Tepat sehari setelah aku dan Zia memaksa kakakku mengatakan yang sebenarnya, kedaan rumahku masih seperti biasanya. Tak ada perbedaan sembelum dan sesudah kak Dea memberitahu kami kalau dia selama ini hanya pura-pura gila saja. Mama juga tak menaruh curiga sedikitpun pada kelakuan kakak perempuanku itu. Dia masih menganggap kak Dea mengalami gangguan jiwa seperti sebelumnya.
Malam ini mama tidak ada di rumah, tinggal aku dan kak Dea saja yang ada. Sore tadi mama pamit mau ikut acara yang diadakan tempat kerjanya lagi. Kali ini sih katanya perginya hanya dua hari. Aku tak begitu tertarik dengan apa yang dilakukan mama pada acara itu, yang jelas aku membalas ciumannya saat dia pamit pergi.
Karena tak ada hal yang aku lakukan, malam itu aku duduk-duduk di depan Tv meski tak menyalakannya. Tanganku sibuk menggeser layar Hpku karena banyak sekali pesanan yang masuk. Aku bersyukur usahaku bisa berkembang pesat meski hanya mampu memenuhi pesanan dengan harga yang tak mahal. Untung sedikit tapi kali banyak orderan prinsipku. Setelah selesai membuka semua pesan yang masuk, iseng aku menelpon Zia untuk sekadar mendengar suaranya.
“Halooo...” ucaku setelah panggilan telfonku terhubung.
“Halo juga Vendii..” balas suara seorang perempuan.
“Lhoh, siapa sih ini?” tanyaku khawatir kalau salah sambung.
“Maya ini Ven.. Zia lagi.. emm... lagi sibuk..” balasnya dengan nada ragu. Sibuk apasih pacarku itu sampai temennya yang pegang Hpnya?
“Ohh Maya.. emang Zia lagi ngapain sih?”
“Lagi.. emm.. lagi ngen... eh, lagi ada tugas..” balasnya.
“Halahhh.. kamu bilang aja kalian lagi ngentot kan!? Udah jangan banyak alesan dehh...” tembakku tanpa bisa dibantah oleh Maya.
“Hihihi.. iya Ven...”
“Yaudah.. kamu gantiin Zia sebentar, biar dia bicara sama aku dulu” suruhku pada Maya. Setelah itu tak terdengar suaranya lagi, hanya ada suara kasak-kusuk orang bicara yang tak jelas.
“Ahh.. haloo sayang..” kali ini beneran suara Zia.
“Eh lonte.. lu ngentot sama siapa lagi nih?” tanyaku tanpa kutahan-tahan bahasanya.
“Hihihi.. kok tau sih kamu yang? ada tuh pacarnya si Maya” jawab Zia seakan tanpa dosa.
“Yeeee.. dasar memek gatel.. enak gak ngentotnya?” aku kini dengan santai bisa menanyakan hal itu pada pacarku sendiri, tak gampang emosi seperti biasanya.
“Ummm.. enak sih, cuma barangnya ga segede punya kamu, biasa aja gitu” balasnya.
“yahh.. kecil dong? Hahahaha..” candaku.
“Gak juga sih, cuma ga bisa bikin aku keluar cepet kayak kamu yang” ucap Zia, sepertinya dia jujur mengakuinya.
“Yaudah lanjutin aja, tapi ingat yah.. lu kalo sampe hamil bakal gua pecat jadi pacar gua...” ancamku.
“Hiiii.. takuuutt... hihihi.. iya deh yang.. ga bakalan kok, dari tadi lho aku belum keluar” balasnya.
“Oke deh yang.. jangan lupa makan, habis ini istirahat baik-baik...”
“Beres.. kamu jangan khawatir, cintaku masih tetap padamu kok” balas Zia.
“Iya harus dong.. yaudah.. ntar telfon lagi, loph yu yang, muuaahh!”
“Hemm.. loph yu uga yang.. hihihi”
Kembali kutaruh Hpku di atas meja. Kenapa aku jadi aneh gini yah? Sudah tau kalau pacarku lagi ngentot dengan orang lain tapi kok tenang-tenang saja. Apakah aku sudah berubah jadi permisif pada kelakuan bejat Zia? Atau karena aku melakukan hal bejat juga? memang kalo dipikir sih yang kulakukan lebih parah dari kelakuan Zia, ngentot dengan keluargaku sendiri. Bodo amat !
“Habis nelfon siapa dek?” kak Dea keluar dari kamarnya lalu duduk di sebelahku.
“Eh, tadi.. Zia kak” balasku sambil melihat ke arah kakakku, kini meski kak Dea keluyuran di rumah telanjang bulat aku jadi biasa saja.
“Ohhh.. aku kira mama..”
“Emang mama kemana sih kak? Kakak tau gak?” tanyaku kemudian.
“Nah, biar kamu tau sendiri.. nih ada sesuatu buat kamu..” kak Dea sejenak pergi masuk ke dalam kamar mama, kemudian balik menemuiku lagi.
“Apaan tuh kak?” tanyaku pada kak Dea yang datang membawa kepingan cd.
“Kamu lihat aja sendiri, kakak mau tidur aja deh" ucapnya sambil meletakkan kepingan cd polos itu di pangkuanku.
Kak Dea lalu pergi masuk ke dalam kamarnya lagi. Aku yang ditinggal sendiri kini hanya menatap ke arah kepingan cd polos yang bertuliskan ‘Vacation’ itu. Di bawahnya ada tulisan tanggal. Aku sepertinya ingat apa yang terjadi pada tanggal itu. Tanggal itu itu adalah hari dimana mama pergi selama tiga hari dengan alasan ada acara bersama teman kerjanya. Daripada terus melayang pikiranku, segera kumasukkan cd itu pada cd player yang ada di bawah Tv lalu memutarnya.
“Apaan sih ini?” gumamku.
5, 4, 3, 2, 1 Play. Begitu tulisan yang muncul di layar Tv.
Begitu kamera menyala yang kulihat adalah mama dan seorang pemuda di sebuah ruangan. Sepertinya ruangan itu adalah bagian dari sebuah rumah mewah, atu sebuah villa mungkin. Kulihat mama agak mabuk dan membiarkan pemuda itu merangkulnya sambil bercanda. Baru kali ini aku melihat mama mabuk, apa memang mama sekarang jadi bisa minum minuman beralkohol yah?
Sebentar, aku sepertinya pernah ketemu dengan pemuda itu? yah, aku pernah bertemu dengannya saat mama akan pergi kerja. Pemuda itulah yang menjemput mama dengan mobil sportnya.
“Andree.. sebentar dong, mama gerah nih..” tiba-tiba dalam video itu terdengar suara mama. Dia protes pada pemuda yang merangkulnya dan aku sekarang tahu kalau namanya Andre.
“Lepasin aja mah.. yukk Andre bantuin” ucap pemuda itu, ehh, dia manggilnya mama juga yah? Memang pemuda itu kuperkirakan seumuran denganku, tapi kenapa dia panggil mama sih? aneh.
Mama sudah melepaskan bajunya, memperlihatkan kedua payudara indahnya yang sudah tak terbungkus apa-apa. Andre membisikkan sesuatu ke telinga mama sembari merangkul bahu mama lebih erat dan sekarang salah satu tangannya sudah berani mengusap-usap paha mama yang terbalut celana jeans ketat. Mama yang agak mabuk karena banyak minum itu tidak menghiraukan tangan nakal Andre yang sekarang sudah meraba payudaranya.
Celana bola yang kupakai kini menggembung, membuat sebuah tenda di dalamnya dengan batang penisku sebagai tiangnya. Semakin lama kurasakan kalau video yang tengah kutonton ini adalah video porno dengan mamaku sendiri sebagai pemerannya.
Sekarang Andre menciumi leher mama dari pangkal hingga bagian belakang telinga, membuat ibu kandungku itu salah tingkah. Tangan mama hendak mencegah tangan Andre yang memilin-milin putingnya, tapi rangsangan pemuda itu di lehernya membuat mama tak berdaya. Tak lama, mama bahkan tak melawan saat Andre berhasil menciumi bibirnya yang seksi. Nih brondong memang jago menaklukkan wanita, pikirku.
Aku tak berkedip menyaksikan pemandangan indah dari mamaku yang bertelanjang dada. Andre masih terus menstimulasi bibir, payudara dan titik-titik sensitif di tubuh mama yang lain. Ketika tangan Andre merangsek ke selangkangan mama yang masih terbungkus jeans ketat, mama terlihat menggeliat melawan.
Aku tahu kalau perlawanan mama itu hanya pura-pura saja. Karena Andre dengan mudahnya melepas kancing celana jeans mamaku. Tangan Andre dengan mudahnya melorotkan jeans yang dipakai mama berikut celana dalamnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat teknik melucuti pakaian ala Andre. Dengan mudah celana jeans itu melorot turun seutuhnya, bersama celana dalamnya sekaligus.
“Awww.. kok mama ditelanjangin sih Ndree...” protes mama, tapi aku yakin mama hanya bersandiwara dihadapan pemuda itu. Setelahnya kudengar mama malah tertawa cekikikan.
“Gapapa kok mah, katanya gerah.. nih Andre juga gerah kok” balas pemuda itu sambil melucuti kaos dan celana jeans yang dipakainya. Kini keduanya sudah sama-sama telanjang bulat.
Andre kembali mencumbui mama, pemuda itu memeluk tubuhnya dan kembali merangsang leher, puting, dan bibir mama hingga akhirnya mama merelakan tubuhnya. Kini mama dengan senang hati mulai mengocok penis pemuda itu. Sungguh asik banget mama melakukannya.
Pemuda bernama Andre itu kemudian duduk di belakang mama. Dengan sekuat tenaga dia mengangkat tubuh mama lalu mendudukan mama di atas pangkuannya. Dengan posisi begitu batang penis Andre mampu menggesek belahan vagina mama beserta klitorisnya. Mama semakin terbakar birahinya karena selain klitorisnya digesek, kedua puting susunya masih terus dipelintir jari-jari Andre.
“Nggghhh.. ahh.. nghhhh...” mama mendesah manja seketika itu.
Andre yang semakin intens merangsang tubuh mama kini mulai menusukkan ujung kemaluannya pada liang vaginan mama. Kedua kaki mama yang sudah ikut naik ke atas kursi sofa membuat belahan vaginanya semakin terbuka lebar. Pemuda itu sekarang mulai menusuk-nusukkan batang kejantanannya lebih dalam lagi.
“Pelan Ndre.. ahh.. pelaaaaannnn...” jerit mama ketika batang keras itu menusuk seluruhnya ke dalam liang senggama mama.
Dalam hitungan detik saja kemaluan Andre sudah terbenam seluruhnya di liang kewanitaan mama. Kedua tangan pemuda itu kemudian menarik kedua paha mama sehingga mengangkang lebih lebar dibanding tadi dan kembali memberi sebuah tusukan dahsyat kearah bibir kemaluan mama.
Tiba-tiba layar Tv ku jadi gelap. Aku kira listrik di rumahku mendadak mati, tapi setelah kulihat ternyata masih menyala. Berarti memang ada sesuatu yang terjadi di sana, entah itu baterai kameranya yang mati atau memang sengaja dimatikan. Aku masih terduduk tak percaya pada yang baru saja aku lihat. Ternyata mama mainnya sama brondong. Memang pilihan mama agaknya tepat, selain ganteng aku yakin pemuda itu pasti anak orang kaya.
Layar Tv mendadak kembali menampilkan video yang kuputar di cd player. Kali ini terlihat seseorang tengah memegang kamera dan menyorot sebuah ruangan. Kemudian dia berjalan sampai bertemu dengan seorang pemuda.
“Bro, lu tau mama gua kemana?” tanya orang yang memegang kamera. Dari suaranya aku yakin itu Andre.
“Ada tuh lagi maen sama anak-anak di kolam renang” balas pemuda di depannya. Mungkin dia teman Andre yang diajaknya liburan juga.
“Ohhh.. yaudah, eh lu mau ngikut juga?”
“Iya dong bro.. asik tuh mama lu” balas teman Andre.
Kamera kemudian menyorot ke luar rumah. Mungkin lokasinya dari sebuah balkon lantai dua. Karena kulihat kamera itu menyorot kumpulan orang agak jauh.
Meski kurang jelas tapi bisa kulihat kamera itu merekam 4 orang laki-laki tengah pesta seks dengan seorang perempuan. Mereka semua yang ada di situ sudah dalam kondisi telanjang bulat. Nampak seorang laki-laki tengah menindih tubuh seorang perempuan di pinggir kolam renang.
Beberapa saat kemudian kamera mulai berjalan menyusuri tangga dan beberapa ruangan sampai akhirnya kulihat kamera itu menyorot mendekati kumpulan orang yang sedang pesta seks di pinggir kolam tadi.
“Waahh.. heboh banget sih kalian..” komentar Andre yang membawa kamera.
“Mama lu emang top abis broo.. kuat banget ngelayanin kita” ujar seorang pemuda lain yang mukanya tak terekam kamera.
Beberapa detik kemudian kamera menyorot wajah perempuan yang sedang dientot rame-rame itu. Duniaku serasa langsung berhenti saat aku melihat wajahnya.
“Tidak.. tidak.. itu bukan mama.. bukan.. bukan” gumamku berusaha menyangkal kalau yang sedang melayani nafsu bejat keempat pemuda tadi adalah mama kandungku sendiri.
Mama yang sedang menungging dan terhentak-hentak memandang ke arah kamera dengan mata sayu. Aku yakin di titik ini mama sedang mabuk birahi. Mama tersenyum dan melambaikan sebelah tangannya ke kamera. Andre kemudian memfokuskan kamera ke wajah mama yang terus mendongak, mulutnya setengah membuka mengeluarkan desahan dan erangan seiring genjotan seorang pemuda di lubang vaginanya. Sesekali payudaranya yang bergoyang diremas kencang oleh pemuda lainnya.
“Aahhh... teruss.. terusss... aahh... yang keras.. yang kerassss.. ahhhh...” teriak mama terdengar jelas di telingaku.
“Crott dimana nih?” tanya pemuda yang sedang menggenjot memek mama.
“Di dalam...!!” jawab yang lainnya hampir bersamaan.
Merasa mendapat dukungan, pemuda yang sedang menyutubuhi mama itu semakin beringas mengaduk-aduk liang kenikmatan mama. Dari video yang kutonton itu terlihat tubuh bugil mama terguncang-guncang hebat seperti tersengat listrik. Erangannya semakin intens hingga akhirnya kudengar jerit histeris dari mulut mamaku yang terbuka lebar. Di saat bersamaan kudengar pemuda pasangannya itu juga memekik keras dan menghentikan gerakannya. Mama mendongak tinggi hingga urat-urat di lehernya yang menegang tampak jelas olehku. Hingga tubuh yang tegang itu melemas dan ambruk saat pemuda itu melepas batangnya dari lubang vagina mama.
Video yang berdurasi satu jam lebih itu kumatikan. Aku sudah bisa menebak isi cd itu secara keseluruhan. Dadaku berdegub kencang dan emosiku kembali memuncak. Wajahku rasanya mulai panas dan gigiku menggeretak menahan amarah. Kuambil sebatang rokok lalu kunyalakan, kuhisap dalam-dalam asapnya sampai memenuhi rongga paru-paruku.
“Bangsatt !!” kutendang kursi di depanku dengan keras.
Darahku rasanya mendidih setelah menonton video itu. Aku tak menyangka kalau mama bisa melakukan hal itu dengan penuh kebahagiaan. Hatiku kembali sakit rasanya, bahkan lebih sakit dari waktu aku melihat Zia berbuat bejat dengan orang lain untuk pertama kalinya. Mama rupanya telah menghianati kepercayaan kami, anak-anaknya sendiri. Rasa kecewa yang memenuhi semua bagian tubuhku ini memaksaku harus membuat perhitungan dengan mama.
“Udah nontonnya?” tiba-tiba kak Dea sudah berada di dekatku. Mungkin dia terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tendanganku tadi.
“udah..” jawabku dingin.
“Nah, ga perlu kakak jelasin lagi apa yang dilakukan mama di luar rumah” ujarnya kemudian duduk di sampingku.
“Kok bisa sih mama kek gitu kelakuannya?” ujarku masih tak percaya pada kenyataan yang kuhadapi sekarang.
“Ya ga tau juga Ven.. mungkin mama memang menyukai kebebasan, makanya mama cerai sama papa juga karena itu alasan sebenarnya” ucap kak Dea pelan sambil memeluk tubuhku. Kak Dea yang tengah telanjang itu membuat bulatan payudaranya tergencet lenganku.
“Kakak tau darimana kalo ada video ini?”
“Oh itu, kakak tau pas mama menontonnya” balas kak Dea singkat.
“Jadi mama nonton video ini pas ada kakak juga? trus gimana reaksi mama?”
“Iya kan mama masih menganggap kakak gak waras, jadi biasa aja, malah mama ketawa sendirian pas nontonnya, heboh banget sih dia” jawab kak Dea sambil tersenyum.
“Trus, gimana menurut kakak?” tanyaku lagi sambil menyedot asap rokokku.
“Yahh.. kalo kakak sih bisa memahaminya, apa yang dilakuin mama itu sepenuhnya adalah hak mama.. mungkin kamu merasa kecewa dan marah, tapi mama juga punya kehidupan sendiri Ven..” ucap kak Dea kalem, aku jadi ikutan tenang mendengarnya. Sungguh kakakku ini tahu cara meredam amarahku.
“Hemhhhhhh.. ga tau lah kak.. Vendi pusing” balasku kemudian mematikan sisa rokok yang kupegang.
“Udah lah Ven, stay cool aja.. jangan terlalu dipikir” ucap kak Dea sambil mengelus permukaan vaginanya yang mulai dipenuhi bulu kemaluan itu.
“Stay cool gimana kak!? Pasti marah lah akunya..”
“Nah, itu dia Ven.. sekarang coba kamu pikir, semisal mama tau kalo kita udah sering ngentot.. anak kandungnya sendiri nih, gimana perasaannya?” tanya kak Dea lembut.
“Ya pasti marah lah kak... udah ga bener sih apa yang kita lakuin” jawabku.
“Sama kan!? Kamu marah sama mama, sebaliknya kalau mama tau apa yang kita lakuin pasti marah juga.. coba kamu pikir deh” kata kak Dea memberi pengertian padaku, kemudian tangannya mengambil sebatang rokok milikku lalu menyalakannya.
“Ehh... kaakkk!! Sejak kapan sih kakak bisa merokok gitu?” tanyaku penuh keheranan.
“Udah lama.. lu aja yang ga tau, dasar cupu lu...” ejeknya. Lagi-lagi satu rahasia kak Dea dia buka padaku.
“Trus selama kakak gila.. eh.. pura-pura gila ini apa masih ngerokok juga?”
“Masih lah.. kalian aja sih yang kurang pinter, emang kamu ga pernah ngitung tinggal berapa batang rokok lu dekk?”
“enggak..”
“ya udah.. mana bisa tau kamunya..” tukas kak Dea lagi.
“Tapi...tapi.. kakak kan dulunya tenaga medis.. harusnya jaga kesehatan, apalagi ngerokok gitu.. kakak nakal banget sih”
“Emang tenaga medis bukan manusia? Banyak tuh dokter-dokter yang merokok juga..” balasnya tanpa bisa kulawan.
“Ahh.. iya deh.. susah kalo debat sama kakak” ujarku sambil mulai menyalakan rokok lagi.
“Hidup itu yang bikin susah ya kamu sendiri Ven.. coba kamu ga mikir terlalu dalam gitu.. bawa santai aja, semuanya pasti bisa diselelsaikan” ujar kak Dea lagi.
“Iya sih kak..” setujuku, kini amarahku benar-benar padam.
“Eh, mending Zia lu suruh datang kesini.. kakak suka sama tuh anak, rame aja bawaannya”
“Iya deh kak..”
Aku kemudian mengambil kembali Hpku yang tadi kulempar di atas meja. Kutekan nomor Hp Zia untuk menghubunginya.
“Halooo...” ucapku setelah tersambung.
“Halo sayang..”
“Eh lu udah ngentotnya?” tanyaku vulgar, tak peduli adak kak Dea disampingku.
“Hihihi.. belum sih.. tapi aku pergi duluan, ga tau kenapa jadi kurang menarik tuh” balasnya.
“Iya lah.. cewe binal macam kamu apa bisa puas.. udah lu kesini aja, dicariin sama kakak” ujarku.
“Emm.. oke deh, kamu jemput apa aku kesitu naik ojek?”
“Naik taksi aja, ntar uangnya aku ganti...” balasku.
“Siappp...meluncurrrr...”
“Jangan meluncur dong, ga pake rem dong? Hehehehe..” candaku.
“Yeeeeee...”
Zia kemudian mematikan telfonnya. Sekarang tinggal menunggu dia datang. Aku yakin dia pasti datang ke sini dalam waktu singkat karena dia paling cekataan kalau masalah siap-siap untuk pergi.
“Bisa dia kesini?” tanya kak Dea memastikan.
“Bisa... dia udah langsung siap-siap kok” balasku.
“Kamu tuh kasar banget yah sama Zia.. tapi aneh aja dia ga pernah marah sama kamu, udah panggil dia lonte.. nuduh dia ngentot sama cowo lain.. huhh”
“Hehehe.. kakak sih ga tau siapa Zia sebenarnya... tapi aku sayang banget sama tuh cewe.. ga tau kenapa pokoknya aku sayang banget” balasku.
“Hemhhh.. mungkin memang kalian ditakdirkan hidup bersama Ven, hihihi....”
“Ahh kakak.. masih jauh kak.. tapi kalau itu terjadi aku mau-mau aja kok”
“Iya dong, kamu yang bakal rugi kalo Zia sampai lepas... ada sesuatu yang menarik dalam diri anak itu” ujar kak Dea bangga, entah apa maksud kata-katanya itu.
Kami diam untuk sementara waktu. Tak ada apapun yang aku dan kak Dea lakukan. Kami hanya duduk termenung di kursi depan Tv. Coba untuk memikirkan semua yang telah terjadi dan apa saja yang akan terjadi nantinya.
“Eh kak, pas mama maen keroyokan gitu keliatan seneng banget yah!? Emang enak banget ya kak?” tanyaku penasaran.
“Hihi...iya dong Ven.. kalo dikeroyok gitu pasti puas deh, bisa lama banget ngentotnya” jawab kak Dea dengan wajah mupeng.
“Jangan-jangan kakak mau juga yah dientot rame-rame gitu? Hayooo...”
“Eh, apaan sih kamu? Kok nanya gitu..”
“Jawab aja kak.. mau apa mau?” desakku.
“Iya mau dong.. gak kebayang puasnya deh Ven, hihihi..” jawab kak Dea jujur.
“Hadeehhh... mama sama anaknya gak beda kelakuannya..”
“Tapi selama ini hanya dalam fantasiku aja sih dekk.. belum ada keberanian” imbuhnya.
“Tapi kalo ada kesempatan kakak pasti mau yah? Sama aja dong kak”
“Iya sih... hihihi...” balasnya terkikik malu mengakui.
Malam itu aku gunakan waktu sepenuhnya untuk ngobrol dari hati ke hati. Banyak rahasia yang selama ini aku tak tahu diungkap oleh kak Dea. Termasuk kerjaan mama sebenarnya di hotel adalah sebagai room service sekaligus wanita penghibur tamu hotel. Aku hanya bisa melongo mendengarnya. Kak Dea juga cerita saat-saat dia diperawani oleh calon suaminya. Dia telah merelakan semua miliknya, bahkan kesuciannya tapi malah mendapat balasan yang mengerikan.
Tok..tok..tok !! terdengar suara ketukan di pintu depan.
“Bentar ya kak..” aku kemudian beranjak menuju ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
“Hai sayaang... udah lama yah nungguinnya” ucap Zia dengan nada centil dan manja ketika pintu kubuka untuknya.
“Eh, buruan masuk deh..” ajakku.
Zia kemudian masuk ke dalam rumah. Dia lalu menghambur heboh ketika melihat kak Dea. Mereka langsung berpelukan dengan erat.
“Kakaaakkk..”
“Hai cantik.. darimana sih kamu? Ada acara yah?” tanya kak Dea memeluk tubuh Zia. Kakak perempuanku itu menyambut kedatangan Zia dengan santai meski tubuh telanjangnya terlihat oleh kami.
“Iya kak.. acaranya teman sih, cuma satu orang aja cowoknya” ungkap Zia tanpa malu.
“Ohh.. yaudah ntar kamu biar dipuasin sama Vendi aja, ya kan dekk!? Hihihi..” ujar kak Dea vulgar, aku pilih untuk diam saja.
“Eh kakak ada apa sih kok suruh aku datang?” tanya Zia pada kakakku sambil melepas jilbab warna hitam yang dipakainya tadi.
“Itu.. pacar kamu lagi pusing.. kakak ada rencana buat menghibur hatinya”
“Rencana apaan?” tanya Zia mulai penasaran, aku juga sama.
“Sini.. kakak lepasin dulu baju kamu..”
Zia hanya diam saat tangan kak Dea mulai melepas kemeja abu-abu terang yang dipakainya. Dalam sekejap mata langsung terbebaslah kedua payudara Zia karena memang dia tak memakai bra. Kak Dea tak berhenti, dia kemudian turun dan melepas celana bahan yang dipakai Zia. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit sejak pacarku yang cantik itu datang, dia sudah dalam kondisi telanjang bulat sekarang.
“Wahh.. tambah gede aja toket kamu Zia, pasti sering dilatih yah?” tanya kak Dea sambil mengusapi bulatan susu Zia dengan telapak tangannya.
“Hihihi.. ga tau juga kak.. mungkin karena sering dipejuin sama Vendi tuh” balas Zia melihatku dengan tatapan genitnya.
“Bo’ong lu.. pasti bukan peju gua aja kan yang nempel disitu?” sergahku spontan.
“Udah..udah... kakak ga mau kalian ribut lagi.. udah kayak kucing sama anjing aja kalian kalo berantem..” ujar kak Dea melerai perdebatan kami.
“Lahh.. bener juga kak.. Vendi emang seneng banget kalo aku nungging kayak anjing.. hihi” ucap Zia mulai meledekku lagi.
“Lama-lama gua sumpal mulut nih anak pake kontol gua.. mau lu?” ancamku.
“Mau doooong...” jawab Zia membuka mulutnya.
“Udahhhh.. udaaahhh.. jadi gak nih acaranya?” kak Dea mulai jengah menghadapi kelakuan kami.
“Acaranya apaan sih kak?” tanya Zia lagi.
Kak Dea kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Zia. Sepertinya dia membisikkan sesuatu yang tak boleh aku ketahui. Aku diam saja melihat kelakuan mereka, meski dalam hatiku bertanya-tanya apa sebenarnya yang mereka rencanakan.
“Oke deh kak.. yukkk” ujar Zia gembira.
“Di lantai aja, biar dingin..” balas kak Dea.
Zia kemudian turun dari atas kursi lalu duduk di atas lantai. Begitu juga dengan kak Dea yang mengambil tempat di hadapan Zia. Tanpa kuduga sebelumnya, mereka lalu menyatukan bibir mereka dan berciuman dengan mesra. Ahh, baru kali ini aku bisa melihat dua orang perempuan saling berciuman dengan penuh gairah. Rupanya mereka sengaja mempertontonkan itu di depanku dengan alasan memberiku hiburan. Jitu banget tuh ide kak Dea.
Adegan lesbi yang mereka lakukan terus berjalan. Selain berciuman saling membelit lidah, tangan-tangan mereka juga saling merabai bulatan payudara milik perempuan di depannya. Tangan Zia merabai puting susu kak Dea dengan nakal, sedangkan jari kak Dea meremas-remas payudara Zia dengan penuh penghayatan. Suara kecipak mulut mereka yang beradu bercampur erangan mulai terdengar syahdu.
“Emmphhhh... ahh....ehh.. emmphhh.. aahhh...” desah kak Dea.
Beberapa menit berlalu, mereka masih duduk berhadapan dan saling merabai buah dada lawan mainnya. Cumbuan demi cumbuan yang mereka lakukan juga masih terus terjadi. Aku yang melihat kelakuan mereka mulai ikut-ikutan horni juga. Batang penisku yang masih terkurung celana bola ini terasa semakin besar dan mengeras. Tanpa pikir panjang aku lepas saja celana pendekku dan membiarkan kejantananku terpampang bebas di udara.
Kak Dea kuperhatikan melirik ke arahku sebentar sambil tersenyum. Dia pasti tahu kalau aku ikut horni juga. Beberapa menit kemudian mereka bukannya berhenti, tapi malah semakin liar. Kini kedua kaki Zia mengangkangi wajah kak Dea, sedangkan kedua kaki kakak perempuanku itu mengangkangi wjah Zia. Mungkin posisi mereka itu orang-orang menyebutnya posisi 69.
“Emmmmhhh... eehhh...mmmhhhh.. uhh..” desa kak Dea.
“Ahh... kaakk..enak banget sih.. ahh... aduuhhh..” rintih Zia akibat rasa nikmat.
Lidah Zia menjilati permukaan vagina kak Dea, dengan rakus dia menyapukan permukaan lidahnya itu pada celah kemaluan kakak perempuanku. Demikian juga kak Dea, dia tanpa ragu mencucup lobang memek Zia dengan mulutnya.
“Ahhh.. kaakkkk... nyampeee!!” jerit Zia seperti biasa. Dia orgasme duluan dengan menyemburkan cairan bening dari lobang memeknya. Memang kelemahan Zia itu kalau lobang kemaluannya dicucup pakai mulut dan dihisap kuat.
“Emmmmmm... banyak banget Zia.. ahh.. kakak suka.. terus.. ahh.. teruss..” erang kak Dea. Kulihat dia dengan santainya menjilati cairan yang baru saja keluar dari celah vagina Zia.
“Oohhhhhh... kakak pinter banget!! Ahhh.. jadi cepet keluar deh...” puji Zia.
Tenaga Zia mash belum mengendur, dia dengan bersemangat kembali menjilati vagina kak Dea lengkap dengan klitorisnya. Rupanya Zia juga tahu kelemahan kak Dea, sambil menjilati lobang nikmat itu Zia juga menggigiti klitoris kakak perempuanku itu.
“Aahh... aduhhh... aduhhh.. iyaaa... aahhhhhhhhhh...” kak Dea melolong panjang saat orgasme datang melanda tubuhnya. Dia tak menduga kalau kelemahannya diketahui oleh Zia.
“Rasain lu kak.. emang kakak aja yang bisa!?” ucap Zia pongah, mulutnya terus menjilati klitoris kak Dea dan jari tangannya mengocok lobang kemaluan kakakku itu. Sudah bisa dipastikan tubuh kak Dea semakin kelojotan menerima gelombang kenikmatan itu.
Tubuh kak Dea yang berada di atas tubuh Zia kini ambruk. Tubuh bugil kedua perempuan cantik itu kini menyatu dengan tarikan nafas yang tak teratur. Kudengar kak Dea ngos-ngosan berusaha mengatur jalan nafasnya. Tak hanya itu, kini tubuh mereka mulai basah dengan keringat. Semakin lama semakin membuat libidoku naik melihatnya.
“Tunggu ya Ven.. kamu sekarang ga boleh ikut-ikutan” tukas kak Dea yang melihatku semakin tak tahan. Penisku yang tegak mengacung ini jadi berdenyut-denyut meminta segera dipuasi.
“Yaahhhh.. kakakk...” ucapku kecewa, tapi aku tak bisa memaksa.
Kak Dea lalu turun dari atas tubuh Zia. Dia kemudian ikut berbaring di lantai tapi berlawanan dengan posisi Zia. Posisi yang dilakukan kak Dea itu membuat kedua pangkal paha mereka bertemu. Zia tahu apa yang dikahendaki kakakku, dia kemudian mengangkang dan meletakkan kaki kirinya di atas pinggul kakakku.
“Ahhh.. pinter banget pacar adek gua nih, ayo Zia.. tekann...” ucap kak Dea sambil mulai menggesekkan celah vaginanya pada permukaan vagina Zia.
Kini pertunjukan dari mereka semakin menarik. Kedua tubuh perempuan yang sama-sama bugil itu menggeliat-geliat bak cacing kepanasan. Mereka terus menggoyangkan badannya supaya celah vagina mereka saling bergesekan. Dengan begitu hasrat seksual mereka akan berhasil terpenuhi.
“Ahhh.. kakkk... aahhh... enakk nihh... aahh.. terus kaakk..” racau Zia terus menggoyangkan badannya.
“Uhhh... ini manteb banget..ahh...ahh.. ahhh” kak Dea juga mendesah dalam kenikmatannya.
Kedua kakai cewe-cewe itu kini berusaha saling mengait. Seakan-akan mereka tak mau kehilangan momen saling gesek kemaluan itu.
“Aaahhhh... nyaamppeeee!!” teriak Zia lagi. Kini tangannya ikut menggosok klitorisnya sendiri dengan cepat. Cairan bening kembali menyembur dari celah vaginanya membasahi vagina kak Dea dan lantai di bawahnya.
“Ziaaa. .. terusin...teruss... ahh aku juga mau.. ahh.. mau keluar...” ucap kak Dea memohon.
Zia dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Dia langsung menggosok klitoris kak Dea dengan cepat. Seperti yang dia lakukan pada klitorisnya tadi. Kak Dea yang dirangsang klitorisnya itu semakin menggeliat sambil memelintir puting susunya sendiri. Dia benar-benar terbakar birahinya.
“Aaaaahhhhhh.... keluaaaaarrr!!” teriak kak Dea. Tubuhnya mengejang untuk beberapa menit lamanya.
Permainan keduanya telah menghasilkan skor 2-2. Kak Dea mendapat dua kali orgasme dan Zia juga sama. Sudah adil menurutku. Wajah mereka yang bersemu merah dan berkeringat, menampakkan rasa lega dan bahagia. Keduanya kini terbaring telentang di atas lantai dengan beralaskan genangan cairan squirt milik Zia.
Tok...Tok.. Tokk... !!! tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan.

0 Komentar