Langit malam gelap tanpa bintang ketika Rina dan tiga temannya tiba di sebuah villa tua di pinggir hutan. Villa itu sudah lama kosong, dan menurut rumor, ada banyak cerita misterius yang menyelimutinya. Namun, mereka tidak peduli. Liburan ini adalah pelarian dari kesibukan kerja, dan mereka hanya ingin bersantai.
Villa itu memiliki suasana yang aneh. Cat di dinding mulai mengelupas, lantainya berderit saat diinjak, dan bau kayu tua menyeruak di setiap sudut. Tapi pemandangan dari balkon lantai dua sangat indah, menghadap langsung ke lembah yang diselimuti kabut.
Malam pertama berjalan biasa saja. Mereka berbagi cerita seru di ruang tamu sambil menikmati minuman. Namun, sekitar tengah malam, Rina merasa ada yang aneh. Ia mendengar suara langkah kaki di lantai atas, padahal semua sedang bersama di ruang tamu.
"Siapa yang ke atas?" tanya Rina, suaranya sedikit bergetar.
Yang lain saling menatap. Tidak ada yang bergerak. Mereka sepakat memeriksa. Dengan senter di tangan, mereka naik ke lantai dua. Ruangan itu gelap dan kosong. Tapi Rina merasakan sesuatu. Sebuah lemari tua di pojok kamar seperti memanggilnya.
"Kenapa aku merasa lemari ini aneh?" bisiknya.
Dengan ragu, dia membuka pintunya. Di dalamnya hanya ada kain usang, tapi di balik kain itu, dia menemukan sebuah buku tua berdebu. Sampulnya terbuat dari kulit dengan simbol aneh yang tidak dikenalnya. Tanpa berpikir panjang, dia membawanya ke bawah.
Setelah membaca beberapa halaman, mereka menyadari buku itu bukan sembarang buku. Isinya seperti diari seseorang, tetapi juga mengandung mantra-mantra aneh yang tak mereka mengerti. Yang lebih mengerikan, salah satu halaman menyebutkan nama villa ini, seolah ada kaitan langsung dengan tempat mereka berada.
Ketegangan meningkat ketika listrik tiba-tiba padam. Lampu mati, dan satu-satunya cahaya berasal dari ponsel mereka. Suara-suara aneh mulai terdengar: langkah kaki, bisikan lirih, dan pintu yang berderit pelan.
"Kita harus pergi dari sini," ujar Aryo, salah satu teman Rina.
Namun, ketika mereka mencoba membuka pintu depan, pintu itu tidak mau bergerak. Jendela juga terkunci rapat seolah villa itu menahan mereka.
Aryo mencoba menendang pintu, namun sia-sia. "Ini gila," katanya dengan nada frustrasi. "Bagaimana mungkin kita terkunci di dalam rumah seperti ini?"
Rina membuka buku itu lagi, menyalakan senter ponselnya agar bisa membaca lebih jelas. Ada halaman yang terlihat baru dibandingkan dengan halaman lainnya. Di halaman itu tertulis:
"Kunci kebebasan adalah menghadapi ketakutan terdalam. Satu per satu, mereka akan datang untuk menguji."
"Maksudnya apa ini?" tanya Nadya, salah satu teman mereka, yang sudah mulai gemetar.
Sebelum ada yang bisa menjawab, terdengar suara langkah kaki di atas kepala mereka. Kali ini, suara itu lebih berat, seolah ada seseorang—atau sesuatu—yang berjalan di atas lantai kayu dengan sepatu bot.
"Aku nggak mau mati di sini," ujar Nadya panik. Aryo memeluknya, mencoba menenangkannya meskipun dia sendiri ketakutan.
Namun Rina tetap terpaku pada buku itu. Ia merasa ada sesuatu di sana yang memberikan petunjuk. Tangannya gemetar saat membalik halaman berikutnya. Sebuah gambar muncul—lukisan seorang wanita dengan gaun hitam, berdiri di depan villa yang mereka tempati. Di bawah gambar itu tertulis: "Hanya dia yang bisa membuka jalan keluar."
"Siapa wanita ini?" bisik Rina.
Sebelum mereka sempat mencerna informasi itu, pintu ke ruang tamu berderit perlahan. Semua menoleh dengan ngeri. Di sana, di ambang pintu, berdiri seorang wanita bergaun hitam. Rambutnya panjang, menutupi sebagian wajahnya, dan kulitnya pucat seperti bulan.
"Siapa... siapa kamu?" tanya Aryo dengan suara bergetar.
Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah buku di tangan Rina. Perlahan, dia mendekat. Setiap langkahnya membuat udara di ruangan semakin dingin.
Rina, meskipun ketakutan, merasa harus melakukan sesuatu. "Kamu ingin ini?" tanyanya sambil mengangkat buku itu.
Wanita itu mengangguk perlahan. Tapi ketika Rina mencoba menyerahkan buku itu, Nadya tiba-tiba berteriak, "Jangan! Itu bisa jadi jebakan!"
Ketegangan memuncak. Apakah mereka harus mempercayai wanita itu? Ataukah ada rahasia lain yang belum mereka pahami?
"Rina, jangan!" teriak Aryo lagi, tapi wanita itu kini hanya berjarak beberapa langkah dari mereka. Tiba-tiba, dia mengangkat tangannya, dan pintu-pintu villa itu menutup dengan keras.
Rina tahu bahwa keputusan ada di tangannya. Dengan jantung berdegup kencang, dia membuka halaman terakhir buku itu. Tulisan di halaman itu muncul perlahan, seperti tinta yang baru dituangkan:
"Korbankan satu untuk menyelamatkan semua."
Wajah Rina memucat. "Apa maksudnya?" bisiknya.
Wanita itu mendekat lagi, kini hanya satu langkah darinya. Dia menunjuk Nadya, lalu buku itu, seolah memberi tahu apa yang harus dilakukan.
"Apa dia... ingin salah satu dari kita?" Nadya mundur, menangis histeris. Aryo berdiri di depannya, melindunginya.
Mereka kini berada di persimpangan pilihan. Menyerahkan Nadya, melawan wanita itu, atau mencoba menemukan cara lain? Setiap detik terasa seperti satu abad.
Rina menggenggam buku itu erat-erat, sementara wanita bergaun hitam berdiri diam di depannya. Wajahnya samar-samar terlihat, tetapi ada sesuatu yang membuat Rina yakin bahwa ini bukan sekadar sosok hantu. Ada niat tersembunyi di balik tatapan kosongnya.
"Aku nggak akan menyerahkan siapa pun," kata Rina tegas, meskipun tubuhnya gemetar.
Wanita itu menggeleng perlahan, lalu menunjuk buku sekali lagi. Tulisan di halaman terakhir mulai berubah, tinta hitam itu membentuk kata-kata baru:
"Waktu hampir habis. Satu harus pergi, atau semua akan hilang."
"Lihat itu! Dia memaksa kita memilih!" teriak Nadya panik. "Dia ingin aku mati! Aku tahu itu!"
Aryo mencoba berpikir cepat. "Tunggu. Mungkin ada cara lain. Buku ini... mungkin ada petunjuk di halaman sebelumnya."
Rina mulai membolak-balik halaman, mencari sesuatu yang bisa menyelamatkan mereka. Matanya tertumbuk pada sebuah mantra yang tertulis di tengah halaman. "Ini... sepertinya ini mantra pelindung," katanya sambil membaca.
Mantra itu berbunyi: "Terangi kegelapan dengan cahaya keberanian. Satukan kekuatan untuk melawan bayangan."
"Kita harus mencobanya," kata Aryo. "Semua pegang tangan, mungkin ini bisa bekerja."
Meski ragu, mereka berdiri melingkar, tangan mereka saling terhubung. Rina mulai membaca mantra itu dengan suara lantang. Pada saat yang sama, wanita bergaun hitam mulai bergerak cepat ke arah mereka, matanya menyala merah seperti bara.
"Ayo cepat, Rina!" desak Aryo.
Rina terus membaca mantra itu, meskipun suaranya bergetar. Saat ia menyelesaikan kalimat terakhir, sebuah cahaya terang menyelimuti ruangan. Wanita itu berhenti, menjerit dengan suara yang menusuk telinga. Dalam sekejap, dia lenyap, meninggalkan hanya bau kayu terbakar.
Mereka terdiam, napas mereka tersengal-sengal. Untuk sesaat, semuanya tampak kembali normal. Tapi kemudian, buku di tangan Rina mulai terbakar sendiri, mengeluarkan api biru yang dingin. Rina melepaskannya, dan buku itu lenyap menjadi abu.
"Pintu!" seru Nadya.
Aryo mencoba membukanya lagi, dan kali ini, pintu itu terbuka dengan mudah. Mereka berlari keluar, tak mempedulikan barang-barang mereka. Udara malam terasa segar, meskipun kabut masih menggantung di lembah.
Namun, sebelum mereka benar-benar meninggalkan villa, Rina menoleh ke belakang. Di jendela lantai dua, dia melihat sosok wanita itu sekali lagi, menatap mereka dengan senyuman tipis.
---
Epilog
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Rina mencoba mencari informasi tentang villa tersebut. Dia menemukan artikel lama tentang seorang wanita yang pernah tinggal di sana lebih dari seratus tahun lalu. Wanita itu dikenal sebagai penyihir yang menghilang secara misterius setelah penduduk desa mencoba membakarnya hidup-hidup karena dianggap berbahaya.
Rina menutup laptopnya, merasa bulu kuduknya meremang. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa wanita itu belum benar-benar pergi.
Namun, pertanyaan terbesar yang menghantuinya adalah... kenapa wanita itu memilih mereka?

0 Komentar