Bab 9
Pagi harinya, Inka menemukanku dalam keadaan demam. Badanku menggigil dan suhu badanku sangat tinggi. Awalnya sepupuku itu membangunkanku sambil marah-marah. Ia juga menendang bokongku karena aku tidur tanpa memakai celana. Namun marahnya berubah panik ketika ia merasakan suhu tubuhku yang sangat tinggi. Ia pun memakaikan celanaku dan memasangkan jaket yang ia pakai. Dalam keadaan normal aku mungkin malu karena Inka melihat perabotanku yang pasti sedang mengkerut, ciut dan ngeluk, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Ia tidak menceritakannya pada yang lain, itu sudah cukup bagiku.
Sekarang aku sudah berbaring di dalam kamar, ditemani oleh Bu RT, Inka, dan Rere. Kami memutuskan pulang lebih cepat karena keadaanku. Teman-temanku dari Ewer bergantian memapahku pulang.
Sebetulnya bukan karena aku tidur di alam terbuka yang membuat kondisiku menjadi seperti ini; bukan pula karena kedinginan. Aku ngedrop karena shock dan trauma. Kejadian tadi malam jelas bukan mimpi atau halusinasi, tapi nyata adanya. Seekor harimau betina hampir menggagahiku, dan bukan tidak mungkin jika merenggut nyawaku.
“Minum dulu obatnya, Rei.” Inka menyodorkan obat, dan Rere memegang air minum.
Tadi pagi setibanya di rumah, Bu RT langsung memanggil dokter dari puskesmas desa. Kini keadaanku lebih baik, tapi masih tetap meriang, dan badanku lemas. Keringat dingin pun masih terus mengucur.
Setelah minum obat, aku pun kembali memejamkan mata. Inka mengompres kepalaku, sedangkan Bu RT dan Rere memijati telapak kaki. Inka dan Rere pun kompak merawatku, tanpa ada lagi pertikaian. Teman-temanku yang lain terdengar sedang berkumpul di ruang tengah, sepertinya ada juga beberapa tetangga di sana.
“Maafkan aku, Rei, gara-gara sarungmu aku pakai mandi, kamu jadi tidur kedinginan.” Rere sangat merasa bersalah.
Aku hanya bergumam, berbicara pun aku malas. Dalam benakku selalu terbayang kejadian tadi malam. Harimau itu sangat menyeramkan, dan aku masih ketakutan.
Aku hampir terlelap ketika tiba-tiba mendengar kegaduhan. Oma, Om Arya, dan Tante Rinjani datang dari Sawer. Sepertinya Inka mengabari mereka sehingga pulang lebih cepat.
“Sayang, kamu kenapa?
“Rei?! Ya ampuun.”
Suara panik oma dan Tante Nji terdengar. Aku hanya membuka mata dan tersenyum lemah. Inka dan Rere bergantian menjelaskan tentang kondisi sakitku, dan Bu RT memberi tahu bahwa aku baru saja minum obat yang diberikan oleh dokter.
Tante Nji memindahkan kepalaku ke atas pangkuannya, sedangkan oma langsung pergi ke dapur.
“Ah ini hanya demam biasa, Rei tidak apa-apa.” ujar Om Arya setelah menyentuh leherku. Ia tidak tahu bahwa bukan tubuhku saja yang sakit, tapi jiwaku juga terguncang.
“Ya tetep aja namanya sakit, ayaaah!!” Tante Nji sepertinya sangat khawatir.
“Iyah, ayah gimana sih?” Inka juga protes.
“Apa kita langsung bawa ke Bandung aja, ya Yah? Rei, kamu ikut pulang yah.” Tante Nji mengusapi rambutku.
“Jangan, nanti malah kecapean di jalan. Dokter bilang hanya butuh istirahat aja.” Bu RT menyahut.
Aku hanya diam mendengarkan. Menggerakan tubuhku pun rasanya begitu ngilu. Tak lama kemudian oma kembali dan menyuruhku minum jamu racikannya.
“Minum dulu, Rei.” ujar oma.
Tante Nji dan Inka membantu mengangkat bahuku, dan aku pun minum. Kuteguk isi gelas sampai habis. Rasanya pahit, tetapi juga hangat karena jahe.
“Eh ini siapa?” Tante Nji sepertinya baru menyadari kehadiran Rere.
“Eh iya.. aku Rere, Tante.” Rere memperkenalkan diri.
Setelahnya aku tidak mendengar mereka lagi, aku tertidur selepas minum jamu yang oma berikan. Aku terpejam, panca inderaku tertutup bagi mereka. Aku berpindah dunia, memasuki alam mimpi yang terasa begitu nyata. Dalam mimpiku aku sedang tidur di kamar ini seorang diri…
Ayah dan mamah datang setelah mendengar kabar bahwa aku sakit. Anehnya mereka tidak datang naik mobil, melainkan menaiki dua ekor harimau. Mereka adalah harimau yang semalam datang. Tentu saja aku kaget dan ketakutan, tapi sikap mamah membuat perhatianku teralihkan.
Mamah langsung menghambur memelukku, seangkan ayah menyentuh kening dan leherku.
“Kamu kenapa, sayang?” mamah menciumi wajahku khawatir.
Kudekap mamah, dan kubenamkan wajahku di atas payudaranya. Aku merasa nyaman, merasa terlindungi. Sedangkan ayah tersenyum seolah menguatkanku.
“Harimau itu.” aku menunjuk dua makhluk yang sedang duduk di ambang pintu kamar dan melihat ke arah kami bertiga.
“Kenapa mereka?” kali ini ayah yang bertanya.
Kuceritakan peristiwa di bukit Beha, ketika harimau betina mau menggagahiku, namun kemudian ditolong oleh harimau jantan. Ayah dan mamah tentu saja kaget. Di akhir ceritaku, ayah langsung berdiri menghampiri kedua harimau itu.
Buk.. buk.. buuuk..!!!
Tendangan ayah melayang menghantam leher bawah si harimau betina hingga terpental. Anehnya, harimau itu tidak melawan, melainkan menunduk dengan buntut terkulai ketakutan.
Buuuk!!!
Ayah juga menendang si harimau jantan. Mata harimau itu menyala seolah protes pada sikap kasar ayah, tapi kemudian kabur ketika ayah mau menendangnya kembali. Melihat itu aku hanya melongo, sedangkan mamah tersenyum. Dikecupnya keningku dan dibelainya kepalaku. Lalu mamah dan ayah bergantian mengecup ubun-ubunku, tubuhku seketika terasa hangat. Aku tidak lagi menggigil.
“Horeeee!!!” tiba-tiba ada teriak dan tepuk tangan seorang gadis yang tiba-tiba muncul di depan kamar. Ia seolah senang melihat dua harimau itu ketakutan.
Mulutku terbuka untuk memanggil nama gadis yang sangat kukenal itu. Namun byaaarrr… aku terbangun dan kembali sadar. Aku membuka mata. Kini di dalam kamar hanya ada oma, Tante Nji, dan Inka.
“Kamu sudah bangun, sayang? Nih panasmu juga sudah hilang.” ujar oma. Tangan keriputnya mengusapi rambutku.
Tante Nji tersenyum sambil menggenggam tanganku, sedangkan Inka yang semula tiduran di sebelahku langsung bangun untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Ajaib. Kini demamku sudah hilang, dan badanku terasa kembali segar.
“Kok bisa oma?” aku langsung duduk di atas kasur.
“Kamu kan udah minum jamu dan tidur, sayang.” jawabnya.
“Kamu itu, bikin tante khawatir aja.” Tante Nji mencubit kedua pipiku gemas.
Inka malah langsung memelukku erat, ia terlihat sangat senang bahwa aku sudah sembuh.
“Sekarang apa yang kamu rasakan?” Tante Nji menatapku.
“Lapar.”
“Iiiiih…!!!” Inka mencubitiku gemas, sedangkan Oma dan Tante Nji tertawa lepas.
“Mau makan di luar atau di kamar?” tanya Oma.
“Di luar aja.”
Aku yang memang merasa segar langsung turun dari tempat tidur.
“Ayah dan mamah mana?” tanyaku.
“Huuh dasar anak manja, ya mereka di Bandunglah.” Tante Nji nampak gemas.
“Eh.. kirain ke sini hehee. Tapi mereka gak tahu, kan?” tanyaku.
“Nggak. Oma gak bilang mereka, takut mereka khawatir.” Oma yang menjawab.
Dan aku bernafas lega mendengarnya, namun juga heran karena mimpi itu seolah nyata. Aku juga tidak habis pikir kenapa aku bisa sembuh secepat ini. Kulihat jarum jam, sudah jam empat sore. Rupanya aku tidur cukup lama, hampir lima jam lebih.
Di ruang makan ada Rere yang sedang duduk dengan wajah khawatir. Om Ariya yang sedang merokok di depan dengan para tetangga pun langsung masuk ketika melihatku keluar kamar. Kabar tentang sakitku rupanya mengundang perhatian beberapa tetangga sehingga mereka datang dan berkumpul. Semuanya nampak lega begitu melihatku sudah sembuh kembali.
Aku pun makan dengan lahap sambil di kelilingi keluarga dan teman-temanku. Bukan hanya dua piring, melainkan tiga. Aku tidak peduli mendengar ledekan mereka, yang jelas perutku terasa sangat lapar. Oma hanya senyum-senyum saja, senang masakannya aku habiskan.
Rere pun kelihatan tidak canggung berada di antara Om Ariya dan Tante Nji, sepertinya mereka sudah ngobrol banyak sambil menungguiku. Jam lima sore, Om Ariya, Tante Nji dan Inka pamit pulang. Inka merajuk tidak mau pulang dan ingin tinggal di Ewer beberapa hari lagi. Namun kedua orangtuanya memaksa karena besok harus masuk kerja di FAF.
Kami pun beriringan keluar rumah, bersamaan dengan itu semua temanku datang. Setelah menyalami kedua orangtua Inka, mereka langsung ramai meledekku. Mereka terlihat senang melihatku sudah sembuh. Di balik itu semua, ada sorot-sorot mata heran, karena aku bisa sembuh secepat ini. Jangankan mereka, aku juga heran!
“Udah donk kangen-kangenannya.” ujar Tante Nji karena Inka masih saja memeluk lenganku.
“Kamu jangan bikin khawatir lagi.” Inka tak peduli, ia cemberut memandang wajahku.
“Siap. Hehee..” kuuyel-uyel rambutnya sehingga ia menggelembungkan kedua pipi.
Setelah pamitan sekali lagi, mereka pun memasuki mobil, dan kami mengiringi kepergian mereka sampai menghilang di tikungan. Aku menghela nafas, entah kenapa jauh di dalam ubuk hatiku, aku menginginkan Inka tetap ada di sini. Tapi semuanya langsung buyar ketika melihat Rere.
Kami pun berkumpul di emper rumah, sedangkan oma meminta beberapa cewek membantunya membuat kopi.
“Bangke kamu, Rei. Bikin khawatir aja.” Vian mengumpat.
“Hooh.. kenapa sih kamu bisa tiba-tiba begitu.” sahut Rona.
“Ya mana kutahu, aku juga bingung.” jawabku sambil garuk-garuk kepala. Aku tidak mungkin bercerita kepada mereka, dan mereka pasti akan menganggap bahwa aku berhalusinasi. Biar nanti saja aku menceritakan semuanya pada oma.
Rere dan Meti datang membawa baki berisi kopi dan cemilan. Gelas pertama Rere sodorkan padaku, wajahnya yang tadi kusut karena khawatir kini sudah cerah kembali. Senyumnya tersungging.
“Rei, telponmu bunyi tuh.” panggil oma.
Aku pun beranjak. Eh… aku kembali. Kuraih kembali gelasku dan kuseruput. Rere tersenyum melihat tingkahku, sedangkan yang lain tertawa. Buru-buru aku pun menuju kamar. Kulihat layar dan ada video call dari mamah.
“Hallo, Mah.”
“Hai sayang, kamu baik-baik saja kan?”
“Baik kok, Mah, memangnya kenapa?”
“Dasar kamu! Oma dan tantemu udah cerita kalau kamu sakit.” mamah tampak gemas sekaligus cemas.
Aku hanya bisa nyengir. Oma telah membohongiku, ia memberitahu mamah bahwa aku sakit.
Mamah pun memintaku untuk menjauhkan kamera agar ia bisa melihat keadaanku. Setelah yakin aku baik-baik saja, seulas senyum lega ia sunggingkan. Mamah rupanya baru selesai mandi dan tubuhnya masih dililit handuk. Sangat cantik!!
“Kok bisa sih kamu tiba-tiba demam, sayang?” tanya mamah.
Sikap mamah nampak tenang dan tidak lagi memancarkan rasa khawatir yang berlebihan. Aku sendiri malah heran melihat sikapnya, karena biasanya aku baru mengeluh tidak enak badan saja ia sudah senewen.
“Kedinginan kali, Mah, aku kan gak tidur di dalam tenda.”
“Bohong! Ayo cerita ke mamah.”
Ah mana bisa aku berbohong di depan wanita yang satu ini. Kuceritakan pengalamanku ketika aku didatangi seekor harimau betina. Aku sedikit tergagap ketika menceritakan bagian aku hampir diperjakai harimau itu. Mamah menyimak dengan serius, kupikir ia akan menertawakanku karena menganggapnya aku halusinasi. Tetapi tidak. Mamah sangat serius mendengarkan penuturanku.
Kuceritakan pula perjumpaanku dengan seorang pria pencari kayu bakar bernama Cintung. Juga mimpiku ketika mamah dan ayah datang naik harimau.
“Gitu, Mah.” kuakhiri ceritaku.
“Hmm.. bentar. Nih ayah mau ngomong.”
“Loh ada ayah toh?”
“Ada donk, ayah juga dengerin cerita kamu kok.”
“Ayah.” aku menyapanya ketika wajahnya terlihat di layar.
“Rei. Syukurlah kamu sudah sembuh.”
“Iya, Yah.”
“Lain kali kalau kamu bepergian, pake kalung siung harimau yang ayah berikan. Itu untuk tolak bala.” ayah mengingatkan.
“Masa sih, Yah?” aku setengah tidak percaya. Ayah memberikan kalung itu sebelum aku berangkat ke Ewer tapi aku tidak pernah memakainya.
“Loh kamu gak pakai toh? Pantesan.” mamah menyahut.
“Nggak, Mah. Pantesan gimana?”
“Ya pantesan kamu diganggu penghuni bukit sampai sakit.” jawab mamah.
Ayah dan mamah menasihatiku untuk selalu memakai kalung itu. Aku yang pada awalnya tidak percaya pun menganggukan kepala mengiyakan.
“Pria bernama Cintung itu dari kampung mana, Rei?” tanya ayah.
“Dari Antah, Yah. Aku juga bingung karena baru pertama kali mendengar nama kampung itu.”
“Kamu harus ke sana, Nak. Kamu temui sepasang suami-istri bernama Senja dan Sae.” ayah nampak serius.
“Ayah kok gitu? Nanti kalau Rei kenapa-kenapa gimana?” mamah protes.
“Tidak akan apa-apa, Mah.” jawab ayah. Lalu ayah berkata lagi padaku, “Kamu harus ke sana, Rei, lokasinya kamu tanya oma. Nanti Cintung akan mengantarmu menemui Senja dan Sae. Mereka adalah saudaramu.”
Ayah menyampaikan beberapa petunjuk, dan aku banyak bertanya perihal mereka. Aku sedikit heran karena setahuku Senja dan Sae adalah leluhur sekaligus legenda Sawer yang kini keduanya sudah meninggal. Tapi ayah dengan tegas menyampaikan bahwa mereka masih hidup sampai sekarang.
“Sayang.” mamah menatapku serius.
“Iya, Mah?”
“Kamu belum pernah meniduri seorang perempuan, kan?”
“Ya belumlah, Mamah mahada-ada saja.” protesku.
“Hihi… ya siapa tahu kamu sudah pernah nakal. Awas kalau kamu macam-macam!!”
“Kalau nyuwir?” kali ini ayah yang bertanya.
“Ayaaah!!!” sejenak percakapan terhenti karena mamah malah memukuli bahu ayah yang sedang terkekeh.
“Eh.. ayah.. sampai sekarang aku gak tahu loh. Nyuwir itu apa sih?” aku bertanya.
Ayah tergelak, dan mulutnya langsung dibekap mamah ketika ia mau menjawab. Sikap mereka sangat lucu, persis seperti pasangan muda yang tidak malu menunjukan kemesraan di hadapan anaknya.
“Udah.. udah.. gak usah dibahas, dan kamu gak perlu tahu.” ujar mamah padaku.
“Yaudah kalau gak mau ngasih tahu. Nanti aku tanya oma.”
“Jangaaan!!!” bukan hanya mamah yang teriak, tapi juga ayah. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala melihat sikap mereka.
Setelah obrolan teralihkan gara-gara persuwiran, ayah dan mamah pun kembali serius. Mereka memintaku datang ke Anta. Menurut mereka, orang yang bisa datang ke sana adalah orang yang masih perjaka dan perawan. Atau kalau tidak, haruslah sepasang suami-istri yang cinta dan kesetiaan mereka sudah teruji.
Percakapan pun kami akhiri, dan mamah berjanji untuk tidak menceritakan perihal sakitku kepada Kak Kekey dan Nzi. Kalau mereka tahu, keduanya pasti akan memaksa datang ke Ewer meskipun aku sudah sembuh.
“Dadah, sayang. Kamu hati-hati, ya Nak. Ciumnya diwakili ayah dulu ya. Hihi…” mamah pun mengecup pipi ayah.
Kami bertiga tertawa, lalu sambungan video pun kumatikan.
Aku menghela nafas memikirkan apa yang ayah dan mamah sampaikan. Mereka seolah memiliki rahasia besar yang selama ini aku tidak pernah tahu. Mereka juga seperti tidak asing dengan kedua harimau yang menampakan diri kepadaku di Bukit Beha. Sang harimau jantan malah sudah mendatangiku selama dua kali.
Aku pun melangkah menuju lemari, kuambil bungkusan kain putih dan kukeluarkan isinya. Sebuah kalung biasa, berupa tali kulit binatang dengan siung harimau sebagai bandulnya.
https://t.me/cerita_dewasaa
Hari-hari pun kulalui. Tak terasa sudah tiga minggu aku berada di Ewer. Minggu depan Rere dan teman-temannya akan mengakhiri KKN dan akan kembali ke Bandung. Proyek mereka hampir selesai, komputer dan jaringan internet sudah terpasang, tinggal memperbaiki beberapa sistem yang masih belum berfungsi dengan baik. Namun sejauh ini aku dan Rere belum melangkah lebih jauh, aku masih belum menyatakan cintaku pada gadis itu.
Hari ini aku mendapat kunjungan istimewa dari dua orang sahabat. Sepasang kekasih yang pernah membuatku emosi jiwa di masa lalu. Mereka adalah Enzo dan Arischa.
Keduanya baru menghadiri peresmian cabang angkringan milik Iban, adik tiri Enzo, di Cirebon. Karena mereka tahu aku sedang di Ewer, mereka pun memutuskan untuk mengunjungiku. Jarak tempuh perjalanan memang hanya sejam setengah dari sana.
Kumatikan rokokku dan langsung berdiri ketika mobil yang kutunggu memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian pemuda itu keluar, dari pintu sebelahnya keluar sosok cantik yang di masa lalu selalu mengisi relung hatiku.
“Akhirnya nyampe juga kalian.” sambutku.
“Bangke, Rei, kampung kamu jauh banget.” keluh Enzo.
“Halah.. setidaknya masih bisa dicari di google map.” aku tertawa.
Kami bersamalam erat, tonjokan-tonjokan persahabatan pun kami lakukan.
“Hai, Cha, wilujeng sumping di Ewer.” aku menyapa Arischa.
“Asli jauh banget, Rei.” gadis itu malah ikutan ngeluh.
“Hei, Icha udah jadi cewekku.” Enzo protes ketika aku menyondongkan badan untuk cipika-cipiki.
Aku dan Arischa hanya tertawa tanpa mengacuhkan protes pemuda itu. Kedua pipi lembutnya langsung bersentuhan dengan pipiku. Dulu sih bibir Arischa yang selalu kukecup, tapi sekarang bisa menyentuh pipinya saja sudah menjadi bonus bagiku.
“Eh.. udah gini aja?” protesku ketika keduanya langsung mengikuti langkahku menaiki bale-bale rumah.
“Emangnya kenapa?” Enzo heran.
“Eh.. salah yah? Emang ada ritualnya sebelum masuk rumah.” Arischa langsung berhenti.
“Bukan.. kalian masuk dengan tangan kosong gitu? Gak bawa oleh-oleh?”
“Si monyong!!!” Enzo memaki.
“Hehehe.. kirain apaan? Ada kok di mobil.” Arischa terkekeh. Ujarnya pada Enzo, “Yank, kamu ambil sekalian gih.”
“Males ah.”
“Sayang?! Ambil!!”
“Iya.. iya..!!”
Aku tertawa melihat Enzo garuk-garuk kepala, tidak berkutik dipelototi kekasihnya. Sahabatku kembali membuka pintu mobil untuk mengambil oleh-oleh khas Cirebonan.
“Padahal aku bercanda loh.” ujarku pada Arischa.
“Hahaha.. aku bawain sate kerang kesukaanmu tuh.” jawabnya.
Cieee.. dia masih ingat saja makanan kesukaanku.
Kami bertiga masuk ke dalam rumah, dan langsung kuajak duduk di ruang tengah. Tak lama kemudian oma datang dari pendopo, dan menemui tamuku. Sikap ramah dan cerewetnya langsung mencairkan suasana sehingga kedua sahabatku tidak merasa kikuk.
Arischa yang memang supel, malah langsung mengikuti oma ke dapur untuk membantunya membuat kopi dan mengambil cemilan. Sedangkan aku dan Enzo merokok, sahabatku bercerita tentang angkringan adiknya yang baru diresmikan.
Tak lama kemudian oma dan Arischa kembali muncul dan kami pun melanjutkan obrolan dengan santai. Aku tidak perlu menceritakan tujuan dan aktivitasku berada di Ewer karena oma langsung bercerita tentangku. Aku hanya sekali-kali mengamini sambil terkekeh. Enzo seolah sengaja ingin mengorek tentangku melalui oma, dan aku hanya bisa garuk-garuk kepala ketika oma menceritakan kekonyolan-kekonyolan masa kecilku.
“Dasar anak oma.” ledek Arischa.
“Cucu, Cha, bukan anak.” gumamku.
Kami pun tertawa lepas.
“Yaudah oma permisi dulu ya, mau metik kangkung dulu buat makan malam kalian.” pamit oma.
“Eh.. jangan oma, nanti kami kemalaman pulangnya.” Arischa menahan lengan oma.
“Siapa bilang kalian akan pulang malam ini. Besok aja.”
“Oma..!!” kedua sahabatku kompak.
“Kalau oma bilang besok, ya besok.” oma tidak peduli dan langsung meninggalkan kami.
“Oma bersabda, gak ada yang bisa menolaknya.” ujarku.
Enzo dan Arischa pun hanya saling pandang sambil tersenyum kecut.
“Udah gak usah rese, kalian nginep aja. Biar sekalian aku ajak kalian jalan-jalan lihat Ewer.” ujarku lagi. Kedua sahabatku akhirnya setuju, mereka baru akan pulang ke Bandung besok pagi.
“Rei.” raut muka Enzo berubah serius.
Aku menatap mereka bergantian tanpa berkata apa-apa.
“Sebenarnya kami berdua sengaja menemui kamu di sini karena ada hal penting yang mau kami sampaikan, dan gak bisa menunggu sampai kamu balik ke Bandung.” ujar Enzo lagi, sedangkan Arischa menatap kekasihnya sambil tersenyum.
“Kok jadi serius begini? Emangnya ada apa?” aku terheran-heran.
“Gini, Rei…”
Enzo pun menyampaikan maksud kedatangannya. Dari cerita panjang lebarnya, intinya ia mau berterima kasih sekaligus meminta ijin. Ia berterima kasih karena aku tidak memaksakan kehendak dan rela melepaskan Arischa ke dalam pelukannya. Mereka juga meminta ijin karena bulan depan keduanya akan menikah.
Aku tersedak haru mendengarnya. Menurutku Enzo dan Arischa sangatlah berlebihan. Keduanya saling menyayangi, dan hendak mempersatukan cinta mereka ke dalam jenjang perkawinan. Itu tidak perlu mendapat ijinku, aku dan Arischa hanyalah cerita masa lalu. Tapi sikap tulus keduanya sungguh membuatku tersentuh, mereka bukan hanya menganggapku sebagai sahabat, melainkan sudah seperti saudara.
“Kalian itu sangat berlebihan.” gumamku. “Aku dan Arischa memang pernah punya hubungan khusus di masa lalu, tapi kalian tidak harus minta ijin kepadaku seperti ini. Aku sama sekali tidak keberatan. Sebaliknya, aku sangat senang karena perjalanan panjang cinta kalian berdua akan berakhir dengan bahagia.”
Kami bertiga saling bersahutan mengungkapkan isi hati dan ganjalan-ganjalan yang masih tersisa. Banyak ketakutan yang mereka ungkapkan, yang sebetulnya hanya pikiran, dan tidak terjadi dalam kenyataan. Akhirnya kami pun berpelukan bertiga, Arischa bahkan sambil menangis. Pelukan ini jauh melampaui ungkapan persahabatan, tapi lebih berupa ikatan antar saudara. Dan memang begitu.. bagiku, pelukan ini menjadi awal persaudaraan di antara kami bertiga.
“Eh ada tamu, yah. Maaf..” tiba-tiba Rere sudah berdiri di ambang pintu. Ia kaget melihat kami bertiga sedang berpelukan, tapi juga tidak bisa menghindar untuk mengurungkan diri masuk ke dalam rumah.
“Hei, Re. Udah masuk aja. Ini kenalin Enzo dan Arischa. Sahabatku dari Bandung.” aku memanggil Rere supaya masuk dan memperkenalkan mereka pada gadis itu.
Enzo menyalami Rere, sedangkan Arischa mengusapi air matanya sebelum menyalami gadis itu.
“Eh.. maaf kalau kalian masih ngobrol, aku bisa pergi kok.” Rere masih tidak enak hati.
“Udah nyantai aja.” Arischa tersenyum.
“Mereka ini bulan depan mau nikah, Re, makanya ke sini untuk menyampaikan undangan.” aku menjelaskan.
“Oh.. selamat, ya Kak.” sikap canggung Rere berubah cair, dan ada senyum yang mengembang, seakan turut senang.
“Rere ini sedang KKN di sini.” jelasku kepada Enzo dan Arischa.
Rere pun duduk dan kami ngobrol berempat. Hati perempuan memang selalu peka, adalah Arischa yang sering menatapku sambil mengerutkan dahi. Ia seolah sedang bertanya siapa gadis ini. Senyumku sudah menjadi jawaban, kulihat Arischa diam-diam menganggukan kepala, ekpresinya terlihat sangat bahagia.
“Kenapa sih, kak? Kok senyum-senyum sendiri?” Rere nampak heran.
“Ngg.. nggak apa-apa kok. Aku seneng aja akhirnya bisa menikmati suasana pedesaan seperti ini.” jawab Arischa.
Jawabannya tentu saja malah membuat Rere bersemangat. Ia pun langsung menawarkan diri untuk mengajak Arischa dan Enzo jalan-jalan. Arischa sangat antusias, tapi Enzo menolak dengan alasan masih capek. Sebagai jalan tengah, Rere pun mengajak Arischa jalan-jalan ke pendopo, meninggalkan kami berdua.
“Sebetulnya masih ada yang ingin kusampaikan, Rei.” ujar Enzo sekepergian kedua gadis itu.
“Kenapa lagi Icha?” usai bertanya begitu, kusulut sebatang rokok.
“Bukan tentang dia, tapi tentang keluargaku.” jawabnya.
Aku melihat heran ke arah sahabatku. Ia memang sudah pernah bercerita tentang latar belakang keluarganya. Ibunya sudah meninggal dunia, dan ayahnya hidup dengan wanita lain.
“Aku sudah berusaha untuk menemui ayahku, Rei, tapi selalu gagal. Pria itu seperti susah ditemui.”
“Kamu mau meminta restu ayahmu, Zo? Kamu sudah bisa memaafkan dia?” aku antusias.
Enzo menggeleng. Sebelum menjawab, ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya. Ia berubah gelisah.
“Sebaliknya, Zo! Aku masih dendam!!” kudengar suaranya sedikit bergetar.
Aku langsung diam dan menatap sahabatku dengan simpati.
“Aku sudah punya harapan bisa ketemu si brengsek itu ketika aku kenal dengan Wulan, istrinya. Tapi aku sudah pernah cerita ke kamu kalau wanita itu gak mau kutemui lagi sejak kejadian di angkringan.” ucap Enzo.
“….”
“Aku mau minta tolong kamu, untuk mendekati si Wulan.”
“Bu Wulan.” potongku.
“Mau pake ibu atau tidak, tetep aja namanya Wulan.” Enzo mendengus.
Enzo pun memintaku agar bisa berkenalan dengan Bu Wulan. Konon wanita itu sering nongkrong di Café yang dikelola oleh Tante Rinjani. Setelah aku dekat dengan Bu Wulan, secara perlahan aku akan mendekati suaminya dan mempertemukannya dengan Enzo.
“Gimana? Kamu bisa bantu gak, Rei?” Enzo menatapku penuh harap.
“Kalau tujuannya untuk berdamai sih aku mau-mau saja, Zo. Tapi kalau ceritanya untuk balas dendam, aku keberatan.” jawabku.
Setelah mendengar jawabanku, Enzo langsung mengumpat mengungkapkan kemarahannya pada ayahnya. Pria itu memang telah menelantarkan anak dan istrinya, dan hidup dengan wanita lain. Amarah Enzo nampak meledak-ledak. Aku bisa paham pada emosi Enzo, walaupun aku sendiri tidak habis pikir bahwa ada anak yang membenci ayahnya sedemikian rupa, atau sebaliknya ada ayah yang menelantarkan dan membenci anaknya. Biar bagaimana pun aku tidak punya pengalaman buruk dalam keluargaku, bukan hanya dengan orangtua serta kakak-adikkku, melainkan juga dengan seluruh keluarga besarku.
Aku juga merasa prihatin pada sahabatku karena ia tidak pernah merasakan kasih sayang seperti apa yang kudapatkan di tengah keluarga. Maka aku pun memutuskan untuk membantu Enzo, walau jauh di dalam lubuk hatiku aku punya misi tersendiri. Aku ingin Enzo bertemu dengan ayahnya, bukan untuk menuntaskan dendam, tetapi untuk berdamai kembali.
“Aku akan membantumu sebisaku, Zo.” ujarku.
Enzo tidak menjawab. Namun ekspresinya nampak senang mendengar keputusanku. Ia berjingkat dan meninju dadaku. Tangan kami pun saling menjabat, sebuah jabatan erat layaknya dua bersaudara.
Waktu pun beranjak sore. Oma datang ditemani oleh Arischa dan anak-anak KKN. Mereka rupanya bertemu di jalan. Rere tidak ada karena katanya sedang pergi mandi. Setelah saling berkenalan, oma pun memintaku supaya mengantar Enzo dan Arischa mandi, sedangkan para cewek membantu oma di dapur.
“Yank, kamu sadar gak sih kalau ada yang sedang kasmaran?” ujar Arischa pada kekasihnya.
“Hah? Siapa, sayang?” Enzo heran.
Kini kami sedang berjalan menuju tampian.
Arischa tidak menjawab, tapi memberi kode dengan kerlingan mata ke arahku. Senyum indahnya terpulas, nampak bahagia sekaligus menggoda.
“Apaan sih?” aku yang sadar menjadi bahan omongan Arischa langsung menyahut.
“Hah? Beneran, Rei? Siapa ceweknya?” Enzo melihatku untuk memastikan.
“Ah kamu mah gak peka! Siapa lagi kalau bukan Rere.” Arischa menyahut.
“Nggak.. ngarang kamu.” aku mengelak.
“Halah… udah gak usah pura-pura. Aku bisa lihat dari cara kamu memandang Rere. Lagian tadi juga Rere selalu antusias kalau bercerita tentang kamu.”
Jadilah perjalanan menuju tampian ini menjadi ajang aku diinterogasi oleh Enzo dan Arischa. Aku pun tidak bisa mengelak. Kuakui kalau aku masih melakukan pendekatan pada Rere. Keduanya terlihat senang dan menyemangatiku supaya segera menembak Rere sebelum gadis itu ditikung oleh laki-laki lain.
BERSAMBUNG
Report content on this page
0 Komentar