sebuah pertanyan
"AASSSTAAGGAAAA..." Ucap Pandu sambil membelalakkan matanya. Tenggorokannya seolah tersedak.
Kering dan susah untuk menelan ludah,"Kamu bener-bener ga pake celana, Neng...?"
"Hihihihi... lya..."
"Bentar-bentar..." Sahut Pandu yang kemudian memutar tubuhnya kebelakang. Menjulurkan tangannya dan menyentuh kemaluan Lala yang belum ditumbuhi rambut kemaluan sama sekali. Sekedar
memastikan jika penglihatan matanya tidaklah salah. "Busyeeettt... Neng...? Beneran loh... Kamu ga pake celana...
"Ihhhssss.. Masa udah pegang-pegang memek Lala gini, Om masih aja nanya..."
"Jadi... Tadi pas berangkat... Kamu lama ga keluar-keluar kamar tuh karena sengaja lepas-lepasin semua daleman kamu, Neng...?"
"lya... Hihihi..."
"Ohh Gusti... Terimakasih Engkau telah memberiku keponakan yang begitu cantik.... Seksi dan penurut seperti ini..." Celetuk Pandu buru-buru bersyukur.
"Udah-udah... Jangan dipegang-pegang mulu ah... " Ucap Lala yang menepis tangan Pandu yang masih saja mengusap-usap vaginanya. Kemudian ia duduk dan memeluk tubuh Pandu, "Ayo Om.. Buruan makan... Lala udah laper banget nih Om..."
"Sumpah... Om juga laper banget..." Seru Pandu.
"Lapernya karena perut udah keroncongan...? Atau..." Lala sengaja menjeda kalimatnya.
"Laper karena kamu, Neeeennggg..."
"Kok bisa....?"
"lya... Om jadi pengen makan kamu..."
"Hihihihi... Emang Lala makanan...." Ucap Lala yang ketika memeluk tubuh Pandu, tangannya tak sengaja menyenggol gundukan yang sudah menjulang tinggi di selangkangan pamannya. "Eeh ehhh...
Om... Kok... Udah ada yang keras...?"
"Itu cacing Om yang udah kelaperan banget..." Celetuk Pandu berkelakar
"Ihhhsss... Lala baru tahu, kalo cacing bisa segede ini ya, Om...?" Tanya Lala sambil mengusap gundukan keras itu dari luar celana
"lya... Malahan Cacing Om bisa lebih gede lagi kalo dikeluarin dari sangkarnya..." Lanjut Pandu yang iseng memberi 'kode'.
"Hmmmm... Ogah ah.... Cacing Om pasti nakal..." Seru Lala.
"Enggak kok, Neng... Cacing Om udah jinak... Dia cacing penurut..." Seru Pandu yang kemudian mengamit tangan Lala dan meletakkannya ke resleting celananya.
"Coba deh, keluarin cacing Om..."
"Haaahh...? Serius...? Keluarin Om...?" Kaget Lala mempertanyakan permintaan Pandu.
"lya... Emang kenapa...? Toh suasananya udah gelap ini..." Ucap Pandu santai sambil mengusap
punggung tangan Lala yang ragu untuk meneruskan permintaannya. "Ayo keluarin aja, Neng..."
Dengan perlahan, Lala memasukkan tangannya kedalam resleting celana Pandu. Meraih sebuah daging setengah keras yang mulai berkedut karena sentuhan jemari lentiknya.
1 om.".ap Lala yano mericoba meng am laengipnia pn.. Ba
dia ngerasa sejuk..."
"Dikeluarin kaya gini.." Tanya Lala yang dengan satu tarikan tangan, akhirnya berhasil mengeluarkan setengah batang penis Pandu dari resleting celananya.
"lyaaa... bener..." Seru Pandu girang.
"Busyeett... Ini mah bukan cacing Om..." Seru Lala ketika merasakan penis Pandu yang semakin menegang karena genggaman tangannya.
"Terus...?"
"Ini mah NAGA..." Teriak Lala yang kesulitan menggenggam batang penis Pandu dengan satu tangan.
"Hahahaha..." Tawa Pandu makin kencang karena melihat kepolosan sikap keponakannya itu.
"Kok bisa gede gini sih, Om...?"
"Gimana ga gede... Kalo punya ponakan yang cakep kaya kamu gitu...?"
"Hmmmm... Cuman cakep aja nih...?"
"Hahahaha... lya deh... Cakep dan seksi..." Sambung Pandu.
"Kok pake kata 'deh'? Emang Om ga ngakuin kalo Lala tuh memang cakep dan seksi...?"
"Hahahaha... lya iya... Keponakanku ini, Fara Kumala adalah cewek paling cantik dan cakep dan seksi dan imut dan menggairahkan... " Seru Pandu yang mengeluarkan segala istilah pujiannya kepada Lala.
"Naaahhh gitu dong... Itu baru bener... Hihihi..."
"Kalo udah bener... Kocokin Naga Om dong, Neng..." Pinta Pandu lagi.
"Ogaaahhh... Lala udah laper Oommm... " Teriak Lala kencang, "Kalo Lala kocokin, kapan sampenya ini motor...?? Makin lama, jalannya makin mirip kura-kura gini..." Seru Lala yang karena gemas, mencekik leher penis Pandu.
"Aaawww.. Awww.. lya-iya... Ini Om langsung ngebutt... Hahahaha... "
Rupanya, Lala malam itu benar-benar kelaparan. Karena dalam waktu singkat, ia sudah menghabiskan semangkuk bakso, mie ayam, roti bakar, dan 2 gelas teh manis dan 4 macam gorengan.
Pandu sampai kewalahan karena harus mondar-mandir untuk memesan berbagai macam jenis makanan
yang Lala inginkan demi membuat keponakan cantiknya itu kenyang.
"Kamu kalo dilihat waktu malem gini... Kok keliatan makin cantik ya, Neng...?" Puji Pandu melihat kemolekan wajah keponakannya yang sibuk mengunyah makanan.
"lya... Khan aku keturunan kuntilanak..." Sahut Lala cuek, "Jadi makin malem makin cantik..."
"Apa...? Kunti enak...?" Sahut Pandu, "Wah seru tuh kalo enak-enak..."
"KUNTILANAK OM PANDUUUU... BUKAN KUNTI ENAAAKKK... " Ralat Lala yang memperkeras suara lembutnya, "Kuntilanak... Tahukan...? Hantu perempuan yang sukanya ketawanya cekikikan..."
"lya... Kamu khan enak, Neng... Apalagi pas melenguh-lenguh cekikikan..." Sahut Pandu lagi
"Ihhhsssss.... Apa coba melenguh cekikikan...." Ledek Lala sambil memutar bola matanya.
"Kamu ga kedinginan Neng...?
"Hmmm... Enggak kok...
" Jawab Lala sambil terus melahap cemilan yang tersisa di meja taman, "Khan
Lala udah pake cardigan...
"Maksud Om... Bukan badan kamu yang kedinginan... Tapi itu kamu tuh kedingingan nggak...?" Tanya Pandu sambil menunjuk kearah daster yang menutup selangkangan Lala yang kadang berkibar karena gerakan lincah tubuhnya, "Khan dari tadi apem kamu polos... Ga ada 'bungkus'nya... Hahaha."
"Apem tuh
maksudnya, Memek Lala..?" Sahut Lala yang kemudian mendekap selangkanganya,
"Hmmmm... Masih anget kok... Cuman memang bibirnya agak keriput dikit sih... Hihihi..." Tawa Lala dengan mulut masih penuh dengan makanan.
"Masa... Mana coba liat... " Seru Pandu yang segera melongok kebawah meja, mencoba melihat kondisi terkini dari vagina Lala yang tak bercelana dalam.
"Om Mau lihat...? Nilihhh...." Sahut Lala kemudian membuka tutup bawah dasternya dengan cepat.
Membuat Pandu sudah susah payah memicingkan matanya, masih saja tak dapat melihat dengan jelas karena hanya mendapat kibasan angin dasternya saja.
BLAP BLAP BLAP
"Keliatan gak Om...? Hihihihi..." Seru Lala terus mengibas-kipaskan bawahan dasternya
"Ihhhssss... Boro-boro keliatan memek... Yang ada mah Om jadi gelagepan gara-gara kena semburan angin dari dastermu, Neng...
" Seru Pandu yang kemudian melempar potongan cakue kearah
keponakannya, "Mana anginnya bau ikan asin... Amissss..!"
"Huuuuu... Enak aja bau ikan asin... Memek Lala mah wangiiii.... Hihihihihihi... " Tawa Lala benar-benar lebar. Seolah begitu senang dengan kekecewaan yang terpancar di wajah Pandu.
"Om ga bakalan percaya kalo ga nyium langsung ke sumber aromanya..." Seru Pandu yang lagi-lagi
melempar potongan cakwe ke arah Lala.
"Nih kalo ga percaya..." Sahut Lala yang kemudian dengan santainya merogoh selangkangannya.
Kemudian mencolek tengah bibir vaginanya dan menyodorkan jarinya ke Pandu.
"Hmmmm... Aroma memekmu, selalu bikin Om damai, Neng..." Sahut Pandu yang langsung menghirup dalam-dalam aroma vagina Lala yang menempel di jemarinya.
"Hihihihihi... Dasar Om Lala yang super Mesum...!" Tawa Lala cekikikan melihat kekonyolan Pandu.
"Mesumnya juga gara-gara kamu..."
"Ahhh enggak... Om tuh bener-bener mesum...! Tak ada tandingannya... Mutlak Cabul...!" Seru Lala sambil terus tertawa, "Bahkan sama Mama juga sering Om cabulin..."
"EHHH...?"
"Hihihihi... Ketahuan nih...." Seru Lala mencoba menyelidiki Pandu, "Pasti Om punya hubungan spesial dengan Mama yaaa...?"
"Nggg... Mama kamu khan.... Kakak kandung Om..."
"Kalo itu mah Lala juga tahu, Om..." Lanjut Lala, "Cuman maksud Lala bukan itu.. Pasti Mama ama Om Pandu punya hubungan spesial yang lain.... Karena ga mungkin, Om berani mesum seperti itu ke Mama, kalo kalian berdua gak punya hubungan spesial..."
"Mesumin gimana sih...?" Tanya Pandu pura-pura
"Nih ya... Lala tuh sering lihat... Om sering cium-cium tengkuk Mama... Om sering cium-cium kaki
Mama... Tangan Mama, perut Mama sampe ketek Mama..." Ungkap Lala mulai menjelaskan, "Om juga kalo Lala lihat, sering peluk Mama dari belakang... Sering cium-cium pipi jari Mama... Dan yang paling kelihatan aneh... Lala berulangkali lihat Om Pandu, keluar mengendap-endap dari kamar Mama..."
SIAL
"Kok...? Bisa-bisanya Lala merubah topik pembicaraan menjadi seperti ini..." Rutuk Pandu sambil berpikir keras. "Apakah Lala tahu dengan hubungan incest antara aku dan Mbak Winda...?"
"Hahahahaha.. Hayooooo... Om punya hubungan apa dengan Mama...?" Desak Lala lagi terus berusaha menyelidiki Pandu.
"Itu...Mmmmm... Mama kamu tuh....." Ucap Pandu kebingungan.
"Cieee.. Ga bisa jawab khan...?" Cecer Lala sambil memperlihatkan senyum-senyum setannya, "Om
Pasti suka nyabulin Mama Lala ya...?"
KAMPREEETTT
Pandu benar-benar merasa mati kutu menghadapi tuduhan Lala. Otaknya seolah berhenti berpikir.
Karena benar-benar tak bisa menjawab sama sekali semua pertanyaan keponakannya.
Dan yang paling membuat Pandu merasa aneh adalah, disaat genting seperti ini, ia merasakan jika kemaluannya makin mengeras.
Iya, penis Pandu makin mengeras saat Lala bertanya-tanya kemesuman Pandu terhadap Mamanya.
Membayangkan Lala mengetahui kemesuman yang sering ia lakukan bersama Winda, membuat birahi Pandu meledak-ledak. Sekilas pemikiran, ia jadi ingin melakukan seks bertiga dengan kakak kandung dan keponakannya ini.
"Ngggg.... Om sebenernya udah lama pengen ceritain ini ke kamu, Neng..." Ucap Pandu membuka suara," Hanya saja... Om khawatir kamu akan berpikir beda setelah mengetahui kenyataan yang terjadi antara Mamamu dan Om..."
"Haahh...?" Kaget Lala, "Jadi bener, Om...? Om punya hubungan special dengan Mama...? Bener berarti dugaan Lala selama ini... Om tuh sebenernya bukan paman Lala khan...?" Tebak Lala yang tiba-tiba memasang raut wajah serius, "Om tuh sebenernya pacar Mama yang berpura-pura jadi paman Lala...?
Bener begitu khan Om..?"
Pandu tak menjawab. la hanya menganggukkan kepala sambil meraih tangan Lala.
"Om tuh sebenernya... Ayah kandungmu..." Seru Pandu sambil menatap tajam kearah Lala.
"Om Pandu... Ayah kandung Lala...?" Tanya Lala dengan wajah yang terlihat begitu kaget. Matanya melotot dan ia harus mendekap mulutnya. Menahan emosi yang seolah ingin meledak saat itu juga.
BRAK BRAK BRAK
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA." Lala tertawa terbahak-bahak.
Memukul-mukul meja taman dengan keras karena mendengar kelimat yang Pandu ucapkan. Tubuhnya terguncang-guncang, karena tak mampu menahan lonjakan tawa yang begitu melegakan jiwa.
"Hahahaha...
Dasar Om Kampreeettt...! Mana mungkin Lala punya Ayah semesum Om gini...
Hahahahaha...."
"Kamu gak percaya, Neng...?" Heran Pandu melihat reaksi Lala.
"ENGGAK SAMA SEKALI...! Hahahaha..." Tawa Lala penuh keyakinan.
"Mana mungkin Lala bisa
ada
didunia dari pejuh lelaki super mesum seperti Om Pandu... Hahahaha...." Sambung Lala dengan nada bicaya yang cukup lantang. Sampai- sampai, beberapa penunjung di dibelakang Lala, buru-buru
menengok kearahnya.
"Ihhhsss Jahat...!"
"Hiyalah... Ga mungkin kaleeee Om... Hahahaha... Kalo emang Lala beneran lahir dari pejuh Om...
Kelakuan dan sikap Lala pasti udah rusak dari semenjak dulu..." Ucap Lala sambil mengusap air mata yang menitik di kedua sudut matanya, "Sumpah Om kok bisa lucu banget gini sih... Lala aja ga kepikiran Om bakalan ngejawab pertanyaan Lala seperti itu... "
"Jadi beneran... Kamu ga mau nerima kalo Om tuh bener-bener Ayah kandung kamu, Neng..."
"GA BAKALAN...!"
"Ihhhsss.. Yaudah...."
"Makanya Om... Jangan kebanyakan mesum.... Biar otaknya ga kepikiran coli mulu..."
"Huuusshhh... Lala... Nakal banget mulutnyaaa...!" Hardik Pandu
"Hihihihi... Abisan... Bener khan...? Om sering mikir mesum dan sering coli..?"
"Habisan... Om begini juga gara-gara kamu ama Mama kamu..."
"Laaahhh...? Kok bisa...?"
"Ya karena kamu dan mama, memang cantik dan menggairahkan sih... Jadinya bikin om sange terus...
Trus ujung-ujungnya.... Ngebikin Om pengennya coli melulu... Hahahaha...
"Hนนนนนน... DASAR OM MESUM...!!"
"Auk ahhh..." Sahut Lala memasang wajah kesal.
"Hmmmmm... Kamu makin cantik deh, Neng... Kalo cemberut gitu..." Puji Pandu yang menatap sayu kearah Lala.
"Terus kalo Lala cantik... Om mau apa...?"
"Pengen peluk..." Jawab Pandu singkat.
"Peluk aja...?" Tanya Lala menyunggingkan bibirnya.
"Emang boleh yang laen...?" Balas Pandu yang langsung berpindah ke belakang Lala.
Lala tak menjawab.
la hanya memutar duduknya kesamping dan lagi-lagi tersenyum manisnya. "Kalo cuman mau peluk...
Sini gih... Duduk dibelakang Lala..." Pinta Lala lirih sambil menatap ke arah kerlip lampu kota dibawah kaki bukit. Wajahnya datar, namun terdapat sebuah senyum tipis misterius yang kali ini Pandu tak bisa mengartikannya.
HEGGGG
"Om sayaaang banget ama kamu, Neng..." Ucap Pandu yang seketika itu mendekap tubuh mungil Lala di depan dada bidangnya, "Jangan suka kesel, jutek, atau bersedih lagi ya, Cantik... Bilang aja ama Om, kalo semisal kamu sedang butuh apa-apa..."
"Lala butuh duit Om... Duit yang banyakkk banget...." Celetuk Lala spontan dan berterus terang, "Lala
Butuh kesenangan... Lala pengen ketenangan... Dan Lala juga butuh kepuasan..."
"Haaah..? Neng butuh Kepuasan...?" Kaget Pandu sekaligus girang karena mendengar Lala menyebut kata yang sakral baginya. "Emang kamu butuh dipuasin seperti gimana sih, Neng...?" Lanjut Pandu yang kemudian mulai meraba-raba payudara Lala.
"Ihhhsss.. Om Panduuuu... Mesum banget deh otaknya... Maksud Lala... Bukan kepuasan yang kaya gituuuuu..." Ucap Lala yang buru-buru menutup area payudaranya dengan kedua tangan.
"Lha trus...? Kepuasan yang seperti apa...?"
"Lala pengen bisa ngelakuin banyak hal... Yang bisa bikin orang lain iri..." Sahut Lala
"Contohnya...?"
"Lala pengen bisa belanja apa aja, pengen makan apa aja, pengen pergi ketempat jauh tanpa takut kekurangan uang..." Jelas Lala, "Lala pengen bisa beli barang-barang yang lagi trend. Jauh lebih dulu dari temen-temen lainnya.... Pokoknya ya kaya gitu-gitu lah..."
"Emangnya Neng mau beli apa sih..?"
"Entahlah Om...
" Jawab Lala lirih sambil melihat-lihat handphone butut ditangannya. Handphone layar
sentuh yang bagian sudut kanannya sudah retak entah karena apa.
"Hmmmmm...." Pandu sepertinya tahu arah pembicaraan ini. la lalu memeluk tubuh Lala kuat-kuat, sambil menyesap aroma rambut dan tengkuk yang harum,
"Sepertinya... Kamu sedang galau karena
melihat temen deketmu kemarin sudah bergelimang harta ya, neng...?"
"Hah...? Galau...?"
"lya... Kalau Om boleh menebak... Kamu pengen kaya Nia khan...?"
"Nia...?" Ulang Lala yang kemudian menengok kearah Pandu, "Nia yang mana...?"
"lya... Nia... Temen kamu yang kurus begeng itu..." Jelas Pandu lagi, "Nia yang dulu sering numpang mandi dirumah... Yang dulu sering ikut makan siang bareng Mama... Yang setiap kerja kelompok, suka curi-curi pandang kearah Om..."
"Ngggg...." Lala tak menjawab. la kembali menatap lurus kedepan. Menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan.
"Bener nggak tebakan Om...?" Ulang Pandu, "Kamu pengen khan jadi seperti Nia...?"
"Emang Om tahu, Nia sekarang seperti apa...?"
"Nggak seberapa tahu sih...
"Terus kenapa Om menebak seperti itu...?" Tanya Lala
"Firasat aja...
." Jawab Pandu, "Dan juga, selain itu, Om kenal dengan cowoknya..."
"Om kenal Sugi...?" Tanya Lala sambil menengok kembali.
"Bukan...." Jawab Pandu cepat
sambil mengeluarkan handphone dari kantong celananya, lalu
menunjukkan sebuah photo kepada Lala. "Coba lihat... Ini siapa...? "
"Haahh...?" Mata Lala terlihat melebar, saat menatap layar handphone pamannya yang menunjukkan photo seorang gadis bertubuh kurus yang ia kenal. "Kok Om bisa dapet photo ini...?" Sambung Lala yang terus mengamati posisi wanita yang sedang telentang diatas kasur dengan hanya mengenakan bra dan celana dalam.
"Coba kamu geser ke photo selanjutnya..." Ucap Pandu lagi.
"Astaga... Om...? Ini khan...?" Kaget Lala menatap bergantian kearah layar handphone dan wajah pamannya sambil terus menggeser photo-photo didalamnya. "lya... Ini Nia..."
"Sekarang, lihat... Nama pengirim photo itu siapa...?" Pinta Pandu sambil menunjuk icon pesan singkat di aplikasi chatingnya.
"Johan.... Agen...?" Tanya Lala setelah membaca nama pengirim photo-photo itu. "Jangan-jangan.. Ini tuh... Johan yang...." Buru yang langsung menengok ke arah Pandu sambil menaikkan satu alisnya
"Hehehehe... Kaget, Neng...?" Tanya Pandu melihat keterkejutan Lala, "lya.. Itu Johan yang suka beli perawan memek-memek temenmu...
"ASTAGAAAA..." Ucap Lala buru-buru menutup mulutnya yang secara spontan terbuka lebar, "Jadi Om kenal dengan pacar Nia..."
"Waahh... Bukan kenal lagi sih... Johan mah temen maen Om saat masih kecil..." Senyum Pandu sedikit menyombongkan diri. "Jadi bener khan... Itu Nia yang bikin pikiranmu galau...?"
"Nggg.. lya... tapi Lala sebenernya bukan galau sih...." Jawab Lala setengah tak percaya dengan apa
yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, "Lala cuman..."
"Pengen punya kemewahan seperti Nia...?"
Lala tak menjawab. la hanya menghela nafas dalam-dalam.
"Oh kasih tahuin ya, Neng... Nia... Bukan cewek baik-baik ..." Ucap Pandu memberitahu.
"Ihhhsssss... Om Pandu sootoy deh...
"Beneran, Neng... Nia tuhh sekarang udah jadi... " Pandu menjeda kalimatnya, "Aduh... Gimana ya...
Om susah nyebut istilahnya... Nia tuh..." Pandu, berusaha mendapatkan kata yang cocok untuk menggambarkan sosok Nia sebenarnya.
"Perek...?" Sambung Lala menduga-duga.
"Bukan.. Kalo perek mah, Om udah bisa ngelihat dari tingkah lakunya...." Jelas Pandu terus mencoba berpikir lagi, "Nia tuh sekarang sudah lebih parah lagi ketimbang perek..."
"Ahhh.. Ngaco deh Om... Gak mungkinlah Nia jadi seperti itu..."
"Ihhsss.. Kamu tuh ya.... Masih aja gak percaya..." Seru Pandu gemes sambil mencari-cari sebuah video berdurasi panjang yang ada di hapenya, "Nih coba liat... Nia sama siapa...? Dan dia sedang apa...?"
"Laaahh...? Ini khan si Laras...? Kok dia tiduran telanjang gitu sih Om...?" Ucap Lala kembali menengok kearah Pandu
"lya... Lihat aja terus..."
"Hmmmm... Cewek yang sedang ngerokok di samping dipan itu... Sepertinya Nia deh..." Lanjut Lala mengamati video yang sedang diputar di handphone Pandu, "Lah...? Kok Nia tiba-tiba meganging kaki Laras, Om...? Ihhh... Ini video ga ada suaranya apa...? Lala jadi gabisa denger Nia ngomong apaan..."
"Kalo dari camera pengintai ya gitu, Neng... Ga ada suaranya..." Jelas Pandu, "Udah sekarang kamu liat aja terus itu kelakuan Nia... Abis gitu kasih pendapatmu tentang temenmu itu..."
"Ehh Ehhh... Itu siapa yang masuk ke kamar, Om..?" Tanya Lala heboh, "Kok tuh cowok sekarang telanjang...? Ehhhh...? Dia mulai naik ke dipan, Om... Trus tuh cowok ngebuka kaki Laras..."
"Nia... Bantuin Laras, Nia... Kok malah diem aja..!" Seru Lala makin heboh melihat video yang ada ditangannya. "Jangan biarin cowok gendut jelek item dan jerawatan itu ngentotin Laras... Ihh ihhh... Itu Laras menangis Om... ? Kok Nia cuman diem aja sih...? Ngelihat Laras dientotin Om gendut itu...?
Astagaaaa... Memek Laras sampe berdarah-darah gitu, Om... Dan Nia kok sama sekali ga ngebantuin
Laras....?"
"Itu... Nia belajar jualan, Neng..." Jelas Pandu menjawab semua pertanyaan Lala, "Dia mencoba jadi makelar untuk jual-jualin temen-temen kamu buat dijadiin barang dagangan ke Om-Om senang..."
"ASTAGAA.... Ini beneran gak sih, Om...?" Ucap Lala seolah tak percaya.
"Duh... Kamu kurang bukti apa lagi sih Neng Lalaku sayaaanngg..." Kesal Pandu melihat kenaifan keponakannya, "Ini khan udah jelas-jelas kalo Nia tuh cewek gak bener..."
"Hmmmm... lya sih..."
"Nah... Kalo kamu udah tahu... Mendingan mulai sekarang, kamu jangan maen ama Nia lagi deh... "
"Kenapa Om.?"
"Om khawatir kalo kamu sering jalan ama Nia... Kamu juga bakalan dijual ke Om-Om itu..."
"Ngggg... Kalo misalnya..." Lala menjeda kalimatnya. Melihat kearah Pandu yang masih terus memeluk tubuhnya dari belakang. " Misalnya Lala sampe dijual sama Nia ke Om-Om mesum itu... Kira-kira Lala bisa laku berapa ya, Om...?" Celetuk Lala sambil mengusap paha dalam Pandu lagi.
"Eehhh...? Apa...?" Kaget Pandu, "Kok kamu nanya gitu...?"
"Yaaaa.. Pengen tahu aja sih... Hihihihihi..." Tawa Lala sambil mengusap selangkangan Pandu yang sudah begitu keras dibelakang pantatnya.
"Ihhh.. Emang kamu mau dijual Nia...?"
"Yaaaa... Daripada memek Lala kehilangan keperawanannya ini..." Seru Lala yang kemudian meremas tonjolan penis Pandu dibelakangnya.
"Uhhhh.
"Om kok udah ngaceng aja sih...?"
"Gimana gak ngaceng kalo kamu berandai-andai jual memek kamu ke Om-Om senang...?"
"Gini deh Om... Om Pandu khan tahu banget nih kondisi memek Lala seperti apa..." Ucap Lala sambil terus mempermainkan penis Pandu, "Bentuknya seperti apa... Bibirnya seperti apa... Lubangnya sebesar apa... Sampai aromanya kaya gimana khan Om udah tahu banget..."
"lya..."
"Nahh... Terus khan Om Pandu ga rela kalo Lala menjual perawan memek Lala ke Om-Om seneng..."
"Hmmm.. Om ga paham maksud pertanyaanmu, Neng..."
"Hihihi.. Dasar..." Kekeh Lala, "Otak kalo isinya memek mulu ya gini nih jadinya..."
"Hahahaha. Kampret..."
"Kalo sekarang Lala pengen jual keperawanan memek Lala ke Om... Kira-kira Om mau beli dengan harga berapa...?"
"Haaahh...? Sekarang...?" Kaget Pandu sambil celingak celinguk.
"lya sekarang..
"Nggggg....." Bingung Pandu mendapat pertanyaan dadakan dari keponakannya.
"Tuh khan... Om aja ga bisa jawab..." Keluh Lala sambil tersenyum tipis.
"Jadi... Ketimbang Lala jual memek ini ke Om Pandu yang ga bisa kasih Lala apa-apa... Mending Lala jual memek Lala ini ke Om-Om itu.. Hihihihi.."
Bersambung,
0 Komentar