MAMA MERTUAKU (TAMAT)



Part 7 end






"Oooh! Ooooooh! Oooooooooh!"


Kutekuk badan agar mulut dapat meraih bulatan buah dada yang terbungkus kulit putih bersih itu. Puting kemerahan di tengah lingkaran coklat di buah dada Mama Mirna yang membusung, kuhisap, jilat dan emut dengan rakus. Sengaja gigiku tidak menggigit. Hanya menggesek-gesek lekukan bawah puting di bulatan buah dada sambil menghisap. Kedua tangan Mama Mirna pun membekap kepalaku di dada. Menekan seakan tidak ingin terlepas dari emutan mulutku.


"Oooh, Sayaaang!"


Tiba-tiba Mama Mirna melenguh panjang. Liang kewanitaannya berdenyut berulang kali. Kepala batang kejantananku seketika juga terasa hangat di dalam. Diangkat lagi pinggulnya tinggi-tinggi, sambil melenguh.


"Aaaaah! Aku keluaaar! Aaaaaaaaaah!”




Kupercepat kocokan batang kejantanan yang dilumuri cairan cinta Mama Mirna. Tumpah meleleh ke luar hingga ke pahanya. Kedua kaki yang melingkari pinggang, menekan tubuhku sehingga terus membungkuk, menghisap puting kedua bulatan buah dadanya bergantian.


“Aaakh ... aaakh ... aaakh, Sayaaaang! Aku mo keluaaar!"


Aku pun tidak sanggup lagi menahan desakan yang ingin ke luar dari kepala batang kejantananku. Remasan dinding liang kewanitaan Mama Mirna saat berdenyut, mempercepatku akan orgasme.


"Barengan, Sayaaang! Barengan, Sayaaang!" teriakku sambil mempercepat kocokan.


Mama Mirna memahami dan melebarkan kaki. Pinggul terangkat tinggi-tinggi. Namun, kedua tangann tetap menekan pantatku. Aku lihat wajahnya memerah, seperti menahan sesuatu.


"Aaah, Sayaaang! Aaaah, Sayaaang! Aaaah, Sayaaang!"


Teriakan Mama Mirna itu diikuti otot pantatku yang mengeras, menekan ke bawah. Batang kejantanan kutelusupkan sedalam-dalamnya. Kutelungkupkan badan dan ....


"Oooh, Sayaaang! Sayaaang! Aaargh!" geramku.


Tubuh bergetar saat dari dalam batang kejantanan, cairan cintaku menyembur ke rahim Mama Mirna. Pantat kutekan dan tubuh Mama Mirna dipeluk erat-erat. Wajah kutelungkupkan ke bahunya. Rasa mendesak dari batang kejantanan kini menghilang seiring dengan semburan cairan cintaku yang bersatu dengan cairan cinta Mama Mirna di dalam rahim. Napas kami menderu dengan dada yang naik turun cepat.


Saat semua mereda, perlahan kuangkat wajah mencium pipi perempuan cantik yang tubuhnya kutindih. Lama kuemut bibir lembut itu. Mama Mirna menghela napas hangat dari hidung yang terasa di wajah saat bibir kukecup. Lalu, kupandangi wajahnya.


"Aku puas banget, Sayang. Kontol Sayang gede. Indah banget bisa keluar bareng terus ama Sayang," bisik Mama Mirna.


Satu tangannya terulur mengelus wajahku. Kupejamkan mata, menelengkan kepala bersandar di telapak tangan Mama Mirna yang sedang mengelus itu. Rasa rindu akan kemesraan bercinta yang hilang sejak Rahma sibuk syuting, serasa tergantikan dengan perlakuan Mama Mirna yang lembut.


“Mulai sekarang, aku pengen bercinta terus ama Sayang. Kalo Rahma pergi syuting, Sayang tidur ama aku ya?”


Kulingkarkan lengan di bawah kepala Mama Mirna. Wajah yang menunduk mencium bibirnya dengan lembut. Tubuh telanjang Mama Mirna menggelinjang saat kuhisap lidahnya. Kedua kakinya membelit kedua kakiku pula. Lalu, terdiam dengan mata memejam. Hanya lenguhan lirih yang terdengar.


Saat matanya terbuka, Mama Mirna terlihat sangat cantik. Ia memandangku sambil mengerjap-ngerjap sehingga bulu lentik matanya seakan menari. Mama Mirna tersenyum.


“Iya, Sayang. Tidur sama aku kalo Rahma pergi,” jawab Mama Mirna.


Aku tersenyum senang mendengar itu. Kukecup bibirnya yang terbuka. Kukecup juga kedua matanya yang memejam kembali. Saat mengecup, batang kejantananku yang mulai mengendur jadi mengeras kembali. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.


“Sayang gak marah kan kalo Rahma pulang, aku harus memuaskannya? Suara kami mungkin kedengaran dari dalam kamar pas lagi bersenggama,” tanyaku dengan mengernyit.


Mama Mirna tersenyum. Kembali tangannya terulur, mengelus pipiku.




“Berasa cemburu sih ... tapi kan dia istri Sayang? Aku ya ... pasrah aja. Mo bilang apa lagi?”


Mata Mama Mirna sekilas terlihat menerawang. Pinggulnya berasa diangkat. Liang kewanitaan yang masih mengepit batang kejantananku, terasa berdenyut beberapa kali. Refleks, kedua kaki kulebarkan dan pinggul ditekan dalam-dalam. Mama Mirna melenguh sambil memejamkan mata.


“Sayang masih pengen maen lagi?” tanyaku.


Pinggul Mama Mirna bergerak menggoyang pelan. Ia tersenyum manis sekali. Saat tersenyum begitu, matanya yang mengecil itu seakan ikut tersenyum juga.


“Iya," jawabnya manja.


"Oh, Sayang!"


Batang kejantananku langsung mengeras kembali. Kerasnya yang sempurna langsung memenuhi liang kewanitaan Mama Mirna. Sesaknya yang hangat, merangsangku untuk refleks menaik-turunkan pantat mengocok. Mama Mirna membalas dengan membelitkan kedua kaki di pinggangku. Kedua tangannya yang melingkari leher, menarik kepalaku ke bawah. Kucium dengan buas bibir merahnya yang terbuka sambil mempercepat kocokan batang kejantanan di liang kewanitaan yang mulai basah lagi.



Kami pun bercinta hingga ayam berkokok. Saat sinar matahari terlihat menyeruak dari balik gorden kamar, barulah kami tidur. Aku tidur di kamar itu sambil memeluk tubuh telanjang Mama Mirna. Setelah bercinta, ia selalu tidur di dada sambil memegang batang kejantananku. Kami bercinta sepanjang hari di rumah sejak saat itu.


Beberapa hari kemudian, Rahma pulang dari syuting dua minggu di luar kota. Di hadapannya, Mama Mirna bersikap layaknya seorang mertua kepadaku. Namun, aku menyadari bahwa ia cemburu saat kamar tidur kami tertutup di malam hari. Istri pulang, maka aku harus memuaskan hasratnya.


Melihat wajah yang murung di pagi hari, setelah mengantarkan Rahma ke studio, aku segera memuaskan hasrat birahi Mama Mirna. Untunglah, perlahan ia mulai menerima. Selama Rahma anaknya, di rumah maka di malam hari aku harus memuaskan Rahma dahulu. Baru di siang hari aku memuaskannya pula. Saat Rahma pergi syuting di siang hari, barulah aku menjadi miliknya hingga sore. Begitulah percintaan kami bertiga, tinggal di rumah mertua. Mama mertuaku, ya dia istriku juga.


---


Tamat

Posting Komentar

0 Komentar