Esok Paginya...
"Mas.. Mas.. Mas Dion", "Bangun Mas dah Siang"..
"Eeehhmmm".. Pelan aku menggeliat setelah terasa tepukan-tepukan pelan di pahaku..
"Maaass.. Bangun Mas"..
"Eeeehhmmm", "Hoooooaamm".. Perlahan aku mulai membuka mataku.. Di sebelah ranjang kulihat Istriku Surti dengan senyum manisnya, yg ternyata sudah bangun terlebih dahulu, bahkan sudah terlihat segar dengan balutan Daster lengan pendek warna kuning..
"Aaddduuhhh", "pagi Sayang", "Jam berapa ini ya?".. Tanyaku..
"Jam setengah tujuh Mas".. Sambil kemudian menyisir rambut hitam sepunggungnya yang sekilas nampak masih agak sedikit basah serta tercium harum shampo..
"Semalam katanya jam 8 mau ketemu Pak Sanusi". Sambungnya..
"Oiyyaa".. Sambil garuk-garuk kepala..
Aku hampir lupa kalau kemarin siang sudah janjian sama Pak Sanusi, Juragan Kambing dari Desa Sebelah untuk membeli Kambing-kambingku yg sudah layak jual..
******
Aku pun lantas bangkit, berjalan menghampiri Surti, memeluk mesra Tubuh Semampainya (ingat.. Semampai asli), melingkari perut rampingnya sambil sedikit menggodanya..
"Cantik". Kataku sambil sedikit mencubit hidung agak mancungnya sembari merasakan wangi shampo rambutnya..
Dan benar saja.. Niatan yg semula hanya sekedar basa-basi setelah bangun tidur, namun pada kenyataannya tidak bagi Dion Junior yg ada di bawah.. Merasakan sedikit enak, aq teruskan dengan sedikit goyangan pada pantatnya sambil mempererat dekapan tangan kananku pada perutnya, serta sedikit remasan nakal tangan kiriku pada payudara 34B miliknya..
"Eehhmmm", "Massshhh", "Gelllii"..
Sambil menggeliat Surti ternyata mampu lepas dariku, sambil berbalik kemudian melakukan cubitan kecil pada penisku..
"Adduhhh", "iihhsss" erangku..
"Nakall ya Pagi-Pagi"..
"Bukannya Bangun Tidur Ku Terus Mandi, malah Bangun Tidur Ku Langsung Horny".. Balasnya sembari matanya yg sedikit sipit mencoba melotot..
"Ayyo cepat sekarang mandi", "ndak usah macem-macem".. Katanya sambil mencubit kecil pinggangku..
"Rambut Surti barusan kering", "itu seprei korban kolaborasi semalam jg belum sempat di cuci",
"sekarang mau macem-macem lagi", "Tiddak Bissaaa".. Sambungnya..
"Pokoknya sekarang mandi.. Mandi.. Dan mandi"..
"Iyyaaaaa", "iyyaa Sayang", "ampun.. Ampun"
Akupun meringis sambil berlalu keluar dari kamar, mengambil handuk, untuk kemudian masuk kamar mandi.. Tujuannya jelas.. Selain harus bebersih setelah pertengkaran nikmat semalam, juga pada akhirnya harus menina bobokkan Dion Kecil yg terlanjur mengacung gara-gara gesekan pantat bahenol Surti tadi..
"Hhuuuuaaa".. "Jeburr.. Jeburr.. Jeburr".. Begitulah kiranya suara kamar mandi pagi itu.. Di tambah dinginnya air dan juga mepetnya waktu memaksaku untuk secepatnya menyudahi rutinitas ini.. Namun tiba-tiba..
"Maaass", "Dokk.. Dokk.. Dokk".. Terdengar ketukan pada pintu kamar mandi yg spontan saja kemudian aku buka..
"Kiyyyaaaaa".. Jerit Surti sambil Menutup Mata dengan telapak tangannya..
"Lhhhooo", "ada apa sih Sur kok pake di tutup matanya".. Selidikku..
"Ittuuuuu".. Tunjuknya padaku..
"Upppsss", "Heheheheee", "maaf sayang, lupa".. Sambungku..
"Lagian kenapa sih pake di tutup segala", "Bukannya tadi malam malah merem melek karenanya". Godaku..
"Iiiihhhh".. Jawabnya sambil pura-pura begidik seperti kedinginan..
"aku mau ke Bu Sumi sebentar Mas, mau ambil pesenan sayur kemarin"..
"Okkee".. Jawabku sambil ku lanjutkan kembali ritualku..
******
"Embbeeeekkkk", "embeeeeeekkk", "embeeeeekkk"..
Itulah suara khas koloni kambing di kandang sebelah rumah, suara yg selalu kudengar hampir tiap kali aku masuk ke sana untuk memberi makan..
"Embak-embak.. Embak-embak saja kerjamu tiap pagi".. Ocehku..
"Yyaa iyyyalah Bos.. Namanya Juga Kambing", "kalo petok-petok mah Ayam kallee".. Mungkin seperti itulah jawaban mereka kalau seandainya bisa di terjemahkan menggunakan Kamus Bahasa Tarzan..
******
"Haaahh legggaaa".. Akhirnya selesai pula memberi pakan pagi ini.. Tinggal menunggu Pak Sanusi datang pikirku..
Kemudian aku kembali masuk ke dapur, karena aku ingat di atas meja dapur tadi Surti sudah membuatkan segelas kopi hitam kental agak pahit kesukaanku".
Namun..
Begitu pintu dapur terbuka, kembali aku di suguhi pemandangan yg sangat indah.. Istriku Surti yg sedang menata bakal sayuran yg baru di belinya tadi.. Namun karena harus di ambil dulu dari Tas untuk kemudian di tata untuk sedikit menghilangkan kadar airnya di atas sebuah meja kecil yg lumayan pendek, menyebabkan ia harus berkali-kali jongkok dan berdiri.. Sehingga dapat di pastikan tunggingan pantat sekalnya mau atau tidak membuat Dion Junior mulai berpikiran mesum, yg celakanya malah di setujui oleh si pemilik yaitu aku..
Maka..
Sambil berjalan pelaaann.. Dan Peelllaaaaann.. Kembali aq rengkuh tubuh semampainya..
"Aawww", "Maaasss", "Leeppaasskann", "Surti masih repot ini lhoo".. Jeritnya kaget sambil mencoba lepas untuk kedua kalinya sejak peristiwa di kamar tadi..
Tapi.. Tidak untuk kali ini.. Karena telah terjadi perjanjian konkrit antara Dion Jr dan jg aku..
Kali ini rangkulanku makin erat, sambil agak sedikit memaksa, tangan kiriku yg tadi pagi meremas payudaranya, kali ini berubah strategi langsung masuk ke Celana dalamnya, karena Surti saat ini cuma menggunakan daster terusan, maka makin mudah saja tanganku masuk ke celana dalamnya untuk kemudian langsung berhadapan dengan memeknya..
"Iihhhsss", "mmaasshh", "Surti Maasssihh Reepppoott".. Desisnya
Namun tidak aku hiraukan rengekannya, karena justru rengekan itulah yg membuatku makin bersemangan.. Dan tak ayal lagi, tangan kiriku lama-lama terasa makin basah saja, bahkan semakin basah saat klitoris mungilnya ikut tergesek..
"Aahhh Masshh", "Massshhh".
Akhirnya.. Jeritan kecil serta tolakannya tadi perlahan semakin melemah berganti rintihan pelan.. Apalagi saat tangan kananku yg semula melingkar di perutnya perlahan naik meremasi payudaranya sambil ku jilat, tiup dan gigit pelan daun telinganya.. Makin syahdulah erangannya..
Namun aku kembali sadar kalo sebentar lg Pak Sanusi mungkin datang.. Maka, tanpa banyak negoisasi lagi.. Aku tarik pinggangnya agak menungging sembari tanggannya aku posisikan bertelekan meja, Aku tarik ke bawah CD Surti, Celana Pendek jg CD ku.. Serta tanpa basa-basi lagi..
"Aaahhh.. Ohhh.. Ohhh.. Ohhhh". "Mass.. Masss.. Masss"..
Rengekan Surti mulai terdengar.. Surti memang mudah sekali basah, dan hal itu sudah aku ketahui semenjak kita pacaran dulu..
"Ahh.. Ahh.. Hahh.. Hahhh.. Hhaahh".. Ennak sekali memekmu Sur", "Anggghheeettt", "Jepphhitttannya juugggaa mmakkhhinnn mannntthaaap"..
"Hiyyyaaa Maashhh", "Peennnissssmhhuuu juugghhaaa teerraaassaa mmaakkkinn beeessshhaa.. Aaaaahhrr".. Mulai terdengarlah alunan desahannya..
"Ayyhhooo Maaassshh", "Doorrrhhooonngg lleebbbihhh Keennnceeenng.. Haahh.. Hahhhh.. Ooohhh", "Ssuuurrrtttiii mmaaauuu sssaammpp... Aaaaaaahhhh".. Jeritnya panjang tak sampai menyelesaikan kalimatnya.. Begitu juga..
"Maassshh jjugghhaaaaa Ssuuuurrr", "Heeeeeghhh.. Aaakkhhh".. Sambil kutekan masuk semua batang penisku yg kemudian memuntahkan amunisinya dalam memek Surti..
Akhirnyaa.. Lumayan capek juga kami berdua, bahkan kalau seandainya Surti tidak aku pegangi, kemungkinan dia akan tersungkur karena nikmat dan capeknya..
Namun, saat kami sedang menikmati istirahat sejenak kami, terdengar gedoran ringan di pintu.. Yang mau atau tidak memaksaku dan Surti untuk segera membersihkan diri masing-masing"..
******
"Ttookk.. Ttookkk.. Took".. "Maaass", "Mas Dion", "Ini saya Pak Sanusi Mass"..
Ternyata Pak Sanusi Juragan Kambing itu yg datang.. Untung tadi sudah selesai.. Heheheheee
"Selamat Pagi Mas Dion".. Sapa Pak Sanusi
"Selamat Pagi Juga Pak Sanusi".. Balasku
"Ini saya mau neruskan rencana pembelian kambing yg 50 ekor kemarin", "apa sudah di siapkan Mas".. Sambungnya..
"Oooo.. Tenang Pak". "Sudah saya siapkan semuanya", "Mari Pak, langsung kita ke kandangnya saja"..
******
Akhirnya..
Transaksi saat itu berjalan dengan sukses.. Pak Sanusi Membeli 50 ekor Kambing yg katanya sudah akan di jual lagi ke pasar..
Dengan uang di tangan, aku kembali masuk rumah, di atas meja aku lihat Kopi Hitamku yg ternyata sudah berpindah tempat..
******
Kemudian ku ambil Sebatang Surya dari Kotak di kantongku, ku sulut sambil ku minum kopi hitamku yg ternyata sudah agak dingin..
"Srrruuuuuuppptt", "Fuuuuuuhhh".. Ku hembuskan ke atas asap rokok itu sampai membentuk lingkaran-lingkaran mirip circle crops yg kontroversial itu.. Sampai pada akhirnya.. Mataku berhenti pada foto di dinding tepat di depanku..
Foto Pernikahanku dan Surti..
Tiba-tiba..
Sambil tersenyum-senyum (tapi maaf, ini jangan di anggap gila), foto itu seperti mengingatkan nostalgia akan kebersamaanku dengan Surti saat ini.. Saat aku pertama kali ketemu Surti.. Yaaa.. Saat itu.. Tepat saat 2 tahun yang lalu.............

0 Komentar