JODOH 5 MENIT PART 13

 


Sore itu, aku sedang santai duduk di depan rumah sambil menikmati rokok kesayanganku, yang tanpa aku sadari sebelumnya, tiba-tiba saja Ibu ku dengan sedikit mengagetkan duduk di sebelahku,






“ Kenapa Di?, “ada masalah apalagi Nak ”, tiba-tiba beliau bertanya sambil tersenyum lembut mengusap-usap sayang kepalaku,


“ Ndak tau kenapa ini Bu', akhir-akhir ini kondisiku kok makin aneh seperti ini ",


“ Banyak sekali masalah datang silih berganti, hilang satu datang yang lain ”, “ seperti tidak pernah habis saja masalah-masalah ku dari dulu Bu' ”, jawabku sambil akhirnya cerita semua unrg-uneg yang sudah menumpuk di kepalaku,


“ Heheheee, Diooon-Dion ”, “ Ibu' paham sekali Nak apa yang menjadi beban pikiranmu dari dulu, dan Ibu' juga yakin sebenarnya kamu itu sudah tahu jawabannya, tapi belum sempat untuk menoleh ke arah itu ”, jawab Ibu ku kalem sambil masih tersenyum dengan manisnya,


“ Tuhan itu Maha Adil Nak, dan yang paling Utama, Tuhan Tidak Pernah Memberikan Sebuah Cobaan di Luar Batas Kemampuan seseorang ”, “ Tinggal bagaimana seseorang itu berusaha serta memohon pertolongan ”, imbuhnya kemudian,


“ Naaaahh, kamu mungkin sudah berupaya semaksimal kamu untuk menyelesaikan permasalahan itu Nak, cuma 1 hal yang akhir-akhir ini sudah jarang sekali kamu lakukan, kamu sudah jarang untuk meminta pertolongan Kepada Tuhan ”, tambahnya kemudian mengakhiri penjelasan,






Entah kenapa, tiba-tiba saja detak jantungku berdetak semakin kencang, seluruh badan terasa gemetaran, bahkan tanpa sadar lambat-laun pandangan mataku makin mengabur, dan tanpa sadar menangis tersedu-sedu macam anak kecil yang di tinggal pergi jalan-jalan namun tidak di ajak serta, yang kemudian makin kencang saja dalam dekapan Ibu ku,






“ Hukk.. Hukk.. Huuukk ”, “ Ibu benar Bu, akhir-akhir ini Dion sudah jarang sekali meminta pertolongan Kepada Tuhan, Dion terlalu sibuk dengan urusan Dion sendiri ”, jawabku sembari makin mempererat rangkulanku seakan mencari pegangan atas kerapuhan yang akhir-akhir ini menderaku,


“ Ya sudaaahh kalau kamu sudah paham Nak, sekarang cobalah memohon pertolongan Kepada Tuhan, Niscaya kalau kamu benar-benar Tulus Memintanya, semua akan di permudah ” jawab Ibu ku kemudian,






Damai sekali perasaanku saat itu, damai sekali, seperti sebuah kedamaian yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan,




Namun, ditengah kedamaian yang kurasakan saat itu, aku merasakan seperti ada sesuatu yang perlahan-lahan menepuk paha sebelah kiriku, dari pelan-pelan, sampai akhirnya sebuah tepukan yang agak kasar mengagetkan aku,






“ Huaaaaahh ”, tiba-tiba saja aku seperti tersadar, dan spontan saja langsung duduk,


“ Hahh.. Hahh.. Haaahh..”, “ oalaaaaahh, kamu toh Pri ”, “ tak kira siapa ”, jawabku kemudian setelah secara perlahan mengumpulkan kesadaran,


“ Lagian kamu itu lho Di, macam anak kecil saja tidur sambil nangis-nangia, dah gitu guling dipeluk-peluk, nambah lagi panggil-panggil Ibu kamu ”, “ ada apa sih Di, kamu kangen sama Ibu kamu ? ”, “ kalau kangen ya coba pulang dulu, lagian kamu kan sudah lama belum pulang ”, cerocos Supri kemudian macam KRL yang sedang memburu waktu pada saat jam sibuk kantor.


“ Heheheeee, iyya tah Pri aku nangis ?, “ jadi malu aku ”


“ Tadi itu aku lagi ngobrol sama Ibu, Pri ”, “ yaaahh, sedikit curhat lah akan masalahku akhir-akhir ini, dan yang mungkin tadi katamu aku sampai nangis-nangis itu ya karena jawaban Ibu ku Pri, sebuah jawaban yang sangat telak memukul bathin dan perasaanku sekarang ” jawabku tak kalah detail sambil agak sedikit cengengesan menahan malu,


“ Ooooo, memang apa yang di bilang Ibu mu tadi dalam mimpimu itu ?”, tanya Supri kemudian,


“ Heheheee, It's My Secret Captain ” jawabku kemudian sambil masih tersenyum,






Akhirnya aku bisa tersenyum di pagi itu, sebuah senyum yang hampir satu minggu lebih ini seperti hilang ditelan beberapa masalah pelik yang terjadi, dan jawaban yang kuterima dari Ibu dalam mimpiku tadi seperti membuka semuanya, membuka kesadaran yang selama ini tertutupi,






“ Lhaaa, terus kamu mau apa ke sini Pri?”,


“ Kamu itu amnesia atau pura-pura lupa sihh Di ”, “ atau masih mabuk ?”, jawab Supri kemudian sambil memegang dahiku macam memeriksa anak kecil yang sedang Demam saja,


“ Apa-apan sih kamu Pri!, kamu kira aku lagi demam apa! ” Imbuhku sambil menurunkan tangannya dari dahiku,


“ Kamu jadi ikut apa tidak? ”, “ sudah jam 7 kurang 10 menit ini lhooooo ”, “ kemarin aku kan sudah nawari kamu, mau ikut aku pulang apa ndaaakk? ”, “ kalau ikut ya ayyo, kalau tidak ya ndak papa ”, “ aku tak pulang sendiri saja, soalnya jam 7 sudah harus berangkat, biar sampe rumah ndak kesorean ”, jawab Supri yang akhirnya menyadarkanku akan kehadirannya dikamarku pagi ini sambil kemudian berlalu keluar, masuk kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.






Oiyyaaa.. Kemarin Supri sempat menawari aku untuk mengajak pulang ke kampungnya karena ada acara hajatan Pamannya yang akan Pergi Haji, namun sampai saat ini aku belum juga memberi keputusan mau ikut atau tidak, dan sampai saat inipun aku masih bingung mau ikut atau tidak.




Sampai pada akhirnya, setelah menimbang banyak alasan, dari kondisi yang masih lemas, kepala yang masih agak pening, persis jam 7 kurang




Akan Ikut






************​






Akhirnya, daripada bengong sendiri di kost, dan bahkan mungkin akan mengakibatkan stuck ataupun kebekuan pikiran lagi karena beberapa hal yang akhir-akhir ini sering aku lakukan sebagai akibat dari ketololanku sendiri, dan juga, aku seperti sudah sedikit mendapatkan jawaban atas beberapa pertanyaanku akhir-akhir ini, dengan beberapa pertimbangan lain juga,




Akhirnya aku memutuskan untuk ikut Supri pulang ke kampung halamanya, karena aku pikir, selain dapat sedikit merefresh otak, disana nanti aku juga bisa sedikit mencari solusi atas bahan skripsiku, karena yang aku ketahui sebelumnya, orang tua Supri adalah Juragan Kambing dan Sapi, nahh siapa tahu aku bisa sedikit berinteraksi lebih, bahkan kalau beruntung, aku bisa dapat ilmu pasti, yang jarang ada atau bahkan mungkin tidak ada dalam bangku kuliah ataupun skripsi.




************​




Setelah melakukan perjalan selama ± 4 Jam, akhirnya sampailah di Kampung Supri, beberapa Tenda berukuran besar untuk acara yang rencananya akan di langsungkan besok malamnya sudah terpasang di depan rumah Supri dan juga rumah Pamannya yang letaknya persis di sebelahnya, aku maklum saja, karena mungkin acara yang akan dilaksanakan termasuk besar, disamping itu pula, keluarga besar Supri termasuk keluarga terpandang di kampung itu.




Akupun di terima dengan sukacita, dan karena masih banyak kebutuhan yang harus disiapkan, maka Bapak, Ibu serta Paman Supri meminta maaf belum bisa menemani, dan sebagai gantinya, aku dipersilahkan untuk beristirahat dikamar yang telah dipersiapkan sebelumnya.




Malamnya, setelah cukup beristirahat serta memulihkan tenaga, aku dan Supri duduk santai diteras depan rimah ditemani Pisang Goreng Hangat serta secangkir Kopi Susu kesukaanku, namun, ditengah-tengah obrolan ngalor-ngidul ku bersama Supri, tiba-tiba terdengar panggilan Ibu nya Supri dari dalam rumah,






“ Pri, Supri, HP mu bunyi itu lhooo ",


“ Iyya Buu ", jawab Supri kemudian,


“ Bentar Di, aku tak ambil HP dulu ya, siapa tau dari Erna ", imbuhnya sambil kemudian ke kamar untuk mengambil HP nya.






Bi' Sumarni, tetangga Supri yang rumahnya terpaut 3 rumah didepan rumahnya Supri.




Dan setelah hampir ± 15 menit kemudian, Supri sudah kembali, sambil kemudian kembali mengambil duduk disebelahku.






“ Memang siapa Pri yang telpon?, “ Kok kamu malah pergi ke rumah itu ? ”, tanyaku agak sedikit kurang kerjaan dan ingin tahu,


“ Bukannya Erna yang telpon tadi? ” Sambungku kemudian,


“ Ooo, bukan Erna kok Di yang telpon ”,


“ Erna sudah telpon tadi sore waktu kamu masih tidur ”,






jawabnya seakan menjawab keingintahuanku serta mungkin kekurangkerjaanku,






“ Lhaa terus, siapa yang tadi telpon? ”, “ kok kelihatannya penting sekali sampai kamu lari-lari ”, lanjutku.




Tadi yang nelpon salah satu pegawainya Ibu' yg jaga Toko di pasar ”, jawabnya singkat,




“ Anaknya Bi' Sumarni itu ikut kerja sama Pamannya di Kota, rencananya dia mau pulang, trus besok pagi minta tolong di jemput di jalan besar ”, lanjutnya kemudian,


“ Daaaaann, kalau masih penasaran juga, anaknya Bi' Sumarni itu namanya surti


“ Ooo.. Surti yaaa ” jawabku asal kemudian,






Akhirnya ngobrol-ngobrol malam itu di akhiri dengan masuknya kami ke kamar masing-masing untuk istirahat melepas penat,






************​






“ Oiyyaa katanya kamu mau jemput dia di jalan besar pagi tadi? ”, itulah pertanyaan yang meluncur dari mulutku di siang itu saat sedang asyik berbincang di sebelah rumah Supri,






Heheheheee.. Aku hari itu terbangun agak siang, mungkin karena kondisi badanku yang masih agak lemas, jadinya yaa, keenakan tidurnya, apalagi ditambah sejuknya suasana sekitar rumah Supri yang masih asri,






“ Sudahh Di, lha dia sudah bantu-bantu dibelakang juga dari tadi ”, jawab Supri kemudian,


“ Memang biasanya minta tolong dijemputnya sama kamu ya Pri ?”,


“ Iyyaa Di ”, kalau misal aku ada dirumah, kalau tidak biasanya siapa gitu yang bisa,


“ Yaahh, kalau boleh dibilang sihh sudah seperti Adikku sendiri dia itu, apalagi aku juga ndak punya Adik perempuan khaan ”, “tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya aku juga kasihan sama Surti itu ”,


“ Heeeemm, kasihan kenapa Pri ?”, tanyaku kemudian setelah meminum kopi susu ku dan meletakkannya di meja kemudian,


“ Surti itu sebenarnya Pintar, Baik, pokoknya ndak neko-neko kalau orang jawa bilang ”, “ 2 tahun kemarin dia itu lulus SMA Di, rencananya sihh, pengen melanjutkan ke sekolah Kebidanan, yaaahh nanti sambil sedikit di bantu sama Bapak sama Ibu' ”, lanjut Supri kemudian, Bapaknya Surti, tiba-tiba sakit keras, sampai akhirnya meninggal”


“ Akhirnya yaaa, Gagal cita-citanya sekolah lagi di Kebidanan, padahal dulu dari kecil, Surti itu sering bilang ke aku ingin sekali jadi Dokter atau Bidan, tapi yaaa itulah Di, cita-cita tinggal cita-cita saja ”,


“ Sebenarnya Bapak sama Ibu' siap-siap saja membiayai semuanya ”, “ yaahh hitung-hitung balas budi lahh atas kesetiaan kedua orang tua Surti ke keluarga ini, Bapaknya Surti itu salah satu orang kepercayaan Bapak dalam pengurusan ternak, sedangkan Ibu nya, seperti yang aku sudah bilang tadi, dari awal Ibu' buka kios di pasar, yang jaga ya Ibu nya Surti ”, cerita Supri kemudian panjang lebar,


“ Truss, kenapa ndak di biayai saja sama Bapak Ibu mu ?”, tanyaku kemudian,


“ Itulah Bi' Sumarni Di ”, “ beliau itu orang yang jujur lah istilahnya, tahu terima kasih kalau Ibu ku bilang ”, “ kata Ibu sihh, meskipun sudah dibujuk berkali-kali, jawabannya tetap sama, katanya beliau sudah banyak merepotkan keluargaku, dari awal Surti lahir sudah banyak di bantu, bahkan sampai di terima kerja dikeluarga ini ”, “ jadi akhirnya yaa cukuplah selama ini merepotkan, dan intinya ndak mau lagi merepotkan sampai terlalu jauh membiayai sekolahnya Surti, cukup sampai SMA saja, lagi pula masih ada Adiknya yang butuh biaya ”, jelas Supri kemudian,


“ Trus akhirnya dia cari kerja ikut Pamannya gitu tahh?” Selaku kemudian,


“ Yaaa seperti itulah Pri ”, “ walaupun sebenarnya Ibu juga nawari biar Surti ikut kerja jaga kios saja di pasar, tapi lagi-lagi jawabannya Bi' Sumarni sama seperti tadi, akhirnya ikutlah dia kerja sama pamannya di kota ”, imbuhnya kemudian,


“ Haduuuuhh ”, “ minta rokokmu Pri, habis punyaku ”, kataku tiba-tiba setelah menyadari rokok ku hanya tinggal bungkusnya saja, namun ternyata kepunyaan Supri juga habis,


“ Bentar Di, tak minta tolong dibelikan dulu ”, jawab Supri kemudian,


“ Surtiii.. Surtiiii, kesini sebentar Sur ”, ternyata Supri memanggil Surti untuk minta tolong dibelikan rokok,


“ Iyya Mas Pri, ada apa ?”, tiba-tiba persis dari arah belakangku terdengar suara seorang wanita,


“ Ini, tolong kamu ke Toko depan, belikan aku Rokok, sekalian Rokok punya temanku ini ”,


“ Oiyyaa, ini yang namanya Surti, Di ”, jawab Supri sambil menyerahkan uang dan juga mengenalkan kepadaku sosok Surti,


“ Hehehee, iyya Mas, saya Surti ”, jawabnya sambil tersenyum,


“ I-iyaa.. Hehehee.. S-saya Dion ”, jawabku spontan agak tergagap sambil tersenyum kemudian mengulurkan tangan berkenalan,


“ Hehh, sudah, nanti saja kenalannya ”, “ Rokoknya yang seperti ini ya Sur, yang ini 2, ini juga 2 ”, “ aku juga mau ke kamar mandi ini ”, jawab Supri kemudian seolah menyadarkanku dari pemandangan indah yang saat ini ada didepan mata,






Akhirnya, berangkatlah Surti untuk beli rokok di Toko, dari awal jabat tangan kenalan tadi, sampai sepanjang dia berjalan, tak henti-hentinya mata nakalku memperhatikan setiap gerakannya,




Heheheee.. Mumpung Supri juga tidak akan sodara-sodaraaa..




Heeemm.. Muka Oval, Mata Agak Sipit, Hidung juga Agak Mancung, dan Tatapan Matanya.. Yaaaa, tatapan mata yang memancarkan sebuah keteduhan,




Ditunjang dengan tinggi semampai, bokong yang aduhai, serta tonjolan depan yang aduhai pula,






“ Hallaaahhh.. Apalah aku ini, malah kurang ajar mikir seperti ke Surti ”, gumamku kemudian,




Tapi kenapa aku juga tidak memungkiri akan hal tersebut, kenapa aku tiba-tiba saja berpikir seperti itu ke Surti?




Bukankah aku juga pernah mempunyai getaran seperti ini sebelumnya ketika bersama Siti,






“ Adduuuhh, kenapa Iblis Betina itu laggiiii ” gumamku lagi setelah pikiran bodoh ini kembali menyerempet nama jahanam itu,






Tapi ini berbeda, sangat berbeda!




Kenapa aku sudah terpesona dari awal pertama berjumpa dengan Surti?, bahkan aku sempat sedikit nakal agak lama berjabat tangan berkenalan tadi?, padahal dulu dengan Siti tidak seperti ini! Ini berbeda, sungguh sangat berbeda..




Apakah ini wajar? Ataukah ini kurang ajar?




Pandangan pertama awal aku berjumpa,


Pandangan pertama awal aku berjumpa,


Seolah-olah hanya, impian yang berlalu,


Hampir-hampir aku tak sadar di buatnya,




Memang Kecantikannya,


Dan kelembutan hatinya,


Membuat aku berani,


Menghadapi dunia​




Ahhh.. Aku malah macam remaja. SMA saja, senyum-senyum sendiri mengingat kejadian dan pertentangan batin yang baru saja terjadi..




Heeeeeemmmm..




Surti




************​




Akhirnya, malam itu acara berlangsung dengan sangat khidmat, ramai serta lancar, dan setelah semua tamu undangan pulang, semua orang juga merasakan kepuasaan yang sama meskipun ada sedikit kelelahan meliputi,




Namun bagiku bukan itu yang penting, sepanjang acara tadi, bahkan sampai selesai dan semuanya pulang, yang aku perhatikan dengan kurang ajarnya hanyalah Surti, yaaahh, Lagi-lagi Surti,




Malam itu dia mengenakan busana sederhana namun pas dibadan, tidak mahal namun terkesan elegan! Sapuan make up nya pun terkesan natural namun menyegarkan..




Pokoknya malam itu tidak nampak sama sekali didepan mataku pandangan lain selain Surti, entah dia tahu atau tidak saat ku perhatikan, tapi aku tidak peduli,




Maybe It Called




Love At First Sight




Sampai akhirnya keadaan sudah sepi kembali, orang-orang sudah kembali kerumahnya masing-masing, begitupun denganku, yang sudah waktunya masuk kamar untuk istirahat setelah sebentar tadi membantu membereskan peralatan,




Lirikan matamu, menarik hati,


Oh senyumanmu, manis sekali,


Sehingga membuat, aku tergoda,


Sebenarnya aku ingin sekali,


Mendekatimu, memadu kasih,


Namun sayang-sayang, malu rasanya,


Biar kucari nanti jawabnya​




Yaaahh.. Biarlah nanti aku cari jawaban atas semua ini, yang penting saat ini adalah, TIDUR 

Posting Komentar

0 Komentar