Sang pewaris (prolog)


PROLOG








Callista




Tubuh polosku memeluk suamiku yang juga sama-sama tanpa berpakaian. Kepalaku terbenam di atas bahunya. Tangan kiriku mengusapi dadanya, sedangkan kaki kiri menumpang di atas perutnya.




Aku mendongak, nampak suamiku sudah terpejam. Tapi aku tahu bahwa ia belum tidur, aku istrinya, dan aku tahu kapan ia sudah tidur atau belum. Tanpa sadar senyumku mengembang menatap wajah gantengnya. Kilatan uban yang mulai bermunculan malah membuatnya terlihat gagah dan berwibawa. Dia yang dulu mesum dan pecicilan, sudah menjelma menjadi seorang suami sekaligus ayah yang sangat bijaksana.




Umur kami memang sudah tidak muda lagi, minggu lalu kami baru saja merayakan pesta perak perkawinan. Namun kemesraan di antara kami tidak pernah luntur, gejolak cinta yang ada selalu terasa muda.




Suamiku membuka mata ketika tanganku berpindah mengusapi perutnya yang sudah sedikit berlemak. Sorot mata kami beradu, dan aku memberinya sebuah senyum terindah yang kumiliki.




Ia mengecup bibirku lembut, kubalas dengan sepenuh hati. Langsung kususul ketika ia mengakhiri, aku masih ingin mereguk ungkapan kasih sayangnya.




“Manja.” lirihnya.




Kucubit perutnya sambil memanyunkan bibir. Akhirnya suamiku kembali mengecup bibirku, dan lidah kami saling melumat.




“Ayaaaah iih..” aku melenguh manja ketika ia menggigit bibir bawahku.




Aku mendelik. Suamiku meraih tubuhku dan saling memeluk bersisian. Paha kanannya diselipkan di antara kedua kakiku, sehingga vaginaku bergesekan dengan pahanya. Kubelai rambutnya, sedangkan ia memainkan putingku. Sebuah kebiasaan yang menyukakanku. Suamiku memang selalu tidur sambil menggenggam payudaraku, entah kami bercinta sebelumnya atau tidak.




“Ayah..”


“Hmmm..?”


“Ayah yakin mau menjadikan Kekey sebagai pengganti ayah di kantor? Kenapa bukan Rei aja?” tanyaku sambil mengusapi pipinya.


“Hmm… mamah kan tahu sendiri Rei anaknya kayak gimana. Sepertinya ia belum mantap dengan dirinya sendiri, masih belum bisa mandiri.” ujar suamiku sambil menatapku lembut.




Suamiku benar. Rei anak kedua kami memang masih sering terlihat labil ketika ditanya akan masa depannya, Mungkin karena sejak kecil ia dikekelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dan memanjakannya sehingga belum merasakan kerasnya hidup, padahal umurnya sudah mendekati dua puluh tiga tahun. Ia juga memang mewarisi darah ayahnya ketika muda dulu, ia lebih senang melakukan aktivitas yang bebas tanpa terikat jadwal atau jam kerja. Hobby-nya pun menyimpang jauh dari kakak atau adiknya, putra kami memiliki hobby yang cukup unik, yaitu menulis cerita atau novel.




“Biar Rei ngurusin café aja sehingga dia akan lebih punya waktu senggang untuk ngembangin hobby nulisnya.” ujar suamiku lagi, dan kujawab dengan anggukan.


“Mamah juga sih…”


“Kok mamah?”


“Mamah itu terlalu manjain Rei, apapun maunya selalu dituruti, jadinya kebawa sampai sekarang, ia lebih bawa maunya sendiri.”


“Enak ajah.. ayah juga gak pernah nolak kalau dia minta atau usul apa-apa.” aku manyun.


“Hehehe.. sebetulnya malah Kekey yang lebih memanjakan Rei daripada kita berdua.” suamiku terkekeh.




Aku tidak menjawab, tapi dalam hati aku mengiyakan apa yang dikatakan suamiku. Sebagai anak sulung, Kekey bukan hanya protektif terhadap Rei, tapi juga pada Nzi anak bungsu kami. Tanpa sadar aku pun tersenyum, aku memiliki anak-anak yang unik, namun sangat rukun dan penurut pada orangtua. Ketiganya juga memiliki sifat yang berbeda. Kekey anaknya tegas dan bicara apa adanya. Rei lebih plin-plan, tapi kalau sudah punya kemauan ia akan berusaha keras mengejarnya. Sedangkan Nzi adalah perpaduan keduanya, namun karena usianya yang masih muda dan baru lulus SMA, sikap manjanya yang lebih terlihat.




“Mamah sih setuju aja kalau bisnis kopi diurus Rei.” ujarku.




Usai berkata begitu, aku menggelinjang karena suamiku semakin menekan pahanya sehingga bukan hanya vaginaku yang tertekan, tapi juga klitorisku. Bahkan tangannya mulai meremasi payudaraku.




“Ayaaah…” aku merengut.




Bukannya menjawab, ia malah menarik tubuhku dan memosisikan supaya aku menindihnya. Kemaluan kami saling menempel, penis gagahnya sudah kembali tegang. Kugulung dan kutarik rambutku ke belakang, lalu kukecup bibir suamiku. Ia menyambut, dan kami saling melumat syahdu. Tanpa diminta aku langsung mengarahkan vaginaku pada ujung penisnya yang sudah ia genggam.




“Mmmmhhh..” lumatanku berhenti ketika bibir vaginaku terbuka dan penis suamiku menerobos lubang nikmatku.




Aku menahan nafas ketika batang kenyal itu memasuki vaginaku sampai terbenam seluruhnya. Lalu helaan nafas panjang kuhembuskan, ketika seluruh batang penisnya sudah tertanam dan berdenyut-denyut di dalam vaginaku.




“Mah..”


“Iyah, ayah sayang?”


“Mamah bisa gak kalau kelak kita tidak bareng anak-anak lagi?”


“Maksud ayah?” aku mengernyit. Rasa nikmat pada selangkangan bercampur dengan rasa heran.


“Kalau mamah tidak keberatan, ayah ingin menghabiskan masa tua kita nanti di Ewer. Kita tinggal di sana.” Ewer adalah kampung halaman suamiku, sebuah kampung yang telah banyak memberi kenangan indah pada masa muda kami, bahkan sampai sekarang ini.




Kutatap mata suamiku, mencari kesungguhan dari ucapannya. “Mamah sih pasti berat jauh dari anak-anak, tapi mereka juga akan punya kehidupan sendiri-sendiri nantinya, mamah ikut aja apa yang menjadi rencana ayah. Wallista selamanya.” ujarku.




Mata suamiku nampak berembun karena haru. Setelah saling berpagutan selama beberapa saat, aku pun menegakkan dudukku dengan alat kelamin kami tetap beradu. Kedua tanganku bertumpu pada dadanya, pinggulku mulai maju mundur sehingga penis suamiku keluar masuk sampai ke gerbang rahim.




Rasa nikmat ini semakin tak terkata, ketika ia meremas kedua payudaraku yang bergelantungan. Mata kami pun selalu berpandangan mesra.




“Yang paling ayah khawatirin sih Nzi, Mah.” suamiku berujar di antara desahan halusnya. “Nzi masih belum punya pendirian, belum serius memikirkan masa depannya.”


“Nah kalau itu karena ayah yang terlalu memanjakan Nzi.” aku tersenyum karena berhasil membalas perkataanya tadi.




Suamiku yang gemas semakin meremas payudaraku, dan pinggulnya yang dari tadi diam mulai bergerak seirama dengan goyangan pinggulku.




“Dia itu terlalu tergantung pada kakak-kakaknya, ayah. Shhh… mmmh… makanya waktu Rei masih di Jerman ia sangat labil, apa-apa Kekey.. apa-apa Kekey… Lah kalau jauh ama Kekey juga, akan susah tuh ngaturnya.” jawabku.




Yah beginilah kami berdua. Kamar dan ranjang bukan hanya menjadi tempat tidur atau bercinta, tetapi juga menjadi saat bagi kami untuk membicarakan perkembangan anak-anak. Bahkan kami juga sering membahas urusan keluarga sambil bersenggama seperti ini. Sensasinya berbeda, bukan hanya nikmat yang terasa, tapi juga cinta yang merasuk sukma.




Sejenak obrolan kami terhenti, berganti dengan masyuknya bersetubuhan. Kini aku sudah berada di bawah, kakiku membelit pinggangnya. Kusambut sodokannya, sekali-kali kuputar pinggulku untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih.




“Mmmh.. ayah… uuuh… mamah sampai.”


“Ayah juga, sayang.”




Akhirnya aku dan suamiku meraih orgasme bersamaan. Percintaan kedua malam ini yang tak kalah nikmatnya dengan yang pertama.




Aku kembali tetirah memeluknya, kupejamkan mataku sambil merasakan belaian lembut suamiku. Aku hidup untuk suamiku, dan bagi anak-anakku; juga rela mati demi mereka.




“Ayah, gimana kalau kita suruh Rei menemani omanya dulu di Ewer selama beberapa minggu sebelum dipercayai memegang NeNeN?”


“Kenapa?”


“Mamah sih feeling aja kalau darah Sawaka itu akan terus mengalir dalam darah keluarga kita, sedangkan Mantili turun pada keluarga Dek Maya. Jadi tidak ada salahnya kalau Rei bisa mengenal lebih dalam tentang tradisi leluhur kita di sana.”


“Mamah benar. Semoga memang begitu karena dari aura yang dimiliki anak-anak kita, sepertinya Reilah yang dipilih untuk menjadi sang penerus.”




Mendengar jawabannya aku pun mengecup pipi suamiku, lalu jatuh tertidur dalam pelukannya.








https://t.me/cerita_dewasaa








Keyla (kekey)






Akhirnya selesai juga. Kisimpan file dan kututup laptop. Aku memang tidak suka menunda pekerjaan, kalau bisa lebih cepat kenapa harus dibikin lambat. Prinsipku ini sangat bertentangan dengan adik bungsuku, si ceriwis Kenzi. Bagi Nzi, kalau bisa dikerjakan nanti kenapa harus dikerjakan sekarang. Begitulah dia..! Rei adik keduaku lain lagi. Selain ganteng, ia juga baik hati. Namun sayang ia seringkali bimbang ketika mengambil keputusan, ia terlalu banyak pertimbangan dan seringkali lebih memikirkan kebaikan orang lain daripada memikirkan dirinya sendiri.




Aku ingin menikmati weekend ini tanpa memikirkan pekerjaan, aku ingin berlibur bersama keluarga, khususnya meluangkan waktu bagi kedua adikku. Kesibukanku bekerja, membuat waktu luangku untuk mereka semakin terbatas. Dan aku memang rindu menghabiskan banyak waktu dengan keduanya. Aku sangat menyayangi mereka, dan aku akan pasang badan jika ada yang menyakiti adik-adikku. Hihi.. kadang aku lebih protektif pada kedua adikku daripada ayah dan mamah.




Seusai membersihkan muka dan berganti pakaian tidur, aku pun keluar kamar. Kudengar ayah dan mamah masih ngobrol di dalam kamar mereka, terdengar mamah tertawa, mungkin ayah sedang mencandainya. Ayah dan mamah memang sangat rukun dan harmonis, bahkan juga tidak sungkan menunjukkan keromantisan mereka di hadapan kami anak-anaknya. Sampai usiaku sekarang ini, aku tidak pernah melihat ayah dan mamah bertengkar. Yeah.. mungkin aku salah, mereka sebenarnya kadang konflik juga. Bisa saja mereka bertengkar di belakang kami, namanya juga hidup. Yang jelas aku sangat bahagia dan bangga punya orangtua yang menjadi panutan bagiku.




Aku terus melangkah menuju kamar Nzi. Kubuka pintu kamarnya secara perlahan. Ia memang tidak pernah mengunci pintu saat tidur. Kulihat ia sudah pulas tertidur tanpa selimut. Daster mininya terangkat sehingga memamerkan kedua paha dan bahkan celana dalamnya. Aku hanya menggeleng melihatnya. Ia memang sangat ceroboh.




Kuturunkan tepi dasternya, lalu kuusap rambutnya dengan penuh kasih sayang. Inilah si cantik kebanggaanku, adik manis yang sangat kucintai. Kukecup keningnya, lalu kupasang selimut. Gemas melihat tidurnya yang sangat nyenyak, aku kembali mencium kedua pipinya. Lalu beranjak keluar kamar.




Langkahku tertuju ke kamar adik keduaku. Usai mengetuk dan membuka pintu, adikku nampak belum tidur. Ia masih memainkan gadgetnya sambil tiduran di atas kasur.




“Belum tidur, dek?”


“Hmm.. belum ngantuk, Kak.”


“Gak baik loh main gadget sambil tiduran.”




Aku duduk di tepi ranjang dan mengambil tablet dari tangannya, kuletakan pada meja kecil di samping tempat tidur.




“Kakak sendiri belum tidur?”


“Kakak kangen.”




Usai menjawab begitu, kubelai rambut adikku dan kuamati wajah gantengnya. Betapa tidak kangen, adikku baru sebulan ini berada di rumah. Tiga tahun ia menempuh pendidikan di Jerman.




Perasaanku berdesir, aku benar-benar jatuh cinta pada adikku. Maaf bukan cinta layaknya seorang kekasih, tapi rasa cinta yang sangat besar sebagai seorang kakak. Aku tidak rela jika ia jatuh ke dalam pelukan gadis yang salah. Adikku harus mendapatkan gadis terbaik sebagai pendamping hidupnya. Aku akan memastikan itu. Yeah.. aku tahu sekarang ini ia sudah punya pacar, yaitu teman kuliahnya di Jerman. Tapi aku belum terlalu mengenal gadis itu.




“Kakak males ah… aku kan udah gede.” ia menepis tanganku yang terus membelai rambutnya.


“Gede apaan, bagi kakak, kamu itu masih kayak anak kecil.” aku menjembel kedua pipinya gemas.


“Yeee… enak aja.”




Aku naik ke atas kasur dan Rei meletakan kepalanya di atas pangkuanku.




“Kak.”


“Hmmm?”


“Kalau aku bilang ke ayah bahwa aku gak mau kerja bareng kakak bakalan marah gak yah?”


“Marah sih nggak, tapi mungkin kecewa. Memangnya kenapa?”


“Gak sreg ajah.”




Rei memang lebih banyak curhat kepadaku atau ke mamah daripada kepada Nzi. Aku bisa memaklumi bahwa ia tidak suka kerja di kantor, dia itu tipe lelaki bebas yang tidak suka terikat oleh urusan birokrasi dan situasi formal a la kantoran. Walaupun aku sendiri mengharapkan dia mau membantu ayah dan aku di kantor, agar aku juga bisa mengawasi pergaulannya.




“Tapi bukan karena males kerja bareng kakak, kan?” ledekku.


“Ya nggaklah. Eh tapi iya juga sih, kakak galak.”




Celetukannya sukses membuat aku melotot dan tanganku menjewer kupingnya.




“Kakak, sakiit!!”


“Rasain! Huh!!”


“Kak, aku serius, aku gak mau kerja bareng ayah dan kakak.”


“Iyah.. iyah.. nanti kakak bantu bilang ke ayah dan mamah. Tapi kamu sendiri harus punya rencana mau kerja di mana. Kamu tahu sendiri, ayah dan mamah gak suka kalau kita bilang sesuatu tapi gak punya alasan yang logis.”


“Iya sih.”


“So?”


“Belum tahu hehee.”


“Kamu tuuh!! Lalu kakak gimana bantu ngomongnya, kalau kamu sendiri belum punya rencana?”




Rambutnya yang tadi kurapikan dengan tanganku, kini kuacak-acak kembali karena gemas. Tiba-tiba aku teringat akan Arischa pacarnya, tapi aku urung bertanya. Hari sudah terlalu malam, biar besok aja kuntanyakan tentang hubungan mereka. Aku sebetulnya lebih setuju Rei pacaran dengan Inka, puteri Tante Rinjani dan Om Ariya, atau dengan dengan Aethel sahabatku sekaligus manager Keuangan di kantorku.




“Tapi kalau sekali-kali kamu bantu kakak di kantor, kamu pasti ketagihan loh.” ujarku.


“Kerja kok ketagihan. Ogaah!!”


“Iya deh.. gak kerja.. tapi sekali-kali jemput kakak ya kalau pulang kantor.”


“Kan ada ayah. Biasanya juga kakak bareng ayah dan Mang Darman.”


“Kan sekali-kali kakak pengen bareng kamu donk, bareng Nzi juga.”


“Hmm.. iya deh.”




Tanpa Rei tahu, aku tersenyum. Semoga pertemuan Rei dengan sahabatku di kantor bisa membuat dia berubah pikiran.




Ciuman selamat malam kuhadiahkan pada keningnya. Sebuah kebiasaan sejak masa kecil yang masih kupertahankan sampai sekarang. Mamah kadang protes karena itu menjadi tugas mamah, tapi ayah selalu membelaku. Hihi…!!! Lagipula baik Rei maupun Nzi tidak pernah protes. Mereka malah selalu datang ke kamarku kalau aku belum menemui mereka sebelum tidur.








https://t.me/cerita_dewasaa








Kezia (kenzi,nzi)






Aku terbangun karena kebelet pipis. Hmm.. lampu utama kamarku sudah padam, dan tubuhku tertutup selimut. Padahal semalam aku ketiduran tanpa memasang lampu tidur. Pasti Kak Kekey yang melakukannya. Kakakku itu memang galak, tapi juga baik hati. Aku sayang dia.




Aku tertatih menuju kamar mandi dan pipis. Setelahnya aku urung tidur kembali, tapi keluar kamar menuju kamar Kak Rei. Dia memang sudah sebulan berada di rumah, setelah tiga tahun belajar di luar negeri. Tapi karena aku sibuk dengan kelulusan sekolah dan persiapan kuliah, membuat kebersamaan kami berkurang. Aku masih kangen dia.




Aku memang sangat dekat dengan kedua kakakku, tapi dengan Kak Rei rasanya berbeda. Ia selalu mau mendengarkan aku dan jarang menasihati. Beda dengan Kak Kekey yang lebih banyak mengatur dan mengingatkan ini-itu. Kulihat Kak Rei sedang tertidur pulas. Hihi.. ganteng banget, dan aku bangga sebagai adiknya.




Aku masuk ke dalam selimut secara perlahan agar Kak Rei tidak terbangun. Kurebahkan kepalaku di atas bahunya, dan kupeluk lembut pinggangnya. Aku sungguh merasa nyaman seperti ini. Aku merasa dilindungi.




Damai kurasakan dan aku merasa sangat nyaman. Kegantengan dan sifat Kak Rei membuat aku secara diam-diam mendambakan seorang cowok kayak dia. Makanya sampai sekarang aku hanya dua kali pacaran, dan itu pun gak berlangsung lama, karena aku tidak menemukan sosok yang mirip dengan kakakku yang satu ini.




Mamah yang paling peka. Ia seperti tahu kecenderunganku, dan beberapa kali ia menasihatiku dengan penuh kasih sayang. Aku mengerti sih, tapi kan tetep aja aku juga punya idealisme sendiri. Sebenarnya sifat Kak Rei mirip ayah. Yeaah.. mungkin dua cowok pahlawan dalam hidupku inilah yang menjadi gambaran ideal tentang siapa yang akan kujadikan sebagai pendamping hidupku kelak.




Aku juga cemburu ketika Kak Rei memperkenalkan pacarnya hihi… Aku tahu sih, aku cuma takut kehilangan perhatiannya. Aku takut kalau ia lebih perhatian pada pacarnya daripada pada keluarga.




Padahal sebenernya ada Kak Inka yang naksir berat ama Kak Rei, dan aku sangat setuju kalau mereka jadian. Tapi sepertinya Kak Rei tidak menaruh hati. Yasudahlah.. inginku sekarang adalah memeluknya.




Aku pun tertidur dengan pulas dalam pelukan Kak Rei, dan baru terbangun hampir jam setengah tujuh pagi. Kak Rei masih tidur, pulas banget. Mungkin semalam abis maen game.




Aku pun menggeliat, dan kupandang wajah kakakku. Kucium pipinya lalu turun dari ranjang. Aku menuju kamarku untuk cuci muka dan sikat gigi. Di bawah terdengar suara ayah dan mamah di ruang makan. Setelah merapikan diri dan berganti pakaian, aku pun kembali ke kamar Kak Rei.




“Kak, banguun.” aku menggoyang bahunya.




Iiih dasar kebo, pulas banget sih. Kugoyang-goyang tubuhnya lebih keras, lalu kucium kedua pipinya. Hihi.. kakak akhirnya bangun. Hari ini aku akan meminta kakak menemani jalan-jalan, mumpung akhir pekan.








https://t.me/cerita_dewasaa








Aku mengerjap ketika kurasakan sebuah kecupan pada pipiku, dan kubuka mataku perlahan. Sosok cantiknya langsung terlihat, dan senyumnya mengawali pagiku.




“Pagi, dek.” sapaku.




Tapi aku masih terlalu malas untuk bangun, langsung kupejamkan mata kembali sambil memeluk guling.




“Kakak iiih.. bangun...!!!”




Selimut pun sukses melorot dan kini pinggangku didudukinya.




“Masih ngantuk, dek.” aku protes ketika ia malah menggoyang-goyangkan duduknya sambil menjembeli pipiku.


“Bentar lagi yah.” aku pura-pura mengiba.


“Nggak. Kakak bangun sekarang!! Udah ditungguin ayah ama mamah tuh. Ayo kaaaak...”


“Iyah.. iyah... aku bangun.” aku pun mengalah dan bangkit.




Adikku langsung memeluk manja, senang akhirnya aku mau bangun. Yeah.. walau sudah berstatus mahasiswi baru, alias baru lulus SMA dua bulan lalu, adikku ini memang manja gak ketulungan. Konon, kalau menurut ayah mirip mamah. Tapi.. entahlah.




“Terus kalau dipeluk terus kapan kita sarapannya?” sambil menjawil dagunya.


“Hihi.. iya... sikat gigi dulu gih.”




Aku pun terhuyung menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka, sedangkan si cantik kesayanganku membereskan tempat tidurku. Aku bahagia memilikinya, seorang adik yang selalu ada di awal hariku, meskipun karenanya aku tidak pernah bisa bangun siang.




“Loh kok masih di kamarku?” heranku ketika melihat adikku sedang duduk di tepi ranjang.


“Nungguin kakak.”




Aku pun tertawa mendengar, dan langsung kuuyel-uyel rambutnya dengan gemas. Cemberutnya malah menyukakanku, aku pun semakin menggodanya.




“Kakak udah aaah.. ayo turun.” ujarnya sambil menepis tanganku dan merapikan kembali rambutnya.




Kutekan kedua pipinya yang menggelembung sambil cengengesan. Tiba-tiba saja ia pun berdiri dan nemplok di punggungku minta digendong.




“Manja.” godaku.


“Biarin kweeek.” lidahnya terjulur dengan kedua bola mata beningnya berputar-putar.




Aku pun menggendongnya menuju ruang makan, canda tawa riang kami bagikan.




“Hmmmm pantesan lama, malah manja-manjaan.” sambut wanita cantik yang sangat kucintai dan kukagumi.


“Pagi, mah.” sapaku.




Setelah adikku turun dari punggungku, aku pun mencium kedua pipi mamah, dan ia mengecup keningku. Kenzi pun melakukan hal yang sama.




“Yah...” sapaku pada ayah sambil menepuk pundaknya.


“Tumben kamu gak joging pagi ini, Rai.” gumam ayah sambil meletakan gelas kopi selepas ia seruput.


“Hmmm.. kesiangan Yah, lupa gak pasang alarm.” jawabku sambil duduk di seberang kedua orangtuaku, dan adikku duduk di sampingku.


“Kakak pacaran mulu tuh, Yah, Mah, telponan ampe tengah malam.” adikku mengada-ada dan mengadu.


“Nuduuh kamu, dek.” protesku.


“Yeee.. emang iya, kan?”


“Nggak, dek, aku maen game online kok.”


“Terus mau berdebat terus, mamah kangen loh sarapan bareng kalian.” suara mamah membuat aku dan adikku cuma nyengir.


“Halah... bukannya mamah lebih seneng cuma sarapan berdua ama ayah?” godaku


“Iya bener... setuju, kak.” sahut adikku pecicilan.


“Ya masa tiap hari mamah cuma sarapan ama ayah doank, mamah kan kangen ama kalian.” mamah cemberut, sedangkan ayah hanya tertawa.




Suasana gembira pun langsung memenuhi ruang makan. Mamah langsung membagikan roti yang sudah ia lapisi dengan selai di atas piring kami masing-masing. Aku dan adikku berebutan minta disuapi pertama, namun mamah malah menggoda kami dengan menyuapi ayah terlebih dahulu, dan ayah langsung menghadiahi mamah dengan mencium pipinya.




“Gitu?! Kakak gak ditungguin?” tiba-tiba ada yang keluar kamar dan protes.




Seorang gadis cantik dengan wajah segar selepas mandi pagi. Rambut pirangnya dikuncir sehingga leher jenjangnya terpajang di atas t-shirt putih yang ia kenakan, sedangkan bagian bawah hanya memakai celana pendek setengah paha.




“Pagi, sayang. Hihi... ya sekali-kali kamu gak dibangunin biar bisa bangun siang, kan selama ini cape kerja terus.” sambut mamah.


“Pagi, kaaak.” aku dan adikku kompak.




Kakakku melotot ke arah kami berdua, lalu ia mencium pipi ayah dan mamah. Sama seperti halnya pada aku dan Nzi, mamah pun mencium kening kakak.




Sikap manisnya pada ayah dan mamah berbanding terbalik pada kami berdua, ia menghampiri kami sebelum duduk.




“Aaaau...” jerit kami bersamaan.


“Semalam kamu tidur di kamar Rei ya? Kakak kan udah bilang berkali-kali, kalian tuh gak boleh tidur sekamar lagi.” hardiknya pada adikku, aku hanya melongo sambil mengusapi telingaku, setahuku semalam aku tidur sendiri. Lalu pada padaku, “Kamu juga, dek, kalau tidur itu pintu kamarnya dikunci.”




“Kak, ampun. Aku kan emang tidur sendiri. Lagian semalam kan aku langsung tidur pas kakak keluar kamar.” aku memelas.


“Oh jadi Kak Kekey juga ke kamar Kak Rei?” Nzi merasa di atas angin.


“Eh… iyah, tapi kan sebelum tidur, bukan tidur bareng kayak kamu.”


“Iya.. iya maaf, kak. Nggak sekali-kali lagi, mungkin dua atau tiga kali aja.” jawab Nzi, dan sukses kupingnya dipelintir kembali oleh jari lentik Kak Kekey.


“Ampun Kaaak.. ayah.. mamah bantuin iiih.” Nzi mencari perlindungan.


“Ayah gak ikutan.” ayah terkekeh.


“Mamah juga.” mamah ikut-ikutan ayah.


“Ayaaaaah… mamah….” adikku cemberut. Ayah dan mamah memang senang mengerjai kami, dan itu melalui kakak.




Begitu jeweran kakak lepas, aku dan adik serempak mencium pipinya, sehingga mulutnya yang sudah terbuka untuk ngomel langsung terdiam.




Tingkah kami bertiga bukan hanya menjadi tontonan ayah, tapi juga mamah memperhatikan kami sambil menyenderkan kepalanya pada bahu ayah.




Yeaaah beginilah kami. Aku Reinan Wallista Purnama dengan panggilan kesayangan di rumah Rei, kakakku adalah Keyla tapi kami biasa memanggilnya Kekey dan adikku Kezia tapi kami suka menyebutnya Kenzi atau Nzi.




Ayahku seorang lelaki hebat yang mencintai dan mendidik kami dengan caranya. Dia adalah seorang pengusaha sukses tetapi selalu punya waktu untuk keluarga. Sedangkan mamah adalah dosen di sebuah universitas di Cimahi.




Kak Kekey adalah seorang kakak yang sangat perhatian dan menyayangi kami adik-adiknya. Sikapnya kadang lebih protektif daripada ayah dan mamah. Dia juga adalah orang yang paling galak dan judes di rumah ini. Sedangkan Kenzi berbanding terbalik, sikapnya sangat lembut dan manja, ceriwis dan bawel. Menurut ayah, kakak dan adikku adalah representasi dari sifat mamah. Judes mamah turun pada kakak, sedangkan manja mamah nurun pada adik. Aku? Ketika aku nanya ayah, jawaban ayah tentu saja aku mirip dia. Tapi mamah protes, aku tetap mirip mamah, dan gak boleh mirip ayah karena semasa mudanya ayah adalah seorang yang mesum. Haha.. ada-ada saja.




Dan ini adalah kisah kami, eh maaf, inilah kisahku. Anak kedua dari tiga bersaudara yang sangat bahagia. Hidup kami dipenuhi cinta, dan hubungan kasih sayang ayah dan mamah adalah teladan bagiku, juga bagi kakak dan adikku.




Aku Reinan Wallysta Purnama, mereka belum tahu, bahwa aku baru putus dengan Arischa.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar