APAKAH INI SELINGKUH? PART 2

 


Sore itu aku duduk santai di teras belakang rumah sambil menemani anak perempuanku main. Memang saat aku ada di rumah kupastikan anakku ada bersama denganku. Bisa dibilang Quality time-lah. Supaya perkembangan mental dan kejiwaannya bagus kalau dekat dengan ayahnya. Hanya saja yang ada di sampingku bukanlah istriku, melainkan Luki yang sedari tadi memang gabut dan bingung mau ngapain di kamarnya.


Kebetulan mertuaku pergi bersama salah satu adiknya keluar kota. Jadilah di rumah tak terlalu ramai dengan omelannya yang biasa memprotes apa yang istriku kerjakan. Akupun jadi tenang, begitu juga Luki yang bebas dari rutinitas menemani mertuaku. Sebenarnya apa yang diprotes mertuaku itu bagus juga, tapi kadang terlalu over, masih menganggap istriku belum mampu mengerjakan tugas rumah tangga dengan baik.


“Paahh.. makan diluar aja yuk.. bosen nih di rumah terus..” keluh istriku yang muncul dari arah pintu dapur.


“Mmm.. ayuk deh, mama mo kemana?”


“Kemana yah? serah papa aja dehh..” balasnya mendekatiku.


“Kita ke kafe ‘Kucing Hutan’ aja yuk kak!” ucap Luki semangat, padahal kami tak bertanya.


“Diihh.. apaan? Nama kafe kok ‘Kucing hutan’? Beneran ada gak tuh tempatnya?” kataku tak percaya.


“Ehh.. beneran ada maasss.. ini lho aku baru liat di Insta story temenku..”


“yaudah deh paa.. kita coba kesana aja” istriku menyetujui.

“Hhh.. okelah.. udah cepet ganti pakaian” ajakku kemudian.

Malam itu akhirnya kami berempat dengan menumpang mobilku jalan ke pinggiran kota. Jalannya menanjak karena berada di lereng bukit. Memang cocok kalau ada kafe di tempat seperti itu. Selain pemandangannya bagus, situasinya juga tenang, gak bising karena suara kendaraan bermotor. Seperti yang Luki bilang, tempatnya beneran ada dan namanya memang Kucing Hutan. Setelah memarkir kendaraan, aku, istriku, anakku dan Luki langsung mencari tempat dengan suasana paling nyaman.


“Tuhh kan.. aku bilang apa.. beneran namanya Kucing Hutan” kata Luki menyenggol lenganku.


“Iya.. iya... emang aku aja yang ga tau Luk..” balasku.


Luki malam itu nampak cantik sekaligus modis. Dengan jilbab warna cream yang dipakainya membuat kesan anggun terlihat jelas dalam diri Luki. Sedangkan istriku yang memakai jilbab warna biru langit terkesan keibuan banget. Pakaiannya memang sederhana, tapi enak dipandang dan tak membosankan.


“Udah ini aja yang dipesan?” tanya istriku kemudian.


“Iya itu aja, udah banyak tuhh..” balasku.


“Oke.. bentar aku ke kasir”


Istriku dan anak perempuanku jalan ke arah kasir yang berada di dalam ruangan terpisah. Karena kita memilih tempat duduk di luar ruangan akhirnya istriku harus jalan agak jauh. Sebenarnya tempatnya tak begitu luas, tapi penataan bangunannya terkesan aneh dan jalannya memutar. Entah kenapa dibuat begitu aku tak tahu alasannya.


“Mas..”


“Kak Sari cantik yah...”


“Ya cantik dong Luk.. kalo ga cantik mana mungkin dia kujadikan istri, hehe..”


“Gak mungkin.. ayo dong mas, siapa yang lebih cantik?” cecar Luki. Aku belum tahu pertanyaannya mau mengarah kemana.


“Gini.. kamu memang cantik Luk.. Sari juga cantik.. cuma cantiknya kalian itu beda”


“Beda gimana sih mas?”


Obrolan kami terhenti ketika istriku datang. Tak ada lagi pembicaraan antara aku dan Luki yang membahas pertanyaannya tadi. Ketika kami makan pun apa yang kami obrolkan hanya seputar kondisi rumah dan cerita tentang mertuaku yang sering ngomel gak jelas. Itu kata mereka berdua, aku hanya menimpalinya saja.


Sekitar jam 9 malam kami beranjak pulang. Sebelum masuk ke dalam mobil istriku mengantar anakku ke toilet terlebih dulu. Sedangkan aku dan Luki lanjut berjalan menuju parkiran. Sedari tadi aku melihat ada yang janggal dengan penampilan Luki, mumpung tak ada istriku langsung saja aku utarakan apa yang jadi pemikiranku.

“Mmm, iya sih..”


“Beneran?” aku mendadak tak percaya jawabannya.

“Iya bener, nihh.. coba pegang mas.. putingku aja ngejiplak gini masak gak keliatan?” Luki menyingkap kain jilbabya sebatas leher.


“Eh, apaan sih Luk? Udahh.. aku percaya kok, balikin..”


“Emang napa sih mas? Mas Aan jadi perhatian banget deh”


“Gapapa sih.. tapi, ngapain juga kamu ga pake daleman gitu?”


“yaa biar keliatan seksi aja mas, ngetes aja apa badanku masih diperhatiin orang apa enggak”


Malam itu Luki seperti mendapat kebebasan yang lain ketika mertuaku tak ada di rumah. Dia dengan bebas bisa nonton drama korea di depan Tv sepuasnya. Kalau istriku sendiri tak pernah marah atau protes pada kelakuan Luki. Ketika aku keluar kamar hendak ke kamar mandi, kulihat Luki sudah duduk santai dan nyaman di depan Tv yang layarnya sedang menampilkan oppa-oppa korea itu.

“Ahhh.. drakor lagi drakor lagi.. ga ada bosennya kamu?” ujarku sambil melewati Luki.


“Biarin, weekk..”

Aku lanjut jalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan membasuh muka. Setelah selesai aku langsung kembali menuju kamar, namun begitu melewati Luki aku malah duduk menemaninya. Ketika aku sudah duduk tenang, Luki sempat melirik ke arahku.


“Ihh.. katanya ga mau nonton?” tanya Luki jengkel.


“Loh, emang aku nonton? Kan cuma duduk sebentar aja.. masak ga boleh?” balasku tak kalah sengit.

“yudah mass.. iya dehh..”


Sejenak mataku melihat ke arah Luki yang duduk menatap layar Tv. Malam ini dia memakai gaun tidur tipis di tubuhnya. Karena warnanya yang hitam menerawang, mataku jadi bisa melihat lekuk tubuh di balik gaun yang dipakainya itu. Tak kulihat lagi bayangan Bh di tubuhnya hingga tonjolan puting susunya kadang ikut menerawang di balik kain baju tidurnya itu. Luki nampak tenang saja, meski dia tahu aku sedang memperhatikannya.

“Gimana, malam ini udah telfon suami kamu belum?” tanyaku basa-basi lagi.

“Kok cuma sebentar? Lagi sibuk yah suami kamu”

“Hhmm.. iya mungkin, lagi ga pengen diganggu sama istrinya yang bawel ini mungkin” balasnya murung.


“Ehh.. jangan buruk sangka gitu dong, ga baik..”

Luki tak membalas lagi ucapanku, dia masih sibuk menatap layar Tv sambil mengangkat kedua kakinya ke atas kursi. Dengan kedua tangan memegangi lututnya, celana dalamnya kini jadi terumbar bebas. Bahkan gundukan memeknya nampak tercetak jelas di balik kain segitiga merah muda yang menutupinya. Agaknya bulu-bulu kemaluan yang tumbuh di sekitar vaginanya sudah dia bersihkan.


“Jangan lupa dimatiin yah lampunya” ucapku seraya berdiri.


“Iya deh mas.. gak lupa kok” balasnya.


Aku langsung balik ke dalam kamarku. Kudapati istirku masih belum tidur. Matanya masih melotot menatap layar Hpnya. Tumben dia belum tidur, pasti kepikiran mamanya.


“Kenapa sih maa?” ucapku sambil rebahan di sampingnya.

“Lagi tanya kabarnya mama..”


“Udah selesai acaranya?”


“Udah..”


Sehabis pulang dari luar tadi istriku tak mengganti pakaiannya. Begitu membuka semua bajunya dia langsung naik ke atas tempat tidur. Kulihat jelas tubuhnya yang putih bersih itu kini hanya memakai Bh saja, sedangkan yang bawah dia tutupi dengan selimut.


“Kok ga dilepas sekalian Bhnya?” tanyaku iseng.


“Eh, iya.. bentar pah..”


“Sini aku bantuin...” ucapku sambil memegang tali Bhnya.


“Idihh.. papa ada maunya pasti, hayoo”

“Hehehe.. iya dong..”

Tak kupedulikan istriku yang masih membuka layar Hpnya. Kaitan Bhnya aku tarik dan kulepaskan begitu saja. Dalam sekejap saja istriku sudah tanpa busana, tubuh putih mulusnya semakin jelas terlihat di mataku.


“Papa lagi horny yah?”


“Iya dong maa.. punya istri cantik begini mana bisa tahan” balasku.


“Hihihi.. iya deh.. mau bikin adek buat Nadia?”


“Ehh, mama mau sekarang? Ayo deh, hahaha...”


Istriku itu tipe wanita yang kalem di luar tapi ganas di ranjang. Kalau sudah horny pasti dia akan berapi-api mainnya. Untungnya aku bisa mengimbangi kebinalannya saat di ranjang, kalau tidak, bisa kalah terus aku.


“Pahh.. mumpung mama ga di rumah.. maennya yang heboh ya pahh..” pintanya.


“Lahh.. kan ada Luki di depan itu.. ntar dia dengerin kita gimana?”


“Udah gapapa.. salah sendiri mau dengerin kita, biar dia tahu enaknya ngen-tottt..” balasnya cuek, malah terasa sedang menggodaku berbuat lebih berani.

“Okeeeehhh..”


Aku kemudian berdiri. Kupelorotkan celana pendek yang kupakai hingga terlepas dari tubuhku. Batang penisku yang sudah setengah tegang itu kuarahkan ke mulut istriku. Tanpa basa-basi lagi istriku langsung mencaplok batang kemaluanku dan mengulumnya kuat-kuat.


“Aaahhh.. aduhhh.. pelan aja maah..”


“Hemmphhh.. slurrpphh.. sakit yah pah?”


“Enggak sih.. cuma kaget aja, hehehe..”


Aku dan istriku sudah sama-sama bugil. Batang penisku pun sudah berada di dalam rongga mulut istriku dan keluar masuk dengan nikmat. Kalau masalah hisap-hisapan, istriku jagonya. Jujur saja memang bukan hanya penisku saja yang pernah masuk ke dalam mulutnya, beberapa orang pacarnya dulu juga pernah merasakan kuluman bibirnya itu. Kami berdua memang selalu terbuka untuk masalah begituan. Aku tak pernah marah padanya, karena perawannya aku yang dapat. Bahkan sampai sekarang ini cinta dan kesetiaannya pun sudah jadi milikku.

“Ohhh... enak banget maaa..”


“Emmpphhh.. emmhh.. emmhhphh..”



Mulanya aku dan istriku tak menghiraukan suara ketukan itu. Lagi enak-enaknya sih, jadi malas banget mau membuka pintu. Kupikir si Luki hanya ingin mengerjai kami berdua saja.



“Kakk.. kak Sari.. bisa minta tolong bentar gak kak?” suara Luki dari balik pintu kamar.


“Aduhh, ngapain sih Luki? Gangguin orang lagi enak aja” gerutuku.



Istriku kemudian turun dari atas tempat tidur. Dia kemudian jalan mendekati pintu tanpa sempat menutupi tubuh telanjangnya. Aku menegurnya supaya memakai daster dulu, tapi istriku malah senyum dan cuek saja. Sebelum dia membuka pintu, istriku memberi kode supaya aku sembunyi.


“Ada apa sih Luk?” tanya istriku setelah membuka pintu.


“Mm.. anu kak... minta tolong kasih bedak punggungku, gatal banget.. rasanya panas lagi” keluhnya begitu bertatap muka dengan istriku.


“Ohh.. biang keringat itu.. udah ada bedaknya?”


“Belum sih, makanya aku minta miliknya Nadia aja kak.. ada kan?” balasnya.


“yaudah.. tunggu sebentar aku ambilin bedaknya Nadia”

Istriku kemudian mengambil bedak obat gatal milik anakku. Pintu kamar yang terbuka sedikit membuatku bisa melihat Luki yang masih berdiri di depannya. Memang tempatku menyembunyikan tubuhku yang telanjang adalah di balik pintu.


“Bentar ya pah.. ga lama kok” bisik istriku dengan senyuman centilnya. Tangannya tak lupa menarik penisku dan mengocoknya sebentar.


“Ahh.. gangguin aja” balasku pelan.


Isrtiku kemudian keluar kamar. Dia biarkan pintu tetap terbuka sedikit hingga aku bisa melihat apa yang mereka lakukan di luar. Nampak olehku Luki yang berdiri di depan kursi ruang tengah membalikkan badan membelakangi istriku.

“Mana yang gatal?”


“Punggung kak.. semuanya”


“Ohh.. coba buka aja baju kamu” suruh istriku kemudian.


Luki tak bicara, dia langsung saja menarik gaun tidur yang dipakainya itu ke atas. Kupikir hanya sampai sebatas itu saja, tapi Luki dengan santainya kemudian melepas gaunnya itu dari tubuhnya. Kupikir berani banget dia melakukannya, apa dia gak kepikiran kalau aku juga bisa melihatnya. Dari balik pintu kamarku, kedua mataku melihat jelas bagian belakang tubuh Luki yang kini hanya tertutup sebuah celana dalam warna merah muda. Ugh, putih dan mulus banget tubuh perempuan itu.

Kini tepat di depan kamarku ada dua orang perempuan cantik. Satunya sudah telanjang bulat dan satunya tinggal memakai celana dalam saja. Sebuah pemandangan yang tak lazim kulihat. Namun aku benar-benar menyukainya. Mungkin saja kalau mertua ada di rumah pasti hal ini tak akan terjadi.


“Merah-merah nih Luk.. ntar kalo mandi pake aja sabunnya Nadia.. biar ga tambah parah” terdengar suara istriku memberi saran.



Kulit mulus Luki jadi terlihat semakin putih ketika bedak yang ditarburkan istriku rata mengenai tubuh bagian belakangnya. Setelah dirasa cukup, Luki tiba-tiba membalikkan tubuhnya menghadap ke arah istriku. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan jadinya biasa saja. Tapi beda halnya denganku. Mataku yang melihat bulatan payudara Luki menggantung bebas itu membuat batang penisku kembali tegak mengeras. Sial, kenapa aku jadi horny melihat tubuh wanita lain, bikin tambah penasaran aja.


“Udah ya Luk.. ga ada lagi yang gatal kan?”


“Mmm.. ga ada kak.. kecuali yang ini, hihihi..” ucapnya sambil mengusap belahan memeknya dengan telapak tangan.


“Hihihi.. kasian deh kamu... sabar aja yah Luk.. resiko suami kerja jauh ya gitu” istriku membalasnya tanpa beban.


Luki kemudian duduk di depan Tv tanpa memakai lagi gaun tidurnya. Sedangkan istriku kembali masuk ke dalam kamar. Aku masih tetap bersembunyi di balik pintu dan menunggu sampai istriku yang menutupnya.


“Ngapain tuh si Luki?” tanyaku pura-pura kesal.


“Hihi.. kena biang keringat, punggungnya pada merah semua paa..”


“Ohh, mandinya kurang bersih palingan..” ucapku sekenanya.

“Ihh.. ya enggak lah.. cuacanya emang gerah.. Nadia aja udah kena duluan malah”


“yaudah.. sekarang gantian ini yang gatal maa.. minta dikocok, hehehe..”


Kudekati istriku sambil mengarahkan batang penisku ke belahan pantatnya. Meski sambil menyimpan kembali bedak milik anakku, istriku sedikit menunggingkan pantatnya dan membuka kedua kakinya.




Kupegangi pinggul istriku dan mulai kuarahkan batang penisku tepat di depan celah memeknya. Istriku menoleh ke belakang sambil tersenyum, melihatku yang sudah tak sabar ingin menyetubuhinya.


“Aaaahh.. aaahhh.. emmhhh.. pelan.. paahh.. sshhh...” rintihnya kemudian.

“Emmhh.. uhh.. tahan ya maa..” balasku.


Slephhh!

“Aauhhhhh... bilangin pelan, malah disodok kuat!” protes istriku dengan mata melotot tapi bibir bawahnya digigit, membuatku jadi makin gemes.



Kami berdua masih dalam posisi berdiri, namun istriku membungkukkan tubuhnya di depanku. Dari belakang kusodok lobang vaginanya dengan penisku dan kugenjot pelan-pelan. Libido istriku itu bisa terbilang mudah bergejolak, tapi mudah juga orgasmenya. Hanya beberapa kali sodokan saja sudah membuat memeknya jadi becek. Dengan perlahan namun pasti, batang penisku sudah keluar masuk dengan lancar melewati lobang kenikmatan istriku. Suara desahan pun tak tertahankan keluar dari mulut mungilnya.


“Sshhhhhhh... ooohhhhh.. punya papa keras bangetthh..” memek istriku terus menjepit penisku dengan nikmat. Kurasakan lobang itu semakin basah, semakin memperlancar pompaanku yang kulakukan cepat.


“Oohhhh.. oohhhh ... aduuhh paaaahhh” tiba-tiba tubuh istriku bergetar hebat. Namun aku terus meyodoknya hingga membuat bongkahan pantatnya terpental-pental.



Crrr.. crrr... crrrrrrr...... sreetttt.


Cairan orgasme keluar dari lobang kencingnya. Menyemprot keluar membasahi pangkal pahaku dan sebagian kecil pahanya. Aku sempat kaget saat cairan itu memancar keluar, tapi aku bangga bisa membuat istriku orgasme duluan.


“Dihhh.. kok udah keluar sih maa?”


“Ahhh.. hhh.. hhh.. enak banget sih paa.. aaahh.. enak bangethh..” racaunya.

“yaudah.. sini.. kita ganti posisi aja” ajakku kemudian.


Aku berbaring di atas lantai kamar. Meskipun rasanya dingin di tubuhku tapi tak kupedulikan. Birahiku yang memuncak membuatku ingin terus menjepitkan penisku pada liang senggama istriku.


“Ayo maa.. lanjut lagi..” ucapku menatap wajahnya yang sayu.


Istriku kemudian mendekat. Dia mengangkangkan kedua kakinya di atas pinggangku. Tangannya pun menggenggam batang penisku dan memasukannnya ke lobang memeknya yang sudah basah itu. Dengan perlahan namun pasti batang kemaluanku mulai terbenam lagi kedalam memeknya.



Mata bulat indah istriku menatapku tajam. Dengan bulu mata yang lentik alami dan alis yang tebal sempurna membuatku semakin jatuh cinta padanya. Untung dia sudah jadi istriku yang sah, jadinya aku bisa menikmati tubuhnya semauku. Kutarik tangannya dan kucium bibir tipisnya.

“Mmmpphhh.. emmmhhh...” bibir kami mulai berpagutan erat. Tanganku ikut bergerilya di sekujur tubuh telanjangnya, kadang mampir meremas payudara istriku yang sekal dan mempermainkan puting susu perempuan cantik itu.

Semenjak istriku punya anak satu, bulatan payudaranya semakin membesar. Hanya putingnya saja yang berubah jadi coklat gelap. Tapi itu tak merubah ketertarikanku pada buah dadanya. Malah aku jadi semakin gemas dan suka sekali mempermainkan puting susunya sepuasku.



“Iiya.. terus.. entotin aku paa.. aku suka dientot.. aahh.. teruss” racaunya kemudian.

“Ugh, peret banget maaa!” pujiku.

“Enak.. kan.. ahh-mem-memek akuu?”


Istriku terus menjerit-jerit sambil menggoyangkan pinggulnya di atas tubuhku. Wanita yang biasanya kalem dan lembut di kesehariannya itu memang jadi heboh kalau sedang dientot. Selama ini dia hanya bisa teriak-teriak begitu kalau mertuaku lagi tak ada di rumah. Tubuh mulus istriku tersentak-sentak seiring teriakannya.


“Terus paaa.. kontolin memek aku.. kontolin paaa.. hhhaahhhhh...”


Payudaranya yang menggelantung aku remas-remas. Goyangannya yang liar kuimbangi dengan hentakan pinggulku ke atas dengan kuat. Disaat dia mulai capek dengan goyangannya, kusangga kedua pantatnya denga telapak tanganku lalu kuhentakkan pinggulku ke atas secepatnya. Istriku mulai mengerang lebih keras. Namun tiba-tiba dia mencengkram tanganku. Tubuhnya melengkung ke atas dan menjerit histeris.


“Aaaaahhhhh... paaaaahhh.. nyampeeeee!!”



Teriakan istriku semakin kencang dan histeris saat dia meraih orgasmenya. Tubuhnya ambruk tapi dia masih mengerang nikmat. Aku yang merasa akan mencapai puncaknya tak mau menunggu lama lagi. Kubalikkan badannya hingga telentang di lantai lalu kembali kusodok memeknya dengan cepat.



Aku mulai memompa lobang memek istriku dengan konstan, pelan lalu mulai cepat dan bertenaga. Dia hanya mengerang dan melenguh setiap tusukan penisku di memeknya. Orgasmenya yang datang dua kali membuat tubuh istriku lemas. Dia makin menggelinjang keenakkan begitu kupermainkan payudara dan puting susunya yang indah itu.

“Hooohhhh... mamaaa.. enak banget maaa.. aahh... papa mau.. mau..”

“Iya paahh.. tusuk yang keras paah.. aahh.. mama juga enakk..” balasnya dengan mata terpejam.

“Aahhh.. ngecrot nih maa.. aahhh.. nge-crottt..”


“Di daleem, semburin memek aku paaah!” rengeknya.

Aku menggeram bersamaan dengan desahan istriku yang menerima tumpahan spermaku di dalam liang senggamanya. Nikmat, hangat dan erotis banget. Tubuhku yang berkeringat itu terasa lega dan kemudian melemas. Tenagaku seketika terkuras dan permukaan kulitku seperti merinding melepaskan cairan maniku di dalam lobang memek istriku.

Tok.. Tok.. Tokk...!! terdengar pintu kamarku diketuk lagi. Pasti Luki yang melakukannya.


“Uuhhh.. napa lagi tuh anak? Gangguin aja dari tadi..” gerutuku.


“Bukain aja pahh..” balas istriku lemas.

“Ahh, biarin aja.. usil banget siih..”


“Eh, bukain.. tanya ada apa lagi..” paksa istriku kemudian.

“Hhh.. iya dehh..”

Istriku masih tergeletak di atas lantai menikmati sensasi lelehan spermaku di lobang vaginanya. Kucabut penisku yang masih setengah tegang itu dan akupun berdiri. Harusnya malam ini jadi malam yang spesial buatku dan istriku, tapi malah digangguin terus sama si Luki. Kelihatannya dia memang sengaja melakukannya untuk mencari perhatian dari kami.



“Ada apalagi sih Luk?” tanyaku, sambil menyembunyikan tubuh telanjangku di balik pintu.


“Hihihi.. anu mas.. heboh banget sik.. sampe kedengaran di luar lohh..” ujarnya malu-malu.

“Emang napa? Kamu keganggu yah?”


“Ihhh.. mas Aan ga ada perasaan.. jelas dong keganggu.. mana suamiku belum pulang lagi..“ balasnya sebel.



Sambil bicara dengannya kusadari Luki juga menyembunyikan dirinya di balik pintu kamarku. Jadinya aku hanya bisa melihatnya sebatas punggung saja. Namun dari pungunggnya yang tak tertutup kain, aku tahu kalau dia belum memakai lagi gaun tidurnya selepas tubuhnya dikasih bedak oleh istriku tadi.


“Ada apaan sih Luk?” istriku ikut nimbrung juga. Dia berdiri di sampingku tanpa berusaha menutupi tubuh bugilnya meski Luki dapat melihatnya.


“Anu kak.. emm.. suaranya itu lohh.. heboh banget”


“Ohh.. iya maaf, hihihihi.. lagi semangat bikin adek buat Nadia soalnya” balas istriku cekikikan sendiri.

“Udah yah Luk.. aku lanjutin dulu.. kalo keganggu mending kamu masuk ke kamar aja” kataku menyarankan.


“Ehh, lagi nonton drama itu mas.. belum selesai” jawabnya meringis.


Situasi ini benar-benar canggung buatku, tapi buat istriku sepertinya biasa-biasa saja. Memang kalau sesama perempuan sukanya terbuka apa adanya begitu. Biasanya kami memang bersetubuh dengan bebas di kamar tapi suaranya tak sampai seheboh tadi. Mungkin kali ini Luki benar-benar terganggu, apalagi dia juga butuh kepuasan selama suaminya tak ada di rumah. Rasa iri pasti ada dalam pikirannya saat ini.


“Bentar Luk.. aku ambilin sesuatu..” ucap istriku, dia kemudian menuju lemari pakaian dan mengambil sesuatu.


“Ehh.. mama?” gumamku melotot tak percaya ketika kulihat istriku sedang memegangi sebuah Dildo berbentuk alat kelamin pria.

“Ssssttt.. papa diem aja dulu” bisiknya.


Meskipun tubuhnya masih telanjang, istriku tetap tenang membuka pintu dan keluar menemui Luki. Benar apa yang aku pikirkan tadi, Luki memang masih belum memakai lagi gaun tidurnya. Tubuhnya saat ini hanya terbalut sebuah celana dalam saja. Mataku melotot tak percaya dibuatnya. Saat ini kedua payudaranya yang bulat membusung itu terlihat di mataku dengan jelas. Gilak! Santai banget dia berdiri di depanku seperti itu.


“Nihh, pake aja dulu.. biar gak gatel terus..” ucap istriku pelan.



“Iya dong.. dulu aku juga sering ditinggal sama papanya Nadia.. ini obat yang mujarab Luk.. hihihi..”

“Eh.. iya kak... makasih, hihihi..”


Mereka berdua tertawa cekikikan bersama. Aku yang melihatnya hanya bisa melongo tak percaya. Tapi kusadari memang kebutuhan wanita itu bukan cuma harta, tapi kepuasan secara seksual pun tak kalah pentingnya.


“Yaudah kak.. lanjutin aja..” senyum sumringah terpancar di wajah Luki.


“Iya.. iya..”


Membayangkan Luki akan memakai dildo itu menyodok memeknya membuat libidoku naik. Batang penisku yang semula sudah akan tidur mendadak kembali tegak mengeras. Gilak! Bisa-bisanya hanya membayangkan begitu saja aku sudah kembali horny.


“Eh, udah dong ngobrolnya.. keburu malam nih..” aku keluar dari balik pintu kemudian menarik istriku kembali masuk.


“Aduhhh, papa.. ehh.. iya.. iya..”


Luki hanya melihatku kaget tak percaya. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga ketika sekilas mendapati tubuh telanjangku dan juga batang penisku yang tegak mengacung terlihat olehnya. Aku sudah tak peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Langsung saja kututup pintu ketika istriku sudah kembali berada di kamar.





“gak deh.. ini pasti abis ngeliat Luki tadi kan? hayoo.. papa sange’ ngebayangin Luki pake dildonya mama kan?” tembak istriku.



“Iya.. iya.. yaudah maunya papa posisi apa niih?”


“Doggy enak nih maa..”


“Hihihi.. oke paa..”


Untungnya keesokan harinya aku libur, jadi aku bisa ngentotin istriku sampai hampir subuh. Kalau masalah kuat ngentot, jangan tanya lagi kemampuan istriku. Dia bisa orgasme dan muncrat berkali-kali tapi tetap saja memeknya menjepit dengan kuat. Beruntung sekali aku punya istri sepertinya.

Posting Komentar

0 Komentar