APAKAH INI SELINGKUH? PART 3


 Pagi harinya aku terbangun dengan tubuh masih telanjang. Kulihat istriku juga masih sama telanjangnya denganku. Setelah semalaman kami bersetubuh dengan puas, pagi itu kami terbangun dengan perasaan yang bagagia sekali. Untungnya anak perempuan kami belum bangun, jadi dia tak sampai melihat ketelanjangan kedua orang tuanya.


Jaga-jaga kalau anakku terbangun, aku buru-buru memakai lagi celana kolor untuk menutupi kemaluanku. Sedangkan istriku langsung memakai dasternya tanpa dalaman apapun. Kembali kami berbaring di atas tempat tidur meski kulihat di luar sana matahari sudah bersinar terang. Kondisi rumah tanpa kehadiran mertuaku benar-benar kami pergunakan untuk santai-santai saja.


“Pahh..”


“Hhmm.. apa mah?”


“Luki beneran make barang itu gak yah?” tanya istriku membuka obrolan.


“Eh, apa mah? Maksudnya dildonya mama?”


“Iya dong.. kasian dia, ditinggal sama suaminya terus.. kayaknya sih hubungan mereka lagi gak baik-baik aja deh pah”


“Ehh.. mama ga boleh bilang begitu.. itu buruk sangka namanya..” balasku menoleh ke arah wajahnya.


“Yaa tapi.. aku mulai merasa itu yang sekarang terjadi”


“Gak.. doakan aja hubungan mereka langgeng.. kita berharap yang terbaik dong maa” ucapku serius.


Aku terdiam mendengar ucapan istriku. Meski aku melarangnya untuk berburuk sangka tapi itu malah membebani pikiranku. Apakah benar yang dikatakannya itu betul-betul terjadi? Bisa saja sebenarnya, mengingat hubungan jarak jauh itu pasti banyak sekali godaan dan rintangannya.


“Iya, kemarin ada voucher diskon dari sekolahnya Nadia.. lumayan sih”


“Hihihi.. iya deh.. tapi papa aja yang kasih tau dia, mama biar siapin dulu barang-barang yang mau dibawa”


“Lohh.. kok aku?”


Dengan jalan gontai aku naik ke lantai dua. Kudekati pintu kamar Luki yang tak tertutup rapat. Kupikir dia sudah bangun karena pintunya agak terbuka. Seperti biasa, tanpa mengetuk pintu aku langsung saja memanggil namanya dan bergerak masuk.

Luki menjerit ketika kubuka pintunya agak lebar. Kami berdua sama-sama terkejut dan saling menatap. Kudapati Luki tengah terbaring di atas tempat tidurnya dalam kondisi telanjang bulat. Bukan itu saja, sebuah batang dildo juga nampak menancap pada belahan memeknya.

Aku langsung beranjak pergi dari depan kamarnya dengan perasaan tak karuan. Bukan dia saja yang malu, tapi aku juga merasakannya. Entah habis ini aku akan bagaimana menghadapinya. Selama dia tinggal serumah dengannku, baru kali ini aku melihat tubuh telanjangnya. Bukan itu saja, dengan jelas kulihat Luki sedang masturbasi, suatu hal yang sangat rahasia dan tak boleh orang lain tahu.

“Hiihhh.. ketuk dulu dong pintunya.. maen masuk aja” protesnya kemudian.

Kulihat dia kini sudah memakai gaun tidurnya seperti malam tadi. Dari cahaya matahari yang menyinari ruangan lantai dua, aku bisa melihat bayangan payudara dan permukaan vaginanya. Dengan bahan kain yang menerawang tentunya membuat semakin mudah apa yang ada di balik baju tidurnya terlihat olehku.

“Oke, siap-siap aja kalo gitu..”

Kutinggalkan dia masuk ke dalam kamarnya lagi. Kuturuni tangga lantai dua dengan senyum di bibirku. Kok bisa-bisanya aku mengalami hal itu. Ternyata barang yang dipinjamkan istriku dipakainya juga. Coba kalau aku ceritakan pada istriku apa yang akan terjadi yah? mungkin biar kucari waktu yang tepat dulu.

Perjalanan menuju tempat renang memang tak terlalu jauh, bahkan terbilang sangat dekat. Tapi karena kami pergi berempat tetap saja aku membawa mobil biar sekali jalan. Begitu kami sampai, istriku dan Luki langsung menuju tempat pembelian tiket. Sedangkan aku kebagian membawa barang bawaan sambil mengawasi anak perempuanku.


“Maa, lumayan sepi ya ternyata.. enak nih bisa coba semua kolam, haha..” ujarku.


“Iyaa bener, mungkin karena mahal tiketnya orang jadi males.. tuh cuma ada beberapa orang, malah pada pacaran “ balas istriku sambil nunjuk ke arah sepasang muda-mudi yang berendam di sudut kolam.


“Iya juga sih maa, tiket seorang 100 ribu.. orang tajir aja kali ya yang renang disini” ucapku kemudian.


Tempat renang itu memang masih baru buka. Makanya ada promo dan diskon yang diberikan pada orang yang berkunjung ke tempat ini. Kulihat ada empat kolam berbeda kedalaman. Paling dangkal untuk bayi, kemudian ada yang kedalaman 50 cm untuk anak-anak. Di sebelahnya agak jauh ada dua kolam yang kedalamannya beberapa meter. Satu ada seluncurannya dan satunya tidak, yang tidak ada seluncurannya katanya sih untuk latihan renang profesional.


“Mau langsung renang atau duduk-duduk dulu nih?“ tanya Luki dari arah belakangku.


“Ganti baju dulu deh, nanti kalo mau duduk-duduk dulu ya gapapa sekalian pemanasan” jawab istriku.


“Yaudah.. yuk ganti baju dulu kak“


Kubiarkan istriku dengan Luki menuju tempat ganti baju, sedangkan aku langsung mencari tempat duduk dan mengganti baju anakku dengan baju renangnya. Aku sendiri memang sudah memakai celana renangku dari rumah, sehingga aku cukup melepas kaos dan celana pendekku saja.


Beberapa saat kemudian istriku dan Luki kembali. Mataku terbelalak tak percaya melihat apa yang mereka pakai. Memang baju renang mereka nampak biasa saja, sama seperti yang dipakai orang lain. Tapi di balik baju mereka kulihat jelas tonjolan puting susu milik istriku dan milik Luki. Sepertinya di balik baju renang yang mereka pakai, mereka sudah tak lagi memakai Bh.


“Ehh.. kalian ini mau renang apa mau ngapain?”


“Emang kenapa sih mas? Ada yang aneh?” balas Luki santai.


“Tuhh.. puting susu kalian ngejiplak jelas banget tuhh.. emang ga pake Bh apa?”

“Ketinggalan tadi paah.. mending mana, renang gak pakai daleman atau baliknya gak pakai daleman?” timpal istriku tanpa bisa kubantah.


“Lahh, kok bisa ketinggalan sik? Trus Luki juga sama, ketinggalan juga?”


“Enggak sih mas, tapi biar kak Sari ada temennya aja.. sekalian ga usah dipake” balas Luki enteng saja.


“Baju renangnya Luki warnanya abu-abu kan? punyaku juga warnanya gelap nih.. legging kita juga warnanya hitam, gak akan keliatan kalau gak pakai daleman renangnya” imbuh istriku.

“Iya sih ga tembus, tapi kan pasti nyeplak nanti toket sama pantat kalian” ucapku kemudian.


“Enggak lah.. makanya kita nanti ga sering-sering keluar dari air.. orang gak akan sadar kok kita gak pakai daleman. Lagian kan sepi juga disini gak begitu ramai” jawab istriku.

“Nahh... gitu mass.. Bh sama cd punya kita disimpen aja dulu.. pulangnya baru dipakai“ imbuh Luki yang sedari tadi cuma senyum-senyum saja.


“Hihihi... tenang paa.. ga bakalan.. mana ada cowo mau ngeliatin body ibu-ibu anak satu gini?”

“Yahh.. biar anak satu tapi bodynya masih ngebentuk bagus gitu..” balasku, mereka berdua hanya senyum saja mendengarnya.

Memang benar, tubuh istriku itu masih langsing dan bentuknya bagus banget. Tak beda jauh dengan tubuh Luki yang masih belum punya anak. Bedanya istriku itu payudaranya sudah agak melorot setelah menyusui anak kami selama dua tahun lamanya. Kalau payudara Luki masih terlihat bulat membusung. Apalagi dalam balutan baju renang yang ketat itu membuat bentuknya semakin menarik dipandang.


Kami lalu masuk ke dalam kolam yang dangkal. Membasahi tubuh kami sebagai pemanasan sebelum memasuki kolam lainnya dan menaiki seluncuran. Baik istriku maupun Luki yang nampak cuek dengan pakaian yang mereka kenakan tak sedikitpun berusaha menutupi bagian indah di tubuh mereka. Untungnya di tempat ini tak sedang ramai pengunjung, bahkan serasa seperti kolam pribadi.

Toket Luki memang hampir sama besarnya dengan punya istriku. Setelah tubuhnya terendam air, putingnya jadi semakin terlihat menonjol di balik baju renangnya. Begitu juga kulihat payudara milik istriku, mungkin karena kedinginan kedua putingnya ikut menonjol. Pantat Luki juga tergolong montok dan membusung, tapi masih lebih montok punya istriku, hehe.


“Eh Luk.. pentilmu nongol tuhh..” celetuk istriku melihat ke dada Luki.


“Hihihi.. eh iya nih kak.. kedinginan makanya nonjol.. punya kakak juga tuhh” balas Luki tertawa.


“Hihihi.. biarin dehh.. kalo ada yang ngeliat kan bukan cuma punyaku aja.. punyamu kan sama-sama nonjol..” balas istriku santai sekali.

“Makanya.. siapa suruh ga pake daleman.. untung sepi..” ujarku menimpali.

Selama kami berenang bersama, aku lebih banyak menemani anakku. Sedangkan istriku dan Luki bermain-main sesuka hati mereka. Kubiarkan saja apa yang mereka lakukan sambil mengawasi anakku berenang.

“Gak deh maa, aku temenin Nadia aja.. mama sama Luki aja tuhh” jawabku.


Istriku dan Luki kemudian berenang kepinggir, lalu naik di tangga untuk keluar dari kolam. Di bagian seberang tangga tersebut terdapat kolam khusus untuk berenang biasa. Sepasang muda-mudi yang ada disana melongo saat menyaksikan istriku dan Luki keluar dari kolam karena aliran air yang turun menarik baju yang mereka gunakan sehingga bentuk payudara montok mereka berdua tercetak dengan jelas. Luki kulihat tertawa geli menyadari cowo itu kagum melihat kearahnya, sedangkan cewenya jutek banget karena merasa toketnya kalah ukuran.



“Pelampung apaan kak?”


“Gak usah.. yang di dada itu bisa buat pelampung kok.. dijamin ga bakalan tenggelam deh” celetukku membalas ucapan keduanya.

“Hhhh.. papa nihh.. awas yah!” istriku tersenyum kecut.

Istriku menaiki seluncuran air kemudian diikuti oleh Luki di belakangnya. Kuperhatikan sepasang muda-mudi tadi masih belum beranjak dari tempatnya, malah si cowonya menatap setiap gerakan yang dibuat oleh istriku dan juga Luki. Aku yakin pemuda itu juga menyadari kalau kedua perempuan itu tak memakai Bh di balik baju renang mereka.

“Nadia mau naik seluncuran sayang?” tawarku pada anak perempuanku.

Kubiarkan anakku main-main sepuasnya, sedangkan aku masih melihat ke arah dua perempuan yang naik seluncuran itu. Mataku tak bisa lepas dari mereka karena aku masih khawatir sesuatu yang memalukan bisa terjadi akibat kenekatan mereka.

‘Sruuutttt.. byurrrr!’ istriku meluncur duluan. Kulihat gerakannya masih tertata, karena memang dia dulu pernah berlatih renang secara profesional.


Kali ini giliran Luki yang meluncur. Karena dia dalam posisi duduk mengangkang, lipatan vaginanya tercetak jelas pada kain celana legging yang dia pakai. Detik itulah baru kusadari selain dia tak memakai Bh, ternyata dia juga tak memakai celana dalam. Mata pemuda yang sedari tadi melihatnya semakin terbelalak melihat pangkal paha Luki. Akhirnya pemuda itu mendapat satu pukulan keras di lengannya dari cewe yang kuperkirakan adalah pacarnya itu.


Luki dan istriku nampak cuek sekali dengan kondisi mereka. Situasi tempat renang yang sepi membuatku tak ingin menghentikan mereka. Kubiarkan saja pemuda itu melihatnya lagi, kupikir yang rugi bukan aku, bisa-bisa habis ini dia diputusin sama cewenya. Hehe.




Kembali mereka naik ke atas seluncuran. Kali ini istriku meluncur dengan posisi membaringkan diri dan kakinya berada di depan.


Aku tersentak kaget ketika tubuh istriku menyentuh air. Dia menjerit kemudian tertawa meski baju atasnya tersingkap sampai bulatan payudaranya terbuka separuhnya. Mataku terbelalak tak percaya, tapi itu benar-benar terjadi. Aku langsung melihat sekitar, untung tak ada orang lain yang melihatnya kecuali pemuda yang sedari tadi memang sedang berduaan dengan pacarnya. Dia mendapat tontonan gratis bulatan toket istriku tentunya.


“Maaa... mama... itu.. itu.. “ teriakku sambil menunjuk ke arah bajunya. Kudekati dia yang masih berada di dekat ujung bawah seluncuran.

“Apa paa? Eh... iya.. maap.. hihihi..” istriku malah cekikikan sendiri sambil menurunkan ujung baju renangnya.




Belum selesai aku bicara dengan istriku, ternyata Luki sudah meluncur dari atas. Akibatnya akupun tertimpa tubuhnya yang tercebur ke dalam air. Untuk sesaat lamanya Luki memeluk tubuhku dengan erat. Sampai kurasakan desakan payudaranya di dadaku dan pangkal pahanya menggesek batang kemaluanku.



“Hhhh.. gapapa Luk... ati-ati dong..” balasku.


Menyadari aku masih memeluk tubuh Luki, buru-buru kulepaskan pelukanku padanya. Takutnya nanti istriku malah cemburu dengan perlakukanku pada Luki. Hanya saja kulihat istriku malah senyum-senyum tak jelas melihat ke arah kami.

“Udah ahh.. yang bener dong.. renang biasa aja” pintaku kemudian.



“Eh, anu... emm... maksudnya gimana ma?” aku bingung pada ucapan istriku, apa maksudnya dinikmati sepuasnya, apa dia mengomentari pelukanku pada Luki tadi.


“Maksudku renangnya ini lho paa.. kan biar ga rugi udah bayar mahal” sambungnya lagi.


“Ohh... iya sih maa.. yaudah serah kalian.. biar aku temenin Nadia aja”


Waktu berjalan semakin siang. Suasana tempat renang itu semakin sepi. Mungkin karena cuaca yang terasa panas hingga membuat pengunjung yang datang memilih untuk segera pulang. Penjaga kolam juga tinggal dua orang saja dan tempatnya agak ke pojok, lumayan jauh dari posisi kami.


Aku dan anakku sudah keluar dari dalam air dan duduk santai di kursi yang ada di tepi kolam. Sedangkan istriku dan Luki masih nampak menikmati berendam di dalam air tepat di depanku. Wajah-wajah mereka nampak bahagia sekali.


“Luk.. ambilin ban itu Luk.. buat mainan” pinta istriku kemudian.


“Eh, iya kak..”


Saat Luki sudah keluar dari kolam dan menarik bannya mendekat, istriku tiba-tiba menarik legging Luki dan beralasan menjadikannya sebagai pegangan. Istriku menarik celananya hingga merosot sampai bagian lututnya. Luki yang panik karena tangan satunya sedang memegang ban, kebingungan untuk menutupi bagian memek atau pantatnya karena hanya tersisa satu tangan.



“Eeeh.. sorry, sorry Luk.. aku hampir kepeleset tadi.. reflek megang celanamu” kata istriku, tapi ada senyum mengembang di bibirnya. Aku tahu dia sengaja melakukannya.


“Aduh.. ihh.. malu nih memekku keliatan kemana mana...” rengek Luki cemberut.

Memang celana Luki melorot hingga sebatas lutut sehingga memeknya yang berbulu tipis dan bongkahan pantatnya terpampang dengan jelas. Namun dengan sekejap kemudian Luki melepaskan ban yang dipegangnya dan segera menarik kembali celananya. Aku hanya tertawa saja melihatnya, karena terus terang aku menikmatinya juga.

“Sorry Luk.. gak sengaja tadi, hihihi..”


“Ahh, ga sengaja gimana sih kak? pasti kak Sari mo ngerjain aku yah?”


“Gak lah.. emang ga sengaja kok Luk..” balas istriku lagi.


Mereka berdua kemudian menceburkan diri lagi ke dalam kolam. Sambil berpegangan pada sebuah ban, mereka nampak bermain-main seperti anak kecil. Tak lama berselang, kudengar istriku merencanakan keisengan lainnya dengan Luki.

“Luk.. kakak tantang kamu berenang telanjang, berani?” ucapnya pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya jelas.


“Apa? Ehh.. gimana yah?”


“Udah santai aja.. tadi kan memek kamu udah sempat kelihatan, hihihi...”


“Mmmm.. okee.. kakak gimana? Berani gak?” balas Luki menantang istriku balik.


“Ehh.. berani dong..” balas istriku setelah melihat keadaan sekitar yang sepi.

Aku tak menduga istriku akan nekat seperti itu. Memang mamanya anakku itu kalau di kesehariannya lemah lembut dan cenderung pendiam, tapi kalau sudah muncul isengnya pasti lebih nekat dari siapapun. Sengaja aku tak ikut campur urusan mereka, tapi tetap saja aku jaga-jaga kalau ada orang lain yang mendekat.


“Nah, sekarang gini.. posisimu kan ketutup sama ban.. lepas celana sama baju kamu terus serahkan... nanti aku bawa ke depan duluan. Kalo aku udah berhenti baru kamu keluar dari ban terus renang ke arahku buat ambil bajumu ini, bannya kan nanti ngikut sendiri jadi biarin aja“ tantang istriku pada Luki.


“Hmm.. boleh.. boleh, siapa takut! Jangan jauh-jauh tapinya“ Luki coba mengingatkan.



Luki melepas celananya dan memberikannya kepada istriku. Dia kemudian melihat kondisi sekitar yang mulai sepi karena para pasangan muda-mudi yang sebelumnya ada sudah keluar dari kolam. Setelah dia pastikan keadaan sekitar yang sepi, Luki melepas kaosnya juga hingga perempuan cantik itu bertelanjang bulat di siang hari, di tengah area kolam renang dan hanya ditutupi oleh sebuah ban.


“Gilak!! Kalian nekatnya bukan maen..” gumamku tak begitu terdengar oleh mereka.


“Luk bentaar.. “


“Apaan lagi sih kak? Aku dah mau renang ke depan nih“

“Nih tangkap..” kata istriku sambil melemparkan kaosnya kepada Luki.


“Ebuseett.. kakak berani banget sih, edan!” Luki sempat melongo melihat keberanian istriku. Akupun mengalami hal yang sama dengannya.

“Udah buruan.... mumpung lagi sepi nihh..” sambut istriku.


Aku jadi panas dingin dibuatnya. Dua perempuan anggota keluargaku sedang berada di kolam renang umum dalam kondisi tanpa busana. Bisa-bisa kalau ketahuan orang lain dikira kami sedang berbuat mesum disini. Dengan cepat aku berdiri dan mengawasi kondisi sekitar.


“Kalian gi ngapain sih? cepetan!” teriakku pada kedua perempuan itu.


“Bentar paahh.. lagi seru nihh”


Baik Luki maupun istriku tak begitu mempedulikan aku yang sudah gugup setengah mati di pinggir kolam. Keduanya malah ketawa-ketawa cekikikan tanpa merasa bersalah sedikitpun. Setelah selesai berenang satu putaran, istriku dan Luki kemudian mengambil lagi baju-baju mereka dan memakainya.


“Udah yuk.. cepetan mandi.. keburu mengkerut nih memek” ucap istriku vulgar, untungnya anakku tak mendengarnya.


“Hihihi.. ayoh kak.. tapi seru banget sih tadi”


Mereka kemudian memutuskan untuk mandi pada sebuah ruangan yang agak luas. Sepertinya tempat itu bukan untuk mandi, hanya untuk membilas tubuh saja. Istriku masuk duluan diikuti oleh Luki yang berada di belakangnya. Aku mengikuti mereka karena aku harus memandikan anakku juga. Sengaja aku tak masuk karena ruangan itu hanya untuk wanita saja.


“Luk, mandi disini aja“ ajak istriku pada Luki di belakangnya.


“Iih, ogah ah kak... make sabunnya ribet kalo bajunya masih nempel“


“Ya buka laah, biar ga susah“ kata istriku cuek.



“Udah cuek aja.. ini kan tempat khusus perempuan.. paling yang ngeliat juga papanya Nadia, hihihi..”


Dari luar ruangan kudengar pembicaraan mereka. Aku tak mengira kalau istriku mendadak jadi secuek itu pada kondisi sekitarnya. Luki yang merasa masih ragu tentunya cuma bisa mengikuti saja apa yang istriku lakukan. Sebentar kemudian sudah kudengar suara gemericik air dari dalam ruangan pertanda kedua perempuan itu memang benar-benar mandi.


Selesai mandi dan berganti pakaian, kami semua langsung lanjut pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, kedua perempuan itu masih saja membahas apa yang telah mereka lakukan tadi sambil tertawa-tawa. Apalagi saat mereka mendengar apa yang aku rasakan, mereka kembali tertawa ngakak. Memang seru buat mereka, tapi buatku itu satu kejadian yang berbahaya. Aku kemudian meminta mereka untuk tidak melakukannya lagi.


Sesampainya di rumah, Luki langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sepertinya mau mandi lagi karena katanya air bilas di tempat renang tadi kurang bersih. Sedangkan istriku menemani anakku yang mengantuk selepas capek berenang seharian tadi. Aku sendiri sibuk mengeluarkan baju-baju basah dari plastik lalu kumasukkan ke dalam mesin cuci. Tak ingin menumpuk baju basah, akupun menyalakan mesin cuci untuk sekalian membersihkan baju-baju yang sudah kumasukkan tadi.


“Mas, mesin cucinya belum penuh kan?” tanya Luki yang keluar dari balik pintiu kamar mandi.


“Belum tuh, masukin aja baju kamu”


“Oke mas, kebetulan nih”


Luki lalu memasukkan baju-bajunya ke dalam mesin cuci. Kini tinggal selembar handuk saja yang masih melingkar menutupi tubuhnya.


“Lah itu, masukin aja sekalian Luk” tatapku pada handuk yang dia kenakan.

“Hihihi, mas Aan bisa aja.. bugil dong aku ntar”

“yahh, siapa tau mau dicuci sekalian, hehe..”


“Gak lah mas.. tapi kalau mas Aan mau ngeliatin aku bugil, yuk ke kamarku aja.. aku mau pake lagi barang pinjeman dari kak Sari” ucapnya lagi setengah berbisik padaku.


“Eh, emm.. enggak.. enggak.. ntar malah jadi masalah baru Luk” balasku berbisik juga.


“Kirain mas Aan udah berani, hihi..”

“Hhh.. kamu ini.. mancing terus”


“Hihihi”


Luki pun berlalu dan jalan naik ke kamarnya. Setelah memastikan tak ada masalah dengan mesin cucinya, aku bergegas menuju kamarku. Rasa capek setelah berenang tadi membuatku ingin sekali membaringkan tubuh barang sebentar saja.


“Pah.. puas yah tadi” celetuk istriku saat melihatku masuk ke dalam kamar.


“Iyahh... sekarang jadi capek ma”


Aku berdiri sebentar di depan tempat tidur. Kuperhatikan istriku tengah membaringkan dirinya dalam kondisi tanpa busana. Pakaiannya tadi sudah aku masukkan ke dalam mesin cuci, sedangkan Bh dan celana dalamnya kulihat sudah berserakan di atas lantai.


“Puas renang apa puas ngeliat Luki telanjang sih paa?” tanya istriku tiba-tiba.


“Ehh, mama pikirannya itu lhoo.. kok bisa mikir gitu sih?” balasku heran.


“Hihihi.. udah deh paa.. jujur aja, papa suka kan ngeliatin Luki tadi?”

“Emm, iyaa.. papa suka, normal kan sebagai laki-laki”


“Iya dong.. tapi mau gak, kapan-kapan mama bikin Luki bugil lagi?”


“Mau gak paaa? Hayoo...” paksanya.

“Ihhh.. papa tau gak, pas lagi bugil di kolam tadi mama jadi horny banget paa..”


“Wuaahh... mangkanya pentil mama tegang terus.. ayuk lahh.. gasss.. hahahaha..”

Begitulah hari itu kami tutup dengan persetubuhan yang heboh sekali lagi. Kuhajar memek istriku dengan ganas sampai dia kelojotan karena orgasmenya. Di tengah sibuk memuasi birahi kami, tanpa sepengetahuan kami, ternyata di balik pintu kamar sudah berdiri sesosok perempuan yang mendengar semua yang terjadi di dalam ruangan.

Posting Komentar

0 Komentar