Enzo part 15


BAB 15

Hari-hariku menjadi lebih berwarna karena kehadiran Tante Puki, dan suasana rumah juga menjadi lebih ramai berkat kehadirannya dan juga Ariska. Kekasihku bisa beradaptasi dengan cepat dan mudah sekali akrab dengan Bu Ningnung, Yaning, dan Ariska sendiri. Kemarin ketiganya malah pergi bersama untuk jalan-jalan dengan menggunakan mobilku, dan aku tidak diperbolehkan ikut dengan alasan girls time.

Aku tidak keberatan, karena banyak waktu yang masih bisa aku dan Tante Puki habiskan berdua, khususnya saat malam tiba. Kami bahkan tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk tidur bersama. Bu Ningnung nampaknya cukup mengerti dan tidak mau ambil pusing dengan gaya pergaulan kami yang dianggapnya sebagai gaya anak kota. Tentu saja ia tidak berpikir bahwa kami akan bersetubuh, ia hanya berpikiran bahwa kami tidur sekamar dan tidak akan berbuat macam-macam. Kadang ia terlalu baik dan polos.

Berbeda dengan Ariska, walaupun nampak akrab dengan Tante Puki, ia terlihat tidak suka aku tidur sekamar dengan kekasihku, dan moodnya sering jelek ketika melihat kami sedang berduaan di bawah pohon sawo, atau ketika kami memasuki kamar. Aku tidak mau ambil pusing, toh ia sendiri kadang-kadang pergi dengan Iban sampai larut malam. Mungkin ia juga disuwir oleh pemuda itu.

Kebahagiaanku semakin sempurna ketika Ndul datang. Perjumpaan ini sungguh menggembirakan setelah tiga bulan lebih kami berpisah dan hanya saling berbicara via telpon. Sikap tengilnya membuat suasana rumah semakin ramai.

“Zo, lu yakin ama hubungan lu dengan Tante Pupuh?” tanya sahabatku pelan.

Kami sedang duduk di bawah pohon sawo sambil mengamati kesibukan persiapan launching Angkringan NeNeN sore nanti.

“Kata, Dul, Kata…” aku mengingatkan.

“Hahaha… iya.. iya.. abisnya nama samaran lu aneh banget.”

“Awas lu kalau keceplosan.” ancamku.

“Hahaha… siap Mas Kata.” gayanya yang menirukan Yaning membuatku tertawa.

“Jadi?” desaknya.

“Gua sayang dia, Dul.” ujarku sambil menghembuskan asap rokok. Mataku menatap pada sosok yang sedang kami bicarakan. Ia juga melihat ke arahku sambil tersenyum manis di sela aktivitasnya yang sedang menata meja kasir. Sedangkan Ariska dan Yaning sedang membantu Bu Ningnung membungkus nasi dengan daun jati.

“Ini terakhir kalinya gue bilang ke lu, bro, menurut gue jangan lu rebut Tante Pupuh dari suaminya. Jangan rusak rumah tangga mereka.”

“Poetry, Ndul, Poetry…”

“Iya, apapun itu. Lu harus ingat bahwa Poetry sudah bersuami, dan biar bagaimana pun ia masih memiliki hubungan darah dengan lu.”

“Hanya itu alasannya? Beri gua satu alasan lain mengapa lu ngomong kayak gitu.” aku tidak suka Ndul melarang dan menasihatiku, tapi aku masih ingin membiarkannya berpendapat.

“Ariska!”

Gumaman Ndul sukses membuatku melirik dan mentap tajam wajahnya.

“Ariska? Kenapa harus dia? Gadis itu tidak bisa menggantikan Tante Puki di hati gua.” nada suaraku agak meninggi, meski tetap kuredam agar tidak ada yang mendengar.

“Lu gak perlu ngegas juga, bro. Sekarang lu ngomong kayak gitu, tapi bukankah lu sendiri selalu berusaha mencari dia sejak dulu? Sama seperti dia mencari lu!”

“Ya itu karena dia sahabat masa kecil gua. Gua berhenti mencari ketika ia sendiri yang datang dan membawa kebenaran bahwa ia adalah anak orang yang telah membuat orangtua gua pergi dari rumah ini hingga menghilang sampai sekarang!”

Ndul menarik nafas panjang sambil memperdalam sandarannya pada kursi. Ia seperti sudah kehilangan kata-kata.




