Sang pewaris part 1


BAB 1

Kami mengawali hari sambil bercanda tawa di meja makan. Kata ayah kebersamaan kami seperti “keluarga cemara” tapi aku tidak mengerti maksudnya, karena aku tidak pernah menonton film itu, nggak tahu kalau si mamang. Yang jelas aku sangat senang dan terhibur, kehilangan pacar itu tidak sesakit kehilangan moment indah dalam keluarga.

Yeah.. aku memang baru putus dengan seorang gadis bernama Arischa. Gadis itu kukenal saat di Jerman dulu. Dulu susah payah aku mengejarnya, dan sangat bahagia ketika akhirnya ia mau membuka diri. Tapi begitulah cinta, sulit ditebak ujungnya. Aku memilih mengalah ketika di dalam hati Arischa hanya ada sebuah nama. Itu bukan aku, melainkan seorang pemuda bernama Enzo.

“Eheeem…” ayah berdehem.

Kalau sudah begitu, kami tahu bahwa ayah akan menyampaikan sesuatu yang cukup serius. Nzi yang sedari tadi menempelkan kepalanya pada bahuku langsung duduk tegak. Kak Kekey menghabiskan jus jeruknya yang tinggal sedikit.

“Apa rencana kalian weekend ini?” tanya ayah.

“Ke mall, iyah kan Kak? Yah.. yah…!!” Nzi sigap menyahut sambil memandang ke arah aku dan Kak Kekey bergantian.

“Eh.. gak boleh. Kita akan mengunjungi oma dan opa di Lembang.” sahut mamah.

Oma Alya dan Opa Ardan, kakek dan nenekku dari pihak mamah memang tinggal di sana. Dulu mereka tinggal bersama kami, tapi sejak setahun terakhir mereka lebih memilih menghabiskan masa tua mereka di daerah pegunungan yang sejuk sambil berkebun dan memelihara bonsai.

“Lah.. kenapa juga ayah bertanya kalau udah ada rencana?” celetukku, dan sukses mendapat tepukan Kak Kekey pada lengan. Aku cuma tertawa kecil, kan maksudku cuma bertanya bukan berniat tidak sopan.

“Ya siapa tahu kalian sudah punya kegiatan yang lebih penting,” jawab ayah. Lalu ayah menatap Nzi, “Jadi ke mall atau ke rumah oma?”

“Omaa.” Nzi memamerkan barisan gigi putihnya. Ayah tersenyum dan mamah menggelengkan kepala gemas.

“Kita berangkat jam sepuluh. Sekarang ada yang ingin ayah sampaikan dulu.” ujar ayah lagi.

“…” kami bertiga menatap ayah. Kulihat mamah tersenyum menatapku.

“Kamu sudah sebulan nganggur, Rei, jadi apa rencanamu ke depan?” ayah menatapku.

Aku sudah menduga bahwa pertanyaan ini akan keluar dari mulut ayah, namun tetap saja aku belum siap memberikan jawaban. Kulirik Kak Kekey, dan ia mengangguk pelan.

“Sayang?” mamah mendesakku karena aku tidak langsung menjawab.

“Yah.. aku gak mau bantu ayah dan Kak Kekey di kantor.” jawabku pelan.

“Karena?”

“Gak tahu, Yah, tapi aku gak suka aja kalau harus…”

Kusampaikan alasan-alasanku. Ayah dan mamah mendengarkan dengan seksama, pun pula kakak dan adikku. Aku sebetulnya tidak takut ayah marah, tapi yang kutakutkan adalah bahwa ia kecewa karena buat apa jauh-jauh sekolah kalau akhirnya tidak mau meneruskan bisnis ayah.

“Maafkan aku, Yah, Mah..” ujarku.

Ayah dan mamah masih menyampaikan beberapa pertanyaan, beruntung Kak Kekey membelaku, sehingga aku merasa tidak sedang dihakimi.

“Gak usah minta maaf, sayang.” ujar mamah.

Lalu mamah berdiri dan berjalan mengitari meja. Ia mencium pipiku dan memeluk dari belakang.

“Mamah bangga kamu mau jujur dan terbuka menyampaikan kemauanmu.”

“Jadi ayah dan mamah setuju?” aku senang.

“Iya, tapi ada syaratnya.” ayah sigap menyahut.

Ayah memang kadang terlihat nyebelin. Ekspresinya seringkali berbeda dengan isi hatinya. Untung ada mamah yang selalu membuatku mengerti pada akhirnya.

Aku sudah takut kalau syarat yang ayah sampaikan akan memberatkanku, tapi ketika aku melihat senyuman mamah aku menjadi tenang kembali.

“Syaratnya jangan suruh nikah dulu, Ayah. Kak Kekey aja masih belum punya pacar.” celetuk Nzi.

“Enak aja.” Kak Kekey sewot. Ia memang sering kami ledek sebagai jomblo akut.

Ayah langsung tertawa. Ayah memang paling mudah luluh oleh si bungsu, ia tidak pernah bisa marah pada Nzi.

“Apa syaratnya, Yah?” aku penasaran.

Sebelum ayah menjawab, keributan kecil kembali terjadi. Nzi berlagak cemburu karena mamah masih saja setengah memeluk sambil mengusapi rambutku. Akhirnya mamah pun pindah memeluk anak bungsunya.




“Kamu boleh mengembangkan hobby menulismu, Rei, tapi sambil mengurus bisnis kopi kita. Ayah, Tantemu, dan Kekey akan fokus mengurusi perusahaan keluarga, jadi kamu yang harus menggantikan ayah di NeNeN."


“Tapi, Yah…” aku mau menyampaikan keberatan.


“Ya itu syaratnya. Kalau kamu tidak mau, berarti ayah yang ngurusin kopi, kamu dan Kekey kerja di kantor.” ayah sigap memotong.




Kak Kekey tersenyum, Nzi cekikikan. Ayah itu aneh. Omongannya kadang nyebelin, tapi mau pasang ekspresi marah seperti apapun tetap aja lucu. Ia memang tegas dan bijaksana, tapi mau pura-pura marah seperti apapun, ia tidak pernah bisa.




“Makasiiih…” mamah nyeletuk dan menepuk pipiku.


“Kok makasih, sih Mah?”


“Karena kamu setuju.”


"Mamah!!”




Gelak tawa kedua gadis cantik pun terdengar, sedangkan aku hanya nyengir kuda. Mamah selalu begitu, selalu bilang “terima kasih” sebelum aku mengiyakan. Artinya, aku juga tidak bisa menolak kalau sudah begitu.




“Jadi ayah sudah bisa pukul sendok nih?” ayah mengambil sendok untuk dipukulkan pada gelas. Sang hakim mau mengambil keputusan.


“Bentar dulu atuh Ayaaah, masih ada satu syarat lagi.” mamah memotong.


“Oh iyah.”




Mamah pun kembali ke tempat duduknya di samping ayah.




“Apa lagi sih, Mah? Yang tadi aja aku belum setuju, ini malah mau ditambah syarat lain.” protesku.


“Kan mamah udah bilang terima kasih.”


“Kak?” aku meminta pembelaan Kak Kekey tapi ia hanya mengangkat bahu.


“Rei… Nanti ada Om Rad yang akan membantumu, tapi sebelum kamu mulai kerja, kamu harus tinggal dulu bareng Omamu di Ewer, dan belajar di sana. Kamu harus belajar dari titik awal dimana ayah merintis usaha itu untuk pertama kalinya.” ayah menjelaskan.




Aku pun menghela nafas lega. Ternyata syarat yang ayah sampaikan tidaklah berat. Aku malah sangat senang kalau harus tinggal di Ewer. Selain bisa tinggal bareng oma, suasana alamnya juga sangat sejuk dan bikin betah. Namun…




“Ayaaah!!!” Kak Kekey dan Nzi protes. Keduanya tidak setuju aku jauh dari mereka.


“Kan cuma sementara, sayang.” mamah menyahut.


“Berapa lama?” Nzi cemberut dan langsung memeluk lenganku.


“Setahun.” aku sigap menjawab.


“Nggak!!” kini mereka berempat yang serempak.




Aku hanya bisa tertawa masam sambil garuk-garuk kepala.




“Ya gak segitunya juga, sayang.” mamah melotot.


“Sebulan.” ayah menyahut.


“Tiga bulan.” aku bernegosiasi.


“Tidak boleeeh!!!” Kak Kekey dan Nzi masih protes.




Sahut-sahutan pun terjadi, sampai akhirnya diputuskan aku akan tinggal di kampung halaman ayahku selama sebulan.




“Cuma sebulan, dek.” ujarku sambil mengusapi rambut adikku.




Kenzi menangis dan memelukku. Ia tetap protes dan tidak membolehkanku pergi, tapi keputusan sudah dibuat.




“Ayah dan mamah jahaaat.” Enzi terisak.


“Kan cuma sebentar, dek. Dibandingkan ke Jerman dulu.” aku menghibur.


“Iyah, gakpapa, dek. Kan tiap weekend kita bisa ke sana sekalian ngunjungi oma.” Kak Kekey ikut menghibur.


“Iya, Kak?”


“iyaah, sayang.”




Setelah adikku tenang, kami pun melanjutkan obrolan, dan diputuskan aku akan berangkat ke Ewer Selasa depan.




“Aku ke sananya naik motor yah.” ujarku.


“Tidak!!” tiga wanita dalam ruang makan ini kompak menjawab ketus.


“Hah? Kenapa?”


“Nggak boleh!!” mereka kembali kompak, sedangkan ayah tertawa.




Aku pun teringat cerita ayah. Dulu ia pernah dimarahi mamah gara-gara tidak boleh naik motor.




“Iya.. iya.. aku naik bis ke sananya.” aku mengalah.


“Nggak!!” mereka masih kompak.


“Haish.. iya.. iyaaaah. Aku bawa mobil.”




Nzi mencium pipi kiriku, Kak Kekey mencium pipi kanan. Mamah yang tadi memasang muka jutek sudah kembali tersenyum.




“Yeeee….” kami bertepuk tangan ketika ayah memukulkan sendok tiga kali pada gelas kopinya. Kesepakatan sudah dibuat. Sebetulnya ini menjadi kebiasaan seru saat kami berkumpul bersama dan membicarakan hal-hal yang kami anggap serius.


“Nzi..”


“Iya, Yah?”


“Kedua kakakmu kan sudah punya pekerjaan masing-masing. Nanti kamu mau jadi apa, sayang?” tanya ayah.




Si bungsu memutar-mutar kedua bola matanya, jemarinya memainkan ujung rambut. “Aku.. aku mau kayak mamah aja, jadi dosen.”




“Horeeee…” kali ini mamah yang girang sambil mengangkat kedua tangannya. “Akhirnya, ada yang ikut jejak mamah, gak ikut ayah semua.”




Tawa pun mengakhiri kebersamaan pagi ini. Kami pun bubar untuk bersiap-siap berangkat ke rumah Oma Alya. Aku dan Nzi masuk kamar masing-masing karena kami berdua memang belum mandi.




Menjelang tengah hari, kami sudah memasuki kawasan villa yang sangat luas. Aku yang menyopir. Setelah melewati barisan tempat peristirahatan dan tempat wisata, kami tiba di sebuah bangunan besar di bagian atas kompleks. Tempatnya paling atas dan agak terpencil, hanya ada satu bangunan dengan pekarangan yang luas. Berbagai jenis bonsai memenuhi pekarangan, juga sayuran organik.




Sebuah Alphard terparkir. Rupanya keluarga Tante Maya sudah tiba duluan. Sebetulnya dulu keluargaku dan keluarga Tante Maya tinggal serumah bersama oma dan opa. Namun sejak oma dan opa memutuskan untuk menghabiskan masa tua mereka di villa, keluarga Tante Maya pun pindah ke Jakarta untuk mengurusi cabang perusahaan di sana. Rumah besar di Bandung hanya ditempati oleh keluargaku, dan menjadi rumah singgah bagi seluruh keluarga besar. Rumah kami akan penuh kalau ada acara keluarga.




Orangtua beserta kakak dan adikku turun, sedangkan aku memindahkan mobil agar tidak terkena terik matahari. Segerombolan orang keluar dari dalam rumah menyambut kami. Salam, cium, dan peluk pun menjadi pemandangan yang selalu membahagiakanku. Aku bersyukur bahwa aku terlahir dalam keluarga besar yang harmonis dan saling mencintai satu sama lain. Mendapat antrian terakhir, aku langsung disambut oleh Tante Maya.




“Sayaaang.” serunya.




Ia mengabaikan uluran tanganku dan langsung memeluk. Kedua pipi dan keningku dikecupnya.




“Hehe.. Tante apa kabar?” ujarku sambil membalas pelukannya. Aku dengan Tante Maya memang sangat dekat.


“Tante kangen tahu. Tante tungguin kamu main ke rumah, malah gak datang-datang. Udah sombong kamu ya? Huh!!”


“Hehehe.. Maaf, Tante.”


“Tanteee.. aku udah bukan anak kecil lagi.” protesku ketika ia menjembeli kedua pipiku. Wajah cantiknya sangat dekat denganku.


“Pah, lihat nih keponakanmu makin ganteng aja.” ia mengabaikan protesku malah menarik pinggang Om Fajar suaminya.


“Hallo Om, apa kabar?” aku menyalami dan mencium tangannya.


“Baik donk. Kamu?”


“Baik juga, Om.”




Kulihat Oma Alya dan Nzi saling melepas pelukan, dan aku langsung menghampirinya.




“Omaa.”


“Cucu oma.” serunya.




Setelah mencium tangannya, aku pun mendapat ciuman penuh kasih sayang. Lalu pelukan erat saling kami bagikan. Semua anggota keluarga pernah bilang kalau aku adalah cucu kesayangan oma, mungkin karena aku adalah cucu laki-laki satu-satunya. Tante Maya hanya memberikan seorang cucu, yang juga perempuan. Gadis itu bernama Rana, usianya satu setengah tahun di atasku.




Deheman-deheman kecil langsung terdengar melihat kemesraan kami. Oma tidak peduli, ia langsung mengusapi kedua pipiku dengan senyum bangga terpancar. Wajahnya sudah menua, namun gurat-gurat kecantikan di masa lalu sangat jelas masih terpancar.




Setelah oma melepaskanku, aku pun menyalami Opa Ardan. Berbeda dengan oma, setelah kucium tangannya ia langsung meninju perutku sambil terkekeh.




“Jagoan opa apa kabar?”


“Baik, Opa.” sambil pura-pura meringis.




Dulu ketika aku masih kecil, opa sering mengajari aku dan Kak Kekey bela diri. Ia mewariskan jurus-jurus silat khas kampung halamannya di Sawer sana. Tapi aku berhenti berlatih ketika masuk SMP, sedangkan Kak Kekey tetap berlatih sampai ia SMA. Bahkan Kak Kekey masih rutin latihan sendiri sampai sekarang.




“Rana mana, Tante?” tanyaku pada Tante Maya.


“Halah.. kamu tahu sendiri kesukaannya kalau datang ke sini.” jawabnya, dan aku pun tertawa mendengarnya.




Mereka semua masuk ke dalam rumah, sedangkan aku pamit untuk memanggil Rana. Nzi yang selalu nempel denganku ingin ikut, tapi akhirnya tidak jadi ketika oma protes. Masih kangen, katanya.




Aku melipir ke bagian samping villa, dan menuruni jalan setapak menuju kandang domba Garut. Kusapa beberapa pegawai yang sedang bekerja di kebun, kutawari pula mereka rokok.




Aku tersenyum sendiri ketika melihat seorang gadis sedang bermain dengan seekor domba yang diikat panjang pada sebuah patok. Ia memegang tanduk domba itu, dan saling dorong seolah sedang beradu kekuatan.




“Heii.. Mboy…!!” teriakku.




Gadis itu pun menengok dan langsung nyengir domba ketika melihatku.




“Ontaaa…” teriaknya.




Ah masih saja ia memanggilku seperti itu. Aku pun melambaikan tangan. Rana ancang-ancang untuk menahan tanduk si domba, lalu ia melepaskannya dan berlari ke arahku. Si domba tentu saja mengejar, namun setelah beberapa meter terhenti karena lehernya diikat tali.




Si tomboy cantik pun ngos-ngosan dan langsung memeluk kedua leherku. Bau keringat dan domba langsung tercium.




“Udah lama lu?” tanyanya.


“Barusan.”


“Kangen gua.”


“hehe.. masa sih?”


“Ah gak asik lu, orang kangen juga.”




Ia cemberut. Bola mata beningnya menatapku tajam, aku tersenyum dan ia tersipu. Kubersihkan lelehan keringat pada pelipisnya.




“Apaan sih lu?” ia menepis tanganku, tapi sangat jelas kulihat kalau kedua pipinya memerah.




Rana sebetulnya adalah gadis yang sangat cantik, mirip mamahnya, hatinya juga lembut dan penuh perhatian. Hanya penampilan luarnya saja yang kelihatan tomboy. Ia hanya bersikap feminim di depan oma dan opa, tapi di belakang mereka, ia tampil apa adanya. Omongannya ceplas-ceplos, kadang gampang emosi, cara berpakaiannya juga jarang memakai rok. Selalu jeans biru dengan kaos yang dilipat pada kedua ujung lengannya.




Di mataku Rana sangatlah menarik karena di balik paras cantiknya tersimpan sifat pemberani. Ia bukan tipe gadis lemah-gemulai yang mau dikasihani. Kami berdua sangat dekat, dan aku adalah tempat curhatnya. Satu-satunya yang tidak kusukai dari Rana adalah kebiasaannya mempermainkan laki-laki. Entah sudah berapa kali ia gonta-ganti pacar, malah pernah juga punya dua cowok sekaligus sampai akhirnya ketahuan dan bertengkar hebat.




Rana celingukan tanpa melepas pelukan pada leherku, setelah merasa aman tiba-tiba ia mencium bibirku, dan aku membalasnya lembut. Kami berdua memang punya rahasia, yang tidak seorang pun ada yang tahu. Ciuman ini bukan yang pertama, meskipun juga bukan kebiasaan saat kami sedang berdua. Terakhir ia mengecup bibirku mungkin tiga tahun lalu sebelum aku berangkat ke Jerman.




“Sialan lu Onta, gua kangen banget.” ujarnya.


“Pacarmu apa kabar, Mboy?” aku tak menghiraukan.


“Yang mana nih?”


“Haish.. kelakuan!!”




Dengan gemas aku pun menepuk-nepuk kedua pipinya, dan ia hanya nyengir memamerkan barisan giginya yang putih. Bibir merah tanpa pulasannya nampak begitu halus dan lembut.




Aku dan Rana pun bergandengan tangan menuju rumah oma. Nampak ada sebuah Pajero keluaran terbaru. Aku senang. Tante Nji dan Om Ariya sudah datang juga. Tentu saja bersama Bagas dan Inka sepupuku. Tapi mereka adalah cucu dari Opa Ardan karena opa dan oma menikah sebagai duda dan janda, dan ketika mereka menikah sudah sama-sama punya anak.




“Awas lu deket-deket ama Inka, gua gak suka.” bisik Rana sambil memperpanjang langkahnya memasuki rumah.








BERSAMBUNG



Report content on this page

Posting Komentar

0 Komentar