MAMA MERTUAKU PART 1



PART 1




Sudah delapan tahun aku menikah dengan Rahma Azzuhra, seorang aktris sinetron dan bintang iklan. Aku Fariz Faturrahman, berusia 32 tahun, sedangkan istriku itu 30 tahun. Selama delapan tahun menikah, kami berdua belum memiliki anak. Rahma adalah perempuan yang cantik berkulit putih bersih, berpostur semampai. Dengan jilbab dan gamis yang selalu dipakai, Rahma terlihat memesona. Aku bangga punya istri secantik Rahma. Kecantikannya yang alami itu menurun dari sang ibu.


Aku panggil dengan sebutan Mama Mirna. Ia tetap cantik meski sudah berusia 52 tahun. Mama Mirna adalah istri keempat dari seorang pejabat negara. Oleh karena status istri keempat itulah, suaminya jarang di rumah. Paling-paling sebulan sekali datang. Walaupun kami punya rumah sendiri tetapi karena menurut Rahma, sang ibu kesepian maka tinggal bersama mungkin akan membantu mengurangi kejenuhan. Rumah ibunya besar dengan halaman yang luas. Ada kebun di belakang rumah yang dilengkapi meja kursi di bawah rimbunan pohon, untuk bercengkerama.


Tinggal bersama, kami awalnya kurang berkomunikasi karena jarang bertemu. Aku sibuk dengan kegiatan bisnis bahan bakar, sementara Mama Mirna menyibukkan diri dengan bisnis berlian. Namun, sejak Rahma mulai menekuni bidang perfilman jadi aktris sinetron, aku dan Mama Mirna menjadi akrab. Kalau pergi ke luar kota untuk syuting, Rahma pasti berhari-hari. Tidak cukup sehari. Kami sendiri tidak punya pembantu sehingga semua pekerjaan rumah dilakukan sendiri. Otomatis hanya aku dan Mama Mirna yang tinggal di rumah besar itu, yang mengurus sendiri. Akhirnya kami berdua jatuh dalam hubungan suami istri yang bergairah setiap hari.


Suatu saat Rahma pamit pergi ke Jogja untuk urusan syuting sinetron. Aku pun mengantar ke studio karena ia harus kumpul dulu dengan teman-teman satu rumah produksi sebelum berangkat ke bandara. Setelah mengantar, aku singgah ke rumah kami yang telah lama ditinggalkan, untuk memeriksa keadaannya. Aku baru kembali kira-kira pukul 11.00 malam.


Berniat tidak ingin menganggu, kunci serap yang kupegang langsung dipakai untuk membuka pintu rumah. Saat berjalan melewati ruang tengah, ternyata Mama Mirna belum tidur. Ia sedang duduk selonjor di satu sofa memanjang yang mengarah ke TV sambil menonton. Dengan bersandar, kedua kakinya ditekukkan ke depan dada sehingga gaun tidurnya tersingkap. Aku berdiri kikuk memandangi bulatan pinggul Mama Mirna yang sekal dengan kulit paha putih bersih.


“Eh, Mama. Belum tidur?”


Mama Mirna yang terkejut mendengar suaraku, langsung menoleh. Lalu, tersenyum. Buru-buru ia memperbaiki posisi duduk.


“Belum, Riz. Takut tidur sendirian kalau di rumah belum ada orang.”


“Oh ... maaf, Ma. Tadi mampir ke rumah dulu. Periksa rumah, jadi terlambat pulang. Maaf ya, Ma.”


Oleh karena merasa tidak enak telah meninggalkan Mama Mirna sendirian di rumah, aku berjalan menghampiri sofanya duduk. Aku selalu berusaha mengalah dan bersikap lembut kepada mertua. Sambil duduk, kutatap dengan tersenyum


“Rahma kapan pulang?” tanya Mama Mirna.


"Katanya, dua minggu lagi, Ma."


Mama Mirna hanya bergumam mendengar jawabanku. Ia menoleh ke TV dan kedua kakinya kembali ditekuk ke dada. Aku merasa kikuk sekali. Mata cepat-cepat kualihkan


"Eh ... eh ... ya, udah. Saya tidur dulu ya, Ma.”


“Ya, Riz. Selamat tidur.”


Kutinggal Mama Mirna yang masih nonton TV, segera masuk ke kamar. Setelah melepas semua pakaian, aku cuci muka di wastafel kamar. Wajah yang terasa sejuk karena tersentuh air, menjadi mengantuk. Lalu, aku naik ke tempat tidur tanpa mengenakan pakaian.


Keesokan pagi ketika bangun tidur, aku mendengar suara di dapur. Bergegas kuraih handuk kimono yang tergantung di lemari dan menuju ke ruang makan. Kulihat Mama Mirna sedang menyiapkan sarapan. Rupanya nasi goreng kesukaanku 

Posting Komentar

0 Komentar