Enzo (tamat)


BAB 34




Kulirik smartphone-ku, mataku yang panas karena emosi kini berkaca haru. Ada kabar bahwa Tante Puki sudah melahirkan dengan selamat. Seorang bayi perempuan dengan berat badan 3,2 kg dan tinggi 51 cm.


Aku menekan tombol lift. Dan sial bagiku, kami masih harus menunggu beberapa menit. Posisi lift berada di basement, sedangkan kami di lantai lima. Marah dan kesal menjadi satu ketika Arischa berhasil menyusul dan memelukku dari belakang. Ia menangis tersedu dengan tubuh bergetar.


“Cha, apa-apaan sih kamu? Udah yah.. aku harus pergi. Aku dan Ndul harus ke rumah sakit.” ujarku sambil berusaha mengurai belitan tangannya di atas perutku.

“Udah lahir, Zo?” Ndul malah bertanya polos.


Jangankan menjawab, yang ada aku malah ikutan kesal pada sahabatku yang satu ini. Bukannya membantu membebaskanku dari Arischa, malah kepo tentang Tante Puki dan bayinya.


“Zo, aku mohon.. hiiiks… kamu jangan pergi. Kita bicara dulu hiiks…” Arischa meronta, tidak mau melepaskan pelukan.

“Cha, tolong yah. Tidak ada lagi urusan di antara kita. Aku sudah mengatakan semuanya, dan aku tidak akan menarik kembali ucapanku. Ambilah semuanya, Cha, aku tidak butuh!!”


Aku berusaha membalikan badan. Sebuah kesalahan, karena kini Arischa malah memelukku dari depan. Terlampau erat sehingga dadaku terasa sesak.


“Jangan pergi, Zo, aku mohooon.. hiiiks…” Arischa memelas dan merintih.

“Zo, mendingan lu bicara dulu ama Icha yah, gua tunggu lu di lobi.” Ndul berada di pihak Arischa.


Tentu saja aku langsung melotot dan hampir membentak Ndul, cuma aku masih menghargai Arischa. Aku tidak mau para pegawainya pada keluar karena mendengar keributan. Tangisan Arischa saja sudah membuat beberapa orang terlihat mengintip dari balik pintu kantor masing-masing. Namun tak satu pun yang berani keluar.


“Percaya ke gua, Zo. Bicaralah!” kali ini suara Ndul terdengar tegas.

“Oke.. oke… sekarang maumu apa, Cha?” aku frustasi. Sedangkan yang kuajak bicara malah semakin menangis dan pelukannya kian erat.


Tring!!


Pintu lift terbuka. Dengan sigap aku mendorong tubuh Arischa sedikit kasar sehingga pelukannya terurai. Sikap Arischa yang tidak menggubris pertanyaanku membuatku semakin kesal. Inginku adalah segera pergi dari tempat ini.


“Heii!! Bukan begitu caranya memperlakukan cewek!!!”


Belum juga aku membalikan badan dan melangkah menuju lift, sebuah suara yang kukenal menghardikku.


Buuuuukkkk!!!


Belum juga aku melihat sosoknya, sebuah pukulan keras langsung mendarat tepat di atas ulu hatiku. Teriakan Ndul dan jerit Arischa melengking bersamaan. Sedangkan aku langsung terhuyung nyaris ambruk. Mataku melotot, mulutku terbuka, dan nafasku sesak.


Dengan nanar aku pun mendongak, dan nampak Rei sedang berdiri di hadapanku dengan emosi membara. Melihatnya, seluruh emosi yang kutahan langsung meluap, kini sudah ada tempat pelampiasan. Aku langsung bangkit sambil mengayunkan tinju pada dagunya. Naas bagiku, sodokan lututnya lebih cepat menghantam perutku.


Tanpa daya aku pun ambruk, berlutut di atas lantai. Aku masih selamat dari hajaran berikutnya ketika Ndul berhasil menahan Rei, dan Arischa meraih kepalaku sambil menangis pilu.


