BAB 12
Siang ini cukup cerah, dan cuaca panas musim kemarau membuat tubuh ini mudah lengket karena keringat. Hal ini membuat kami lebih betah tinggal di kamar hotel daripada jalan-jalan untuk menikmati kota kecil ini.
Aku duduk di atas sofa dalam keadaan telanjang, dan kekasihku menyembunyikan kepalanya di atas dadaku sambil berlinang air mata. Ia pun sama tanpa busana. Dekapannya teramat erat. Tidak ada yang suka namanya perpisahan, walau itu hanya untuk sesaat, dan kini kami berdua sedang berada dalam situasi yang tidak mengenakan itu.
“Kalau kita mau, kita bisa bertemu setiap minggu. Kamu yang ke sini, atau aku yang ke Bandung.” ujarku sambil mengusapi rambutnya yang halus. Aku dan Tante Puki sudah mulai terbiasa saling memanggil “aku-kamu”.
“Aku juga maunya begitu, tapi aku tidak mau nantinya malah merusak rencanamu.” lirihnya sambil mendekap semakin erat.
Aku hanya diam. Sebuah alasan yang sudah sering ia sampaikan, dan untuk hal ini umur memang tidak bisa bohong, ia jauh lebih bijaksana.
“Tapi, sayang…”
“Kamu selesaikan urusanmu di sini, dan aku akan mengurus yang di sana. Ingat.. aku sangat menyayangimu, jaga diri kamu demi aku.” potongnya sambil mendongak.
Kutatap bola matanya yang berair. Hatiku seakan teriris melihat sorot sendu dan sedih itu. Kukecup keningnya dan kutempelkan bibirku cukup lama.
Usai saling mencurahkan isi hati dan berbagi rasa sayang, perjumpaan kami diakhiri dengan sebuah lumatan panjang. Saling menumpahkan semua perasaan dalam cumbuan hangat dan menggetarkan.
“Udah yuk.” aku tidak mau kebablasan dan mengulang percintaan yang entah sudah berapa kali kami lakukan. Waktunya sudah semakin mepet.
Tante Puki mengangguk lemah dan turun dari pangkuanku. Tapi ia hanya mematung, ia seperti malas berpakaian. Sebetulnya tubuh telanjangnya begitu menggiurkan, tapi lagi-lagi aku menahan diri. Semesum-mesumnya diriku, aku masih punya prioritas dan tahu apa yang harus segera kulakukan.
Kumanjakan wanitaku dengan mengenakan bra hitamnya. Aku menelan liur sambil membungkus gundukan sekalnya, lalu mengaitkan kancing pada bagian belakang tubuhnya. Tante Puki berubah manja, ia hanya menunggu apa yang kulakukan. Kutahu putingnya sedikit menegang, seperti juga penisku yang menggeliat kembali, tapi kami sudah tidak punya banyak waktu. Lagi pula masa tiap update ada adegan SS-nya, bisa kentang tuh sang penulis.
Usai memasangkan bra, kuraih celana dalam mini yang berwarna sama dengan pembungkus payudaranya. Aku berjongkok membuat selangkangannya tepat berada di depan wajahku. Kedua bibir vaginanya nampak tebal dan rapat, bermahkotakan bulu kemaluan yang tercukur rapi.
Kukecup vagina itu membuat Tante Puki sedikit menggelinjang. Ia mengangkat kaki kirinya dan kumasukan celananya, pun pula pada kaki kanan kemudian. Perlahan kunaikan celana dalam Tante Puki sambil menikmati keindahan betis, paha, dan pusat kewanitaannya. Kulakukan secara perlahan. Dan aku menghela nafas ketika akhirnya kemaluannya terbungkus. Entah kapan lagi aku bisa melihat dan menikmatinya.
“Bajunya.” lirihku sambil berdiri.
“Pakein.” rengeknya manja.
Kukecup bibirnya gemas lalu kuraih dress terusan yang terlipat di atas kasur. Kupakaikan melalui atas sampai akhirnya menjuntai ke bawah sampai lutut. Aku kembali menghembuskan nafas. Kini tubuh Tante Puki sudah kembali tertutp. Kutarik risleting belakangnya, lalu kubimbing menuju meja rias.
Kali ini Tante Puki yang memulas wajahnya sedangkan aku memeluk dari belakang sambil menatap paras cantiknya yang terpantul melalui cermin. Sekali-kali kukecup pipinya membuat aktivitasnya terhenti, bahkan lipstiksnya seringkali gagal karena ia selalu minta dicium pada bagian itu.
Butuh setengah jam sendiri bagi Tante Puki untuk berdandan dan memoles diri, dan diakhiri dengan pelukan erat.
“Udah yuk.” ujarku sambil memberikan kecupan terakhir pada keningnya.
Aku menuntunnya keluar kamar hotel sambil menarik koper kecilnya. Setelah check out pada bagian resepsionis kami pun meninggalkan hotel dengan menggunakan mobilku. Aku akan akan mengantarnya ke travel jurusan Semarang. Ia bahkan tidak mau aku antar sampai ke kota itu, dengan alasan semakin lama kami bersama, semakin berat baginya untuk berpisah.
Dan tidak butuh waktu lama untuk mengantarnya, mengingat jarak antara hotel dengan travel tidaklah jauh. Setelah diliputi haru-biru perasaan, akhirnya kami pun berpisah, kuhantar kepergiannya dengan rasa kosong, ada bagian di dalam hati yang dibawanya pergi. Aku tidak langsung pulang, melainkan menuju pantai tempat kami bermesra dan bergumul rindu.
Aku sedang ingin menyendiri.. sungguh-sungguh sendiri.. dan hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Aku tahu… aku sungguh merasa lemah tanpa kehadiran wanita itu. Kini, aku sudah merindukan kembali Tante Puki yang bahkan belum sampai di tempat tujuannya.
https://t.me/cerita_dewasaa
Aku tiba di rumah senja hari. Nampak hidangan sudah tersaji di meja makan.
“Makan dulu, mas.” sambut Yaning yang sedangkan menyiapkan piring.
“Aku mandi dulu deh.” ujarku, moodku sangatlah jelek sepeninggalan Tante Puki.
“Iiih.. nanti aja mandinya, makan dulu. Entar aku dimarahi Mbak Poetry looh.. Mbak Poetry nitipin mas ke aku.” bawelnya sambil menarik lenganku supaya duduk.
Kemarin aku dan Tante Puki memang sampai sore di rumah sehingga mereka sempat berkenalan dan bahkan nampak langsung akrab. Untung Lurah Cintung sempat diseret istrinya jadi kebersamaan kami tidak terganggu.
Aku duduk sambil menghela nafas, selera makanku hilang. “Ibu mana?” tanyaku saat tidak melihat kehadiran Bu Ningnung.
“Ibu lagi ke tetangga bareng Mbak Riska.” jawab Yaning sambil tersenyum dan duduk di sampingku.
Aku mengernyit mendengarnya, jadi Ariska belum kembali ke Bandung? Sejak perkenalan di lobi hotel kemarin, aku memang belum bertemu gadis itu lagi. Ia benar-benar tidak pulang sampai sore, dan malamnya aku kembali menginap di hotel.
“Kemarin Ariska tidur di rumah atau di mana?” aku penasaran.
“Mbak Riska pulang kok, jam dua belasan malam kayaknya.” jawab Yaning lagi.
Obrolan terhenti ketika orang yang kami bicarakan datang bersama Bu Ningnung.
“Oh Nak Kata sudah pulang, maaf ya kami kelamaan di tetangga. Ayo mulai saja makannya.” Bu Ningnung menyapa, seperti biasa ramah dan ramai. Sedangkan Ariska hanya diam, sikap juteknya kembali tergambar ketika melihatku.
“Mari, Bu, sekalian.” balasku.
Dan kami pun makan berempat. Hanya Bu Ningnung dan Yaning yang ramai dan mendominasi percakapan, sedangkan aku hanya menyahut sekali-kali. Ariska malah tidak berbicara sama sekali. Apa peduliku.. jangankan mengajaknya berbicara, selera makanku pun sebetulnya hilang karena aku masih merindukan Tante Puki.
Bu Ningnung juga tidak ikut urus campur, ia seperti sedang memahami perasaanku, ia malah seolah tidak enak hati karena sikap jutek keponakannya itu. Hanya Yaning yang sedikit kurang peka, tak jarang ia menggodaku dan kakak sepupunya itu. Bahkan ia pun selalu bercerita tentang Tante Puki, membuat wajah jutek Ariska semakin kusut dan menyeramkan. Mungkin hanya kalau bibirnya dilumat yang bisa merubah kembali menjadi ramah. Eh..!!!
Usai makan aku langsung masuk kamar dan membersihkan diri, sedangkan kaum perempuan membereskan meja makan. Setelah segar, kubaringkan diriku di atas kasur dan kubalas pesan serta email-email penting dari Ndul. Aku tidak bisa menelpon Tante Puki ketika mendapat kabar yang sangat tidak mengenakan: “Suamiku pulang, untung aku tiba di rumah sebelum ia datang.”
Aku terbakar cemburu, dan merasa sangat marah pada keadaan, aku terlalu menyayangi wanita itu, tapi aku tidak bisa memilikinya seutuhnya. Moodku semakin buruk.
Kulempar smartphoneku di atas kasur, lali beranjak keluar kamar. Aku ingin menyendiri dan merokok. Keadaan rumah nampak sepi, para penghuni nampak sedang berada di dalam kamar masing-masing.
Aku langsung menuju tempat favorit, yaitu serambi belakang. Kusulut rokokku, terasa hambar, tapi terus kuhisap tanpa bisa kunikmati. Pada sulutan batang ketiga, Ariska datang. Kali ini ia sudah berganti pakaian dengan hanya mengenakan celana jeans setengah lutut dan kaos berkerah longgar. Sebetulnya ia terlihat sangat cantik, namun aku sedang benar-benar kehilangan selera. Bahkan aku tetap diam ketika ia duduk di kursi yang lain. Kami hanya saling berdiam diri.
“Ka, boleh aku ngomong?” Ariska sepertinya mulai tidak betah berada dalam situasi seperti ini.
“Hmmm.” gumamku tanpa berpaling.
“Ka?”
“Iyah?”
“Boleh gak?”
“Ya ngomong aja!”
Aku merespon suara datarnya dengan sikap dingin.
“Gadis itu.. eh wanita itu.. bener pacarmu?” suaranya pelan dan terdengar ragu.
“Iyah. Kenapa?” aku masih menerawang tanpa melirik ke arah gadis itu.
“Nggak.”
“…”
Kembali hanya saling diam.
“Sepertinya ia lebih tua umurnya dari kamu yah?” ia memecah keheningan.
“Kalau memang ia lebih tua dariku memangnya kenapa? Masalah buatmu?” aku tidak suka dan akhirnya melirik serta menatapnya tajam.
“Ya biasa aja jawabnya, Ka.” ia jengah.
“…”
Aku sedang tidak ingin ribut. Kuputuskan hanya diam.
Tik tok tik tok.
Kudengar Ariska menghembuskan nafas berat berulang-ulang, seperti sedang membuang beban. Aku sendiri lebih memilih menyalakan rokok keempatku. Pikiranku kembali menerawang, mengingat semua kenangan dalam perjumpaan singkat dengan Tante Puki. Rasa rindu dan cemburu bercampur menjadi satu, marah dan kesal tiba-tiba menyergap begitu menyadari bahwa suaminya ada di rumah.
“Aku rasa perjumpaan kita selalu ditandai dengan hal-hal yang tidak mengenakan, aku minta maaf, Ka.” lirih Ariska sambil menyelonjorkan kaki jenjang dan putihnya.
“…”
“Aku sendiri tidak tahu kenapa bawaannya selalu emosi ketika sedang bersama kamu.”
“…”
“Padahal kalau dipikir-pikir.. kamu tidak melakukan kesalahan apapun padaku; juga pada Bude dan Yaning ketika kamu membeli rumah ini. Tapi aku… shhhh…. nggak tahu deh, Ka, bawaannya kesal melulu.”
“…”
“Besok aku akan pulang ke Bandung, dan aku sangat berterima kasih karena kamu tidak mengusir Bude dan Yaning.”
“…”
“Dan kalau boleh… aku… aku masih punya satu permintaan lagi padamu.”
Aku menoleh ke Arah Ariska yang tiba-tiba berubah lembut. Gadis ini memang sangat angin-anginan. Sering galak dan judes, kadang arogan, tapi tak sedikit bersikap baik dan ramah. Padahal waktu kami sama-sama kecil dulu, apa yang ia miliki hanyalah sikapnya yang baik dan penuh perhatian.
“Apa karena aku mirip Enzo?” aku akhirnya menyahut dan mencoba menerka.
“Mungkin.” singkatnya gamang.
“Apa permintaanmu?” aku mulai melunak dan tidak bersikap dingin lagi.
“Bude sudah cerita kalau kamu dan Mbak Poetry akan buka bisnis angkringan. Aku mohon.. sangat mohon… jangan kamu tebang pohon sawo itu. Pohon itu sangat berarti bagi Enzo. Aku masih berharap, kalau suatu saat kelak ia datang kemari, ia masih bisa melihat pohon sawo itu.”
Ariska menatap kosong pada bayangan hitam dua pohon sawo di seberang halaman belakang. Aku sendiri hanya bisa kembali terdiam. Aku sungguh merasa terharu mendengarnya, dan ada desakan ingin mengaku bahwa akulah Enzo yang ia tunggu dan ia cari-cari.
“Ka?” suaranya terdengar sedih.
“Iyah. Aku janji.” jawabku.
“Makasih… hiks… hiks…” Ariska menangis. Hanya isakan kecil, namun terdengar begitu menyayat hati.
Malam ini langit terlihat begitu gelap, tidak ada kemerlip bintang di sana. Sedangkan angin berhembus cukup kencang, membuat pohon sawo bergoyang-goyang dalam keremangan.
“Sudah jangan sedih. Aku janji akan memenuhi keinginanmu demi Enzomu itu.” ujarku lagi.
Kini perasaanku kian tidak karuan. Setelah sedih karena berpisah dengan Tante Puki, sekarang harus ditambah lagi oleh rasa pedih karena jeritan hati Ariska. Aku merasa terluka.. aku merasa bersalah karena sudah membuatnya menderita dengan membiarkan gadis itu menunggu seseorang yang sebetulnya sedang berada bersamanya, dan itu adalah aku.
“Besok kamu ke Semarang diantar siapa?” tanyaku.
“Diantar Iban.”
“Oh..”
Luka di hatiku semakin bertambah ketika mendengar nama itu. Aku bahkan tidak tahu mengapa bisa begitu. Cintaku untuk siapa sebetulnya?
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar