Genap 4 hari sudah aku di tempatnya Supri untuk berlibur, atau lebih tepatnya sedikit mendinginkan tensi didih otak yang lumayan sudah tinggi. Selama 4 hari itu pulalah aku mendapatkan beberapa kejadian unik dan juga membuat senang.
Kejadian yang membuatku agak sedikit senang tak lain dan tak bukan adalah keterbukaan cara pikir ku saat ini, setelah sebelumnya aku mengalami mimpi bertemu dengan Ibu, kemudian setelah sampai di tempat Supri aku mendapatkan beberapa petuah atas obrolan-obrolan singkat yang aku lakukan dengan Paman Supri yang akan segera berangkat Haji, dimana beliau juga dikenal sebagai seorang Pemuka Agama yang cukup terkenal dan di segani, sehingga lambat laun mampu menyadarkan kevakuman pemikiran otak yang aku alami.
Kemudian peristiwa yang aku bilang unik tak lain dan tak bukan adalah peristiwa pertemuanku dengan Surti, orang lain boleh mengatakan pertemuanku dengan Surti tergolong biasa saja, bagaimana tidak?, sebuah pertemuan yang tidak disengaja, bahkan bisa di bilang kebetulan atau apalah namanya, dari Jedah waktu 5 menit
alias Pertemuan dan Perkenalan Karena Rokok Habis. Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Dari habisnya stok rokok ku serta rokok Supri, sampai akhirnya Supri menyuru Surti untuk membelikan, dari situlah aku pertama kali ketemu dan berkenalan dengan Surti.
Dan dari situlah aku terus terang adanya something different atau sesuatu yang berbeda dari hatiku! Pemikiran logis dengan sedikit bumbu tidak waras! Pemikiran praktis dengan balutan atas nama cinta pada pandangan pertama!
Yaaaaahhh...
Love at first sight, aku memang mengakui itu, meskipun aku juga pernah menjalin hubungan juga dengan betina laknat bernama Siti. Namun ini lain, dan sangat-sangat berbeda kaidahnya.
Kalau dulu, saat berkenalan dengan Siti, aku tidak merasakan adanya vibrasi alias getaran jiwa seperti saat aku pertama kali bertemu Surti. Aku tidak merasakan adanya gelombang rasa suka pada lawan jenis seperti saat aku melihat Surti.
Orang mungkin mengatakan aku munafik atau apalah, mengatakan aku juga terkena syndrome PHP juga terserah, tapi perasaan suka ku pada saat bertemu Surti terus terang lebih dari yang kurasakan dulu saat bertemu Siti.
Kalau dulu aku betemu dengan Siti, belum genap 2 hari aku langsung tembak dan bilang suka, padahal intensitas perkenalan dan pendalaman karakter diri masing-masing juga belum sepenuhnya paham! Tapi yaa tetap saja aku nekat, dan Siti pun menerima, mau apa lagi, bahkan sampai akhirnya adegan syahwat 17++ bukan lagi hal tabu bagi kami.
Namun dengan Surti beda!
4 hari sodara-sodara! Dan dalam 4 hari itu aku cuma mampu memendam saja! Memandang dari kejauhan! Dan yang paling Gila, kadang aku berbicara sendiri seolah-olah aku berbicara dengan Surti saat aku lihat dia lewat di depan rumah Supri. Namun begitu, aku sama sekali tidak merasakan adanya Syahwat, yang aku rasakan adalah Keteduhan.. Yaaahh! Keteduhan dari Seorang Wanita Desa bernama Surti, dan Bukan Syahwat seperti sebelumnya.
it's unbelievable, unpredicted, and indefintes. Tidak Bisa Dipercaya.. Tidak Perprediksi dan Juga Tidak Bisa Dijelaskan..
Dan bahkan aku juga tidak yakin, bahkan percaya kalau para pujangga yang katanya punya banyak filosofi tentang cinta akan punya pemikiran yang sama denganku..
**********
Mungkin aku bukan pujangga,
Yang pandai merangkai kata,
Ku tak slalu, kirimkan bunga,
Untuk ungkapkan hatiku,
Ku ingin kau tau,
Isi di hatiku,
Ku tak akan lelah,
Jaga hati ini,
Hingga dunia tak bermentari,
Satu yang ku pinta,
Yakini diriku,
Hati ini milikmu,
Semua yang ku lakukan untukmu lebih dari sebuah,
Kata Cinta untukmu,
Dirimu
**********
Hehhhh, nglamun saja , tiba-tiba saja Supri mengagetkan aku dari lamunan indah yang sedang aku rangkai.
Ahhh, kamu Pri, bikin kaget saja , jawabku kemudian sambil mengambil posisi duduk.
Kita jadi besok kan Pri baliknya ?, tanyaku kemudian.
Yaa jadi Di, tapi agak siang mungkin , jawab Supri sambil kemudian mengambil duduk di sebelahku.
Eeemmm, kenapa ndak pagi saja Pri ?, kan mumpung cuacanya masih segar , masih enak di buat perjalanan , tanyaku lagi.
Besok pagi aku mau di ajak bapak sebentar Di, ada perlu katanya , dan lagi, kalau kamu tidak keberatan, aku mau minta tolong , jawab Supri kemudian.
Mau minta tolong apa Pri ? , tanyaku dengan agak penasaran.
Itu, Surti kan besok pagi-pagi harus balik lagi ke tempat pamannya, sementara aku di ajak bapak, jadi ndak bisa ngantar , kalau kamu tidak keberatan, aku minta tolong besok kamu antarkan Surti ke Terminal , gimana, bisa ndak kamu ? , jawab Supri kemudian sambil menjelaskan maksud dari permintaan tolongnya.
Ooo bisa Pri , memang jam berapa berangkatnya ?, tanyaku kemudian.
Jam 7, jadi kamu jangan kesiangan bangunnya , jawab Supri sambil sedikit berpesan supaya besok aku tidak bangun kesiangan untuk mengantar Surti ke terminal.
Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu, aku juga sudah ngantuk , jawab Supri sambil kemudian pamit untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Besok, jam 7 Pagi! Aku di minta tolong Supri untuk mengantar Surti ke terminal, dan tentu saja sodara-sodara, tanpa basa-basi dan mukadimah yang bertele-tele, aku langsung terima saja! Heheheheee.. Dan siapa tau.. Heheheheeee..
**********
Sudah siap Sur ?, tanyaku pada Surti saat pagi itu aku sudah datang menjemput ke rumahnya untuk mengantarkan dia ke terminal.
Ehhh, Mas Dion, masuk dulu Mas , maaf, baru
Selesai beres², mamak sudah berangkat ke pasar, jadi harus bersih-bersih dulu, tapi ini sudah siap kok Mas , jawab Surti tak lama kemudian sambil mempersilahkan aku duduk.
(1)Mamak: Panggilan yang sama untuk Ibu, dan di beberapa daerah panggilan ini banyak digunakan untuk menggantikan panggilan Ibu atau Mama
Tak lama, Surti pun keluar sambil membawa segelas Kopi dan beberapa Pisang Goreng.
Surti kelihatan cantik pagi itu, dengan mengenakan Baby Doll Two Pieces berwarna kuning, sangat kontras dengan kulit kuning langsatnya.
Lhoo, kok belum ganti baju Sur ?, nanti kesiangan lhoo ?, tanyaku keheranan karena Surti belum juga berganti pakaian, malah akhirnya ikut duduk sambil menemaniku ngobrol.
Bentar lagi Mas, masih capek ini , sambungnya sambil sedikit beralasan.
Memang Cantik Surti ini, polos, dan mungkin kalau boleh berandai-andai, seandainya dia bisa jadi pasanganku nanti. Alangkah bahagianya..
Tapi kenapa tidak! Toh tidak ada salahnya kan di coba, sedikit basa-basi atau SSI lah kata Orang, mumpung rumahnya juga sepi.
Eeeemmm Sur, K-kammuuuu... , eeeeemmm... , dan sialnya, malah tidak ada satupun kata rayuan yang keluar.
M-maksudnya apa Mas ? ,
Eeemmm.. Kamu Cantik ,
Huuuaaaaaa.. Akhirnya keluar juga kata rayuan pertama..
Dan tentu saja hasilnya sudah bisa di tebak sodara-sodara..
M-maksud Mas Dion ?
Addduuhh Maaaaakkk.. Bukannya wajah merah macam kepiting rebus karena termakan rayuanku, namun malah tampang polos tak berdosa dengan pertanyaan lanjutan karena perkataanku tadi..
Macam apa pula ini Surtiiiii.. Polos kali kau jadi Wanita.. Mungkin begitulah jawaban dari Bang Poltak, Raja Minyak Dari Medan seandainya dia ada di posisiku saat ini..
Kamu Cantik Sur, Mas Dion Suka sama Kamu , akhirnya dengan muka tembok dan kenekatan berlipat ganda, kuberanikan lagi mengatakan hal tersebut di tambah lagi dengan permintaan bantuan kepada cupid untuk menembakkan Panah Asmaranya..
Hi hii hiiii, Mas Dion ini lucu , jawab Surti kemudian setelah aku menyatakan ulang kenekatanku tadi.
Mas ini keblinger yaa ?, salah minum obat yaa ? ,
Mas kok bilang itu ke Surti, lhaa Mas Dion kan tau Surti ini siapa ? ,
Surti ini cuma Orang Desa Mas, jelek, miskin, kok malah Mas Dion nekat bilang seperti itu , lagian kan Mas baru kenal Surti 4 hari, itupun ndak setiap kali ketemu kita ngobrol ,
Mas menghina Surti yaaa , mentang-mennn............. ,
Jawan Surti panjang x lebar x tinggi atas pertanyaanku tadi dengan beberapa alasan logis, masuk akal serta ada benarnya juga.
Namun, aku berani mengakui, kalau aku memang mencintai Surti secara tulus dan apa adanya, dan semua itu sudah aku pikirkan dengan baik, makanya, sebelum dia meneruskan kata-katanya, kuhentikan dulu dengan meletakkan jari telunjuk kananku di bibirnya.
Sssttt.. Jangan diteruskan Sur , Mas cuma ingin bilang 1 hal saja, silahkan kamu mau percaya atau tidak, Mas Dion
Cinta kamu apa adanya, kataku kemudian sambil dengan kemantapan hati aku jelaskan semuanya sembari aku genggam kedua tangannya.
Heeeemmm, entahlah Mas, Surti belum berpikir akan hal semacam itu, dan sama sekali belum ada di benak Surti urusan-urusan yang seperti itu ,
Yang ada di pikiran Surti saat ini adalah bagaimana Surti bisa cari uang untuk membantu biaya sekolah Adik dan juga membantu Mamak , jawabnya sambil kemudian berdiri untuk masuk dan berganti pakaian.
**********
Legaaaa..
Mungkin seperti itulah perasaan yang ada di dada saat ini, aku sudah mengatakan apa yang selama 4 hari terus mengganjal di pikiran dan bersemayam di dada!
Aku tidak memperdulikan apapun nanti jawaban Surti, mau diterima syukur, ndak di terima juga tidak apa-apa, karena aku sadar se-sadar sadarnya, mungkin yang ku katakan tadi sedikit banyak membuat Surti syok.
**********
Akhirnya akupun mengantar Surti ke terminal, dan bisa di tebak, selama perjalanan tidak ada satupun dari kami yang bersuara, kami berdua dalam kebingungan.
Aku bingung kenapa Surti diam saja, apakah dia syok atau bagaimana, aku tidak paham.
Sedangkan Surti diam mungkin masih tidak percaya akan kenekatanku tadi.
Whatever lahh..
Que Sera Sera..
Whatever Will Be Will Be
Mungkin saat ini lebih baik Diam.. Karena saat ini
Diam Adalah Emas
**********
Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit lamanya, kami berdua tiba di terminal, aku temani dulu Surti sebentar sambil menunggu Bis berangkat yang katanya kurang 10 menit lagi..
Dan lagi-lagi..
Tidak ada percakapan selama kami duduk meskipun sudah berdampingan, bahkan Surti tidak berani, atau bahkan mungki enggan, atau jijik, atau apalah namanya untuk bertatap muka denganku, dan aku juga paham itu..
Perhatian-Perhatian, Bus Jurusan Kota xxxxxxxx akan segera berangkat, di mohon para penumpang untuk bersiap-siap
Begitulah suara pemberitahuan dari announcer terminal supaya penumpang bus jurusan kota xxxxxxxx, yang kebetulan juga bus yang akan digunakan Surti, bersiap-siap karena Bus akan segera berangkat.
Eeemm, Sur, ayyoo, bus nya sudah mau berangkat itu , kataku mengingatkan Surti supaya bersiap-siap.
Oohh iyyaaa, mari Mas , jawab Suri kemudian sambil berdiri dan bersiap.
Eeeemmm, maaf ya Sur atas perkataan Mas tadi , tapi terus terang Mas serius , daaaan, kalau boleh, Mas minta nomor HP mu yaaa , kataku kemudian untuk yang terakhir kali sebelum Surti naik bus sambil dengan nekatnya lagi malah minta nomor HP pula.
Iyya Mas, ndak papa , Surti cuma masih kaget dan belum percaya saja Mas Dion bilang seperti tadi ke Surti , ooo iyyyaa, Mas tulis saja nomornya , jawab Surti kemudian sambil memberikan nomor HP nya, dan tidak butuh waktu lama, akhirnya 12 digit nomor itu berpindah ke kontak HP ku.
Yaa sudah Sur, makasih yaa, kamu hati-hati , itulah perkataan terakhir ku sebelum akhirnya bus yang di gunakan oleh Surti berlalu meninggalkan terminal.
**********
Dan siang itu pula, setelah kembali ke rumah Supri, makan, beres-beres, kami berdua kembali ke tempat kami menuntut ilmu.
Supri kembali dengan rutinitasnya bersama Erna dan juga menyelesaikan sisa skripsinya.
Begitu pula denganku,
Kembali berkutat dengan skripsi, kembali berkutat dengan analisis silase, bimbingan dengan Pak Prawiro yang sudah kembali dari tugasnya di Australia, yang untungnya, beberapa kekurangan dalam skripsi atas bahan maupun lainnya berhasil aku kejar dan selesaikan sehingga meskipun banyak menguras energi dan pikiran, yang pastinya karena kelakukanku sendiri.
Dan semuanya itu terjadi seperti adanya spirit atau dorongan tidak terlihat dari seseirang, yang meskipun sampai saat ini aku belum juga mendapatkan jawaban atas peryataanku padanya di rumahnya dan di terminal dulu, atau menghubungi dia untuk menanyakan hal itu meskipun aku juga sudah memiliki nomornya.. Itu semua belum terjadi dan aku belum lakukan. Namun, entah apalah namanya. Spiritnya seperti mendorongku untuk lebih Maju seperti saat ini.. Spirit dari seorang wanita desa sederhana bernama
**********
Teruntukmu hatiku,
Inginku bersuara,
Merangkai semua tanya,
Imaji yang terlintas,
Berjalan pada satu,
Tanya slalu menggangguku,
Seseorang itukah dirimu kasih,
Kepada yang tercinta,
Inginnya ku mengeluh,
Semua resah di diri,
Mencari jawab pasti,
Akan kah seseorang yang kuimpikan kan hadir
Raut halus menyelimuti jantungku,
Cinta hanyalah cinta,
Hidup dan mati untukmu,
Mungkinkah semua tanya kau yang jawab,
Dan tentang seseorang,
Itu pula dirimu,
Ku bersumpah akan mencinta.

0 Komentar