“Tersah lu deh, bro. Gue gak mau ikut campur.” ujarnya setelah saling diam beberapa saat lamanya. Jelas bahwa ia menyembunyikan sesuatu, tapi aku tidak berniat mencari tahu.


“Tapi…” Aku melirik ke arah sahabatku dan menunggu ia melanjutkan ucapannya. “Suatu saat lu akan tahu, cinta itu mengatasi segalanya, dan gua tahu… cinta sejati lu untuk siapa.”


“…”


“Kenapa diam?”


“Gimana kabar keluarga di rumah No. 27? Mereka baik-baik saja?” aku merasa jengah dan berusaha mengalihkan pertanyaan. Ndul menggeplak kepalaku lalu menyalakan sebatang rokok.




Tik tok tik tok.




Ndul menarik nafas panjang sambil memutar-mutar rokok di antara sela jemarinya.




“Namanya Reno Ban Fith, berusia enam puluh tahun, dan istrinya baru berusia 42 tahun. Anak mereka bernama Rena dan Meti.” akhirnya Ndul berujar.


“Nama istrinya?”


“Wulan Ningtyas.”




Pikiranku menerawang memikirkan wanita yang ternyata bernama Wulan itu. Sosoknya sangat cantik dan memiliki body yang molek.




“Reno adalah pemilik perusahaan raksasa di Jakarta dan Surabaya, hanya namanya sering tidak terdengar karena ia mengandalkan orang-orangnya untuk menduduki jabatan-jabatan penting. Lelaki itu lebih banyak bekerja di belakang layar. Bu Reno sendiri adalah orang rumahan yang hanya mengurusi suami dan anak-anaknya.” papar Ndul.


“Ada hubungannya dengan kita?”


“Gua masih belum menemukan jawabannya. Tapi sepertinya feeling lu benar, lelaki bernama Reno itu bisa jadi memiliki kaitan dengan keluarga lu di masa lalu. Itu gua dengar dari orang-orang kita, ia asli kelahiran kota ini.”


“Poetry tahu?”




Anggukan Ndul sudah cukup menjadi jawaban bagiku.




“Thanks, bro, dan lanjutkan mencari informasi tentang mereka.” gumamku.


“Sekarang ada yang lebih penting dari itu, dan gua butuh pendapat lu,” Ndul mengalihkan percakapan.


“…?…” sambil menatap sahabatku.


“Ariska!”


“Kenapa lagi dia?” aku terheran.


“Dia melamar kerja ke perusahaan kita.”




Uhuk.. uhuk.. aku tersedak asap rokok. Kutatap tajam sahabatku untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah dengar.




“Kemarin gua baca berkas lamarannya sebelum berangkat ke sini, dan sepertinya ia belum tahu bahwa Tante Pupuh.. eh maksud gua Poetry… adalah direktur utama kita, menggantikan lu.” jelas Ndul.


“Kok bisa ia melamar ke perusahaan kita? Bukankah dia sendiri anak pengusaha?” aku seolah bertanya pada diri sendiri.


“Gua belum tahu motifnya, tapi menurut pendapat gua sih ada dua kemungkinan.” suara Ndul terdengar dalam dan serius.


“Apa?”


“Pertama ia diperintah ayahnya untuk menyelidiki kiprah perusahaan kita dan yang kedua… mungkin ia sengaja melamar kerja atas inisiatifnya untuk melacak keberadaan lu.”




Jegeeeer!!!




“Jawaban yang paling mungkin adalah yang kedua.” lanjut Ndul dengan nada tetap serius, sikap tengilnya hilang.




Duaaaarrr!!!




Kulemparkan puntung rokok dan kuusapi wajahku. Kabar yang Ndul sampaikan membuatku benar-benar terkejut dan tidak bisa berpikir jernih.




“Apakah dia tahu bahwa gua.. maksud gua Enzo… kalau Enzo adalah pemilik perusahaan itu?” ujarku.


“Dipastikan belum tahu, tapi mungkin ia mencurigainya. Ariska adalah gadis yang cerdas, bro, dan dia sangat serius mencari Enzonya.”




Penjelasan Ndul membuat dadaku terasa sesak. Sebegitu berartinyakah seorang Enzo bagi Ariska? Atau ia punya motif lain mengapa ia mencariku?




“Gini, Ka…” Ndul menyampaikan hasil penyelidikannya atas gadis itu.


“Nama ayahnya adalah Rudy Fang Fuk, kakak pertama Bu Ningnung. Ia pindah ke Bandung karena dimutasi oleh perusahaan tempatnya bekerja. Tiga tahun kemudian, perusahaan itu terancam bangkrut, dan Pak Rudy adalah satu-satunya manager yang setia mempertahankan perusahaan, padahal manager lainnya pada mengundurkan diri kala itu.”


“Nah, atas kerja keras pemilik perusahaan dan Pak Rudy, akhirnya perusahaan itu kembali bangkit hingga menjadi besar seperti sekarang. Sekarang Pak Rudy malah sudah menguasai 51% saham sehingga boleh dibilang bahwa dia adalah pemilik perusahaan itu.”




Tik tok tik tok.




Aku hanya diam mendengarkan sambil mencoba mencari hubungannya dengan Ariska yang malah memilih melamar kerja ke perusahaan kami, yang nota bene jauh lebih kecil, dibanding dengan bekerja pada perusahaan ayahnya.




“Menurut berkas yang kita miliki, sebelum Pak Rudy dan keluarganya pindah ke Bandung, perusahaan kita dan perusahaannya berada di bawah payung yang sama, yaitu Mantili Coorperation yang dimiliki oleh Reno Ban Fith.”




Duaaaarrr!!!




Aku sendiri malah lalai dengan tidak pernah membongkar dokumen-dokumen yang berkaitan dengan sejarah perusahaanku. Pikiranku sejenak melayang pada peristiwa sehari setelah aku lulus kuliah, dimana dua orang notaris datang ke rumah Tante Puki untuk mencariku. Ia menyerahkan sebuah warisan berupa rumah dan perusahaan property yang sekarang kumiliki, tanpa pernah tahu keberadaan pewarisnya. Notaris hanya mengatakan bahwa perusahaan itu adalah warisan (alm) kakek yang bernama Rezo Kusumawardana Wiryo.






“Sebelum beliau meninggal, kakekmu lebih memilih menitipkan perusahaan pada adiknya (kakeknya Tante Puki) daripada kepada ayahmu, sambil menunggu kamu lulus kuliah dan siap mengambil kendali perusahaan.”








Aku teringat kembali pada penjelasan yang disampaikan notaris waktu itu. Aku bahkan tidak pernah mengenal baik kakek, ingatanku akan beliau sangat samar karena aku masih sangat kecil ketika ia meninggal.




“Jadi sepertinya…” ujaran Ndul membuat lamunanku pudar. “Rudy Fang Fuk sedang berusaha menghilangkan jejak dari lu, sedangkan Ariska justru sebaliknya, ia mencari lu. Alasan keduanya tentu saja berbeda.” Ndul berhenti sebentar untuk menghisap rokoknya.




Aku terdiam sebentar. Otakku terasa penuh oleh berbagai pikiran dan emosi-emosi tidak nyaman. Penjelasan Ndul bagai tumpukan puzzle yang tak bisa kususun satu sama lain.




“Jadi gua sia-sia donk datang dan tinggal di sini.” aku merasa frustasi.


“Tidak, bro, lu bener. Lu bisa mendapatkan informasi dari para sesepuh di sini, terutama lu harus mencari orang-orang yang dulu pernah kerja membatik di sini. Mungkin melalui merekalah lu bisa tahu siapa kakek lu, dan kenapa orangtua lu bisa menghilang tanpa jejak.”


“…”


“Jadi itu dari informasi yang gua dapatkan dari orang-orang kita. Gua masih akan memperdalam semua informasi yang ada, sedangkan lu harus mencari tahu tentang keberadaan orangtua lu dari sini.” Ndul mengakhiri penjelasannya.


“Nah.. kembali ke Ariska, gimana?”


“Tolak!” aku menjawab spontan, aku tidak mau gadis itu tahu bahwa Pupuh dan Poetry adalah orang yang sama.


“Kalau menurut gua sih malah mendingan diterima karena kita semakin punya akses pada keluarganya, tapi kita harus mencari cara.”


“Aaaarh…” aku menjambaki rambutku sendiri tanpa bisa memutuskan.


“Nanti kita bicarakan bertiga dengan Tante Pupuh eh Poetry,” Ndul mengusulkan jalan keluar dan aku hanya mengangguk dengan gamang.




Obrolan kami terhenti dan Ndul mengalihkan pembicaraan sambil memasang gaya tengilnya ketika terlihat sosok Yaning mendekat sambil membawa dua cangkir kopi di atas baki.




“Serius banget ngobrolnya, mas, ini ngopi dulu.” ujar gadis itu sambil menunduk untuk meletakan cangkir. Arah mataku dan mata Ndul tertuju pada pusat yang sama, belahan payudara Yaning.


“Hehe.. makasih Ning, gak pake susu?” Ndul cengengesan.


“Eh.. Mas Gandul suka kopi susu?” Yaning merasa bersalah karena sudah keliru menyeduhkan minuman.


“Susu aku suka.” jawab Ndul dengan lugas.


“Mas Gandul suka susu? Bentar aku ganti dulu minumannya kalau gitu.” Yaning masih belum sadar pada sikap mesum sahabatku.


“Jangan diganti, Ning, yang itu aja.” telunjuknya tertuju pada cangkir, tapi matanya mengamati payudara gadis itu.


“Eh.. jadi Mas Gandul mau kopi atau susu? Atau kopi susu?”


“Sus…”


“Udah, Ning, gak usah dengerin si Ndul.” aku menyela sambil menggeplak kepala sahabatku, sedangkan Yaning hanya garuk-garuk paha yang hanya mengenakan jeans ketat setengah paha. Ia nampak bingung.




Kulihat Ndul menelan liur sambil sorot matanya mengikuti posisi garukan Yaning. Paha itu memang putih dan mulus.




“Hehehe.. aku bercanda kok, Ning, aku minum kopi aja. Gak pake gula, kan?” ujar Ndul.


“Iih Mas Gandul mah aneh. Yaudah selamat ngopi ya, dua-duanya gak pake gula kok.”


“Makasih.” aku dan Ndul menyahut bersamaan disambut anggukan dan senyum manis Yaning. Lalu gadis itu pamit dan meninggalkan kami berdua, kini mataku dan Ndul terpaku pada pinggulnya yang terbungkus ketat.


“Ingat Poetry, Ka.”


“Bangke… lu sendiri ingat cewek lu. Awas kalau lu apa-apain Yaning.” aku memaki.




Kami berdua pun tertawa absurd, tanpa sungguh tahu apa yang sebetulnya sedang kami tertawakan.




Aku dan Ndul pun melanjutkan obrolan sambil menikmati seduhan kopi yang Yaning suguhkan, obrolan lebih terfokus pada kondisi perusahaan pasca aku tinggalkan. Hanya perusahaan biasa yang bergerak di bidang property.




“Mau kemana, lu?” tanyaku pada Ndul.


“Beresin laporan anak-anak dulu di kamar, bisa berabe kalau kerjaan gua gak beres, bisa-bisa gua dipecat oleh si boss,” ledeknya sambil terkekeh.


“Bangke!!” aku memaki sambil menghabiskan sisa rokokku yang masih setengah. Tak lama kemudian aku pun beranjak menuju ke dalam rumah, kubalas sapaan dua pegawai baru yang sedang menata meja dengan senyuman.


“Udah lapar, yank?” sapa kekasihku yang baru beres menata meja kasir bersama Yaning. Sedangkan Bu Ningnung dan Ariska sedang membungkus beberapa menu yang akan disajikan.




Aku menggeleng sambil membalas senyuman Tante Puki. Wanitaku mendekat dan mengusap helaian rambutku yang mulai gondrong, sedangkan kedua tanganku menumpang pada pinggangnya.




“Eheeem.. eheem… huuuh.. panas.. panas…” celetuk Yaning sambil cengengesan.


“Ngiri aja!!” goda Tante Puki. Lanjutnya lagi, “Makanya cepet punya pacar, Ndul lagi nganggur tuh.”


“Heh?” kutatap bola mata kekasihku.




Ia pun mengangguk. Kupret!! Sahabatku belum cerita kalau ia sudah putus dengan pacarnya.




“Yeee.. iya kalee pacaran. Bisa dimarahin ibu tuh.” celetuk Yaning.


“Iya. Lulus kuliah dulu baru pacaran.” tiba-tiba Bu Ningnung menyahut, membuat kami bertiga melirik ke arahnya.




Wanita itu memasang muka galak sehingga aku dan Tante Puki tertawa, sedangkan Yaning memelas seolah sedang memohon agar boleh pacaran. Ada yang berbeda, Ariska hanya diam. Ia memang tidak cemberut, tapi wajahnya memerah dan langsung memalingkan muka ketika melihat kemesraan antara aku dan Tante Puki.




“Kalau sudah lapar, kalian makan duluan aja, ibu makan nanti aja, ni masih nanggung.” ujar Bu Ningnung tanpa sadar pada perubahan mimik muka keponakannya.


“Aku juga nanti, mau bantu ibu aja, siapa tahu boleh pacaran. Hihi…” sahut Yaning sambil duduk di samping ibunya.


“Nggak!!”


“Ibuuu!!”




Aku dan Tante Puki kembali tertawa, sedangkan Ariska memaksakan sebuah senyuman.




“Yank?” kekasihku kembali bertanya.


“Nanti aja, aku juga belum lapar kok. Masuk dulu yuk, ada yang mau aku bicarakan.”




Kugandeng pinggangnya memasuki rumah, diantar oleh deheman-deheman Yaning dan senyum Bu Ningnung; juga senyum kecut Ariska.




“Mau ngomong apa?” tanya Tante Puki setibanya kami di kamarku.




Aku mengerling sambil tersenyum.




“Ah kamu!” pipinya bersemu merah.




Langsung kedekap tubuhnya sambil mengusapi rambutnya, ia membalas pelukan sambil mendongak manja. Bibirnya sedikit terbuka.




Cuuup.




Kukecup lembut.




“Mmmh.. bau rokok.” ia merajuk.




Ia menyuapiku dengan permen yang ia keluarkan dari kantong roknya, dan tak lama kemudian kami kembali berciuman.




“Sayang, mmmh…” ia protes ketika aku sedikit menggigit bibirnya dengan gemas.




Ciuman kami terlepas dan mulutnya manyun. Kembali aku merunduk untuk melumatnya, tapi ia malah tertawa sambil menguraikan pelukan, lalu berlari dan menjatuhkan diri di atas kasur. Kukejar dengan langkah panjang dan berdiri di samping ranjang.




Kekasihku telentang di atas kasur sambil mengurai rambutnya di atas kepala, senyumnya menggoda, dan satu kakinya ditekuk membuat tepian roknya merosot, memamerkan paha putih nan mulus.




Aku naik dan merangkak, ia menggigit bibir sambil meremas tangannya sendiri. Langsung kutindih tubuh moleknya dan kami saling berpandangan dekat.




“Love you.” bisikku sambil menghembuskan nafas pada wajahnya.


“Love you too,” ia menggangguk sambil menjawab tanpa suara.




Kuurungkan mengecup bibirnya, ciumanku mendarat pada keningnya dan bibirku menempel cukup lama hingga Tante Puki memejamkan mata untuk meresapi rasa sayang yang kuberikan. Tangannya berpindah mengusapi punggungku.




“Aku pengen.” bisikku dengan suara sedikit bergetar.


“Ayo.” manjanya.


“Bro, barusan gua kirim email ya.” tiba-tiba pintu kamar terbuka.


“Hiyaaa.” pekik kecil Tante Puki sambil mendorong tubuhku. Ia langsung menurunkan ujung roknya yang tersingkap.


“Kupreeet!!!” makiku sambil melihat ke arah Ndul yang sedang terkaget di ambang pintu.


“So.. sorry.. harusnya tadi gua ngetuk pintu dulu ya.”


“Nah lu tahu!” kesalku, dan wajah kaget Ndul langsung berubah menjadi cengengesan.


“Lagian tahu waktu napa!” tambah Ndul sambil menutup pintu, tapi bukannya keluar, sekarang ia sudah berada di dalam kamarku.




Tante Puki menyembunyikan wajahnya di dalam dadaku dan memelukku erat, ia seolah malu, sedangkan dengan santainya Ndul malah duduk pada kursi di dekat jendela. Sebatang rokok ia nyalakan.




“Gandul, kamu pergi aaah!!” ujar Tante Puki dengan tetap menyembunyikan wajahnya.


“Hehehe… nggak… pengen liat yang lagi saling kasmaran.”


“Nduuul!!!” nada suara kekasihku meninggi.


“Eit.. gak boleh galak-galak, kalian itu hanya jadi boss gua kalau di kantor!”


“Kupret!!!” makiku.




Kepalang basah, aku tetap duduk di atas kasur dan menyandarkan diri pada kepala ranjang, ketarik tubuh Tante Puki dan kudekap pinggangnya dari belakang.




Tante Puki nampak kikuk, namun melihat gayaku yang santai dan Ndul yang tak acuh, ia pun mulai terbiasa. Tapi ia tahu bahwa mesumku dan mesum Ndul adalah sebelas-dua belas, maka ditutupi tubuhnya oleh selimut dari kaki sampai ke pinggang.




“Lu kenapa putus?!” aku langsung mencecarnya.


“Ah males gua.. cewek gua terlalu possesif.”


“Alesan!!”


“Suwirannya udah dicukur, males gua.” sambung Ndul.


“Oh gitu.. jadi kalau udah gak selera langsung dibuang? Gitu?!!” Tante Puki memelototi sahabatku.


“Hehehe bukan gitu, P-o-e-t-r-y, tapi aku memang udah males, ia terlalu matre.” Ndul berkilah dengan sengaja menekankan ucapan “Poetry” untuk meledek kekasihku. Aku tahu jawabannya kali ini adalah yang paling jujur.




Bantal pun melayang dan sukses menimpuk lengannya hingga rokoknya terlepas. Kali ini aku dan Tante Puki yang tertawa.




“Ngirim email apa?” tanyaku sambil menarik selimut sedikit ke atas sampai ke atas perut Tante Puki, tanganku langsung menelusup mengusapi paha dalamnya.




Tante Puki mendelik hendak protes, namun segera kucium pipinya tanpa malu pada Ndul. Kekasihku pun urung menolak.




“Nanti aja lu baca. Sekarang Ariska gimana?” Ndul enggan membahas dan malah balik bertanya.


“Tolak!”


“Terima!”




Aku dan Tante Puki menyahut bersamaan dengan jawaban berbeda.




“Yank?!” kali ini jawaban protes kami sama sambil sama-sama saling menatap.


“Halaah… sok kompak kalian. Jijik gua..!!” maki Ndul.




Aku tertawa sambil mengeratkan pelukan, membuat kekasihku menggelinjang, sedangkan Ndul tak acuh sambil mengembalikan bantal dengan cara melempar, dan jatuh di samping kami berdua.




“Kenapa harus diterima? Berabe kalau ia tahu bahwa Pupuh dan Poetry adalah orang yang sama.” ujarku.


“Gampang itu!” kekasihku menjawab, lalu bisiknya, “Ia kan gak tahu kalau aku udah nikah, yank.” Aku mengernyit mendengar bisikannya.


“Gak masalah kalau ia tahu bahwa aku adalah direktur perusahaan, tinggal mencari cara kenapa aku dipanggil secara berbeda,” Tante Puki menjelaskan.


“Poetry Pupuh Kinanti… gampang, kan?” Ndul menyahut.


“Nah…” kekasihku antusias setuju sambil menunjuk pemuda itu. Lanjutnya lagi, “Aku setuju. Kamu gimana, yank?”


“Terserah kalian deh,” aku pasrah.


“Makasiih.. udah.. pokoknya kamu gak usah pusing, biar aku dan Ndul yang ngatur.”




Karena gemas kuremas paha Tante Puki lalu usapanku semakin ke atas sehingga menyentuh tepian celana dalamnya. Ia menepis, tapi aku bertahan. Matanya melotot menatapku, dan hanya kujawab dengan kerlingan. Ndul sendiri tidak sadar karena lebih asik memutar lagu dari laptopku yang sejak tadi pagi tidak kumatikan.




“Sayang, aaah.” Tante Puki berbisik.




Bukannya menurut, kini telunjukku malah sudah menyusuri belahan vaginanya dari luar celana dalam. Tante Puki menggelinjang dan mencubit lenganku, ia hendak berontak.




“So? Siapa yang akan membuka rahasia ini? Gua atau lu, boss?” pertanyaan Ndul pada Tante Puki membuat wanita ini terdiam dan pura-pura santai dalam pelukanku, padahal celana dalamnya mulai kurasakan lembab.


“Nanti aku yang akan bilang, tapi kamu yang wawancarai dia. Formalitas aja.. intinya kita akan menerima dia.” jawabnya.


“Beres!” Ndul antusias.


“Awas lu kalo mesumin dia!” aku ketar-ketir melihat cengengesannya yang mencurigakan


“Yee.. kalau gua embat emangnya kenapa? Lu kan udah punya Poetry gadungan. Hahaha…” Ndul terkekeh.


“Gandul!!!” aku dan wanitaku menghardiknya, tapi yang kami bentak malah semakin terbahak.




Kekasihku nampak kesal, tapi kemudian urung ngomel ketika aku mengecup bibirnya sambil meremas gundukan vaginanya.




“Udah ah.. lu minggat sana.” usirku pada Ndul.


“Mau ngapain kalian? Di luar banyak orang juga!”


“Minggat gak?!!”


“Hahaha… sialan kalian!! Kalau bukan boss gua, gua bongkar dah rahasia kalian.” Ndul akhirnya bangkit sambil tak hentinya meledek. Bantal pun kembali melayang karena dilemparkan Tante Puki, namun kali ini sahabatku berhasil menghindar dan menangkapnya.




Begitu tubuh Ndul menghilang, aku langsung melumat bibir Tante Puki sambil meremas vaginanya dengan gemas.




“Mmmh.. sayang… shhhh…” lenguhannya membuat birahiku naik.




Tanganku langsung menyusup dan meremasi payudaranya, kurasakan putingnya sudah tegang. Tanpa melemaskan lumatan, kuposisikan tubuhku agar selangkangan kami saling menempel dan menekan.




“Nak Kata… Neng Poetry… kita makan dulu yuk.” terdengar suara Bu Ningnung dari luar kamar.




Bangke!!!!








https://t.me/cerita_dewasaa








Tepuk tangan pun terdengar, dan aku langsung berdiri menyambut Lurah Cintung yang baru saja memberi sambutan. Sore ini Angkringan NeNeN sudah resmi dibuka. Hari pertama pembukaan angkringan tidak dipenuhi banyak pengunjung, hanya dihadiri oleh ibu-ibu pemasok makanan dan keluarga mereka, juga beberapa tetangga. Aku menjadikan kesempatan ini sebagai ajang silaturahmi, dan setiap orang diperkenankan makan sepuasnya dengan hanya membayar lima ribu rupiah saja.




“Terima kasih, Pak Lurah.” aku menjabat tangannya erat.


“Terima kasih, Pak.” Ndul dan Tante Puki bersamaan dan menyalaminya, diikuti oleh Bu Ningnung dan Ariska.


“Sama-sama.” Pak Lurah sok cool padahal kutahu matanya mengintip belahan dada Bu Ningnung. Ia tidak takut pada istrinya, karena wanita itu nampak sedang ngobrol dengan ibu-ibu yang menjadi pemasok menu angkringan.




Bu Ningnung dan Yaning langsung menuju meja kasir, Ariska pindah duduk ke meja lain karena ada Iban di sana, Ndul mengambil beberapa video untuk youtube, sedangkan aku dan Tante Puki menemani Pak Lurah. Kopi hitam dan hidangan sudah disajikan.




Kami pun bersenda gurau sambil menikmati hidangan, celetukan-celetukan mesum Pak Lurah tak jarang membuat kami tertawa.




“Ada yang kurang, Nak Kata,” celetuk Lurah Cintung.


“Apa itu, Pak?” aku menatapnya.


“Harusnya ada pemusik juga. Kan banyak tuh kelompok pengamen yang keren, panggil aja supaya nongkrong di mari.”


“Bener juga, ya Pak, terima kasih atas idenya,” aku langsung setuju.


“Pak Lurah punya usulan siapa yang bisa diundang untuk ngamen di sini?” kekasihku menambahkan.


“Gampang itu mah, ada kok anak-anak yang biasa mangkal di pasar, nyanyi mereka keren dan alat musiknya juga lengkap. Kalian tinggal menyediakan tempatnya saja.” jawab Pak Lurah sambil mengusapi perutnya yang buncit.


“Makasih, Pak. Kalau bisa sih aliran lagu-lagu Jawa gitu, Pak.” usul Tante Puki lagi.


“Gampang, bisa diatur. Asal bapak boleh tiap hari nongkrong di sini aja, hehehe.” kekehnya.




Aku dan Tante Puki pun tertawa, tentu saja tidak melarangnya. Kehadiran Lurah Cintung yang mesum menjadi daya tarik tersendiri, aku malah sudah merencanakan supaya ia mengisi panggung untuk stand up comedy dengan tema-tema mesum.




“Pak, ayo pulang,” tiba-tiba Bu Lurah mendekat.


“Loh kok pulang?! Baru juga jam segini.” protesnya.


“Jadi gak mau pulang? Gak mau…”


“Eh iya.. iya… ayo… Nak Kata, Neng Poetry, kami pulang dulu ya.” Pak Lurah langsung berdiri ketika melihat pelototan istrinya.




Aku menduga bahwa Bu Lurah mengajak suaminya pulang karena mau memberi jatah agar ia tidak memesumi ibu-ibu di angkringan. Aku dan Tante Puki ikut berdiri dan menyalami mereka berdua, salam tempel pun kulakukan sehingga Pak Lurah sumringah.




“Selamat, sayang.” Tante Puki menggenggam tanganku sekepergian Pak Lurah dan istrinya.


“Makasih juga untuk kamu, sayang, ini semua karena kamu juga.” aku menatapnya lembut.




Kekasihku nampak cantik di balik pakaian casual yang cukup ketat dan memamerkan lekuk tubuhnya. Kami kembali duduk berhadapan sambil tetap saling menggenggam, tangan kami menumpang di atas meja. Sekali-kali aku menjawab sapaan beberapa pengunjung yang hadir, tak sedikit mereka melempar senyum ketika melihat kemesraan di antara kami berdua. Aku tahu, Ariska yang sedang berdua dengan Iban sekali-kali melirik dengan wajah tidak ramah. Aku tidak peduli, kini pusat hidupku adalah Tante Puki, dan ini akan menjadi malam terakhir sebelum besok ia dan Iban kembali ke Bandung.




“Mas, Mbak, saya pamit dulu ya, makasih atas undangannya.” Iban mendekat ditemani Ariska.


“Loh kok buru-buru?” Tante Puki menatap heran.


“Iya, Mbak, saya masih harus kembali ke Kudus malam ini juga, besok akan dinas ke luar kota.”


“Oh gitu. Makasih ya udah nyempetin mampir.” Tante Puki menyambut uluran pemuda itu.


“Makasih, Ban,” aku ikut menyalaminya.




Kulihat wajah Ariska tidak cerah, mungkin karena mau ditinggal Iban. Padahal kalau saja ia mau tersenyum, pasti kecantikannya akan kian memancar.




“Aku antar Iban ke depan dulu ya,” suara Ariska terdengar datar.




Aku dan Tante Puki mengangguk sambil menatap punggung mereka berdua.




“Mereka itu pacaran tapi kok gak keliatan mesra ya?” gumamku.




Kekasihku menatapku sambil tersenyum, “Aku berani bertaruh mereka tidak pacaran, walaupun Iban nampaknya suka pada Ariska.”




“Kok bisa menduga begitu?”


“Ya karena…”


“Hallo guys.. ini adalah pemilik Angkringan NeNeN, namanya Kata dan Poetry. Kata Poetry mereka pacaran, tuh lihat mereka mesra, kan?” tiba-tiba Ndul muncul sambil mengarahkan kamera DSLR-nya pada kami berdua.


“Ndul!!” hardikku.


“Jangan, Ndul!!” Tante Puki ikut melotot.


“Hahaha… ada yang ketakutan tuh karena bermain api.” Ndul menggoda, kuyakin suaranya terekam kamera.


“Awas lu kalau nayangin video kami berdua,” aku mengancam.


“Hahaha… iya.. iya.. segitu amat ketakutannya.” Ndul pun mematikan kameranya dan menyeruput kopiku yang tinggal seperempat. Aku hanya bisa mendengus kesal melihat ulahnya, sedangkan kekasihku masih terus mengancam supaya tidak menayangkan video barusan.




Tak lama kemudian Ariska kembali muncul dengan wajah tidak cerah.




“Sebentar, yank.” Tante Puki berdiri untuk menyambut Ariska. Lanjutnya, “Ndul, kamu ikut aku.”




Aku hanya mengangguk sambil menyomot tempe goreng. Kulihat Tante Puki dan Ndul mengajak Ariska kembali memasuki rumah, dan aku sudah bisa menebak apa yang akan mereka bicarakan.




“Mas, kopinya mau nambah?” Sukri, pelayan baruku menghampiri.


“Nggak, kang. Makasih…”




Sukri pun mengangguk sopan sambil membereskan gelas bekas Pak Lurah dan Tante Puki, lalu beranjak pergi.




Pandangan mataku beredar mengamati angkringan, suasana gembira dan penuh tawa nampak dalam wajah-wajah pengunjung. Kuperhatikan ibu-ibu yang di mataku nampak montok dan menarik hati. Apapun itu.. mataku selalu tertuju pada sosok yang sama, yaitu Bu Ningnung. Wanita itu memang memiliki pesona di usianya yang sudah paruh baya.




Pikiranku ngeres. Kalau Tante Puki memiliki pesona karena kelangsingan dan erangan-erangan binalnya di tempat tidur, Bu Ningnung menggairahkan dengan tubuh montoknya dan mungkin tipe wanita pasif saat bercinta.




Dan malam pun semakin beranjak, satu per satu para tamu meninggalkan angkringan, setelah sebelumnya pamit padaku yang kini hanya duduk seorang diri.










BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar