatku. Mataku tertuju pada Tante Puki yang nampak sedang berbicara serius dengan orang yang menelponnya. Tak lama kemudian kulihat ia mengakhiri pembicaraan.




“Yank, kamu kenapa? Kok kelihatan pucat?” aku menatap Tante Puki.


“Hooh.. badanku gak enak, kayaknya masuk angin deh,” keluhnya.


“Sakit atau karena telpon? Siapa sih yang menelpon?” tanyaku sambil berdiri dan menyentuh kening dan pipinya, terasa dingin, dan bahkan ada jentik keringat pada tepian pelipisnya.


“Kamu sakit, yank!! Besok aja ke Bandungnya, kita cari hotel biar kamu istirahat dulu!” aku tiba-tiba merasa khawatir.


“Kamu..!! Apaan sih? Aku cuma masuk angin aja kok.”


“Yank?!” aku berusaha memaksa.


“Udah tenang aja, aku gak apa-apa kok.”


“Siapa yang barusan nelpon?”


“Mas Joyski, besok ia pulang ke Bandung.”




Jedeeerrr..!!!




Kulihat Ndul terperangah, sedangkan hatiku sendiri langsung panas dan dibakar cemburu, aku tidak menghendaki ia pulang ke Bandung.




“Oekk.. ooo…” tiba-tiba Tante Puki duduk terhuyung sambil mual-mual.


“Heiiii..” kagetku. “Emang Om Toyski ngomong apa sampai kamu kayak gini?” aku merasa sewot sambil mengusapi jentik keringatnya.


“Eh.. gak ada hubungannya, sayang. Ini aku memang kurang enak badan aja.” kilah Tante Puki.


“Mau aku beliin obat masuk angin, mbak?” Ariska menatap Tante Puki, ia sama merasa khawatirnya denganku.


“Nggak usah, Ris, aku baik-baik aja kok,” Tante Puki masih berusaha menolak. Namun.. Oeeeek… Tante Puki sigap menutup mulutnya dengan tissue. Matanya berair dan wajahnya semakin pucat.


“yank?!” aku panik sambil berdiri dan mengenggam tangannya yang terasa ikutan dingin.


“Aku ke toilet dulu. Ris, temani aku. Oeeekkk..!!”


“Yank?!! Aku ikut!!”


“Apaan sih, yank? Masa mau ikut masuk ke toilet cewek. Udah.. aku gak apa-apa, kok.” Tante Puki mencegah, dan aku hanya mematung memandang punggung kekasihku yang tergesa menuju toilet diikuti oleh Ariska.




Kulirik Ndul yang juga terlihat heran dan panik, namun ia masih tetap duduk di atas kursinya.




“Jangan-jangan hamil, Ka,” lirih Ndul.


“Hah?! Gak mungkin lah… lagian tadi dia baik-baik saja, tapi setelah menerima telpon ia langsung kayak begitu. Pasti ada sesuatu..!” aku tidak menggubris dugaan Ndul, yang ada aku merasa panas hati bahwa suami Tante Puki akan pulang.


“Hehehe… ya siapa tahu, abisnya ngedadak gitu! Lu sih garap dia melulu, tanggung jawab lu!” Ndul terkekeh.


“Ndul!!!” aku melotot sambil kembali duduk dengan gelisah.


“Kalau beneran hamil gimana?” Ndul menatapku, kali ini pandangannya cukup serius.


“Ya gua tanggung jawablah, gua kawinin Tante Puki,” tegasku.


“Lalu Om Toyski, suaminya gimana?”




Pertanyaan Ndul sukses membuatku terdiam, otakku berpikir keras, namun semuanya seketika terasa buntu. Aku hanya terdiam sambil menggenggam gelas kopi dan menyeruputnya tanpa kunikmati.




“Hahaha… gua bercanda, bro, udah lu gak usah takut begitu, lagian lu juga mikir kali… gak mungkin kalau Tante Puki gak bermain aman,” nada suara Ndul berubah, ia seolah puas mengerjaiku.




Namun tidak denganku, aku merasa khawatir kalau apa yang diucapkan oleh Ndul benar-benar terjadi. Tentu saja aku mencintainya, dan aku akan bertanggungjawab jika memang dia hamil, tapi bagaimana dengan Om Toyski.




Kuseruput kembali kopiku sampai habis. Aku benar-benar gelisah, sementara yang kutunggu belum juga muncul, padahal mereka sudah sepuluh menit berada di dalam toilet.




“Tuh mereka!”




Gumaman Ndul membuatku menengok dan langsung berdiri. Tante Puki dan Ariska kembali mendekat, dan kulihat kekasihku tersenyum manis untuk menyembunyikan wajahnya yang masih terlihat pucat.




“Yank?!!” kusambut tubuhnya dan kududukan dengan hati-hati, aku pun bertukar tempat duduk dengan Ariska. Kupegang kedua pipi kekasihku dengan khawatir.


“Hihi…” Tante Puki malah terkekeh. Ujarnya, “Kok kamu khawatir banget sih, yank? Pasti karena sayang aku yaaaah? Makasih…”




Cuuup. Sebuah kecupan ia daratkan pada punggung tanganku.




“…” aku menatap dalam kekasihku untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.


“Aku cuma masuk angin aja, sayaaaang!!! Nih udah enakan.. tadi juga gak sempat muntah kok.” ia berusaha menenangkanku.


“Bener?”




Tante Puki mengangguk, dan langsung kupeluk tanpa sungkan pada kedua temanku dan para pengunjung yang lain.




“Sayang.. udah donk.. malu ama yang lain… aku gak apa-apa kok… beneraaan.” Tante Puki merajuk.


“Aku tidak malu menyayangimu.” kueratkan dekapanku, dan Tante Puki akhirnya membalas.


“Ehem… kalian bener-bener kampret dah.. udah woiii udah jam berapa ini?!” Ndul mengingatkan.




Kulirik jam tanganku, dan dengan enggan kuurai pelukan. Sekali lagi kutatap wajah kekasihku untuk memastikan bahwa ia dalam kondisi sehat. Ia mengerti kekhawatiranku, anggukan dan seulas senyum ia berikan.




Aku menghela nafas berat, dan tanpa banyak kata berdiri diikuti oleh yang lain. Sudah saatnya bagi Tante Puki dan Ndul untuk boarding. Kuambil kunci mobil di hadapan sahabatku dan kukantongi.




Ndul berinisiatif membawakan koper Tante Puki sehingga aku bebas melangkah sambil menggandeng pinggangnya.




“I love you,” ungkapan tulus kuberikan saat kami tiba di pintu masuk terminal.


“I love you too.”




Kukecup kening Tante Puki, kulitnya terasa dingin pada bibirku menandakan bahwa kekasihku memang sedang dalam kondisi yang kurang baik. Di balik itu semua, ia juga seperti sedang menyembunyikan sesuatu.




“Kenapa Om Toyski?” aku masih penasaran.


“Gak apa-apa, yank, nanti aja ceritanya. Aku telpon kalau aku udah nyampe Bandung.”




Kupeluk erat tubuhnya, dan ia membalas. Bisikan-bisikan sayang kusampaikan, mataku sendiri terasa panas karena sesungguhnya aku menghendaki ia tetap tinggal bersamaku.




“Hadooh.. udah woi.. udah… telat nanti!” Ndul tidak sabar.


“Dadah, sayang, see you soon,” kekasihku mengurai pelukan sambil menatapku mesra; sorot matanya seolah tidak rela kami berpisah; pun pula aku.




Kukecup keningnya sekali lagi, lalu berbalik pada Ndul; sedangkan Tante Puki pamitan pada Ariska sambil memeluk gadis itu. “Titip Kataku, ya Ris, kamu jewer aja kalau dia mesum!” kudengar ucapan lirihnya.




“Ndul.. thanks, bro. Gua sangat berterima kasih atas semua bantuan lu.. jagain Poetry buat gua!” aku meninju dada sahabatku, dan dibalas cengengesan tengilnya.




Saat yang sangat tidak dikehendaki pun tiba, Tante Puki dan Ndul meninggalkanku. Aku mematung di samping Ariska. Kekasihku masih menengok sambil melambaikan tangan sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar menghilang dari pandangan. Aku menghela nafas berat, bahkan aku sudah merindukan kekasihku sebelum kepergiannya.




“Ka, ayo… mau sampai kapan di sini?” Ariska menyadarkanku.




Aku hanya mengangguk dan tanpa banyak kata melangkah menuju parkiran. Cinta dan rindu, sayang dan cemburu, takut dan khawatir bercampur menjadi satu.




Ariska nampak mengerti, ia hanya melangkah menjejeriku tanpa banyak kata, dan akhirnya kami sudah sama-sama duduk di dalam mobil.




“Kamu beneran gak apa-apa nyopir? Mau aku dulu yang bawa mobilnya?” Ariska melirik ke arahku sambil memasang safetybelt.




Aku hanya mengangguk sambil menyiapkan kartu parkir. Sisanya tidak ada percakapan, sampai mobil yang kukendarai memasuki jalan raya.




“Ka?”


“Hmmm..?”


“Kamu keberatan gak kalau…”


“Kalau?”


“Kita ke kota dulu, masa kita pulang gak bawa oleh-oleh untuk Bude dan Yaning.”


“Hmmm…”




Meski tidak menjawab, aku setuju dengan usul Ariska. Kuarahkan kendaraan menuju pusat kota, tepatnya ke kawasan simpang lima. Belum juga lima menit aku berkendara…




Ciiiiitttt… braaaak…!!!




Ah untungnya bukan aku yang nabrak atau ditabrak, melainkan sebuah “ojol” yang menyerempet becak sehingga pengemudinya nyungsep ke dalam got. Bodo amat.. isi kepalaku saat ini hanyalah Tante Puki. Ariska yang kaget dan sempat menjerit, akhirnya hanya menggelengkan kepala menatapku. Payudaranya yang turun-naik karena tersengal melihat kecelakaan tersebut pun sudah tidak menarik hatiku.




Ariska mengarahkanku supaya berbelok, menuju sebuah jalan tempat pusat oleh-oleh lumpia dan pindang presto.




“Kamu gak ikut masuk?” gadis itu menatapku seusai aku memarkirkan mobil.




Aku menggeleng sambil mengeluarkan smartphone-ku.




“Ayolah.. masa aku sendirian?” Ariska memelas.




Aku kembali menggeleng. Gadis di sebelahku cemberut, lalu turun tanpa berkata apa-apa lagi.




Aku tersenyum saat melihat foto wanita cantik pada layar, Tante Puki sedang tersenyum manis di samping Ndul di dalam pesawat. Rupanya ia sempat mengirim foto sebelum take off. Kuperbesar foto itu sehingga hanya Tante Puki yang terlihat lalu kucapture, dan kuhapus foto aslinya. Ogah aku menyimpan foto si Ndul… dan memang sampai sekarang gallery fotoku hanya diisi oleh foto wanita itu dan beberapa foto launching angkringan kemarin. Eh.. ada satu lagi foto rahasia sih… yaitu bokong lebar Bu Ningnung ketika ia sedang ngulek sambal sambil jongkok dan diam-diam kufoto dari belakang. Hanya belum kujadikan bahan coli.




Kubuang pandanganku keluar, ke arah toko. Haiiisssh… cewek kalau belanja memang lama. Padahal kan tinggal ambil apa yang hendak dibeli. Kuputuskan keluar mobil untuk merokok. Sinar matahari pun langsung menyengat wajahku.




Satu batang… dua batang… sampai batang ketiga Ariska belum juga muncul. Padahal tubuhku sudah mulai berkeringat. Sampai akhirnya…




“Ngapain aja sih, beli pindang aja lama banget?!!” aku langsung menyemprotnya ketika sosok yang ditunggu itu akhirnya muncul juga.


“Antri tadi!” singkatnya. Wajahnya berubah tidak suka ketika aku menyambutnya dengan tidak ramah.


“Antri atau kelamaan milih dan bawel tanya ini dan itu?!”


“Ayo jalan!” Ariska nampaknya tidak sedang ingin ribut. Ia langsung masuk mobil, sedangkan aku masih berdiri sambil menghabiskan rokokku yang tersisa setengah.


“Tadi ngomel, sekarang kamu sendiri yang lama?!” Ariska menyambutku dengan ketus ketika akhirnya aku masuk mobil.


“Lah kan kamu liat sendiri kalau aku merokok,” aku kesal.


“Iya aku tahu.. lalu kenapa tadi ngomelin aku?!”


“Karena kamu lama!!


“Lah terus barusan kamu merokok juga gak lama?! Untung mesinnya gak kamu matiin, jadi aku gak kepanasan di dalam mobil!”


“Kupret!!”


“Ngomong apa barusan?”


“Nggak!”


“Ngomong apa?!!!”




Haiiiish….




“Kupret! Puas lu?!”


“Iya, puas. Makasih udah ngatain aku kayak gitu!”




Aku pun memundurkan mobil dengan sedikit kasar, lalu tancap gas meninggalkan toko pindang.




“Anjing!!! Mobil aja keren, tapi gak mampu bayar parkir!!!” terdengar makian di kejauhan.


“Kataaaa!!!” Ariska semakin kesal karena ulahku yang tidak membayar parkir.


“….”




Aku baru berhenti ketika lampu merah, itu pun dengan ngerem mendadak.




“Kangen ama Poetry sih kangen… tapi gak usah jadiin aku juga sebagai korban kaleee,” sindir Ariska. “Pasti ulahmu yang kayak gini nih yang Poetry gak tahu, sehingga ia cinta mati ama kamu. Coba dia tahu aslinya kamu.. gak kebayang deh…”


“Heh denger yah…” aku melotot.


“Apa?!!” ia balik melotot.


“Gak jadi!”


“Cemen!!”


“Cemen tuh cewek mentol… alias gak punya jembut, gak bisa disuwir, dan suka ngolesin kemaluannya pake cream berbagai rasa.” aku ngomong sekenanya.




Ucapanku sukses membuat wajah Ariska memerah, ia bukan hanya marah, melainkan juga memukuli lenganku dengan keras.




“Kata!!! Kamu beneran parah!!! Gak menghargai perempuan banget!!”


“Lah emang iya, kan?” sambil menepis pukulannya.


“Emangnya kondom pake berbagai rasa segala?!” galaknya. Ia terpancing dan keceplosan.


“Hahaha… kok kamu tahu kalau kondom punya berbagai rasa?”


“Eh..!!” Ariska salang tingkah, wajahnya semakin memerah antara malu dan marah.


“Aku aduin Poetry loh! Dia gak tahu aja kalau cowok kesayangannya mesum gak ketulungan!!” sewotnya.


“Sok aja ngadu,” jawabku santai sambil memindahkan perseneling.


“Beneran yah?!”


“Sok aja!”




Jemari lentik Ariska gesit menggeser layar smartphonenya dan mencari nama Poetry (Tante Puki), aku tak acuh ketika ia menatapku tajam seolah mengancam sekaligus meminta persetujuan.




Tut tut tuuut..!!




“Hahaha…” semua rasa kesalku seolah hilang saat menyadari kebodohan gadis di sampingku ini, Ariska celingukan sesaat, lalu akhirnya mendengus semakin kesal.


“Lagian orang lagi di pesawat, mana bisa ditelpon?! Hahaa…” aku masih tertawa.


“Bodo!!”




Tik tok tik tok.




Aku dan Ariska terdiam. Bedanya aku masih menahan dan menyembunyikan tawa, sedangkan gadis itu menekuk dan menaikan kedua kakinya dan memeluk lutut. Untung ia memakai celana panjang sehingga tidak ada yang bisa ia pamerkan.




“Nyebelin!” ketusnya lagi.




Melihat tingkah Ariska membuat aku bisa membuang sejenak pikiranku akan Tante Puki, aku merasa terhibur karena sikap lucu gadis ini. Nampak galak tapi konyol juga. Yeaahh.. begitulah dia sejak dulu, sejak aku dan dia masih suka bermain bersama.




“Ka…”


“Hmmm…”


“Mampir dulu ke Lawang Sewu yuk, udah lama aku gak ke sana.”


“Hmmm…”


“Nanti aku yang bilang Poetry deh biar dia gak mikir macem-macem.”


“Kaaa?!”


“Hmm…”


“Kata?!!!”


“Iyah.. iyah… ayo…” aku mengkeret juga mendengar bentakannya, sejurus kemudian kubelokan mobil menuju tempat yang ia sebutkan.


“Makasih…” ia bersikap sok manis dengan menatapku sambil tersenyum tidak tulus.




Gadis ini memang cantik, dan hatinya sebetulnya sangat baik, namun aku masih takut untuk kembali dekat dengannya. Aku takut terbawa nostalgia, juga takut kalau akhirnya ia akan menjadi musuhku selamanya karena ulah orangtuanya.




Usai memarkirkan mobil dan membeli tiket aku dan Ariska memasuki pintu utama gedung yang menjadi ikon kota Semarang ini. Atas permintaan Ariska, aku mengambil foto gadis melalui smartphone-nya, namun aku menolak ketika ia selfie bersama.




“Nih..” kukembalikan smartphonenya.




Aku pun melangkah mengikuti dorongan hati. Aku tidak peduli lagi pada kehadiran gadis itu yang menjejeriku dan bahkan sering tertinggal karena foto-foto. Aku melangkah dan terus melangkah pelan di depan barisan pintu, tanpa sedikit pun berniat memasuki ruangannya. Sesekali aku berhenti untuk menyentuh daun pintu lalu melangkah kembali. Begitu seterusnya… Aku larut dalam nostalgia masa kecil, aku seakan sedang nafak tilas pada peristiwa masa lalu, yang samar-samar muncul dan tenggelam dalam ingatan.




Di awal tadi aku mengharapkan agar aku bisa menikmati kemegahan gedung kuno yang memiliki 760 pintu ini dengan Tante Puki, namun kini aku seakan melupa, adaku seolah hanya seorang diri. Aku terlalu asik dengan nostalgiaku, bahkan aku lupa pada Ariska yang kini hanya berjalan di belakangku.






“Kenapa gedung ini spesial?”


“Karena pintu-pintunya terbuat dari kayu jati yang harus sudah berumur lima puluh tahun.”


“Lima puluh tahun itu banyak yah?”


“Banyak.”






Puas menyelusuri gedung utama, aku pun melangkah menuju gedung utara, dan berakhir di gedung ketiga. Aku hanya melangkah dan terus melangkah dalam diamku. Aku pun keluar, dan aku masih mengikuti kata hati untuk menuju pohon mangga tua di pekarangan.




Aku langsung menaiki undakan yang biasa dipakai tempat duduk, dan menyentuh pohon itu. Aku mencari sesuatu di sana, namun aku tidak menemukannya.




Sebuah helaan nafas kuhembuskan, dan kini aku seakan kembali ke dunia nyata. Kesadaran totalku kembali pulang. Ya.. sejak tadi aku memang sadar, tapi aku lebih asik dengan kenangan-kenanganku, dan sekarang aku kembali menyadari lingkungan sekitar. Aku malah baru teringat pada Ariska yang dari tadi selalu berjalan di belakangku.




“Hei.” aku merasa dungu sendiri.




Ariska hanya berdiri mematung sambil menatapku lekat. Tubuhnya seperti kaku, dengan kedua tangan rapat dan jari-jarinya saling meremas.




“Ris, kamu kenapa?” sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh bahunya.


“Jangan sentuh aku!” ucapnya dengan bibir bergetar.




Aku cukup kaget pada perubahan sikapnya, dan akhirnya hanya bisa berdiri berhadapan tanpa kutahu harus berbuat apa.




Bola mata Ariska memerah, dan bibirnya bergetar, “Kamu siapa?”




“Ris, kamu kerasukan penghuni sini ya? Siapa kamu sampai tidak kenal aku?” aku mulai panik, pikirku ia kerasukan.


“Siapa kamu?” tanyanya kembali sambil menatapku tajam.


“Aku Kata, Ris, Rakata. Sadar, Ris, sadar.. katakan siapa kamu? Kenapa merasuki tubuh Ariska?” kudengar suaraku sendiri bergetar, bulu kudukku mulai merinding. Yeah.. meskipun banyak orang yang berlalu lalang tetap saja aku ketakutan berurusan dengan makhluk halus. Kalau dengan tubuh halus sih sudah biasa!


“Heh?!”




Plaaak!! Sebuah tamparan mendarat pada pipi kiriku, panas kurasakan.




“Kamu jangan ngomong sembarangan yah? Aku tidak kerasukan.”




Fiuuuh… aku menghela nafas lega mendengarnya sambil tetap mengusapi pipi bekas tamparannya.




“Lah.. abisnya pertanyaanmu aneh, Ris.” gumamku sambil duduk, sedangkan Ariska tetap berdiri di hadapanku.




Entah kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang ketika melihat Ariska seperti itu, bahkan rasa perih menghampiriku ketika nampak air matanya berlinang.




“Ris, kamu kenapa sih? Sini duduk, cerita ke aku.” aku masih mencoba mengendalikan perasaan.


“Kenapa, Ka, kenapa? Kenapa kamu harus melewati lorong-lorong itu, kenapa kamu harus menyentuh pintu itu, kenapa tadi kamu meloncati anak tangga terakhir, apa yang kamu cari pada pohon mangga itu? Siapa kamu?”




Litani pertanyaan Ariska membuatku terdiam, nafasku langsung tersengal, dan aku hanya bisa mematung tanpa mampu menjawab.




“Rakata? Jawab!!” tiba-tiba suaranya meninggi dan air matanya langsung mengucur. Sikapnya membuat beberapa orang menengok ke arah kami berdua.


“A.. aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu, Ris, ya aku gitu karena.. karena suka aja melihat tempatnya. Bagus banget.. aku baru pertama kali datang ke sini. Makasih ya udah ngajak aku.” aku menjawab dengan sedikit tergagap.


“Kamu bukan Enzo, kan?” pertanyaan Ariska terasa begitu telak menghantam ulu hatiku.


“Ri.. Ris…?” aku benar-benar tidak berkutik.


“Haiiish… hahha… bodoh… bodoh….” Ariska akhirnya duduk di sampingku sambil mengusapi air matanya dengan kasar.


“Maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana tadi,” lirihnya, lalu ia melanjutkan, “Tadi aku hanya ingat Enzo, dan kamu pasti bukan dia, Enzoku orang baik, tidak mesum seperti kamu.”




Entah aku harus lega atau sedih mendengarnya. Kini aku tidak harus mencari alasan untuk mengelak bahwa aku bukan Enzo, tetapi sikap Ariska yang mencintai dan mencari seorang Enzo membuat dadaku kian sesak.




“Ma.. maaf.. kalau aku malah membuat kamu ingat pada Enzomu,” hanya itu yang bisa kukatakan, sisanya aku hanya bisa menghela nafas. Kusulut rokokku dan kuhisap dalam-dalam. Kini aku benar-benar bimbang apakah harus mengaku atau tidak.


“Dia telah lama pergi, meninggalkanku, meninggalkan sebuah janji…” suara Ariska terdengar dalam. “Aku selalu mencarinya, tapi dia tidak pernah mencari aku. Hiiiks… Tapi aku yakin, suatu saat aku akan bisa menemukannya. Aku bersumpah.. pada saat aku menemukannya, aku akan membawanya pada papah.”




Zleeeebbb!




“Apa hubungannya dengan papahmu?”


“Eh.. maaf.. nggak.. ini hanya masalah keluarga aja.”


“….”


“Udah, kita jalan yuks. Tapi sebelum pulang kita makan dulu yah, aku lapar.” Ariska berdiri sambil mengeringkan kelopak mata dan pipinya. Senyum dan tawanya sangat jelas dipaksakan.




Aku pun berdiri sambil mengangguk pelan, kulemparkan puntung ke atas tempat sampah. Meleset!




“Maafkan aku, Ris, aku janji.. kalau aku sudah tahu tentang kedua orangtuaku, kamu tidak perlu lagi mencari aku. Aku sendiri yang akan datang kepadamu untuk memenuhi janjiku yang terucap di bawah pohon sawo itu.”








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar