BERSILAT LIDAH
POV
Julian
Di sebuah tanah lapang, di atas sebuah bukit di pinggiran kota.
“Keluar kau!” Terdengar suara teriakan dari pria tua menyadari kehadiranku.
"Oups....ketahuan!" Gumamku membatin. “Selamat malam, Paman.” ujarku mencoba bersikap sopan pada pria tua di hadapanku ini.
“Siapa sebenarnya kau? Dari siapa kau mendapat nomor telephone-ku? Dan apa tujuanmu?” tanyanya penuh curiga dan terkesan bernada emosi.
“Hohoho.” Tawaku santai. “Tenang Paman waktu kita masih panjang, bertanyalah satu persatu.”
“Jawab siapa kau sebenarnya?” ucapnya dengan nada tegas, dan sedikit emosi.
“Tak perlu kau tau siapa aku, Paman.” sahutku santai.
“Brengsek!” Umpatnya marah.
“Kujawab pertanyaan kedua. Hal yang sangat mudah untukku, mendapatkan nomor ponsel pimpinan puncak dari "criminal cleanser" . Dan untuk yang pertanyaan ketiga. Aku hanya ingin memperlihatkan ini!” ujarku dengan santai sambil kuberikan beberapa lembar foto yang sempat terlebih dulu kucetak tadi.
“Bajingan kamu!” ucapnya penuh emosi.
Dan, tiba-tiba...
Pria tua itu bergerak dengan cepat mencengkram kerahku.
Braaaaakkk....
Tubuhku dibenturkan ke arah tumpukan tong kosong.
“Kau pelaku di balik kematian mantan istri, mantan adik ipar dan putriku? Saya tak mengenalmu. Saya juga tak pernah berselisih denganmu. Apa maumu sebenarnya, hah?” Pria tua itu terlihat semakin emosi.
Lalu, tiba-tiba....
Duuaagghh!!
Braaaakkk...
Kembali pria tua itu melayangkan sebuah tendangan.
Tak hayal, tubuhku terhempas menabrak tumpukan krat kayu yang berada di sisi kiriku.
“Cukup!” Teriakku lantang. “Aku kemari bukan untuk bertarung denganmu!”
“Saya beri waktu lima menit untuk menghentikan niatku membunuhmu!” ucap pria tua itu tegas dan tidak ada sorot mata main-main lagi.
“Jujur Paman, pada saat terjadi pembantaian ketiga wanita yang tak lain; mantan istri, adik ipar dan putrimu, aku memang berada di lokasi kejadian tersebut.” jawabku sebenarnya.
“Brengsek!” ujarnya marah dan terlihat pria tua itu mengepalkan tangan siap menghantamku.
Tetapi aku memberi kode padanya untuk mendengarkan penjelasanku hingga selesai.
“Namun, aku bukanlah dalang di balik peristiwa itu.” ujarku menjelaskan.
“Lalu siapa, hah?” tanyanya tak puas dengan jawabanku barusan.
“Kau tahu Paman. Aku adalah keponakan Srigala Utara dan aku anak dari Srigala Putih.” ucapku memberitahu.
“Kau anaknya, Niken?!” tanyanya terlihat kaget dengan penjelasanku barusan.
“Iya betul, Paman.” sahutku cepat.
“Teruskan ceritamu!” ujarnya memberikan kesempatanku berbicara panjang lebar.
“Aku dipihakmu, Paman. Aku sepertimu, yang gila kekuasaan dan membenci yang dinamakan keluarga!” ucapku memberitahu alasanku.
“Maksudmu?” tanyanya bingung.
“Sudahlah, Paman! Tidak usah kau tutup-tutupi lagi, aku tahu kau ada di balik misteri hilangnya Harimau Jawa dan Singa Gurun!” ujarku menyindirnya bahkan terkesan menuduhnya.
“Kau menuduhku?” tanya pria itu tidak senang.
“Aku tidak menuduhmu. Sebuah penjara yang disebut-sebut sebagai tempat yang sangat kau rahasiakan, kau dan sebagian orang kepercayaanmu menamainya “neraka terpendam”. Di sanalah kau sembunyikan mereka berdua kan?” ucapku tegas sembari menatap matanya!!!
“Bajingan!” ucap pria tua itu marah. “Apa maumu?”
“Sekali lagi, aku ada di pihakmu Paman. Aku juga muak dengan keluargaku. Sekilas kita mirip bukan?” jawabku santai.
“Jelaskan inti dari semua bualanmu!” ucap pria tua itu penasaran.
“Oooo...! Ternyata lebih dari lima menit, Paman.” Seruku sambil tersenyum. “Kau tak jadi membunuhku?”
“Teruskan!” Pria tua itu dengan tegas memintaku untuk terus menjelaskan apa yang kumau.
“Kau tahu sebagai keponakan, aku pastinya berada di pihak “dark forces” dan tidaklah mungkin aku akan bertindak melindungi keluargamu, saat peristiwa pembantaian ketiga wanitamu itu. Aku hanyalah sebuah pion Paman. Namun aku ingin menjadi “seorang raja” dan aku butuh bantuanmu!”
“Yang kau maksud Srigala Utara di balik peristiwa itu?” tanyanya nampak kaget.
“Tepat sekali Paman. Aku yakin salah satu pelaku yang kau biarkan hidup telah memberitahumu ‘kan?” kataku langsung menuduhnya.
“Bajingan! Jelaskan apa motif Srigala Utara!?” tanyanya dengan nada mulai meninggi.
“Pamanku merasa lebih pantas berada di kursi yang kau duduki! Rasa kekecewaan mendalam yang membuatnya dendam dengan penyandang nama Soetedja. Pamanku merasa jasanya selalu tak pernah dihargai oleh pemerintah. Berbeda dengan nama harum Soetedja dan Rahardja. Semua itu membuat Srigala Utara berambisi menghancurkan kalian satu per satu. Dengan menghancurkan kalian satu persatu, maka Srigala Utara akan dengan mudah pula menghancurkan pemerintahan atau bisa dikatakan kudeta akan terjadi dengan mudah. Kau tahu Paman, Srigala Utara telah menjalin hubungan baik dengan Singa Hitam. Srigala Utara menggunakan dendam lama untuk merayu Singa Hitam mencari kebenaran, tentang adiknya yang selama ini kau sembunyikan dan mereka berdua tak lama lagi akan melenyapkanmu.” Terangku.
“Kau yakin dengan itu?” tanyanya serius.
“Sangat yakin. Dengan hilangnya satu di antara tiga kekuatan besar, pasti yang paling diuntungkan adalah Srigala Utara.” jawabku memberitahunya dengan analisaku.
“Maksudmu?” tanya pria tua itu penasaran.
“Karena Singa Hitam hanya butuh adiknya ditemukan, dia sudah tak mau berurusan dengan pemerintahan. Berbeda denga Srigala Utara, dalam diam dia sangat membenci pemerintahann dan dengan takluknya “criminal clenser” maka dipastikan tak ada lagi yang akan menghalangi Srigala Utara.”
“Kenapa kau ceritakan semuanya kepadaku?” tanya pria tua itu nampak heran sekaligus penasaran.
“Sudah kutekankan diawal bahwa aku benci dengan keluargaku.” Jawabku cepat dan tegas.
“Apa imbalan yang kau minta?” Pria tua itu nampaknya mulai tertarik.
“Bantu aku melenyapkan Srigala Utara, dan aku akan bantu kau melenyapkan putra Harimau Jawa.”
“Hahaha...” Tawanya kencang. “Kenapa kau kira aku mau kerja sama dan butuh bantuanmu?”
“Tak bisa dipungkiri, kau butuh partner yang hebat untuk bertahan!” kataku berusaha membujuknya.
“Kau kira aku butuh bocah ingusan sepertimu! Belum cukup untukmu, jika dengan mudah aku menghancurkan Harimau Bungsu. Kau harus berterima kasih denganku!” ujarku memberitahu.
“Kau pelakunya?!” tanyaku kaget.
“Iya.” Jawabku yakin dan mantap.
“Kenapa tak kau lenyapkan, Bungsu?” tanyanya heran.
“Percayalah Paman, Bungsu akan kuurus nanti! Aku punya urusan pribadi dengannya.” Jawabku meyakinkannya.
“Baiklah...! Aku mempercayaimu!” sahut pria tua itu. “Akan kuberikan alamat keponakanku dalam waktu 3 hari ke depan dan akan kuperintahkan dua orangku untuk mencari keberadaannya!”
“Baiklah..! Lebih cepat, lebih baik Paman.” Sahutku senang. “Aku akan menunggu kabar darimu.”
“Untuk terakhir kalinya saya bertanya siapa kamu?” tanyanya penasaran.
“Aku Julian.” Kataku memperkenalkan diri. “Dan kau tak perlu memperkenalkan diri karena semua orang tahu kau adalah “Macan Kumbang” ‘kan?”
“Hahaha...” Tawanya puas.
Kuputuskan berjalan meninggalkan pria tua tersebut.
Telegram : @cerita_dewasa
POV
Nadia
Aku masih terus saja membuntuti Julian. Kali ini aku berada di belakang tumpukan tong, di mana saat ini Julian ternyata sedang bertemu dengan “Macan Kumbang”. Dengan jelas aku mendengar semua yang dibicarakan antara mereka berdua.
"Licik. Julian sangat licik! Dia berusaha mengadu domba antara "macan kumbang" dan "Srigala utata"." Gumamku membatin setelah mendengar pembicaraan mereka.
Namun yang jadi perhatianku adalah tentang Bagas. Di mana Julian akan mencari keberadaan Bagas? Fokusku mencari tau siapa yang akan diperintah oleh “Macan Kumbang” mencari Bagas?
Sebuah mobil jenis jepp sedang melaju kencang menuju ke kota sebelah, dan aku terus mengikuti mobil jepp tersebut dari jarak aman supaya mereka tak menaruh curiga. Ternyata orang yang berada di dalam mobil itu adalah dua master “criminal clenser”, Rian si Elang dan Linda si “Ular Beracun” genit. Aku terus mengikuti mereka karena aku yakin kalau mereka berdua adalah utusan yang dikirim okeh “Macan Kumbang” untuk menemui Bagas.
Aku bukan asal tebak, melainkan sebuah prediksi. Dan prediksiku tak akan salah karena jam tangan yang Bagas pakai mempunyai fitur GPS. Di mana setiap “master” mempunyai kode untuk men-singkronisasi dengan gadget yang mereka punyai. Dan pastinya “Macan Kumbang” juga mengetahui hal itu.
“Macan Kumbang” pasti menggunakan mereka, mengingat hanya 3 (tiga) orang master yang tersisa dan dalam kondisi baik. Namun dari ketiga master itu salah satunya “Phoenix” dan aku yakin kalau “Phoenix” pasti bersama dengan Bagas dalam pelariannya karena “Phoenix” merupakan kekasihnya Bagas.
Dih!
Mengingat apa yang dilakukan Bagas yang saat itu begitu mengkhawatirkan keadaan “Phoenix” bikin hatiku sakit, dan cemburu. Iya, aku bener-bener cemburu. Mungkin otakku lagi kacau bisa sangat menyukai Bagas. Aku benar-benar seperti orang gila.
Kangen.
Kangen banget sama Bagas.
Beberapa hari nggak ketemu Bagas kayaknya lama benar.
“Duh, Nad...! Ingat umur, donk!” kata hatiku berbicara.
“Iya, iya, aku tau kok.” Jawab hatiku yang lainnya.
“Tapi apa salah kalo aku menyukai Bagas?” kata hatiku berbicara lagi.
“Kalo emang aku salah. Biarlah jadi kesalahan terindah. Kalo mencintai Bagas adalah dosa. Biarlah jadi dosa yang termanis.”
“Emang ada dosa yang manis, ya?” tanya hatiku.
“Hmm....anggep aja ada.” Jawab hatiku yang lainnya.
Bagas.
Bagas.
Bagas.
Cakep.
Cakep habis kamu tuh!
Nggak ada bosannya lihat muka cakepnya Bagas.
“Phoenix. Apa kelebihan gadis itu?” tanya hatiku.
“Hmm...soal cantik, kayaknya masih cantikan aku deh.” Jawab hatiku yang lainnya dengan pede.
“Soal sexy?" tanya hatiku.
“Jauhlah...aku pastinya lebih sexy.” Jawab hatiku yang lainnya dengan yakin.
“Duh, kok aku malah mikirnya ke mana-mana?” Gumamku membatin.
Kembali ke tujuanku mengikuti Elang dan si genit Linda. Aku dengan sengaja mengikuti mereka.
Bukan.
Bukan.
Bukan karena sebuah misi atau pun perintah dari seseorang.
Aku memang berniat mengikuti mereka, untuk kepentinganku sendiri yaitu Bagas.
Karena khawatir hal buruk akan menimpa Bagas. Rasa sayangku, membuatku beranikan diri untuk ambil keputusan mengikuti mereka berdua. Dan masih ada satu lagi, tapi aku malu untuk terbuka.
Hmm...
Hmm...
Hmm...
Aku kangeen pake banget.
Pake banget sekali sama Bagas.
Huhuhuuu...
“Lebay, ya? Biarin, weekkkss. Mau lebay kek. Mau dibilang alay kek. Emangnya aku pikirin.”
“Bagas...kamu tahu nggak, kalo aku kangen banget? Kamu kangen juga nggak sama Nadia! Atau jangan-jangan kamu lagi bergembira berduaan sama “phoenix”, ya!”
“Huuft...! Menyebalkan! Hmm...tapi ‘kan mereka pacaran. Mereka sama-sama suka.”
“Apa hakku buat melarang mereka? Apa hakku nyemburuin phoenix?” tanya hatiku.
“Aku nggak peduliin hal itu.” Jawab hatiku lainnya seperti mengabaikan kata pertanyaan hatiku.
Cemburu. Ya, aku cemburu. Aku cemburu karena aku sayang Bagas. Titik. Nggak pake koma.
Telegram : @cerita_dewasa
Tak terasa aku telah memasuki jalanan sebuah kampung yang berada di kota sebelah, aku sengaja mengambil jarak lumayan jauh untuk mengikuti mereka, agar mereka berdua tidak menaruh curiga.
“Takut kehilangan jejak?”
Gak mungkinlah karena aku sangat ahli dalam hal penyamaran dan pengintaian.
Sempat tadi mereka berbelok dan berhenti sejenak di sebuah restoran untuk makan. Bersamaan dengan itu, aku memasang sebuah GPS tracking di mobil yang mereka pakai.
Aku sempat khawatir jika mereka menaruh curiga, melihat dari kaca spion, dan mengetahui mobil yang aku kemudikan selalu membuntuti mereka. Tak lama kemudian, mereka terlihat berhenti di halaman sebuah rumah kuno.
Jauh.
Perjalanan kali ini sangat jauh, tak terasa aku telah berada di salah satu lereng gunung yang berada jauh dari perkotaan.
Aku parkirkan mobil sangat jauh dari rumah kuno itu, karena aku berpikir mereka pasti akan curiga jika melihat mobil mewah yang aku pakai kemari, mana ada orang desa yang pakai mobil sport, seperti yang aku pakai saat ini.
.
..
...
Setelah beberapa jam, aku mengintai keberadaan si Elang dan si genit Linda di rumah kuno itu, terlihat beberapa saat yang lalu mereka berdua memutuskan untuk pulang. Dan aku putuskan untuk sejenak mengamati kondisi rumah kuno itu.
Jujur aku belum beranjak dari sini karena masih kangen pengin lihat Bagas.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar