APAKAH INI SELINGKUH? PART 1




 Bulan ini usia pernikahanku genap 7 tahun lamanya. Selama itulah aku membina rumah tanggaku bersama Sari. Seorang perempuan cantik bertubuh semampai yang dulunya adalah adik angkatanku di kampus. Memang tempat kuliah kami sama tapi fakultas kami yang beda. Aku berada di tehnik sedangkan dia memilih fakultas ilmu administrasi.


Karena aku dan Sari berasal dari kota yang sama, akhirnya tiap kali kami berdua pulang kampung pasti dalam satu bus yang sama. Dulu kami belum punya motor atau kendaraan lainnya, pilihannya hanya ada bus atau naik kereta saja. Berawal dari seringnya kami pulang bersama itulah aku jadi dekat dengannya. Masa pacaran kami terbilang lama dan awet. Mulai dari dia semester dua sampai lulus pun kami masih tetap bersama. Bahkan kebersamaan itupun berlanjut sampai sekarang setelah kami berdua resmi jadi suami istri.

Menurutku kehidupan rumah tangga kami terbilang biasa saja. Suka duka kami lewati tanpa ada hambatan yang berarti. Pekerjaanku yang ikut menangani proyek infrastruktur pemerintah membuatku sering sekali jauh dari rumah. Namun dua tahun ini aku memilih untuk bekerja di sekitar kota tempat tinggalku saja. Kalau ada pekerjaan yang keluar kota pasti aku arahkan ke teman-temanku.
Tak berselang lama setelah aku membeli rumah itu, ayah mertuaku meninggal dunia. Setelah kepergian ayahnya, istriku berencana pindah rumah lagi namun tetap tidak diijinkan oleh mertuaku. Di rumah mertua juga tinggal sepupu istriku yang dari kecil memang dirawat oleh mertuaku, tapi sekarang dia sedang kerja di luar pulau. Dia juga sudah punya istri yang ikut tinggal serumah dengan kami. Mungkin itulah alasan istriku ingin menempati rumah kita sendiri.
“Ya namanya udah punya rumah sendiri masak ga ditempati sih mam”

“Jangan.. kamu tetap tinggal disini saja, aku belum mengusirmu”
Selain aku, istriku dan juga anakku, di rumah mertua juga ada sepupu istriku. Namanya Rizal, lelaki berumur 24 tahun, sudah menikah dan istrinya juga ikut tinggal bersama kami. Semua itu memang mertuaku yang mau. Tentunya dengan rumah yang cukup besar dan berlantai dua ini membuat kami nyaman saja tinggal bersama. Karena sepupu istriku kerja di luar pulau, praktis yang ada di rumah adalah istrinya saja. Mereka belum punya anak sampai sekarang, mungkin karena sering ditinggal pergi dan ketemunya hanya dua bulan sekali.

Istrinya Rizal namanya Lukitasari, biasa dipanggil Luki. Umurnya sama dengan Rizal, bahkan bulan mereka lahir pun sama, hanya tanggalnya yang beda. Luki adalah seorang perempuan dengan wajah cantik dan bertubuh langsing, namun dengan payudara bulat membusung. Dulu aku tahu dia tak memakai jilbab, namun setelah menikah dengan Rizal dia langsung membiasakan diri memakainya. Hanya saja kalau di rumah dia tetap berpakaian biasa saja, tak terlalu tertutup, bahkan cenderung cuek dengan penampilannya.

Mertuaku juga sama halnya kalau masalah penampilan. Di usianya yang sudah mendekati angka 50 tahun itu malah terkesan tak mau tahu masalah apa yang dipakainya. Kalau di rumah kadang aku melihatnya hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa Bh. Untuk menghormatinya aku tak sekalipun komentar masalah penampilannya itu. Istriku juga tahu, tapi dia juga diam-diam saja. Mungkin penampilan ibunya itu sudah sering dilihatnya semenjak kecil.

***

“Iyaaa..”

Kuhampiri anak perempuanku yang keluar dari kamar mandi dengan tubuh basah kuyup. Kubawakan handuk kering lalu kuusap tubuhnya perlahan untuk menghilangkan bulir-bulir air yang menetes dari tubuhnya. Situasi seperti ini jadi rutinitasku tiap pagi. Sebelum aku berangkat kerja pasti aku sempatkan untuk memberi perhatian pada anak perempuanku. Supaya ikatan batin dengan papanya tak berkurang dan tetap terjaga.
“Iya maa..”

Biasa tiap pagi mertuaku ada di belakang rumah untuk melakukan olah raga senam. Setelah tubuhnya berkeringat dia pasti duduk di teras belakang sambil minum segelas ramuan herbal hangat. Hampir tiap pagi selalu begitu dan tak pernah berubah sampai sekarang.

Aku kemudian membawa anak perempuanku masuk ke dalam kamar. Pakaian sekolanya sudah siap di atas tempat tidur. Sedari dia kecil, aku memang sudah terbiasa memakaikan baju pada anakku. Tentu saja hal itu membuatku melakukannya dengan cepat sekarang ini. Hanya dalam waktu sebentar saja anakku sudah siap dengan pakaian seragam sekolahnya.
“Nadia udah selesai siap-siap ya pah?” suara istriku membuka pintu kamar.

“Udah.. cepetan mah, udah mau jam 7 ini” balasku.

“Hhh.. iya.. iyaa...”

Istriku datang dari kamar mandi hanya memakai handuk saja. Begitu handuk itu dia lepas langsung saja tubuh telanjangnya terpampang di depanku. Aku diam tak komentar, apa yang dia lakukan itu sudah sejak awal kami menikah aku melihatnya.

“Duuh.. mamaah.. pagi-pagi udah maen telanjang aja.. ntar kalo aku pengen gimana?” godaku mencubit putingnya.

“Aahh, udaahh.. ga usah macam-macam paahh.. kerja.. kerjaa..” balasnya.

“Huufft.. iya deh..” ucapku lesu.

Selepas istriku memakai baju dan mendandani wajahnya, dia kemudian sarapan bersama anakku. Kalau pagi begini sudah jadi tugasnya untuk mengantar anak kami sekolah. Sedangkan aku langsung berangkat kerja tanpa menunggui mereka sarapan.

Kehidupanku memang terasa membosankan. Tiap hari harus berkutat dengan hal-hal yang itu-itu saja. Namun aku tetap berpikir positif dan menikmati semuanya, kuanggap semua ini adalah proses menuju suatu kehidupan yang kuharapkan akan lebih baik daripada waktu sekarang.
Pulang dari tempat kerjaku sudah agak malam. Kebetulan hari itu banyak sekali laporan yang harus aku selesaikan dan kantor wilayah sudah memaksa untuk segera mengirimkannya. Aku sampai di rumah sekitar pukul 9 malam. Suasana sudah sepi tapi lampu masih menyala semua. Lepas dari garasi aku langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kedua kakiku. Memang itu kebiasaanku sebelum masuk ke dalam rumah.
Bagitu aku masuk kudapati Tv masih menyala. Hanya ada Luki saja yang duduk menontonnya. Memang jam segini istriku dan mertuaku sudah tidur. Mereka memang tidurnya cepat karena keesokan paginya juga harus bangun cepat juga.

“Nonton apaan sih kamu Luk?” tanyaku melewatinya.
Malam ini Luki kulihat memakai daster terusan tanpa lengan warna merah bata. Dengan belahan dada yang rendah membuat bulatan daging kenyal payudaranya tampak menyembul sebagian. Dengan itu saja aku sudah tahu kalau Luki sudah tak memakai Bh lagi. Bukan suatu hal yang aneh, sudah sering aku melihatnya seperti itu.



Aku berlalu meninggalkannya untuk masuk ke dalam kamarku. Langsung saja kutemui istri dan anakku yang sudah tertidur lelap. Tampak anak perempuanku tidur menghadap tembok, sedangkan istriku ada di sebelahnya dalam posisi telentang. Kebiasaan istriku kalau tidur suka memakai daster tipis dan ujungnya cuma sebatas tengah pahanya. Sama seperti mama mertuaku, istriku juga punya kebiasaan kalau di rumah memang suka tidak memakai Bh dan celana dalam. Itulah kenapa aku bisa melihat belahan memeknya ketika istriku tidur telentang seperti saat ini.

Tanganku coba mendekati belahan kemaluannya, tapi segera kuurungkan niatku karena kasihan nanti dia terbangun dari tidurnya. Kujauhi saja dia lalu akupun segera mengganti pakaianku dengan kostum sehari-hari, apalagi kalau bukan celana kolor saja. Yah, kalau di rumah dan sudah mau tidur aku biasa cuma memakai celana kolor dengan telanjang dada.

Sebelum tidur aku kembali memastikan pagar sudah terkunci berikut semua pintu rumah. Kumatikan beberapa lampu yang tak perlu untuk menghemat pemakaian listrik di rumah. Bukan tanpa sebab karena yang tiap bulan membayar tagihan listrik tentu saja aku. Selesai memastikan semua sudah terkunci akupun kembali ke ruang tengah.

“Masih nonton ya Luk? Emang belum ngantuk yah?” tanyaku pada Luki yang belum beranjak dari depan Tv.
“Belum mas.. bentar lagi..” ucapnya pelan, matanya tak mau pindah dari adegan film yang dilihatnya.

Karena aku belum terlalu mengantuk, akupun ikut duduk di depan Tv, tepat di seberang posisi Luki duduk. Karena Luki mengangkat kedua kakinya di sofa, mataku tentu saja jadi bisa melihat celana dalam warna putih yang menutupi pangkal pahanya. Aku tak bereaksi apa-apa, kalau cuma celana dalam saja aku sudah sering melihatnya.

“Eh, Rizal kapan pulang?” tanyaku basa-basi kemudian.

“Ohh, yaudah.. sabar aja Luk..” ucapku mengerti apa yang dirasakannya.
“Huhhh.. udah sabar terus ini mas.. kalo ga sabar mungkin sudah kutinggal saja dia”
“Ehh.. ya jangan dong, suami kamu kan pergi cari uang.. gimana sih..”

Mataku ikut tertuju pada layar Tv. Dimana terlihat adegan beberapa orang berpakaian kerajaan korea sedang bertarung. Setelah itu kembali kuperhatikan Luki, wajahnya nampak serius mengamati apa yang tampil di layar Tv.
“Napa sih kamu suka drama korea Luk?”

“Wihh.. pemainnya cakep-cakep mas.. gantengnya itu imut, hihihi..” Luki tertawa sebentar, badannya yang ikut berguncang memperlihatkan sepasang buah dada yang menggantung bebas di balik dasternya.

“Ohhh.. suka ‘k-pop’ juga dong?”

“Apa yang paling kamu suka?” sambungku.


“Wahh.. EXO dong mas.. paling demen sama mereka” balasnya dengan sumringah.


“Dream? Apaan sih?” tanyaku tak mengerti.
“Iihhh.. cowo emang ga pernah ngerti soal boy band Korea.. ya sama, cuma mereka itu satu agensi mas” terangnya.

“Hehehe.. iya.. iya.. emang ga ngerti aku Luk.. maaf yaa..”
Wajah Luki yang ceria menambah kecantikan alaminya. Tanpa riasan macam-macam saja wajah perempuan di depanku ini sudah menarik. Rambutnya hitam lurus tergerai menutupi pundak putih mulusnya. Matanya yang bulat sayu dengan alis tebal mendatar juga jadi daya tarik tersendiri dari sosok Luki. Belum lagi bibirnya yang mungil merah merona membuatnya nampak manis sekaligus centil. Memang pintar sekali sepupu istriku itu mencari pasangan hidup.

“Eh, ga usah.. udah mau tidur..”
“Ohh, kirain mau nemenin aku” balasnya.
“Lah, nemenin? Emang kamu mau begadang lagi?”

“Ga juga sih.. tapi.. emm..” aku melihat kegundahan dalam sorot matanya.

“Udahh.. jangan mikir macem-macem deh, kamu nonton aja drama itu.. cari hiburan aja, jangan dibuat susah hidup ini” balasku coba menghiburnya.
“Hihihi.. iya sih mas..”
“Yaudah.. udah telfon Rizal kan tadi?”

“Udah.. tapi dia lagi sibuk katanya.. ada meeting sama pekerjanya”

“Iya biasa itu.. doakan saja dia selamat, sukses.. bisa kasih kamu uang yang banyak” ujarku.


Wajar kalau seorang perepuan gundah hatinya kala suaminya pergi jauh dan dalam waktu yang lama. Memang kebutuhan materi itu penting, namun tak kalah pentingya adalah kebutuhan bathin. Itu juga yang mendasariku pindah kerja ke kota ini, supaya aku lebih dekat dengan keluargaku. Meskipun kalau dilihat dari nominal gaji memang kalah jauh dari yang kerja di luar pulau.
“udah ya, aku mau tidur dulu.. jangan lupa lampunya dimatiin” pamitku kemudian.

“iya mas..”
Akupun lalu beranjak pergi masuk ke dalam kamarku. Besok masih harus kerja lagi. Daripada begadang lebih baik aku segera tidur dan mengistirahatkan badan serta pikiranku.

***

Pagi itu semua berjalan seperti biasanya. Istriku sedang mandi dan aku sudah menyiapkan anakku berangkat sekolah. Namun ada satu hal yang aneh karena Luki masih belum kelihatan. Biasanya kalau kami sudah sibuk aktivitas di pagi hari pasti Luki juga ikutan membantu.
“Paaahh.. bangunin Luki dong, suruh bantuin masak” teriak istriku dari dalam kamar mandi.

“Luki suruh bikinin jamu buat mama ya An, kamu bangunin aja kalo masih tidur” kali ini mertuaku yang bicara. Aku tak bisa menolaknya.

Dengan sedikit rasa malas akupun naik ke lantai dua tempat kamar Luki berada. Kuhampiri pintu kamarnya dan kuketuk beberapa kali sambil memanggil nama Luki. Sampai kuulangi beberapa kali namun tak ada jawaban yang kuterima. Nekat saja aku membuka pintu kamarnya karena aku bingung mau menjawab apa pada mertua kalau sampai Luki tidak segera bangun.
‘Klekk!’ kubuka pintu kamarnya pelan.

“Luk.. Luki.. bangun dong.. udah pagi nihh..” ucapku mendekatinya.

“Hhhh.. emmhh.. napa sik? Aahh.. masih ngantuk nih masss..” ucapnya dengan mata terpejam.

Luki kutemui masih memakai daster pendek tanpa lengan yang tadi malam dipakainya. Ujung bawah pakaian itu sudah tersingkap sampai di pinggangnya hingga celana dalam putih yang dipakainya terlihat olehku. Pada titik ini aku sudah tak nyaman berada terus di ruangan kamar Luki. Kalau ada orang lain tahu pasti aku dikira berbuat cabul padanya.

“Eh, bangun dong.. udah pagi nihh..” kataku sambil menggoyang pundaknya.
“Aahhh.. bentar aja maass.. hooaaahhmmm..”
Kali ini dia menepis tanganku yang menyentuh pundaknya. Karena gerakannya itulah, tali daster yang sebelah kiri jadi melorot turun melewati lengannya. Mendadak aku disuguhi pemandangan bulatan payudara putih mulus dengan puting coklat kemerahannya. Ukurannya pun tak mengecewakan, hampir sama dengan punya istriku ketika dia masih menyusui.
“Eehhh.. gimana sihh? Itu lho mama minta dibikinin minuman.. ayo dong bangun..” pintaku lagi.
“Hoaahhhhhmmm.. ahh.. iya deh mas.. tunggu bentar..” balasnya malas.
“Hhh.. yaudah.. pokoknya aku udah ngebangunin kamu yah, ntar kalo mama marah kamu tanggung aja sendiri”
Luki dengan perlahan mulai duduk di tepi tempat tidur. Tali dasternya yang melorot masih tak dia pedulikan, atau mungkin dia belum sadar sepenuhnya. Daripada aku dikira macam-macam mending aku segera keluar dari kamarnya.
“Udah bangun dia pah?” istriku rupanya ikutan naik ke lantai dua, tapi begitu melihatku turun dia malah berhenti di tengah tangga.
“Udah.. tadi malam dia tidur kemalaman, habis nonton drama korea sih..” balasku.


“Makasih mah.. ayo makan aja kalo gitu”

Aku dan istriku langsung menuju meja makan. Tak lama berselang Luki turun dari lantai atas dan melewati kami yang sedang menikmati sarapan. Seperti hari biasanya dia hanya memakai selembar handuk saja untuk menutupi tubuhnya. Kulihat dia sudah menenteng daster dan celana dalamnya untuk dimasukkan ke dalam mesin cuci.

“tuhh.. dicariin mama tuh..” ucap istriku pada Luki.


“Udah cepetan kamu bikinin minuman buat mama..”
Luki berlalu meninggalkan kami berdua menuju dapur. Baik aku maupun istriku sama-sama tak pernah komentar pada penampilan Luki ketika pagi begini. Mungkin bagi istriku pemandangan perempuan hanya memakai handuk saja sudah biasa, namun buatku tentu saja itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Hehe.
Beberapa hari kemudian kejadian itu terulang lagi. Luki kembali terlambat bangun, kebiasaan menonton drama sampai larut malam membuatnya jadi susah bangun pagi. Kembali mertuaku menyuruhku untuk membangunkan Luki karena dilihatnya istriku sedang sibuk menyiapkan makanan untuk kami tanpa ada yang membantu.

“Bangunin Luki pahh.. siram pake air kalo perlu..” ucap istriku menahan emosi.
“Ehh.. ngawur aja mama ini.. suaminya marah ntar” balasku.

Kali ini dengan santai aku naik ke lantai dua dan langsung membuka kamar Luki tanpa mengetuknya lagi. Kupikir kalaupun aku ketuk pasti gak bakalan dibuka juga. Memang Luki biarpun cantik begitu kalau tidur jadi mirip kebo, susah dibangunin.

“Luk... bangun.. udah siang nihhh” ucapku pelan.

Pagi ini pemandangan yang aku lihat berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Kalau biasanya Luki tidur memakai daster, sekarang ini dia malah hanya memakai celana dalam dan Bh saja. Selimut yang menutupi tubuhnya sudah acak-acakan sampai setengahnya sudah menggantung di atas lantai.
“Ayo dong Luk.. bangun.. gak enak sama mama tuh” kataku lagi.

“Hooaaaammhhh... iya.. iya mas.. udah bangun nihh..”

“yaudah cepetan turun.. masak tiap pagi minta dibangunin terus sih”

Dengan tenang Luki beranjak duduk di tepian tempat tidur seperti biasanya. Meskipun tubuhnya hanya terbalut Bh dan celana dalam saja, tapi dia tak sedikitpun merasa malu atau risih dengan kehadiranku di depannya. Kulitnya yang putih mulus jadi terlihat jelas di mataku. Perutnya yang masih rata dan gundukan kemaluannya yang tercetak tebal di balik celana dalam membuatku tergoda untuk melihatnya lebih lama. Namun aku kembali ingat, ada hati yang harus aku jaga di rumah ini.

“Mas...” ucap Luki ketika aku akan keluar dari kamarnya.

“Apa?”

“Bagus ya mas?”

“Apanya yang bagus?”

“Dari tadi ngeliatin ini terus...” ucap Luki sambil menimang kedua susunya yang terbungkus Bh putih berenda.

“Eh, anu.. emm.. bagus... baru yah Bh-nya?” selorohku bercanda.
“Duhh... kamu ini ada-ada aja.. udah cepetan kamu keluar.. ditungguin mama tuh”

Aku hampir saja mati kutu dibuatnya. Rupanya Luki tahu kalau aku tadi melihat ke arah bulatan payudaranya. Mungkin lain kali biar istriku saja yang membangunkannya, supaya tak ada fitnah diantara kita. Meskipun aku memang suka melihat pemandangan itu tapi kalau diteruskan bisa-bisa Luki lapor ke istriku. Kalau sudah begitu pasti aku dan istriku jadi ribut karena mengira aku berbuat mesum padanya.
Sewaktu aku dan istriku menikmati sarapan, Luki yang baru turun dari lantai dua lagi-lagi melewati kami dengan langkah santainya. Kembali kulihat istri dari sepupu istriku itu menutupi tubuhnya dengan handuk seperti hari-hari sebelumnya. Namun pagi ini berbeda, dia menggunakan handuknya sebagai kemben sebatas perutnya, sedangkan dadanya dia biarkan terbuka hingga susunya yang terbungkus Bh putih itu terumbar kemana-mana.
“Duhh.. tuan putri baru bangun.. dicariin mama tuh Luk” ucap istriku menyambut kedatangannya.

“Hihihi.. maaf kak.. ngantuk banget sih...”

Keduanya tampak santai bicara tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku. Istriku nampak biasa saja melihat Luki yang memamerkan payudaranya yang hanya tertutup Bh saja. Sedangkan aku harus belingsatan sendiri antara melihat dan tidak melihat.

“Bagus nih kak, murah lagi..” ucap Luki.
“Ohh.. modelnya sih biasa aja Luk” balas istriku santai membahas Bh yang dipakai Luki.

“Iya sih.. tapi mas Aan aja bilang bagus tadi”

“Ehh.. apa?” aku gelagapan sendiri mendengar ucapan Luki. Kulihat istriku mulai menatapku.

“Hemmm.. papa mau beli yang model begitu?”

“Bb-boleh mah... tapi bukannya mama udah punya yang model renda gitu” balasku sambil mulai menata ekspresi wajahku.
“Eh, iya pah.. bener.. lama ga kepake yang itu... ntar deh aku cari” istriku terlihat kembali santai, aku pun selamat dari keributan yang tak perlu terjadi.

Luki mengedipkan matanya padaku sambil senyum. Dia lakukan itu tanpa sepengetahuan istriku. Memang ada niat dia menggodaku, atau malah sengaja memancing keributan antara aku dan istriku. Mulai nakal juga nih cewe, harus lebih hati-hati aku menghadapinya.

***

Sore harinya aku pulang dari tempat kerja masih belum terlalu gelap. Mungkin sekitar jam 4 aku sudah tiba kembali di rumah. Belum aku sempat mandi, istriku langsung memintaku membantu mertua untuk membersihkan taman depan rumah. Ada banyak pot-pot besar yang harus digeser letaknya. Akupun menyanggupinya. Setelah mengganti pakaian kerjaku dengan sebuah celana kolor, segera aku pergi ke depan rumah.

“An, itu yang sebelah sana digeser kearah tembok” ujar mertuaku melihatku datang.
Selain aku dan mertua, disitu juga ada Luki yang semula membantu membersihkan taman. Penampilannya biasa saja dengan paduan kaos abu-abu dan celana lengging warna hitam. Rambutnya yang diikat ekor kuda membuat keringat yang membasahi lehernya terlihat. Aku kira dia sudah lama membantu mertuaku bersih-bersih, selain sore itu hawanya memang panas.
“Sini mas aku bantuin..” Luki mendekatiku ketika aku mengangkat pot yang agak lebar. Sebenarnya tak terlalu berat, hanya ukurannya saja yang lebar.

“Eh, iya Luk.. ati-ati yah..”

Aku dan Luki sama-sama memegang pot yang akan kami pindahkan. Karena posisinya berada di atas tanah membuat kami berdua harus membungkuk. Disaat itulah mataku menangkap sesuatu yang janggal di balik kaos yang dipakai Luki. Lewat lobang lehernya kulihat jelas kedua payudara Luki menggantung bebas karena dia tak memakai Bh.

“Udah stop dulu ngeliatnya mas.. kita angkat aja dulu ” ucapnya pelan. Rupanya dia menyadari aku sedang menatap bulatan susunya.
Setelah pot yang lebar itu kami pindahkan, Luki terus membantuku mengangkat pot lainnya sampai selesai. Padahal pot-pot yang tersisa ukurannya kecil dan aku bisa mengangkatnya sendirian. Entahlah, pasti ada maksud tertentu dari perbuatannya itu. Hanya saja aku tak mau berburuk sangka dan mengira yang tidak-tidak.

“Luk.. kok ga pake Bh sih? keliatan tuh..” ucapku pelan, supaya mertuaku tak ikut mendengar tentunya.


“Hmm.. dibilangin kok jawabnya gitu sih”

“tenang aja mas.. jangan overdosis deh” ucapnya aneh.


“Hihihihi.. iya tuh..”

“Ehh.. baunya papa asem banget! Ngapain malah duduk disini?” tanya istriku mendekat.

“Loh, ya nungguin Luki selesai mandinya dong.. emang boleh mandi bareng?” balasku sekenanya.

“Apa?? Ya gak boleh dong paahh.. sembarangan aja”

“Makanya itu aku nungguin dia selesai maa..” ujarku tak mau kalah.

Istriku tak bicara lagi. Dia lalu mengambil piring dan nasi untuk anakku. Selepas dia pergi aku jadi berpikir, kalau tadi dia bilang boleh, apa yang harus aku lakukan? Pastinya aku tak berani berbuat senekat itu. Namun bayangan ketika misalnya aku bisa mandi bersama Luki malah menyerang pikiranku. Batang penisku tiba-tiba langsung bereaksi bangun dari tidurnya. Kacau deh kalau begini terus kejadiannya.

Posting Komentar

0 Komentar