PART 6
"Aku akan temenin Sayang. Aku yang akan perhatiin Sayang. Aku akan urus Sayang di rumah ini."
Setelah mengatakan itu, kucium bibir Mama Mirna lembut. Mama Mirna mendesah pelan, saat bibirku menciumnya. Setelah dicium, bibirnya yang terbuka langsung berucap, "Oooooh, Sayangku! Andai bukan Rahma yang duluan."
"Ooooh, Sayang!"
Kupeluk erat tubuh telanjang Mama Mirna. Rambutnya kuelus dan keningnya yang di dekat bibir, langsung kucium lama. Kuangkat pinggul agar batang kejantanan yang masih mengacung keras di dalam liang kewanitaannya, tertancap lebih dalam sambil kedua kaki membelit kakinya.
Sesaat kami tertidur sambil bertindihan di sofa. Suara denting jam di dinding yang mendandakan waktu sudah pukul 12.00 malam, membangunkanku. Lembut keningmya dicium dan dengan meremas bulatan pantatnya, aku membangunkan. Kami berciuman dan kemudian berjalan bergandengan menuju kamar mandi. Dinginnya air, membuat kami bercinta lagi di situ. Lalu tanpa berhanduk, kugendong Mama Mirna menuju kamar tidur.
Tiada bosannya aku mencumbui tubuh telanjang Mama Mirna saat menjelang tidur. Kami semula hanya berbaring berpelukan sambil bercerita tetapi kemudian percintaan pun dimulai lagi.
"Waktu liat Sayang ketiduran di sofa beberapa hari lalu, pengen sebenarnya ajak Sayang ke kamar. Ehm ... tapi kita kan belum sedekat ini? Jadi ... aku malu," kata Mama Mirna sambil mengelus kulit perutku.
Ia berbaring dengan meletakkan kepala di dada. Tangannya yang mengelus dadaku, turun ke otot di selangkangan. Saat otot itu mengeras dan membesar, Mama Mirna meremas dan mengocok berulang-ulang. Aku biarkan ia melakukan itu. Sementara tanganku yang memeluk pinggulnya, menyelusup dari belakang ke sela belahan pantat. Basah dan hangat kurasakan liang kewanitaan Mama Mirna.
"Aku gak berani mulai duluan, Sayang. Andai waktu itu, Sayang bangunin, ngajak ke kamar, aku baru mau. Kalo nyelonong duluan, aku gak berani," kataku menjawab perkataan Mama Mirna.
Mama Mirna tersenyum melirikku. Lalu, katanya, "Aku tau. Sayang tu orangnya emang spesial makanya aku cinta."
Wajahnya didekatkan dan bibirku dikecup lembut. Namun, tangannya yang menggenggam batang kejantanan, meremas-remas kuat. Kepala otot yang mengacung keras itu diusap-usap dengan jari jempol. Kulepaskan ciuman dan langsung melenguh panjang.
"Oooh, Sayaaang!" desahku.
Dengan memejamkan mata, kuangkat pinggul setinggi-tingginya. Rasa nikmat itu datang seketika saat terasa denyutan di batang kejantanan akibat gesekan jempol Mami Mirna.
“Kontol Sayang gede banget. Bikin pengen terus. Masukin ya, Sayang?” bisik Mama Mirna.
Aku membuka mata dan tersenyum mengangguk. Kutegakkan badan dan berjongkok di antara kedua kaki Mama Mirna. Dengan posisi yang menelentang itu, kedua kakinya kukangkangkan dan letakkan di paha. Aku pun membungkuk sambil menggesek-gesekkan kepala batang kejantanan di bibir liang kenikmatannya yang membuka. Pinggul dimaju-mundurkan perlahan di saat mulut kami saling pagut. Saling lumat dan lidahku pun memasuki mulut Mama Mirna.
"Eeemhh! Eeeemh! Eeeemh!"
Lidahnya membalas dengan menggelitik langit-langit rongga mulutku. Badan menggelinjang sehingga batang kejantananku perlahan menyelusup masuk ke dalam liang kewanitaannya. Ia kontan melepaskan ciuman dan mendongak sambil mengangkat pinggul.
"Oooh, Sayaaang!"
Mama Mirna memejamkan mata dan melenguh panjang saat datang kenikmatan dari kepala batang kejantananku yang menggesek dinding liang kewanitaannya. Kedua tangannya memeluk dengan erat. Terjulur ke belakang meraih pantatku dan meremas kuat.
“Oooh, Sayaang! Enak banget kontolnyaaa!" teriak Mama Mirna.
Sebatang otot keras panjang di selangkangan, terasa penuh saat diselesupkan ke liang kewanitaan Mama Mirna. Ia kelonjotan sambil memeluk. Kepala batang kejantananku pun langsung merasakan denyutan dinding liang kewanitaan Mama Mirna. Seketika itu juga terasa hangat di dalam. Saat itulah, kedua kaki Mama Mirna langsung dilingkarkan ke pinggang, dengan kedua tangan yang menekan pantatku.

0 Komentar