“Sudah.. sudah.. tenang Rei, jangan memperkeruh suasana.” kudengar Ndul menenangkan pemuda itu.

“Kampret, kamu Zo. Sama sekali gak menghargai perasaan dan pengorbanan orang!!” Rei langsung memakiku.

“Apa kamu bilang?” sewotku, kuabaikan rasa sakit dan ngilu.


Aku langsung berdiri, namun Arischa menahan dan memelukku erat. Ia terus memohon di sela tangisnya supaya aku dan Rei tidak berkelahi.


Kudengar Ndul berbicara kepada Rei, namun aku tidak bisa mendengar dengan jelas karena lebih sibuk menyingkirkan Arischa. Makian-makian-tertahan dari mulut Rei pun terdengar.


“Bangsat kamu, Zo. Tega-teganya kamu menyakiti Icha!!” makinya lagi.

“Aku? Aku hah? Aku menyakiti Icha?!! Tidak kebalik!!!” aku sewot.

“Zo, sudaaah huaaa.. hiiiks… aku yang salah.” Arischa memohon.

“Rei.. Ndul.. tolong kalian pergi. Tolongg.. aku mohon tinggalkan aku dan Enzo.” kali ini ia memelas kepada mereka berdua.

“Baik, aku akan pergi asal kalian bicara, dan si kupret Enzo tidak boleh kabur begitu saja.” kudengar Rei menahan emosi.

“Hei!!” aku langsung berdiri dan menunjuk wajah Rei.


Aku bersiap melayangkan sebuah tinju, namun Arischa malah pasang badan, membuatku urung.


“Hargai perasaan Icha, Zo. Dia itu sangat menyayangimu. Dan kamu juga seharusnya menyayangi Icha, bukan menyakitinya.” amarah Rei terdengar mulai reda.

“Sayang katamu, Rei? Sayang kamu bilang?!!” aku masih emosi. Lalu aku menatap tajam Arischa, “Tolong kamu jelaskan, Cha, aku tidak salah dengar, kan?”

“Hiks.. hiks…” kondisi Arischa sebetulnya memprihatinkan. Penampilannya nampak kusut dan awut-awutan.

“Jadi apa yang kamu lakukan ke aku di ruang meeting tadi… itu adalah tanda sayangmu?!! Hah?!!” tanyaku lagi pada Arischa.

“Hei… yang sopan pada cewek!!” Rei kembali menghardikku.


Keributan hampir kembali terjadi, tapi kini gantian Ndul yang menyeretku ke sebuah ruangan, yang rupanya adalah kantor Arischa. Sedangkan gadis itu mendorong Rei ke dalam lift dan memohonnya supaya pergi.


“Jangan bikin malu gua, bro. Ingat lu itu seorang direktur, pengusaha yang sudah punya nama. Jaga sikap!!” ujar Ndul sambil mendorongku supaya duduk di atas sofa.


Aku hanya diam dengan nafas tersengal. Tak lama kemudian Arischa datang, dan entah kode apa yang saling mereka berikan, Ndul kemudian meninggalkan kami berdua tanpa permisi.


Aku tetap duduk sambil memegangi perut bekas pukulan Rei. Sesak dan ngilunya masih terasa. Bahkan aku merasa mual. Tak sedikit pun aku melirik pada Arischa yang masih terisak sambil berdiri di hadapanku.


Tiba-tiba ia mengambil tissue dan mau mengusap bibirku, namun langsung kutepis tangannya.


“Bibirmu berdarah, Zo, hiks…” kini ia berlutut di hadapanku. Kulihat wajahnya acak-acakan karena air mata, dan rambutnya kusut berantakan.


Tanpa menjawab, kuambil tissue dari tangannya dan kuusap ujung bibirku. Ternyata memang ada darah segar yang mengalir. Tapi aku tidak ingin Arischa menyentuhku. Kuusap dan kubersihkan.


Arischa mengusapi air matanya sambil menatapku, lalu tanpa kata ia berdiri menuju meja kerjanya.


“Nih kamu baca.” ia menyodorkan sebuah map.


Kuterima dengan malas, lalu kubuka dan kubaca isinya. Gadis itu duduk di hadapanku tanpa ekspresi.


Deeegh!!


Isinya adalah sebuah dokumen berisi serah-terima 20% saham perusahaan, dan bahkan sudah dibubuhi meterai untuk ditanda tangan.


“Aku tidak mengerti, tolong jelaskan.” emosiku mulai reda, terganti rasa heran dan penasaran.


Kini aku baru menyadari keadaan Arischa yang sesungguhnya. Wajah cantiknya sudah pucat dan basah oleh air mata. Sinar matanya hilang, dengan gelayutan hitam di bawahnya. Makeupnya luntur, dan rambutnya acak-acakan. Mau tidak mau aku pun terenyuh, dan rasa bersalah langsung menghampiri.


Bukannya menjawab, ia malah berjingkat menuju lemari. Ia mengeluarkan kotak P3K, dan kali ini aku tidak menolak ketika ia membersihkan sisa darah pada ujung bibirku dengan kapas yang sudah dituang alkohol 70%. Sikapnya sangat lembut dan penuh perhatian, tapi ekspresinya tetap datar. Aku benar-benar dibuat salah tingkah menghadapinya.


Kuraih gelas yang ia sodorkan dan kuteguk isinya sampai habis.


“Sekarang kamu boleh pergi.” datarnya.

“Eh?”

“Kenapa? Bukannya kamu ingin segera pergi?” suaranya berubah ketus.

“Ta.. tapi Cha, kamu belum menjelaskan arti dari semuanya ini?” aku menunjuk map yang tergeletak di atas meja.

“Kamu sudah baca, kan? Apa lagi yang harus kujelaskan?”

“Lalu arti dokumen yang dibaca Bu Sekar tadi?”

“Pikir sendiri!!!”


Njir!! Aku benar-benar dibuat mati kutu. Arischa tidak menjelaskan apapun, dan itu membuatku semakin bingung. Setahuku, semasa kecilnya ia tidak begitu, tetapi kenapa sekarang sifatnya sangat sukar ditebak.


“Cha, aku.. aku…”

“Pergi!! Bukannya kamu mau ke rumah sakit?”


Fiiiuuuh…


“Baik, aku pergi Cha. Maaf kalau aku telah membuat kegaduhan di kantormu.” aku mengalah.


Inginku sebetulnya mengusap dan membersihkan wajahnya, jika perlu memeluknya. Tidak apa-apa aku tidak mendapat penjelasan, tetapi keadaannya yang seperti itu akan membuatku pergi dengan rasa bersalah. Tapi apa daya.. aku tidak ingin ia berteriak mengusirku.


“Aku permisi, Cha.” kuulurkan tanganku, namun Arischa sama sekali tak menyambut.


Kuhela nafas, lalu mengangguk dengan perasaan tidak karuan. Aku membalikan badan dan melangkah menuju pintu. Belum juga aku menyentuh gagang pintu…


“Pergi aja terus!!! Hiiiksss… Pergi sanah.. biar aku harus kehilanganmu lagi… mungkin aku memang ditakdirkan untuk menanti seorang pria bodoh kayak kamu. Hiiiiksss.”


Degh!!


Sigap aku membalikan badan, dan Arischa kembali menangis sambil menutup mukanya. Aku benar-benar dibuat bingung, namun naluriku mengatakan bahwa ia memang tidak menginginkanku pergi. Isi hati dan mulut berbeda. Inikah sifat asli perempuan? Entahlah!! Setahuku Tante Puki dan Bu Ningnung tidak begitu.


Aku duduk di sampingnya dan memberanikan diri menyentuh kedua pundaknya. Ia meronta dan menepis tanganku. Meski matanya tergenang air mata, namun sorot benci dan kesal sangat jelas terpancar.


“Kamu pengecut, Zo. Kamu bukan pemuda gentle seperti yang kuharapkan dan kuimpikan. Hiiiks…. Kamu selalu memilih mengalah dan pergi untuk menyelesaikan masalah. Hiiks…” ia langsung marah di sela isak tangisnya.

“…”

“Kamu sama sekali tidak pernah mengejarku. Jangankan mengejar, mencari pun tidak. Sejak kita berpisah aku selalu menunggumu, namun kamu sama sekali tidak mencari. Malah aku yang terus mencari informasi tentang keberadaanmu, meski hasilnya selalu nihil. Hiiiks…”

“Maaf.”

“Diam!”

“…”

“Malam itu di rumahmu, kamu sama sekali hanya diam dan tidak mengejarku ketika aku pergi. Datang ke rumahku pun tidak. Hiiiks….”

“…”

“Dan hari ini aku semakin yakin bahwa kamu adalah seorang pengecut ketika kamu juga memilih pergi. Mengalah melepas apa yang diamanatkan kakekmu, dan pergi bagai pecundang tanpa sedikit usaha pun untuk mempertahankan. Aku bener-bener kecewa ama kamu! Hiiiks…”

“…”

“Tinggal diam dan mengalah bukanlah sikap lelaki, Zo; dan pergi dari masalah bukan solusi. Harusnya kamu hadapi, harusnya kamu perjuangkan.”

“…”

“Kenapa diam? Ayo ngomong!”

“Eh tadi katanya…”

“Apa?!”

“Nnggg…” aku garuk-garuk kepala.

“Tapi kamu sendiri yang bilang kalau.. klau…”

“Gak peka!!!”


Arischa mengusapi air matanya dengan kasar, lalu ia menatapku tajam dengan ekpresi yang sulit kugambarkan. Marah, kesal, sedih, kecewa… semuanya ada di sana.


“Kadang aku itu gak habis pikir, Zo, kenapa… kenapa aku harus rela kehilangan pemuda yang sangat baik seperti Rei dan mengharapkan seseorang yang sangat bodoh dan tolol.” lirihnya.

“Berarti kamu bodoh.”


Ooops… aku keceplosan. Tangannya sedikit terangkat untuk menggamparku, namun berhenti seketika dan berganti mengepal. Ia seperti sedang menahan emosi antara kesal dan gemas. Eh.. waitt… apa aku tidak salah dengar ya.


“Eh apa, Cha? Kamu ninggalin Rei demi aku?”

“Pikir sendiri!!” ia kembali ketus.

“Chaa.. tolong jangan buat aku bingung.” aku memelas.

“Kamu itu memang bodoh, makanya bingung terus!!”

“…”

“Aaaarrrg… Enzoooo!!!” Arischa tiba-tiba memukuli dadaku dengan keras. Ia seperti benar-benar sedang kesal, sedangkan aku hanya bisa meringis menahan sakit sekaligus bingung.

“Aaau…” aku meringis ketika pukulan Arischa menimpa perutku, tepat pada bekas sundulan lutut Rei.

“Eh.. maaf…” tangan halusnya langsung mengusapi perutku.


Wajah cemberutnya berubah menjadi ekspresi bersalah. Aku hanya bisa menatapnya sambil meringis. Tiba-tiba sorot mata Arischa berubah, dan sebelum aku bisa menyadari perubahan itu, ia memelukku erat. Sebuah pelukan yang menebarkan rasa damai di dalam dadaku.


Refleks aku membalasnya, dan kami berpelukan lama tanpa saling berucap. Pelukan ini berbeda, bukan pelukan seorang sahabat, melainkan lebih dari itu. Seluruh pertahanan diriku runtuh, emosi dan egoku lumer, haru dan sayang kini berbaur. Dan aku berkaca-kaca tanpa ia tahu.


“Aku dan Rei sudah putus sejak malam itu, Zo, malam ketika kamu menyuruhnya datang ke rumahku.” lirihnya.


Usai berkata begitu ia semakin membenamkan kepalanya pada dadaku. Entah aku harus senang atau sedih mendengarnya, namun pengakuan ini sangat mengejutkan. Aku benar-benar tidak tahu, bahkan Ariska pun tidak pernah cerita. Apalagi Rei, padahal beberapa kali kami ngopi bareng berdua di cafénya.


“Kenapa?” sebuah pertanyaan bodoh kuajukan.

“Karena aku terlalu bodoh.. sangat bodoh mengharapkan pria yang sangat tidak peka. Lebih bodohnya lagi aku sayang dia, sangat sayang.” jawabnya.


Kini air mataku bukan hanya mengembang, tapi benar-benar mengalir. Walaupun ia mengaku diri bodoh, sesungguhnya akulah yang bodoh. Aku telah menangkap dan menelan ucapan Arischa mentah-mentah, tanpa sadar bahwa apa yang ia ucapkan berkebalikan dengan perasaannya. Sekarang aku mengerti mengapa tadi Rei begitu marah dan memintaku supaya menghargai perasaan dan pengorbanan orang lain. Dia dan Arischalah yang telah berkorban. Itu semua mereka lakukan demi aku.


Aku mendongak sambil sedikit membuka mulut, seolah berusaha menahan air mata agar tidak meleleh dan jatuh pada rambutnya. Namun aku tidak mampu, air mataku mengalir deras tanpa kumau.


Kualihkan pikiran. Kubayangkan Tante Puki mengangkang ketika melahirkan, dan imajinasiku sukses menghentikan rasa sedih dan aliran air mata. Aku mengerjap beberapa kali, kueratkan dekapan agar Arischa tidak melihat wajahku yang sembab.


“Maaf.” lirihku.


Kurasakan Arischa mengusapi punggungku.


Ia pun mendongak, dan ada senyum di balik sisa tangisnya. Ia seolah sedang menertawakanku yang kelihatan habis menangis. Sejenak kami saling tatap tanpa saling ucap.


Kuulurkan tanganku dan kuraih ujung roknya, lalu kutarik turun untuk menutupi pahanya yang terekspos. Senyumnya mengembang, seolah senang karena sikapku. Padahal kalau dalam keadaan normal pasti aku sudah menelan liur melihat keseksiannya.


Dengan tetap tanpa saling berucap, tangan kami mulai saling membelai. Membersihkan wajah dari sisa air mata, dan merapikan rambut yang kusut. Tiba-tiba saja kami berada dalam kemesraan diam, yang hanya saling menyentuh tanpa berkata-kata. Meski begitu terasa sangat menenangkan, membahagiakan, dan aku tidak ingin semuanya ini berakhir.


“Maaf yang tadi…” akhirnya ia tidak betah untuk tidak menyampaikan rencana dan rahasia yang belum ia sampaikan.

“Surat yang dibacakan oleh Bu Sekar itu adalah surat palsu dan hanya akal-akalanku saja. Aku hanya ingin tahu reaksimu. Sejujurnya aku tidak keberatan kalau kamu marah dan mencaci makiku, sejauh itu kamu lakukan untuk mempertahankan apa yang menjadi hakmu. Dan aku kecewa.. karena kamu lebih memilih melepaskannya daripada mempertahankannya.”


Aku terus mendengarkan sambil menatap sendu wajah Arischa, tanganku masih terus membelai rambut di sekitar pelipisnya.


“Marah.. pergi.. mengalah dan melepaskan itu tidak selalu baik, Zo. Kamu tidak pernah mempertahankan apa yang menjadi milikmu. Kamu tidak pernah mengejar aku walaupun kamu menyayangiku. Kamu juga tidak berusaha mempertahankan warisan kakekmu, padahal itu adalah amanah yang seharusnya kami jaga baik-baik…”

“…”

“Tapi aku mengerti, Zo, sangat mengerti. Kamu sudah banyak kehilangan sejak masa kecilmu, sehingga kamu seolah sudah terbiasa dan kebal terhadap pengalaman yang namanya kehilangan. Aku paham! Maafkan aku. Aku melakukan itu semua di ruang meeting tadi karena aku ingin kamu mulai belajar untuk mempertahankan, untuk mengejar, untuk meraih apa yang memang seharusnya menjadi milikmu.”


Seluruh sikap galak, judes, dan juteknya hilang. Arischa berubah menjadi gadis dewasa yang bijaksana.


“Seorang pembalap itu selalu berusaha memacu kendaraannya sekencang mungkin di lintasan, tapi bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk mengejar dan meraih kemenangan. Mereka mengejar prestasi, harga diri, dan kebanggaan.”


Jleeeeb!!!


Kata-kata Arischa terasa begitu menohok. Entah kebetulan atau tidak, ia menggunakan perumpaan balapan sama seperti yang pernah disampaikan oleh Mbah Nawi. Dan kebodohanku adalah.. aku sudah salah menafsirkan nasihat Mbah Nawi kala itu.


Bibirku kelu, mulutku seolah terkunci. Maka hanya pelukan erat dan ciuman pada kepalanya yang kulakukan, sebagai ungkapan terima kasihku atas apa yang telah Arischa lakukan dan sampaikan.


“Jangan lemah dan mudah menyerah, Zo.” lirihnya lagi. “Kalau kamu lemah, lalu siapa yang bisa kujadikan sebagai tempat berlindung?”


Pelukanku langsung longgar. Kutangkup kedua pipinya dan kupandang kedua bola mata beningnya. Sangat jernih namun juga meneduhkan. Sorot mata Arischa berubah sayu, buah dadanya terasa turun naik pada dadaku karena sengal nafasnya.


Rasa yang sempat mulai kukubur kini menggeliat kembali. Perasaanku berdesir, dan rasa sayang seolah meluap-luap di dalam dadaku. Nafasku pun sedikit pendek dan sesak. Secara tidak langsung Arischa telah menyampaikan perasaannya padaku, dan secara tidak langsung pula ia tahu rasa cintaku ketika ia mendengarkan percakapan dengan Ariska. Cinta itu ada, hanya belum saling mengungkapkan. Aku tidak perlu lagi menipu diri. Gadisku harus tahu, aku sayang dia.


Aku pun merunduk, dan kukecup kening Arischa dengan lembut dan sepenuh hati. Ia memejamkan mata seolah sedang meresapi apa yang kulakukan. Ia kembali membuka mata dan menatapku ketika aku melepas kecupan. Jarak wajah kami masih sangat dekat. Aku menahan nafas sejenak untuk membulatkan tekad. Aku kembali merunduk, mendekati bibirnya. Nafas kami beradu, hangat mendebarkan.


Hanya tinggal beberapa senti saja bibir kami bersentuhan ketika tiba-tiba Arischa menyelipkan telunjuk lentiknya di antara bibir kami. Aku mengkerut untuk menyampaikan sebuah tanya. Ia mengerti, lirihnya, “Hanya pacarku yang boleh mencium aku.”


Aku tersenyum mendengarnya. Tanpa banyak kata, aku langsung mengecup bibir Arischa secara kilat ketika jarinya sudah ia tarik kembali. Kini Arischa yang mengkerut, sorot matanya berubah protes.


“Aku kan sudah bilang, hanya pacarku yang…”


Kucium kembali bibir Arischa untuk menghentikan ucapannya. Kali ini cukup lama, dan aku langsung melakukan kecupan-kecupan lembut. Arischa tidak membalas, tapi juga tidak protes.


“Aku sudah menciummu sekarang, jadi kamu sudah menjadi pacarku.” bisikku mesra.


Kedua bibir Arischa terbuka, ia terperangah tidak percaya. Namun itu hanya terjadi beberapa detik. Ia langsung memelukku erat dan membenamkan kepalanya di dalam dadaku. Sedu tangisnya kembali terdengar, dan aku tahu kali ini adalah tangisan bahagia.


“Hei.. jangan nangis lagi.” bujukku.


Bukannya menurut, tangisnya malah semakin keras. Aku akhirnya hanya bisa diam sambil mengeratkan dekapan. Bahagia ini begitu nyata. Inilah rasa bahagia paling istimewa yang pernah kurasakan seumur hidupku.


Setelah beberapa menit, tubuhnya menggeliat, wajahnya kembali mendongak. Kutatap sambil tersenyum, sedangkan telapak tangan halusnya menepuk-nepuk pipiku.


“Aku tidak mau jadi pacar kamu.” suaranya sangat lucu karena memakai suara hidung, manja dan menggemaskan.

“Kalau itu maumu, aku tidak keberatan, secepatnya aku akan ketemu papah dan mamahmu, dan melamarmu sebagai istriku.” jawabku.

“Enzo?!!”

“Aku serius, sayang.”


Pernyataan cintaku sekaligus panggilan sayangku sukses membuat wajah Arischa memerah. Ia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi. Ia langsung beranjak dan duduk menyamping di atas pangkuanku. Dan tanpa komando, kami langsung saling menyambut. Saling mencium dan mengecup, dan saling melumat syahdu setelahnya. Ciuman pertama sebagai sepasang kekasih, sekaligus ungkapan rindu yang bertahun-tahun kami tekan dan kami tahan.


Gadis yang nampak berwibawa dan disegani saat memimpin rapat… gadis yang tadi sangat galak dengan emosi menggebu-gebu.. kini berubah manja. Melepas pelukan pun tidak mau, padahal hari semakin sore dan kami belum makan siang.


“Kita pulang? Kita sama-sama ke rumah sakit sekalian ngabarin mereka akan hubungan kita.” ujarku sambil mengusap ujung bibirnya yang basah bekas ciuman kami.


Arischa menggeleng dengan tangan tetap melingkar pada leherku.


“Gak mau jauh ama kamu.” lirihnya.

“Kita kan berdua ke sananya.”

“Pengen dipeluk aja, gak mau jauh ama kamu.”


Gadisku semakin menggelendot manja tanpa mau melepas pelukan. Sekali-kali saling sentuh dan saling mengecup. Kami lupa akan segala drama yang telah kami lalui, yang ada hanyalah bahagia.


Setelah kubujuk rayu akhirnya kekasihku mau bangkit. Kami berdiri berhadapan, kurapikan pakaiannya yang kusut, kusisir rambutnya dengan jemari. Hal yang sama ia lakukan padaku. Senyum kami selalu mengembang, dan sebuah kecupan kudaratkan pada keningnya.


“Yuk, sayang.” ia sudah mulai terbiasa memanggilku seperti itu.


Aku menggeleng sambil tersenyum gemas. Arischa mengerutkan keningnya. Lucu kulihat.


“Rapiin dulu makeupnya.” aku mengingatkan.


Dan barisan gigi putihnya terlihat, langsung kujembel kedua pipinya dengan gemas. Ia semakin manja, tapi kudorong tubuhnya supaya duduk di atas singgasana kantornya. Ia memulas wajahnya sedangkan aku memeluk dari belakang.


“Cantik!” ujarku.


Arischa pun memeletkan lidah sambil mengedipkan sebelah matanya. Karena gemas kulumat bibirnya dan ia membalas. Setelahnya ia merengut karena harus kembali memulaskan lipstik. Jadilah… butuh waktu setengah jam sendiri bagi kekasihku untuk memoles diri.


Kami bergandengan tangan meninggalkan ruangan, ada senyum-senyum dikulum yang nampak dalam setiap orang yang kami jumpai. Tapi tak seorang pun yang berani menggoda, wanita yang sedang dilanda asmara ini adalah boss mereka.


Aku menggandeng kekasihku dengan bangga, aku sudah menemukan cintaku. Tanpa Arischa tahu, jauh di dalam lubuk hatiku, masih ada tugas yang tersisa. Membalas dendam pada seorang pria, dan dia adalah ayahku sendiri. Semoga Rei bisa membantuku, dan kuyakin ia pasti mau menolongku.





TAMAT

Posting Komentar

0 Komentar