ADAPTASI PART 48

 

POV 


BAGAS






3 hari setelah pertarungan di lereng gunung




“Kakek harus dapat hukuman!”


“Halah, selama di sini baru kali ini kamu menang bermain catur denganku.”


“Kakek selalu curang !”


“Apa yang kamu maksud curang?”


“Kakek selalu memberikan hukuman yang menyusahkan !”


“Mana bisa aku berkonsentrasi untuk mengalahkanmu, saat menjalani hukuman.”


“Dengarkan Gaas!”


“Kelak kamu akan menghadapi keadaan terhimpit bersamaan di mana kamu harus berfikir cepat.”


“Semakin kamu bisa menguasai keadaan, semakin banyak peluangmu untuk menanggulanginya.”


“Terimakasih Kek.” ucapku, sembari kucerna semua kata-kata dari Kakek Bungkuk.




Semua bersumber dari satu kata ADAPTASI




Di manapun kita berada, kondisi apapun yang kita alami atau beratnya tantangan yang kita jalani maupun seperti apapun musuh yang kita hadapi, kuncinya hanya satu ADAPTASI.






Telegram : @cerita_dewasa






Sehari kemudian...




Sore hari di mana hujan turun dengan derasnya. Aku berdiri di tengah hujan lebat, dengan bertelanjang dada. Aku berdiri di bawah tebing setinggi 15 meter. Di atas tebing telah siap kakek bungkuk. Kali ini kami akan melakukan latihan untuk mempertajam insting yang kupunya. Tak hanya itu, kembali mataku tertutup oleh kain hitam.




“Kau siap Gaas?”




Kuanggukan kepala. Aku merasakan benda bergerak berjatuhan dari atas tebing.




Wuuuzt!!!


Dagh!!




Aku bergerak ke kanan untuk menghindarinya.




Wuuuzt!!!


Dagh!!




Kembali aku bergerak ke kiri dengan cepat.




Wuuuzt!!!


Dagh!!




Wuuuzt!!!


Dagh!!




Kuhindari dua benda jatuh dengan melompat sembari melakukan gerakan salto ke depan. Tiba-tiba hening tak ada lagi benda yang jatuh dari atas.




“Jangan cuman dihindari Gaas!”


“Coba kau pukul, tendang atau halau benda tersebut!”




Terdengar suara Kakek dari atas tebing memberikan perintah padaku.




“Siap Kek!” teriakku.




Wuuzt!!!


Duagh!!!




Wataaaaaw!!!




Sakit...




Wuuzt!!!


Buuaaagh!!!




Aaaaaaaaaaaw!!!




Wuuuzt!!!


Buuaaagh!!!




Aauuw!!!




Wuuzt!!!


Duagh!!!




Wataaaaaw!!!




Jujur sakit sekali melakukan pukulan ataupun tendangan untuk menghalau benda-benda yang bergerak jatuh dari atas tebing.




Wuuzt!!!


Buuaaagh!!!




Aaaaaaaaaaaw!!!




Wuuuzt!!!


Buuaaagh!!!




Aauuw!!!




Wuuzt!!!


Duagh!!!




Wataaaaaw!!!




Sakit, kurasakan tangan dan kakiku pasti lebam.




Wuuzt!!!


Buuaaagh!!!




Aaaaaaaaaaaw!!!




Wuuuzt!!!


Buuaaagh!!!




Aauuw!!!


Aaaaaaaaaaaw!!!




Tapi semakin lama, seperti telah menyesuaikan dengan kondisi, kedua tangan dan kakiku tak merasakan sakit kembali.




Wuuuzt!!!


Buuaaagh!!!


Wuuzt!!!




Duuaaagh!!!




Masih dengan guyuran hujan, tangan dan kakiku sibuk menghantam benda yang berjatuhan kearahku.




Wuuzt!!!


Duuaaagh!!!


Wuuuzt!!!


Buuaaagh!!!




“Cukuuuup!” terdengar suara Kakek.




Perlahan kubuka kain hitam, penutup mataku. Aku sempat membelalakan mata. Terlihat beberapa puluh buah kepala hancur akibat ulahku. Ternyata benda yang berjatuhan tersebut adalah buah kelapa.




Pantas keras!!!




Latihan kali ini pun akhirnya kami sudahi, aku dan dan kakek pun pulang ke rumah.






Telegram : @cerita_dewasa






Malam harinya, aku sedang duduk bersantai menikmati dinginnya malam, di gasebo yang berada di depan rumah kuno milik kakek bungkuk.




“Diminum Gaas!”




Terlihat kekasihku April membawakan secangkir kopi.




“Thank Pril.”




Tanpa menjawab, April bergerak dan duduk di sampingku. Aku menyempatkan menyerutup kopi buatan kekasihku tersebut.




"April nyaman tinggal disini gas." ucap kekasihku sembari mengubah duduknya membelakangiku, sehingga punggung kami saling menempel.


“Gitu ya Priil?”


“Hu’um”


“April suka suasana di sini Gaas.”


“Tenang, adem jauh dari hiruk pikuk perkotaan.”


“Iya bener Priil”


“Ngomong-ngomong, gimana latihan tadi Gaas?”


“Sepertinya Bagas bisa ngelewatinya dengan baik Priil.”


“Seeep!”


“Harus donk Gaas!” Sembari April mengacungkan jempolnya kearahku.


“Priil...”


“Yup Gaas?”


“Sepertinya kamu benar.”


“Tentang?”


“Kakek Bungkuk memanglah orang yang baik.”


“Nah kan, apa April bilang Bagaas!”


“Dibalik sifat menyebalkannya...”


“Hahahaha...”


“Kamu sih Gaas mbangkang mulu.”


“Bukan Bagas yang salah Aaaapriiiiil!”


“Tapi kakek bungkuk memanglah sangat menyebalkan!”


“Udahlah malah bahas kakek mulu...”


“Iya iya...”


“Ngomong-ngomong sampai kapan kita berada di sini Gaas?”


“Kamu tanya Bagas, trus Bagas tanya siapa Priil?”


“Hihihi, kita di sini trus aja gimana Gaas?”


“Diih itu maumu Priil!!!”


“Gaas, pinjem pahamu.”




Kuanggukan kepala. Terlihat kekasihku tersebut bergeser dan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Sembari tubuhnya berbaring terlentang di lantai gasebo.




“Lah malah bobo di sini.”


“Biarin!!”


“Pahamu nyaman buat bantal Gaas!”


“Diih dasar...”




Tak lama kemudian kekasihku memejamkan matanya. Tak urung ku usap-usap kepalanya, berharap kekasihku merasa semakin nyaman. Terlihat April tersenyum masih dengan menutup matanya. Hanya butuh waktu sebentar, terdengar suara lirih napas teratur yang keluar dari mulut mungil kekasihku.




Terlihat april bergeser, meringkukkan tubuhnya mungkin karena udara malam semakin dingin. Kuputuskan untuk membuka jaket yang kupakai, sembari menutup tubuh kekasihku yang hanya mengenakan baju tidur yang tipis. Kubiarkan kekasihku tersebut tidur di pangkuanku, selama yang dia mau.




Kemudian aku kembali terhanyut akan lamunan panjang, di mana sempat terganggu oleh kehadiran April tadi. Lamunan akan perjalanan panjang hingga ku berada di sini. Bertemu dengan orang-orang hebat. Bukan hanya bertemu, aku malah diperbolehkan menimba ilmu dari mereka. Dengan senang hati mereka membuatku kuat.




Ree...


Om jack...


Nadia...




Dan seorang lagi yang berada di dekatku dan tidur di pangkuanku saat ini.




Aprilia...




Aku sangat beruntung mendapatkan dia. Kekasih dengan penuh perhatian. Perhatian tergambar dari galaknya dan manjanya.




Galak tapi manja!!!


Manja tapi galak!!!




Dia memang galak namun manja. Bagas suka galaknya,terlebih menyukai manjanya..




Masih terus kuusap kening berponi milik kekasihku tersebut. Terlihat semakin pulas dia menikmati tidurnya.






Telegram : @cerita_dewasa






4 hari kemudian...




Di pagi hari, aku dan April berada di dapur. Kami disibukan acara memasak. Tadi pagi buta, kakek bungkuk memintaku untuk menangkap beberapa ikan di kolam.Kata beliau, akan datang seseorang untuk sekedar berkunjung.




“Kebanyakan kamu ngasih garam Priil!”


“Pas tauk Gaas!”


“Nih cicipin gih!”




Fiuuuh... fiiiuuuh!!!




Terlihat kekasihku meniup kuah sup menggunakan sendok, sembari menyuapkan kepadaku.




“Asin Priil!”


“Enggak Bagas, udah pas!”


“Enak tauk!”




Malas berdebat dan memperpanjang masalah. Kuputuskan menyingkir. Membiarkan kekasihku tersebut, sibuk memasak sendirian. Namun beberapa saat kemudian, aku melihat april sedikit kesusahan untuk mengatur kayu bakar di dalam tungku. Aku kembali beranjak maju untuk membantunya. Terlihat April masih meniup-niup tungku tersebut.




“Sini biar Bagas.”


“Telat!” ucapnya ketus.




Terlihat api di dalam tungku telah menyala kembali. Namun terlihat juga kening dan pipi milik kekasihku sedikit menghitam, terkena arang. Kuputuskan untuk mendekat dan mengusap noda tersebut.




“Gaaas...” ucap kekasihku lirih, saat tangannya menyentuh tangan yang kugunakan mengusap pipinya.


“Kotor Priil.”


"Makasih...”




Cuup!!!




Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mencium kening kekasihku yang sedikit dibasahi peluh, karena panasnya udara di dapur.




“Kecuuut...”




Nyuuut!!!




Aaauw...




Seperti biasa sebuah cubitan kembali bersarang di tubuhku, saat kekasihku tersebut terlihat ngambek.




“Kecut aja kamu mau nyium, weeek!” sahut kekasihku, sembari terlihat kekasihku tersebut menjulurkan lidahnya.




Gemas melihatnya. Kupeluk secara tiba-tiba saat kekasihku tersebut membalikkan tubuhnya.




“Apa sih Gaas!”




Terlihat dia memberontak menerima pelukanku.




“Bagas kangen Priil!”


“Gaas, lepas!”


“Malu ntar kalo Kakek liat!”


“Biarin!”




Aku semakin nekat. Kubalik tubuh kekasihku tersebut, merunduk sembari memburu bibir mungilnya.




Cuup!!




Bibir kami saling bertemu. Kembali kurasakan bibir mungil, dengan tekstur lembut yang dimiliki kekasihku.




Clup!!!




Hanya sebentar…




Tiba-tiba april berjinjit dan...




Cuuup!!!




Terasa bibir mungil miliknya mulai memagut bibirku. Dengan liar dan napsu menggebu, April sengaja memancingku dengan menjulurkan lidahnya masuk kedalam mulutku..




Lembut...


Hangat...


Basaaaah...




April semakin lihai menjulurkan lidahnya kedalam mulutku. Perlahan kuhisap lidah lembutnya. Terasa tangan kekasihku tersebut melingkari leherku, sembari terlihat mata sayu berhias sofline biru milik kekasihku tertutup perlahan. Tak tinggal diam, sembari tanganku membalas melingkar, memeluk pinggang ramping milik kekasihku.




Lama...


Kami saling mengadu mulut...


Lidah kami saling terpagut...


Rasa haus membuat kami saling menghisap liur...




Cluup!!!




Terasa kekasihku memundurkan kepalanya, melepas pagutan dari mulut milik kami berdua.




“Gaaaaas...” Suara mesra kekasihku terdengar sembari terlihat matanya terbuka, memandangi wajahku dengan sayu.


“Iyaa Priiil?”


“Nakaaaaal!” serunya.


“Hmmm... kenapa?”


“Pagi-pagi bikin April pengen!”


“Salah?”




Cuuup!!!




April kembali berjinjit dan tiba-tiba menciumku lagi. Kembali mulut mungilnya melumatku. Tak pelak kembali kami berciuman dengan penuh birahi. Tangan April mulai meraba dadaku. Sembari tanganku meremas pantat miliknya.




“Bagas!”


“Apri!”


“Sudah selesai kalian memasak?”




Tiba-tiba terdengar suara teriakan kakek dari tengah ruangan rumah. Sontak teriakan tersebut membuat kami kaget dan spontan melepas ciuman.




“Hahahaha...”


“Hihihihi...”




Kami saling memandang, sembari tak lama kemudian kami tertawa bersamaan.




“Huuu... kamu sih Gaas!”


“Kok Bagas?”


“Maen nyosor aja tadi!”


“Trus!”


“Yuuuk lanjut dikamar!”




Gayung bersambut, tak ada kata menolak dalam kamus Bagas kalo soal diajak bobo bareng.




“Hayuk...”


“Berangkaaaaaaat!”






Telegram : @cerita_dewasa






Siang harinya…




Sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah kuno kediaman milik kakek bungkuk. Tak lama kemudian terlihat dua orang keluar dari mobil. Satu pria, yang pernah aku lihat bersama april, atau yang biasa april panggil Kak Rian. Satu lagi, seorang wanita seumuran tante-tante namun masih nampak terlihat menarik.




Entahlah siapa wanita tersebut, namun pesonanya membuatku tak jemu untuk terus memandanginya. Mengikuti setiap gerakan tubuhnya.




Cantik...


Wanita tersebut sangatlah cantik di usianya yang telah sangat matang!!!


Tak hanya itu...


Bodinya juara!!!


Di mana lekukan pantatnya terlihat padat dan kencang!!!


Ditunjang payudara yang terlihat sangat besar!!!


Setiap gerakannya menunjukan keanggunan...


Indah!!!


Sexy...


Menggoda...




Wanita tersebut sangatlah menggoda, walau memakai busana yang cukup sopan. Daya tarik wanita tersebut, sangat kuat.




Entahlah...




Tak lama kemudian, kami berlima. Aku, April dan Kakek Bungkuk, bersama dua tamu tersebut terlibat obrolan ringan, setelah sebelumnya kami menyempatkan makan siang bersama. Di mana inti dari obrolan kami, adalah ajakan Kak Rian dan juga Tante Linda atau Mrs Snake untuk mengajak kami pulang.




Aku baru tau wanita yang datang bersama Kak Rian tersebut adalah Tante Linda atau Mrs Snake, dia master keempat yang akan mengajarku. namun sesuatu kejadian di mana insiden terlukanya Om Belut membuat masa pelatihanku ditunda atau batal.




Pantesan April beneran cemburu sama Tante Linda. Sial, gak bisa aku bayangkan betapa bahagianya tinggal selama sebulan dengan Tante Linda. Pasti sangat menyenangkan. Bisa menikmati memandang lekuk tubuh -nya setiap hari.




Saat sore menjelang mereka berdua pamit pulang. Hanya aku dan April yang mengantar hingga depan rumah.




“Gaaas...”


“Gaaaaaas...”


“Bagaaaaaaaaas!”




Nyuuut!!!




Aaaauuuw!!!




“Sakit Pril!”


“Kamu dari tadi liat apaan?”


“Ga liat apa-apa Priil.”


“Mulai bohong!”




Nyuuuuuut!!!




“Wataaaaaauuuuu!”


“Sakit Priiil!”


“Uda berani boongin April, ya kamu Gaas?”


“Apaan sih!”


“Bagas salah apaan?”


“Kamu pikir, April ga tau dari tadi kamu liatin Tante Linda melulu?”


“Huuuaaaa ampuuun Priiil!”




Kembali ke obrolan kami tadi. Entah mengapa, April kekasihku bersih keras untuk tetap tinggal di sini. Dan menolak ajakan Kak Rian dan Tante Linda tadi. Dia bersih keras memegang janjinya untuk menunggu kedatangan Om Belut.




Tak lama kemudian, setelah kepergian mereka...




“Dia sebentar lagi datang.” ucap Kakek Bungkuk.


“Maksud Kakek?”


“Tamu yang Kakek tunggu Gaas.” ucap Kakek.


“Sebentar, bukannya Kak Rian dan Tante Linda tamu yang kakek maksud?” sahut kekasihku April.


“Mereka tamu kalian, bukan Kakek.”


“Tapi Kakek mengenal mereka kan?”


“Kakek baru bertemu mereka tadi Gaas dan dipastikan dalam waktu dekat mereka akan menemui kalian lagi.”




Seketika aku dan April saling memandang. Dalam benak aku bertanya-tanya, kenapa mereka bisa menemukan kami dengan mudah. Berarti tadi aku dan April salah duga, maksud dari yang dikatakan kakek sebagai tamu. Instingku mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat ini.




Entah kita lihat nanti...








Telegram : @cerita_dewasa








POV 


JULIAN






Aku sedang berada di dalam mobilku yang sedang terparkir, di depanku berdiri gedung kosong di mana beberapa mobil baru saja keluar dari pelataran bangunan tersebut.




Sesaat setelah kepergian mereka...




Aku sempatkan untuk tersenyum sinis. Sembari membuka folder foto di dalam ponsel, melihat beberapa foto yang sempat kuambil dalam peristiwa pembantaian di sebuah rumah elit, beberapa hari yang lalu.




“Kau sangat bodoh, Paman.” gumanku.




Tak lama kemudian kutulis pesan, sembari mencantumkan beberapa foto dan mengirimkannya melalui salah satu aplikasi chatting online.




*


**


***​




Malam harinya...




Di sebuah tanah lapang, di atas sebuah bukit, di pinggiran kota.




“Keluar kau!” Terdengar suara teriakan dari pria tua menyadari kehadiranku.












BERSAMBUNG





Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar