INI BARU SEBUAH AWAL
Kuraih boboko yang berisi nasi pulen, kutumpangkan piring yang berisi jengkol muda dan bakar ikan tanjan di atasnya; tak lupa kubawa juga baskom urab daun singkong di sampingnya. Sementara Sae membawa teko yang berisi air minum dan cangkir yang terbuat dari batang bambu. Ratna membawa tumpukan piring seng setelah sebelumnya menumpangkan ulekkan yang penuh dengan sambel dadak. Kami pun keluar dapur menuju ketiga sahabatku yang menunggu.
Kami duduk melingkar di atas rumput, menikmati hidangan yang ada. Sejenak pikiranku melanglang ke sebuah ingatan.
“Flashback ke rumah Bu Rohmah:”
Bu Rohmah tampak sadar dan mulai meronta melepaskan diri. Tapi aku yang sudah kadung nafsu tak mau menyerah begitu saja. Tangan kami saling dorong sehingga membuat mulut kami terpisah. Tak kalah akal kuhisap lehernya, namun bu Rohmah semakin meronta mendorongku. “Ja, jangan sekarang Ja.” Kudengar ia mengingatkan. Aku tak peduli. Aku semakin menempel tubuhnya dengan nafas yang menggelora. “Ja, jangan… ada….” “SAE!” Duniaku berhenti seketika. Bangunan hidupku runtuh. Kulepaskan bu Rohmah dan kuhentak tubuhnya sehingga terjatuh ke lantai. “Aaaaw…” Pekiknya. Aku tak peduli. Gesit aku menoleh ke arah pintu. ……….. ……….. ……….. ……….. Tidak ada siapa-siapa. Pintu masih tertutup seperti semula. Bahkan tampak terkunci oleh kayu palang. Sigap aku melihat ke arah jendela. Juga rapat. Kubalikan tubuhku ke arah bu Rohmah. Ia masih berbaring sampil cekikikan, satu tangannya ditutupkan ke mulutnya. Dua pahanya yang putih bagai dua pematang yang bersisian, masih tak tertutupi dasternya. “Aaaau…,” pekiknya tertahan ketika dengan kesal kutubruk tubuh montoknya. Kemaluan kami sudah saling menempel meski masih sama-sama terhalang celana dalam miliknya dan celana panjangku. Kuremas payudaranya gemas dan kulumat bibirnya. Kami bergumul sambil tersengal. Kesel, gemas, sayang, birahi. Semua menggumpal di dadaku. Kulumat rakus bibirnya dan kuberikan gigitan kecil, badannya makin kelejotan dan kedua kakinya mencengkram, melingkar di pinggangku. Buuuk. Cuuur… Saking semangatnya aku menendang cangkir kopi yang masih berisi setengah dan tumpah membasahi lantai papan. Kami terperangah kaget… seketika menghentikan pergumulan kami. Begitu sadar apa yang terjadi, kami pun tergelak tertahan. Aku kembali mengecup bibirnya yang merekah basah. Tapi begitu aku mau melumatnya bu Rohmah menghentikanku dan sedikit mendorong bahuku. Aku menatapnya lekat. Dia menggeleng. Aku menarik nafas panjang. Kami pun sama-sama bangkit. “Jangan sekarang. Nanti malam Selasa Pon seperti yang sudah ibu bilang.” Ia mengingatkanku. Aku cuma nyengir tanggung lalu kukecup keningnya. “Malam ini kamu tidur di sini ya, tapi gak macam-macam.” Bu Rohmah menatapku penuh harap. Aku mengangguk. Sambil bergandengan tangan kami masuk ke dalam peraduan. Kupasang selimut lalu berpelukan penuh kasih sayang. Kepalanya diletakkan di atas dadaku. “Ibu bisa merasakan kalau kamu sayang banget sama Sae. Tadi kamu panik banget.” Suaranya penuh keibuan. Aku hanya mengelus rambutnya tanpa menjawab. “Ibu tidak akan mengganggu kalian, dan tidak marah. Atas nama kakekmu ibu memberi restu.” Terdengar ketulusannya.
“Bu..”
“Hmmm…”
“Ramuan?”
“Iya besok ibu bikinkan. Kamu tinggal menggodoknya saja. Tapi kamu harus hati-hati.”
Kukecup ubun-ubunnya. Kami terus ngobrol ringan dalam kemesraan malam yang syahdu. Perlahan kami menghilang, terlelap dalam senyuman.
Plak. Sebuah pukulan di punggung mengagetkanku. Aku terperanjat disambut riuh tawa teman-temanku. Sae tampak mengulum senyum tapi masih memasang tampang judes
" kesambet sia nya? Makan sambil bengong.” *************************************************************** Jaka. Aku melanjutkan sisa nasi di piringku untuk menutupi kegugupan.
“Makasih Sa, masakanmu enak sekali,” aku tersenyum mencoba merayunya.
Pletak. Anjiiir… Aku mengusap kepalaku yang ngilu.
“Yang masak bukan hanya Sae woiii… Ratna juga…” Ega membela Ratna. Sontak kami kembali riuh, sementara Sae dan Ratna hanya tersenyum melihat tingkah kami. Ada pancar bahagia di wajah Ratna.
Kami pun menyudahi makan kami. Sae dan Ratna membereskan sisa makanan dan piring kotor, sementara kami berempat merokok sambil menikmati hidup.
“Emang Sae kenapa, Ja,” Ardan menoleh ke arahku.
“Tadi aing lupa jemput sebelum ke sini. Padahal aing geus janji jemput.” Desahku.
“Halaaah.. pasti ada alasan lain kalau ngambeknya lama gitu mah,” Jaka berpendapat.
" Keur beureum(lagi merah) kali,” Ega berandai-andai.
“Heeh? Naon beureum teh?” Aku tak mengerti.
Serempak ketiganya tertawa. “Mens goblok…” Jaka tergelak. “Mentruasi!” Tegasnya lagi. Aku cuma garuk-garuk kepala.
Tak lama kemudian Ratna datang untuk mengambil sisa perabotan bekas makan. Aku mengamatinya sejenak. Begitu dia hendak kembali ke dapur aku menjejerinya.
“Rat, Sae kenapa sih? Cerita gak?” Bisikku.
Ratna memandangku, sejenak heran. “Iiih.. A Senja gak peka banget sih?”
“Heeh?”
“Iiih Aa mah… masa gak ngerti?” ( Aa = kakak, mas, abang)
Aku cuma menggeleng.
"Teh (teteh = mbak; ingat pake h bukan k) sae lagi mens. Biasa atuh perempuan mah suka sensitip (catat p bukan f dia ngomongnya) kalo lagi mens mah.” Ia ngeloyor, pipinya bersemu merah. Aku kembali ke teman-temanku sambil garuk-garuk kepala.
“Selain keluargaku, keluarga kalian dan keluarga Sae, ada tambahan yang siap menjual kopinya ke kita.” Aku memulai obrolan sambil menghabiskan rokok kami.
“Siapa euy ?” Ega heran.
“Bu Rohmah. Ya walaupun kebunnya tak terurus karena tinggal seorang diri, tapi lumayanlah.” Ucapku. Jaka hanya mengerling nakal. “Berarti sudah enam keluarga yang bisa kita pegang.” Tambahku.
" aing yakin… walaupun pak RT tidak setuju, warga lain akan menyusul jika tahu memang jauh menguntungkan melalui kita.” Kata Ega. Lalu ia menambahkan, “Kalaupun tidak menjual ke kita, minimal kita bisa buka jasa penggilingan kopi. Berapa harganya ya euy?”
“Kita hitung per karung aja. Sekarung seribu gitu?” Usulku. Yang hanya dijawab diam. Itu berarti setuju.
“Hayu ah.. kaburu sore.” Ega mengajak kembali bergerak.
“Sebentar.” Kataku.
Aku beranjak menuju dapur. Sae sedang duduk di depan tungku sambil bertopang dagu. Aku yakin ia tahu kedatanganku, tapi tetap tak bergeming. Kuusap-usap rambutnya. “Sa, gambarnya dibawa gak?” Ia merogoh lipatan kertas dari saku celana pendeknya dan menyodorkan kepadaku.
“Ratna ke mana?” Aku berbasa-basi.
“Lagi nyuci perabotan ke tampian .” Datar.
Aku berlutut di belakangnya lalu kupeluk tubuhnya.
“Udah dong, yank. Kok cemberut melulu?” Kutempelkan pipi kami berdua.
“Kamu sih.” Tetap cemberut.
Cup. Kekecup pipinya.
“Kamu nyebelin!”
Cup.
“Jahat!”
Cup.
“Gak peka!”
Cup.
“Mulutmu bau rokok!”
Cup.
"Bau keringat!”
Cup.
“Bau apek!”
Cup.
“Gak sayang lagi!”
Cup.
“Jelek!” Senyumnya mulai mengembang.
Cup.
“Kamu lucu kalau cemberut,” rayuku akhirnya.
“Jadi gak suka kalau aku cemberut?”
Cup.
“Gak sayang lagi?”
Cup.
“Trus nyuekin aku?”
Cup.
“Senja!!!”
Cup.
“Iiih..”
Cup.
“Aaarg.. jelek.. jelek…jelek…”
Cup. Cup. Cup.
“Tapi ngangenin.” Ia mulai manja.
Cup. Kali ini agak lama.
Ia berbalik dan memelukku.
Kami berpelukan sesaat.
Muuach.
Kukecup bibirnya sesaat, lalu beranjak.
“Sayang.” Ia meranggaskan tangan.
Kuraih dan kutarik.
Huuuf. Kami berpelukan lagi.
“Gendong.” Manja.
“Heh?” Bingung.
“Gendong!”
“Yakin?”
“Gendong!!!”
Huuuf. Kuangkat tubuhnya. Kedua tangannya melingkar di leherku. Wajahnya terbenam di dadaku. Aku melangkah ke arah pintu. Namun baru beberapa langkah, ia menggelinjang minta turun.
“Katanya gendong?”
“Gak peka!” Cemberut.
Hadeuuuh.
Cup. Kucium ujung hidungnya.
“Dah sanah!” Dia mendorong pipiku.
“Senyum dulu!”
“Nggak!”
“Senyum!”
“Gak!”
“1.. 2.. 3… Senyum.”
Dia pun tertawa.
Cup.
Aku melangkah ke luar. Aku menjelaskan gambar alat giling yang sudah kurancang bersama Sae. Lengkap dengan ukurannya.
Jaka menyerut kayu. Aku memotong-motong seng. Ardan dan Ega memotong batang kayu.
Tok tok tok. Sruuut. Sruuut. Tak tok tak tok. Gomprang. Kami asik dengan pekerjaan masing-masing.
Menyadari ada sosok yang diam-diam mengamati dari pintu dapur, aku bekerja kian semangat. Sekali-kali aku berhenti dan sejenak saling pandang. Ega pun tampak semangat karena ada sosok lain di samping Sae.
Jam setengah empat, Pak Karna dan Bu Isah, orangtuanya Ega datang dari kebun. Dan pak Karna pun langsung bergabung membantu kami. Tepat sebelum maghrib pekerjaan kami telah selesai. Alat giling sederhana pun sudah berdiri di tengah saung.
Ujicoba pun dilakukan.
Ega mengambil seember kopi dan kami menggilingnya.
Berhasiiiil!!!
“Horeeeee.” Kami bersorak riang, tak terkecuali Bu Inah dan Sae yang ikut bergabung. Ratna sudah pulang sejak sore.
Aku bernafas lega, di bawah sorot mata bangganya. Aku tahu meski ia berusaha menutupinya. Setelah membereskan peralatan kami pun bergerak bubar. Jaka dan Ardan pulang, Ega memberi makan kambing. Aku dan Sae langsung menenteng alat mandi ke tampian. Selesai mandi aku mengantarnya sampai di depan rumahnya.
“Nanti aku ke sini yah.”
“Ngapain?”
“Ngapel.”
“Iiih… kan udah ketemu seharian?”
“Tapi kan gak berduaan.”
Pipiku pun didorongnya.
Setelah dia menghilang di balik pintu, aku segera bergegas menuju rumah.
Senandung riang pun mengalir membawaku pulang.
0 Komentar