BAB 14
Aku sangat senang ketika akhirnya semua proses persiapan pembukaan angkringan berjalan lancar. Aku sudah memutuskan untuk menamainya Angkringan NeNeN, mengambil inspirasi dari kedai kopi terkenal di kota Bandung, di mana pemiliknya cukup melegenda dalam ingatanku. Kini semua persiapan sudah beres menjelang pembukaan yang akan berlangsung tiga hari lagi. Aku lebih bahagia lagi karena Tante Puki akan datang, begitu pula dengan Ndul sahabat terbaikku. Kabarnya Ariska pun akan datang. Ini yang sedikit mengganjal, kenapa kedatangan Tante Puki selalu bersamaan dengan gadis itu.
Aku juga tidak perlu takut pada Ndul. Ia sudah tahu hubungan gelapku dengan Tante Puki. Aku tidak pernah bisa menyimpan rahasia dari pemuda itu. Ia yang pada awalnya mencaci maki, namun akhirnya menyerahkan semuanya padaku.
“Jadi begitu ibu-ibu semuanya, sekali lagi terima kasih atas kesediaannya untuk bekerjasama.” aku mengakhiri pertemuan.
Saat ini aku sedang mengumpulkan para tetangga yang mau memasok menu di angkringan, total ada sepuluh orang ibu-ibu yang terlibat, termasuk istrinya Pak Lurah. Dari semaunya hanya ada empat orang wanita yang membuat mataku selalu melirik, enam jika termasuk dengan Bu Ningnung dan Bu Lurah. Dua di antaranya selalu memperhatikanku penuh kekaguman. Sekalian saja, kesempatan ini kujadikan sebagai ajang jual pesona, agar mereka setia, setia memasok makanan maksudnya.
“Terima kasih, Mas Kata.” bagai suara koor mereka serempak menjawab.
Acara pun dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang mereka bawa masing-masing, yaitu menu andalan yang akan mereka sajikan. Mereka sendiri hanya pemasok, sedangkan untuk pengelolaan aku sudah menyiapkan Bu Ningnung sebagai kasir, dibantu oleh Yaning yang merangkap sebagai bagian administrasi. Kami juga sudah menerima dua orang pelayan yang mau bekerja, mungkin akan bertambah jika angkringan kami ramai.
“Mas jadi ke Semarang sekarang?” tanya Yaning.
“Iya.” singkatku.
Hari ini aku akan menjemput Tante Puki yang datang lebih awal.
“Jangan lupa bawain lumpia dan pindang asap yaaa.” ujarnya sambil menatap manja.
“Yaning!!” Bu Ningnung tidak enak hati.
“Yee ibu apaan sih?” Yaning pecicilan sambil mengapit tanganku.
“Loh Nak Kata mau ke Semarang toh?” celetuk seorang ibu yang sejak saling kenal dialah yang paling genit. Namanya Ibu Demplon, sesuai dengan postur tubuhnya yang montok dan dan memiliki pinggul seperti pantat bebek. Lucu sebenarnya.. karena pinggulnya mancung ke belakang, sedangkan dadanya mancung ke depan karena ukuran payudaranya yang jumbo.
“Iya…” Yaning mendahului menyahut. “Mas Kata kan mau menjemput pacarnya.”
“Cieeeee…” koor ibu-ibu pun terdengar, sedangkan aku hanya tertawa sambil sedikit menyentuhkan sikutku pada tepian payudara Yaning. Sumpah kenyal banget, inginnya aku lebih menekan lagi tapi takut Yaning curiga dan ibu-ibu melihat.
Seusai makan aku pun pamit dan menuju parkiran diantar oleh Bu Ningnung dan Yaning.
“Mas, jangan lupa oleh-olehnya.” Yaning mengingatkan lagi.
“Iya, adekku sayaaaaang!!” aku melancarkan modus dengan pura-pura menjembel kedua pipinya, membuat gadis itu cemberut.
Aku pun tertawa sedangkan Bu Ningnung hanya menggelengkan kepala melihat ulah kami. Setelah pamitan sekali lagi dan bersalaman, aku pun meluncur meninggalkan rumah, dan menyusuri jalur Pantura.
Hanya dua setengah jam aku sudah tiba di kota tujuan, dan sampai di bandara setengah jam sebelum Tante Puki mendarat. Aku masih punya banyak waktu untuk ngopi dan merokok.
“Hai, Mas Kata yah?” tiba-tiba seorang pemuda mendekat dan menyapaku.
“Eh iyah.. kamu?” aku berpikir sejenak untuk mengingat-ingat.
“Iban.” ucap kami bersamaan. Aku sudah berhasil mengingatnya, dan bersamaan dengan itu ia menyebut namanya sendiri.
“Eh kok di sini juga?” tanyaku sambil membalas jabatan tangannya.
“Iya, Mas, aku menjemput Ariska.”
Ujubuneeeh!!! Ternyata ia datang hari ini juga, padahal ia tidak memberi kabar, bahkan Bu Ningnung dan Yaning pun kuyakin tidak tahu karena mereka tidak pernah menyinggungnya. Sialnya lagi, kenapa ia datang di waktu yang sama dengan Tante Puki. Tak salah lagi, mereka berdua pasti satu pesawat.
“Mas sendiri?” Iban balik bertanya karena melihatku terdiam.
“Aku menjemput Poetry.”
“Walah.. kalau begitu kita sama-sama menjemput pacar, ya Mas.” Iban terkekeh dan duduk di depanku.
“Rupanya begitu.” aku pun terkekeh, walaupun sebetulnya nyesek juga ketika mendengar bahwa Iban dan Ariska berpacaran.
“Ayo pesen kopi, atau mau minum apa?” ujarku sambil menyulut sebatang rokok.
Iban pun melambaikan tangan pada pelayan dan memesan segelas americano, dan kami pun ngobrol ringan sambil merokok. Pemuda ini rupanya sudah tahu kalau tujuan kedatangan Ariska, selain mengunjungi Bu Ningnung dan Yaning, juga untuk menghadiri pembukaan angkringanku.
“Kok kita gak pernah ketemu, ya Ban?” aku cukup heran karena sejak bertemu di hotel pagi itu kami tidak pernah bertemu lagi.
“Iya, Mas, karena aku kerja di Kudus, pulang ke rumah palingan sebulan sekali.” aku pun mengangguk mendengar jawabannya.
“Abis ini langsung ke…”
“Nggak, Mas, Ariska katanya ingin jalan-jalan dulu di Semarang dan baru besok ke sananya.”
“Oh…” singkatku.
Dua manusia berlainan jenis, berpacaran pula, kalu menginap bersama, ya ngapain lagi kalau bukan suwir-menyuwir. Sesak membayangkan bahwa segel Ariska sudah jebol, atau akan dijebol.
Tak lama kemudian kopi pesanan Iban pun datang dan kami melanjutkan obrolan sekedar untuk mengakrabkan diri sambil menikmati kopi dan rokok masing-masing. Sebetulnya aku tidak betah, dan ingin pemuda ini enyah, tapi aku tidak punya alasan untuk pergi atau membuatnya pergi. Yasudah.. aku terima nasib dengan melayani obrolan pemuda yang ketampanannya berada satu strip di bawahku ini.
“Yank, aku sudah turun, tunggu di pintu keluar ya.” sebuah pesan dari kekasihku masuk.
Kujawab singkat, lalu ujarku pada Iban, “Mereka sudah mendarat. Mau bareng?”
“Bareng aja, Mas.”
Aku pun segera menuju kasir disusul Iban, sesaat kami sedikit saling memaksa untuk saling membayar namun akhirnya aku berhasil mengeluarkan uang duluan.
“Terima kasih, Mas.” ujarnya dan kutanggapi dengan anggukan.
Kami melangkah panjang menuju pintu keluar terminal domestik dan menunggu di sana. Tak sampai sepuluh menit kekasihku muncul sambil menggeret koper kecilnya.
Ia mengenakan pakaian kasual, kaos putih yang dimasukan ke dalam jeans ketat. Pinggulnya nampak ngepres dan menggiurkan, aku bisa melihat ada beberapa pasang mata lelaki yang melirik ke arah kekasihku.
“Sayang.” serunya sambil memanjangkan langkah.
Aku langsung menyambutnya dan mengecup kecua pipinya, kalau tidak banyak orang aku pasti akan langsung memeluk dan mencium bibir merahnya.
“Gimana perjalanannya, sayang?” tanyaku sambil merapikan poninya.
“Baik. Eh… ini… ini Iban, kan?” kekasihku melirik ke arah pemuda itu sambil mengapit lenganku dengan tangan kiri.
“Hai Mbak Poetry. Hehe.. Mbak masih ingat aja.” jawabnya dan mereka pun berjabatan tangan.
“Jemput Ariska.” singkatku.
“Loh Ariska datang hari ini juga?”
“Iya, Mbak.” jawab Iban sedangkan aku mengangguk sambil mengamati paras cantik Tante Puki. Senyumnya langsung mengembang ketika menyadari aku memperhatikannya seperti itu.
“Berarti kami satu pes…”
“Nah itu Ariska.” belum juga Tante Puki menyelesaikan ucapannya, Iban berseru, membuat kami sama-sama menengok.
Nampaklah Ariska muncul dengan tas gendong di punggungnya dan tangannya menjinjing plastik yang sepertinya oleh-oleh.
“Hai, Ris.” Iban melambaikan tangan.
“Ha… Haaai…” suara Ariska mengecil ketika melihat keberadaanku dan Tante Puki.
Iban menyambut gadis itu dan langsung merunduk untuk cipika-cipiki, Ariska nampak risih walaupun tidak menolak.
“Hai Kata… hallo Mbak Poetry.. kita satu pesawat toh?” tanyanya.
“Hihi.. iya. Tahu gitu kita bisa janjian biar bisa duduk bareng.” kekasihku menjawab sambil cipika-cipiki.
“Hai Ris.” aku mengulurkan tangan dengan sedikit kaku, dan ia membalas tak kalah kakunya.
“Jadi kita pulang bareng atau..?” pertanyaan Tante Puki sukses membuat jabat tangan kami terlepas.
“Nggak, yank, Iban bawa mobil sendiri dan mereka baru nyusul kita besok.” aku mendahului.
“Yaah.. sayang deh kita gak bisa bareng.” ujar Tante Puki.
“Bagus donk…” perkataanku membuat Tante Puki dan Ariska menatapku heran, begitu pula dengan Iban.
“Aku kangen.” sengaja aku mengucapkannya cukup keras agar terdengar oleh Ariska.
“Sayang..!!” Tante Puki bersikap manja dan melingkarkan tangan kirinya pada pinggangku, sedangkan wajah Ariska langsung memerah seketika.
Iban hanya tersenyum sambil mengambil tas punggung Ariska. Gadis itu hendak menolak namun pemudanya memaksa.
“Kamu datang kok gak bilang-bilang, Ris? Kirain baru besok lusa datangnya,” tanyaku.
“Bukan urusanmu. Eh.. maaf.. maaf…” Ariska seperti merasa bersalah karena jawaban ketusnya dan langsung meralat, “Aku ada urusan dulu di Semarang.”
“Oh gitu.” singkatku. Kamu parkir di mana, Ban?”
“Dekat kok, Mas, tuh…” aku mengikuti arah tangannya, rupanya mobil kami bersisian.
Kuambil koper Tante Puki sedangkan tangan kiri kupakai untuk menggandengnya. Kami berempat sama-sama melangkah menuju parkiran. Dari sudut mataku kulihat Iban juga meraih tangan Ariska namun gadis itu menepisnya. Wajahnya langsung cemberut.
Obrolan kami sangat singkat mengingat posisi mobil yang tidak terlalu jauh, dan setelah memasukan koper ke dalam bagasi kami pun kembali berpamitan dan berjabat tangan. Tak hentinya aku memamerkan kemesraan, membuat Iban iri, namun ia selalu ditolak Ariska ketika pemuda itu ingin menyentuhnya.
“Daah.” ujar Tante Puki sambil naik ke atas mobil, sedangkan aku melambaikan tangan.
Kunyalakan mesin mobil tanpa memundurkannya, kutatap lekat wajah kekasihku. Tante Puki sedikit tersipu sambil memeletkan lidahnya, ia seakan tahu akan apa yang sedang kurasakan.
Aku menatapnya lekat sambil tersenyum, dan tidak perlu menunggu komando, kami langsung berpelukan erat. Kucium kepalanya sambil menghirup aroma rambutnya yang wangi.
“Kangen.” manjanya sambil mengangkat wajah.
Kutatap matanya sambil mendekatkan wajah, nafas kami beradu. Kami saling mengecup beberapa detik, dan saling melumat selanjutnya. Rasa rindu tiga bulan tidak bertemu kami tumpahkan dalam pelukan dan ciuman yang hangat.
“Mmmh.. udah ah. Nanti pengen hihi…” lenguhnya sambil melepaskan bibir, tangannya langsung mengusapi rahangku.
“Kalo iya gimana?” godaku.
“Enzo aah.. ayo jalan.” ia menepuk-nepuk pipiku gemas.
Sekali lagi aku mencium bibirnya, lalu memasang safetybelt. Kumundurkan mobil lalu pindah persneling melaju perlahan. Aku sedikit heran karena ternyata mobil Iban belum keluar parkiran, samar-samar kulihat Ariska sedang memperhatikan kami berdua sambil mematung di tempat duduknya, sedangkan Iban nampak terus berbicara tanpa gadis itu tanggapi.
Tante Puki menyandarkan kepalanya pada bahuku, payudaranya nampak membusung terbelah oleh safetybelt. Tidak ada kata yang kami ucapkan sampai aku membayar parkir dan melaju di jalan raya.
“Kita beli oleh-oleh dulu, ya. Yaning pesen lumpia dan bandeng presto,” ujarku.
Ia tidak menjawab, tapi bibir basahnya mengecup pipiku. Kupindahkan tangan kiriku memeluk bahunya.
Akhirnya kami pun ngobrol ringan sambil saling memberi sentuhan-sentuhan kecil. Aku suka lampu merah, karena pada saat itu kami bisa saling berciuman. T-shirtnya yang semula ia masukan ke dalam jeans sudah keluar karena aku senang memeluknya sambil menyentuh kulit perutnya yang halus.
Cerita-cerita seputar kehidupan kami dalam tiga bulan belakangan saling kami kisahkan, terutama ia banyak bertanya tentang persiapan Angkringan NeNeN.
Jam setengah tujuh sore kami baru meninggalkan Semarang setelah sebelumnya mengisi perut dulu di sebuah angkringan di sekitar Simpang Lima. Aku sebetulnya ingin menikmati kebersamaan berdua, namun lagi-lagi aku tertimpa sial. Ariska dan Iban juga makan di tempat yang sama dan pada jam yang sama, membuat suasana makan sedikit awkward.
Yasudahlah itu tadi, kini aku sudah kembali berdua dengan kekasihku, mendengarkan musik klasik sambil menyusuri jalur Pantura.
“Nanti aku tidur di mana?” tanya kekasihku sambil menatapku mesra.
“Di kamar tamu.”
“Yaaaah…” ia kecewa.
“Kalau malam kan aku bisa pindah kamar, atau kamu yang pindah.”
“Mauuuuu!!” ia bersikap tak ubahnya dengan gadis perawan, membuat aku semakin sayang.
Hadiah pelukan erat pun kuterima, walau aku tidak bisa membalas dengan leluasa karena harus fokus nyetir.
“Kok persenelingnya ada dua, yank?”
“Yang satu kamu yang ngendarai donk, yank.”
“Boleh?”
“Iyah.”
Aku menggelinjang ketika tangannya mengelus selangkanganku, dan kemudian menurunkan seletingku.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar