BAB 13
Aku duduk di depan laptop sambil memeriksa laporan tahunan perusahaan yang dikirim oleh Tante Puki dan Ndul. Di hadapanku jendela kamar terbuka lebar agar aku bisa melihat ke halaman belakang dimana para tukang sedang bekerja.
Sudah tiga bulan aku berada di kota ini, dan kini proses renovasi bangunan di belakang rumah sudah setengah jalan, tinggal memasang furniture dan membangun kolam ikan di tengahnya. Aku selalu suka ikan.
Ijin sudah kudapatkan atas bantuan Lurah Cintung yang baik hati. Di balik sikap mesumnya, ternyata ia adalah orang yang sangat asik dan penuh canda, aku juga sudah akrab dengan istrinya.
“Masuk.” ujarku ketika terdengar ketukan pada pintu.
“Ibu ganggu gak, nak?” Bu Ningnung sudah berdiri di ambang pintu.
“Nggak kok, Bu, silakan masuk.” aku berdiri dan menggeser sebuah kursi untuk wanita itu.
“Ada apa, Bu?” ujarku sambil melirik gundukan payudaranya, nampak meremang putih di balik kebaya biru yang ia kenakan.
“Ini.. ibu mau menyampaikan daftar pemasok menu angkringan termasuk menu masakan yang mereka sanggupi.” Bu Ningnung tersenyum sambil duduk di hadapanku.
Kuterima kertas yang ia sodorkan dan mengamatinya sepintas. “Prinsipnya aku setuju saja, Bu, aku sangat percaya ke ibu.”
“Tapi ibu jangan terlalu banyak memasaklah, ibu kan nanti yang mengelola. Nanti ibu di bagian kasir aja.” ujarku lagi sambil mengamati daftar menu yang akan ia buat.
Kutatap wajahnya yang sedang tersenyum simpul, parasnya cantik khas wanita setengah baya. Gurat kedewasaan yang ia miliki membuat Bu Ningnung terlihat begitu matang dan memiliki pesona.
“Tapi kan angkringan hanya buka sore, Nak, jadi ibu bisa masak dari pagi sampai siang.” ujarnya.
“Iya tapi ibu jangan capek-capek.” tukasku lembut.
“Jadi gimana?” Bu Ningnung bingung sendiri.
“Gini, ya Bu,” kuraih kedua tangannya dan kugenggam, aku melancarkan sedikit modus agar bisa menyentuhnya. “Ibu menyediakan beberapa jenis nasi aja, dan saya maunya jangan dibungkus daun pisang, tapi daun jati. Itu pun ibu bisa minta bantuan Bu Lurah, jadi ibu tidak harus membuatnya sendiri. Lagian kalau setiap hari Bu Lurah ada si sini, Pak Cintung tidak akan berani macam-macam lagi. Hehehe…”
Ibu Ningnung terkekeh mendengar kalimat terakhirku, entah ia sadar atau tidak, ia membalas remasan tanganku.
“Jadi…” Ujarku lagi, “Sate kerang, sate ayam, pepes teri, dan pepes jamur biar orang lain saja yang menyediakan.”
“Tapi, nak…
“Udah ibu tidak usah sungkan. Anggap saja ini usaha kita, usaha ibu juga, jadi jangan pernah merasa tidak enak hati seperti ini. Rumah ini juga adalah rumah kita.” aku memotong.
Bu Ningnung menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ingin aku mengusapnya dan bahkan memeluknya, tapi aku takut dianggap kurang ajar. Kesepianku karena jauh dari Tante Puki membuatku begitu merasa nyaman berada di dekat Bu Ningnung.
“Ibu jangan sedih, pokoknya aku memercayakan semuanya ini pada ibu dan Yaning.” mendengarnya Bu Ningnung pun berusaha tersenyum sambil mengusap air matanya.
“Makasih, ya Nak,” lirihnya pelan. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa.
Sejenak kami hanya saling diam berhadapan, kuamati wajahnya dengan tatapan lembut, sambil merasakan desiran-desiran halus di dalam dadaku.
“Yaudah kalau begitu ibu akan mencari orang yang sanggup menyediakan menu-menu yang ibu batalkan. Ibu permisi dulu.” ujarnya.
“Ibu mau ke mana?”
“Mau ke Rumah Abang, ada orang yang mau membantu membuka kedai batik di angkringan kita nanti.”
“Aku ikut, ya Bu.”
“Ya ayo saja.
“Sebentar, ya Bu, saya bereskan pekerjaan saya dulu. Lima belas menit lagi.”
Bu Ningnung pun mengangguk sambil berdiri, entah sadar atau tidak ia mengusap pipiku sebagai ungkapan terima kasihnya. Ingin rasanya aku memeluknya, tapi kueratkan kepalan tangan untuk menahan diri.
Sepeninggalan Bu Ningnung, kuselesaikan pekerjaanku dan kukirim email balasan kepada Ndul dengan beberapa catatannya. Tak lupa aku pun berbalas WA dengan Tante Puki, bahkan ia mengirim foto selfienya, ia sedang duduk di balik meja kerjanya.
Setelah merasa cukup, aku pun meraih kunci mobil dan keluar kamar, Bu Ningnung sudah menunggu, kali ini ia menutup bagian atas dadanya dengan selendang.
“Mari, Bu.”
Kami pun keluar rumah dan tak lupa Bu Ningnung mengunci pintu, para pekerja masih bisa keluar-masuk melalui jalan di samping rumah. Antara rumahku dan pagar tembok yang berbatasan dengan rumah Lurah Cintung terdapat jalan yang nantinya akan menjadi akses menuju angkringan, sedangkan halaman depan akan dijadikan lahan parkir.
Tak perlu kuceritakan tentang perjalanan dan perjumpaan kami dengan Mbok Saritem yang menyanggupi untuk membatik di angkringan kami dari jam 18.00-20.27. Yang jelas aku dan Bu Ningnung banyak berbincang tentang kehidupan masing-masing, dan ia banyak bertanya tentang latar belakangku, dan juga hubunganku dengan Tante Puki, yang ia kenal sebagai Poetry.
“Yaning pulang jam berapa, Bu?” tanyaku sambil membelokan mobil keluar dari parkiran Rumah Abang.
“Katanya sih pulang sore, ia ada kuliah jam tiga.” jawabnya sambil mengusap pelipisnya yang berkeringat. Cuaca di luar memang cukup panas.
“Kalau gitu kita makan di luar aja, ya bu, aku ingin makan Lontong Tuyuhan.” ujarku.
“Loh kenapa gak bilang aja ke ibu, ibu juga kan bisa memasak untuk Nak Kata.”
“Sekali-kali lah kita makan di luar.” gumamku sambil mengarahkan kendaraan menuju sebuah kedai yang cukup terkenal di jalur Pantura.
“Mendingan jangan yang di Pantura, deh Nak. Di sana rame, mendingan yang di deket Karang Jahe aja, gak kalah enak kok, menurut ibu malah lebih enak yang di sana.”
“Oh ada toh, Bu? Yaudah kita ke sana aja kalau begitu.” aku pun membelokan kendaraan sesuai arahan Bu Ningnung.
Tempat yang ia maksud memang cukup sederhana namun terlihat asri. Lebih menarik lagi karena para pengunjung bukan hanya bisa makan di dalam warung, tetapi juga bisa lesehan di bawah pohon-pohon rindang.
“Kita duduk lesehan aja, Bu.” ujarku sambil menjejeri langkahnya.
Bu Ningnung pun mengangguk, kami memasuki warung sebentar untuk pesan dua porsi Lontong Tuyuhan, lalu berjalan menuju sebuah hamparan tikar paling ujung. Waktu masih menunjukan jam sebelas siang, sehingga belum banyak pengunjung yang datang.
Bu Ningnung mendahuluiku duduk sedangkan aku tetap berdiri untuk menikmati keindahan alam dan segarnya sepoi angin. Samar-samar terdengar hablur ombak di kejauhan. Aku berdecak kagum sambil berulang kali berterima kasih karena Bu Ningnung sudah mengajakku ke sebuah tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya.
Aku baru duduk setelah pesanan kami datang. Sengaja aku memilih duduk berhadapan agar selain bisa menikmati menu lontong, aku juga bisa memandang paras cantik Bu Ningnung. Benar saja, aku bisa melihat betisnya yang kuning langsat dan juga leher jenjang serta bayangan belahan payudaranya. Sedangkan selendangnya ia tumpangkan di atas pangkuan. Rambutnya digelung, sedangkan helaian rambut pada kening dan pelipisnya bergoyang karena hembusan angin.
“Selamat makan, nak.” ujarnya.
“Selamat makan, bu.”
Kami berdua makan tanpa banyak bicara, dan aku pun menikmati makanan khas kota ini dengan lahap. Sebetulnya makan lontong kuah seperti ini sudah biasa bagiku, namun Lontong Tuyuhan memang beda dan memiliki citarasa yang berbeda. Irisan lontong disiram oleh kuah opor ayam kampung. Hasilnya, mantap betul. Entah bagaimana caranya, ayam kampung yang biasanya cenderung alot, di sajian Lontong Tuyuhan ini terasa begitu empuk. Kuahnya pun gurih dan sedap. Mulutku seakan orgasme karena rasa nikmatnya.
“Neng Poetry kapan ke sini lagi?” akhirnya Bu Ningnung memecah kesunyian sambil menyeruput teh hangat.
“Dia masih sibuk, Bu, mungkin nanti saja pas pembukaan angkringan.” aku menjawab walaupun sebenarnya aku sendiri tidak yakin ia bisa datang karena pekerjaannya sedang numpuk. Ia bukan hanya mengerjakan tugasnya, melainkan juga harus menggantikan peranku yang kutinggalkan.
“Oh gitu. Tidak apa-apa yang penting saling setia.” jawab Bu Ningnung sambil tersenyum.
“Berat, Bu.” kekehku.
“Maksud Nak Kata berat untuk setia atau..?” Bu Ningnung mengerutkan kening.
“Hehehe.. berat menahan rasa rindu.”
“Hehehe… dasar anak muda.”
Kami pun sama-sama terkekeh. Pikiranku sejenak melayang memikirkan Tante Puki. Aku mencintainya, aku menyayanginya, tapi tetap saja rasa sayang ini selalu beradu dengan rasa sakit karena ia sudah ada yang memiliki.
“Hayo beneran kangen Poetry ya? Kok diam?” Bu Ningnung menggodaku.
“Hehehe… kangen sih iyah.. tapi…” aku menggantung ucapanku sambil menyulut sebatang rokok.
“…” Bu Ningnung menunggu penuh penasaran, ekspresinya membuatku merasa gemas dan ingin mencium bibirnya. Hadoooh… nih otak kenapa sih.
“Aku juga ragu, Bu.”
“Heh? Ragu kenapa? Kan kalian saling menyayangi, lagian ibu lihat kalau Poetry itu gadis yang baik.”
Aku tersenyum saat mendengar Bu Ningnung memanggil kekasihku “gadis”, berarti memang Tante Puki terlihat awet muda. Namun jauh di dalam lubuk hatiku aku merasa bimbang, apakah aku harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Aku butuh teman untuk berkeluh-kesah, tapi rasanya tidak bijaksana juga kalau mengakui bahwa Tante Puki adalah tanteku sendiri, apalagi mengatakan dengan jujur bahwa ia sudah bersuami.
“Poetry dijodohkan orangtuanya, Bu.” akhirnya aku berbohong.
Wanita di hadapanku itu terbelalak sambil menutup mulutnya, ia sampai lupa bahwa lipatan kainnya tersibak angin sehingga pahanya terpamer walau sepintas.
Aku menunduk sambil menelan liur. Perasaan, pikiran, dan mata tidak sinkron. Perasaanku milik Tante Puki, pikiranku mengatakan untuk berhenti mengharapkannya, sedangkan mataku tergoda oleh kesintalan wanita di hadapanku. Ada satu lagi.. isi celana dalamku bergerak-gerak. Bangke… aku merasa tersiksa.
“Maaf, ibu…” adalah sikap prihatin Bu Ningnung yang membuatku kembali fokus.
“Sudah, ya Bu, saya sedang tidak ingin membahasnya sekarang, aku ingin fokus dulu pada usaha kita. Nanti kapan-kapan saya ceritakan.” aku memelas sambil berusaha tersenyum.
“Tapi Nak Kata tidak apa-apa, kan?” tanya polosnya.
“Ya apa-apa lah, Bu, tapi ya mau gimana lagi.” jawabku sambil terkekeh. Beda dengan Bu Ningnung yang malah nampak sedih.
Aku menghela nafas panjang dan berusaha mengalihkan obrolan tentang kesukaanku pada kota ini. Sebuah kota yang banyak menyimpan kisah sejarah dengan bangunan-bangunan tuanya. Bahkan ada beberapa rumah-rumah kuno yang masih dipertahankan sejak abad ke-14.
Bu Ningnung pun sepertinya mengerti, dan ia tidak mau membahas lebih lanjut. Wanita itu seperti berusaha menghiburku dengan mengisahkan beberapa cerita menarik berkaitan dengan kota ini, juga dengan beberapa makanan khasnya. Akhirnya Bu Ningnung pun terbawa nostalgia dengan menceritakan beberapa pengalaman hidupnya. Ia memang tidak lahir di kota kecamatan ini, melainkan di kota kabupaten, tapi ia sudah menghabiskan separuh hidupnya di sini.
“Ibu tidak kepikiran untuk mencari pengganti bapak?” aku akhirnya mengungkapkan rasa penasaran yang selama ini kutahan-tahan. Rasanya tidak mungkin kalau tidak ada pria yang tidak tertarik pada paras cantik Bu Ningnung, seperti yang dilakukan Lurah Cintung yang selalu menyambanginya hampir setiap hari.
“Loh kok jadi ke situ nanyanya?” Bu Ningnung terkekeh.
“Ya pengen tahu aja, Bu.” aku nyengir sambil garuk-garuk kepala.
“Nak Kata ini.” hanya itu yang ia katakan namun ekspresinya seolah gemas karena pertanyaanku tadi.
“Jadi?” aku menatapnya sambil memamerkan barisan gigi.
“Ya nggaklah.. malu ama Yaning, lagian ibu kan udah tua.” jawabannya disambung tawa renyah sambil mengubah posisi duduknya. Lumayan.. aku bisa kembali melihat paha putihnya walau hanya sepintas.
“Malu ama Yaning, ya Bu? Berarti aslinya ibu masih mau?” Pertanyaanku sukses ditanggapi cubitannya pada lenganku. Aku meringis walau dalam hati aku menyukainya.
“Udah ah gak usah dibahas lagi!” ia memasang wajah cemberut. Kini gantian ia yang mengalihkan pembicaraan dan tidak mau membahasnya.
“Ibu mah gitu,” aku pura-pura protes.
“Udah ah ibu gak mau bahas, ibu sudah cukup menanggung rasa sakit karena laki-laki.” ujarnya, kali ini ia terdengar serius.
Aku memang sudah tahu kalau ternyata (alm) suaminya adalah seorang pria yang sangat keras dan sering menindas Bu Ningnung. Konon ia juga memiliki istri simpanan.
“Iya Bu, laki-laki memang begitu, makanya aku tidak suka laki-laki.” candaanku sukses membuat Bu Ningnung tertawa sambil memukuli pahaku. Sesaat kami pun saling tertawa, dan kutangkap tangannya seolah ingin menghentikan pukulannya, padahal aslinya karena memang aku ingin menyentuhnya.
“Bu, ada yang mau kutanyakan, tapi kita ngobrolnya sambil jalan aja.” ujarku setelah tawa kami reda.
“Mau ngobrolin apa?”
Aku berdiri tanpa menjawab. Kutarik tangannya untuk berdiri pula, lumayan aku dapat pemandangan belahan payudaranya yang menyembul. Bahkan kami nyaris berpelukan ketika ia terhuyung, sayangnya ia menahan berat tubuhnya dengan menekan dadaku dengan telapak tangan kirinya.
Aku pun melangkah ke dalam warung untuk membayar makanan, lalu kembali kepada Bu Ningnung. Kami berjalan bersisian menyusuri jalan di antara rindangnya pepohonan.
“Ibu sudah berapa lama tinggal di rumah yang sekarang kita tempati?” aku memulai percakapan.
“Hmm.. berapa yah? Sejak ibu lulus SMA.” jawabnya sambil melirik ke arahku.
“Kenapa?”
“Pengen tahu aja sih, Bu. Berarti rumah itu bukan dibangun oleh orangtua ibu ya?”
“Bukan. Sebelumnya kami tinggal di kota kabupaten, lalu entah kenapa bapak dan ibu membeli rumah itu dan pindah ke sini. Nak Kata bisa lihat sendiri kalau bangunannya sudah tua, jadi sudah ada pemilik sebelumnya, bahkan mungkin dua generasi sebelum orangtua ibu.”
“Pemilik sebelumnya siapa, Bu?”
“Nah kalau itu ibu tidak tahu, karena waktu proses jual beli, ibu masih sekolah di kota kabupaten, dan baru ikut pindah setelah ibu lulus. Jadi ibu baru ikut pindah ke sini dua setengah tahun kemudian. Sedangkan orangtua dan ketiga kakak ibu sih sudah menempatinya sejak dibeli.”
“Memangnya kenapa, nak?”
Aku menarik nafas panjang sambil membelokan langkah menyusuri trotoar di antara bangunan-bangunan tua yang sepertinya bekas gudang.
“Aku akan menceritakan semuanya, Bu, tapi aku harap ibu bisa merahasiakannya untuk sementara waktu. Yaning dan Ariska jangan tahu.”
“Iya, ibu janji, tapi memangnya ada masalah apa?”
“Sebenarnya… sebenarnya.. aku datang ke sini untuk mencari jejak orangtua saya, Bu.”
“Hah? Eh.. maaf…” Bu Ningnung menghentikan langkahnya dan menatapku setengah kaget.
“Iya, Bu. Aku mencari orangtuaku.”
Kami melanjutkan langkah sambil saling diam selama beberapa saat. Setibanya di ujung jalan kuputuskan untuk duduk di kursi taman. Kami berdua bersisian di atas kursi panjang.
Kuceritakan riwayat hidupku bahwa aku lahir di dalam rumah itu atas bantuan seorang bidan desa. Anak tunggal dari suami ibuku dan dari istri ayahku. Namun sejak aku usia delapan tahun mereka meninggalkanku tanpa pesan, dan aku dibawa pindah ke Bandung oleh (alm) orangtua Tante Pupuh Kinanti alias Tante Puki. Namun ketika aku berumur sembilan tahun ayahnya Tante Puki meninggal, dan disusul istrinya tujuh bulan kemudian. Maka sejak itu aku dirawat dan dibesarkan oleh Tante Puki, seorang wanita yang baru kukenal saat di Bandung.
“Ibu sangat menyesal mendengarnya, Nak.” raut wajah Bu Ningnung berubah muram. Ia nampak sedih mendengar ceritaku. “Jadi itu yang menjadi alasan kenapa Neng Pupuh dan Nak Kata membeli rumah kami?”
Aku mengangguk pelan sambil membuang pandangan ke arah jalanan yang cukup lengang.
“Ibu juga mohon maaf karena tidak bisa memberi Nak Kata informasi, ibu benar-benar tidak tahu tentang pemilik rumah itu sebelumnya. Mungkin yang tahu adalah kakak pertama ibu, orangtuanya Ariska. Sejak menikah ia sudah tinggal di sini, dan tinggal di rumah yang sekarang sudah jadi kantor lurah. Mereka pindah ke rumah itu sejak dibeli oleh orangtua kami.”
Bu Ningnung tidak berbohong, aku masih ingat bahwa Ariska dan orangtuanya memang tinggal di situ. Tapi aku tidak sempat mengenal Bu Ningnung dan kedua orangtuanya.
“Mau ibu bantu menanyakan ke kakak ibu?” ujar Bu Ningnung dengan muka masih muram.
“Kalau ibu bisa bantu aku akan sangat berterima kasih, Bu, tapi sekali lagi aku tidak mau kalau Ariska tahu dulu tentang hal ini.”
Anggukan Bu Ningnung membuatku sedikit lega. Bukan apa-apa, sudah lama aku mencurigai peran kedua orangtua Ariska. Aku menduga bahwa merekalah yang membuat kedua orangtuaku menghilang. Itulah sebabnya aku juga belum mau membuka identitasku sebagai Enzo pada gadis itu.
Entah kenapa mataku tiba-tiba panas, dan tanpa kumaui air mataku berlinang. Melihatku seperti ini, Bu Ningnung langsung memelukku tanpa kata. Ia seolah turut merasakan kesedihanku. Dalam keadaan normal aku akan sangat suka mendapat perlakuan dan pelukannya, namun tidak kali ini, mesumku pudar.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar