"Malam Minggu"
Mungkin bagi sebagian kalangan memiliki makna yang berlainan.
"Malam yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga, karena besok adalah Hari Libur"masuk akal
Para pelajar akan berucap "asyik besok tidak ada pelajar, besok bisa main sepuasnya bersama teman" Bisa Dipahami
Para pejuang Cintapastinya tak kalah agresif berpendapat "Malam yang pas untuk nge-date bareng pasangan " Kebanyakan Seperti Itu
Sampai para jomblo pun tak mau kalah mengeluarkan semua unek unek "Yahh, ndak ada bedanya dengan malam-malam lainnya, cuma termenung sendiri ditemani nyanyian suara jangkrik dan gigitan nyamuk liar" Hem ironis dan tragis..
Dan untukku sendiri.
Malam minggu berarti semakin dekat pula aku dengan resolusi dan angan.
Bagaimana tidak.
Memang benar aku sudah mendengar semua pengakuan dari Surti, sudah mengetahui sendiri jawaban dari mulut Surti.
Yaahh, meskipun tidak sejelas atau se-frontal muda-mudi jaman sekarang. Ataupun yang sebenarnya suka, cuma untuk trend menjaga image Akhirnya sok jaim. "Aku sih sebenarnya juga suka sama kamu, cuma gimana yaaa", "Gini aja deh, kita jalani dulu aja yaa, sambil dilihat nanti gimana enaknya". Padahal jawabannya Simpel Pake Banget
"Ya, aku juga suka", atau "Maaf, aku ndak bisa".
Tapi kadang beda juga sih pemaham kalau kemarin Surti bilang tidak suka ya sudah. Apa aku mau nangis guling-guling ditempat?, atau merengek minta penjelasan kenapa ditolak?. No it's not me
Karena dari dulu memang seperti itu. Sama halnya waktu aku bilang suka ke Siti. Pertanyaanku pun sama, dan jawaban yang aku inginkan pun sama seperti yang aku lakukan kemarin ke Surti.
"Ya Mas, Siti juga suka sama Mas Dion",
Itulah jawaban yang dulu aku terima dari Siti, langkah selanjutnya tinggal kita jalani. Lakukan apa yang memang seharusnya kita lakukan. Namanya
Juga jodoh rahasia tuhan. Kita hanya tinggal mempertanggungjawabkan pelaksanaannya. Dan kalaupun terjadi sesuatu hal, pasti Tuhan juga akan pelan-pelan menunjukkan jalan-Nya.
Contohnya.
Yaa, Kasus Perselingkuhan Siti Dengan Andre.
Padahal kalau boleh dibilang, aku juga sudah mencoba semua yang biasanya dilakukan para pejuang cinta. Keluar nge-date, intensitas menghubungi dan dihubungi, janji setia, bahkan sampai uhuk uhuk pun sudah. Kurang apalagi?.
Kurang ajar iyyaa.
Untungnya dulu waktu di kost, aku di KO duluan sama Supri, coba kalau tidak, mungkin aku bisa lebih beringas lagi menghajar si Andre, dan bisa saja setelah aku bosan, teman-temanku juga akan dapat bagiannya.
Yahh, begitulah seperti yang aku bilang tadi. Tuhan juga yang menentukan.
Sampai pada sekarang ini. Apalagi yang bisa kita jelaskan kalau ini memang sudah kehendak Tuhan aku di pertemukan dengan surti
Ada yang aneh atau Ganjil. Tidak ada sama sekali.
Namun akan menjadi aneh ataupun ganjil kalau aku hanya berdiam diri, hanya mencoba untuk mencerna apa arti jawaban sebenarnya dari pembicaraan Surti kemarin. Karena jawabannya sudah jelas.
Aku Akan Menjadi Milikmu, Dan Kamu Akan Menjadi Milikku
==== ====
Sebulan sudah aku menjalin hubungan dengan Surti, namun seperti yang memang sudah aku prediksikan sebelumnya, bahwa akan banyak sekali perbedaan signifikan dibanding sebelumnya.
Seperti halnya intensitas tentang menghubungi dan dihubungi.
"Menghubungi dan Dihubungi, Menanyakan Kabar atau Sekedar Mengabari"
Tidak pasti juga dalam sehari hari , atau sehari tiga kali seperti minum obat resep Dokter, aku dan juga Surti saling memberi atau menanyakan kondisi.
Aneh?
Memang.
Bagi sebagian besar para Pejuang Cinta akan Sangat-sangat Menyiksa
Ibarat sebuah tanaman yang baru ditanam, pastinya akan setiap saat, bahkan setiap hari akan dirawat, disiram ataupun diberi pupuk supaya dapat tumbuh dengan subur.
Tapi, apa kita juga menyadari kalau ada beberapa jenis tanaman yang kadang kalau intensitas perawatannya terlalu berlebihan malah akan mati kalau kita tidak mengetahui secara benar langkah-langkahnya.
Bagaimana bisa seperti itu?
Beberapa hal wajib kita perhatikan dengan baik dan benar. Bisa dimulai dari waktu menyiram tanaman. "Tahukah kita waktu yang pas untuk menyiram tanaman tersebut?", atau "Berapa kali dalam sehari sebaiknya tanaman itu kita sirami?".
Patut di ingat, terlalu banyak air yang kita berikan, tanpa memperhatikan usia dari tanaman, niscaya malah akan membuat akar baru dari tanaman tersebut membusuk.
Begitupun untuk intensitas hubungan.
Bagaimana kita merawat sebuah hubungan yang baru saja terbentuk tentunya akan menjadi tantangan tersendiri. Untukku, dan tentu saja kebanyakan lainnya.
Maka dari itulah, ke-jarangan intensitas saling menghubungi antara aku dengan Surti malah menjadikan hubungan itu semakin berwarna dan variatif. Tidak perlu setiap saat kirim pesan atau menanyakan kabar yang untukku buang-buang waktu.
Coba saja kita tengok.
"Yang, lagi dimana sih?", "Kok seharian diem aja sih Sayang?", "Kamu sebenarnya beneran suka ndak sih sama aku?".
Atau ada lagi.
"Yang, dah makan pa belum?", "Yang, dah bangun belum?", "Yang, dah mandi belum?",
Kenapa ndak sekalian tanya.
"Yang, dah e'e belum?".
Belum lagi kadang jawaban yang diberikan.
"Ehh sayang, aku mau mandi dulu yaa, emmuuuachh", "Ehh sayang, aku maem dulu yaa, emmuuuuachh".
Bahkan ada yang sampai bilang.
"Tiap aku kangen kamu, aku selalu liatin boneka aku yang, soalnya mirip banget deh sama kamu".
Dan, mau tau boneka apa yang dimaksud?.
Donald Bebek
Artinya?
Pikir Saja Sendiri
Namun semuanya akan kembali ke masing-masing untuk melakukan apa yang menurut mereka akan membuat hubungan mereka menjadi lebih baik, menarik dan juga berwarna. Bahkan kalau bisa sampai ke jenjang Pernikahan.
Begitu pula cita-citaku dengan Surti, mau bagaimanapun cara kita berhubungan, muara yang kita tuju hanyalah satu. Aku ingin Surti Menjadi Istriku. Simple
Maka dari itulah, perjuanganku akan segera dimulai. Diawali dengan beberapa rangkaian konsultasi akhir skripsi, pencarian bahan baku sebagai penunjang sidang, sampai pada persiapan-persiapan yang wajib untuk dipenuhi dan dilakukan.
======== ========
Ruang Sidang Fakultas Peternakan
Suasana ruangan siang itu nampak sepi, hampir tidak ada aktifitas yang tidak perlu yang harus dilakukan. Semua terlarut dalam suasana yang hampir bisa di katakan campur aduk.
Ada yang dari tadi Komat Kamit membaca Doa, entah Doa apa saja yang dirasa bisa membantu, aku yakin akan dirapal semua.
Ada juga yang saling berpegangan tangan tanda memberi semangat. Entah itu dengan rekan seangkatan atau seperjuangan.
Sedangkan aku.
Mau dibilang tenang juga tidak, mau dibilang gugup juga tidak.
Yakin..
Iyya benar.. Yakin..
Kenapa bisa aku berpikir seperti itu? Bukankah ini menjadi semacam pembacaan vonis untuk kita?.
Baiklah.. sehari sebelumnya aku sudah meminta wangsit dan juga petuah dari
Dukun?
Iyya, memang hal itulah yang sudah lazim aku lakukan, apalagi untuk menghadapi Ujian Akhir seperti ini.
Seperti halnya kemarin yang aku lakukan saat meminta petunjuk ke Dukun saktiku itu.
"Maaf Bu, minta Doa-Nya, besok siang Dion mau Ujian Skripsi".
Pintaku saat itu.
"Ya sudah, Ibu akan selalu men-Doa-kan semoga semuanya lancar, tidak ada kekurangan atau halangan dalam bentuk apapun". Jawabnya kemudian.
Dan hasilnya.
Aku Lulus.
Iyya Benar.. Aku Lulus.
Skripsiku diterima oleh semua penguji saat itu, yaa dengan sedikit perubahan redaksional beberapa kosa-kata. Dan benar juga, seperti yang sudah diprediksi Pak Prawiro sebalumnya. Antusiasme para penguji skripsiku juga besar, karena katanya baru kali ini mereka menemukan skripsi yang bukan hanya skripsi, tapi skripsi yang langsung berujung pada Implementasi
Sungguh manjur bukan wangsit Dukunku? Yaa.. buatku Doa Seorang Ibu adalah Wangsit paling Mujarab, tanpa terkecuali. Karena apa?, sebagian kalangan banyak yang bilang kalau seorang Ibu itu sama halnya dengan Pengeran Kang Katon atau tuhan Yang Nampak . Itu buatku, buat yang lain aku tidak paham juga.
Lainnya?.
Tentu saja berondongan semangat dari Surti, yang selama ini sudah banyak memberikan semangat agar aku segera menyelesaikan skripsi ini, dan tentu saja, secepatnya mewujudkan resolusi dan angan yang sudah kita impikan selama ini.
Akhirnya.
Aku benar-benar di sahkan dan dinyatakan Lulus dihadapan Senat Fakultas dan juga Universitas.
Aku Resmi menyandang Gelar Sarjana Peternakan, dan resmi pula namaku menjadi ngadiono, S.Pt
Namun, kebahagiaanku tidak berhenti sampai disitu.
Tak berselang lama setelah proses wisuda, aku dipanggil Pak Prawiro, beliau memperkenalkan beberapa teman dan juga koleganya sesama Tenaga Pendidik dan juga Para Pelaku Bisnis.
Hasilnya?.
Hasil implementasi Produk Pakan dari skripsiku rupanya menarik banyak peminat. Sebagian besar beralasan katanya hasil penemuanku merupakan era baru pembuatan pakan fermentasi
. Karena dengan sistem baru yang berhasil aku kembangkan, para peternak tidak perlu lagi bersusah payah mencari bahan pakan saat musim kemarau tiba, atau kebingungan dengan stock rumput yang banyak mengandung air sehingga menyebabkan banyak ternak yang tidak suka saat musim penghujan melanda.
Semua bisa tertangani dengan baik.
Lebih banyak tenaga yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain juga, karena dengan sistem pakan yang aku buat, kita tidak usah susah ngarit atau mencari rumput, cukup campurkan saja beberapa formula yang aku ciptakan, setelah itu tinggal buat takaran yang pas untuk kemampuan konsumsi masing-masing ternak. Simpel kan, dan itu hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.
======== ========
"Saudara Ngadiono, saya Nikahkan dan Kawinkan saudara dengan Surti Binti Sumijan, dengan mas kawin Seperangkat Alat Sholat serta Perhiasan Emas seberat 5 Gram dibayar Tunai".
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Surti Binti Sumijan dengan mas kawin seperti tersebut di atas. Tunai".
"Bagaimana Saksi?", "Sah?".
"Saaaah?".
Inilah mungkin jawaban sakti yang aku tunggu selama ini, kalimat "Sah" yang berarti membuat semuanya menjadi indah dari sebelumnya.
Namun, kata sakti itu jugalah yang pada akhirnya malah menjadi sebuah awalan yang nyata akan tindakan yang mesti dan harus aku pikirkan secara matang sebelum melangkah. Bagaimana tidak, aku yang sebelumnya hanya memikirkan segala tingkah lakuku sendiri, mulai saat ini juga harus memikirkan pasanganku. Aku yang biasanya cuek dengan kondisi, mulai detik ini harus bisa menyetarakan dengan pasangan hidupku.
Hari itu juga semua penantianku akan jodoh bisa dikatakan berakhir, namun awal perjuanganku untuk mengawal jodoh itu. Baru akan dimulai.
Semua tumpah dalam kebahagiaan. Orang tuaku, Orang tua Surti, Keluarga, Saudara, Teman, bahkan Pak Prawiro dan beberapa kolega bisnisnya menyempatkan datang untuk menghadiri Hari Bersejarah itu.
Syukuran sederhana jugaa dilakukan, tentusaja menyesuaikan dengan adat istiadat ditempat Surti. Namun, hal tersebut tidaklah mengurangi makan sesungguhnyq dari kebahagian ini. Kebahagiaanku. Dan tentu saja. Kebahagiaan Surti.
Bagaimana tidak, aku yang hampir saja terpuruk, hanya dalam sekejap diganti oleh Tuhan dengan kebahagian yang bertubi-tubi.
Aku yang hampir saja melawatkan moment ajakan Supri saat itu, yang bahkan akan berbeda hasil dibandingkan hari ini, tiba-tiba saja terdorong untuk mencoba ikut.
Dan akhirnya moment itu jualah yang membawaku sampai ke hari ini. Sebuah moment sekejap mata yang membawaku ke pencarian jodohku. Sebuah momen yang terjadi dan hanya berjarak Lima Menit
Jadi, aku juga harus bisa menerima, kalau akhirnya banyak dari keluarga dan juga teman yang mengatakan kalau Pertemuanku dengan Surti hanya dibatasi waktu 5 Menit. Kalau jodohku dan Surti di awali oleh "Jodoh 5 Menit"
TAMAT

0 Komentar